SEMENTARA itu, Wirot yang berada di bawah bersama Mpu Ranubhaya melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ke bawah.

Wirot cemas dan panik sekali, hingga ia berteriak histeris, “Ohh, Guru… lihat Angger Kamandanu!”

“Diamlah, Wirot! Jangan bersuara apa-apa.”

“Tapi, Guru.”

“Diam kataku!” suara Mpu Ranubhaya berat dan sangat dalam tanpa memandang muridnya yang sangat cemas melihat Arya Kamandanu melayang, meluncur dari pucuk bambu petung. Meluncur makin lama makin deras dan membuat Wirot menutup kedua mata dengan kedua tangannya.

Suasana malam kian mencekam, suara jeng-kerik, kelelawar dan serangga malam terdengar merintih-rintih meningkahi lolongan anjing liar dan burung hantu yang terus bersahut-sahutan.

Beberapa saat lamanya lelaki tua itu tetap berdiri pada tempatnya sambil memperhatikan Arya Kamandanu. Wirot ternganga keheranan ketika kedua tangannya dia buka dan melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ringan ke bawah. Terasa lama tubuh itu mencapai tanah yang banyak ditumbuhi tanaman liar. Wirot tidak berani berbuat apa-apa karena gurunya masih berdiri tenang di sampingnya. Karena terlalu lama Mpu Ranubhaya membiarkan tubuh Arya Kamandanu akhirnya jejaka tua itu berpaling pada gurunya.

“Ohh, Guru! Angger Kamandanu tidak apa-apa. Ya, tidak apa-apa? Tubuhnya masih utuh.”

“Tentu saja tidak apa-apa, Wirot. Kau tentu heran bukan? Mari kita tolong Kamandanu keluar dari semak belukar itu, dan nanti semuanya akan kujelaskan pada kalian.”

Kemudian kedua lelaki itu menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak liar.

Arya Kamandanu masih dalam keadaan tak sadarkan diri.

Wirot yang lebih muda memegang bagian dada dan leher, sedangkan Mpu Ranubhaya menopang kedua paha Arya Kamandanu. Mereka menggotong tubuh pemuda itu ke dalam gua. Napas mereka terengah-engah mengangkat beban tubuh Arya Kamandanu yang cukup berat. Keringat bercucuran di pelipis kedua lelaki itu. Setelah sampai di dalam gua, tubuh pemuda itu dibaringkan di atas lempengan batu yang senantiasa dipergunakan untuk semadi Mpu Ranubhaya.

Wirot mengusap keringat yang mengembun di hidung dan dahinya.

Mpu Ranubhaya tersenyum memandang sekilas pada Wirot yang masih kelihatan heran.

Sejenak mereka saling berpandangan di bawah penerangan pelita minyak jarak yang tergantung di sisi dinding gua. Cahaya itu sesekali berkedip-kedip ditiup angin yang masuk dari mulut gua.

Kelelawar-kelelawar juga saling menjerit setiap kali terbang berpasangan dengan sesamanya. Suaranya menggema di dalam gua meningkahi tetes-tetes air yang selalu jatuh dari langit-langit gua.

Wirot melangkah mendekati Arya Kamandanu ketika ia melihat pemuda itu perlahan membuka matanya dan perlahan-lahan menggerakkan kedua tangannya, mengusap kedua matanya dengan punggung tangan kanannya seperti seorang yang baru saja bangun tidur. Wirot berjongkok dan berbisik pada pemuda itu tanpa menghiraukan gurunya yang duduk bersila di samping kanan tempat Arya Kamandanu berbaring.

“Jadi, Angger Kamandanu tidak sadar begitu melayang dari atas pucuk bambu?”

Arya Kamandanu tidak segera menjawab pertanyaan Wirot. Ia hanya tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya, bertopang pada kedua tangannya dan condong ke belakang. Ia mendesah, mengembuskan napas dengan menggelembungkan pipinya. Matanya yang bersinar cemerlang itu mengerjap-ngerjap. Alisnya tebal menaungi bola matanya. Dalam sekali ia menghela napas serta menyimpannya di perut. Mendesah lirih sebelum akhirnya  menjawab pertanyaan Wirot.

