LAKI-LAKI tua itu semakin memelototkan matanya ketika orang itu semakin dekat dengannya dengan napas terengah-engah karena berlari.

“Ada apa, Wirot?”

“Eh, anu, Guru….”

“Anu, anu, apa? Bicara yang baik. Aturlah napasmu dulu.”

Sejenak keduanya diam, hanya napas Wirot yang ngosngosan menghiasi hari lengang di rumah Mpu Ranubhaya.

Angin pun seolah-olah tak mau hadir dalam kepengapan jiwa lelaki tua yang sangat sederhana itu.

Murid setianya itu pun akhirnya membuka mulutnya.

“Guru, benarkah Mpu Hanggareksa dari sini?”

“Ya. Ada apa dengan setan mata duitan itu?”

“Katanya…”

“Katanya apa?” Mpu Ranubhaya setengah membentak murid setianya ketika bujangan tua itu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Saya disuruh memperingatkan Guru.”

“Memperingatkan perutnya? Orang gila, orang sinting. Gila uang, gila pangkat dan kedudukan… Ohhh… jagad Dewa Bathara, janganlah bibirku mudah menjadi semayam dosa dan karma. Dunia ini sudah terbalik dan kocar-kacir. Yang benar menjadi salah dan salah dibenarkan.”

Mpu Ranubhaya menghela napas dalam-dalam tanpa memandang muridnya. Dadanya terasa sesak sekali.

“Dengarkan, Wirot.”

“Ya, Guru.”

“Setan alas itu kemari, mau menyuap aku, agar gurumu ini mau menjadi gedibal pemerintah Singasari. Ia memberikan sekantong uang emas. Kau lihat itu, sisasisanya masih’tersebar di lantai gubuk kita. Ambillah dan buang ke pembakaran sampah, atau kauberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan uang itu. Aku tidak butuh uang, aku tidak butuh perak dan emas, aku juga tidak butuh pangkat dan kedudukan. Hanggareksa benar-benar sudah buta.” Sekali lagi lelaki tua itu menghela napas dalam-dalam, pandang matanya kosong penuh dengan kepedihan.

Seolah-olah nuraninya telah tercabik-cabik oleh sikap dan sifat adik seperguruannya yang semakin mengkhianati nasihat gurunya.

“Apa yang dikatakan orang edan itu padamu, Wirot?”

“Emh, Mpu Hanggareksa bilang, agar Guru berhati-hati, sebab Guru telah menghina pemerintah Singasari. Guru telah mengutuk Prabu Kertanegara.”

“Hemh, tanpa aku mengutuknya, sebetulnya Kertanegara dan seluruh Singasari telah terkutuk, Wirot. Haaahh, benar-benar dunia ini telah kacau balau. Kau jangan ikut edan,Wirot. Sudah, sana. Kaukumpulkan uang di lantai itu. Jangan sampai mengotori rumahku hingga najis oleh uang Kertanegara.”

Wirot hanya mengangguk lalu segera memunguti uang emas yang masih tertinggal dan tercecer di lantai tanah.

Sebaliknya, Mpu Ranubhaya segera melangkah ke luar. Terus melangkah meninggalkan gubuk bambunya menuju Sanggar Pamujan di balik bukit. Langkahnya seperti sangat lelah selelah hati dan pikirannya.

Cahaya matahari semakin terik, udara pun amat gerah.

Mpu Ranubhaya berjalan dibawah bayang-bayang pohon rindang yang meneduhi jalan-jalan setapak yang disusunnya. Ia tidak bisa melukiskan betapa perihnya hati dan sakitnya menghadapi suatu kesucian yang telah dinodai. Kemurnian hati yang dikhianati dan tujuan mulia yang dicabik-cabik. Pengabdian yang tidak murni lagi, diinjak-injaknya kebenaran di balik keangkaramurkaan manusia.

Mungkin seperti saat itu di mana ia mencoba menginjak perdu putri malu. Tumbuhan itu serentak menguncupkan daun-daunnya ketika tersentuh. Begitukah hati manusia? Selalu mengabaikan pendirian hidup mula-mula ketika kemanisan dan kenikmatan menghampirinya.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mau seperti putri malu, aku tidak sudi menjilat seperti Hanggareksa.”

Lelaki tua itu berseru-seru hingga suaranya menggaung dan menggema tatkala menyentuh dinding-dinding bukit batu. Ia kemudian berdiam diri sejenak. Bersidekap dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia rasakan pusarnya terasa dingin sekali, kemudian rasa dingin itu menyebar ke seluruh nadi darahnya. Ia pun merasakan tubuhnya semakin ringan bagaikan tanpa berat. Itulah ajian Seipi Angin. Ajian untuk meringankan tubuh di samping untuk mengatasi kegalauan hati. Lelaki tua yang berpakaian compang-camping dan sangat kumal itu segera melompat dan melayang bagaikan terbang. Tubuhnya melesat dan akhirnya lenyap di balik rerimbunan pohon-pohonan liar.

Pada hari itu juga ketika seorang pemuda tampan sedang mengendalikan kudanya menuju suatu tempat mendadak ia menghentikan kudanya karena seorang gadis cantik menghadangnya di tengah jalan. Pemuda itu segera turun lalu menuntun kudanya menghampiri gadis cantik itu.

Kuda perkasa itu meringkik seolah-olah ingin bertanya kepada tuannya. Pemuda itu mengelus bulu suri kudanya kemudian menepuk-nepuk kepala binatang perkasa itu.

“Kaukah yang bernama Arya Kamandanu?”

“Ya. Ada apa?”

“Aku sahabat Nari Ratih. Namaku Palastri.”

“Hmmm! Kalau kau mengajakku bicara tentang Nari Ratih, maaf. Aku tidak bersedia melayanimu.”

“Jangan begitu. Nari Ratih merasa sangat berdosa kepadamu. Beberapa hari ini dia kelihatan sangat murung. Tubuhnya kurus dan matanya cekung karena kurang tidur.”

“Mestinya dia tidak perlu merasa berdosa padaku.”

“Aku tahu apa yang dirasakannya karena aku sahabatnya yang paling dekat. Nari Ratih sebetulnya masih mencintaimu “

Mendengar penjelasan gadis cantik yang mengaku bernama Palastri sahabat Nari Ratih itu membuat Arya Kamandanu tertawa dan terdengar sangat getir, sumbang dan hambar. Pemuda tampan itu memandang dingin kepada Palastri. Memandangnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dipandang seperti itu Palastri merasa kurang senang, namun ia berusaha memahami perasaan pemuda tampan di hadapannya yang merasa kecewa atas perbuatan sahabat karibnya.

“Heheheheheh, sudahlah! Sandiwara lelucon ini sudah tidak lucu lagi. Layar sudah diturunkan dan para penonton sudah bubar.”

“Jadi, kau tidak sudi menolongnya, Kamandanu?”

“Aku tidak pantas menolong seorang gadis yang kecantikannya bagaikan bidadari.”

“Kalau begitu kau sebenarnya tidak mencintainya. Kalau kau mencintainya dan cintamu itu tulus dan suci, kau pasti akan menolongnya. Nari Ratih hanya membutuhkan

pertemuan denganmu walaupun sekejap mata. Kukira hal itu tidak sulit untuk kaupenuhi, Arya Kamandanu.”

“Mengapa ia tidak minta tolong pada Kakang Dwipangga?”

“Ini persoalannya denganmu, bukan dengan saudara tuamu. Hanya kau yang bisa menolongnya untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi kalau kau keberatan ya sudahlah. Asal jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Kalau terjadi apa-apa pada sahabatku itu aku tidak mau tahu lagi!” Selesai mengucapkan kata itu gadis cantik itu pun segera membalikkan tubuh dan berlalu dari depan Arya Kamandanu yang ditinggalkan dengan mata setengah melotot. Nampak bingung dan terkejut, seolah-olah baru sadar dari mimpi panjang.

“Tungguuu.., hee tunggu, Palastri!”

“Kamandanu, kalau kau akan menemuinya sekarang, pergilah ke tepi padang ilalang.” Gadis itu bicara tanpa menghentikan langkahnya, hanya sedikit memalingkan kepalanya kepada pemuda yang dianggapnya terlalu dingin.

Gadis itu bahkan semakin mempercepat langkahnya.

Arya Kamandanu geleng-geleng kepala ketika memperhatikan Palastri yang berkain ketat hingga nampaklah lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal dan padat.

Kedua pantatnya bergoyang-goyang bagai dua bola beradu.

Ia tersenyum nyinyir dan getir sekali. Ia hela napas dalam-dalam sambil menelan ludah pahit. Pemuda itu kemudian merasa tidak enak, kesal dan gelisah. Ada keinginan untuk bersikap masa bodoh dan tidak mau tahu. Tetapi ketika ia melompat ke atas punggung kuda serta duduk pada binatang tunggangannya itu ia mulai berpikir.

“Nari Ratih! Gadis itu telah mengkhianati cintaku dan sekarang ia ingin bertemu denganku. Apa maksudnya? Atau ia ingin merobek-robek dan mencabik-cabik nuraniku? Atau aku ini pemuda yang tidak pantas untuk memiliki kesenangan hati?” Arya Kamandanu berguman sendiri, kemudian perlahan menarik tali kekang kudanya.

Binatang itu meringkik tertahan kemudian kaki-kakinya pun berderap berirama. Memecah keheningan dan meningkahi desau angin yang menggoyang-goyangkan dedaunan. Bau harum kembang-kembang liar bercampur dengan bau serangga pun menghampiri penciuman pemuda yang dilanda kegelisahan itu. Bau walang sangit yang menampar hidungnya membuatnya terjaga dari lamunan. Bersamaan dengan itu ia menyentakkan tali kekang kuda kuat-kuat hingga kudanya melompat bagaikan terbang dengan meninggalkan suara berderap semakin menjauh dan tinggal sayup-sayup.

Pemuda itu terguncang-guncang di atas kudanya yang berbulu cokelat mengkilat. Tegar dan perkasa. Angin kencang pun menampar wajahnya hingga kadangkala ia terpaksa memejamkan mata untuk mengurangi rasa perih bahkan air mata pun keluar karena terlalu kencangnya kuda itu berlari. Akhirnya kuda perkasa itu pun sampailah di suatu tempat. Tempat yang benar-benar menawan dengan panorama alam. Angkasa dan buana seolah-olah menyatu.

Angkasa langit biru yang berhias awan-awan cirrus, awan-awan yang putih halus bagaikan kapas bertebaran.

Di kejauhan tampak gunung dan pegunungan yang biru mengelabu seolah-olah ingin mencium bibir langit yang ranum. Kemudian lembah dan ngarai yang menghijau bagaikan permadani menghampar begitu luas menyejukkan mata yang memandangnya. Sepoi angin dan desaunya menggiring pada siapa saja untuk sejenak memejamkan mata. Agar suara gemerisik dedaunan semakin jelas, agar cericit dan kicau burung pun makin merdu seiring detak-detak jantung hati yang menggema mengucapkan segala puji dan syukur ke hadirat Dewata Yang Agung atas segala kebesaran dan anugerah-Nya yang benar-benar ajaib.

Sengatan sinar surya bukanlah suatu hal yang ganas, tetapi cukup bersahabat sebab seringkah awan yang melintas didera angin mengurangi teriknya.

Arya Kamandanu tersenyum seorang diri, ia pejamkan matanya. Menghirup udara segar sepuas-puasnya yang membawa aroma bunga-bunga hutan, bunga-bunga liar, bunga-bunga rumput dan ilalang.

Namun, ia tersentak tatkala kuda kesayangannya meringkik panjang.

Lagi-lagi ia tersenyum seorang diri sebab binatang itu mungkin tahu bagaimana mengucapkan syukur kepada Yang Maha Agung atas kebahagiaan tersendiri yang menyelinap di lubuk hati tuannya di tengah kepedihan-nya selama ini.

Pemuda itu pun melompat dari punggung kuda.

Memanjangkan tali kekang kuda itu serta menambatkan-nya pada sebuah batang pohon perdu. Buih dari mulut kuda yang kelelahan itu menetes di rerumputan seiring dengus yang memburu. Pemuda itu kembali mengelus kepala kudanya. Mengusap bulu suri dan menepuk-nepuk leher kudanya dengan penuh kasih sayang. Kuda itu meringkik manja dan mengangkat kepalanya tatkala tuannya perlahan melangkah meninggalkannya.

Tuannya berjalan di antara rumpun-rumpun ilalang yang tumbuh sangat subur hampir sedada.

Pemuda itu kemudian mengangkat kepalanya, dahinya berkerut-kerut. Jantungnya berdebar-debar ketika ia harus menghentikan langkahnya di belakang seorang gadis berambut panjang, hitam dan bergelombang.

Rambut itu berhias seuntai kembang melati yang terangkai di tusuk konde dibiarkan berjuntai di telinganya. Tusuk konde berbingkai emas itu sengaja diselipkan di rambut di atas telinga kanannya, padahal biasanya rambut itu digelung dan dikunci dengan tusuk konde itu. Rambut hitam panjang bergelombang gadis itu sesekali berderai didera angin sepoi padang ilalang pinggir desa Kurawan.

Gadis cantik itu belum menyadari akan kehadiran seorang pemuda gagah dan tampan yang sejak tadi menahan napas oleh kekaguman dan keagungan ciptaan Dewata yang nyaris sempurna.

Pemuda itu perlahan sekali melangkahkan kaki kanannya dan kembali berhenti. Bibirnya bergetar dan meliuk-liuk tatkala dari sana meluncur suara sangat lirih,

“Ratih!” suara yang sangat lirih itu seolah-olah tercekat di tenggorokan pemuda itu.

Gadis yang dipanggil namanya setengah terkejut berpaling pada seseorang yang memanggilnya. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Ia tersenyum simpul. Bibir merah jambu itu bergetar dan meliuk-liuk. Matanya yang bulat besar dan indah tampak sayu, agak cekung. Pada sekitar matanya, pelupuknya tergambar garis-garis kecokelatan. Hidungnya yang bangir tampak mencuat melengkapi keindahan bibirnya yang mungil. Ia tetap menyunggingkan senyuman yang paling indah sekalipun dari sinar wajah itu menunjukkan luka dan duka panjang.

Luka dan duka akan sebuah hati, sebuah nurani yang tercabik. Lalu gadis itu berkata lirih pada seseorang yang selama ini sangat dekat di hatinya.

“Akhirnya kau datang juga, Kakang Kamandanu.”

“Kau masih membutuhkan kehadiranku di tempat ini?”

“Jangan begitu, Kakang. Kita pernah menjadi milik tepi padang ilalang ini. Kita pernah menjalin hubungan yang akrab dan manis di tempat ini.”

“Semua itu sudah berlalu, Ratih.” Perih kata-kata itu meluncur dari bibir pemuda itu.

Gadis itu kemudian bangkit perlahan sekali dari duduknya. Batu hitam tempat duduknya itu masih kelihatan kelimis dan licin pertanda betapa seringnya batu hitam itu menjadi tempat yang istimewa bagi mereka. Gadis itu berdiri tepat di sisi pemuda yang sangat dicintainya. Kemudian ia pun mendesah sangat lirih.

“Yaah… agaknya begitu, Kakang. Semuanya sudah harus berlalu.”

“Sebenarnya aku tak ingin pertemuan semacam ini lagi. Aku sudah menguburkan semuanya. Tak ada yang perlu diingat ataupun dikenang.”

“Aku yang menginginkan pertemuan ini, Kakang. Bukan kau.”

“Untuk apa?”

“Untuk melihat pelangi itu yang terakhir kalinya bersamamu. Pelangi yang penuh warna-warni, indah sekali.”

“Tidak. Pelangi itu bagiku tidak indah lagi. Mataku justru menjadi sakit setiap kali memandangnya.”

“Yah, semua ini memang salahku, Kakang. Aku wanita yang berdosa Aku tidak pantas lagi memandang pelangi di tepi padang ilalang ini. Aku mestinya sudah dicampakkan ke dalam lumpur neraka. Aku menyesal, Kakang. Aku menyesal sekali telah mengkhianati cintamu.”

Desah suara gadis itu kian lelah, bahkan teramat berat, hingga tanpa disadarinya meluncurlah butir-butir bening air matanya di pipinya yang halus dan lembut. Hidungnya kembang kempis memerah mengeluarkan ingus. Gadis itu seolah-olah meratap, namun tidak ada yang mengulurkan tangan buat membelai dan mengasihinya.

Hati nuraninya benar-benar tercabik.

Arya Kamandanu pun tidak kuasa untuk memandang lebih lama pada gadis yang saat ini masih melekat di hatinya. Rasa kesal, benci, marah sekaligus kasih cinta masih membalut seluruh hatinya.

Ia mengeraskan rahangnya hingga tampak menonjol. Ia hela napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya. Ia berusaha bersikap lembut pada gadis di depannya. Gadis yang sangat dicintainya sekaligus gadis yang dibencinya karena telah mencabik-cabik cintanya.

“Sudahlah, Ratih. Keringkan air matamu. Kasihan bumi tempatmu berpijak kalau harus menjadi sasaran deras air matamu. Bumi itu suci, tidak berdosa.”

“Memang akulah yang berdosa. Biarlah kusandang beban dosa ini seumur hidupku, Kakang.”

“Kau dusta. Bukankah kau sudah mendapatkan kebahagiaan yang kau idam-idamkan selama ini? Kau sudah merebut hati Kakang Dwipangga dan sebentar lagi kau akan kenyang mendengar syair-syairnya tentang cinta.”

“Kakang Kamandanu. Ini bukan persoalan Kakang Dwipangga, ini adalah persoalan kita berdua.”

“Kita tidak mempunyai persoalan lagi.”

“Aku ingin minta maaf padamu, Kakang. Aku telah menyakiti hatimu. Bukalah sedikit pintu hatimu untuk menuangkan maafmu.”

“Baik. Baik. Akan kubuka pintu hatiku selebar-lebarnya agar kau bisa puas memperoleh apa yang kauinginkan.”

