PADA tahun Caka 1206 (1284 Masehi) kekuasaan Raja Kertanegara mencapai puncaknya di Singasari. Pulau Bali berhasil ditundukkannya. Demikian pula Kerajaan Gurun, Bakulapura, Pahang, Sunda, dan Madura. Demikianlah, Singasari semakin mengembangkan sayap kekuasaan-nya di luar Pulau Jawa.

Walaupun demikian Kertanegara belum merasa puas.

Dia mulai melihat kemungkinan untuk menundukkan Swarnabhumi. Pada bulan Agustus 1286 pasukan Singasari berangkat ke negeri seberang mengadakan ekspansi ke Swarnabhumi yang sekarang kita kenal bernama Sumatra.

Raja Swarnabhumi yang bernama Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa akhirnya dapat dikalahkannya.

Gegap-gempita, sorak-sorai prajurit Singasari membahana. Mereka mengacung-acungkan senjata yang masih berlumuran darah. Lautan manusia memenuhi alun-alun tempat para ksatria menunjukkan olah keprajuritan.

Mereka mengelu-elukan kebesaran Raja Kertanegara.

Kemenangan demi kemenangan diraihnya, bahkan enam tahun kemudian Kertanegara menaklukkan negeri Melayu pada tanggal 17 April 1292. Dengan kemenangan itu karena sangat gembiranya Raja Kertanegara mengeluarkan prasasti Camunda sebagai tanda terima kasih atas kemenangan-kemenangan yang diperolehnya.

Di pertemuan agung Raja Kertanegara mengenakan busana kebesaran. Mahkota yang dikenakannya bertatahkan permata manik manikam tampak berkilau-kilau menyilaukan mata. Bajunya bersulam emas.

Raja Kertanegara duduk di atas singgasananya dengan penuh wibawa, bibirnya tersungging senyum. Kumisnya yang tebal tercukur rapi. Hidungnya mancung serasi dengan alisnya yang tebal, melindungi manik mata beliau yang tajam menatap bagai mata elang. DaSanya mengembang hingga terlihat semakin gagah ketika menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya perlahan-lahan.

Jakunnya bergerak-gerak tampak jelas di lehernya yang bersih berwarna sawo matang.

Raja Kertanegara bangkit dari singgasananya dan memberikan salam pada yang hadir dengan anggukan kepala penuh kewibawaan. Segenap yang hadir serempak menyambut salam sang Raja,

“Salam bahagia, ya Sang Prabu! Salam bahagia, wahai Sang Ciwa Rahaja!” Sambutan itu berakhir bagai dengung berjuta lebah yang terbang dari sarangnya. Para ksatria dan tamtama serta segenap hadirin yang diundang di Pendapa Agung itu menghaturkan sembah sampai ke tanah.

Raja Kertanegara tersenyum, bibirnya bergetar ketika bersabda, “Terima kasih. Salam kalian kuterima dengan senang hati. Mudah-mudahan berkenan pula bagi para

dewa yang bersemayam di atas langit.” Kembali Raja Kertanegara menghela napas, tampak butir-butir keringat mengembun menghiasi dahi dan pelipisnya, juga ujung hidungnya yang bangir. Kemudian ia melanjutkan sabdanya, “Kalian semua kuundang untuk berkumpul di Pendapa Agung ini agar menjadi saksi hidup dengan adanya prasasti yang baru saja diselesaikan oleh Sudharmopapatti.”

Pandangan Raja Kertanegara menghunjam ke arah Sudharmopapatti yang duduk bersila dan menghaturkan sembah. Para hadirin pun memberikan penghormatan dengan sinar mata iri bercampur haru atas penghormatan baginda raja pada seorang yang berhasil merampungkan prasasti Camunda. Semua berbisik-bisik lalu kembali pada posisi seperti semula.

“Kita semua mengerti, banyak yang bisa kita capai dengan gemilang tahun-tahun terakhir ini. Singasari bukan lagi sebuah tempurung di Muara Sugalu yang mengapung-apung, melainkan telah berubah, telah berganti menjadi sebuah armada kapal perang yang ditakuti negeri-negeri lain yang jauh. Arca Amoghapasa yang kutanam di permukaan Swarnabhumi adalah bukti yang tak bisa disangkal, sekalipun oleh orang yang kurang berpengetahuan.”

Raja Kertanegara diam sejenak. Guratan-guratan usia yang menghiasi wajahnya tak mampu menyembunyikan ketampanannya, bahkan menambah kewibawaan orang utama di Singasari itu. Matanya melirik pada Lembusora yang menggeser posisi duduknya. Lembusora

menghaturkan sembah Lelaki setengah tua yang perkasa itu dengan tegas memotong menimpali sabda Raja, “Memang benar, Gusti. Apa yang telah diraih Singasari merupakan kebanggaan yang tak bisa dipungkiri.” Lembusora kembali menghaturkan sembah dan duduk seperti semula.

“Nah, itu semua berkat jerih payahmu juga, Paman Lembusora. Juga jerih payah kalian, Ranggalawe, Nambi, Kebo Anabrang, menantuku Dyah Wijaya dan Ardaraja!” Semua yang disebut namanya menghaturkan sembah sambil menyunggingkan senyum penuh rasa bangga.

“Kau pun ikut berjasa, Paman Banyak Kapuk, Gajah Pagon, dan kau, Ra Podang. Semua ini adalah pekerjaan kita semua Bukankah demikian?”

“Benar, Sang Prabu!” sambut hadirin bergema memenuhi ruangan Pendapa Agung.

Raja Kertanegara lalu duduk kembali di singgasananya seraya mengelus janggutnya, tanpa melepaskan pandangan pada semua yang hadir. Seolah ia berpikir keras. Ia menghela nafas dalam-dalam setelah merasa enak dalam duduknya.

“Nah, sekarang dengar. Pekerjaan yang baik sudah sepantasnya mendapat hadiah atau penghargaan. Sebaliknya, pekerjaan yang buruk, yang sering dilakukan oleh para pemalas dan sok pintar, sudah seharusnya diberi hukuman untuk peringatan bagi yang lain. Banyak Wide contohnya Dia kuturunkan kedudukannya dari Rakyan Demung menjadi Adipati di Sumenep, karena menentang kebijaksanaanku. Juga Ramapati kupecat, sebab tidak setuju ketika aku merencanakan menundukkan Swarnabhumi. Itulah hukuman yang setimpal bagi para penentang, pembangkang, dan pengkhianat negeri Singasari.”

Raja Kertanegara menegakkan posisi duduknya lalu memandang Dyah Wijaya. Merasa dirinya diperhatikan ksatria muda itu segera menghaturkan sembah dengan menundukkan kepalanya penuh hormat.

“Menantuku Dyah Wijaya!”

“Daulat, Ayahanda Prabu.”

“Dan kau juga, Ardaraja!”

“Daulat, Ayahanda Prabu!”

“Dalam prasasti Camunda yang baru saja dirampungkan, tercantum keputusan Kertanegara sebagai raja yang sah di Singasari Pada lempengan batu ini aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa mereka yang telah membantu seluruh usahaku. Kepada mereka aku akan memberikan penghargaan yang layak. Baik jasa yang besar maupun yang kecil, semua akan mendapat imbalan dari pemerintah Singasari. Dan kalian berdua, kutugas-kan untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaan pemberian ini. Ingat, jangan sampai ada yang tercecer. Semua yang telah berjasa harus menikmati hasilnya!”

“Daulat, Ayahanda Prabu. Ananda akan melaksanakan perintah sebaik-baiknya,” sahut Dyah Wijaya menghaturkan sembah.

“Demikian pula Ananda akan menjunjung tinggi perintah Ayahanda Prabu,” Ardaraja menimpali.

“Nah, kalau begitu pertemuan di Pendapa Agung ini aku tutup sampai di sini. Tak lupa kita panjatkan puji syukur pada para dewa, yang memberikan rahmat-Nya pada kita semua.”

“Salam bahagia, ya Sang Prabu! Salam bahagia, wahai Sang Rahaja!”

Selesai menerima hatur sembah dari para ksatria dan orang-orang terdepan Singasari, Raja Kertanegara meninggalkan Pendapa Agung. Langkahnya yang gagah diiringi para dayang yang cantik jelita dengan tak henti-henti mengayun-ayunkan kipas. Para hadirin pun undur dari paseban Pendapa Agung dengan hati berbunga-bunga atas anugerah dan penghargaan sang Raja. Lebih-lebih nama mereka dicantumkan pada lempengan batu prasasti Camunda.

* * *

Sementara itu, di barak prajurit sedang bercakap-cakap dua orang yang merasa bahagia atas kebesaran rajanya.

Yang satu Ganggadara, seorang prajurit muda. Otot-otot tangannya menonjol karena terlatih dalam olah keprajuritan. Kumisnya tebal dengan rambut disanggul menambah kegagahannya. Sedangkan yang seorang lagi bernama Jarawaha. Ia juga tak kalah gagah dengan Ganggadara.

“Kakang Jarawaha! Kupikir kita ini akan semakin mulia. Raja kita sekarang semakin hebat dan namanya terdengar di mana-mana,” Ganggadara membuka percakapan

“Di mana letak kehebatannya menurut pendapatmu, Adi Ganggadara?”

“Dia tegas dan tergolong seorang raja yang berani. Bayangkan, Swarnabhumi yang megah dapat ditundukkan tanpa kesukaran. Aku bangga bisa mengabdi pada raja seperti Prabu Kertanegara.” Ganggadara bicara dengan lantang penuh rasa bangga atas junjungannya, hingga bibirnya ikut meliuk-liuk penuh irama seiring nada bicaranya.

“Ya, aku pun merasa bangga mempunyai raja seperti beliau. Tapi aku mempunyai alasan yang berbeda. Dengan dibuatnya prasasti Camunda, semakin tampak arif dan bijaksanalah beliau. Seorang raja besar bersedia menekuk leher menundukkan-wajah untuk mengucap-kan rasa terima kasih pada rakyat dan bawahannya, itulah yang luar biasa Kukira belum pernah terjadi sebelum Prabu Kertanegara.”

“Benar, Kakang. Jasa orang, baik yang kecil maupun yang besar, baik dari kalangan bawah, menengah ataupun golongan atas, semua diperhatikan dan diberi penghargaan. Rasanya pekerjaan kita tidaklah sia-sia!” Selesai bicara dengan gagahnya Ganggadara mencabut pedang dari wrangka-nya, lalu menimangnya dan mengelus dengan telapak tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman penuh rasa bangga, “Dua kali aku terlibat peperangan bersama pedang kebanggaanku ini. Pertama ketika menyerang Pulau Bali, dan kedua ketika merebut ibukota Swarnabhumi.”

“Dan sekarang pangkatmu naik menjadi perwira muda!” tukas Jarawaha.

“Dan Kakang Jarawaha menjadi perwira tinggi!”

“Dan atasan kita, Tuan Pranaraja, naik pangkat menjadi….”

Belum selesai melanjutkan kata-katanya terdengarlah suara derap kaki kuda. Jarawaha setengah menganga memperhatikan siapa yang datang. Ganggadara membisikkan sesuatu pada telinga Jarawaha.

“Sssstth, Kakang Jarawaha, bukankah itu Tuan Pranaraja?”

“Hmh, ya. Pasti ada sesuatu yang penting. Tidak biasanya sepagi ini Tuan Pranaraja datang ke barak prajurit.”

Kuda semakin dekat dengan mereka lalu Pranaraja menghentikannya tak jauh dari mereka bercakap. Pranaraja melompat turun dari punggung kuda dan binatang kesayangan itu meringkik mengerti. Keduanya menyambut kehadiran atasannya penuh hormat.

“Selamat pagi, Tuan!” salam mereka berbarengan.

“Sarungkan pedangmu Ganggadara. Negara Singasari aman dan kita belum merencanakan perang lagi dengan negara lain!” tegur Pranaraja sambil memandang tajam ke arah Ganggadara yang memegang pedang. Ganggadara merah padam wajahnya lalu tersenyum malu pada Pranaraja dan tergesa-gesa menyarungkan pedangnya.

“Emh, ehh, maaf, Tuan!” ucapnya lirih dengan suara agak parau menyadari keteledorannya.

“Aku ada perlu dengan kalian berdua. Mari kujelaskan di dalam!” kata Pranaraja-penuh wibawa. Lelaki agak tua itu masih tampak gagah. Tubuhnya kekar. Otot-ototnya menonjol dan tangannya amat kukuh. Telapak tangannya tebal agak kasar karena sering berolah kanuragan.

Ketiganya pun berjalan menuju barak prajurit. Pranaraja memberi tahu bahwa ia mendapat tugas dari Sang Prabu untuk menemui Mpu Hanggareksa di desa Kurawan. Letak desa itu dekat dengan desa Jasun Wungkal. Dapat ditempuh dengan berkuda menuju arah tenggara dari Kotaraja Singasari.

Ketiga orang itu segera berkemas-kemas untuk mengadakan perjalanan menuju desa Kurawan tempat Mpu Hanggareksa tinggal.

Matahari telah tinggi. Panasnya menyengat membuat musim kemarau tampak gersang. Seluruh kota Singasari bermandikan keringat.

Mendadak debu-debu jalan beterbangan, bercampur baur dengan daun-daun kering yang gugur ke bumi ketika tiga ekor kuda berlari bagaikan terbang. Tiga binatang perkasa itu terus berlari menuju perbatasan kota untuk kemudian meninggalkan Singasari.

Tiada terasa seharian penuh mereka telah mengadakan perjalanan. Telah lama sinar matahari meredup bersembunyi di peraduannya. Keadaan semakin gelap gulita. Ringkik kuda dan derapnya yang melemah menunjukkan binatang-binatang itu telah lelah seperti para penunggangnya. Mereka memasuki sebuah desa dan memperlambat lari kuda sambil mencari-cari rumah penduduk untuk menginap semalam. Mereka menginap di desa Jasun Wungkal di sebuah penginapan yang tak begitu besar. Suasana desa di malam itu cukup tenteram Kerlip lampu-lampu yang berasal dari pintu rumah penduduk yang masih terbuka menunjukkan suasana desa itu cukup aman.

Ada seorang wanita berdiri di depan rumah, tersenyum ramah memperhatikan tiga penumpang kuda yang mendekatinya. Melihat ketiga prajurit Singasari yang turun dari kuda, maka wanita itu menghampiri.

“Ehh, maaf, sepertinya Tuan bertiga ini datang dari jauh? Apa yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu sopan.

Pranaraja setengah melotot memandang rendah pada orang yang menyapanya. “Hemh, apa kau sama sekali tidak mengenal lencana keprajuritan?”

“Kami adalah prajurit-prajurit Singasari. Yang sedang kauajak bicara ini adalah Panglima Muda Tuanku Pranaraja!” sangat tegas dan bernada tinggi Ganggadara menjelaskan.

“Kami mengemban tugas dari Sang Prabu Kertanegara!” sambung Jarawaha, dalam dan wibawa. Mengetahui hal itu orang tersebut langsung memberikan sembah penuh hormat. Tubuhnya menggigil karena merasa bersalah.

Dengan wajah menunduk ia merasa menyesal karena berlaku lancang pada perwira Singasari. “Ohh, ampun, Gusti. Hamba benar-benar tidak tahu. Hamba memang orang bodoh dan pantas dihukum!”

“Sudahlah. Tak ada perlunya memberi hukuman. Kami hanya mau menginap di rumah ini barang semalam,” jelas Pranaraja. Perwira tinggi itu menginginkan penginapan yang layak, namun semua kamar sudah penuh hingga wanita itu menawarkan kamar belakang. Jarawaha marah pada wanita itu dan terjadilah keributan kecil.

Tampaknya Jaran Bangkai, pemuda yang berperangai berangasan itu mendengar percakapan mereka hingga ia bangkit dan menghampiri. “Hahahah! Selamat malam, tuan-tuan. Agaknya Tuan-tuan membutuhkan ruangan yang nyaman untuk istirahat malam ini?”

“Ya! Agaknya Tuan-tuan baru saja berjalan jauh!” timpal Jaran Lejong. Wajah kedua pemuda itu sangat mirip.

Mereka memang kakak-beradik. Cara bicara dan tingkah laku mereka cenderung liar dan berangasan.

Jaran Bangkai menghela napas lalu memandang Jarawaha, Ganggadara, dan Pranaraja berganti-ganti.

Kepalanya mengangguk-angguk dibuat-buat sambil mendenguskan napas

“Baiklah! Kami tahu bahwa tuan-tuan adalah prajurit Singasari yang sudah sepantasnya dihormati. Karena itu kami akan mengalah saja. Ambillah ruang tidur kami yang di depan itu untuk istirahat!”

“Terima kasih, Tuan Jaran Bangkai'” tukas Pranaraja tegas.

“Ayo, Adi Jaran Lejong! Kita pindahkan barang-barang kita ke ruangan belakang!” ajak Jaran Bangkai membalik-kan tubuh setelah mengangguk kepada Pranaraja,

Ganggadara, dan Jarawaha yang menjawab dengan anggukan kepala juga.

Pelayan itu membantu menambatkan kuda di bawah pohon sawo lalu memberi rumput pada binatang-binatang itu. Sementara ketiga tamu terhormatnya dibiarkan langsung masuk ke ruang istirahat.

Tengah malam, ketika baru saja mereka akan merebahkan diri di balai-balai, terdengar langkah seseorang.

Mereka bersiaga. Ganggadara setengah berjingkat mendekati pintu utama dan mengintip ke luar. Setelah tahu siapa yang datang ia pun segera membuka pintu hingga terdengar derit panjang. Pranaraja langsung mendekati pelayan yang serius membungkuk pada mereka. ”Ada apa, pelayan?”

”Gusti. Harap Gusti berhati-hati. Dua orang itu agaknya punya niat yang kurang baik!” bisik pelayan ke telinga Pranaraja.

Pranaraja dan kedua bawahannya mengerutkan dahi.

Bibir Pranaraja bergetar sebelum balik bertanya lirih pada pelayan.

”Kau tahu banyak tentang mereka?”

”Mereka orang-orang jahat, Gusti. Mereka suka merampok orang-orang yang kemalaman di jalan,” jelas pelayan. Pelayan itu juga memberi keterangan tentang jalan yang harus dilalui Pranaraja.

Setelah basa-basi pelayan itu segera mundur pergi karena melihat para tamunya beberapa kali menguap di depannya.

Pranaraja ngantuk sekali setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pelayan itu.

Matahari telah tinggi sepeng-galah. Sinarnya menerpa bumi Singasari yang semakin agung dan anggun oleh Citranya nan cemerlang Angin mendesau lembut menyapa dedaunan hingga berayun-ayun seolah menyapa penuh keramahan pada tiga prajurit Singasari yang melanjutkan perjalanan menuju desa Kurawan. Kuda-kuda yang mereka tunggangi pun ikut meringkik, seakan-akan mengucapkan syukur pada Hyang Murbehing Dumadi, Sang Khalik yang senantiasa memberikan rahmat-Nya pada segala yang diciptakan-Nya. Tetapi kedamaian itu terusik ketika kuda Pranaraja yang ada di depan tiba-tiba meringkik dan melonjakkan kedua kaki depannya.