“Boleh dikatakan setengah sadar, Paman Wirot. Antara sadar dan tidak. Saya sudah pasrah. Sudah masa bodoh,” jawab pemuda itu tenang dan sangat dalam.

Hal itu membuat Mpu Ranubhaya yang duduk setengah tombak di samping kanan Arya Kamandanu harus menjelaskan tentang ajian Seipi Angin kepada mereka.

Lelaki tua itu memperhatikan kedua muridnya sebelum akhirnya membuka bibirnya yang hitam dan mengeriput.

“Di situlah letak rahasianya. Antara sadar dan tidak, dalam bahasa orang-orang tua disebut lali eling pewatesane. Nah, dalam keadaan seperti itu tubuh manusia akan kehilangan bobotnya. Semakin orang itu menguasai ilmu Seipi Angin ini, semakin banyak kehilangan bobot tubuhnya. Maka tidak heran kalau ada orang berilmu tinggi mampu menyeberangi sungai atau pun masuk dalam kobaran api, tanpa sedikit pun mempengaruhi keadaan tubuhnya. Apa yang telah dialami Kamandanu merupakan bukti nyata dari apa yang telah kuajarkan ini.”

“Nah, apakah sekarang kau masih meragukannya, Wirot?” Wirot menjadi sedikit gugup dan menunduk ketika gurunya memandangnya sambil tersenyum dingin.

“Ehh, tidak, Guru. Sekarang saya baru benar-benar meyakininya,” jawabnya dengan nada diyakin-yakinkan hingga terdengar dibuat-buat. Kembali Mpu Ranubhaya memandang kedua muridnya berganti-ganti. Lelaki tua itu selalu tersenyum dan sesekali mengangguk-angguk sebelum akhirnya melanjutkan kembali penjelasannya.

“Di dalam dunia kependekaran, ilmu meringankan tubuh seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Setiap calon pendekar yang ingin menempuh pelajaran kanuragan tingkat tinggi, mau tidak mau harus melewati tahap ini.”

“Apakah tidak ada cara lain selain tidur di,atas pohon bambu, Paman?” tanya Arya Kamandanu lirih.

“Ada. Tapi cara ini membutuhkan waktu yang agak lama. Wirot bisa menggunakan cara ini, karena hati dan kepercayaannya masih setengah-setengah.”

Lelaki tua itu kemudian bangkit, melangkah beberapa tindak ke sudut gua, meraih sebutir kelapa yang ada di dekatnya, kembali duduk di tempat semula, lalu menimang buah kelapa itu dan mengayun-ayunkan dengan tangan kanannya.

“Lihat, apa yang ada di tanganku ini?” tanyanya pada kedua muridnya.

“Buah kelapa, Paman,” jawab Arya Kamandanu mantap.

“Ya. Buah kelapa. Kau bisa mengganti alas tidurmu dengan buah kelapa, Wirot.”

“Ehh, maksud Guru?”

“Begini, ambillah buah kelapa seperti ini tujuh biji. Kemudian letakkan berjajar di tanah dan pergunakanlah untuk alas tidurmu setiap malam.”

“Setiap malam? Sampai kapan, Guru?” tanya Wirot.

“Sampai kau mengalami suatu keadaan seperti yang telah dialami Kamandanu baru saja tadi. Suatu keadaan antara sadar dan tidak.”

“Hmm, baiklah. Saya akan mulai mencobanya, Guru,” jawab Wirot dengan bersemangat. Kedua tangannya terjalin dan meremas-remas. Ia benar-benar tergugah untuk mengikuti petunjuk gurunya. Sementara Arya Kamandanu turut senang mendengar pernyataan Wirot. Kemudian ia ingin mengerti apa yang harus dilakukannya setelah berhasil menjalani ujian tidur di pucuk bambu petung.

Pemuda itu bersungguh-sungguh.