“Kakang, aku ingin ketulusan hatimu.”

“Jangan bicara soal ketulusan hati. Jangan bicara lagi soal kesetiaan, soal kebajikan, karena semua sudah terbukti. Kau sudah mengkhianati cintaku!”

“Jadi, Kakang tidak sudi memaafkan aku?”

“Mengapa kau tidak berkaca, Ratih? Apa karena merasa dirimu paling cantik lalu kau tidak membutuhkan lagi sebuah cermin?”

“Kata-katamu terlalu menyakitkan, Kakang!”

“Perbuatanmu bahkan lebih menyakitkan. Perempuan lacur. Wanita murahan!”

“Oh, Kakang. Kakang Kamandanu. Kukira kau seorang laki-laki yang bijaksana. Mengapa kau mengeluarkan ucapan-ucapan sekeji itu? Kau menganggapku berdosa karena telah mengkhianati cintamu. Baik, kuterima dengan tabah tuduhanmu itu. Tapi apakah selama ini kau pernah mengutarakan rasa cintamu padaku?”

Arya Kamandanu terkesima, ia mengerutkan dahinya memandang pada gadis jelita yang kini bersimbah air mata.

Terisak-isak dan tersedu-sedu. Gadis cantik itu sibuk menghapus air matanya dan menunduk. Sejenak mereka saling diam. Diam membisu seribu bahasa.

Hanya suara isak dan sedu sedan tangis terdengar pilu meningkahi desau angin yang membuat gemerisik ranting dan dedaunan. Masih dalam isak dan tangis, Nari Ratih kembali menyuarakan isi batinnya dengan suara tersendat dan parau.

“Selama ini aku hanya menunggu dan menunggu. Padang ilalang ini sebagai saksinya bahwa aku selalu menunggu pernyataan cintamu. Tapi sekian lama menunggu, sekian lama pula hatiku kecewa. Kau tetap saja menyembunyikan perasaanmu. Kau tinggi hati. Kau angkuh sekali dan akulah yang menjadi korban cintaku sendiri. Apakah itu adil?”

Arya Kamandanu hanya diam membisu ketika Nari Ratih merutuknya. Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya karena harus menyeka air mata dan menenangkan hatinya sendiri, lalu ia pun kembali bicara.

“Baiklah. Kalau memang kau tidak bersedia memaafkan Nari Ratih, biarlah aku hidup sampai di sini saja.”

Secepat kilat gadis Manguntur yang sudah dirundung putus asa itu mencabut sebilah pisau yang tajam berkilat-kilat. Lalu ia mengangkat pisau itu dan hendak menghunjamkan ke ulu hatinya. Namun, Arya Kamandanu segera melompat dan menahan pergelangan tangan gadis itu. Ia gugup dan sangat terkejut.

“Ratiihhh…, jangan! Tahan Ratih!”

“Oh, lepaskan tanganku, Kakang! Lepaskan!” Gadis itu meronta-ronta dan berusaha keras menghunjamkan pisau yang sudah digenggamnya erat-erat. Namun, cengkeraman tangan Arya Kamandanu yang sangat kukuh tidak mampu melepaskannya. Ia pun terus meronta sambil menjerit tertahan.

“Lepaskan, oohhh, lepaskan! Biar aku mati saja, Kakang! Biar aku mati saja.”

“Ratih, jangan begitu! Tidak baik membunuh diri sendiri.”

“Tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku wanita yang penuh lumpur dosa. Aku wanita yang paling hina. Lebih baik aku lenyap dari muka bumi ini. Lepaskan aku, Kakang! Oh, lepaaaaaskan!” Nari Ratih makin hebat meronta dan berusaha melawan tenaga Arya Kamandanu yang makin erat memegang pergelangan tangan serta memeluknya.

“Rattiih! Kau kira dengan bunuh diri urusanmu akan selesai? Kau akan mati penasaran dan kau akan meninggalkan racun yang akan membuat kami semua menderita.”

Nari Ratih masih memberontak, namun badannya melemas. Pelukan Arya Kamandanu membuatnya sedikit terbuka, dan ia tergetar, sadar dari kenekatannya, “Oh…. Kakang Kamandanu, mengapa pikiranku menjadi gelap sekali? Mengapa?” suara itu seperti menjerit dan merintih.

Tertahan bagaikan tanpa daya.

Tubuh gadis itu melemah dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Arya Kamandanu untuk merampas pisau tajam dari tangan Nari Ratih.

“Ratih! Dalam keadaan seperti ini, kita harus tetap tegar dan tabah. Jangan menuruti luapan perasaan yang akhirnya bisa mencelakakan diri kita sendiri. Nah, pisau ini harus dibuang jauh-jauh.”

Lalu Arya Kamandanu pun melemparkan pisau tajam itu jauh sekali. Hingga pisau itu melayang dan terhempas di dasar jurang lembah Kurawan. Lekat-lekat ia memandangi Nari Ratih. Wajah ayu itu seperti diliputi kabut, sendu dan mengiba tetapi menyimpan suatu kekerasan hati untuk membuang segala kegundahan-nya. Ia tidak mampu menghadang dan membalas tatapan mata pemuda tampan di hadapannya. Pemuda itu pun menyimpan luka karena tikaman asmaranya.

Ia tidak tahu, mengapa Arya Kamandanu memandanginya seperti itu. Ia hanya berani mencuri pandang dengan ekor matanya saat pemuda itu berkata,

“Pisau itu sudah kubuang jauh-jauh ke dasar jurang. Dia tidak akan bisa membujukmu lagi melakukan perbuatan yang amat nista. Sekarang marilah kita duduk, Ratih. Aku akan bicara denganmu.”

Lalu Arya Kamandanu membimbing gadis cantik itu agar duduk di atas batu hitam. Kemudian dia sendiri mengambil tempat di sisi Nari Ratih yang masih menahan isak tangisnya. Mereka berusaha menenangkan hati dalam diam sambil menghirup udara segar yang dibawa angin sepoi hari itu.

“Ratih. Sebenarnya kau tidak perlu minta maaf padaku, karena tanpa kau minta pun aku telah memaafkannya. Karena aku mencintaimu, Ratih “

“Mengapa akhirnya kita menjadi begini, Kakang?”

“Yah, karena memang beginilah yang harus kita alami. Kita bertemu di tepi padang ilalang ini. Kita bercanda di bawah sinar pelangi, dan kita rupanya harus berpisah di tempat yang sama.”

“Kalau kupikir-pikir, kisah cinta kita ini lucu sekali ya, Kakang? Lucu tetapi tak seorang pun akan tertawa bila ikut mendengarnya. Karena di balik kelucuan itu sebenarnya tersimpan kepahitan.”

“Yah, setidak-tidaknya kita masih bisa tertawa untuk diri kita sendiri.”

“Kakang…”

“Apa, Ratih?”

“Kalau dulu kau mau berterus-terang, kita tentu tak akan mengalami seperti ini.”

“Percayalah, bahwa semua ini bukan kehendak kita, Ratih.”

“Yah, apa yang sudah terlepas dari tangan tak mungkin dipungut lagi karena sudah terjatuh ke bagian kehidupan yang lain. Semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.”

“Apa maksudmu, Ratih?”

“Aku bukan Ratih yang dulu lagi. Aku bukan Nari Ratih kembang desa Manguntur yang masih polos dan suci.”

“Ratih. Bagiku kau tetap Nari Ratih yang dulu. Sama sekali kau tidak berubah, sekalipun sekarang sudah menjadi milik Kakang Dwipangg…”

Tangan Nari Ratih dengan gesit mendekap mulut Arya Kamandanu hingga tidak menyelesaikan nama itu. Nari Ratih matanya membulat sambil mendengus, lalu meminta dengan harap.

“Jangan sebut nama itu, Kakang. Kalau kudengar nama itu, hatiku menjadi resah. Pandanganku berkunang-kunang dan bumi rasanya berguncang.”

“Bukankah kau mencintainya?”

“Entahlah, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Kakang. Kakang Dwipangga hadir seperti teka-teki kehidupan yang sulit diterka maksudnya. Ah, kalau saja waktu ini bisa dimundurkan kembali.”

“Itu bertentangan dengan kehendak Hyang Widhi, Ratih. Jangan menginginkan sesuatu di luar jangkauan manusia. Sudahlah, mari kita akhiri pertemuan ini. Kita saling memuji saja, agar Dewata memberkati perjalanan hidup kita masing-masing.”

“Ohh, Kakang Kamandanu…”

“Tepi padang ilalang ini dan sinar pelangi diatas sana akan menjadi saksi bahwa kita pernah dipertemukan. Mereka pun akan menjadi saksi bahwa kita akhirnya harus dipisahkan.”

“Oh, Kakang Kamandanu. Namamu akan kukenang sepanjang hayatku.”

“Aku pun tak bisa melupakanmu, Nari Ratih. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa lega. Aku rela. Aku ikhlas karena saudara tuaku sendiri yang akhirnya menjadi pemuda pilihan hatimu Aku yakin Kakang Dwipangga bisa membuatmu bahagia. Kalian akan hidup rukun sampai kakek nenek, banyak rezeki dan banyak anak.”

“Oh, Kakang Kamandanu. Begitu mulianya hatimu.”

“Kau pun wanita yang paling manis yang pernah kukenal, Ratih. Hanya karena sesuatu yang tak akan pernah kumengerti kalau aku melepaskanmu. Mudah-mudahan sikapku ini membuahkan sesuatu yang baik.”

“Kakang,… sebelum pergi, aku akan memberikan tanda mata untukmu. Terimalah batu nirmala ini. Batu ini pemberian ibuku sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Terimalah, Kakang. Hanya benda ini yang bisa kuberikan padamu sebagai kenang-kenangan.”

Arya Kamandanu menerima batu nirmala itu dari tangan Nari Ratih yang terulur untuknya. Kedua tangan itu bersentuhan kemudian saling terjalin lama sekali. Mereka saling meremas dan menggenggam dengan jantung yang semakin cepat berdetak dan menggemuruh.

Bibir Arya Kamandanu bergetar seiring kata-kata yang keluar dari sana.

“Oh, terima kasih, Ratih. Batu nirmala ini indah sekali. Akan kusimpan batu ini sebagai tanda mata darimu sepanjang hidupku. Akan kupertahankan batu nirmala ini dengan mempertaruhkan nyawaku.”

“Nah, Kakang. Aku harus pergi.”

“Pergilah, Ratih! Ringankan langkahmu. Pergilah dan jangan menengok-nengok ke belakang lagi.”

“Selamat tinggal, Kakang…”

“Selamat berpisah, Ratih…”

Sejenak keduanya saling memandang, tanpa kata-kata. Lalu keduanya menundukkan kepala dengan desah napas yang tertahan. Hanya alam yang mampu mengartikannya.

Jalinan tangan mereka perlahan berurai, kemudian mereka saling memandang lagi. Akhirnya, Nari Ratih dengan berat melangkah pergi.

Arya Kamandanu terus menatap gadis Manguntur itu sampai lenyap di balik rimbunnya daun-daun pepohonan.

Mendadak hatinya merasa kosong. Matanya berkaca-kaca. Dia memang ikhlas tetapi hatinya sakit sekali. Terasa sebagian dari dirinya ikut terbawa oleh kepergian Nari Ratih.

Pemuda itu mengeraskan rahangnya yang kukuh. Kedua tangannya meremas batu nirmala kemudian ia merunduk dan menciumi batu itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah baru saja sadar dari mimpi panjang.

Arya Kamandanu baru saja akan melompat ke atas punggung kudanya ketika dari jauh tampak seorang penunggang kuda menghampirinya. Derap kuda semakin mendekat dan akhirnya berhenti beberapa depa di sampingnya. Binatang perkasa itu meringkik panjang setelah penunggangnya melompat turun dari punggungnya.

“Oh, Kakang Dwipangga.”

“Adi Kamandanu, Ayah mencarimu. Beliau memanggil kita berdua. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang hendak beliau sampaikan pada kita.”

“Kakang tahu aku ada di sini?”

“Kalau tidak ada di mana-mana, kau biasanya duduk merenung di tepi padang ilalang ini.”

“Baru saja aku menyelesaikan persoalanku dengan Nari Ratih.”

“Nari Ratih?”

“Ya, Kakang. Sekarang tidak ada lagi yang menjadi ganjalan di hati kami. Sekarang aku ingin menyelesaikan persoalan denganmu.”

“Persoalan apa lagi?”

“Nari Ratih mencintaimu. Kuharap kau tidak menyian-yiakan cintanya.”

“Adi Kamandanu. Terus terang aku pun mencintainya. Bagaimana aku menyia-nyiakannya?”

“Dia akan menjadi isteri yang baik dan aku percaya kau pun akan menjadi suami yang baik.”

“Adi Kamandanu, kau memaafkan kami berdua?”

“Ya. Kupikir tak ada yang bisa dipersalahkan. Semua sudah menjadi kehendak Hyang Widhi. Aku relakan Nari Ratih jatuh ke tanganmu, jatuh dalam pangkuanmu karena aku yakin kau bisa membahagiakan hidupnya.”

“Oh, Adi Kamandanu, terima kasih atas pengertianmu yang sangat besar ini. Aku berjanji akan mencintai Nari Ratih sampai akhir hayatku.”

“Aku bahagia sekali mendengar janjimu itu, Kakang. Sekarang baru aku merasakan ketenangan.”

Dua bersaudara itu kemudian berpelukan erat sekali. Rasa haru menghiasi hari mereka yang sudah saling memberikan pengertian.

Di langit sebelah barat lengkungan sinar pelangi belum lagi lenyap. Warna merah kekuning-kuningan menyebar di seluruh permukaan padang ilalang.

Senja pun mulai turun pada saat Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga naik ke atas punggung kuda masingmasing. Sebentar kemudian kuda mereka sudah berkejarkejaran di bawah sinar lembayung senja yang indah.

Binatang-binatang perkasa yang keduanya berbulu cokelat mengkilap itu seolah-olah turut bergirang mengikuti suasana hati tuan-tuannya. Mereka yang selama ini saling bermusuhan dan berselisih paham.

Derapnya kian menjauh meninggalkan kepulan debu-debu yang terhempas oleh hentakan kaki-kaki kuda itu.

Angin senja semakin kencang hingga pohon-pohon pun

tampak condong mengikuti arah hembusannya. Desau dan dera cemara semakin mengguruh bagaikan menyenandungkan sorak-sorai gempita alam yang bersukacita.

* * *

Ketika malam telah tiba kedua pemuda itu mengikuti langkah-langkah ayahnya yang memeriksa benda-benda pusakanya. Orang tua itu membetulkan letak benda-benda pusaka itu. Kadangkala menimangnya dan mengelusnya penuh perasaan. Tempat pusaka itu sebetulnya tidak begitu luas, namun penuh dengan sekat-sekat yang terbuat dari papan kayu jati yang sudah dihaluskan. Benda-benda pusaka itu tertata rapi, berderet sesuai dengan jenis dan besar kecilnya ukuran serta pamornya.

Laki-laki tua itu berhenti dan memandang kepada kedua putranya lalu beralih pada senjata-senjatanya.

“Lihat anak-anakku. Senjata-senjata pusaka buatan ayahmu mempunyai mutu yang tak diragukan lagi. Pemerintah Singasari sudah mengakui secara resmi. Senjata-senjata buatan Hanggareksa sudah diuji kemampuannya dalam berbagai peperangan. Para perwira pasukan merasa bangga bila di pinggangnya terselip senjata buatan ayahmu. Pamornya akan naik dan keberaniannya menjadi berlipat ganda. Hemhh…, lihat!”

Laki-laki tua itu memegang sebilah keris, menimangnya lalu mencabut gagangnya dengan senyum kebanggaan.

Terdengar suara berdencing ketika benda pusaka itu dicabut.

“Keris Naga Tapa. Keris semacam ini banyak disukai para senopati agung yang diturunkan ke gelanggang pertempuran.” Kedua putranya hanya mengangguk-angguk ketika ayahnya kembali menyarungkan keris Naga Tapa lalu menempatkan kembali pada sekat paling pinggir.

Kembali laki-laki tua itu meraih pusaka yang lain.

Menimangnya dan segera meraba gagangnya dengan tangan gemetar. Terdengar suara berdencing tatkala ia mencabut pusaka itu. Kedua putranya mengerutkan dahinya sambil menghela napas dalam-dalam.

“Keris Naga Polah. Polah artinya bergerak. Maka bentuknya berlekuk-lekuk seperti seekor naga yang sedang bergerak-gerak. Tuanku Lembu Sora dan Banyak Kapuk menyukai keris semacam ini. Di samping bentuknya indah, keris ini juga ampuh.” Laki-laki tua itu menunjukkan beberapa saat pamor keris itu sebelum kembali menyarungkannya pada wrangkanya lalu menaruh benda pusaka itu ke tempatnya semula.

Tangannya terulur pada sebuah benda pusaka yang lebih besar. Tangan kirinya mencengkeram benda itu kuat-kuat lalu tangan kanannya meraba gagangnya. Laki-laki tua itu menahan napas saat memegang benda pusaka yang cukup besar itu.

Wrangkanya terbuat dari kulit kerbau yang cukup umur, tampak bersih mengkilap karena cukup terawat dengan baik. Sambil mencabut benda pusaka itu laki-laki tua itu menjelaskan pada putranya, “Pedang atau klewang. Perhatikan jenis logamnya. Tidak begitu berat, tapi kerasnya melebihi batu-batuan dari langit.”

Laki-laki tua itu mengangkat tinggi-tinggi pedang itu.

Sisi-sisi mata pedang itu tampak bersinar dan berkilat-kilat ketika tertimpa cahaya pelita yang menerangi ruangan penyimpan benda pusaka itu. Laki-laki tua itu menghela napas dalam-dalam dan menyimpannya dalam perut kemudian dengan sekuat tenaga mengayunkan pedang itu pada sebuah balok kayu.