“Sebentar. Jalan yang harus kita tempuh semakin sempit dan berbahaya. Kita harus berhati-hati, Ganggadara!”

Baru saja ia mengatupkan bibirnya, mendadak ada pohon cukup besar roboh sedemikian dahsyat. Suaranya gemeretak memecah keheningan. Ketiga kuda tunggangan itu meringkik terkejut hingga oleng ke kanan dan ke kiri seperti ketakutan.

Ketiganya semakin waspada. Gemeretak dahan-dahan pohon yang patah nyaris mengenai tubuh Pranaraja seandainya Jarawaha tidak berteriak memperingatkan tuannya. “Awas, Tuan!” Pohon yang lebih besar roboh menimbulkan suara berdebum. Belum hilang rasa heran dan terkejut di depan mereka berlompatan dua pemuda berangasan yang tidak asing lagi buat mereka. Keduanya tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil membuat lelucon buat ksatria Singasari.

Ganggadara menahan emosi. Giginya gemeretak dan rahangnya tampak menonjol. Matanya melotot menyala-nyala. Napasnya sedikit terengah dan dihempaskan kasar sekali.

“Hei! Bukankah kalian Jaran Bangkai dan Jaran Lejong? Apa maksud kalian merobohkan pohon ini di tengah jalan?”

“Hahahahah! Maksud kami adalah menghalang-halangi perjalanan kalian bertiga!” jawab Jaran Bangkai meremehkan.

“Kurang ajar!” geram sekali Ganggadara. Ia merasa diremehkan oleh pemuda liar.

Jika Pranaraja tidak segera mengisyaratkan agar tenang, tentu ia sudah membabat kedua pemuda itu

“Tenang, Ganggadara! Tenang saja. Aku tahu siapa mereka.”

Pranaraja melompat dari punggung kudanya diikuti Ganggadara dan Jarawaha yang sudah memasang kuda-kuda. Jiwa keprajuritan telah mendarah daging dalam setiap geraknya. Keduanya bersabar menanti perintah Pranaraja, yang tenang tersenyum sinis pada kedua pemuda berangasan di depannya.

“Bukankah kalian bermaksud merampok kami?” tanyanya ringan.

“Hahahahha, tidak! Kami hanya ingin minta ganti rugi!” jawab Jaran Bangkai kasar. Suaranya parau.

“Ganti rugi apa? Kami tidak pernah merugikan kalian!” tukas Jarawaha. Jaran Bangkai maju selangkah dengan mata semakin jalang memandang Jarawaha

“Semalam kalian tidur nyenyak di rumah penginapan itu, sedang kami hampir tak bisa tidur!”

“Ya! Kami tidur dikerubuti nyamuk dan kepinding. Apakah itu bukan kerugian namanya?” timpal Jaran Lejong sambil memelototkan matanya

“Baik! Sekarang apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Pranaraja sedikit bersabar.

“Kalau kalian mau memberi kami lima puluh ringgit, maka kami akan membiarkan kalian melewati jalan ini!” jawab Jaran Bangkai.

“Jaran Bangkai. Apakah kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa? Kami adalah prajurit. Kami tidak akan mempan digertak seperti itu!” Pranaraja memandang mereka remeh.

“Heee! Begundal-begundal Kertanegara! Kami bukan hanya menggertak. Kalau kalian tidak bersedia memberikan apa yang kami minta, kalian akan menyesal!” ancam Jaran

“Jarawaha dan Ganggadara! Aku muak melihat tampang mereka! Cepat bereskan!”

“Baik, Tuan!” jawab Ganggadara dan Jarawaha serentak.

Keduanya melangkah zig-zag dengan kuda-kuda. Kaki mereka seperti terpaku ke dalam tanah. Tangan-tangan yang berotot itu serempak meraba gagang pedang dan

mencabutnya penuh perasaan, seolah-olah pedang mereka senyawa menyatu. Pedang mereka tajam berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari, menyilaukan mata. Mereka tersenyum dengan tatap mata galak bagai mata elang yang ingin menyergap mangsanya.

“Ayo, Jaran Bangkai dan Jaran Lejong! Kalau kalian menginginkan lima puluh ringgit, cabutlah pedang dan hadapi Jarawaha dan Ganggadara!” tantang Jarawaha tanpa bergeming sedikit pun dan tempatnya berpijak, hanya dadanya yang kelihatan turun-naik memusatkan pernapasan mengumpulkan kekuatan.

Terdengar suara berdecing pedang terhunus dari wrangka-nya ketika Jaran Bangkai dan Jaran Lejong menyambut tantangan itu. Jaran Bangkai melangkah ke samping sambil menyeringai garang, “Ayo, Adi Jaran Lejong! Kita tak perlu takut pada tikus-tikus piaraan Kertanegara!” Mendengar ejekan Jaran Bangkai, kedua ksatria Singasari tak mampu menahan emosi lagi. Wajah mereka merah padam. Disertai teriakan kemarahan mereka menerjang dan menggebrak musuh. Jaran Bangkai dan adiknya berlompatan mundur, menghindari gempuran dahsyat dari lawan yang ternyata memiliki ketangguhan.

Jaran Lejong menyamping ketika tangan kakaknya memberi isyarat.

“Bagus. Agaknya kali ini kita mendapat lawan yang sepadan, Adi Jaran Lejong!”

“Cepat bereskan mereka, Jarawaha! Apa yang kalian tunggu?” perintah Pranaraja memberikan semangat dari kejauhan ketika kedua bawahannya tak melanjutkan gebrakan.

Teriakan Pranaraja membakar darah muda mereka. Keduanya kembali melompat dan menerjang musuh. Pedang mereka rrtenyambar dan beradu. Mata Jaran Bangkai dan Jaran Lejong mendelik. Mereka terkejut karena senjata andalan mereka patah. Keduanya menjadi ragu-ragu antara menyerah atau melanjutkan duel. Keraguraguan membuat berandalan itu gemetaran dan kurang percaya diri. Sedianya hendak melompat menerjang tetapi yang dilakukan justru menekuk lutut dan bersujud menyembah sampai ke tanah.

Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Napas mereka terengah-engah. Wajah mereka pucat pasi tak berani memandang tatapan Ganggadara dan Jarawaha yang masih menggenggam pedang. Jarawaha mengatur napas sambil memandang enteng musuhnya.

“Bagaimana, Jaran Bangkai dan Jaran Lejong? Kalian masih menginginkan lima puluh ringgit?”

“Oh, tidak. Kami menyerah. Silakan tuan-tuan lewat jalan ini.”

“Ya, kami tidak akan menganggu lagi!” tukas Jaran Lejong menimpali kakaknya.

Keduanya menggigil ketakutan ketika Pranaraja melangkah mendekati mereka dan membentak, “Tidak semudah itu! Kalian berani melawan prajurit Singasari, bahkan menghina Prabu Kertanegara! Untuk itu kalian harus dihukum!”

Mendengar ucapan Pranaraja yang tegas, Jaran Bangkai dan Jaran Lejong menubruk kaki Pranaraja, meratap dan menangis. Tubuh mereka berguncang-guncang hebat penuh kecemasan sebab mereka mendengar Pranaraja mencabut pedang dari sarungnya. Pedang pusaka Pranaraja lebih tipis dibandingkan milik Jarawaha dan Ganggadara. Jalur-jalur rajah dan pamor tampak jelas pada sisi-sisi senjata itu.

Melihat pantulan sinarnya saja sudah kelihatan bahwa pedang itu bukan senjata sembarangan. Dengung suaranya ketika dicabut dari wrangka seperti memekak-kan telinga kedua perampok yang kini tak berdaya di kaki Pranaraja.

“Oh, ampun, Tuan. Kami mengaku bersalah!” ratap Jaran Bangkai. Air matanya mulai meleleh di pipinya.

Kedua tangannya semakin erat memegang pangkal kaki Pranaraja. Demikian halnya dengan Jaran Lejong, ratapannya terdengar pilu bagai babi hutan terperangkap jebakan.

“Ya Tuan, kami menyesal sekali. Kami sungguh-sungguh menyesal telah berani mengganggu tuan-tuan!”

“Tidak mudah mengampuni kesalahan seperti itu. Mana tangan kalian? Ulurkan ke depan. Aku akan memotongnya!” Pranaraja mengempaskan mereka dari kakinya. Mereka merintih sambil membentur-benturkan kepala di tanah tanda menyesal, tapi Pranaraja tidak menyarungkan kembali pedangnya. Bahkan dengan garang mendekati kedua perampok itu. Pranaraja meng-usapkan mata pedang itu pada telapak tangannya. Setiap gerakan tangannya membuat sisi mata pedang berkilat-kilat menyilaukan. Ratapan kedua perampok itu semakin memilukan, namun Pranaraja tak ambil peduli.

“Ampun, Tuan. Hamba mengaku salah!” lolong Jaran Bangkai.

“Hamba tak akan berbuat seperti ini lagi, Tuan. Hamba bersumpah,” ratap Jaran Lejong tak kalah menyayat hati.

“Kalau perampok seperti kalian ini dibiarkan, yang mendapat kerugian besar adalah pemerintah Singasari!” ucap Pranaraja dalam dan bergetar.

“Hamba sudah kapok, Tuan. Hamba berjanji akan menjadi orang baik-baik,” suara Jaran Bangkai parau, tak jelas lagi di sela isak dan engahan napas.

“Hamba tidak berani merampok lagi. Sekarang kami sadar bahwa merampok adalah perbuatan yang tercela,” timpal adiknya.

“Mengapa tercela?” bentak Pranaraja membuat keduanya terkejut dan gelagapan

“Sebab, sebab… ehh… maksud hamba…”

“Sudahlah, Jaran Lejong! Orang seperti kalian tidak akan bisa berubah lagi. Ayo! Mana tangan kalian! Cepat ulurkan!” bentak Pranaraja parau dan penuh murka. Pedang diangkat ke udara hingga terdengar suara mendengung.

Kedua penjahat itu tersungkur mencium tanah.

“Ohh, ampun, Gusti. Tangan hamba jangan dipotong. Kalau tangan kami dipotong dengan apa kami bekerja?” ratap mereka semakin tumpang tindih.

Dengan pedang masih terhunus, Ganggadara mendekati mereka dan membentak, “Cepat ulurkan tanganmu!”

“Jangan sampai Tuan Pranaraja marah sehingga leher kalian yang harus ditebas!” timpal Jarawaha karena keduanya menekuk tangan ke perut mereka sambil mencium tanah.

Dengan tatapan mata bagaikan seekor rajawali, Pranaraja melangkah ke depan. Sementara Jaran Bangkai dan Jaran Lejong dengan muka pucat dan gemetar terpaksa mengulurkan kedua tangannya.

Pandangan mereka mengabur tak berani menatap Pranaraja. Keringat mereka bercucuran, napas terengah, dan gemuruh jantung membuncah-buncah menahan kengerian, menanti petaka yang sebentar lagi mampir dalam hidup mereka. Mereka akan hidup cacat seumur hidup.

Namun pada saat yang kritis itu muncul dua sosok tubuh menguak pohon-pohon hutan yang meranggas tak berdaun.

Laki-laki dan perempuan. Mereka langsung melompat dari punggung kuda masing-masing tak jauh dari Jaran Lejong yang merintih minta ampun.

“Tunggu! Apa yang terjadi?” tanya lelaki cebol berkepala botak mendekati mereka. Pranaraja menahan pedang-nya di udara.

“Aku akan memotong tangan kedua perampok ini!” jawabnya tegas.

“Tenanglah. Jangan terburu nafsu,” lanjut lelaki cebol bermata tajam memandang Pranaraja, Ganggadara, dan Jarawaha berganti-ganti.

Melihat gelagat lelaki cebol itu Ganggadara membuka mulutnya dan tak sabar menukas, “Ini bukan urusanmu. Kalian siapa? Apa tujuan kalian datang ke tempat ini?”

“Apakah kami salah karena telah melewati jalan ini? Harap Tuan bisa menahan diri sedikit!” jawab yang perempuan. Ia berumur sekitar tiga puluhan tahun.

Wajahnya cantik, tetapi tatap matanya seram dan sadis. Suaranya memiliki tekanan khusus. Ia memandang enteng pada Pranaraja.

Pranaraja tanpa bergeming membalas pandangan perempuan itu

“Baik. Kalian boleh lewat. Silakan!” ucapnya sedikit rendah tanpa tujuan mengalah.

Perempuan itu mencibir, demikian juga si lelaki cebol ikut-ikutan tersenyum sinis dan tertawa pendek, suaranya seperti kambing terjerat lehernya.

“Semula kami memang hanya ingin melewati jalan ini. Tapi karena di sini telah terjadi sesuatu, maka tak ada salahnya kami ingin tahu. Bukan mau turut campur Hanya ingin tahu saja!”

“Hee, orang cebol! Kau jangan membuat perkara baru dengan kami. Lewatlah kalau memang mau lewat. Jangan banyak cingcong,” gertak Ganggadara mengeretakkan giginya.

“Hemm! Jangan kaukira aku tidak mengenal kalian! Rupanya prajurit-prajurit Singasari sudah mabuk kemenangan, hingga bicara seenak perutnya sendiri,” tukas lelaki cebol sinis.

“Tutup mulutmu!” gertak Ganggadara kurang sabar.

“Cukup, Ganggadara!” sela Pranaraja menengahi lalu memandang galak pada lelaki cebol dan perempuan itu.

“Sebenarnya kalian mau apa?”

“Kami tidak suka melihat perbuatan sewenang-wenang!” jawab si cebol lantang.

“Mereka perampok. Mereka orang-orang jahat. Barangkali mereka sudah membunuh puluhan manusia. Bukankah sudah sepantasnya dihukum?” jelas Pranaraja tegas.

“Janganlah Tuan menghukum tanpa bukti.” Lelaki cebol itu mengangguk-angguk dan menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.

“Mari kita lihat apakah dua orang ini telah melakukan kesalahan atau tidak.” Si cebol mendekati Jaran Bangkai dengan jumawa dan sok luhur.

‘Siapa namamu?” tanyanya parau

“Ekh, nama saya Jaran Bangkai, Tuan!” jawab Jaran Bangkai tanpa berani mengangkat wajah, namun sudah sedikit berkurang rasa takutnya karena merasa ada dewa penyelamat di dekatnya

“Dan kau?”

“Saya Jaran Lejong, Tuan!” hampir tak terdengar Lejong menjawab

“Coba jawab, apakah kalian telah merampok harta tuantuan ini? Berapa kampil emas yang telah ka lan ambil dari mereka? Berapa ringgit yang telah kalian rebut?”

“Ekh, kami… kami belum mengambil apa-apa, Tuan!” jawab Jaran Bangkai sedikit mengangkat wajah melirik dengan ekor matanya ke arah Pranaraja yang ternyata masih memegang pedang telanjang berkilat menakut-kan hatinya

“Nah, bagaimana, Tuan? Bukankah tuduhan-tuduhan tuan-tuan kurang bukti?” tanya lelaki cebol itu penuh kemenangan.

“Mereka memang belum sampai mengambil apa-apa, tapi mereka bermaksud merampok kami. Itu yang penting,” Jarawaha menjawab tak sabar.

“Kalau begitu tuan-tuan tidak berhak menghukum mereka, apalagi memotong tangan mereka,” lanjut si cebol.

Kedua perampok itu saling melirik seolah-olah mendapat angin segar yang memberikan kipasan harapan untuk bebas dari tajamnya pedang Pranaraja. Namun, mendengar ucapan si cebol, Ganggadara naik pitam lalu membentak sangat kasar pada lelaki berwajah buruk itu.

“Hee, orang cebol! Kau mau pergi atau tidak?”

“Huuh. Kau tidak berhak mengusir kami sekalipun kau prajurit Singasari. Kami bebas. Kami bisa pergi ke mana kami suka. Kalian tidak usah ikut campur,” tukas si perempuan sambil mencibir ke arah Ganggadara yang dadanya turun-naik menahan emosi.

“Jadi, kalian tidak mau pergi?” semakin keras Ganggadara membentak mereka. Namun, si cebol mencerca Ganggadara dengan pandang remeh yang dilihatnya terlalu mentah baginya.

“Jangan gusar. Kami akan segera pergi, tapi bersama mereka.”

Tangan si cebol menepuk pundak kedua perampok yang masih tersungkur di depan Pranaraja.

“Ayo, Jaran Bangkai dan Jaran Lejong! Naiklah ke atas kuda, kita tinggalkan tempat ini!”

“Kurang ajar. Kau berani meremehkan kami!” bentak Ganggadara.

Dengan kedipan matanya ia memberikan isyarat pada Jarawaha sehingga dalam waktu singkat Jarawaha menggebrak hebat ke arah si cebol. Namun, ketiga prajurit Singasari itu sempat kagum melihat si cebol berkelit dengan lincah dan sangat menarik menghindari serangan mendadak Jarawaha. Mata Ganggadara melotot!

“Hei, kalian punya kebisaan juga rupanya?” Ganggadara berkomentar sinis dan mencibir. Matanya awas memperhatikan lawan tanding yang tak boleh diremehkan.

“Dia ingin memamerkan kemampuan ilmunya, Adi Ganggadara.”

“Kita ringkus saja sekalian. Siapa tahu mereka adalah komplotan perampok juga!” Tanpa banyak komentar lagi, kakak-beradik itu merangsek maju dan menyabetkan pedang tajam menyapu si cebol tepat di lehernya, namun si cebol sudah mencelat dan melompat di tempat lain sambil tertawa terkekeh meremehkan serangan yang sangat mentah itu.

“Hentikan!” seru Pranaraja melihat gelagat tak baik.

“Cukup, Jarawaha, Ganggadara!” Serempak keduanya menghentikan serangan dengan kaki tetap dalam posisi kuda-kuda dan penuh siaga. Jarawaha menoleh ke arah atasannya penuh rasa ingin tahu,

“Ada apa, Tuan?” tanyanya tolol.

“Tak ada manfaatnya berurusan dengan mereka!” jawab Pranaraja tanpa memandang ke arah si cebol, si perempuan dan kedua perampok.

“Tapi mulut si cebol dan perempuan itu sudah keterlaluan, Tuan,” tukas Ganggadara dengan terengah.

Pranaraja melotot pada Ganggadara, “Cukup kataku! Biarkan mereka pergi.” Pranaraja mengangkat tangannya sampai di bawah bahu dan memberikan isyarat agar komplotan si cebol itu pergi saja.