“Lalu bagaimana dengan saya, Paman?”

“Kau boleh meneruskan berlatih tidur di atas pucuk bambu. Cara seperti ini cocok untukmu. Kau mempunyai keberanian dan tekad yang besar. Cara seperti yang dipakai Wirot boleh juga kau gunakan, sekedar untuk melatih pintu kesadaranmu.”

“Baik, Paman. Saya akan mengerjakan semua petunjuk Paman Ranubhaya.”

Sejak saat itu, setelah keduanya mendapat petunjuk Mpu Ranubhaya maka Wirot dan Arya Kamandanu semakin bersungguh-sungguh mempelajari olah kanuragan. Tak ada sedikit pun waktu dibiarkan percuma. Mereka berlatih sangat keras hingga jauh malam. Bahkan karena terlalu asyik dengan latihan-latihan itu keduanya semakin akrab dengan suasana malam di sekitar gua batu payung yang telah lama dipergunakan Mpu Ranubhaya sebagai sanggar pamujan pribadinya.

Memang benar apa yang dikatakan Mpu Ranubhaya.

Arya Kamandanu diam-diam ternyata mempunyai bakat besar untuk mendalami ilmu kanuragan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, hanya empat belas hari dia mengalami kemajuan yang amat pesat dibanding Wirot.

Suatu malam, ketika baru saja kembali dari gua di mana biasanya berlatih dengan Mpu Ranubhaya, Arya Kamandanu berjalan mengendap-endap mendekati jendela kamarnya. Selama ini memang dia selalu pergi diam-diam dari rumahnya, dan tak seorang pun mengetahuinya. Pada saat kakinya menapak di atas batu-batuan halaman rumahnya, mendadak telinganya mendengar suara ayahnya membentak dari arah serambi depan.

“Haaaaiii… siapa itu? Awas, jangan lariiii…!”

Mpu Hanggareksa dengan cepat melompat dan berusaha mengejar bayangan seseorang yang melintas di pekarangan rumahnya. Setiap saat langkahnya terhenti. Pandangannya menyapu ke dalam kegelapan. Dahinya beranyam kerutan, matanya melotot dan lehernya terjulur seperti leher penyu yang mencari mangsa.

Sebaliknya, Arya Kamandanu masih berjingkat-jingkat dan merunduk di antara semak dan bunga ganyong di samping rumahnya. Sejenak lamanya ia merunduk dengan hati berdebar-debar. Denyut jantungnya semakin menggemuruh karena khawatir ayahnya mengetahuinya.

Lehernya menjulur seperti leher seekor ular yang melongok di antara rumpun ganyong dan kelerut. Ketika ia melihat ayahnya semakin mendekati tempat persembunyiannya ia semakin merunduk tanpa bergerak sambil menahan napas.

Mengetahui Mpu Hanggareksa terus memburu bayangannya, Arya Kamandanu ingin menghilangkan jejak. Ia tak ingin ayahnya marah sekali jika mendapatkannya.

“Aku harus bersembunyi di atas pohon Itu. Huuupph…” pemuda itu sekarang bertengger di atas pohon sawo seperti seekor kera. Ia beruntung karena dengan ajian Seipi Angin dapat mencapai dahan pohon sawo tanpa menimbulkan suara berisik.

Mpu Hanggareksa sang ayah masih celingukan. Menoleh ke kanan dan ke kiri, berbalik ke belakang dan menyamping. Kemudian lelaki tua itu melangkah kembali dengan pandangan tajam. Beberapa kali ia mendengus dan menghempaskan napas kesal. Ia kehilangan jejak.

Sementara Arya Kamandanu enak-enak duduk di dahan pohon sawo, tetapi pemuda itu kembali cemas dan berdebar-debar ketika ayahnya semakin mendekati pohon sawo tempat persembunyiannya.

Arya Kamandanu menahan napas, menggigit bibir sambil memanjatkan doa agar ayahnya tidak menengok ke atas. Mpu Hanggareksa berhenti tepat di bawah pohon sawo cukup lama sambil mengawasi segala arah.