“Hiaaaaahhhh!” terdengarlah suara berderak-derak balok kayu yang terbelah sempurna. Dengan bangga sekali lakilaki tua itu memandang pusaka buatannya dan melirik pada kedua putranya yang mengerutkan dahi dan menganggukangguk melihat kehebatan senjata buatan ayahnya.

“Berapa ribu kepala terputus dari tubuhnya dengan senjata semacam ini ketika terjadi perang besar antara pasukan Kediri melawan pasukan Tumapel. Desa Ganter menjadi saksi pembunuhan besar-besaran itu.” Laki-laki tua itu segera menyarungkan pedang ke dalam wrangkanya dan menaruhnya kembali pada tempat semula.

Setelah beberapa saat lamanya mereka bertiga membenahi letak senjata-senjata pusaka, ketiganya duduk pada bangku panjang dalam ruangan itu.

Cahaya pelita minyak tampak berkedip-kedip tertiup angin yang menembus dinding papan. Bau apek dan kurang sedap warangan pusaka memenuhi ruangan itu, namun mereka sudah tampak biasa dengan bau-bauan seperti itu. Laki-laki tua itu menyapu keringat dengan tangannya, mengatur napas dan memandang kedua putranya.

“Nah, anak-anakku. Kalian berdua harus mewarisi keahlian ayahmu dalam hal pembuatan senjata pusaka ini. Kalian harus mampu mencipta keris Naga Tapa yang ampuh seperti yang dimiliki Gusti Ranggalawe yang bernama Megalamat. Kalian juga harus mampu menciptakan keris Naga Polah, juga harus bisa membuat pedang-pedang yang tajamnya melebihi pisau pencukur. Kalian juga harus mampu menciptakan tombak-tombak yang nantinya diperhitungkan pihak musuh. Kalian harus terus belajar dan menggali pengetahuan tentang senjata pusaka sebagai tanda bakti pada orang tua. Dwipangga dan kau Kamandanu.”

“Ya, Ayah,” jawab keduanya berbareng.

“Ketahuilah. Ada satu hal yang menjadi ganjalan di hati ayahmu dalam hal memelihara dan mengembangkan usaha pembuatan senjata pusaka ini.”

“Apakah itu, Ayah?” tanya Arya Dwipangga.

“Ada seseorang yang kemungkinan bisa menjegal usaha kita ini.”

“Siapa, Ayah?” tanya Arya Kamandanu

“Kalian tentu kenal dengan baik. Dia sahabat ayahmu sendiri.”

“Barangkali yang Ayah maksudkan Paman Ranubhaya?” Arya Kamandanu menangkap arah pembicaraan ayahnya.

Laki-laki tua itu memandang putra bungsunya kemudian beralih pada putra sulungnya.

Ia mengangguk-angguk sambil tersenyum getir.

“Ya. Kakang Ranubhaya-lah orangnya.”

“Bukankah Paman Ranubhaya selama ini membantu ayah membuat senjata pusaka? Sudah berapa puluh senjata pusaka pernah dikirim kemari melalui Wirot, muridnya yang setia,” sela Arya Kamandanu.

“Itu dulu, Kamandanu. Sekarang dia tidak mau bekerja sama lagi dengan ayahmu. Mungkin dia mempunyai maksud-maksud tertentu.”

“Mungkin Paman Ranubhaya sudah merasa tua dan merasa tidak sempurna lagi dalam bekerja menciptakan senjata pusaka,” kata Arya Kamandanu berusaha membela Mpu Ranubhaya

“Kalian tidak perlu ikut campur urusan ini. Kalau Ranubhaya tidak mau bekerja membantuku dan itu karena maksud-maksud yang kurang baik, Hanggareksa yang akan turun menghadapinya. Kamandanu!”

“Ya, Ayah.”

“Kau masih sering datang ke rumahnya?”

“Eh, ya… sekali waktu, Ayah. Soalnya Paman Ranubhaya sangat baik pada saya,” jawab pemuda itu agak gugup.

“Mulai sekarang kau tidak kuizinkan menginjak halaman rumahnya lagi. Dulu dia memang kakak seperguruanku. Karena itu kalian sudah sepantasnya memanggilnya paman. Tapi dia sekarang sudah menjadi orang lain. Bahkan orang yang kuanggap bisa membahayakan usaha-usaha kita.”

Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga berpandangan mendengar kata-kata terakhir ayahnya. Mereka tidak mengerti apa-apa, tetapi mereka menangkap sesuatu yang tidak sehat lahir dari hati ayahnya. Tampak sakit dan getir sekali ucapan itu terlontar dari bibir ayahnya yang hitam dan mulai mengisut. Akhirnya, mereka segera keluar dari ruangan penyimpanan senjata. Kembali ke kamar masingmasing dengan membawa hati dan pikirannya sendiri-sendiri.

Mereka berpikir yang jauh lebih menyimpang dari apa yang dikehendaki orang tuanya.

* * *

Malam kian merayap dan embun bercampur kabut mulai meniti waktu. Di tempat lain, di sebuah rumah papan cukup besar dengan pekarangan yang sangat luas. Di dalam salah satu kamar rumah itu duduklah seorang gadis dengan rambut awut-awutan. Wajahnya kusut dan kedua tangannya mendekap perutnya yang melilit-lilit. Dari bibirnya selalu mendesiskan suara yang kurang jelas.

Tampak seperti rintihan dan lolongan panjang. Seorang laki-laki agak tua berdiri di depannya dengan dahi beranyam kerutan. Laki-laki itu menghela napas kemudian memperhatikan putrinya yang terisak-isak.

“Ratih! Kalau kau terus menangis begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa menolongmu. Kau harus bicara terang-terangan pada ayahmu, Nari Ratih.”

“Saya tidak’ apa-apa, Ayah. Saya tidak sakit.”

“Kau seharian tidur di atas pembaringan dan mengeluh kepalamu pusing. Kau juga tidak mau makan dan tadi Palastri memberi tahu padaku, bahwa kau muntah-muntah di sungai ketika sedang mencuci pakaian. Apakah itu bukan penyakit?” laki-laki itu kembali cemas dan setengah mendelik curiga saat putrinya mendekap perutnya semakin erat. Merunduk dan merintih. Bibirnya tampak menebal karena selalu terbuka. Hidungnya merah kembang kempis seiring air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

“Ada apa dengan perutmu, Ratih?”

“Ehh, tidak…apa-apa, Ayah…”

“Kok diremas-remas begitu?”

“Sssssshhh, agak mules, Ayah. Biar sajalah.”

“Kok biar sajalah bagaimana kau ini?”

“Sudah biasa, nanti juga sembuh sendiri.”

“Bagaimanapun yang namanya penyakit harus diobati.”

“Saya sudah minum ramuan daun-daunan, Ayah. Nanti juga sembuh.”

“Hmmh, kau di rumah. Aku akan keluar sebentar.”

“Ke mana, Ayah? Ini sudah malam.”

“Jangan banyak bertanya, aku akan memanggil Nyi Warih!”

“Oh, jangan, Ayah. Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri!”

Laki-laki itu tidak mempedulikan panggilan putrinya lagi. Ia segera membalikkan tubuh dan keluar dari kamar putrinya serta menutup daun pintu kamar sedikit kasar.

Nari Ratih merunduk dan wajahnya memucat karena sakit dan cemas. Jantungnya menggemuruh berdetak semakin cepat. Napasnya terengah-engah karena ketakutan mulai merayap dan menjalari seluruh perasaannya.

“Ohh, bagaimana ini? Bagaimana kalau Ayah sampai tahu? Oh…”

Gadis itu tidak bisa berbuat lain kecuali pasrah pada keadaan. Perlahan kembali ia berbaring dengan mendekap perutnya yang semakin mual dan melilit-lilit.

Bagaimanapun juga hati Nari Ratih tidak tenteram.

Lebih-Lebih malam itu di dalam kamarnya telah hadir seorang perempuan tua yang memeriksa perutnya dengan mengurut, meraba dan meniup-niupnya sambil komatkamit menggumam membacakan mantera dari bibir keriputnya. Tangan perempuan tua itu dirasakan sangat lembut mengusap perut Nari Ratih. Gadis itu setengah merintih sambil memejamkan matanya. Tubuhnya menggelinjang, kedua kakinya ditekuk dan diselonjorkan lagi. Dari bibirnya selalu mendesah dan mendesis.

“Oh…, Nyai Warih… sakit, Nyai.”

“Hemhh, tidak apa-apa kok.”

Perempuan tua itu kemudian bangkit setelah menyelesaikan tugasnya. Nari Ratih diselimuti selembar kain. Gadis itu mencuri pandang kepada perempuan tua yang dipanggilnya Nyai Warih yang berdiri di sampingnya kemudian beranjak meninggalkannya sambil berkata,

‘”Istirahatlah, Nduk. Hati-hati.”

“Iya, Nyai Warih,” jawab gadis itu sambil menghela napas dalam-dalam. Hatinya semakin berdebar-debar dan perasaannya tak menentu.

Terdengar derit pintu dibuka dan ditutup dengan halus oleh perempuan tua itu, suaranya berderit menyayat keheningan malam.

Malam kian merayap, di luar terdengar lolong anjing liar yang kelaparan. Rekyan Wuru, orang tua Nari Ratih duduk di ruang tengah dengan sangat cemas. Ketika tahu Nyai Warih datang menghampirinya, ia pun segera bangkit dengan dahi beranyam kerutan.

“Bagaimana, Nyai?” tanyanya penasaran dan sangat lirih.

“Hehhh. Bagaimana bisa terjadi begini, Rekyan Wuru?”

“Berat sakitnya, Nyai?”

“Sakit anakmu ini bisa dikatakan berat, tapi bisa pula dikatakan tidak berat. Tapi, bagaimana aku harus mengatakannya padamu, Wuru?”

“Katakan saja, Nyai. Aku sanggup membayar pengobatannya. Dia anakku satu-satunya. Aku rela berkorban apa saja demi keselamatannya.”

“Hmmm. Sepanjang penglihatanku, anakmu itu jarang pergi ke luar rumah.”

“Memang, Nyai. Dia anak yang baik. Paling-paling dia pergi ke luar hanya untuk mencuci pakaian di sungai. Memang sekali waktu dia minta izin ke rumah temannya.

Tapi itu jarang terjadi. Ada apa, Nyai?” Rekyan Wuru semakin cemas dan mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan tua itu.

Nyai Warih kemudian melangkah dua tindak dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati tua. Kursi itu tampak mengkilap sebab sering diduduki.

Kelihatan ringan sekali perempuan itu meletakkan pantatnya. Kedua tangannya bertumpu pada pangkuannya.

Menghela napas kemudian memandang ke arah Rekyan Wuru sangat tajam. “Kalau saja anakmu sudah bersuami, hal ini justru merupakan berita yang menggembirakan.”

“Nyai Warih, apa maksudmu, Nyai?” Rekyan Wuru matanya melotot dan menubruk lutut perempuan tua itu sambil menggoyang-goyangkannya. Lelaki tua itu benar-benar penasaran.

Perempuan tua itu memegang tangan Rekyan Wuru kemudian membimbingnya agar lebih tenang duduk di kursi di sampingnya.

“Wuru, kau jangan terkejut. Aku terpaksa mengatakan apa adanya. Anakmu, Nari Ratih sekarang ini sudah siap memberimu seorang cucu “

Seketika Rekyan Wuru duduk melemas. Jantungnya serasa mau lepas. Otot-otot tubuhnya seperti dilolosi.

Matanya berkaca-kaca.

Jawaban Nyai Warih yang terus terang bagaikan sambaran petir di telinganya. Tapi dengan tiba-tiba juga ia kemudian bangkit. Kedua tangannya mengepal. Terdengar giginya gemeretak menahan geram.

“Cucu? Aku akan mempunyai cucu?” ucapnya seperti tidak percaya.

“Ya. Anakmu sedang mengandung tiga bulan lamanya.”

“Mengandung? Bagaimana Nari Ratih bisa mengandung? Dia belum bersuami, Nyai. Ratiiiih! Kemari kau anak setaaann. Kubunuh kau!” lelaki itu berteriak bagai kesurupan setan. Wajah Rekyan Wuru menjadi merah padam. Giginya semakin gemeretak. Kedua tangannya mengepal, napasnya memburu dan lelaki tua itu hendak melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya. Bekas perwira pasukan Singasari pada zaman pemerintahan Prabu Ranggawuni itu benar-benar tidak mampu menahan emosinya, “Ratih…. Keluar kau!”

“Sudahlah, Wuru, jangan diapa-apakan anakmu itu. Kasihan. Dia juga sudah menderita karenanya,” cegah perempuan tua itu sambil memegangi pergelangan tangan lelaki tua itu dengan kedua tangannya.

Napas Rekyan Wuru terengah-engah. Ia benar-benar marah dan menahan kegeraman. “Dia sudah berani melempari mukaku dengan kotorannya! Anak setan. Ratih! Apa telingamu sudah budeg? Ayoh, sini kau! Sini! Ayahmu mau melihat mukamu yang cantik tapi belepotan comberan ituu! Ratiihh… sini!”

Mendengar panggilan ayahnya yang berkali-kali dan sangat keras itu, Nari Ratih menggigil sendirian di kamarnya. Ia mendekap perutnya makin erat Perlahan ia bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ketika melangkah keluar kamarnya, ia tidak berani mengangkat wajahnya.

Lebih-lebih ketika ia tahu mata ayahnya melotot merah padam dan sangat berapi-api menahan amarah.

“Kemari kau anak setan!”

“Oh, maafkan saya, Ayah!” suara itu nyaris tak kedengaran keluar dari bibir mungil Nari Ratih yang berjalan merunduk sambil mendekap perutnya. Rekyan Wuru mengibaskan pegangan Nyai Warih yang sangat erat hingga perempuan itu hampir terpelanting jika tidak memegang sandaran kursi. Laki-laki tua itu melangkah cepat menghampiri putrinya. Tangan kanan laki-laki tua itu terangkat dan melayang di udara, “ini maaf untukmu, Ratih!”

Bersamaan dengan suara tamparan yang sangat keras itu, Nari Ratih memekik dan menjerit disusul dengan isak tangis pilu. Gadis itu pun berlutut di kaki ayahnya dengan sedu-sedan mohon dikasihani dan diampuni.

Rekyan Wuru napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sesak sekali Nyai Warih pun menggigil sambil berusaha mencegah supaya gadis itu jangan disakiti lagi. Perempuan tua itu kembali memegangi tangan kiri Rekyan Wuru yang hampir kalap.

“Wuru, sudahlah! Ini sudah malam. Nanti para tetangga datang kemari.”

“Aku mau lihat apa ada yang berani datang ke rumahku!” Mata lelaki itu kian liar dan merah membara, melotot pada putrinya yang terisak dan merunduk di kakinya. “Ratih! Dari kecil kau kugendong-gendong, kubopong-bopong. Kalau rewel kau kunyanyikan tembang yang merdu. Kau kupelihara dengan baik. Kau kusayangi sepenuh hatiku dan sekarang seperti ini balasanmu kepada orangtua. Hiiiihh! Hiih, hihhhh!” Kembali tangan kanan lelaki’ tua itu melayang dan mendarat di pipi kanan dan pipi kiri putrinya.

Nari Ratih menjerit pilu. Jika Nyai Warih tidak segera menubruk dan merangkulnya pasti ayahnya sudah menghajarnya hingga babak belur.

Tubuh perempuan tua itu kini menjadi perisai, menjadi pelindung gadis yang tidak berdaya itu.

Dalam keciutan dan kecemasan hatinya kini ia bagai seekor anak ayam di bawah sayap induknya. Gadis itu semakin pilu menangis tersedu-sedu.

“Wuru, jangan kau apa-apakan anakmu. Kasihan, ia cukup berat menanggung beban.”

“Ratih! Katakan! Siapa laki-laki itu? Siapa namanya dan di mana rumahnya! Katakan, siapa bedebah itu! Hooooh, apa dia belum tahu Rekyan Wuru? Apa laki-laki itu sudah bosan hidup? Ratih, apa kau sengaja membuatku naik darah, haaah?”

“Sudahlah, Wuru, sudahlah! Bagaimanapun juga dia anakmu sendiri. Darah dagingmu sendiri. Kaupukul sampai mati pun kalau belum terbuka hatinya, dia tak akan mau bicara.”

“Kalau begitu biar kubunuh saja anak setan ini!” kembali Rekyan Wuru hendak menendang dan memukul putrinya, namun perempuan tua yang terkenal sebagai seorang dukun bayi itu semakin erat memeluk gadis itu. Bagaimanapun juga ia sebagai wanita yang masih bisa merasakan masalah seperti itu. Ia adalah ayam betina, ayam induk yang harus mampu melindungi anak-anaknya dari serangan elang buas.

Perempuan tua itu melirik Rekyan Wuru yang masih melotot.

Mata Rekyan Wuru merah karena benar-benar sangat marah dan tidak sabar lagi menerima kenyataan yang dialami anak gadisnya.

“Jangan, Wuru! Jangan begitu! Kalau dia mati, siapa yang kehilangan?” cegah Nyai Warih saat laki-laki tua itu hendak menjambak rambut Nari Ratih.

“Kalau dia tak mau buka mulut, bagaimana persoalan ini bisa selesai, Nyai!”

“Masih bisa dicari cara yang lain, Wuru. Jangan menuruti panasnya hati. Salah-salah anak sendiri menjadi korban.” Nyai Warih semakin erat memeluk Nari Ratih.

Rekyan Wuru membalikkan badannya sambil memelintir kumisnya. Mengelus janggutnya dan melenguh panjang seperti sapi jantan lepas dari talinya.

“Nduk, Ratih! Sudahlah. Lebih baik kau masuk ke dalam. Kau tampak lelah sekali, lebih baik kau tidur saja. Tidurlah, Nduk. Urusan ini biar ayahmu yang menyelesaikan.”

Sementara waktu mereka saling diam. Hanya isak pilu gadis itu terdengar mengiba. Rekyan Wuru berusaha mengendalikan dirinya. Namun masih juga jengkel melihat putrinya yang tidak mau menjawab semua pertanyaannya.