Si cebol tertawa terkekeh, “Heheheheheheh! Rupanya Tuan yang ini mempunyai penglihatan lebih jeli. Nah, maafkan kami Bukan maksud kami ingin membuat gara-gara. Tapi kami tidak rela melihat prajurit-prajurit Singasari menjadi rusak Citranya.” Si cebol melompat ke punggung kudanya, dan kembali berseru, “Supaya tuan-tuan tidak penasaran, ada baiknya kami memperkenalkan diri. Nama saya Mpu Tong BajiL Orang sering menyebut saya si cebol dari lereng Tengger.”

“Dan saya Dewi Sambi! Saya dibesarkan dan ditempa oleh angin pegunungan Lembah Kawi.”

Mpu Tong Bajil si cebol terkekeh seraya merapatkan kudanya di sisi kuda Dewi Sambi dan terkekeh panjang seraya mengangkat tongkatnya.

“Selamat jalan Tuan-tuan. Mudah-mudahan kita akan bertemu lagi di lain kesempatan.” Dia lalu memandang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong, “Ayo Jaran Bangkai, Jaran Lejong! Heya-heya heyaaaaa!”

Si cebol diikuti Dewi Sambi dan kedua perampok itu menghela kuda. Sepakan kaki kuda meninggalkan kepulan debu-debu sampai akhirnya mereka lenyap di balik tikungan yang penuh semak belukar.

Pranaraja menghela napas panjang memperhatikan arah lenyapnya empat kawanan orang aneh itu. Ganggadara menghampirinya.

“Tuan, mengapa Tuan membiarkan mereka pergi?”

“Jelas mereka orang-orang jahat, Tuan. Mereka pasti akan mengacau di tempat lain,” tukas Jarawaha.

Pranaraja memandang anak buahnya satu persatu dengan tenang, “Kita sedang mengemban tugas penting, karena itu kita jangan membuat masalah dengan orangorang seperti mereka.”

“Tapi orang-orang itu sudah berani menghina kita!” Jarawaha menahan rasa kesal hingga suaranya sedikit tercekat di tenggorokan.

“Ya, Tuan. Sudah seharusnya mereka dihukum cambuk!” timpal Ganggadara tidak kalah sengit.

“Ganggadara! Mereka tidak dapat kausamakan dengan Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Ilmu kanuragan dua orang itu cukup tinggi.”

Jarawaha melangkah lebih rapat ke Pranaraja, “Bagaimana Tuan bisa mengukurnya?”

“Dari sikapnya, dari pandangan matanya, juga dari kecepatan geraknya. Aku yakin, kalau sampai kita terlibat perkelahian dengan mereka, kita akan mendapat kesulitan besar.” Pranaraja menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya agak kasar.

“Sudahlah! Mari kita lanjutkan perjalanan!” Pranaraja melompat ke punggung kuda diikuti Jarawaha dan Ganggadara. Tampak Pranaraja berpikir keras dan di bilik hatinya menyimpan rasa cemas.

Mereka menghela kuda masing-masing dan ketiga binatang perkasa itu pun mulai menapak jalan setapak. Mula-mula perlahan tapi lambat laun kian cepat seiring sentakan dan hela para penunggangnya. Tampak ketiga prajurit Singasari itu beriring menuju desa Kurawan.

Sementara itu perjalanan si cebol, Dewi Sambi dan dua pemuda yang baru mereka kenal tampak menghentikan

kuda mereka dan keempatnya berteduh di bawah kerindangan pohon beringin. Jaran Bangkai dan Jaran Lejong begitu hormat pada dua pendekar yang telah menyelamatkan nyawanya.

“Untung Tuan menolong kami, kalau tidak kami akan menjadi orang tak berguna lagi.”

“Ya, karena kami akan kehilangan tangan kami,” tukas Jaran Lejong menimpali Jaran Bangkai.

Mpu Tong Bajil tersenyum dingin, “Prajurit-prajurit Singasari itu tidak akan berani melakukannya di depanku.”

“Ya. Benar, Tuan. Agaknya mereka gentar menghadapi Tuan berdua,” puji Jaran Bangkai.

Dewi Sambi memperhatikan keduanya dengan menyipitkan mata. Ia melihat dua pemuda itu, berotot dan beringas, “Apa benar kalian bermaksud merampok mereka?”

Jaran Bangkai melirik Jaran Lejong, mengangguk dan menjawab dengan gemetar, “Eh, be… benar, Tuanku.”

Lalu Jaran Lejong menjelaskan dengan perlahan, bahwa mereka memang perampok. Mereka selama ini hidup dari merampok harta benda orang. Hampir sepuluh tahun mereka melakukan hal itu.

Mpu Tong Bajil makin tersenyum lebar, matanya mengerdip pada Dewi Sambi yang duduk merapat di sebelah kanannya.

“Jawab saja dengan jujur. Kau senang pekerjaan itu?”

Setelah menoleh kepada Jaran Bangkai, Jaran Lejong agak ragu menjawab pertanyaan Mpu Tong Bajil, “Eh, ya. Terus-terang sebenarnya kami menyukai pekerjaan itu, tapi…”

“Cukup!” potong Mpu Tong Bajil. Dengan tajam ia perhatikan dua pemuda berotot itu matanya pun menyipit, melirik Dewi Sambi penuh arti, “Kalau kau senang pekerjaan itu, kau boleh ikut kami.”

Jaran Bangkai belum paham sepenuhnya apa yang dimaksudkan si cebol, namun si cebol segera menangkap rasa penasaran kedua pemuda itu.

“Maksudku, marilah kita merampok bersama-sama. Marilah kita menjadi perampok yang lebih mapan.”

Jaran Bangkai menyodok bahu Jaran Lejong dan tersenyum lebar, “Oh, kami mau, Tuan. Kami senang sekali bergabung dengan Tuan “

Mpu Tong Bajil manggut-manggut, demikian halnya dengan Dewi Sambi. Mereka tampaknya bersukacita bisa mendapatkan dua anak buah baru. Mpu Tong Bajil kembali serius memperhatikan Jaran Bangkai dan Jaran Lejong, “nanti akan kita bicarakan lagi soal ini. Sekarang mari kita pergi. Aku harus mengunjungi seorang kawan lama di Jasun Wungkal.” Si cebol bangkit meraih lengan Dewi Sambi, melangkah menuju kuda masing-masing dan meninggalkan tempat sepi itu.

Sementara itu perjalanan Pranaraja dan dua prajurit bawahannya sudah sampai di wilayah Kurawan. Mereka telah melewati tugu pembatas desa. Mereka melihat seorang lelaki tua sedang membetulkan saluran air di sawahnya.

Jarawaha mengarahkan kudanya ke dekat lelaki tua itu yang sibuk membenahi pematang saluran air.

“Hei, Pak Tua! Kau tahu di mana rumah Mpu Hanggareksa?” seru Jarawaha tanpa turun dari punggung kudanya

Lelaki tua itu tidak menjawab, sebaliknya ia mengomel karena saluran air yang menuju sawahnya telah jebol.

“Huuuh! Siapa yang memotong saluran airku ini? Dasar maling!”

“Pak Tuaaaa! Di mana rumah Mpu Hanggareksa? Kau tahu tidak?” seru Ganggadara dari punggung kuda.

Tapi lelaki tua itu sedikit pun tidak memberikan tanggapan. Bahkan makin asyik membetulkan pematang yang bobol dan terus ngomel sendiri.

Ganggadara tampak kesal dan tidak sabar, “Kurang ajar! Kau jangan mempermainkan aku, Pak Tua!”

“Mungkin dia tuli, Adi Ganggadara,” tukas Jarawaha.

Pak Tua itu benar-benar tidak menyahut, bahkan saat Ganggadara menegurnya makin keras, tetap saja lelaki tua itu macul dan menghempaskan cangkulnya kuat-kuat seraya ngomel. Ia kesal pada orang yang merusak tanggul saluran air.

Jarawaha dan Ganggadara merasa dipermainkan lelaki tua itu, apalagi kehadiran mereka tampak tidak dihiraukan.

Merasa diremehkan kedua prajurit Singasari itu naik pitam. Ganggadara melompat dari punggung kuda dan langsung menyerang lelaki tua.

Lelaki tua menggunakan cangkul untuk menangkis tendangan Ganggadara, dan ia mundur. Ia cipratkan lumpur ke Ganggadara hingga prajurit Singasari itu menghentikan serangannya.

“E, e, e, e ada apa ini? Kok marah-marah?”

“Pak Tua, kau jangan main-main!” ancam Ganggadara.

“Enak saja! Siapa yang main-main? Aku kan sedang macul saluran air ini, karena airnya mampet maka kupacul.”

Jarawaha melangkah lebih dekat, “Pak Tua! Apa kau tidak dapat melihat? Apa kau tidak tahu bahwa kami adalah prajurit-prajurit Singasari?”

“Oh, hoho… jadi kalian bertiga ini prajurit Singasari, ya?”

“Ya. Karena itu kau harus minta maaf pada kami!” Jarawaha sedikit membentak dan menggertak.

Lelaki tua itu tersenyum dingin, disambung dengan tawanya yang aneh dan tertahan “Minta maaf? Mengapa?”

“Karena kau sudah berbuat salah!” suara Jarawaha meninggi.

Lelaki tua itu makin bingung tidak tahu apa salahnya. Ia

terus tersenyum dingin dan mengelus-elus joran cangkul.

“Apa salahku?” gumamnya lirih.

“Dengar! Kau telah berani berlaku tidak sopan pada kami!” bentak Jarawaha

Lelaki tua berpakaian compang-camping, kumal dan tampak belepotan lumpur itu makin terkekeh. Ia merasa lucu, “Dagelan! Heheheheh…. Kok bisa gitu, ya? Yang berlaku tidak sopan itu siapa? Aku atau kalian? Enak saja. Sudah, sudah! Pergi sana! Aku mau kerja.” Lelaki itu kembali asyik mencangkul tidak menghiraukan ketiga prajurit Singasari yang memperhatikannya. Jarawaha dan Ganggadara melotot dan bertolak pinggang.

Ganggadara naik pitam, ia anggap lelaki tua itu sudah gila dan tidak tahu aturan. Dadanya terbakar dan amarahnya memuncak. Ia langsung mencabut pedang dan berusaha menyabetkan kearah orang yang meremehkannya.

Namun, dugaannya meleset. Joran cangkul di tangan lelaki tua itu menari dan berputar dengan indah menangkis seluruh serangannya. Ganggadara tidak mungkin menyerang lebih lanjut dengan posisi yang sulit. Ia juga tidak mau belepotan lumpur. Ia ingin sekali menenggelamkan lelaki tua itu ke dalam lumpur agar dimakan cacing. Ia makin gencar menyerang.

Melihat keadaan yang tidak baik seperti itu Pranaraja melompat dari punggung kuda, “Tunggu! Hentikan banyolan murah ini!” Pranaraja melompat ke pematang dan menghampiri lelaki tua. “Pak Tua, kami datang ke desa Kurawan ini mengemban titah Sang Prabu Kertanegara.”

“Hm, ya, ya. Lalu?…”

“Kami sudah lelah karena perjalanan yang cukup jauh. Karena itu berlakulah sedikit sopan, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Lelaki tua mencibir dan geleng-geleng kepala “Yang berlaku tidak sopan itu bukankah kalian sendiri? Coba, apa pantas bertanya pada orang tua dari atas punggung kuda begitu? Apa mentang-mentang kalian prajurit, lalu boleh berbuat seenak jidatmu?”

Pranaraja merah padam. Dia baru sadar jika selama ini dia sendiri dan kedua anak buahnya itu sering tidak sopan

Maka ia melepaskan kacak pinggangnya. Sedikit menghela napas dan mendengus. Ia lalu bertanya di mana letak rumah Mpu Hanggareksa. Masih dengan suara yang kasar, “Di mana rumah Mpu Hanggareksa?”

Lelaki tua itu makin keki dan menyipitkan matanya.

“Bukan begitu cara bertanya yang baik. Aku tidak akan menjawabnya.”

Pranaraja turut naik pitam. Ia terpaksa ambil tindakan tegas, memaksa lelaki tua agar mengikuti kehendaknya.

Kedua tangannya mengisyaratkan agar anak buahnya menangkap lelaki tua itu. Jarawaha menarik pedang, dan Ganggadara sudah siap menyerang.

Lelaki tua mengangkat tangan, “Baiklah! Sekarang begini saja. Karena kalian sudah mencabut pedang, tentu tidak enak kalau harus disarungkan kembali. Nah, biar aku mengalah. Aku akan menunjukkan rumah orang yang kalian cari, tapi dengan syarat.”

“Apa syaratnya?” bentak Jarawaha.

“Kalian tentu bangga sekali dengan pedang milik kalian itu.”

“Ya. Sudah pasti!” tukas Ganggadara. “Kalau kau masih rewel juga, maka sebentar lagi lumpur sawah ini akan menjadi saksi kematianmu, Pak Tua!”

“Hiii, mengerikan sekali. Tapi sebaiknya jangan sampai begitu. Kalau kalian memiliki pedang, nah… aku memiliki cangkul. Lihatlah!” lelaki tua mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya pada langgam punggung mata cangkulnya. “Kalau kalian bangga dengan pedang itu, maka aku pun

bangga dengan cangkulku ini. Sekarang kita adu saja. Mana yang lebih ampuh, cangkulku ini atau pedang kalian itu?”

“Kau jangan main-main, Pak Tua!” ancam Jarawaha.

“Siapa yang main-main, anak muda? Coba saja buktikan! Kalau pedang kalian bisa melukai cangkulku, apalagi sampai membelah cangkulku ini, nah… itu tandanya aku kalah. Kalian berhak mengetahui rumah orang yang kalian cari.”

“Bagaimana, Adi Ganggadara?” Ganggadara jadi bingung, ia kembali melemparkan pertanyaan kakaknya pada Pranaraja yang sejak tadi sudah kesal.

“Mengapa kalian jadi bodoh? Tebas saja cangkul itu menjadi dua. Bukankah pedang kalian sudah berpengalaman dalam perang?” bentak Pranaraja pada dua anak buahnya dengan mata melotot dan berkilat-kilat.

Ganggadara menoleh ke Pak Tua dan tersenyum sinis,

“Baik, Pak Tua! Letakkan cangkulmu itu, biar kuhancur kan!”

“Hehe, tidak usah! Biar kupegang saja. Ayo, tunjukkan keampuhan pedangmu!” Pak Tua terus terkekeh dan memegang joran cangkulnya dengan tenang, tangannya yang sudah tua berhias kerutan dan kotor oleh lumpur kering tampak mencengkeram kuat bagaikan cakar rajawali mencengkeram mangsanya. Dengan tersenyum dan mengusap langgam punggung mata cangkul dengan tangan kirinya, ia meludahi punggung mata cangkulnya yang masih basah dan kotor oleh lumpur.

Ganggadara tidak sabar lagi, ia ancang-ancang dan langsung menebas cangkul. Tebasan pedangnya yang sangat keras menimbulkan benturan kuat dan tampaklah percikan api dari empasan dua benda keras itu

Cangkul masih utuh di tangan lelaki tua yang terkekeh dan meminta agar Ganggadara lebih keras menghempaskan pedangnya.

Lelaki tua makin terkekeh ketika usaha Ganggadara sia-sia belaka. “Mana? Aku ingin melihat senjata kebanggaan prajurit-prajurit Singasari.” Tawa lelaki tua makin terkekeh menyakitkan telinga ketiga prajurit Singasari.

Jarawaha meminta Ganggadara minggir dan ia menebaskan pedangnya dengan dahsyat. Percikan api memancar dari benturan pedang dan cangkul lelaki tua

“Kurang ajar! Tangkap lelaki tua itu, Jarawaha! Dia sengaja menghina kita. Ringkus tua barigka itu!” geram Pranaraja memerintahkan anak buahnya. Ia berkacak pinggang dan meraba gagang pedangnya.

Lelaki tua itu kaget karena kedua prajurit Singasari menyerang dengan gebrakan panjang tanpa peringatan sebelumnya. Namun ia sigap menanggapi. Ia mundur beberapa tindak di pematang sambil memainkan cangkul yang ia kibaskan ke sana-ke mari. Gerakannya gesit dan lincah. Seolah cangkul di tangannya bagaikan mainan, bagai kitiran yang terus menangkis serangan Jarawaha dan Ganggadara.

Percikan-percikan api terus memancar setiap kali terjadi benturan pedang dan cangkul. Anehnya, dua prajurit Singasari itu sedikit pun tidak mampu maju dan menyentuh lelaki tua, sedangkan lelaki tua tetap bertahan di tempatnya di atas pematang sempit. Ganggadara dan Jarawaha sudah belepotan lumpur.

Melihat gelagat yang tidak sedap seperti itu Pranaraja berteriak lantang, “Mundur Jarawaha! Menepilah Ganggadara!”

Jarawaha dan Ganggadara menghentikan serangan dan merunduk hormat pada Pranaraja yang tetap memandang tajam, galak dan marah pada lelaki tua. Mereka mundur dan berdiri di kanan kiri Pranaraja dengan sekali lompatan.

Pranaraja makin melotot memandang lelaki tua berpakaian compang-camping yang berdiri lima tombak di depannya. Ia makin muak ketika lelaki tua menyibakkan rambut kelabunya seraya membetulkan letak caping kropaknya.

“Pak Tua! Kau mau pamer kepandaian di depan kami?” bentak Pranaraja.

“Huh. Apa? Aku pamer kepandaian? Teman-temanmu itulah yang sok jago. Mentang-mentang prajurit Singasari lalu main tendang, main pukul, main keroyok. Tentu sa]a aku tidak mau diperlakukan seperti itu.”

“Kalau kau masih berkeras tidak mau melayani kami dengan baik, aku yang akan turun tangan.”

“Nah, sekarang ternyata Kau yang ingin pamer kepandaianmu di depanku.”

Pranaraja meraih sesuatu dari balik timangnya, “Pak Tua! Lihat, aku membawa tanda pengenal dari istana. Kau tahu artinya?”

“Tidak.” Lelaki tua itu jujur dan polos. Ia benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan benda emas berbentuk bintang di tangan Pranaraja Pranaraja makin geram, ia menganggap lelaki tua itu tidak tahu diri, kurang ajar, dan telinganya serasa gatal.

“Jawabanmu semakin memerahkan telinga!” serta merta Pranaraja memasukkan lencana dan segera mencabut pedang seraya melangkah beberapa tindak dan berteriak, “Aku sendiri yang akan menghajarmu, Pak Tuaaaaa!”

Pranaraja melompat dan menyambarkan pedangnya ke arah kepala lelaki tua. Tapi sekali lagi ia terhenyak, lelaki tua itu mampu menepiskan serangannya. Cangkul lelaki tua menangkis sambaran pedangnya hingga tampaklah pancaran percikan api. Beberapa sabetan terus menghajar cangkul yang digunakan dengan baik sebagai perisai.