“Kurang ajar! Mau apa orang itu datang ke rumahku? Pasti pencuri barang-barang pusaka. Dan agaknya maling itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan. Kalau hanya orang biasa-biasa saja pasti sudah kuringkus batang hidungnya. Huuuhhh!”

Kesal sekali lelaki tua itu karena benar-benar kehilangan jejak. Dengan menghentakkan kaki kanannya ia kembali ke halaman depan rumah. Sebilah pedang yang terselip di pinggangnya masih digenggam erat-erat gagangnya.

Melihat kesempatan bagus itu Arya kamandanu segera melesat dari atas pohon menuju samping rumah tepat di dekat kamarnya. Cepat sekali ia membuka jendela dan melompat ke kamarnya Perlahan sekali daun jendela itu ditutup seperti semula tanpa menimbulkan suara. Dengan berjingkat ia menuju pembaringannya dan segera meringkuk di bawah selimut.

“Nah, aman sekarang. Untung aku bisa tiba lebih cepat di kamarku. Kalau tidak, pasti Ayah akan tahu apa yang kulakukan selama ini setiap malam. Dia pasti akan marah sekali. Apalagi kalau ayah tahu bahwa aku belajar kanuragan dari Paman Ranubhaya.”

Begitu ia mendengar suara langkah menuju kamarnya, Arya Kamandanu berpura-pura tidur. Dengan menahan geli pemuda itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Bahkan napasnya diatur sehalus mungkin agar tidak mendengkur.

Di luar kamarnya ia mendengarkan langkah-langkah semakin dekat. Bahkan pintu kamarnya diketuk-ketuk seseorang dari luar. Ketukan pintu menggema di seluruh kamarnya. Pengetuk pintu kamarnya terdengar memanggil-manggil namanya, lirih dan hati-hati sekali. Suara itu berat dan dalam.

“Kamandanu! Buka pintunya! Buka pintu, Kamandanu!”

Arya Kamandanu pura-pura menguap, bangkit perlahan sambil tetap berkerudung selimut yang semampir di pundaknya. Pemuda itu melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya perlahan. Kancing pintu yang terbuat dari dolog, yaitu kayu jati muda sebesar lengan sepanjang dua jengkal yang dihaluskan terlebih dahulu itu diangkat dan diletakkan di balik daun pintu.

Arya Kamandanu mengerutkan dahinya setelah melihat ayahnya dengan pandangan serius.

“Kamandanu, kau tidak mendengar suara apa-apa?”

“Ehh, tidak, Ayah.”

“Baru saja tadi ada suara ribut dan kau tidak mendengarnya?”

“Ehh, tidak, Ayah. Saya tidur pulas sekali.”

“Huuhh! Kau sudah menjadi penidur sekarang. Kalau ada suara gempa bumi apa kau juga tidak mau bangun?”

“Saya, saya lelah, Ayah. Karena itu saya tidur pulas. Ehh, memang ada apa, Ayah?”

“Ada orang mengintip kamarmu. Mungkin dia pencuri!”

“Pencuri? Kalau begitu mari kita tangkap, Ayah.”

“Jangan bodoh! Pencuri itu sudah tak ada di sini lagi. Dia sudah kabur.”

“Kita bisa mengejarnya, Ayah. Mungkin dia belum lari jauh dari rumah kita ini.”

“Sudahlah. Baru saja kau bangun tidur, bagaimana mau mengejar pencuri? Lagi pula pencuri itu bukan pencuri sembarangan. Dia agaknya menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup baik. Nah, sudahlah? Mulai sekarang kita harus hati-hati. Mungkin ada orang-orang yang mengincar benda-benda pusaka yang kita miliki. Kalau tidur jangan lupa menutup jendela dan mengunci pintu kamarmu “

“Baik, Ayah.”