Ia melangkah beberapa tindak sambil memandang putrinya. Kali ini pandangannya agak meredup.

“Kalau kau tetap membisu seperti itu, masalahmu tidak akan selesai!” kesal dan perih sekali suara lelaki tua itu.

Nyai Warih bangkit seraya memapah Nari Ratih dan diajaknya ke dalam kamar. Dibiarkannya gadis itu duduk di sisi pembaringan sambil mengeringkan air matanya.

Perempuan tua itu membelai rambut gadis itu kemudian merunduk dan mencium pipi kanan Nari Ratih penuh kasih sayang.

“Tidurlah, Nduk! Kau harus banyak istirahat,” bisiknya lirih. Nari Ratih hanya mengangguk kemudian menghela napas penuh penyesalan dengan apa yang dilakukan nya.

Perempuan tua itu kembali ke ruang tengah di mana Rekyan Wuru duduk gelisah. Kali ini mata perempuan tua itu menjadi terbelalak dan melotot besar. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika melihat di pangkuan lelaki tua itu terdapat sebilah pedang.

Melihat gelagat yang kurang baik itu ia tidak berani berkata apa-apa saat lelaki tua itu menoleh kepadanya sambil bangkit dan menimang-nimang benda tajam itu.

“Kalau dia tidak mau mengaku siapa laki-laki yang telah mencemarkan kesuciannya itu. Kukira tidak ada jalan keluar, Nyai.”

“Coba sekarang kauingat-ingat lagi. Siapa kira-kira pemuda desa ini yang pernah akrab dengan anakmu.”

“Ratih itu masih perawan kencur, Nyai. Belum pengalaman. Pengetahuannya tidak lebih luas dari pekarangan rumahnya sendiri. Dia keluar rumah hanya kalau mencuci pakaian di sungai. Itu pun tidak lama dan pasti ada kawannya gadis yang lain “

“Kalau begitu kau kurang awas, Wuru. Aku saja yang bukan tetangga dekatmu pernah mencium berita dari mereka, orang-orang desa. Bahkan aku pernah melihat pemuda itu menghampiri anakmu, lalu mereka bercakapcakap sampai lama.”

“Siapa pemuda itu, Nyai? Mengapa orang-orang tidak ada yang memberi tahu padaku?”

“Barangkali mereka sudah tahu watakmu dan merasa sungkan untuk menyampaikannya padamu, Wuru.”

“Siapa orang itu, Nyai? Apakah warga desa Manguntur atau pemuda dari desa lain?”

“Anak Manguntur juga.”

“Siapa namanya?”

“Dangdi.”

Mendengar jawaban Nyai Warih seketika Rekyan Wuru seperti sadar dari lamunan panjang. Kepalanya ditarik ke belakang dengan mata melotot. Dihempaskannya napasnya kuat-kuat hingga terdengar kasar sekali dengusnya. Gagang pedang dirabanya perlahan sambil tetap melotot memandang ke arah perempuan tua di depannya. Kemudian berpaling lagi memandang ke ujung malam melalui pintu rumahnya yang tidak ditutup Laki-laki tua itu melangkah beberapa tindak dengan dada mengguruh. “Dangdi? Maksudmu…?”

“Ya, Dangdi anak Suraprabawa, Kepala Desa Manguntur,” jawab Nyai Warih yang membuat darah Rekyan Wuru kembali menggelegak.

Kemarahan Rekyan Wuru sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya. Dicabutnya pedang itu hingga terdengar bunyi berdencing. Sambil tersenyum menyeringai geram lelaki tua itu menimang-nimang senjata tajam yang berkilat-kilat tertimpa cahaya pelita.

Nyai Warih sampai bergidik melihatnya. “Wuru, aku pulang dulu,” pamitnya sambil melangkah pergi tanpa menghiraukan lelaki yang sudah terlalu lama menunggu berlalunya malam.

Lelaki itu sedikit gugup lalu ia pun segera mengantarkan perempuan tua itu pulang.

* * *

Pagi-pagi buta tampak seorang lelaki tua berjalan setengah berlari. Pada pinggangnya terselip sebilah pedang.

Napasnya terengah-engah. Wajahnya tampak sangat tegang. Kakinya yang telanjang menggugurkan embunembun pagi di pucuk-pucuk rumput. Lumpur tanah merah pun banyak yang melekat di sela-sela jari kaki dan tumitnya yang kasar. Sinar matahari masih malu-malu di ufuk timur, hanya semburat cahayanya meraba punggung bumi yang masih berhias selimut kabut. Laki-laki tua itu menuju suatu tempat.

Langkahnya yang tegar itu akhirnya berhenti di balik pagar beluntas yang mengelilingi pendapa.

Bangunan itu terdiri dari tiga bangunan utama yang semuanya berbentuk joglo dan beratap sirap. Lantainya terbuat dari papan-papan kayu jati yang sudah dihaluskan.

Laki-laki tua itu matanya berkilat-kilat dan berwarna merah karena amarah dan kurang tidur semalam. Pada sudut kedua matanya tampak belobok, tahi mata yang tidak sempat dibersihkan Napasnya semakin memburu dan terdengar dengus kasar sekali. Kedua tangannya berkacak pinggang dan kedua kakinya memasang kuda-kuda.

“Haiiiii, Suraprabawa! Keluar dari rumahmu! Suraprabawa, jangan merasa dirimu menjadi Kepala Desa Manguntur lalu kau mau berbuat semena-mena terhadap keluargaku! Hayo, keluar kau Suraprabawa! Iniiii aku Rekyan Wuru mau bicara denganmu!”

Mendengar suara berteriak dari halaman rumahnya maka orang yang dipanggil namanya itu melongokkan kepala dari balik pintu dengan langkah tergopoh-gopoh.

Wajahnya tampak kuyu, matanya masih enggan terbuka karena masih terdapat sisa-sisa ngantuk, “Siapa itu yang berteriak-teriak di pagi buta begini?”

“Aku! Bukalah matamu lebar-lebar, Suraprabawa dan lihat siapa yang berteriak-teriak di halaman rumahmu.”

Rekyan Wuru semakin memelototkan matanya. Melangkah beberapa tindak ketika melihat Ki Suraprabawa melangkah ke halaman dengan mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa yang dikehendaki tamunya.

“Ohh, kiranya Rekyan Wuru yang datang,” sapanya lirih dan terus mendekati tamunya.

“Yah, aku mau bicara denganmu, Suraprabawa. Aku mau bicara sebagaimana seorang laki-laki berbicara.”

“Ada persoalan apa, Rekyan Wuru?”

“Suraprabawa! Kalau kau tidak mampu menghajar anakmu yang berandalan itu, serahkanlah padaku! Biar kubuat dia mengerti bertingkah laku yang baik.”

“Ada apa dengan anakku?”

“Dangdi, anak laki-lakimu itu, sudah berani menepak mukaku. Anakmu sudah berani mencoreng wajahku.”

“Tenanglah, Rekyan Wuru! Mari kita bicarakan secara baik. Mari, masuklah ke dalam!” ajak Ki Suraprabawa bersabar, namun Rekyan Wuru justru tampak semakin gusar dan mendenguskan napas seperti banteng terluka.

“Tidak! Kita rampungkan di sini saja.”

“Seorang tamu yang baik tentu akan mau dipersilakan masuk ke dalam rumah.”

“Aku bukan bertamu.”

“Lalu apa keperluanmu?”

“Aku mau menuntut hakku! Aku mau membuat perhitungan denganmu.”

Rekyan Wuru menggeram dan mendelik. Tangan kanannya tidak sabar ketika mencabut pedang. Suara berdencing saat benda tajam itu keluar dari wrangkanya.

Mata pedang itu berkilat-kilat.

Melihat gelagat yang kurang baik itu Ki Suraprabawa mundur dua tindak karena terkejut.

“Rekyan Wuru! Mengapa kau mencabut pedangmu?”

“Anakmu sudah menghina keluargaku dan itu berarti kau menghina aku. Kalau aku mencabut pedang, itu pertanda bahwa harga diriku tidak terima.”

“Huuu, kalau kau bisa sesumbar dengan pedangmu itu, aku pun bisa melakukan hal yang sama!” jawab Ki Suraprabawa sedikit meninggi sambil perlahan tangan kanannya meraba gagang pedang yang terselip di pinggangnya. Perlahan sekali pedang itu dicabut dari wrangkanya.

Benda tajam itu terhunus nyaris tanpa mengeluarkan suara. Ki Suraprabawa tersenyum dingin, disambut dengan tawa bernada olokan Rekyan Wuru yang semakin memperkukuh kuda-kudanya Ki Suraprabawa pun melakukan hal yang sama.

“Selama menjadi Kepala Desa Manguntur, baru kali ini aku menyambut tamuku dengan cara yang sangat tidak ramah. Tapi semua itu karena kau memaksa aku, Rekyan Wuru. Nah, apa maumu sekarang?”

“Bagus! Rupanya kau orang tua yang punya tanggung jawab juga. Nah, sekarang kita selesaikan perkara ini secara jantan.”

“Aku belum tahu perkara apa yang kaumaksudkan, Rekyan Wuru. Tapi kalau kau menggunakan pedangmu itu untuk menyerangku, maka dengan terpaksa aku mempertahankan diri.”

Kedua lelaki tua itu semakin erat memegang pedang masing-masing. Kaki kanan Rekyan Wuru maju selangkah.

Napasnya mendengus.

Tangan kanannya tampak gemetar mencengkeram gagang pedang. Sebaliknya, Ki Suraprabawa berusaha tenang sambil berjaga-jaga penuh. Perlahan menghirup udara pagi dan menyimpan di perut seiring memantapkan posisi kuda-kudanya. Pada saat itulah Rekyan Wuru tibatiba menyerang, melompat dan menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Menghunjam, menusuk dan mencecar ke arah Kepala Desa Manguntur.

Ki Suraprabawa berusaha menangkis dengan pedang nya, maka terjadilah perkelahian sengit di pagi buta itu.

Denting pedang dan suara ribut-ribut itu mengundang perhatian penduduk di sekitar tempat itu. Mereka berusaha menghentikan keributan itu. Dua laki-laki tinggi besar menubruk dan mendekap Rekyan Wuru agar tidak menyerang Ki Suraprabawa. Laki-laki tua itu tak berkutik dalam dekapan dua orang tinggi besar yang berusaha menyabarkannya.

Rekyan Wuru meronta dan berusaha melepaskan diri.

Napasnya terengah-engah memburu. Butir-butir keringat telah membasahi dahi, hidung dan seluruh tubuhnya.

Matanya mendelik dan merah. Akhirnya, ia pasrah pada para tetua yang melerainya.

Ki Suraprabawa mengusap lengannya yang tergores oleh pedang Rekyan Wuru. Ia berusaha tenang dan bersabar.

Berkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepala setelah menyarungkan kembali pedangnya. Ia mengelus kumis dan janggutnya sambil menghela napas, kemudian mengurut dadanya yang masih tampak tersisa bekas-bekas seorang yang memiliki ilmu bela diri. Gempal dan padat di balik kulitnya yang mulai mengendur.

“Ayo Suraprabawa, suruh pergi orang-orangmu ini! Kita lanjutkan pertarungan ini sampai salah seorang di antara kita menjadi bangkai!” tantang Rekyan Wuru sekalipun ia dipegangi beberapa orang.

Pada saat itulah tampak seorang pemuda lari tergopohgopoh mendekati tempat keributan. Pemuda itu masih kuyu dan matanya merah oleh sisa-sisa kantuknya. Berkali-kali ia menggosok-gosokkan punggung tangannya ke pelupuk matanya yang terasa gatal dan tebal. Sisa-sisa tahi mata tampak mengering di sudut-sudut matanya. Pemuda itu semakin mendekat dan ia terkejut sekali menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Pemuda itu memperhatikan ayahnya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Tampak darah segar menghiasi lengan kiri ayahnya.

“Ayah, ada apa? Mengapa berkelahi dengan Paman Wuru?”

“Heh, kaukah yang bernama Dangdi?” seru Rekyan Wuru beringas dan berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia.

Dangdi tidak berani mendekat. Matanya seperti kanak-kanak karena cemas mendengar seruan lelaki tua itu

“Eh, ya. Benar, Paman. Saya Dangdi.”

“Kau harus kubuat babak belur, anak setan!”

“Eh, tunggu! Tunggu!” Dangdi tampak gugup. Ayahnya mendera dengan tangan kanan hingga pemuda itu berada di belakangnya.

Ki Suraprabawa menatap tajam ke arah Rekyan Wuru yang berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang memeganginya.

“Rekyan Wuru! Kalau kau sentuh anakku sebelum persoalannya kaujelaskan, urusan ini akan menjadi panjang! Aku Kepala Desa! Aku bisa menuduhmu mengacau Desa Manguntur dan melaporkannya pada Pemerintah Singasari.”

“Sebenarnya ada persoalan apa, Ayah?”

“Dia menuduhmu telah mencoreng mukanya. Entah apa maksudnya, aku tidak tahu.”

“Dangdi! Terus terang saja, supaya perkara ini tidak berlarut-larut. Apa yang telah kaulakukan pada anakku, Nari Ratih?”

Pemuda itu mengerutkan dahi, memandang ayahnya kemudian beralih pada Rekyan Wuru. Menggigit bibirnya sendiri sambil berusaha keras meraba-raba apa sebetulnya yang dikehendaki orang tua Nari Ratih.

“Apa yang telah saya lakukan? Rasanya saya tidak pernah melakukan…”

“Kau telah merusak kesuciannya! Kau telah menodai anakku!”

“Oh, tidak! Saya tidak pernah melakukannya!”

“Banyak orang melihat kau berusaha mendekati anakku. Jangan mangkir kau, Dangdi.”

“Benar. Saya memang berusaha mendekati Nari Ratih, tapi putri Paman wuru tidak pernah menanggapinya. Setelah itu saya pun tidak mau mendekatinya lagi.”

“Dusta!”

“Tidak. Saya tidak berdusta. Banyak saksinya bahwa saya tidak pernah lagi menggoda Nari Ratih.”

“Dangdi! Berilah kesaksian yang benar! Akuilah kalau memang itu perbuatanmu!” sela Ki Suraprabawa dalam dan bijaksana.

“Sungguh, Ayah. Saya tidak melakukannya.”

“Kalau kau berani berdusta, kupotong lidahmu. Aku tidak peduli walau kau anakku sendiri.”

“Saya tidak melakukannya, Ayah. Tapi rasanya saya tahu siapa pemuda yang tidak sopan itu. Pemuda yang berbuat tidak senonoh pada Nari Ratih.”

“Siapa, katakan cepat!” bentak Rekyan Wuru tak sabar sambil meronta ingin melepaskan diri tetapi kedua pangkal lengannya tetap dipegangi orang-orang di kanan kirinya.

“Dia bukan anak desa Manguntur.”

“Iya, siapa namanya dan di mana dia tinggal?” bentak Rekyan Wuru.

“Dia anak desa Kurawan. Namanya Arya Kamandanu.”

* * *

Serentak orang-orang yang mendengarkan peristiwa itu bergumam dan manggut-manggut. Perlahan-lahan kedua lelaki tinggi besar yang memegangi Rekyan Wuru merenggangkan pegangannya kemudian melepaskan lelaki tua itu.

Rekyan Wuru menghela napas dan dengan cepat menyarungkan pedangnya. Mukanya merah padam menahan marah. Ia menatap tajam pada Dangdi yang berdiri di samping ayahnya.

Ki Suraprabawa memelototi putranya dengan rasa kesal,

“Maksudmu anak Mpu Hanggareksa?”

“Ya, Ayah. Pasti dialah orangnya.”

“Nah, bagaimana, Rekyan Wuru?” tanya Ki Suraprabawa dengan nada dingin sekali. Rekyan Wuru mendengus dan melangkah beberapa tindak sambil menatap tajam ke arah Dangdi.

“Dangdi! Awas kalau kau berkata tidak benar! Aku akan kembali lagi ke sini!”

“Kalau Dangdi berani berdusta, aku sendiri yang akan membereskannya,” tukas Ki Suraprabawa tegas sambil menatap putranya.

“Baiklah, aku minta maaf, Suraprabawa. Aku telah membuat keributan di pagi buta ini,” Lirih kata itu terucap dari bibir Rekyan Wuru yang bergetar.

“Tidak apa, Rekyan Wuru. Ini hanya kesalah pahaman biasa. Aku bisa memaklumi perasaanmu. Kalau kau membutuhkan sesuatu yang menyangkut diri putrimu, katakanlah. Aku sebagai Kepala Desa Manguntur akan membantumu.”

“Terima kasih. Nah, aku pergi dulu.”

Lelaki tua itu dengan perasaan malu karena telah bertindak gegabah segera bergegas meninggalkan desa Manguntur. Hatinya terasa panas, mukanya merah padam karena semua orang memandanginya dengan pandangan dingin dan mencemooh. Ia berlalu tanpa menoleh ke belakang. Dengan napas terengah-engah akibat usia tuanya, Rekyan Wuru terus melangkah setengah berlari menuju desa Kurawan.

Burung-burung kutilang yang sedang berkicau di dahan pohon bengkereh terkejut ketika lelaki tua itu melintas dekat semak-semak. Unggas-unggas liar itu beterbangan dengan cericit panjang.

Embun-embun pagi masih melumuri rerumputan dan pucuk-pucuk daun. Matahari semakin merayap menyingkirkan kabut-kabut pagi yang menghalangi pandangan di cakrawala.

Lelaki tua itu menghentikan langkahnya saat mendengar derap kaki kuda mendekat. Ia melihat seorang pemuda tampan menunggang kuda perlahan menuju arahnya.

Segera ia memasang kuda-kuda sambil bertolak pinggang.

Tangan kanannya meraba gagang pedang. Ia menggeram dan mendengus panjang ketika penunggang kuda itu menghentikan kudanya tepat di depannya karena ia hadang.

Binatang tunggangan itu meringkik saat tuannya melompat dari punggungnya.