Bahkan putaran perisai itu tidak mampu dilihat dengan baik oleh mata telanjang Pranaraja.

Pranaraja akhirnya melompat mundur dan berdiri di antara Jarawaha dan Ganggadara.

“Hati-hati, Tuan. Orang tua itu cukup lincah dan gesit.” Jarawaha berbisik

“Diam kau Jarawaha!” bentak Pranaraja dengan mendengus. Makin erat ia mencengkeram gagang pedang,

“Pak Tua! Kau telah melawan kami! Itu berarti kau melawan pemerintah Singasari!”

“Terserah. Aku tidak merasa berbuat yang merugikan kalian. Aku bekerja di sawahku sendiri, kalian yang datang mengganggu aku dan mengajakku ribut-ribut.”

Pranaraja melangkah beberapa tindak ke depan dan ingin merampungkan lelaki tua agar berkubang lumpur, namun terdengar derap kuda yang berlari mendekat.

Tampak pemuda gagah dan tampan melompat dari punggung kuda, lalu melompat ke pematang dan berdiri di sisi lelaki tua. “Ada apa, Paman?”

“Heh, bertanyalah pada mereka!” jawab lelaki tua seraya kembali mencangkul dan tidak mempedulikan para prajurit Singasari yang dihampiri pemuda tampan dan gagah itu.

“Nama saya Arya Kamandanu, ada perlu apa Tuan kemari?”

Pranaraja menyarungkan pedang, demikian juga dengan Ganggadara dan Jarawaha, tidak enak hati melihat tatapan curiga pemuda di depannya. Pranaraja pun menjelaskan duduk perkaranya, mengapa mereka ada di situ sampai akhirnya salah paham dengan lelaki tua, “Kami ingin datang ke rumah Mpu Hanggareksa.”

Arya Kamandanu tersenyum dan mengangkat wajah, “Ah, beliau adalah ayah saya. Mari ikut saya!”

Pranaraja memandang ke arah lelaki tua yang sudah sibuk mencangkul seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ganggadara dan Jarawaha bertanya dengan tatapan mata, namun Pranaraja meminta agar tidak perlu berurusan lagi dengan lelaki tua. Apalagi Arya Kamandanu sudah melompat ke punggung kuda dan mengajak mereka segera mengikutinya.

Setelah ketiga prajurit Singasari itu berlalu mengikuti jejak Arya Kamandanu, lelaki tua berhenti mencangkul dan mengangkat wajah memandang mereka, “Singasari… kau telah bermandikan darah…. Hyang Widhi tidak akan merelakan tingkah polah orang-orang yang ada di rahimmu, orang-orang yang angkuh dan sombong! Sesungguhnya engkau terkutuk, engkau akan rata dengan tanah karena darah yang tertumpah!”

Singasari bermandikan kutukan! Di rahimnya berjubelan

para pengkhianat dan penjilat. Hikmat orang miskin disia-siakan orang! Lelaki tua kembali mencangkul, air matanya menetes, jatuh di lumpur, di pangkuan Ibu Pertiwi yang terus menangis, karena kesuciannya ternodai. Tanah yang tercangkul memuncratkan air dan lumpur ke wajah lelaki tua, tapi ia membiarkan lumpur itu mengotori wajah, bahkan seluruh tubuhnya. Ia rasakan lumpur yang menempel di tubuh dan wajahnya adalah belaian lembut Ibu Pertiwi, bagai sentuhan ibunya ketika ia masih kecil dan mengharapkan belaiannya.

Arya Kamandanu membawa para tamu ayahnya, dan mengantarkan mereka sampai di pendapa depan.

Mpu Hanggareksa sangat kaget dengan kehadiran para prajurit Singasari. Ia menyambutnya dengan ramah-tamah.

Namun ia terkejut ketika menyaksikan pakaian para tamunya belepotan lumpur. Ia mempersilahkan para tamunya membersihkan diri di pancuran padasan dan gentong air yang tersedia di depan rumahnya. Ia menyangka bahwa mereka melewati jalan yang salah hingga harus melalui sawah-sawah. Ia juga menyuruh Arya

Kamandanu dan Arya Dwipangga mengambilkan air secukupnya agar para tamunya bisa membersihkan pakaian dan tubuh mereka dari lumpur.

“Inilah desa Kurawan, tuan-tuan. Masih penuh lumpur dan kotoran.” Selorohnya. Lelaki tua itu kemudian membantu menambatkan kuda para tamunya di bawah pohon sawo depan rumahnya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka dijamu dengan hangat oleh Mpu Hanggareksa. Bibi Rongkot telah menanak nasi dan memasakkan gulai ayam buat mereka. Juga ada wedang jahe gula merah yang tercium sedap dan harum aromanya.

Jarawaha dan Ganggadara menyantap seluruh hidangan yang ada di depannya, karena benar-benar lapar dan lelah.

Sambil menikmati jamuan, Pranaraja menyampaikan maksud kedatangannya di Kurawan, yaitu menyampai-kan undangan Prabu Kertanegara, agar Mpu Hanggareksa bisa hadir di Istana Singasari untuk menerima penghargaan dan hadiah atas jasanya membuat senjata bagi pemerintah Singasari.

Mpu Hanggareksa berdebar-debar mendengar berita baik itu, “Kami ikut merasa gembira dan bangga mendengar kebijaksanaan Sang Prabu Kertanegara.”

Pranaraja tersenyum lebar dan mengangguk “Wah, beliau itu Raja yang arif, adil dan bijak. Beliau tidak pernah melupakan budi baik seseorang, sekalipun orang itu berasal dari kalangan bawah.”

“Kita semua ikut menikmati hasil yang telah dicapai Pemerintah Singasari,” timpal Jarawaha

“Benar, Tuan.” Ganggadara menyahut setelah menelan sisa makanan di mulutnya. “Dengan diresmikannya prasasti Camunda, maka siapa saja yang dianggap berjasa membantu Singasari melebarkan sayapnya, akan mendapat hadiah.”

Pranaraja mengangguk mengiyakan, “Dan dalam hal ini tak terkecuali Tuan Hanggareksa. Sebagai seorang ahli membuat senjata, tentulah jasa Tuan tidak dapat dianggap kecil. Bukan begitu, Jarawaha?”

“Betul, Tuan. Betul sekali.”

Ganggadara tersenyum dan memandang lekat Mpu Hanggareksa, “Bagaimana seorang prajurit bisa berbuat banyak di medan peperangan kalau tidak dibekali senjata yang ampuh?”

Jarawaha mengangkat jempol seraya tersenyum lebar, “Dan senjata buatan Tuan Hanggareksa sudah terkenal ampuh. Prajurit Madura, Bali, dan terakhir pasukan Swarnabhumi sudah membuktikan sendiri keampuhan senjata ciptaan Tuan.”

Mpu Hanggareksa tampak tidak enak menerima pujian berlebihan dari para tamunya, “Ah, tuan-tuan terlalu memuji saya. Saya sudah merasa senang dan bangga kalau bisa bekerja dan mengabdi pada pemerintah Singasari. Sungguh, Tuan. Dalam hal ini saya bekerja tanpa pamrih apa-apa.”

Pranaraja mengangguk-angguk lembut, “Kami percaya, Tuan. Dan Prabu Kertanegara sendiri juga sepenuhnya percaya pada kemurnian pengabdian Tuan Hanggareksa. Itulah sebabnya Tuan diharapkan hadir dalam pertemuan di bulan Badrapada nanti. Sang Prabu ingin bertatap muka dan bicara langsung dengan orang-orang yang telah membantu beliau.”

Mpu Hanggareksa mengangkat wajah dan memperhati-kan Pranaraja dan kedua anak buahnya. “Ah, saya orang desa. Orang kecil yang tak punya arti apa-apa. Karena itu saya sangat terharu mendengar sikap Sang Prabu yang begitu mulia.”

Tiba-tiba Pranaraja mengerutkan dahi dan memandang Mpu Hanggareksa dengan menyipitkan mata, dahinya berkerut dan mengangguk-angguk “Oh, ya. Kami ingin menanyakan sesuatu pada Tuan.”

“Soal apa, Tuan Pranaraja?”

“Sebelum kami bertemu dengan Arya Kamandanu, putra Tuan, kami sempat bertengkar dengan seorang petani tua yang sedang mencangkul saluran air di sawahnya.”

Ganggadara langsung berbinar dan matanya terbeliak, “Wah, orang tua itu benar-benar kurang ajar, Tuan. Dia sama sekali tidak takut pada kami, walaupun tahu bahwa kami membawa amanat seorang Raja.”

Jarawaha mengepalkan dua tangannya di depan dada, “di samping kurang ajar dia juga telah berani menghina pemerintah Singasari. Ini yang saya kira tidak bisa diampuni.”

Ganggadara memiringkan kepala, mencibirkan bibirnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya, “saya pikir otaknya tidak genap lagi. Apa benar begitu, Tuan?”

Mpu Hanggareksa mengembuskan napas berat, “Jangan hiraukan dia, tuan-tuan. Jangan dimasukkan ke hati.”

Pranaraja mengangguk-angguk sampai bahunya berayun, “Putra Tuan memanggilnya dengan sebutan paman, apakah Tuan masih tersangkut hubungan kerabat dengan orang itu?”

“Tidak, Tuan. Dia bukan keluarga saya,” tukas Mpu Hanggareksa cepat. Ia hela napas dan seperti mengingat sesuatu, “Kami dulu memang pernah bersahabat, tapi sekarang kami tak pernah bertemu lagi walaupun masih satu desa.”

Pranaraja mengangguk-angguk dan memonyongkan bibirnya, “Mungkin benar seperti yang dikatakan Ganggadara. Dia agaknya kurang beres otaknya.”

“Yah, mungkin saja, Tuan. Soalnya saya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”

Mpu Hanggareksa menghapus keringat dingin di kening, pelipis dan tengkuknya yang bergidik. Ada kecemasan merayapi hatinya.

Pranaraja makin lekat memperhatikan MpuHanggareksa, “Siapa nama orang itu, Tuan?”

Mpu Hanggareksa tidak segera menjawab, ingin mengingat sesuatu, “namanya Ranubhaya.” Mpu Hanggareksa tersenyum pada tamunya, “Sudahlah, Tuan! Lupakan saja. Dia barangkali tidak bermaksud sungguhsungguh. Saya jamin dia tak akan berani mengganggu tuantuan lagi.”

“Baiklah. Hm.” Pranaraja bangkit, “maaf, Tuan Hanggareksa, kami ingin istirahat.”

“Ah, silahkan tuan-tuan. Ruangan sudah disediakan untuk sekadar merebahkan badan “

Mpu Hanggareksa buru-buru bangkit dan ingin mengantarkan para tamunya ke tempat istirahat yang telah disiapkan Bibi Rongkot.

“Maaf, beginilah keadaan rumah kami. Serba sederhana. Maklum rumah desa.”

“Ini sudah lebih dari nyaman, Tuan ” Pandangan Pranaraja menyapu seluruh kisi-kisi ruangan kamar yang semuanya terbuat dari kayu jati. Semua masih utuh dan tanpa sentuhan terpentin damar. Tampak indah di bawah bayang temaram lampu minyak jarak yang diletakkan tepat di atas meja tengah kamar Pranaraja duduk di atas dipan yang beralaskan kasur dari kapuk pilihan, sedangkan Ganggadara dan Jarawaha langsung merebahkan diri di dipan masing-masing.

Pranaraja mengerutkan dahi, menghela napas dalam-dalam mencium aroma kamar yang berbau kembang dan kemenyan kutukan.

Kamar itu cukup luas, dan pada dinding-dindingnya terdapat beberapa koleksi senjata ciptaan Mpu Hanggareksa yang sengaja digantung, tapi terbungkus rapi dengan kain putih. Di sudut ruarlgan terdapat belanga yang di dalamnya terdapat air dan bunga-bunga. Di dekat belanga itu terdapat padupan tempat menyalakan kemenyan. Menurut kepercayaan Mpu Hanggareksa, bahwa air bunga dan dupa kemenyan adalah untuk keperluan menjaga dan memelihara kelestarian pusaka-pusaka ampuh yang diciptakannya, juga pusaka-pusaka lainnya yang ia dapatkan dari berbagai tempat wingit.

Setelah mengantarkan para tamunya Mpu Hanggareksa menuju bilik Bibi Rongkot, beliau berpesan agar selalu siap membantu jika para tamunya memerlukan sesuatu. Setelah itu, lelaki tengah baya itu menuju tempatnya bekerja.

Malam merayap dengan selimut pekatnya.

Suara serangga melengkapi keheningan yang menyayat. Belalang engket makin keras memamerkan suaranya ditingkah bunyi jengkerik dan burung hantu yang sesekali menjerit di kejauhan. Kelelawar-kelelawar pun tampak saling menyahut dengan jeritan mereka setiap kali bertemu kawanannya

Di tengah malam ketika para tamunya sudah istirahat, Mpu Hanggareksa kembali menemui Bibi Rongkot di biliknya, menanyakan keadaan para tamu, kedua putranya dan lain-lainnya.

Bibi Rongkot dengan bersahaja menjelaskan bahwa Arya Kamandanu sedang membersihkan keris di ruang pusaka, sedangkan Arya Dwipangga sedang menulis syair-syair di atas daun tal.

Mpu Hanggareksa kemudian pamit pada perempuan itu, “aku mau pergi sebentar, Bi. Kau tutup saja pintunya!”

“Ya, Gusti.” Perempuan itu membungkuk hormat, memperhatikan tuannya membalikkan badan dan segera pergi.

Mpu Hanggareksa melangkah ke samping rumah, bayangannya lenyap ditelan kegelapan. Ia berhenti di bawah pohon sawo, bersidekap, menghela napas sangat dalam. Ia rasakan pusaran mengendap di perutnya, dingin meliputi seluruh tubuhnya, dan ia. pun segera menghentakkan kakinya. Itulah aji Seipi Angin. Setelah melambari dengan aji Seipi Angin barulah ia menuju kandang kuda.

Dengan kudanya ia meninggalkan rumah, belum ia tunggangi, tapi ia tuntun sampai di luar pekarangan.

Binatang perkasa yang ia tuntun dengan tangan kirinya itu pun seperti mengerti, sedikit pun tidak mengeluarkan suara.

Ketika tali kendalinya ditarik perlahan, binatang itu setia sekali mengikuti perintah tuannya. Melangkah dan menapak sangat hati-hati, makin menjauh dari tempat tinggal tuannya.

Di sudut desa Kurawan, di kaki bukit, tampaklah gubuk kecil yang semuanya terbuat dari bambu beratap alangalang. Tampak di depan bangunan itu duduk seorang pemuda, tubuhnya agak gemuk, wajahnya sedikit kelihatan bodoh. Sejak tadi ia menguap lebar menahan kantuk yang mendera, sedangkan gurunya melarangnya tidur sore-sore.

Ia ingin berbaring, tapi teringat pesan gurunya, ia terjaga kembali dan duduk dengan baik sambil menyaksikan bintang-bintang yang berkedip di langit. Ia nikmati suara serangga yang timpal menimpali. Ada sesuatu yang ganjil dan aneh jika berada di tengah malam sendirian. Kadang rasa takut menghimpit. Bahkan ketika ia melihat daun pisang kering menggantung ia pun merinding. Ia melihatnya seperti hantu pocong.

Kembali pemuda itu menguap lebar, “Guruku memang orang aneh. Susah ditebak. Sukar diketahui apa kemauannya. Tapi beliau memang guru yang hebat. Dalam hal pembuatan senjata pusaka, di seluruh negeri Singasari ini, bahkan mungkin di negeri-negeri lain, kukira belum ada yang mampu menandinginya.” Ia tersenyum dan kebanggaan terpancar di wajahnya. Kembali ia semangat nglakoni.

Pemuda itu tiba-tiba bangkit dan mengerutkan dahinya.

Dia pandang ke arah datangnya suara derap kaki kuda.

“Hmh, siapa malam-malam datang kemari. Huh, pasti orang yang ingin memesan senjata pusaka. Huuh, dia pasti kecewa, sebab Guru sudah tidak melayani pesanan senjata pusaka lagi,” pemuda itu terus menggerutu.

Derap kuda pun berhenti, penunggangnya melompat, lalu mengikat kudanya di batang pohon jarak. Setelah itu, berjalan menghampiri pemuda itu, “Apakah aku bisa bertemu dengan Mpu Ranubhaya?”

“Eh. bukankah Tuan… Tuan….”

“Ya. Aku Hanggareksa, sahabatnya.” Potong Mpu Hanggareksa ketika pemuda itu lupa namanya Apalagi memperhatikan dalam kegelapan malam.

“Apakah kau Wirot?”

“Eeh, iya, Tuan, saya Wirot.”

“Mana Kakang Ranubhaya? Apakah Aku bisa menemui nya?”

“Apakah harus sekarang, Tuan?”

“Aku besok pagi harus sudah berangkat ke kota Singasari.”

“Kalau begitu mari ikut saya, Tuan,” Wirot segera melangkah dan Mpu Hanggareksa mengikutinya dari belakang. Wirot mengajak tamu gurunya menyusuri sungai kecil. Kaki pemuda itu seolah punya mata sehingga mampu melewati tempat-tempat sulit. Apalagi dalam keadaan gelap gulita seperti malam itu. Hanya sinar bintang yang menerangi mereka Sesampai di batu ceper dia tidak menemukan gurunya di sana.

“Wah, tidak ada Tuan. Biasanya guru ada di sini.”

“Apa yang dilakukannya malam-malam begini di sini?”

“Guru memang sering berlaku aneh. Beliau punya kegemaran yang tidak jamak dimiliki orang lain. Biasanya dia duduk di sini, di atas akar pohon ini sambil memandang bulan yang berkaca di permukaan air sungai itu. Beliau kadangkala betah duduk di sini sampai menjelang pagi, Tuan.”

“Ah, mengapa begitu? Mestinya gurumu lebih mapan karena sekarang usianya sudah agak lanjut.”

“Saya hanya seorang murid, Tuan. Pengetahuan seorang murid terbatas. Paling banter sebatas pinggang gurunya.”

Mpu Hanggareksa memeriksa sekeliling batu ceper, tempat gelap dan remang. Bayang-bayang malam seakan mengintai setiap gerakannya. Dia jadi gamang, “Wah, kalau begitu di mana dia sekarang, Wirot? Apakah tidak ada tempat lain, yang biasa dikunjungi Kakang Ranubhaya?”

Wirot tidak segera menjawab, ia lirik lelaki di sebelahnya, lalu tersenyum, “Ada, Tuan. Ada. Tapi sudah hampir satu bulan ini beliau tidak mengunjungi tempat itu.”

“Siapa tahu dia ada di sana?”

“Baiklah, mari ikut saya, Tuan. Mudah-mudahan saja guru ada di sana.”