“Nah, teruskan tidurmu.” Mpu Hanggareksa pun meninggalkan putra bungsunya dengan hati kesal. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah menjadi ahli senjata Singasari. Dalam hati kecilnya berkecamuk perasaan curiga pada saudara seperguruannya yang selama ini menentang kehendaknya mengabdi pada pemerintahan Singasari. Tak sabar dengan perasaan hatinya yang sangat kesal dan resah maka lelaki tua itu segera bersidekap, memejamkan mata. Semakin lama ia rasakan pusarnya dingin sekali. Rasa dingin itu segera menyebar ke seluruh jaringan darah. Kemudian ia rasakan tubuhnya menjadi ringan sekali. Itulah ajian Seipi Angin.

Malam itu juga ia berangkat ke gua batu payung tempat saudara seperguruannya tinggal. Dengan ajian Seipi Angin itu Mpu Hanggareksa segera melompat dan melesat lenyap ditelan kegelapan malam.

Lelaki tua itu akhirnya sampai di depan mulut gua batu payung yang tampak angker. Mulut gua itu menganga bagaikan mulut naga yang memamerkan taring-taringnya.

Tanpa ragu-ragu Mpu Hanggareksa memasuki mulut gua yang berhias stalagtit dan stalagnit. Ia merunduk dan hatihati melangkahkan kakinya pada dasar gua yang licin.

Tetes-tetes air dari langit-langit gua semakin jelas menggema. Mata kelelawar yang bergelantungan di langit-langit gua tampak berpijar, menyala seperti batu permata.

Dalam gua yang sangat gelap itu hanya berpenerangan pelita yang tergantung di sisi dinding gua.

Mpu Hanggareksa melihat saudara seperguruannya duduk bersila sambil menggores-goreskan patrem pada sebuah lempengan batu pipih. Lelaki tua berpakaian compang-camping itu seolah-olah tidak tahu kehadiran seseorang yang sudah berada di sampingnya. Bahkan berjalan dan melangkah di depannya. Mpu Hanggareksa bersabar menunggu kakak seperguruannya tetap sibuk.

Namun setelah beberapa saat lamanya ia dibiarkan seperti itu maka pertentangan batinnya tak mampu dikendalikanlagi.

“Kakang Ranubhaya! Aku mengenal desa Kurawan ini seperti aku mengenal jari-jari tanganku sendiri. Aku tahu, tak seorang pun orang desa ini yang mempunyai ilmu meringankan tubuh kecuali kita berdua.”

Mendengar kata-kata adik seperguruannya mau tidak mau Mpu Ranubhaya menghentikan pekerjaannya. Ia pandang adik seperguruannya dengan mata berpijar.

“Jadi, kau mencurigai aku, Hanggareksa?” suara itu terdengar parau, serak berat. Hati lelaki tua itu sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Adik seperguruannya datang dengan prasangka buruk.

“Aku hanya sekadar ingin tahu saja. Kalau memang Kakang Ranubhaya, aku ingin tahu apa maksudmu mengunjungi rumahku di tengah malam buta?”

“Aku memang tidak mempunyai alasan untuk berkunjung ke rumahmu. Aku sendiri sibuk. Banyak yang harus ku kerjakan.”

“Kalau begitu baiklah! Maafkan aku. Mungkin orang dari desa yang jauh.”

“Hanggareksa! Sekarang ini kau sudah menjadi orang kaya dan ternama. Kukira wajar kalau ada satu dua orang bermaksud singgah di rumahmu tatkala kau sedang tidur. Ini yang perlu kau ingat.”

“Terima kasih atas peringatanmu.” Untuk kesekian kali Mpu Hanggareksa kecewa karena tidak tahu siapa yang datang ke rumahnya malam itu.

Ia segera pamit pada Mpu Ranubhaya yang memandangnya dengan tatapan dingin. Mpu Ranubhaya menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang punggung Mpu Hanggareksa yang semakin lenyap di dalam gelap lorong gua itu.

“Alangkah piciknya seseorang yang telah mabuk harta benda, mabuk kehormatan dan mabuk keinginan inderawi,” bisik hatinya menyesali sikap dan sifat adik seperguruannya yang kini benar-benar berubah.