“Ada apa, Paman? Mengapa Paman menghadang saya?”

“Anak muda. Apakah daerah ini sudah masuk desa Kurawan?”

“Ooo, Paman mau ke Kurawan? Sembilan pai jauhnya dari sini Paman akan menemukan tugu batas desa itu. Paman jalan saja terus ke arah selatan.”

“Kau anak desa Kurawan?”

“Ya, Paman. Saya lahir dan dibesarkan di Kurawan.”

“Kau tahu di mana rumah Mpu Hanggareksa?”

“Oh, Paman mau menemui ayah saya?”

Lelaki tua itu melotot, darahnya tersirap dan seperti mendidih. Seolah-olah ia ingin menelan pemuda di depannya itu mentah-mentah.

Pemuda itu semakin tidak mengerti melihat gelagat semakin tidak ramah dari lelaki tua yang menghadangnya.

Lelaki tua itu melangkah dua tindak mendekatinya.

“Anak muda! Jadi, kau anak Hanggareksa?”

“Benar, Paman. Saya anaknya. Nama saya Arya Kamandanu.”

“Bagus! Kebetulan sekali. Aku tidak perlu berjalan jauh lagi. Aku bisa merampungkan urusanku di tempat ini. Kamandanu!”

“Ya, Paman.”

“Kau jangan coba-coba memungkiri perbuatanmu yang

tidak senonoh!”

“Eh, apa maksud Paman? Saya, saya…”

“Jangan berlagak bodoh. Kau tahu, dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang ini? Akulah Rekyan Wuru.”

“Oh, Paman Wuru dari Manguntur. Bukankah Paman adalah ayah Nari Ratih?”

“Ya. Aku ayah Nari Ratih. Aku ayah gadis yang sekarang ini sedang menderita akibat perbuatanmu. Hiaaaahh, mampus kau Kamandanu!”

“Oh, tunggu, tunggu…. Tungguuu…, Paman! Tunggu…”

Lelaki tua itu sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia menyerang, menerjang dan menjotos Arya Kamandanu.

Pemuda itu melompat ke sana kemari menghindari serangan lelaki tua itu. Ia benar-benar tidak mengerti apa sebetulnya yang telah terjadi. Arya Kamandanu berusaha tidak menyerang. Ia melompat mundur dan ingin mendapatkan penjelasan orang tua itu.

“Paman! Apa salah saya? Mengapa tiba-tiba Paman menyerang saya?” tanya Arya Kamandanu dengan terengah-engah. Lelaki tua di hadapannya pun napasnya tersengal-sengal dan melangkah beberapa tindak mendekatinya sambil meludah dan membuang muka.

“Kau sudah menodai kesucian anakku! Sekarang kau akan menerima balasan dari ayahnya! Hiaaaa, hiaaaaatthh…!”

Kembali lelaki tua itu mencecarnya dengan pukulan-pukulan dahsyat. Arya Kamandanu menangkis dan melompat menghindar bagaikan seekor burung Srikatan mengejar capung. Karena beberapa jurus pukulan lelaki tua itu tak ada yang bersarang padanya maka orang tua itu menghentikan serangannya. Berdiri memasang kuda-kuda sambil tersenyum menyeringai memendam amarah yang telah memuncak.

“Bagus! Kau cukup tangkas juga! Tapi jangan sebut Rekyan Wuru kalau aku tak mampu membuatmu mencium tanah dalam dua gebrakan ini!” selesai berkata Rekyan Wuru menarik kaki kirinya selangkah.

Tangannya membuka dan menutup di depan dada untuk membuka jurus serangannya. Gerakan-gerakan zig-zag itu tampak kokoh bagaikan banteng yang hendak menyeruduk.

Kemudian lelaki tua itu benar benar menggebrak Arya Kamandanu dengan dua gebrakan panjang. Tangan kanannya yang mengepal keras bersarang pada dada dan perut pemuda itu.

Pemuda itu mundur terhuyung sambil mendekap perutnya yang mulas, mual seperti mau muntah. Sakit dan seperti diuntir-untir. Ia mendelik roboh di tanah. Terduduk

dengan napas terengah-engah. Ia berusaha memandang lelaki tua yang kini menjambak rambutnya hingga memaksanya menengadah dengan mulut setengah terbuka

Lelaki tua itu pun terengah-engah. Tubuhnya basah, dahinya berkilat-kilat oleh keringat yang membanjir.

“Ayo, Kamandanu! Apa katamu sekarang?”

“Saya… saya tidak akan berkata apa-apa. Terserah Paman Rekyan Wuru!” jawab pemuda itu terbata karena menahan rasa sakit yang kian melilit.

“Jadi, kau sudah mengakui kesalahanmu?”

“Kesalahan mana yang Paman maksudkan?”

“Bedebah! Kau tikus busuk, masih juga mengaku tidak bersalah!”

“Saya benar-benar merasa tidak bersalah “

“Kau sudah menodai anakku. Kau rusak kehormatannya! Kau mau mengakui atau tidak?”

“Tidak.”

“Kurang ajar! Hiiiiihh!” Lelaki tua itu menghempaskan Arya kamandanu hingga pemuda itu menggelosor di tanah.

Belum puas dengan satu hempasan kembali tangannya menampar, kakinya menendang tubuh Arya Kamandanu yang tidak memberikan perlawanan.

Pemuda itu mengaduh kesakitan.

Laki-laki tua itu membiarkan Arya Kamandanu menggelosor di depannya. Bahkan kaki kanannya kini menginjak punggung pemuda itu.

“Dengar! Walaupun sudah tua, sudah beruban seluruh rambutku, tapi untuk membuatmu mampus aku masih sanggup.”

“Apa sebenarnya yang Paman kehendaki dari saya?”

“Pengakuanmu! Kalau kau mau mengakui kesalahanmu, maka urusannya tidak akan terlalu panjang. Tapi kalau kau masih bertahan, mau memungkiri perbuatanmu, nah! Aku tidak segan-segan membuatmu cacat seumur hidup, Kamandanu!”

“Paman Wuru, saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan.”

“Apa? Coba kau ulangi sekali lagi!”

“Saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan!”

“Kamandanu!” kaki kanan lelaki tua yang bertengger di punggung Kamandanu menjejak hingga pemuda itu kembali tersungkur mencium tanah. Lelaki tua itu meraba gagang pedangnya dan menghunus senjata tajam yang menggantung di pinggangnya penuh amarah. Diangkatnya pedang itu tinggi-tinggi hingga mata senjata itu berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari yang semakin merayap naik.

Laki-laki tua itu menggeram bagaikan harimau hendak menerkam mangsanya.

“Kau jangan membuatku semakin naik darah. Walaupun orang tua, tapi aku bukanlah tergolong orang penyabar. Kalau kau masih berusaha mungkir, aku akan membunuhmu di tempat ini juga.”

“Paman Wuru! Saya berani karena saya merasa benar. Kalau saya merasa benar dan tidak berani menghadapi keadaan, maka namanya saya pengecut,” nada ucapan pemuda itu mantap dan berani.

Hal itu membuat lelaki tua itu semakin geregetan dan kesal.

“Kurang ajar! Jadi, kau menantangku?”

“Paman Wuru tidak usah ragu-ragu! Saya tidak akan melawan. Saya tahu Paman Wuru sebenarnya orang yang baik. Saya justru kasihan sekali, mengapa Paman Wuru harus mengalami seperti ini. Saya kenal Nari Ratih. Saya pernah bersahabat dengannya.”

“Sudah! Sudah! Jangan ngoceh ngalor-ngidul! Aku tidak butuh mendengar nasihatmu!”

“Jadi bagaimana? Kalau Paman menganggap saya bersalah dan mau membunuh saya, lakukanlah! Saya tidak akan melawan sedikitpun. Saya akan menyerahkan leher saya agar Paman Wuru merasa puas.”

Rekyan Wuru tertegun mendengar kata-kata Arya Kamandanu. Suaranya terdengar jujur dan penuh keberanian. Tapi karena hatinya masih panas maka orang tua itu buru-buru mencampakkan pengaruh tersebut.

Digenggamnya gagang pedang semakin erat. Tangannya gemetar menahan luapan amarah di dadanya.

“Kamandanu! Akuilah bahwa kau yang menodai anakku. Dengan begitu, persoalan ini bisa segera dibereskan Barangkali kalau nasibmu mujur aku akan mengawinkanmu dengan anakku. Tapi kalau tidak, aku akan menyerahkanmu kepada Kepala Desa Manguntur agar perbuatanmu ditangani yang berwajib.”

“Sudah saya katakan, bahwa saya tidak mungkin mengakui apa yang tidak saya perbuat.”

“Bedebah! Kubunuh kau sekarang juga! Hiyaaaaahhhhh!”

Pedang Rekyan Wuru yang sudah tergenggam di tangannya dan menggantung di udara kini diangkat tinggitinggi. Berkelebat berkilat-kilat dengan deras meluncur ke arah leher pemuda itu.

Pemuda itu tidak mengelak, ia sudah pasrah pada nasibnya. Dalam hatinya ia hanya bisa memohon keadilan pada Hyang Widhi. Jantungnya menggemuruh menanti apa yang telah menimpanya.

Teriakan dan pekikan suara Rekyan Wuru membuat bulu kuduknya merinding. Lelaki tua itu matanya mendelik, seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Berbarengan dengan senjata tajamnya yang nyaris menyentuh kulit leher pemuda itu, namun bersamaan dengan itu berkelebatlah sesosok bayangan yang menangkis hunjaman senjata tajam itu. Terdengar dentingan keras.

Dua senjata tajam beradu. Sekarang muncul di hadapannya seorang lelaki yang lebih tua darinya mencecarnya dengan sebilah pedang. Rekyan Wuru terkejut dan mundur beberapa tindak.

“Kunyuk jelek! Siapa kau berani turut campur urusanku?”

“Hehehehe, aku memang seperti kunyuk jelek. Tapi kau pun tidak lebih tampan dari seekor kambing buduk Heheheheh!”

“Kau jangan membuka perkara denganku! Apa kau tidak kenal siapa diriku? Rekyan Wuru, bekas prajurit Singasari. Pernah menjabat sebagai perwira yang membawahi dua ratus orang.”

“Hebat! Hebat yah? Tapi apa gunanya kau katakan hal itu padaku?”

“Supaya kau segera enyah dari sini.”

“Hehehehe, jangan begitu. Menakut-nakuti orang dengan cara seperti itu tidak baik. Mengapa tidak kau katakan saja siapa dirimu yang sebenarnya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau adalah Rekyan Wuru, warga desa Manguntur yang

sudah peyot. Mungkin dulu waktu masih muda kau pernah jaya. Tapi sekarang ini kau tidak lebih dari orangtua yang kurang bijaksana.”

“Kurang ajar! Kau menghina aku! Hiaaattthhh!”

Rekyan Wuru menerjang dan menggebrak lelaki tua dengan pakaian compang camping dan kumal itu. Namun, lelaki jelek di hadapannya itu begitu trengginas, gesit melompat menjauhinya setelah menangkis sabetan pedangnya Rekyan Wuru menghentikan serangannya dengan napas terengah.

Ia perhatikan betul-betul lelaki tua di hadapannya dengan mata melotot….Napasnya terengah-engah. Di bibirnya mencibir sebuah senyuman getir. Ia melangkah beberapa tindak dengan langkah kuda-kuda.

“Kau… kau punya kebisaan juga rupanya? Siapa namamu?”

“Nah, nah, Rekyan Wuru! Napasmu sudah kembang kempis seperti seekor ikan mujair kekeringan. Bagaimana kau masih berani menyombongkan diri?”

“Kalau kau masih belum pergi dari tempat ini, jangan salahkan aku kalau pedang ini akhirnya ikut bicara!”

Lelaki tua berpakaian kumal dan compang-camping itu tidak menghiraukan ancaman Rekyan Wuru, sebaliknya ia berpaling pada pemuda yang masih menggelesot di rumput.

Serta merta pemuda itu bangkit dan mendekati lelaki tua

yang memanggilnya dengan lambaian tangan.

“Kamandanu!”

“Eh, ya, Paman Ranubhaya.”

“Menyingkirlah kau, berdiri agak jauh! Kambing peyot ini agaknya perlu diajar makan rumput yang benar.”

“Baik, Paman,” pemuda itu kemudian mundur beberapa langkah menjauh dari arena pertarungan.

Lelaki tua berpakaian compang-camping itu mengelus gagang pedangnya lalu bertolak pinggang dengan senyum sinis pada Rekyan Wuru yang dibuatnya penasaran.

Dalam benak Rekyan Wuru terselip sekilas ingatan sebuah nama lelaki tua yang bertolak pinggang di depannya. Tetapi ia tidak mau ambil pusing, kepalang tanggung untuk mengurungkan niatnya.

“Hemh, jadi kau yang bernama Ranubhaya?”

“Nah, apa maumu sekarang, Rekyan Wuru? Jangan bocah kencur yang kaujadikan sasaran kesombonganmu, tapi marilah yang tua-tua ini mawas diri sedikit.”

“Persetan dengan omonganmu! Hiaaaatt…. Hiaattthh…!”

Dua gebrakan dilancarkan cukup gencar ke arah lelaki tua berpakaian compang-camping itu, namun apa yang diduga Rekyan Wuru sungguh meleset. Dua tebasan pedangnya hanya menebas udara hingga tubuhnya terpelanting. Tenaganya seperti terbetot hingga napasnya semakin terengah-engah. Kesal dan penasaran sekali Rekyan Wuru dibuatnya. Ia berdiri gamang, antara menyerang atau menghentikan percekcokan itu. Ia berdiri sambil menatap tajam Mpu Ranubhaya yang tersenyum dingin sambil menghela napas. Lucu sekali sinar wajah lelaki tua itu.

“Bagaimana, Rekyan Wuru?”

“Tunggu, kau menggunakan jurus Naga Puspa.”

“Ayo, kerahkanlah seluruh tenagamu! Keluarkanlah seluruh sisa-sisa kepandaianmu.”

“Dari mana kau peroleh jurus Naga Puspa, Ranubhaya?”

“Apa perlunya kau tahu asal-usul jurus kepunyaan orang lain? Kalau kau merasa gentar letakkanlah pedangmu, dan segera minta maaf pada anak muda itu.”

“Setan belang! Jangan kaukira dapat menundukkan aku segampang itu! Hiaaaahhhh…, hiaaaahhh…!”

Denting-denting pedang terus berlangsung setiap tebasan kedua lelaki tua itu berbenturan di udara. Keduanya samasama gesit dan lincah. Mula-mula Rekyan Wuru menyerang sangat gencar pada Mpu Ranubhaya, namun kemudian keadaan menjadi berbalik. Ia kerepotan melayani serangan-serangan menggigit lelaki tua renta itu. Ia terus mundur dan mencari tempat yang lebih longgar.

Melompat dan menangkis sambil beberapa kali menyabetkan pedangnya dengan dahsyat, namun hanya udara yang disabetnya Sebaliknya, gerakan lincah Mpu Ranubhaya kian mantap.

Seperti burung sriti menukik-nukik di udara mengejar nyamuk. Cepat dan gencar. Maka pada kesempatan berikutnya, Rekyan Wuru tak dapat menduga apa yang terjadi. Suara pedang berbenturan cukup keras. Tangan kanannya merasa seperti kesemutan dan sekali lagi tebasan pedang lawan mampu melepaskan genggamannya. Ia terbelalak dengan mulut setengah menganga. Pedangnya jatuh tertancap di tanah lalu lelaki tua berpakaian compang-camping itu mengangkanginya dengan tawa terkekeh-kekeh.

“Sudahlah, Rekyan Wuru! Apa perlunya kau marah-marah di sepanjang jalan? Menyombongkan sisa-sisa kepandaianmu di masa lalu? Rekyan Wuru yang sekarang bukanlah Rekyan Wuru tiga windu lalu.”

Mendengar kata-kata Mpu Ranubhaya, Rekyan Wuru tercabik sudut kesadarannya. Ia berdiri seperti bocah yang sedang belajar berjalan. Tatap matanya berubah menjadi memelas dan mengiba.

Tubuhnya yang bersimbah keringat bergetaran.

Bibirnya meliuk-liuk, pandang matanya memudar, pelupuk matanya terasa hangat penuh dengan air mata. Ia mencuri pandang pada Mpu Ranubhaya yang membiarkannya berpikir.

“Yah… yaah… Rekyan Wuru yang sekarang adalah Rekyan Wuru yang sudah jompo. Rekyan Wuru yang sudah pikun,” suara itu terdengar gemetar dan melemah.

Serak dan tercekat di tenggorokan.

“Rekyan Wuru! Jadilah orang tua yang baik, yang bijak. Semakin tua seseorang harus semakin bijaksana, karena makin banyak yang dilihat. Kalau kau memiliki persoalan dengan anak muda itu, selesaikanlah dengan cara-cara yang seharusnya dipakai manusia. Kalau kau selalu menggunakan kekerasan, menggunakan pedangmu untuk menyelesaikan setiap persoalan, kau sama halnya dengan serigala yang bangga pada ketajaman taringnya. Tapi apa artinya seratus ekor serigala jika harus melawan manusia yang mempunyai akal budi, pikiran dan siasat?” Mpu Ranubhaya kemudian berpaling kepada Arya Kamandanu  yang masih berdiri agak jauh dari mereka.

“Kamandanu!”

“Ya, Paman.”

“Antarkan dia menemui ayahmu.”

“Baik, Paman,” pemuda itu melangkah mendekati Rekyan Wuru yang membisu seribu bahasa. Tidak mau memandang pemuda yang melangkah dua depa di sisinya.

“Mari, Paman Wuru! Saya antarkan Paman Wuru menemui ayah saya. Paman bisa membicarakan persoalan Nari Ratih dengan Ayah.”

Arya Kamandanu kemudian mendahului Rekyan Wuru.

Pemuda itu menuntun kudanya sambil sesekali menoleh ke belakang di mana lelaki tua itu terus melangkah mengikutinya dengan wajah asam.