Beberapa saat lamanya mereka berjalan. Tanpa suara. Hanya daun-daun kering dan semak yang terinjak terdengar nyaring di malam pekat itu. Sampailah mereka di sebuah pekarangan tidak terlalu luas. Tampak sebuah gubuk mungil yang tertutup. Atapnya terbuat dari alang-alang.

Ada obor minyak jarak yang menyala di sisi kiri gubuk diletakkan di sebuah tiang bambu setinggi manusia. Obor dari batang buluh bambu bersumbu kain tua. Nyala apinya merah Jingga tak mampu menyibak kepekatan malam.

Wirot berhenti ketika melihat pintu gubuk tertutup rapat, “Sepertinya juga tidak ada, Tuan. Pintu gubuk sudah tertutup rapat.”

“Gubuk jerami ini milik siapa, Wirot?”

“Milik beliau juga, Tuan. Saya yang membuat. Tempat ini biasa dipergunakan Guru untuk menikmati mangkok tuaknya.”

“Oh, begitu? Rupanya Kakang Ranubhaya sudah bergaul dengan api dalam cawan itu.”

“Kadangkala beliau mabok dan tertidur di atas tumpukan sabut kelapa.”

Mpu Hanggareksa memeriksa dan memperhatikan tempat sederhana dan mengenaskan itu, “Kasihan Kakang Ranubhaya. Mungkin akhir-akhir ini dia banyak mendapat kesulitan dalam hidup.”

“Hoh, rasanya tidak, Tuan.” Wirot dengan cepat menukas. “Beliau biasa-biasa saja. Hidupnya sangat sederhana. Yang jelas beliau tidak pernah memusingkan persoalan-persoalan duniawi.”

“Kalau tidak mengapa dia minum tuak?”

“Soal itu beliau pernah berkata pada saya, Tuan.” Wirot lalu menghela napas dan menekuk batang lehernya, merunduk dan melirik Mpu Hanggareksa menirukan ucapan gurunya, “Wirot. Aku tahu api ini panas. Bisa membakar hangus tubuhku, juga jiwaku. Tapi aku tidak takut terbakar. Bukan karena aku putus asa. Di dalam cairan ini aku bisa menemukan Ranubhaya yang sesungguhnya. Bukankah seluruh isi dunia ini mabok? Dan bukankah mabok itu ada banyak ragamnya? Mabok kekuasaan, mabok pangkat dan harta, mabok wanita, mabok gebyar dan gemerlapnya ketenaran! Nah! Aku sengaja memilih mabok tuak saja, karena tidak berbahaya. Paling-paling aku sendiri yang akan mengalami bencana, dan bukan orang lain. Lagipula mabok tuak murah harganya. Hanya sepuluh beribil sudah bisa sampai ke tujuan.” Wirot pun tertawa panjang.

Mpu Hanggareksa manggut-manggut memperhatikan Wirot, “Kakang Ranubhaya berkata begitu?”

“Betul, Tuan!” bahkan Wirot mengatakan jika hal seperti itu sudah disampaikan gurunya lebih dari sepuluh kali.

Setiap menikmati tuak, kata-kata itu selalu meluncur dari bibirnya yang hitam mengeriput.

Mpu Hanggareksa menghela napas dalam-dalam, “pendapat seperti itu tidak benar. Aku tidak setuju. Tapi ini adalah hak setiap orang.” Kembali Mpu Hanggareksa menghela napas dalam-dalam.

“Baiklah, sekarang ke mana lagi kita harus mencarinya, Wirot?”

Wirot berpikir keras, ke mana seharusnya mencari gurunya agar bisa ditemukan. Ia lalu menunjukkan tempat angker kepada Mpu Hanggareksa. Tapi ia tidak berani mengantarkan Mpu Hanggareksa sampai ke tempat yang dimaksud. Menurutnya tempat itu penuh hantu dan terletak di belakang bukit Kurawan. Apalagi malam-malam gelap, jalanan tidak tampak dan semuanya mengerikan.

Mpu Hanggareksa tidak ciut hati. Ia harus bertemu Mpu Ranubhaya malam itu juga sehingga memaksa Wirot agar menunjukkan tempat rahasia di.balik bukit Kurawan itu padanya.

“Tuan terus saja menyusuri pematang sawah ini. Sampai di sebuah pohon besar dan rindang, Tuan belok ke arah selatan. Selanjutnya Tuan bisa mengikuti jalan setapak di seputar pinggang bukit.”

“Lalu di mana letaknya tempat yang biasa dikunjungi Kakang Ranubhaya?”

“Tuan akan menemukan sebongkah batu yang sangat besar yang bentuknya menyerupai payung raksasa. Nah, di belakang sebongkah batu itulah biasanya guru saya berada. Tapi… harap Tuan berhati-hati. Saya khawatir hantu bertopeng itu akan muncul malam ini.”

Mpu Hanggareksa mendelik, dan mengerutkan dahi memperhatikan Wirot dengan saksama. “Hm… jadi kau takut hantu bertopeng, maka tidak mau mengantarkan aku?”

“Benar, Tuan. Hantu itu, menurut cerita guru saya, sangat kejam. Apalagi bagi orang yang belum dikenalnya dan baru pertama kali melewati daerahnya.”

Mpu Hanggareksa tersenyum dan mengangguk-angguk lembut, “Sudahlah. Kau boleh kembali, Wirot! Biar aku temui sendiri gurumu. Sekalian aku ingin berkenalan dengan hantu yang kaukatakan itu.” Mpu Hanggareksa lalu meraih obor di sudut rumah jerami. Ia bawa dan minta izin Wirot dengan mengangkat obor di tangannya itu. “Obor ini kubawa, Wirot!”

Wirot menjawab dengan anggukan. Dia berdiri kaku melihat Mpu Hanggareksa membalikkan badan tanpa menghiraukannya lagi Lelaki tua itu melangkah dengan tenang dalam kegelapan di bawah cakrawala malam.

Apa yang dikatakan Wirot benar adanya. Tempat yang ditunjukkan sungguh gelap sekali. Ia angkat tinggi-tinggi obor di tangan kanannya dan mencari jalan yang aman untuk melangkahkan kakinya.

Tempat yang menyeramkan Gelap sekali, sekalipun membawa obor, nyala terangnya tidak cukup untuk mengalahkan kegelapan ujung malam yang benar-benar pekat di bawah kerimbunan pohon dan belukar.

“Untuk apa Kakang Ranubhaya pergi ke tempat seperti ini malam-malam begini?” Ia perhatikan sekeliling tempat itu. Benar-benar gelap. Lalu ia melangkah menuju pohon besar di pinggang bukit Kurawan. Suasana makin gelap.

Sesekali binatang-binatang kecil menyambar matanya hingga membuatnya makin rabun.

Melampaui pohon rindang, Mpu Hanggareksa memperhatikan sebongkah batu besar menyerupai payung raksasa. Ia terpaku, obor ia angkat tinggi-tinggi. Tak ada gunanya, lalu ia matikan saja obor itu. Ia bersidekap, memanfaatkan aji Seipi Angin yang telah melambari tubuhnya. Kembali ia melangkah dan sesekali berhenti.

Ia membalikkan badan dan pohon raksasa itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia hela napas dalam-dalam; ia melangkah lagi sampai di depan batu payung. Ia pejamkan mata dan kembali membuka mata lebar-lebar. Sungguh ia terpana, kagum menyaksikan suasana malam ganjil.

Matanya seperti terbuka terang, seperti tersihir saat sejenak menyaksikan pemandangan malam di bawah dan sekeliling tempat itu. Sudut Kurawan di malam hari. Ada sesuatu berbalut misteri. Bukit Kurawan seperti gajah berbaring, diam dan bisu. Relung-relung lembah tampak sebagai cekungan-cekungan gelap dan hitam seperti sarang jin setan prayangan. Tumbuh-tumbuhan besar kecil bagaikan makhluk-makhluk aneh yang diam bagai arca. Mengerikan dan menyeramkan.

Akar gantung pohon besar itu menjulur di sana-sini seperti makhluk berbelalai. Kepak kelelewar dan decit burung hantu sesekali memecah kesunyian. Serangga malam juga semakin banyak menerjang wajahnya hingga berkali-kali terpaksa Mpu Hanggareksa mengusap wajahnya.

Mpu Hanggareksa melangkah. Namun, kaki kanannya menggantung di udara ketika tiba-tiba ia mendengar kerosak suara ganjil. Mpu Hanggareksa memperhatikan ke dalam gelap. Ia menajamkan pandangannya dan dilihatnya kelebat bayangan hitam menyelinap ke dalam semak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia semakin waspada, jantungnya sedikit berdebar sebab ucapan Wirot untuk kesekian kalinya harus dibenarkan bahwa daerah sekitar itu angker dan mengerikan. Namun, dengan indera yang telah terlatih, akhirnya ia menggeram menahan marah. “Kurang ajar. Siapa kau!”

Hening, sepi, senyap sekali. Bayangan hitam itu tidak menjawab pertanyaan Mpu Hanggareksa, bahkan sempat mengejutkannya dengan lompatan menerjang dan menyerangnya. Dengan bekal olah kanuragannya Mpu Hanggareksa terpaksa menggebrak dan merenggut

bayangan hitam itu. Hanya dengan dua gebrakan ia berhasil mengunci penyerangnya, namun begitu gesit bayangan hitam itu mampu melepaskan diri dari renggutannya.

“Jawab pertanyaanku. Kaukah hantu yang menunggu tempat ini, heh? Jawab!”

Tak ada jawaban, bahkan bayangan hitam itu melesat dan menyerangnya lagi. Dengan sikutan ringan, bayangan hitam itu jatuh ke tanah. Mpu Hanggareksa tak membuangbuang waktu lagi. Ia menyergap hantu gadungan tersebut.

Dijepitnya orang itu dengan tangan kirinya hingga terengah-engah menahan sakit. Diseretnya hantu gadungan bertopeng kulit kambing putih itu menuju tempat yang agak terang, lalu ia sibakkan topengnya.

“Kurang ajar!” Mpu Hanggareksa terengah menahan amarah. Diempaskan hantu gadungan itu.

“Bukankah kau Wirot?”

Wirot tersungkur dan bersimpuh di hadapan Mpu Hanggareksa. Napasnya terengah dan terdengar rintihannya menahan sakit. Ia tak berani memandang tatapan mata Mpu Hanggareksa sekalipun dalam gelap dan hanya diterangi gemintang

“Untung aku tidak bertindak terlalu keras padamu, Wirot! Apa maksudmu bermain hantu-hantuan begini?”

Mpu Hanggareksa geram menahan amarah.

Wirot gemetaran, bibirnya meliuk-liuk sebelum akhirnya menjawab, “Eh, maaf, Tuan, saya ditugaskan oleh Guru untuk menjaga tempat ini selama Guru berada di dalam sanggar pamujan,” jawab Wirot dengan nada cemas ketakutan.

“Ooo, begitu. Jadi, Kakang Ranubhaya sekarang sedang semadi? Nah, biarkan aku menemuinya!” kata Mpu Hanggareksa menurunkan nada bicaranya. Bagaimanapun juga ia memahami tingkah Wirot karena menanggung beban berat dari gurunya. Menjaga agar orang lain tidak mengganggu semadinya di sanggar pamujan.

Sekalipun begitu Wirot masih gemetar dan menghaturkan sembah sambil memohon, “oh, jangan, Tuan. Beliau tidak bersedia menerima siapa pun kalau sedang semadi.”

“Aku ini sahabatnya. Masa dia menolak kehadiranku?”

“Sungguh, Tuan. Guru berpesan agar tidak diganggu. Saya pun tidak berani memasuki sanggar kalau beliau sedang duduk bersila. Guru bisa marah sekali!” tukas Wirot dengan nada memohon.

“Masa dia akan marah juga padaku, Wirot? Kami sudah lama tidak berjumpa. Kukira dia akan mau menerima kehadiranku. Sudahlah, kau pulang saja. Aku akan menemui Kakang Ranubhaya sekarang!”

“Jangan, Tuan, jangan! Nanti saya yang kena marah Guru. Tunggu, Tuan. Tuan jangan pergi ke sana!” cegah

Wirot ketika Mpu Hanggareksa memaksa malangkah menuju tempat pemujaan. Namun, kata-kata Wirot dianggap angin lalu saja, bahkan Wirot tak berdaya apa-apa ketika tubuh Mpu Hanggareksa lenyap begitu saja dari pandang matanya. Melesat, lenyap ditelan kegelapan malam.

Burung malam sesekali menyenandungkan suaranya memecah keheningan Mpu Hanggareksa telah sampai di dekat sebuah batu payung. Berdiri termangu, menganggukangguk sambil menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara seorang diri,

“Hmm…rupanya inilah batu besar yang menyerupai

payung raksasa, seperti yang dikatakan Wirot. Lalu di mana

letak sanggar pamujan itu? Ahh, barangkali di balik batu

ini.” Mpu Hanggareksa lalu melangkah perlahan-lahan hatihati sekali memasuki bawah batu payung yang berupa gua

batu. Terdengar tetes-tetes air yang jatuh dari stalagmit

langit-langit gua.

“Ahh, tempat ini sungguh menyeramkan, tapi sangat cocok untuk berlatih memusatkan pikiran. Nah, itu rupanya Kakang Ranubhaya. Khidmat sekali duduknya. Baiklah. Aku akan membangunkannya dari semadinya.”

Mpu Hanggareksa melangkah mendekati Mpu Ranubhaya yang duduk tak jauh di depannya di lantai gua.

“Kakang! Kakang Ranubhaya! Kakang! Ini aku yang datang. Hanggareksa, adik seperguruanmu.”

Namun, tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba Mpu Ranubhaya melesat, melayang bagaikan terbang menerjang ke arah Mpu Hanggareksa hingga terjadilah benturan yang cukup dahsyat.

“Kakang! Sabar. Ini Hanggareksa yang datang. Oh, Kakang Ranubhaya, tunggu!”

Mpu Hanggareksa memohon agar Mpu Ranubhaya menghentikan serangannya. Mata Mpu Ranubhaya berapiapi. Ia menahan amarah karena semadinya terganggu oleh tamu yang tak diundangnya.

“Apa kau manusia atau setan gentayangan yang suka mengganggu dan menggoda orang yang duduk bersila?” bentak Mpu Ranubhaya penuh amarah.

“Aku Hanggareksa, Kakang!”

“Bukan nama yang kutanyakan. Tapi sikapmu yang tidak beradab itulah yang kusesalkan!” Mpu Ranubhaya menggertakkan gigi.

“Ehh, maafkan aku, Kakang Ranubahaya. Aku ada keperluan yang sangat penting denganmu.”

“Keperluan apa?” suara Ranubhaya agak menurun.

“Nanti akan kujelaskan sebaik-baiknya,” jawab Mpu Hanggareksa bersabar.

“Kau telah mengganggu aku, seperti setan gentayangan saja.” Mpu Ranubhaya menghela napas dan menelan kekesalannya pada adik seperguruannya. Hatinya tergetar juga ketika melihat tatap mata sendu Hanggareksa di dalam gelap. Lalu ia undur beberapa langkah seraya mempersilakannya duduk.

“Duduklah!”

“Terima kasih, Kakang!” Hanggareksa pun duduk bersila di depan Mpu Ranubhaya yang juga bersila. Tubuh mereka agak condong ke depan sambil menekan perasaan masing-masing. Suasana gelap gulita, sesekali cericit kelelawar dan kepak sayapnya memecah kesunyian di dalam gua tersebut.

“Menurut pendapatku, ini kesempatan yang sangat berharga. Untukku dan juga untuk Kakang Ranubhaya. Prasasti Camunda adalah cerminan kebijaksanaan raja kita sekarang ini.” Mpu Hanggareksa memulai percakapannya dengan sesekali tubuhnya dicondong kan ke depan ke arah Mpu Ranubhaya.

“Maksudmu, aku kausuruh mengabdi pada Kertanegara?” tanya Mpu Ranubhaya keras hati.

“Kita bekerja sama untuk membangun negeri ini, Kakang.”

“Tidak! Aku tidak akan berkhianat pada bisikan hati nuraniku,” ucap Mpu Ranubhaya masih dengan kekerasan hati.

“Pendirianmu itu tidak mempunyai dasar berpijak yang jelas, Kakang!” tukas Mpu Hanggareksa.

“Hanggareksa! Kalau selama ini aku mau bekerja sama membantumu menciptakan senjata pusaka, sama sekali itu bukan karena Kertanegara. Itu kulakukan hanyalah demi persaudaraan kita Kau adik seperguruanku. Dan aku ingat kata-kata Guru sebelum wafat, bahwa kita hendaknya bekerja bahu-membahu.”

“Amanat Guru memang patut kita pelihara dan laksanakan dalam kehidupan kita. Lalu mengapa Kakang Ranubhaya sekarang berubah?”

“Karena kau pun kulihat semakin hari semakin berubah!” tukas Mpu Ranubhaya sengit dan tak mau kalah.

“Ahh, tidak. Aku masih Hanggareksa yang dulu.”

“Wujud lahirmu memang tidak berubah. Tapi kehidupan batinmu yang mulai menyimpang, Hanggareksa. Kau mulai gila kehormatan, gila kedudukan dan harta. Kau mabuk kehidupan mewah dan serba gemerlap. Itulah sebabnya kau kelihatan gembira dan bangga mendapat undangan resmi dari Kertanegara,” Mpu Ranubhaya mendengus.

“Kukira kita pantas merasa bangga, jika mendapat perhatian secara khusus dari Raja,” kata Mpu Hanggareksa.

“Tidak semua orang!” Keras dan menyakitkan telinga ucapan Mpu Ranubhaya.

Mpu Hanggareksa masih bersabar, katanya, “Ya. Barangkali mereka yang tinggi hati, tidak!”

“Hanggareksa. Ada dua hal penting yang membuat aku tak mau membuat senjata pusaka untuk Kertanegara. Pertama, karena Kertanegara adalah keturunan Ken Arok. Kedua, karena aku tak ingin lagi melihat karyaku dilumuri darah ribuan manusia tak berdosa. Ingat itu baik-baik, Hanggareksa!”

“Perasaanmu terlalu halus, Kakang Ranubhaya Kau pandai dan berbakat sekali menciptakan senjata pusaka Kau adalah murid paling berbakat di antara kami, tiga serangkai saudara seperguruan. Tapi sayang sekali watakmu terlalu keras dan mudah patah.”

“Aku tak mau dipaksa melakukan sesuatu yang tak kuinginkan,” tukas Mpu Ranubhaya tinggi dan keras hati.

“Sekalipun itu untuk keberhasilan, untuk mengabdi pada negara dan orang banyak?”

“Hanggareksa! Ukuran keberhasilan bagi orang yang satu dan yang lain tidak sama. Demikian pula cara mengabdi pada negara dan masyarakat, masing-masing orang punya gayanya sendiri.”