Pada malam yang lain, ketika Arya Kamandanu kembali belajar olah kanuragan pada Mpu Ranubhaya, ia menyampaikan apa yang dialaminya pada gurunya.

Mpu Ranubhaya mendengarkan dengan saksama dan pura-pura belum mengerti, bahkan ia menyimpan rapi perihal Hanggareksa yang datang padanya dengan pikiran buruk.

“Wah! Kalau begitu Angger Kamandanu sudah maju dengan pesat, sampai ayahanda sendiri tidak mampu menangkap.” Wirot yang ikut mendengarkan penuturan

Kamandanu berkomentar kagum. Arya Kamandanu menghela napas, memandang gurunya dan beralih pada Wirot yang mengangguk-angguk.

“Kalau tidak hati-hati saya bisa tertangkap, Paman Wirot. Karena Ayah juga mempunyai ilmu meringankan tubuh.”

“Memang, Aji Seipi Angin bukanlah sembarang ilmu, walaupun tidak jarang pendekar tingkat tinggi yang memilikinya. Jika seorang pendekar sudah menguasai Seipi Angin dengan sempurna, bulat tanpa cacat celanya, maka dia pun langsung menguasai aji Seipi Banyu dan Seipi Geni,” jelas Mpu Ranubhaya.

“Seipi Banyu dan Seipi Geni?” tanya Wirot dan Kamandanu berbareng.

“Ya. Dengan Seipi Banyu seorang pendekar bisa berjalan di atas air, sedang Seipi Geni membuat si pendekar tidak mempan termakan kobaran api.”

“Wah, luar biasa pendekar yang sudah menguasai ketiga macam ilmu itu,” tukas Arya Kamandanu.

“Menurut sepengetahuanku hanya ada tiga orang manusia yang mempunyai ketiga ilmu itu sekaligus. Pertama adalah Mpu Sasi, guruku sendiri. Kedua adalah Prabu Seminingrat atau Ranggawuni, dan ketiga adalah Mpu Lunggah.”

“Siapa Mpu Lunggah itu, Paman?” tanya Arya Kamandanu sambil membetulkan posisi duduknya.

“Kakak seperguruanku. Tapi sampai sekarang aku tidak pernah tahu tempat tinggalnya. Dia juga seorang pembuat senjata pusaka. Dia murid paling disayangi oleh guruku, Mpu Sasi. Dalam membuat senjata pusaka dia di bawahku, tapi dalam hal kanuragan dia jauh di atasku.”

“Paman Ranubhaya! Ayah sering kali mengatakan bahwa Paman Ranubhaya adalah sahabatnya paling dekat, apakah Paman juga saudara seperguruan dengan Ayah?”

“Apakah ayahmu tidak pernah menceritakannya?”

“Tidak, Paman. Ayah tidak pernah menceritakannya,” jawab Arya Kamandanu sambil memperhatikan Mpu Ranubhaya yang mengerutkan dahinya. Lelaki tua berpakaian compang-camping itu menghela napas dan berkata lirih, “Memang tidak perlu hal itu diceritakan. Tak ada manfaatnya. Lebih baik kau sekarang menekuni ilmu yang kuajarkan berikut ini.” Selesai berkata demikian, Mpu  Ranubhaya langsung bangkit. Ia melompat ke atas sebuah batu padas di sebelah selatan lempengan batu yang selama ini berfungsi sebagai tempat bersemadi.

Wirot dan Arya Kamandanu pun mengikuti langkah gurunya. Mereka berdiri dengan sikap kuda-kuda. Kedua tangan mereka mengepal, dada mereka mengembang saat menghirup napas. Perut kencang membesar ketika menyimpan udara lalu mengembuskannya perlahan-lahan.

Pandangan dan perhatian keduanya tercurah pada gurunya yang bersidekap dengan kedua kaki seolah-olah terpancang di atas padas.