Mereka menempuh perjalanan sepanjang delapan pai untuk mencapai rumah Mpu Hanggareksa ayah Arya Kamandanu.

Mpu Ranubhaya memandang kepergian mereka dengan geleng-geleng kepala, mencabut pedang Rekyan Wuru dan membuangnya jauh ke belukar. Lalu ia pun melompat, lenyap di antara semak belukar.

Sesampai di rumah Mpu Hanggareksa, Rekyan Wuru segera menyampaikan maksud kedatangannya. Rekyan Wuru menuturkan dengan runtut semua peristiwa yang telah dialaminya dengan nada datar dan kurang bersahabat.

Wajahnya merah padam, matanya sesekali melirik tak ramah pada Arya Kamandanu yang duduk menunduk di samping ayahnya.

“Demikianlah maksud kedatanganku ini. Hanggareksa. Ialah untuk menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan anakmu.”

“Baiklah, Rekyan Wuru. Tapi aku belum bisa menerima tuduhanmu jika tidak ada bukti yang kuat. Kau juga harus ingat, bahwa tuduhan tanpa bukti bisa digolongkan fitnah.”

“Tentu saja ada buktinya, Hanggareksa. Sekarang ini anakku jelas mengandung tiga bulan lamanya.”

“Tapi laki-laki bukan hanya anakku, Rekyan Wuru. Bisa saja anak desa Manguntur sendiri yang berbuat tidak senonoh itu.”

“Tidak, Hanggareksa. Ada keterangan seorang anak muda yang bisa kujadikan pegangan. Dangdi, anak Kepala Desa Manguntur mengatakan, bahwa Arya Kamandanu-lah pelakunya. Sering kali dia melihat anakmu bercanda di tepi padang ilalang bukit Kurawan bersama anakku.”

Serta merta Mpu Hanggareksa melotot dan menatap tajam ke arah Arya Kamandanu yang masih duduk menunduk. Napas lelaki tua itu mendengus keras, bibirnya bergetar, “Apa benar begitu, Kamandanu?” tajam sekali pertanyaan itu Bahkan suaranya amat dalam dan menggetarkan.

“Eh, benar, Ayah,” jawab Kamandanu jujur dan lugu.

“Benar? Jadi, kau yang telah menodai anak gadis Rekyan Wuru?” bentak Mpu Hanggareksa dengan mata semakin melotot. Bahkan laki-laki tua itu kini bangkit berdiri tepat di depan pemuda itu.

“Kau yang berbuat tak senonoh itu, Kamandanu?”

“Tidak, Ayah. Tidak.”

“Kamandanu, kau jangan main-main! Kau sedang bicara dengan ayahmu. Apa benar kau telah melakukan perbuatan tidak senonoh itu?”

“Tidak, Ayah, saya tidak melakukannya.”

“Awas! Kalau kau berani berdusta di depan ayahmu. Lebih baik kau jujur, mengaku apa adanya, jangan berbolak-balik seperti kelakuan orang tidak waras.”

“Tapi saya benar-benar tidak melakukannya, Ayah.”

“Kurang ajar! Anak sial!” bersama hentakan kaki, tangan lelaki tua itu melayang dan mendarat pada pipi putranya.

Pemuda itu mengaduh dan hampir terpelanting dari kursi. Ia pasrah pada apa yang akan dilakukan ayahnya padanya, namun laki-laki tua itu tidak jadi menampar untuk yang kedua kalinya. Tangannya menggantung di udara.

Hanya suaranya yang menggeram bagaikan seekor singa yang ingin menerkam mangsanya.

“Kamandanu! Lebih baik aku tidak mempunyai anak seperti kamu.”

Bersamaan dengan itu, tangan kanan lelaki itu meraba gagang pedang yang terselip di pinggangnya, suaranya

berdencing hingga Arya Kamandanu bergidik mendengarnya. Sebentar lagi ia akan menyusul ibunya. Pikirnya dalam hati ia benar-benar pasrah saat pedang di tangan ayahnya telah diangkat tinggi-tinggi dan akan menebas lehernya. Bersamaan dengan itu ada seseorang yang berlari ke tengah-tengah mereka.

“Jangan, Ayah! Jangan!”

“Dwipangga, apa maksudmu?”

“Bukan Adi Kamandanu yang melakukannya. Oh, maafkan saya, Ayah, maafkan saya.”

“Apa maksudmu, Dwipangga?”

“Sayalah yang melakukannya. Sayalah yang berbuat tidak senonoh. Kalau Ayah mau memukul pukullah saya. Kalau ayah mau membunuh, bunuhlah saya.” Arya Dwipangga berlutut di depan ayahnya. Ia menyembah ayahnya dan memeluk kaki Mpu Hanggareksa yang masih menggenggam pedang terhunus.

“Arya Dwipangga, jadi rupanya kau biang keladi kekacauan ini. Kau yang membuat onar di desa Manguntur lalu kau bawa ke rumah ini! Kurang ajar! Hiih, hihh, hiihhh!” tiga kali tamparan sangat keras mendarat pada wajah pemuda itu. Bibirnya retak hingga mengeluarkan darah. Darah itu dibiarkan mengalir seiring air mata yang menetes di pipinya karena merasa sesal.

Rekyan Wuru yang sejak tadi hanya diam menyaksikan lakon di depannya kini ia bangkit dengan rahang mengeras dan terdengar giginya menggeretak. Ia benar-benar tidak suka melihat Arya Dwipangga. Matanya merah dan melotot galak.

“Apa benar kau yang menodai kesucian anakku?”

“Benar, Paman Wuru. Saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya mencintai Nari Ratih, Paman.”

“Cinta! Cinta! Itu bukan alasan untuk berbuat tidak pantas!” potong Mpu Hanggareksa keras dan marah pada putranya. Kaki kanan ayahnya dihempaskan dan menendang perutnya hingga Arya Dwipangga hampir terjengkang jika tidak bertumpu pada dua tangannya.

“Saya mengaku salah, Ayah. Saya benar-benar menyesal.”

“Menyesal, apa gunanya? Luka sudah meninggalkan bekas. Bagaimana kulit bisa mulus lagi? Aku yang malu, Dwipangga. Malu sekali. Mukaku kusembunyikan di mana, ha! Hoooh, kali ini perbuatanmu sungguh-sungguh keterlaluan.”

“Baiklah, Hanggareksa. Semuanya sudah jelas. Selanjut nya tinggal bagaimana kita berdua sebagai orang tuanya.”

“Aku mengerti, Rekyan Wuru. Memang anakku yang berbuat, maka aku sebagai orang tuanya harus ikut bertanggung jawab.”

“Kalau begitu aku permisi dulu. Kita cari waktu yang baik untuk membicarakan masalah ini sebagaimana mestinya.”

“Ya, ya. Silahkan, Rekyan Wuru.”

Mpu Hanggareksa mengantarkan tamunya sampai di luar pekarangan rumahnya Lelaki tua itu kembali dengan wajah resah. Kusut sekali. Melangkah pun seperti tanpa otot.

Beberapa kali ia terpaksa menghentikan langkahnya sambil memegang dahinya.

Menggeleng-gelengkan kepala lalu mengurut dada sambil menghela napas yang dirasakan teramat berat dan sesak sekali. Matanya berkaca-kaca dan pandangannya berkunang-kunang.

Siang hari itu ia seperti orang bisu tuli. Tidak mau diganggu oleh siapa pun. Lelaki tua itu mengurung diri di dalam kamar sambil bersimpuh memohon ampun dan petunjuk pada Dewata Yang Maha Agung. Mpu Hanggareksa sampai mengeluarkan peluh dan air mata.

Keringatnya yang jatuh dari kening bagaikan tetes-tetes darah seiring asap dupa yang mengepul memenuhi ruangan.

* * *

Malam hari kian merayap perlahan, suasana yang tentram bagaikan mati. Di rumah Mpu Hanggareksa, yang biasanya terdengar denting-denting kesibukan merawat dan membuat senjata, kini tampak bertabur kelengangan. Suara jengkerik dan belalang malam di luar pun tingkah meningkahi melengkapi kesunyian itu. Sekali-kali ada jeritan kelelawar jantan di kejauhan. Lolongan dan gonggongan anjing liar berebutan mangsa kadang meningkahi kesunyian malam itu.

Mpu Hanggareksa, lelaki tua yang rambutnya telah dihiasi uban itu kini duduk merenung bersandar pada kursi di ruang tengah.

Dalam sekali ia mengisap cerutu hingga asapnya pun perlahan-lahan sekali keluar dari bibirnya yang hitam.

Kadang-kadang lelaki tua yang tampak lelah itu terbatuk-batuk. Kemudian dari ruangan dalam muncullah seorang pemuda tampan dengan wajah kuyu. Sinar matanya tampak meredup dan memandang lelaki tua di hadapannya dengan hormat dan ada perasaan takut. Kedua tangannya terjalin sambil memain-mainkan jemarinya untuk menghilangkan rasa segan. Beberapa saat ia kelihatan raguragu sekali ingin membuka bibirnya yang sudah meliuk-liuk. Pada saat lelaki tua itu tiba-tiba berpaling kepadanya buru-buru ia merunduk dan mengerjap-ngerjapkan matanya tidak berani membalas tatapan tajam mata ayahnya.

“Ayah memanggil saya?”

“Duduklah, Dwipangga!” Lelaki tua itu menghela napas dalam-dalam. Diperhatikannya putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lelaki itu tersenyum dingin lalu

mengangguk-angguk.

“Dwipangga.”

“Ya, Ayah.”

“Apa benar kau mencintai gadis itu?”

“Saya mencintainya, Ayah.”

“Sungguh?”

“Sungguh, Ayah.”

“Aku belum begitu yakin. Soalnya kau seringkali membuat onar karena perkara perempuan. Aku khawatir kali ini pun kau tidak bersungguh-sungguh.”

“Kali ini saya bersungguh-sungguh, Ayah.”

“Apa kau sudah mempersiapkan diri?”

“Saya sudah siap menikahi putri Rekyan Wuru. Saya berjanji akan menjadi suami yang baik”

“Kau tahu artinya menikahi seseorang? Artinya kau harus sadar, bahwa mulai saat itu kau sudah tidak bebas lagi. Kau mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Kau akan memasuki tahap kehidupan yang lebih rumit. Kau tidak bisa berbuat semaumu lagi. Kau harus bekerja untuk memberi makan keluargamu. Kau harus bisa mem-bahagiakan anak isterimu. Kau harus bisa mendidik anak-anakmu agar nanti mereka mampu untuk hidup mandiri.”

“Saya akan menuruti segala nasihat Ayah.”

“Semua kebiasaanmu yang buruk kau campakkan. Harus kauganti dengan yang baik. Yang berguna untuk membangun keluarga. Nah, Dwipangga, kalau kau sudah paham dan sudah mempersiapkan itu semua, Ayah merestui pernikahanmu.”

“Ohh, terima kasih, Ayah. Semua nasihat Ayah akan saya junjung tinggi “

Wajah Arya Dwipangga tampak berseri-seri. Ia mengangguk hormat dan bersimpuh di kaki ayahnya sambil menciuminya penuh perasaan haru.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan kirinya, mengusap dan membelai rambut putranya. Lalu meremasnya penuh kasih sayang. Anak dan ayah itu seolah-olah terlepas dari beban berat yang menindih selama ini. Wajah mereka berseri-seri ditimpa cahaya pelita yang remang-remang di ruangan itu.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Rekyan Wuru dengan ditemani Kepala Desa Manguntur datang ke Kurawan.

Mpu Hanggareksa menerima tamunya dengan ramah. Mereka pun membicarakan masalah Arya Dwipangga dan Nari Ratih. Tercapailah kata sepakat untuk menikahkan Nari Ratih dan Arya Dwipangga.

Pada saat hari yang telah ditentukan kedua keluarga itu mempersiapkan segala sesuatu untuk melangsungkan upacara pernikahan. Pesta pernikahan antara Arya Dwipangga dan Nari Ratih cukup meriah. Pesta diselenggarakan di rumah Mpu Hanggareksa.

Tampak pengantin pria duduk bersanding dengan pengantin wanita di pelaminan. Keduanya kelihatan bahagia. Para tamu ikut bersukacita atas berlangsungnya pernikahan mereka. Baik yang datang dari Manguntur maupun dari desa lainnya. Mereka sibuk berbincangbincang dengan teman duduknya sambil menikmati hidangan yang disediakan.

Terdengar alunan gamelan yang ditabuh para niyaga yang menyemarakkan pesta pernikahan itu. Namun, di tengah keramaian itu tampak seorang lelaki mengerutkan dahinya saat seorang perempuan tua datang kepadanya.

Dengan berbisik lelaki itu mendekatkan bibirnya pada telinga perempuan tua itu.

“Bi Rongkot.”

“Ya, Gusti.”

“Kau tidak melihat Kamandanu?”

“Tidak, Gusti. Tadi sore Angger Kamandanu hamba lihat membantu memasang janur dan hiasan kursi pengantin. Tapi setelah itu hamba tidak melihatnya lagi.”

“‘Ohhhh, anak itu apa maunya? Banyak tamu-tamu kenalanku menanyakannya, Bi. Dulu mereka mengenal nya waktu masih kecil, sekarang mereka ingin tahu sudah

berapa besarnya. Huuh, di rumah banyak orang sibuk kok malah tidak ada. Nanti kalau kau melihatnya lagi suruh dia menemuiku, Bi.”

“Ya, Gusti.”

Lalu lelaki itu membalikkan tubuh dan kembali melayani para tamu yang semakin banyak hadir di rumahnya. Setiap saat dia mengulurkan tangannya menyambut ucapan selamat mereka. Tampak butir-butir keringat mengembun menghiasi dahi lelaki tua itu.

Senyuman bahagia senantiasa tersungging di bibirnya. Pesta kawin masih terus berlangsung sampai jauh malam.

Sebagian tamu banyak yang turun ke gelanggang, untuk menemani para pesinden menari. Di balik suasana gembira itu tampak seorang pemuda berjalan dengan gontai.

Wajahnya kuyu, sesekali mendesah dan menghempas-kan napasnya. Tampak kesal sekali. Kedua tangannya mengepal, sekali-kali memukul udara. Dia pandang langit yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu berkedip-kedip seolah-olah mengejeknya. Segumpal awan kelabu melintas seiring embusan angin. Bayang-bayang wajah seorang gadis cantik melintas di sana tersenyum menggodanya.

“Nari Ratih, akhirnya kau menjadi milik Kakang Dwipangga. Bagaimana dengan Arya Kamandanu ini?”

bisiknya perlahan sambil tetap memandang ke arah awan kelabu yang melayang itu. Melayang terbang entah ke mana angin membawanya. Seperti cintanya yang melayang direnggut saudara tuanya.

Dengan perasaan tidak menentu pemuda itu terus berjalan semakin menjauhi rumahnya. Dia tidak tahu mau apa dan mau ke mana? Dia hanya ingin membuang jauh rasa pedih yang menggores hatinya. Ia ingin pergi seperti awan kelabu di langit malam yang terus berlalu, jauh dan akhirnya lenyap didera angin. Belum puas dengan apa yang dilakukannya, pemuda itu kemudian melompat dan berlari sekencang-kencangnya. Tidak peduli semak belukar, tidak peduli duri rumput putri malu yang menggores dan mencabik kulitnya. Napasnya terengah-engah memburu.

Pada saat di hadapannya terdapat sebuah pohon besar serta merta ia mengepalkan tangan, menubruk dan meninju pohon tak berdosa itu bertubi-tubi sambil berteriak, mendengus dan melolong panjang.

Batang pohon besar itu bukannya menangis dan meronta karena memang itu tak mungkin, akan tetapi yang semakin terasa perih justru kedua tangannya yang kini robek, terluka dan berlumuran darah. Pemuda itu meraung dan menangis terguguk. Dari sela-sela jemarinya muncrat darah segar yang terus membasahi pergelangan tangan dan telapak tangannya. Ia tidak menghentikan tindakan bodohnya. Ia terus memukul dan meninju pohon itu. Sampai pada suatu saat berkelebatlah sesosok bayangan hitam di tengah kepekatan malam. Bayangan itu tampak ringan sekali berkelebat menghampirinya dan segera merenggut kedua tangan pemuda itu yang sudah bermandikan darah segar.

Pemuda itu kelelahan sekali dan kesakitan. Mata pemuda itu mendelik sekalipun pandangannya nanar oleh air mata yang terus mengalir deras.

“Oh, kau… kau datang lagi. Kau manusia bercadar hitam yang pernah kujumpai dulu.”

“Jangan menyakiti diri sendiri!” kata orang bercadar hitam itu yang kini menghempaskan kedua tangan pemuda itu setelah ditarik ke semak-semak.

“Siapa kau orang bercadar hitam?”

Orang bercadar hitam itu tidak menjawab pertanyaan pemuda yang sedang gundah itu, sebaliknya menasihati-nya,

“Kasihan pohon itu. Dia tak punya salah apa-apa tapi harus merasakan pukulan bertubi-tubi. Tapi sebenarnya lebih kasihan buku-buku jari tanganmu itu, anak muda.”

“Biar saja tanganku remuk, tetapi hatiku puas,” jawabnya kesal dan seperti melenguh bagaikan lembu.”

“Oh, jadi kau ingin mencari kepuasan? Nah, mari kutunjukkan dan kubantu! Daripada memukul pohon yang keras sekali, lebih baik pukullah aku!” tantang orang bercadar hitam itu sambil melompat beberapa tindak seperti tanpa beban.

“Baik! Aku akan memukulmu! Hiaaaaahh! Hiaaaaaahh!” pemuda itu langsung menerjang, dan kedua tangannya membabi buta ingin memukul orang bercadar hitam. Kedua tangannya membentur kedua tangan orang itu. Sungguh mati ia terkejut. Ia mundur beberapa langkah dan mengerutkan dahi sambil memelototkan matanya. Ia sungguh tak menduga dengan apa yang telah terjadi.