Hening. Bisu. Keduanya terdiam. Hanya tetes-tetes air dari langit-langit gua yang menilai, berbicara dan berkhotbah pada keduanya, bahwa sunyi dan sepilah yang mampu menenggelamkan gelora hati dan jiwa manusia agar manusia lebih menguasai diri untuk mendapatkan beningnya perasaan. Pemahaman bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang tak mungkin dipungkiri.

“Hmmm! Jadi, aku telah gagal datang kemari!” gumam Hanggareksa terimpit nada sesal yang tak tulus.

“Kau telah gagal sebelum keluar dari pintu rumahmu, Hanggareksa!” Mpu Ranubhaya menukas.

“Baiklah. Aku akan datang sendiri ke istana untuk memenuhi undangan Sang Prabu Tapi kalau misalnya Kakang Ranubhaya berubah pikiran, datanglah besok ke rumahku Kita berangkat bersama-sama ke Singasari untuk memperoleh penghargaan dari istana.”

“Berangkatlah sendiri saja, Hanggareksa. Jangan memikirkan diriku. Kita berbeda jalan.” Mpu Ranubhaya bersiteguh dengan pendirian yang kokoh bagai batu karang. Ia tak mungkin mengkhianati hati nurani yang hakiki, tak akan mengabdi ke Singasari.

Malam itu juga Mpu Hanggareksa kembali dengan hati kecewa bercampur rasa kebencian terhadap kakak seperguruannya. Mpu Hanggareksa merasa benar dan berkali-kali dalam hatinya menyalahkan Mpu Ranubhaya yang dianggapnya menyia-nyiakan kesempatan emas.

Pagi hari ketika matahari belum begitu tinggi, Mpu Hanggareksa memanggil kedua putranya agar menghadap.

Kedua putranya yang tampan dan gagah itu sangat dikasihinya.

“Ayah memanggil kami berdua?” tanya Arya Dwipangga ketika sudah berdiri bersama Arya Kamandanu di depan ayahnya.

“Dwipangga dan kau, Kamandanu, aku akan pergi ke Singasari bersama tuan-tuan ini Selama aku pergi kalian harus menjaga rumah Tak boleh ke mana-mana!”

“Baik, Ayah!” jawab mereka.

“Sebelum aku kembali kalian jangan pergi jauh-jauh “

“Baik, Ayah,”jawab keduanya sambil saling melirik. Mpu Hanggareksa memandang ketiga utusan dari istana seraya berkata, “Bagaimana, Tuan Pranaraja ? Kita berangkat sekarang?”

“Begitu lebih baik, Tuan Hanggareksa. Kita bisa segera tiba di Singasari,” jawab Pranaraja.

Mereka segera berkemas-kemas menyiapkan semua perbekalan yang diperlukan dalam perjalanan. Setelah menaikkan perbekalan ke atas punggung kuda, mereka pun segera naik ke atas kuda, meninggalkan desa Kurawan mengikuti jalan yang kemarin. Pranaraja yang mengendalikan kuda paling depan mengurangi kecepatan kudanya dengan menekankan kedua lututnya pada tubuh kuda serta menarik kekangnya ketika sampai di tempat mereka dihadang oleh perampok. Kudanya meringkik nyaring. Angin mendesau hingga gemerisik dedaunan terdengar riuh berderai.

“Nah, di sinilah kami dicegat dua perampok itu, Tuan! Lihat saja, pohon itu masih melintang di tengah jalan,” kata Pranaraja. Sambil menunjuk pada dua pohon yang melintang di jalan. Kuda-kuda mereka berjalan beriringan.

Pranaraja kemudian menceritakan para perampok itu dengan panjang lebar, ditimpali Jarawaha dan Ganggadara.

Sepanjang perjalanan ia juga bercerita tentang usaha pemberontakan para pembesar Singasari yang dipecat dari kedudukannya, Raja Gelang-Gelang yang dicurigai Lembusora mendalangi kerusuhan, serta berbagai permasalahan negara yang bisa diatasi pemerintah Singasari dengan baik.

“Kita tidak usah khawatir karena pemerintah Singasari selalu waspada,” kata Pranaraja memandang Mpu Hanggareksa sambil tersenyum bangga

Mpu Hanggareksa membalas dengan mengangguk-anggukkan kepala.

Pranaraja masih tersenyum, lalu berkata, “Baiklah. Mari kita teruskan perjalanan, Tuan. Saya kira kita tak perlu menginap di Jasun Wungkal. Kita bisa terus berkuda sampai Rabut Carat dan menginap di sana.”

Pranaraja menyentakkan kendali kudanya hingga kuda itu pun menegakkan kepalanya lalu meringkik dan menghentakkan kakinya mendahului yang lain. Keempat ekor kuda itu berlari dahulu-mendahului. Semakin jauh dan semakin lenyap dari pandangan mata meninggalkan kepulan debu-debu beterbangan.

Di tempat tinggal Mpu Hanggareksa, kedua putranya sedang duduk di barak-barak. Tampak Arya Dwipangga tersenyum-senyum sambil menyimak goresan-goresan syairnya yang tertera di rontal.

Arya Kamandanu sedikit pun tak memperhatikan keasyikan kakaknya. Baru setelah Dwipangga merasa puas dengan apa yang diamatinya, ia mencolek lengan Kamandanu, “Tolong kausimak dan dengarkan syairku ini, Adi Kamandanu. Aku ingin membacanya.”

Kamandanu menoleh sebentar, memperhatikan Arya Dwipangga yang menghela napas dalam-dalam. Wajahnya kelihatan semakin serius.

Bibir Dwipangga meliuk-liuk dan bergetar halus saat memulai membaca:

Pelangi muncul di atas Kurawan.

Warnanya indah bukan buatan.

Seorang gadis ternganga keheranan.

Rambutnya tergerai jatuh ke pangkuan

Arya Dwipangga menghempaskan napas sambil tersenyum dan tetap memperhatikan bait-bait syairnya yang telah dibaca. Kemudian ia memandang adiknya seraya berkata lirih, “Unik. Kudapatkan suatu falsafah cinta di dalamnya. Bagaimana pendapatmu tentang syairku ini, Adi Kamandanu? Bagus tidak?”

“Aku tidak tahu syair,” jawab Kamandanu datar.

“Kau bisa menilai kata-katanya.”

“Kalau tidak salah, syairmu tadi bicara tentang seorang wanita,” ucap Kamandanu setelah menghela napas dan berpikir sejenak sambil mengingat-ingat syair Dwipangga.

Arya Dwipangga tersenyum seraya berkata, “Ya. Wanita. Wanita bagiku adalah sumber ilham untuk berbuat sesuatu. Tanpa wanita dunia ini akan terasa seperti samudera tanpa gelombang. Nah, aku mempunyai satu bait lagi. Coba dengarkan,…”

Bulan tersembul di sela-sela rumput

Terdengar rengek bocah minta susu

Angin membelai daun-daunan

Dan malam terasa semakin sunyi!

“Syairmu yang ini agak lain, Kakang. Rintihan panjang sekali, hemmh, rintihan panjang!” komentar Kamandanu cepat ketika Arya Dwipangga membaca syair itu penuh perasaan dan dengan tekanan-tekanan kata menggetarkan jiwa.

“Ya. Dan rintihan itu akan semakin panjang bila kita ditinggal pergi lama oleh kekasih yang kita cintai.”

Dwipangga diam sejenak, memandang Kamandanu lekat-lekat seolah menyelidik.

“Kau sudah pernah jatuh cinta, Adi Kamandanu?” tanyanya lirih.

“Ehh, hmm… belum!” jawab Kamandanu gugup dan wajahnya kelihatan memerah.

Dwipangga membuang muka, memandang cakrawala sambil menyunggingkan senyum penuh arti seraya bergumam nyaris tak terdengar oleh telinga adiknya,

“Aneh!” Lalu kembali ia memandang adiknya dan berkata, “Tapi ku perhatikan sekarang kau berubah? Tidak seperti dulu. Kau banyak menyendiri dan kurang menyukai keramaian.”

“Ahh, itu sudah menjadi sifatku. Kakang Dwipangga saja kurang jeli, hingga baru melihat sekarang,” tukas Kamandanu.

“Jangan begitu. Kau takut aku merebut gadismu?”

“Aku tidak punya gadis,” jawab Kamandanu agak ragu-ragu.

“Kau ini aneh, Kamandanu. Sepertinya kau tidak mempunyai kegairahan apa-apa.” Dwipangga melihat roman muka adiknya berubah, seolah-olah tidak suka diajak bicara mengenai seorang gadis. Ia mengalihkan pembicaraannya.

“Kau punya cita-cita dalam hidup ini?”

“Entahlah!” jawab Kamandanu masih datar Tak sedap didengar Dwipangga. Dwipangga mengerutkan dahinya lalu berusaha sedikit bijaksana. Ia mengangguk-angguk bersabar.

“Kau harus banyak membaca buku ilmu pengetahuan. Belajarlah menekuni sastra, pasti suatu saat kau akan bangkit dan merasa alangkah indahnya hidup ini.”

“Aku merasa tidak punya bakat di bidang seni sastra,” jawab Arya Kamandanu masih acuh tak acuh.

“Almarhum Ibu adalah penulis sastra yang diakui oleh pemerintah Singasari di zaman Prabu Ranggawuni. Banyak tulisan beliau dipuji oleh kalangan istana. Bahkan Ibu pernah mendapat tanda penghargaan.”

Tiba-tiba Arya Kamandanu mencabut pedang yang tergantung di dinding kamar kakaknya. Menimangnya sambil memandanginya penuh cinta. Ia tersenyum seraya berkata, “Bukankah pedang ini pemberian Ayah dulu, Kakang?”

“Ya. Pedang hadiah Ayah pada saat ulang tahunku yang kedelapan belas dulu “

“Sepertinya kau tidak pernah menyentuh pedang ini!”

“Aku tidak membutuhkan benda itu, Kamandanu. Maka

kubiarkan saja tergantung di sini.”

“Kau tidak tertarik sama sekali pada benda pusaka?” tanya Kamandanu. Kakaknya tersenyum, bahkan menahan tawa hingga kedua pundaknya bergerak-gerak.

“Benda pusaka tidak bisa menaklukkan hati seorang wanita. Dengan pedang di tanganmu seperti itu, kau seperti seorang pendekar pilih tanding, Kamandanu!” kata Arya Dwipangga, sungguh-sungguh memperhatikan Arya Kamandanu yang memegang gagang pedang dengan cengkeraman yang sangat kukuh. Rahangnya menonjol penuh otot. Otot lengannya juga sangat kuat.

Arya Kamandanu menghela napas, dadanya mengembang dengan indah. Lalu katanya, “Aku pun tidak tertarik pada benda semacam ini.”

“Kata Ayah, kau mempunyai bakat seorang pendekar.”

“Ayah hanya ingin membesarkan hatiku, Kakang!” jawab Kamandanu seraya menyarungkan pedang dan mengembalikan pada tempatnya semula. “Aku merasa belum menemukan apa yang kucari,” sambungnya lirih.

“Kamandanu, Bibi Rongkot tadi mencarimu. Sepertinya ada yang hendak dikatakannya padamu,” Arya Dwipangga mengalihkan pembicaraan setelah ingat pesan Bibi Rongkot yang tadi mencari adiknya. Tetapi Kamandanu hanya tersenyum. Hambar sekali, bahkan sangat dingin tatapan pemuda itu. Tampaknya sangat resah dan penuh beban.

Ada yang dipikirkannya, tetapi ia tidak terus terang. Ia tak mau persoalan pribadinya diketahui orang lain, sekalipun itu Ayah atau Dwipangga kakaknya.

“Kau harus menemui Bibi Rongkot, Adi Kamandanu,” Dwipangga kembali mengingatkan adiknya yang linglung di depannya.

“Ya, nanti aku akan menemuinya!” jawabnya enteng.

“Aku tahu, apa yang sedang kaupikirkan, Adi Kamandanu!” pancing Dwipangga, ingin sekali agar Kamandanu mau berbagi rasa dengannya.

“Oh, ya?”

“Kau sedang jatuh cinta!”

“Hemh, heheheheh. Kakang senang bergurau. Untuk apa memikirkan masalah itu. Apakah tak ada yang dipikirkan. Lagi pula aku belum memikirkan masalah yang kurang menarik,” jawabnya sekenanya dan terdengar dimantap-mantapkan.

“Kakakmu, waktu jatuh cinta pertama kali, juga seperti kau saat ini. Suka menyepi, menyendiri, dan cengar-cengir sendiri. Tidak memperhatikan orang yang mengajaknya bicara. Bahkan bicara pun tak terkontrol. Berbuat ini salah, berbuat itu salah, dan memang serba salah. Pura-pura meyakinkan orang lain dengan membohongi hati dan diri sendiri.”

“Kakang saja beranggapan begitu. Apakah Kakang tidak

pernah memperhatikan diriku sebelum ini? Heh, lucu! Sejak kecil memang aku pendiam. Lebih-lebih setelah Ibu tiada.”

“Bukan, bukan itu… masalahnya lain, Adi Kamandanu. Pendiam karena sifatmu, dibandingkan dengan diam, berdiam diri oleh sesuatu hal jelas bedanya. Dan kau tentu perlu ingat, bahwa aku telah mengalaminya lebih dulu!”

“Kakang Dwipangga tak usah menebak-nebak. Kalau betul sih tak masalah, kalau kurang tepat?” tangkis Kamandanu.

“Seorang pecinta kata-kata akan lebih jeli pandangan serta perasaannya. Ia dikaruniai Hyang Widhi kepekaan yang luar biasa. Darah dan bakat Ibu amat kuat merasuk dalam hidupku, Adi Kamandanu. Boleh kau menutup diri padaku, tetapi ada sebuah sajak yang pernah kubaca dan aku tak melupakannya. Begini syair itu,…”

Jika kau jatuh cinta, ikutilah ke mana hatimu pergi, agar

cintamu mengalir bagaikan air kali.

Arya Kamandanu acuh tak acuh lalu meninggalkan kakaknya yang terkekeh sendiri karena menganggap ulah adiknya kekanak-kanakan.

Arya Kamandanu segera menemui Bibi Rongkot, perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil. Bibi Rongkot menyampaikan salam dari seorang gadis desa Manguntur. Ia harus menemui gadis itu di suatu tempat.

Dengan acuh tak acuh Kamandanu menerima salam itu, lalu ia pergi tanpa pamit pada Bibi Rongkot yang menggeleng-gelengkan kepala, menatap kepergian-nya.

“Huuh, anak muda di mana-mana sama. Kalau sedang jatuh cinta menjadi kalang kabut dan lupa segalanya,” gerutunya sambil mengurut dada.

Arya Kamandanu terus melangkah menyusuri tepian desa Kurawan, melintasi semak-semak belukar, lalu melangkah di jalan setapak yang biasa dilaluinya jika ingin bertemu dengan pujaan hatinya.

Angin mendesau menerpa wajahnya. Ia berdiri tegak sambil melayangkan pandang ke segala penjuru. Lalu melangkah lagi sampai akhirnya tiba di padang ilalang yang putih lembut tampak indah berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari senja. Bergerak-gerak, menari-nari seiring irama hembusan angin. Tebaran bau harum menyapa penciuman Arya Kamandanu yang linglung seorang diri karena tak mendapatkan pujaan hatinya di tempat itu.

“Ohh, Bibi telah menipu aku.” Arya Kamandanu menghela napas. Tatap matanya tajam menyapu permukaan padang ilalang.

Di kejauhan tampak Candi Walandit berdiri dengan megahnya bermahkotakan matahari senja yang kuning keemasan di langit perak tembaga. Awan-awan bergelombang tampak warna-warni. Berkali-kali Arya Kamandanu menghela napas. Resah dan gelisah. Ia tersenyum sendiri, kemudian melangkah lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam, “Nari Ratih. Putri Rekyan Wuru itu memang cantik sekali. Sudah tiga purnama lamanya kami bergaul dan bertemu di tepi padang ilalang ini. Tapi, entahlah, mungkinkah dia mencintaiku?”

Arya Kamandanu menghempaskan napasnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Tersenyum sendiri.

Di cakrawala langit, di pucuk bunga ilalang, di bingkai matahari, seiring desau angin senja, semuanya seolah-olah menyenandungkan nama indah itu, menyapa dan berbisik di telinga sanubarinya. Ia selalu membayangkan gadis itu.

“Ahh, masa Bibi Rongkot berdusta. Dia tidak pernah mendustaiku “

Arya Kamandanu terkejut ketika melihat sesuatu benda di dekat kakinya.

“Hei? Apa ini?” pekiknya seiring jantung yang membuncah dalam rongga dadanya. Ia membungkuk memungut sesuatu. Diamatinya benda itu dengan dahi beranyam kerutan. Diciumnya benda itu. Harum. Bau minyak gaharu.

“Sepertinya aku kenal benda ini. Tusuk konde yang biasa dikenakan Nari Ratih, untuk mengancing konde rambutnya yang hitam dan panjang. Tapi mengapa tusuk konde ini tergeletak di sela-sela rumpun ilalang? Ahh, jangan-jangan telah terjadi sesuatu atas diri gadis itu!” Arya Kamandanu bertanya-tanya dalam hatinya. Jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan Rasa cemas, khawatir, risau menyelimuti ujung-ujung sarafnya. Dadanya turun-naik. Napasnya kian memburu. Ia pun menajamkan panca inderanya. Kemudian menimang-nimang tusuk konde itu.

“Hemhh, aku harus mencarinya!” gumannya seraya melangkah mengikuti belukar ilalang rebah. “Semak belukar ini kusut, seperti bekas dilewati orang dengan semena-mena. Ohh, ada seuntai kembang melati berserakan di sini. Nari Ratih juga sering mengenakan kembang melati untuk menghias rambutnya.”

Arya Kamandanu tak henti berpikir. Pandangannya terangkat dengan dengusan napas seolah sesak dan amat berat. Kemudian ia layangkan pandangan matanya jauh ke depan.

“Hemhh? Kalau tidak salah, di depan itu ada bangunan kuno, Candi Walandit. Jangan-jangan Nari Ratih ada di sana!” gumamnya tanpa melepaskan pandangannya ke Candi Walandit yang telah disapa temaram senja. Arya Kamandanu segera melangkah menuju bangunan kuno itu.

Senja itu, suasana sangat sunyi di sekitar Candi Walandit. Belum lagi Kamandanu menginjakkan kakinya di halaman Candi Walandit, sayup-sayup sampai terdengar

isak tangis seorang perempuan Ia pun berjingkat, hati-hati mendekati halaman candi.

Sementara itu di dalam candi, seorang gadis cantik terduduk dengan bersimbah air mata. Kain gadis itu sedikit tersingkap hingga tampak betisnya yang kuning langsat. Di depannya berdiri seorang pemuda gagah yang hanya kelihatan punggungnya, sedang memegang pergelangan tangan kiri gadis itu.