“Oh, tanganmu lebih keras dari pohon itu!” katanya sambil mendekap tangannya yang terasa perih dan sakit sekali.

“Tidak! Bukan tanganku yang keras melainkan tanganmu yang terlalu lembek. Lagipula sadarkah kau, bahwa kedua tanganmu terluka parah? Hehehehe, mau coba lagi?” ejek orang bercadar itu kemudian melompat dan berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam.

Pemuda itu bengong dan kembali mencoba mengingatingat peristiwa beberapa saat lamanya ketika ia pernah bertemu dengan orang itu.

Ia memandang ke arah lenyapnya orang itu sambil bergumam, “Siapa manusia bercadar hitam itu? Dulu ia datang saat pikiranku sedang kalut setelah peristiwa Candi Walandit. Sekarang dia datang lagi juga pada saat pikiranku sedang kacau. Siapa dia sebenarnya dan apa maksudnya?” pemuda itu meraba kantong kulitnya. Mendesah kesal karena terkejut, “Oh, batu nirmalaku? Dia mencurinya, kurang ajar!”

“Pencuri busuk!” hardiknya sembari melompat dan menembus kegelapan malam menuju arah lenyapnya makhluk bercadar hitam yang telah mencuri batu nirmala kenang-kenangan dari kekasih hatinya.

Napasnya terengah-engah ketika pemuda itu menghentikan pengejarannya sebab ia tidak perlu susah-susah mencari orang bercadar hitam itu. Orang aneh itu tidak lari jauh, tetapi enak-enak duduk di atas sebongkah batu ketika mengetahui pengejarnya semakin dekat menghampirinya dengan napas semakin memburu. Bunyi kerosak mencekam sekali ketika pemuda itu menyeruak-kan semak belukar dan bertolak pinggang menghardik orang aneh itu.

“Pencuri busuk! Kembalikan batu nirmalaku!”

“Mengapa kau marah-marah, anak muda?” jawabnya enteng dan sinis sekali.

“Kau telah mencuri batu nirmalaku.”

“Oooo, benda ini yang kau maksudkan?” tanyanya lagi sambil menimang-nimang dan melempar-lem-parkan batu nirmala itu ke udara dan menangkapnya lagi. Tawanya sangat menyakitkan pendengaran pemuda itu.

“Kembalikan batu nirmala itu. Cepat kembalikan!”

“Heheheheh… tidak semudah itu kau akan bisa memiliki benda ini, anak muda. Kecuali kau sanggup merebutnya dari tanganku. Hehhehehe!” Manusia bercadar hitam dan bertingkah laku aneh itu sangat menjengkelkan hati pemuda itu. Pemuda itu sangat kesal dibuatnya tetapi tidak ada cara lain kecuali harus merebut benda itu dengan kekerasan.

“Hee, orang bercadar! Kau jangan mempermainkan aku! Kembalikan batu nirmala itu!”

“Hehehe, anak muda! Kalau kau menginginkan benda ini, kau harus mau berkeringat lebih dulu. Tak ada hasil yang bisa diperoleh tanpa cucuran keringat.”

“Apakah mencuri milik orang lain juga bisa diartikan cucuran keringat?”

“Heheheheh! Kau cukup cerdas, anak muda Tapi bukan kecerdasan yang ingin kuketahui darimu, melainkan keberanian, ketekatan hati dan semangatmu.”

“Untuk apa kau ingin tahu diriku?”

“Tentu saja untuk tetap memiliki batu nirmala yang indah ini. Hehehehe!” orang bercadar hitam itu langsung melesat, lenyap dalam kegelapan.

“Heeh, tunggu! Jangan lari kau! Sampai ke ujung dunia pun tak akan kubiarkan kau membawa batu nirmala itu!”

Pemuda itu langsung melompat mengikuti arah orang bercadar hitam yang kini menghilang lagi ditelan kegelapan.

Orang bercadar hitam itu melesat bagaikan seekor tupai yang melompat dari atas batu ke tengah semak.

Beberapa saat lamanya pemuda yang mengejarnya menjadi linglung. Menoleh ke sana kemari mencari arah kaburnya orang aneh itu. Napasnya terengah-engah, sesekali ia mengusap keringat yang bercucuran di dahi dan pelipisnya. Ia tidak peduli lagi luka pada buku-buku kedua tangannya yang kini darahnya sudah mulai mengering.

Malam terus surut dengan memamerkan kabut-kabutnya. Lolong anjing liar di kejauhan terdengar melengking dan menggaung ditingkahi suara burung hantu dan binatangbinatang liar lainnya.

Hal itu membuat bulu roma pemuda itu bergidik.

Pemuda itu terus melangkah menyusuri semak belukar tanpa mempedulikan duri-duri yang sering kali menggores dan mengoyak kulitnya.

“Oh, ke mana larinya orang itu tadi? Aku belum pernah menginjak tempat ini. Ini sudah terletak di bagian timur bukit Kurawan. Tempat ini menyeramkan sekali. Apakah manusia bercadar itu sengaja memancingku pergi kemari untuk kemudian membunuhku? Ah, persetan dengan orang itu. Siapa pun dia, betapa pun saktinya, aku harus merebut batu nirmala itu dari tangannya.”

Pemuda itu kemudian mencoba melangkah lagi, melompat dan berlari terus menyusuri pinggang bukit Kurawan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon perdu. Dia tak peduli gelapnya malam yang hampir membutakan matanya. Kemudian ia sampai pada sebuah tempat yang benar-benar sangat menyeramkan. Tempat itu gelap gulita.

Semua yang ada bagaikan hantu-hantu yang ingin menerkamnya. Ia mengerutkan dahinya dan menghentikan langkah sambil memperhatikan sebuah batu besar yang menyerupai payung raksasa. Pemuda itu merunduk sambil berusaha menajamkan penglihatannya ke balik batu payung yang menyerupai gua dengan batu-batu runcing menjulur dan bergelantungan di langit-langit gua atau pun hampir di setiap lorong tempat itu. Baru saja ia akan beranjak ketika mendadak muncul sebuah bayangan dari balik daun-daun pepohonan yang rimbun.

Bayangan itu langsung menyerangnya.

“Hiaaaahh, hiaaahhhh!”

“Ohh, heiitt… kurang ajar!” pemuda itu terkejut dan bergerak secara reflek. Melompat dan melenting bagaikan burung srikatan untuk menghindari serangan lawannya. Ia berusaha mundur dan berlindung di balik semak belukar untuk mempersulit gerakan lawannya.

“Hei, siapa kau? Mengapa menyerangku?”

Penyerang gelap itu tak mempedulikan pertanyaan pemuda itu. Orang itu terus menyerang dan berusaha mengalahkannya. Penyerang gelap itu bertopeng, tubuhnya lebih kekar daripada orang aneh bercadar hitam yang kini lenyap entah ke mana. Karena diserang bertubi-tubi akhirnya pemuda itu memberikan perlawanan cukup imbang.

Terjadilah duel seru di antara keduanya. Mereka saling menjotos, menendang dan berusaha mendaratkan pukulanpukulannya. Tetapi ketika dua kali pukulan pemuda itu mendarat pada perut orang bertopeng, orang itu mundur beberapa tindak dan menghentikan serangannya.

Pemuda itu tetap bersiaga penuh, tetap memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal keras dan napasnya terengah-engah saat melangkah beberapa tindak mendekati orang bertopeng di depannya.

“Kau siapa dan mengapa menyerangku? Kau pasti anak buah orang bercadar hitam itu.”

“Hehehehe, tentu saja Angger Kamandanu tidak mengenaliku lagi. Hehehhehe!” Mendengar namanya disebut, pemuda itu mengerutkan dahi dan berusaha mengingat-ingat nada suara orang itu. Ia berusaha keras mengingat-ingat, siapa sebetulnya orang itu.

“Oh, suaramu…, suaramu sepertinya kukenal dengan baik.”

“Hehehehe, mari, Angger! Guru sudah menunggu di dalam.”

Pemuda itu, yang tak lain adalah Arya Kamandanu semakin penasaran pada orang-orang aneh yang dijumpainya. Lebih-lebih pada orang bertopeng di dekatnya yang kini menepuk-nepuk pundaknya sangat akrab dan mengajaknya melangkah bersama. Orang itu segera membuka topeng kulitnya dan tertawa berkepanjangan.

“Ohh, Paman Wirot!” ucapnya lirih setelah tahu siapa makhluk aneh yang kini mendahului melangkah masuk ke dalam goa di balik batu payung raksasa itu.

Arya Kamandanu diajak menyusuri lorong-lorong di dalam goa. Tempat itu benar-benar menyeramkan. Tanpa cahaya sedikit pun. Hanya suara tetes-tetes air dari langitlangit gua terdengar menggema. Sesekali jeritan kelelawar yang bertemu kawanannya, mencericit riuh karena terkejut.

Paman Wirot yang sudah hapal benar dengan lekuk liku tempat itu bisa berjalan agak cepat sekalipun ia tampak hatihati sekali jika tidak ingin terperosok pada lantai gua yang licin atau tak terantuk pada stalagtit dan stalagmit gua yang terdapat hampir di setiap sudut dan lorong gua itu.

Hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah tempat di mana kelihatan sangat nyaman. Ada sebuah batu pipih cukup lebar di ruangan itu. Sebuah obor minyak jarak tergantung di sisi gua. Menyala kuning kemerahan dengan asap hitam membekas pada dinding gua sekitarnya. Di atas batu pipih itulah tampak seorang lelaki tua berpakaian sangat sederhana duduk bersila tanpa memperhatikan kehadiran dua orang di depannya. Orang tua itu masih memejamkan mata. Pada saat ia mengetahui bahwa Wirot dan Arya Kamandanu sudah duduk di hadapannya dengan bersila, perlahan-lahan pelupuk mata yang sudah mengeriput itu pun terbuka.

Bibirnya mengulum senyuman sangat ramah. Mata itu sekalipun tersembunyi di balik pelupuk mata yang mengeriput dan cekung, namun sinar matanya jernih, tajam bersinar memantulkan cahaya obor jarak. Pantulan cahaya obor itu bergerak-gerak setiap kali mata lelaki tua itu menger-jap-ngerjap. Siapa pun yang melihat orang tua itu, pasti semua mengakui keagungan dan kebesaran jiwanya yang bening bagaikan permukaan telaga memantulkan cahaya rembulan di malam purnama.

Arya Kamandanu menghela napas ketika lelaki tua itu sudah dikenalinya dengan baik. Ia ikut tersenyum di balik kegetiran dan kepahitan hidupnya.

“Oh, jadi orang bercadar hitam itu adalah Paman Ranubhaya?”

“Heheheh, kaukira siapa?” jawab lelaki itu dengan suara serak namun lebih jelas dibandingkan dengan suara orang bercadar hitam sebab lelaki tua itu sengaja melakukannya.

“Jadi, Paman juga yang dulu pernah menasihati saya waktu baru saja mengalami peristiwa di Candi Walandit?”

“Hehehheh, sudahlah, Kamandanu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin supaya kau tidak tercekam oleh peristiwa yang menyakitkan, lalu akhirnya kau menyia-nyiakan hidupmu sendiri.”

Lelaki tua itu menghela napas, menelan ludah dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sebelum akhirnya kembali memandang pemuda tampan di depannya yang kini berwajah sangat kusut.

“Kamandanu.”

“Ya, Paman?”

“Apa kau tertarik pada olah kanuragan?”

“Eh, saya… saya tidak tahu apakah saya berbakat atau tidak untuk belajar ilmu kanuragan, Paman.”

“Kau pernah belajar dari ayahmu?”

“Tidak banyak, Paman. Ayah hanya mengajari beberapa jenis pukulan. Kata Ayah, saya tidak perlu menjadi seorang jago berkelahi. Ayah lebih suka jika saya mewarisi keahliannya membuat senjata pusaka.”

“Kau sendiri bagaimana?”

“Saya pribadi lebih tertarik mempelajari ilmu olah kanuragan, Paman. Tapi saya harus belajar pada siapa?”

“Bagaimana kalau kau belajar padaku?”

“Paman bersungguh-sungguh?”

“Kalau kau tertarik pada olah kanuragan, mulai besok malam kau datang ke tempat ini. Pengetahuan dan kemampuanku tidak banyak, tapi ada baiknya kau pelajari sebagai dasar berpijak.”

“Baik, Paman.”

Arya Kamandanu sangat gembira bahwa Mpu Ranubhaya mau mengajarinya ilmu olah kanuragan. Dia merasa mendapat penghiburan dan penyaluran, merasa mendapat wadah untuk menampung kesedihannya karena kehilangan gadis yang dicintainya. Maka sejak malam itu, begitu matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Arya Kamandanu bergegas meninggalkan rumahnya. Tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi. Ayah dan kakaknya, Bibi Rongkot maupun Nari Ratih yang sudah tinggal di rumahnya tidak pernah tahu jika ia sering meninggalkan rumah bila malam hari tiba.

* * *

Malam merayap semakin larut, Arya Kamandanu sangat bahagia mendapatkan seorang guru yang sangat sabar dan pengertian. Ia duduk bersila ditemani Wirot murid tunggal Mpu Ranubhaya yang setia. Mereka mendengarkan apa yang diucapkan lelaki tua itu dengan saksama. Bunyi kelelawar sesekali memamerkan jeritannya meningkahi suara tetes-tetes air yang jatuh dari langit-langit gua batu payung sebagai tempat pamujan Mpu Ranubhaya.

Kemudian lelaki itu memandang kedua muridnya lekat-lekat dengan tatapan sangat tajam. Perlahan sekali ia mengangguk-angguk setelah mengusap janggutnya. Suara lelaki tua itu menambah suasana magis dan seram di dalam gua yang hanya berpenerangan pelita.

“Dengar baik-baik, Kamandanu! Ilmu kanura-gan pada dasarnya mempelajari segala sesuatu yang terdapat di dalam raga atau tubuh manusia. Karena itu yang pertama kali perlu dipersiapkan adalah tubuh manusia itu sendiri. Setelah tubuh siap barulah belajar kuda-kuda yang benar. Kuda-kuda artinya dalam keadaan siap siaga. Coba, pamanmu Wirot akan memberi contoh kuda-kuda yang bagus “

Wirot yang ikut mendengarkan pelajaran kanuragan segera bangkit, lalu berdiri dengan kedua lutut menekuk ke samping. Tangan menyilang di atas dada.

“Nah, itu kuda-kuda yang sudah banyak dikenal orang. Kuda-kuda erat kaitannya dengan jurus. Jurus adalah suatu rangkaian pukulan yang mengarah pada satu titik kelemahan lawan. Pamanmu Wirot akan memberikan contohnya.”

Maka dengan lincah dan gesit Wirot melompat, menjotos dan memukul udara kosong dengan sesekali menghempaskan napas untuk menghentakkan seluruh tenaga simpanannya. Ia melompat ke samping, menerjang ke depan dan melentingkan tubuhnya seperti burung srikatan yang ingin menangkap nyamuk. Bibirnya mengatup rapat, kedua tangannya mengepal keras, kakinya selalu menghentak tanah setiap kali ia mengubah posisi kuda-kudanya. Sangat perkasa.

“Yah, cukup, Wirot! Sekarang kalian berdua bisa berlatih di halaman depan gua ini. Kukira tempatnya cukup lega untuk kalian berdua!”

Arya Kamandanu segera bangkit dan mengikuti langkahlangkah Wirot yang berjalan menuju halaman gua.

Halaman gua itu cukup luas untuk berlatih beladiri. Mereka segera memasang kuda-kuda berhadapan satu dengan lainnya. Wirot yang lebih dulu memahami apa yang diajarkan gurunya tampak lebih gesit dan trengginas.

Arya Kamandanu menirukan setiap gerak dan pukulan-pukulan berantai sebagai rangkaian jurus Naga Puspa.

Mereka berlatih dan berusaha memusatkan hati dan pikiran sepenuhnya pada olah kanuragan. Mereka tidak sadar jika Mpu Ranubhaya mengikuti setiap gerakan jurus-jurus yang telah diciptakannya. Lelaki tua itu tidak mau mengganggu,  tidak mau memberikan komentar sebab ia berkeinginan kedua anak asuhnya itu bisa mengembangkan jurus-jurus Naga Puspa paling dasar yang telah diberikannya. Tampak keduanya bersimbah keringat. Mereka tidak menyadari jika telah berlatih habis-habisan.

Demikianlah, malam itu, dan malam-malam berikutnya, Arya Kamandanu sibuk berlatih olah kanuragan dengan ditemani Wirot.

Setahap demi setahap akhirnya Arya Kamandanu mampu menyerap pelajaran ilmu pukulan dua belas jurus milik Mpu Ranubhaya. Pada malam yang kedua puluh satu, Mpu Ranubhaya melihat mereka berlatih di halaman depan gua. Setelah beberapa saat lamanya mengamati, Mpu Ranubhaya berdiri dan bertepuk tangan memberi aba-aba supaya keduanya beristirahat. Wajah lelaki tua itu tampak berseri-seri karena kedua muridnya benar-benar mengalami kemajuan sangat pesat dalam berlatih olah kanuragan.

Namun, ada sesuatu yang sangat mengganjal saat memperhatikan kedua muridnya itu. Lelaki tua itu pun melambaikan tangannya memberi aba-aba agar keduanya mendekat dan memperhatikannya. Ia pandang satu persatu bergantian.

“Cukup! Hentikan dulu latihan kalian. Mari masuk, aku akan bicara dengan kalian berdua.”

Mpu Ranubhaya membalikkan badannya dan melangkah menuju dalam gua batu payung diikuti kedua muridnya.

Wirot dan Arya Kamandanu saling berpandangan sejenak dan mengangkat bahu sambil mengangkat alis dan tersenyum simpul menahan geli. Mereka melangkah menuju dalam gua beriringan mengikuti jalan Mpu Ranubhaya.

Suasana di dalam gua sungguh mencekam Temaram sinar pelita yang tergantung di dinding gua tidak mampu memberikan penerangan yang cukup. Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan di lantai gua yang kering.

“Bagus. Kau sudah menguasai dua belas jurus yang kuajarkan padamu, Kamandanu. Kau tahu nama jurus yang baru saja kau perlihatkan bersama Wirot?”

“Ehh, tidak, Paman. Saya tidak tahu namanya. Paman Wirot hanya mengatakan pukulan dua Belas jurus.” Jawab Arya Kamandanu sambil melirik ke arah Wirot

“Walaupun sudah lama Wirot mengenal dua belas jenis pukulan beruntun itu, dia pun belum tahu namanya.”

“Guru tidak pernah memberi tahu namanya pada saya.”

“Kalau kalian ingin tahu, dua belas jenis pukulan itu merupakan bagian pertama dari jurus Naga Puspa.”

“Kedengarannya asing nama itu, Guru?” sahut Wirot dengan nada ingin tahu. Ia mengerutkan dahinya.

“Ya. Memang kedengarannya asing, karena hampir tak ada orang yang mengetahui rahasia ini. Bahkan Paman tahu siapa mereka yang mengenalnya,” jelas lelaki tua itu pada muridnya.

“Tapi Guru pernah mengatakan bahwa jurus itu sangat terkenal di kalangan para pendekar,” tukas Wirot.

“Ya, tapi mereka hanya mengenalnya dengan nama pukulan dua belas jurus.”

“Mengapa hanya dua belas jurus, Paman?” tanya Arya Kamandanu.

“Sebenarnya jurus Naga Puspa terdiri dari tiga puluh lima jurus. Tiga puluh lima jurus ini dibagi menjadi tiga tahap pelajaran. Dua belas jurus yang pertama adalah tahap awal atau tahap pertama. Isinya hanya olah kanuragan dalam tata lahirnya saja. Bagaimana cara menendang dengan kaki kiri dan bergantian dengan kaki kanan, bagaimana cara menggunakan sikut, lutut kiri kanan, kepalan tangan, telapak kaki untuk menyerang ataupun bertahan. Wirot sudah mahir sekali menggunakan kedua belas jurus itu, walaupun kecepatan geraknya masih perlu ditambah lagi.”

“Lalu tahap berikutnya, Paman?” tanya Arya Kamandanu.

“Tahap berikutnya merupakan pelajaran yang lebih berat dan rumit. Tahap kedua ini terdiri dari sebelas jurus yang memerlukan persyaratan istimewa bagi orang yang ingin menguasainya.”

“Persyaratan apa, Guru?” tanya Wirot penasaran.

“Orang itu harus lebih dulu menguasai ilmu meringankan tubuh atau bisa juga disebut Aji Seipi Angin.”

“Mengapa harus memerlukan persyaratan itu, Paman?” tanya Arya Kamandanu sambil mengubah posisi duduk nya.

“Karena untuk memainkan sebelas jurus itu dibutuhkan kecepatan gerak seperti angin. Kecepatan gerak seperti itu tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa yang keberatan membawa tubuhnya sendiri.”

“Bagaimana dengan Aji Seipi Angin itu, Paman? Apakah susah mempelajarinya?” tanya Arya Kamandanu penuh rasa ingin tahu.

“Dengan kemauan yang keras, tekad membaja, tak ada pelajaran yang susah di muka bumi ini. Untuk bisa menguasai Aji Seipi Angin dibutuhkan latihan pernapasan dan pemusatan pikiran. Ada satu cara yang sangat jitu untuk melatih kedua hal tersebut. Besok malam aku akan memberikan cara itu, untuk kalian coba latih dengan baik.”

Setelah memberikan nasihat dan petuah secara panjang lebar, kedua murid itu diminta untuk membaringkan badan di lantai gua dengan mata terpejam. Mereka harus melakukan pernapasan dalam. Pernapasan dalam ialah menghirup udara melalui hidung. Setelah itu mereka harus menyimpan udara dengan beberapa kali hitungan.

Kemudian mengembuskannya perlahan-lahan dikeluar-kan melalui hidung tanpa mengeluarkan suara dengus dan desah. Hal itu harus dilakukannya berulang-ulang. Setiap kali mereka mengembuskan napas harus penuh ucapan syukur pada Yang Mahakuasa.

Malam berikutnya Arya Kamandanu datang lebih awal dari malam-malam sebelumnya. Wirot dan Mpu Ranubhaya sudah menunggu di halaman depan gua.

Kali ini malam terasa lebih menyeramkan. Dada Arya Kamandanu berdebar kencang ketika Mpu Ranubhaya menyuruhnya duduk di atas tumpukan jerami kering.

Pemuda itu diminta untuk memusatkan hati dan pikiran agar bisa berlatih secara total.

Keduanya mengikuti seluruh perintah Mpu Ranubhaya yang berdiri tegak bagaikan patung. Hanya bibirnya yang tampak bergetar dan bergerak-gerak setiap memberi aba-aba pada kedua muridnya.

Getaran-getaran suaranya bergema menggaung pada dinding-dinding karang di seputar gua batu payung. Suaranya agak serak dan parau namun penuh kewibawaan seorang yang memiliki karisma.

“Nah, kalian sudah siap?”

“Sudah, Guru.”

“Sudah, Paman.”

“Aji Seipi Angin ini dulu pernah diajarkan oleh almarhum guruku yang bernama Mpu Sasi. Beliau tidak pernah bepergian naik kuda atau kereta, tapi beliau selalu sampai di tempat yang dituju lebih awal dari teman-temannya. Hal itu karena beliau berjalan dengan menggunakan kemampuan ilmu tersebut. Kamandanu dan kau Wirot Tiga hari yang lalu aku menyuruh agar kalian tidak tidur barang sekejap mata pun. Apa kalian sudah  mematuhinya?”

“Sudah, Paman.”

“Sudah, Guru.”

“Sekarang ini kalian tentu mengantuk sekali.”

“Ehh, ya tentu saja, Paman. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur walaupun mata rasanya seperti dibubuhi tumbukan cabe rawit saking pedasnya.” jawab Arya Kamandanu sambil mengerjapkan matanya.

“Kalian tentu malas berlatih malam ini. Sungguh nyaman sekali rasanya untuk tidur dalam keadaan kantuk seperti ini. Nah, marilah ikut aku.”

“Ke mana, Guru?” tanya Wirot penasaran.

“Ke tempat tidur,” jawab Mpu Ranubhaya seraya membalikkan tubuhnya menuju suatu tempat. Langkah-langkahnya diikuti Wirot dan Arya Kamandanu yang sesekali saling berpandangan tak mengerti apa yang dikehendaki oleh gurunya yang dianggap aneh sekali.

Mereka menuju suatu tempat agak jauh di balik gua batu payung di mana selama ini mereka berlatih dan digembleng.

Tempat itu sunyi sekali. Kegelapan menyelimuti tempat yang ditumbuhi oleh semak belukar dan bambu petung.

Suara burung malam membuat bulu kuduk berdiri. Suaranya ditingkahi kepak sayap kelelawar dan jeritan suaranya yang mencericit bercengkerama dengan pasangannya. Di tempat itulah lelaki tua itu berhenti dan membalikkan tubuh memandang kedua muridnya yang sejak tadi hanya menunggu dengan diam.

“Bagi mereka yang tidak sedang belajar olah kanuragan, tempat tidur yang nyaman adalah sebuah kasur yang

empuk, uang dipasang di atas ranjang kayu jati berukir. Tapi bagi mereka yang ingin menguasai ilmu Seipi Angin, tempat tidur yang paling baik adalah sebatang petung, yang tingginya melebihi pohon kelapa.”

“Ehh, maksud Guru?” tanya Wirot dengan dahi beranyam kerutan.

Tetapi lelaki tua itu tidak segera menjawab. Hanya desah napas dan kepalanya yang mengangguk-angguk. Bibirnya menyungging senyuman dan matanya menyipit.

Pandangannya beralih pada sebatang pohon bambu petung yang sudah tua dan setinggi pohon kelapa.

“Maksudku pergunakanlah sebatang bambu ini untuk tidur malam ini. Hmmh, masih belum jelas? Kalian berdua naik ke atas pohon bambu ini, sampai ke ujungnya yang paling tinggi. Nah, peluklah batang pohon bambu itu sambil berusahalah untuk tidur di atas sana.”

“Oh. Bagaimana… bagaimana itu mungkin, Guru?” tanya Wirot dengan nada cemas dan mohon pengertian.

Kemudian lelaki tua itu memandang Wirot sangat tajam.

“Tak ada yang tak mungkin. Kalian coba saja dulu apa yang kukatakai ini. Kalau tak ingin jatuh, kalian tak boleh tidur terlalu lelap. Bagaimana, Kamandanu? Apalagi yang kau tunggu?”

“Ehh, ba… aaiklah, Paman. Saya akan menuruti perintah Paman Ranubhaya. Saya akan tidur di atas pucuk pohon

bambu ini.”

Kemudian tanpa ragu-ragu lagi Arya Kamandanu merayap menaiki sebatang bambu petung yang cukup besar. Ia memanjat bagai seekor monyet. Cepat dan trengginas. Kedua tangannya mencengkeram batang bambu, sedangkan kedua ujung jemari kakinya memanjat batang bambu itu jika tidak ingin terpeleset.

Sebaliknya Wirot masih bimbang.

Sejenak lamanya ia hanya diam mematung, terpaku memandang Arya Kamandanu yang sudah hampir mencapai pucuk petung.

Terdengar suara kerusek dan kerosak setiap kali tubuh Arya Kamandanu menyentuh daun-daun bambu itu. Ketika Arya Kamandanu sudah mencapai pucuk pohon petung itu, barulah Wirot perlahan-lahan memanjat pohon bambu petung itu. Berkali-kali ia berdecak kesal. Ia sama sekali belum mengerti apa yang dikehendaki Mpu Ranubhaya memintanya tidur di pucuk bambu. Untuk kesekian kalinya ia menganggap gurunya sangat aneh.

Pada pucuk pohon bambu petung itu, Arya Kamandanu mulai merasakan kantuk serta angin malam membuatnya cukup menggigil. Ia belum bisa memejamkan mata.

Hatinya semakin cemas dan berdebar-debar ketika matanya terbuka dan memandang ke bawah. Tetapi ia berusaha untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya

Demikian halnya dengan apa yang dialami oleh Wirot.

Jejaka tua itu tubuhnya sangat menggigil oleh kedinginan dan rasa cemas.

Keringat dinginnya mengalir dan membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar ketakutan sekali ketika kembali memandang ke bawah.

“Ohh, tinggi juga batang bambu ini. Oh, kalau jatuh ke bawah sana bisa remuk tulang-tulangku Apa maksud Guru memberi pelajaran seperti ini? Jangan-jangan Guru hanya main-main. Soalnya aku tahu watak guruku. Di samping suka angin-anginan, dia juga senang bercanda, senang bermain-main.”

Wirot menguap lebar karena kantuk menguasainya. Tapi ia tidak mungkin bisa tidur dengan cara seperti monyet di atas pohon. Ia juga merasakan kedua kakinya sudah kaku karena takut. Ia tak merasakan apa-apa lagi. Keringat dingin sudah membasahi pakaiannya. Ia makin cemas, takut dan khawatir jika jatuh. Ia ragu jika bisa bertahan di atas pohon sampai pagi. Ia mulai menggigil.

“Saya tidak sanggup. Saya, saya masih mau hidup.”

Wirot merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir, membasahi paha dan celananya. Sekujur tubuhnya benar-benar menggigil. Sedikit pun ia tidak bisa memicingkan matanya sekalipun perasaan mengantuk luar biasa menyerangnya. Bahkan ia tidak ada niat melanjutkan lakunya untuk mempelajari apa yang diajarkan gurunya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk turun. Ia tidak mempedulikan petunjuk gurunya yang kini tak ada di bawah. Wirot benar-benar semakin jengkel pada Mpu Ranubhaya. Napasnya terengah-engah saat kakinya menginjak tanah. Ia menghela napas sedalam-dalamnya kemudian dihempaskannya napas itu dengan menggelembungkan kedua pipinya. Kedua tangannya mengurut dada, kepalanya menggeleng-geleng dan rasa pening mulai merayapi keningnya. Jejaka tua itu sesaat memandang ke arah Arya Kamandanu yang kelihatan berusaha tidur di pucuk pohon bambu petung. Ia tersenyum karena pemuda itu pun kelihatan gelisah.

Wirot akhirnya melangkahkan kakinya menuju dalam gua setelah mengibas-ngibaskan pakaiannya yang berbau pesing. Ia yakin gurunya diam di dalam gua untuk bersemadi.

Suasana di dalam gua batu payung itu sangat gelap gulita. Pelita minyak yang biasa tergantung di dinding sudut gua tidak menyala. Wirot yakin, bahwa gurunya sengaja mematikan pelita itu untuk mendukung suasana semadinya.

Suara tetes-tetes air terdengar mengerikan dalam pendengaran Wirot. Baru saja ia akan membaringkan tubuhnya pada sebuah lempengan batu pipih selebar meja yang terdapat dalam ruangan gua itu, ia sangat terkejut.

Terdengar suara gurunya menegurnya. “Bagaimana, Wirot? Mengapa kau turun? Apakah kau sudah tidur terlelap di atas tempat tidurmu?”

“Ehh, ampun Guru. Saya tidak sanggup.”

“Ahh, Wirot. Kau adalah satu-satunya muridku yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri Sekarang aku tahu, mengapa aku tidak mewariskan ilmu yang lebih tinggi selain pukulan dua belas jurus.”

“Mungkin, mungkin Guru menganggap saya kurang berbakat.”

“Yah. Ilmu yang tinggi harus diimbangi dengan wadah yang memadai. Sebab kalau tidak, orang yang bersangkutan bisa menjadi korban ilmu tersebut. Ilmu tidak bisa dipaksakan. Di samping itu ilmu cocok-cocokan dengan orangnya.”

“Ehh, maaf, Guru. Saya masih belum mengerti mengenai Aji Seipi Angin ini. Ehh, maksud saya, mengapa harus melalui tidur di atas pohon bambu segala? Apa hubungannya dengan meringankan tubuh?”

“Dengan kata lain, kau masih meragukan apa yang kukatakan? Nah, mari ikutlah aku. Kau nanti akan melihat sendiri, bagaimana ampuhnya kekuatan yang ditimbulkan dalam diri manusia, yang mampu mengatasi ujian berat di atas pucuk pohon bambu.”

Kemudian lelaki tua itu bangkit tanpa memperhatikan lagi Wirot yang meringis karena risih dengan celananya yang basah kuyup oleh keringat dingin dan air kencing.

Mpu Ranubhaya yang sudah terlatih dengan suasana kegelapan dalam gua itu melangkah dengan tenangnya. Ia lalu membawa Wirot ke tempat di mana Arya Kamandanu masih tergantung di atas pucuk pohon bambu.

Dari bawah tampak Arya Kamandanu bagaikan seekor kalong yang besar, yang terperangkap jaring seorang pemburu.

Malam semakin mencekam. Gemerisik angin yang mendera daun-daun bambu terdengar bagaikan tangisan hantu-hantu malam.

Wirot mengikuti gurunya ketika lelaki tua itu memandang ke pucuk bambu petung di mana Arya Kamandanu masih menggelantung di sana.

“Ohh, luar biasa Angger Kamandanu. Dia masih mampu bertahan di pucuk pohon bambu,” gumam Mpu Ranubhaya seperti pada diri sendiri. Lalu ia memandang Wirot yang berdiri seperti tikus di depan kucing.

“Ketahuilah, Wirot! Anak Hanggareksa ini mempunyai bakat besar di dalam hal olah kanuragan “

“Saya khawatir dia nanti terjatuh, Guru. Saya sendiri merasakan betapa beratnya ujian ini. Kaki saya sampai kehilangan rasa, tangan-tangan saya seperti kejang!”

“Sudahlah, Wirot. Nanti akan kausaksikan sendiri sebuah tontonan keajaiban yang langka. Tapi kalau kau sekarang ingin tidur, tentu kau tak akan melihatnya.”

Kemudian lelaki tua itu membisu seribu bahasa sambil memandang Arya Kamandanu yang menggelantung di pucuk pohon bambu.

Wirot yang memandang pun merasa merinding bulu kuduknya karena ia sendiri tidak kuat menahan ujian yang sangat berat seperti itu.

Terdengar kerusek dan kerosak binatang malam mendera dan menyibak dedaunan bambu disusul dengan suaranya yang menyayat mengerikan.’Hal itu mengejutkan Arya Kamandanu yang berusaha mati-matian memerangi kekejangan kaki dan tangannya. Tangan dan kakinya semutan dan benar-benar mati rasa. Ia pun merintih sambil perlahan membuka kelopak matanya.

“Ohh, kakiku… kakiku sudah mengejang semuanya. Mengejang sampai ke jari-jari kaki Ohh… apakah aku akan bisa lulus dari ujian berat ini? Bagaimana kalau aku sampai terlelap? Tentu tubuhku akan hancur berantakan di bawah sana.”

Mata Arya Kamandanu sudah terasa berat dan pedih. Matanya ingin menutup saja. Berat sekali ia rasakan membuka kelopak mata. Ia menggigil dan tubuhnya gemetar.

Bagaimanapun juga Arya Kamandanu mencoba untuk bertahan, akhirnya terlena juga. Seperti terkena panah Aji Sirep yang dahsyat, mendadak Arya Kamandanu merasa terlelap, dengan kelopak matanya tetap terbuka, tapi kedua belah tangannya terlepas. Tubuhnya terperosok seiring bunyi kerosak panjang. Tubuh pemuda itu melayang-layang di udara sebelum akhirnya terhempas dan tercampak di semak belukar dan tanaman liar.

Wirot matanya melotot penuh kecemasan lalu ia berlari menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak. Mulutnya setengah menganga sambil memekik memanggil Mpu Ranubhaya yang belum bergeming dari tempatnya berdiri.

“Guru, Guru, bagaimana dengan Angger Kamandanu?!” serunya dengan suara parau karena cemas dan ketakutan.

Categories:

Tags:

Comments are closed