“Aku ingin membahagiakanmu, Ratih,” kata pemuda itu gemetar menahan emosi. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat seolah ingin menerkamnya.

Di sela isak tangisnya, gadis itu berusaha menyadarkan si pemuda. “Bagaimana kau bisa membahagiakan aku?”

“Aku, Dangdi, anak Kepala Desa Manguntur. Aku punya harapan hidup serba kecukupan, karena orang tuaku cukup kaya. Kalau kau mau menjadi istriku, kau akan senang dan bahagia.”

“Tidak, aku tidak mau.”

“Ratih. Banyak gadis lain yang mendambakan menjadi istriku. Mereka juga cantik dan bahkan ada yang anak orang terpandang. Akil bisa memilih salah satu di antara mereka “

“Kalau begitu pilih saja. Apa susahnya? Mengapa kau masih mengganggu aku?”

“Yah, itulah. Walaupun gadis-gadis itu cantik, tapi Nari Ratih, anak Rekyan Wuru, jauh lebih cantik. Karena itu aku memilih kau, Ratih. Aku berjanji akan menjadi seorang suami yang baik, kau tidak akan menyesal. Percayalah.”

“Dangdi, kau tidak perlu berjanji apa-apa, karena aku tidak bersedia menjadi istrimu.”

“Ratih! Kau jangan membuat hatiku panas.”

“Tentu saja hatimu panas, karena kau menginginkan yang tidak-tidak.”

“Ratih, aku sudah lama sekali mengenalmu. Sejak kau masih kecil sampai sekarang menjadi kembang desa Manguntur. Apa kau tidak pernah merasakan getaran perasaanku, Ratih?” nada suara Dangdi menurun dan mencoba bersabar.

“Dangdi. Sejak dulu kita bersahabat Dan sampai sekarang pun masih tetap bersahabat. Jangan kau kotori persahabatan kita dengan perbuatanmu seperti ini!”

“Aku ingin Hubungan kita lebih dari sekadar persahabatan.”

“Tidak bisa. Aku tidak bisa meluluskan permintaanmu itu, Dangdi. Lebih baik kau segera berpaling pada gadis lain,” kukuh dan ketus sekali gadis itu menjawab desakan pemuda yang semakin tak sabar itu.

Dalam hatinya Dangdi semakin menggelegak perasaan kesal dan cemburu. Giginya gemeretak. Rahangnya tampak menonjol kukuh. Tatap matanya getir dan bola matanya berkaca-kaca, membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang. Wajah cantik yang memberengut di depannya semakin memudar, pegangan tangannya semakin mengendur hingga kesempatan bagus itu tak disia-siakan oleh gadis itu. Ia tepiskan tangan pemuda itu, bangkit dan berusaha melepaskan diri dari kurungan tangan pemuda itu dengan dinding candi. Namun, tindakannya itu membuat pemuda itu bertambah nekat. Direngkuhnya tubuh gadis itu. Pinggangnya dikunci dengan kedua tangannya. Tatapan mata pemuda itu berapi-api, detak jantungnya menggemuruh antara marah, cinta, benci, sayang, dan menggelegaknya hawa nafsu. Gadis itu meronta dan berusaha keras melepaskan diri sambil memukul-mukul perut dan dada pemuda itu. Namun, pemuda itu tetap berdiri kukuh. Tersenyum penuh kemenangan sambil memperkuat jalinan jemari kedua tangannya yang mengunci dan memeluk pinggang ramping gadis itu.

Semakin gencar gadis itu memukuli dada pemuda itu dengan kedua tangannya. Tetapi ia tak mungkin dilepaskan oleh pemuda tampan yang merasa kecewa sebab ditolak cintanya. Pemuda gagah berotot itu mencibir dan tersenyum sinis pada gadis di depannya. Gadis itu melengos.

“Bwaahh! Semua menjadi rusak gara-gara anak tukang membuat senjata itu. Sejak kehadiran Kamandanu sikapmu padaku berubah,” rutuknya setelah gadis jelita dalam dekapannya kehabisan tenaga memukulinya.

“Arya Kamandanu seorang pemuda yang baik. Aku akan

menerima dan bersahabat dengan siapa saja yang hatinya mulia,” tukas gadis itu tanpa memandang wajah pemuda yang berwatak kasar itu

Pemuda itu bisa merasakan hangat dengus dan desah napas gadis di depannya. Perasaannya sudah tak karuan.

“Jadi, kau mencintainya, Ratih?”

“Itu rahasia pribadiku Kau tidak berhak mengetahuinya. Kau tak perlu ikut campur “

“Huuh. Apa kelebihan Kamandanu? Aku yakin, kau tidak akan bahagia hidup bersamanya. Kamandanu hanya anak seorang tukang besi.”

“Dangdi, mengapa kau ikut campur urusan kebahagiaan seseorang? Harta benda, pangkat, dan kedudukan seseorang tidak menjamin kebahagiaan.”

“Rupanya kau sudah termakan rayuan pemuda Kurawan itu, ya?”

“Itu pun bukan urusanmu!” tukas gadis itu cepat. Ia berusaha melepaskan diri dengan mencakar lengan pemuda yang merengkuhnya Namun hal itu tak membuat jera pemuda nekat yang sudah tergila-gila itu.

“Jadi, kau tetap menolak cintaku, Ratih?”

“Dengan cara halus pun kau tak bisa menarik hatiku, apalagi dengan cara kasar”

Dangdi semakin geram, nyaris lenyap kesadarannya hingga suaranya terdengar parau. Matanya membara, penuh ancaman pada gadis jelita yang makin tak berkutik dalam rengkuhan-nya.

“Dengar, Nari Ratih. Tak ada seorang pun di bangunan tua ini kecuali kita berdua. Kalau sampai aku berbuat kasar padamu, tak akan ada yang tahu.”

“Dangdi, tak kuduga anak seorang kepala desa sekotor itu perangainya. Ingat, kau harus membawa nama baik orang tuamu.” Ada nada ketakutan tercekat di tenggorokan gadis itu.

“Persetan! Kau jangan menasihati aku. Lebih baik kau menerima ajakanku ini dengan sukarela. Sebab kalau tidak…!” Pemuda itu tak melanjutkan kata-katanya. Tatap matanya kotor pada gadis cantik yang tak berkutik bagai kelinci dalam cengkeraman serigala.

Gadis itu bertambah ketakutan. Sesekali ia mencuri pandang kemudian melengos kembali karena pemuda itu terus menatapnya dengan menjijikkan. Bahkan rengkuhannya semakin ketat. Gadis itu gemetaran. Jemari kedua tangan pemuda itu mulai berbicara. Merayap dan mengelus bagian belakang pinggangnya. Terus mengusapnya sekalipun ia meronta dan berusaha melepaskan diri.

Gadis itu semakin cemas. Suaranya tertahan ketika hendak menjerit, “Dangdi… lepaskan… kau hina… kau kotor… kau tak pantas jadi anak kepala desa!” gadis itu merasa sudah berteriak lantang, namun kenyataannya suara itu tersekat di tenggorokannya.

Pemuda tinggi besar itu tersenyum nakal. Diam membisu seribu bahasa. Hanya jemarinya yang bicara semakin gencar, terus menyerang gadis dalam rengkuhannya dengan mengusap, membelai, meraba, meremas, merayap bagai cicak.

“Lepaskan!” pekik gadis yang semakin terperangkap dalam dekapan anak kepala desa Manguntur itu. Napas pemuda yang mendekapnya pun semakin memburu.

Kedua wajah insan beda jenis kelamin itu nyaris bersentuhan, hanya napas sebagai pembatasnya Pemuda yang dimabuk cinta itu semakin kerasukan setan. Tak sabar tangan kirinya meremas ujung kain yang dikenakan kembang desa itu. Ditarik dan dihempaskan nya kuat-kuat.

Terdengarlah kain robek seiring jeritan gadis itu.

“Biadab, binatang!” pekik gadis itu sambil terus merontaronta mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Ia sangat lemas, tak mampu berbuat apa-apa dalam rengkuhan pemuda beringas yang benar-benar ingin memaksanya.

“Ayoh, suruh datang Kamandanu ke tempat ini. Panggillah dia. Biar melihat gadisnya kubikin malu.”

“Bunuhlah aku, Dangdi. Ohhh… tolong… ehh… tolong!” jerit gadis itu ketika pemuda Manguntur itu semakin buas bagai binatang.

Plak! Sekali tamparan mendarat di pipi gadis jelita itu.

Pada saat itulah ia sadar dan merapatkan bibirnya ke lengan pemuda yang merengkuhnya. Ia gigit sekuat-kuatnya hingga pemuda itu terkejut

“Aduuh… adduuhh… kurang ajar! Setan betina. Kubunuh kau!” Pemuda itu tidak jadi memukul, tetapi semakin erat memeluk, lalu merapatkan tubuhnya, merunduk, bibirnya menjelajahi leher jenjang kuning langsat gadis itu. Tangannya semakin nakal. Ia tak peduli dengan amukan gadis dalam rengkuhannya yang makin melemah. Napasnya memburu birahi. Tubuh gadis itu makin menggigil, wajahnya memucat seperti langit senja yang ditinggalkan matahari.

Di bangunan kuno, pada sudut Candi Walandit, gadis itu benar-benar di ambang kritis, tak mampu memberikan perlawanan berarti. Gadis itu memejamkan matanya, napasnya terengah-engah. Ia melawan dengan sisa-sisa tenaganya. Terasa asin dan amis tatkala kulit lengan pemuda itu mengelupas akibat gigitannya.

Pada saat itulah berkelebat sebuah bayangan tanpa disadari oleh pemuda beringas itu. Bayangan itu langsung mencecarnya dengan gebrakan dahsyat hingga rengkuhannya terlepas. Mata pemuda itu jelalatan Merah karena marah sebab tak mampu merenggut gadis yang sudah luluh dalam pelukannya. Sekali tendang lawan yang tak diundang itu membuatnya terpelanting dan membentur dinding Candi Walandit. Pelipisnya terasa perih, berdarah.

Kemudian ia mundur beberapa langkah sambil memasang kuda-kuda. Mencoba menenangkan hati dan pikiran serta berkonsentrasi penuh. Duel seru kedua pemuda itu tak bisa dihindari lagi. Mereka saling mendelikkan matanya.

“Oh, Kakang. Untung kau segera datang!” bisik gadis itu mencari perlindungan di balik punggung pahlawannya.

“Kau tidak apa-apa, Ratih?”

“Dia… bermaksud tidak senonoh padaku, Kakang.”

Gadis itu berlindung dan memegang lengan kekasih hatinya. Dangdi semakin beringas. Bibirnya mencibir melangkah mendekati pelindung gadis yang sangat diinginkannya itu.

“Kebetulan sekali kau datang, Kamandanu. Mari kita selesaikan persoalan ini secara jantan,” tantang Dangdi dengan gigi gemeretuk. Kedua tangannya mengepal menahan amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubunnya. Dengus napasnya seperti babi hutan terluka. Arya Kamandanu tersenyum dan mencoba bersabar

“Tidak perlu,” jawabnya lirih.

“Mengapa, kau takut?” bentak Dangdi kasar dan parau.

“Kalau takut aku tidak datang ke tempat ini, Dangdi.”

“Nah, kalau begitu mari kita bertempur untuk memperebutkan gadis itu. Kita sama-sama lelaki. Kita selesaikan secara ksatria.”

“Bagaimana kau bisa bersikap ksatria kalau kau membawa lari seorang gadis, dan bermaksud tidak senonoh di tempat sepi begini?” jawab Arya Kamandanu sambil memegang jemari Nari Ratih yang masih menggigil gemetaran.

“Cukup. Tutup sajalah mulutmu. Kalau kau takut melawan Dangdi, pulanglah. Dan biarkan Nari Ratih bersamaku di sini,” penuh ejekan Dangdi menghardik Arya Kamandanu.

“Dan membiarkan kau Merusak kehormatannya, menodai kesuciannya?”

“Jangan merasa dirimu paling bersih, Kamandanu!”

“Setidak-tidaknya aku tidak sekotor Dangdi, anak kepala desa Manguntur,” ucap Arya Kamandanu tenang, tetapi sangat pedas di telinga Dangdi.

Serta merta pemuda itu habis kesabarannya. Ia melompat dan menerjang Arya Kamandanu. Arya Kamandanu berkelit menghindar hingga kakinya membentur dinding candi. Nari Ratih menepi dengan wajah pucat pasi. Dangdi semakin tak sabar. Emosinya memuncak karena serangannya meleset. Arya Kamandanu tersenyum, tetapi waspada menjaga segala kemungkinan.

Mereka saling pandang. Saling menghardik. Keduanya memasang kuda-kuda. Sama-sama menunggu. Dangdi ragu-ragu melihat Arya Kamandanu tampak lebih mantap.

“Kamandanu! Mari kita mencari tempat yang lapang untuk berlaga,” tantang Dangdi untuk menyembunyikan keragu-raguannya. Ia menarik kaki kanannya. Berdiri tegak dengan tatap mata bengis, marah dan berpijar.

“Aku lebih senang menyelesaikan persoalan ini secara baik, bukan dengan kekerasan. Kau anak kepala desa. Tentunya kau lebih memahami tata krama yang berlaku dalam masyarakat. Jangan berbuat liar seperti kambing hutan,” ledek Arya Kamandanu.

Diejek seperti itu Dangdi mendengus kasar. Maju selangkah dengan kedua tangannya yang berotot itu mengepal keras. Bibirnya bergetar hebat meredam marah.

“Tidak ada cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini selain berkelahi. Nah, aku menantangmu, Kamandanu. Ayo, keluar, di halaman candi ini lebih leluasa untuk saling menghantam,” tantang Dangdi dengan wajah semakin bengis.

“Kalau itu kemauanmu, akan kulayani tentanganmu, Dangdi!”

Kedua pemuda itu akhirnya melangkah menuju halaman Candi Walandit yang cukup luas. Keduanya saling meremehkan dan saling meredam darah muda.

Nari Ratih gemetaran lalu berlari kecil menghampiri Arya Kamandanu. Ia berbisik pada kekasihnya, “Ohh, hati-hati, Kakang. Dia licik. Curang!”

“Kau melihat dari kejauhan saja, Ratih. Jangan mendekat!” pinta Arya Kamandanu lembut dan menepuk pundak gadis itu.

Gadis itu mengangguk. Lalu ia menyingkir, berdiri di dekat dinding candi dengan hati berdebar-debar melihat wajah Dangdi berapi-api, yang terlihat semakin galak ditimpa matahari senja yang merah darah.

Matahari di ufuk barat pun seolah-olah tak berani melihat mereka. Ia bersembunyi di antara gumpalan awan yang lamban sekali didera angin. Cuaca di cakrawala langit tampak semakin muram.

Arya Kamandanu maupun Dangdi sudah siap untuk berlaga. Mereka siap bertarung.

“Nah, Kamandanu. Bersiaplah. Kau akan segera merasakan kepalan tanganku ini. Hiiiiiaaaaa….!” Dangdi menggebrak dengan sekali serangan. Tangannya mengepal dan dijotoskan kuat-kuat ke dagu Arya Kamandanu.

Kakinya menyepak perut.Tetapi begitu lincah Arya Kamandanu menghindar dan berkelit. Hanya dengan mencondongkan tubuhnya ke samping kiri ia bisa terhindar dari gebrakan sambal Dangdi yang kurang perhitungan.

Dangdi meringis dan semakin penasaran. Membabi buta ia menyerang Arya Kamandanu. Pukulan yang semrawut, asal tendang, asal tonjok, tak pernah mengenai lawannya.

Sementara Arya Kamandanu berusaha melayani dengan baik sambil sesekali memberikan serangan balasan.

Halaman Candi Walandit, yang kanan kirinya banyak ditumbuhi tanaman liar itu menjadi arena pertarungan dua anak muda. Sementara di undak-undakan, di tangga Candi Walandit, seorang gadis melihat jalannya pertarungan sambil sekali waktu menggigit bibirnya yang merah jambu.

Mulutnya ternganga ketika melihat Dangdi melompat mundur dengan berkacak pinggang sementara napasnya ngos-ngosan. Jengkel sekali melihat Arya Kamandanu yang belum sungguh-sungguh menghadapi nya.

“Ayo, Kamandanu. Kau ganti menyerang! Jangan hanya bermain loncat-loncatan seperti bajing kurang makan!”

“Baiklah. Akan kuturuti permintaanmu, Dangdi.”

Arya Kamandanu, sekalipun tidak bisa dikatakan pendekar, tapi paling sedikit pernah belajar ilmu kanuragan dari Mpu Hanggareksa. Ia benar-benar menyerang dengan gebrakan yang tidak diduga oleh Dangdi. Serangan-serangan berbahaya harus dihadapi Dangdi. Hantaman keras dari tangan mengepal kembali merobek pelipisnya hingga darah segar mengalir deras di wajah Dangdi. Dangdi melompat mundur beberapa tindak, sedangkan Arya Kamandanu hanya tersenyum tidak meneruskan gempurannya. Tangan kanan Dangdi meraba pipi dan pelipisnya lalu dipandanginya telapak tangannya penuh darah.

“Ehhh, kau telah memukul pelipisku, Kamandanu. Ehh….” Napasnya memburu, pandangan matanya makin liar dan geram.

“Sudahlah, Dangdi. Kita akhiri saja percekcokan kita hingga di sini,” rendah hati Arya Kamandanu memberi saran pada lawannya yang tak menyadari kelemahannya.

Tetapi Dangdi tak mau menyerah begitu saja. Ia tak mau dibuat malu di depan mata Nari Ratih yang tetap mengikuti jalannya pertarungan dari tangga candi.

“Tidak. Kau sudah melukai aku, Kamandanu. Aku harus mengadakan pembalasan!” Sebelum mengakhiri ucapannya, tangan kanan Dangdi meraba gagang pedang yang terselip di pinggang. Dengan kasar ia cabut pedang dari sarungnya hingga menimbulkan suara berdencing. Ia tersenyum menyeringai pada Arya Kamandanu yang mundur beberapa tindak.

“Sarungkan kembali pedangmu. Mengapa kau sampai menghunus senjata tajam? Ingat. Senjata tajam bisa menumpahkan darah,” Arya Kamandanu masih memberikan peringatan pada Dangdi yang tampak semakin kalap dan tak bisa mengendalikan diri lagi.

“Aku tidak peduli. Darahku atau darahmu akan segera tumpah untuk menjadi saksi peristiwa ini “

“Dangdi Jangan memaksaku bertindak terlalu jauh.”

“Kau pengecut. Penakut! Hiaaaaaa… hiaaa….!” Dangdi tak sabar, menerjang sambil menebaskan pedangnya yang sangat tajam berkilat-kilat. Ia ingin merobek-robek Arya Kamandanu yang lincah berkelit, melompat dan menangkis. Nyaris ujung pedang menyabet leher Kamandanu jika pemuda itu tidak menarik sedikit ke belakang. Satu tendangan bersarang pada tubuh Kamandanu Bahkan sabetan pedang Dangdi yang amat kuat dan tak terarah, sempat membuat pakaian Arya Kamandanu koyak.

Sambil melompat menghindar Arya Kamandanu membentak, “Dangdi! Kalau kau masih nekat menyerang, jangan salahkan aku bila kau cedera!”

“Hentikan! Mengapa kalian mau saling membunuh begini?” keluh Nari Ratih setengah merintih dan menjerit.

“Apakah kalian tidak malu pada orang-orang? Dangdi, apakah kau tidak kasihan melihat orang tuamu? Dia seorang kepala desa yang dihormati. Dia tentu akan terpukul sekali kalau sampai anaknya berbuat onar!” Nari Ratih tidak bisa tinggal diam. Ia semakin benci melihat tampang Dangdi yang tak tahu aturan.

Dengan kesal Dangdi menyarungkan pedangnya kembali, memandang Nari Ratih tajam sekali, lalu beralih

pada Arya Kamandanu. Sebal sekali ia pada Arya Kamandanu yang merampas pujaan hatinya. Lebih-lebih Nari Ratih tampak sangat mencintai Arya Kamandanu. Gadis itu berpegangan pada lengan Arya Kamandanu begitu mesranya sambil memandangnya lalu melengos sebal. Dangdi geram. Gerahamnya mengeras dan terdengar giginya gemeretuk memendam amarah yang kian memuncak. Benih dendam menjalar dalam lubuk hatinya, penuh amarah dan kebencian ia menghardik Arya Kamandanu.

“Huuuhh. Aku tidak akan melupakannya, Kamandanu. Luka di pelipisku ini harus kaubayar kembali. Harus kaubayar lebih mahal.” Dangdi segera membalikkan tubuh dan melangkah pergi berlalu dari hadapan Arya Kamandanu dan Nari Ratih.

Kedua muda-mudi itu sejenak saling pandang. Lalu kembali mengawasi Dangdi yang telah lenyap di semaksemak dan rerungkutan Jantung mereka semakin berdetak memburu, cemas dan khawatir menyusup di hati dan pikiran mereka.

Nari Ratih kembali mengamati Arya Kamandanu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ada luka memar, ada bekas sabetan pada kain yang koyak. Keringat Arya Kamandanu berleleran membasahi seluruh tubuhnya.

“Kau tak apa-apa, Kakang?” ada nada cemas meluncur dari bibir mungil itu, ada rasa kasih, ada rasa cinta yang menggeletar hebat Arya Kamandanu tersenyum lembut, membalas tatapan kekasih hatinya.

“Tidak, Ratih. Aku tidak apa-apa,” jawabnya lirih. Bangga.

“Terima kasih atas pertolonganmu, Kakang. Kalau Kakang tidak segera datang, entahlah apa yang akan terjadi atas diriku ini Dangdi mengerikan sekali.”

“Sudahlah. Lupakan saja. Dangdi sudah pergi dan tak akan mengganggumu lagi,” hibur Kamandanu. Tetap tersenyum dan tatap matanya menyembunyikan pijar asmara yang membara di dada.

Nari Ratih menghindari tatapan itu dengan senyuman malu-malu. Pipinya memerah dan ada sungging senyum di bibirnya. Ia memandang cakrawala langit yang kian meredup, lalu berusaha mengalihkan perhatian kekasih hatinya.

“Dari mana Kakang tahu aku ada di Candi Walandit ini?” tanyanya lirih sambil terus memandangi langit senja temaram.

“Kau mengirim pesan melalui Bibi Rongkot?” tanya Arya Kamandanu sambil melangkah mendekati Ratih yang membelakanginya.

“Oh, ya, aku menitipkan salam pada pembantumu itu. Aku menunggu di tepi padang ilalang. Baru saja duduk, tiba-tiba Dangdi datang menggodaku, lalu memaksaku pergi ke tempat ini,” tutur Nari Ratih dengan sedih.

Matanya berkaca-kaca karena takut Arya Kamandanu tidak percaya dengan penuturan dan ceritanya. Arya Kamandanu tersenyum. Berusaha bijaksana menghadapi orang yang menjadi tambatan hatinya selama ini.

“Aku juga datang ke tepi padang ilalang. Mendadak aku menemukan tusuk konde ini.” Arya Kamandanu mencabut tusuk konde itu dari timangnya, dan menyerahkan pada Nari Ratih yang menyambutnya dengan tangan gemetaran.

“Ahh, ini tusuk kondeku, Kakang. Mungkin terjatuh waktu Dangdi mengejar aku.”

Langit kian redup dibalut senja. Tirai gerimis meluncur dari langit, titik-titik airnya menerpa kulit kedua mudamudi itu. Mereka serentak memandang langit.

“Ohh, celaka. Rupanya gerimis sudah turun, Ratih!”

“Ya, Kakang. Mendung tebal sekali di angkasa “

“Mari, kita masuk ke ruangan candi. Gerimis makin deras dan angin bertiup kencang.” Arya Kamandanu minta agar Nari Ratih berjalan agak cepat. Mereka menuju dalam bangunan candi dan berteduh di sana dari guyuran air hujan yang semakin deras.

Kilat berkali-kali menjilat langit. Lidah-lidahnya terjulur dari langit barat sampai langit timur diiringi pekikan petir menggelegar dan sambar menyambar. Nari Ratih menggigil kedinginan lalu ia melirik ke arah Arya Kamandanu yang masih ragu-ragu meraihnya. Mereka hanya sedikit menggeser posisi berdiri hingga agak merapat. Dengan demikian, mereka bisa sedikit mendapatkan kehangatan.

Arya Kamandanu sebetulnya memperhatikan Nari Ratih dari ujung kaki sampai ke ujung rambut sekalipun tidak terang-terangan.

Matanya sedikit terbeliak ketika melihat sesuatu yang tidak beres pada Nari Ratih, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.

“Pakaianmu terkoyak, Ratih?”

Nari Ratih tersentak dan wajahnya merona merah karena malu, “Ehh, iya, Kakang. Dangdi… Dangdi sungguh kurang ajar. Dia mau membuatku malu,” jawabnya terbata dan merasa tak enak hati. Ia berusaha membetulkan kainnya yang terkoyak dan sedikit tersingkap, menutupinya dengan telapak tangan kirinya lalu mencuri-curi pandang pada Arya Kamandanu yang enggan melihatnya.

“Kelihatannya dia tergila-gila padamu. Dan karena kau tidak menanggapinya, dia nekat,” tutur Kamandanu tanpa memandang Nari Ratih sekalipun ia sangat perhatian pada gadis yang selama ini menghiasi hari-hari dalam hidupnya.

Dipandangnya derai air hujan yang bening mengucur dari wajah langit yang masih dihiasi oleh awan-awan kelabu.

“Aku benci melihat laki-laki seperti Dangdi. Dia sokkaya dan sok berani. Buktinya dia tidak mampu menandingi Kakang Kamandanu!”

Entah mengapa Nari Ratih tak melanjutkan bicaranya. Sebaliknya ia mengerutkan dahi. Memandang ke cakrawala langit. Lama sekali. Ia hela napas dalam-dalam, lalu bibirnya mendesahkan suatu makna kekaguman dari kisikisi hati seorang dara yang sedang mekar.

“Ohh… Kakang Kamandanu Lihatlah di sana, Kakang….”

“Hemhh!” Arya Kamandanu tersenyum dan melirik Nari Ratih yang menepuk lengannya.

“Ada pelangi di sebelah sana!”

“Aku sudah melihatnya sejak tadi, Ratih.”

“Mengapa Kakang diam saja? Mengapa tidak memberi tahu aku? Ahh, aku tahu. Kakang Kamandanu sudah bosan melihat pelangi bukan?”

Nari Ratih memandang Arya Kamandanu, lalu beralih pada cakrawala langit yang berhiaskan dewangga busur Sang Pencipta. Warna-warni hiasan langit. Warna pelangi yang menyentuh hati setiap insan yang melihatnya. Untuk kemudian mengucapkan puji syukur ke hadirat Sang Maha Esa. Mereka diam. Hening. Hanya rinai gerimis yang terdengar bagai alunan kidung buana raya. Merdu, menjentik-jentik telinga, menyentil-nyentil sanubari, lalu menyusup ke sukma kedua muda-mudi itu. Tangan Kamandanu terulur, tanpa memandang Nari Ratih, ia remas dengan lembut jemari gadis itu, lalu ia berbisik seperti pada dirinya sendiri, “Pelangi itu indah sekali, Ratih. Tapi…,”

“Tapi apa, Kakang?” tukas Nari Ratih ingin segera tahu apa yang ingin dikatakan Kamandanu Arya Kamandanu mengetahui keresahan gadisnya, mungkin seresah hatinya.

Ia hela napas sedalam-dalamnya lalu memandang mata sayu dara di sisinya.

“Pelangi itu indah sekali, tapi aku dibuatnya kesal. Aku benci,” rutuk Kamandanu sangat dalam.

“Mengapa?”

“Karena aku tak mungkin menggenggamnya. Aku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan saja,” jelas Kamandanu lirih seraya mempererat jalinan jemarinya pada jemari Nari Ratih yang dirasakannya sangat lembut dan halus. Mer«£ tarkan hati nuraninya yang makin terkulai dalam dekapan dewa asmara.

“Kalau Kakang ingin menggenggam pelangi, Kakang harus dapat menjerat leher burung garuda. Nah, Kakang lalu naik di punggung burung raksasa itu, terbang ke angkasa!”

“Itu mustahil.”

“Bisa saja. Kakang jangan putus asa,” tukas Nari Ratih meyakinkan Arya Kamandanu yang makin terperosok pada lubang-lubang cinta yang tak dimengertinya. Sementara Nari Ratih pun masih meraba-raba sejauh mana pemuda gagah dan tampan di dekatnya itu mengetahui perasaannya.

Arya Kamandanu menghela napas, lalu melangkah setindak, berpaling pada Nari Ratih dan kembali memandang pelangi di batas cakrawala.

“Tidak, Ratih. Pelangi itu terlampau jauh Terlampau indah tapi mustahil kumiliki untuk selamanya. Kau tidak percaya? Sebentar lagi dia lenyap. Akan lenyap begitu saja.”

“Kakang cepat berputus asa. Kasihan nasib pelangi itu kalau sampai harus lenyap begitu saja. Seharusnya Kakang berusaha untuk menggenggamnya dalam tanganmu yang perkasa itu,” cepat dan lugas Nari Ratih menukas dengan kalimat panjang Jemari mereka berurai. Jatuh menggelantung di udara. Sekalipun permukaan kulit keduanya sangat dingin, namun sebenarnya di dalamnya menggelegak bagai kawah Candradimuka yang panas bergejolak oleh amukan bara cinta.

Sejenak mereka diam. Arya Kamandanu mendenguskan napasnya dan sejenak melirik Nari Ratih yang berharap-harap cemas tentang apa yang hendak dikatakan pemuda di dekatnya.

“Sudahlah, mengapa bicara kita jadi ngelantur ke sana kemari?” Arya Kamandanu mengalihkan perhatiannya.

Angin berdesir, menyapa kulit, mencubit tulang dan menjilat sungsum. Nari Ratih bersidekap karena merinding oleh udara senja yang makin dingin, sementara di langit bias pelangi pelan-pelan memudar dan menipis. Gigi gadis itu gemeretuk lalu bibirnya gemetar mendesis-desis menahan dingin.

“Kakang, aku kedinginan sekali,” bisiknya mesra keluar dari bibir mungil yang kini tampak pucat dan mengusut oleh dinginnya udara.

“Di sini banyak angin. Yuk, pindah ke sebelah sana, merapat ke dinding batu,” jawab Arya Kamandanu sambil menggiring Nari Ratih. Tetapi gadis itu tak bergeming.

Sebaliknya, hendak duduk di dekat Kamandanu.

“Ahh, aku mau duduk di sini saja. Dekat denganmu supaya hangat. Kau juga dingin, Kakang?”

“Aku sudah terbiasa melawan udara dingin, Ratih,” dingin sekali jawaban itu. Sedingin udara senja itu.

Nari Ratih tersentak dan di dadanya menggeletar perasaan cemas, takut jika pemuda di dekatnya tak menaruh hati padanya. Tidak sungguh-sungguh memperhatikannya, sekalipun mereka selalu mengada-kan pertemuan di padang ilalang untuk menikmati indahnya panorama alam di Kurawan. Mereka selalu bersama, namun tak pernah menyinggung masalah yang amat manis tapi rumit.

“Kakang Kamandanu, apakah kau tidak tahu bahwa aku mencintaimu? Mengapa kau tidak bisa membaca isi hatiku?” bisik Nari Ratih.

“Nari Ratih. Aku mencintaimu. Tapi aku ragu-ragu. Aku bimbang. Jangan-jangan aku bertepuk sebelah tangan?” bisik hati Arya Kamandanu.

Mereka sama-sama diam, hanya bahasa hati yang berkata-kata tentang suatu rasa, rasa yang menyusup dalam hati nurani paling dalam bagi insan yang telah tertusuk duri-duri cinta.

Mereka duduk mendekap lutut masing-masing sibuk dengan ucapan khayal dengan memandangi pelangi yang hampir memudar di cakrawala Lama mereka saling menunggu.

“Bagaimana perasaanmu, Kakang?” pancing Nari Ratih.

Arya Kamandanu terkejut dan tidak siap mendengar pertanyaan gadis di dekatnya.

“Hemh, apa maksudmu, Ratih?” gagap dan gugup.

Pernyataan bodoh itu terlontar begitu saja dari kerongkongannya Arya Kamandanu menghela napas dan memandang Nari Ratih lalu membuang muka, takut perasaannya diketahui gadis itu.

“Kau senang kita berada di tempat seperti ini?”

“Hemh… yaa! Tapi kita tidak boleh terlalu lama berada di sini. Nanti kau ditunggu-tunggu orang tuamu.”

Mendengar jawaban pemuda tampan di sampingnya, Nari Ratih terhenyak, nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan Arya Kamandanu

“Kakang Kamandanu, mengapa kau tidak mau berterus terang padaku? Katakanlah bahwa kau mencintai Nari Ratih, dan diriku ini akan menjadi milikmu selamanya,” bisik hati gadis itu.

“Ratih. Aku memang pengecut. Entahlah mengapa aku pengecut seperti ini. Apakah aku terlalu tinggi hati?” bisik hati Kamandanu.

Kembali keduanya menyelusup dalam jurang-jurang diam. Membisu beberapa saat lamanya. Hening. Hanya desau angin senja. Hanya sisa-sisa gerimis yang merinai.

Seiring dengan hening dan sunyinya suasana di dalam Candi Walandit tersebut, tangan Nari Ratih merayap perlahan. Lembut bagai air yang merembes pada dinding kapur. Ingin sekali kembali berjalinan tangan dengan pemuda yang sangat dikasihinya.

Ia melirik kemudian menatap malu-malu kucing dan lirih sekali berbisik, “Coba genggamlah tanganku ini, Kakang. Bukankah dingin sekali seperti air telaga di puncak gunung? Ayo Kakang, genggamlah tanganku. Apakah bibirku membiru karena dingin? Katakanlah, Kakang.”

Arya Kamandanu berdebar-debar, jantungnya seperti mau lepas. Perasaannya sungguh tak menentu sebab pada suasana seperti itu bukannya keyakinan, tetapi keraguan lebih kuat meng hempaskan keinginan hatinya pada sudut-sudut gelap rindunya.

“Ohh, aku gemetar. Aku menggigil bukan karena udara dingin. Tangan Nari Ratih sangat halus. Seperti tangan Dewi Supraba dari kayangan. Dan pandangan matanya sangat lembut,” bisik hati Arya Kamandanu.

“Kakang, mengapa kau tidak mau duduk merapat padaku?” Terlalu lemah bisikan Nari Ratih sehingga Arya Kamandanu kurang memperhatikannya. Bahkan ia semakin merenggangkan duduknya.

“Nari Ratih, kau pasti hanya akan mempermainkan aku. Kau cantik. Banyak pemuda yang mengincarmu untuk dijadikan istri,” bisik hati keraguan pemuda itu makin kuat hingga ia tenggelam dalam lamunan panjang. Semakin tak mempedulikan gadis cantik jelita yang meremas jemarinya.

“Mengapa kau malah menggeser, Kakang? Kau tidak senang duduk bersamaku?” tanya Nari Ratih penasaran.

Tetapi yang ditanya tetap memandang ke cakrawala langit yang berhias pelangi pudar.

“Kau seperti pelangi itu, Ratih. Indah dan rupawan. Tapi bagiku hanya bisa dinikmati dari kejauhan,” bisik hati Arya Kamandanu.

Nari Ratih menjadi kesal hatinya. Dahinya berkerut dan memandang sekilas pemuda di sisinya yang tak pernah

menjawab pertanyaan-pertanyaan-nya. Dengan risau hati, menahan malu, ia buru-buru bangkit tanpa mau memandang Arya Kamandanu yang tersentak dari lamunannya

“Baiklah. Mungkin kau tidak senang padaku. Atau bahkan kau membenci aku. Kalau begitu aku pergi saja,” katanya menahan isak dan melangkah pergi.

“Ratih!”

“Aku mau pulang.”

Arya Kamandanu terkejut begitu Nari Ratih mengibaskan tangannya. Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat gadis itu melompat ke dalam rinai hujan.

Sebentar kemudian mereka berdua sudah kejar-kejaran dalam cucuran air hujan. Nari Ratih tidak mempedulikan panggilan Arya Kamandanu yang terus mengejar dan ketinggalan jauh di belakang. Nari Ratih menerjang dan menghempas padang ilalang. Sesekali timbul dan tenggelam lagi di tengah semak.

Arya Kamandanu cemas sekali. Ia terus mengejarnya sambil sesekali mendongakkan kepalanya agar bisa mengetahui lewat mana Nari Ratih menembus padang ilalang dan rinai hujan.

Napas Nari Ratih sudah terengah-engah. Hatinya hancur berkeping-keping karena merasa diremehkan oleh pemuda yang selama ini dimimpikannya. Dingin dan menyebalkan.

Arya Kamandanu menganggap dirinya murahan. Tak lebih dari Dangdi. Ia berlari, terus berlari tanpa mau menoleh ke belakang.

Di kejauhan Arya Kamandanu semakin memperkencang larinya agar bisa menyusulnya. Hatinya berdebar-debar.

Ketakutan, cemas, terhina, atau entah perasaan apalagi berbaur menjadi satu dalam hatinya.

* * *

Berikutnya

Categories:

Tags:

Comments are closed