Beberapa gerakan lembut dipertontonkan pada kedua muridnya. Lelaki tua itu bergerak lincah sekali tanpa memperdengarkan suara. Benar-benar luar biasa. Setelah cukup ia pun melepas kedua tangannya ke depan seperti cakar naga dan kembali pada posisi semula. Kedua muridnya mengikutinya dengan saksama.

Mpu Ranubhaya lalu mengadakan persiapan untuk memberikan pelajaran jurus Naga Puspa tahap kedua pada Arya Kamandanu sedangkan Wirot masih diharuskan belajar menguasai dasar-dasar aji Seipi Angin. Arya Kamandanu duduk bersila mendengarkan dengan khidmat.

Lelaki tua itu pun duduk di atas batu padas sambil memandang kedua muridnya. Beberapa saat suasana di dalam gua itu sepi sekali. Hening, hanya napas-napas malam dengan selimut pekatnya berbisik pada ketiga insan yang ingin mendapatkan jatining ngaurip. Kehidupan sejati yang tidak dinodai oleh hawa nafsu dan keinginan keinginan duniawi.

“Tahap kedua jurus Naga Puspa ini terdiri dari sebelas jurus.” Mpu Ranubhaya memulai ajarannya. Suaranya serak dan berat.

“Tiap-tiap jurus mempunyai titik serangan yang berbeda. Jadi, seluruhnya ada sebelas titik serangan yang dijadikan

sasaran. Dahi, pelipis kiri-kanan, mata kiri-kanan, tenggorokan atau pangkal leher, dada, ulu hati, pusar, alat kelamin dan terakhir tengkuk. Titik serangan yang paling berbahaya adalah dahi, pangkal leher, ulu hati, alat kemaluan dan tengkuk. Sebelas jurus itu merupakan serangan berantai, dan harus dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Jika gagal mencapai salah satu titik serangan, maka serangan berikutnya bisa memilih titik serangan yang lain. Dalam hal mempertahankan diri pun kau dapat menggunakan sebelas jurus itu untuk menangkis serangan lawan, sambil ganti menyerang dengan memilih titik sasaran yang paling mudah dicapai. Nah, sekarang berdirilah! Aku akan memberimu contoh.”

“Baik, Paman.” Arya Kamandanu bangkit mengikuti perintah gurunya.

“Buatlah kuda-kuda yang bagus untuk membuka serangan. Kau bisa menggunakan dua belas jurus tahap pertama untuk memukul aku. Siap?”

“Saya siap, Paman,” jawab Arya Kamandanu mantap.

“Sekarang pukullah aku semaumu. Yahh, mulai!”

Kemudian Arya Kamandanu menerjang dan menjotos Mpu Ranubhaya dengan sasaran ulu hati. Tapi buru-buru Mpu Ranubhaya menghentikan tindakan pemuda itu. Lelaki itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamandanu! Jangan sungkan-sungkan memukulku! Ayo, mulai lagi.”

“Ya, Paman. Tapi… tapi…”

“Tapi apa? Kau pikir karena aku sudah tua bangka begini, maka kau merasa mampu menandingi kelincahanku? Ayo pukullah aku! Lebih cepat lebih baik.”

“Baik, Paman. Tapi sebelumnya saya minta maaf.”

Kembali Arya Kamandanu menyerang Mpu Ranubhaya, kali ini ia lebih sungguh-sungguh. Kedua tangannya berganti-ganti menjotos, mencakar dan mencecar. Kakinya menyepak tinggi-tinggi, lalu dengan gerakan memutar ia berusaha menyarangkan pukulan-pukulannya. Pemuda itu heran sekali karena dengan gerakan-gerakan yang cukup gesit dan lincah gurunya menghindar, melompat, merunduk, bahkan tanpa disadarinya beberapa kali pukulannya bersarang pada tubuhnya. Mpu Ranubhaya melompat mundur untuk memberikan isyarat berhenti.

Arya Kamandanu merunduk memberi hormat dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya sebelum akhirnya berdiri tegak dengan kuda-kuda. Keringatnya berleleran hingga tubuhnya yang padat tampak berkilat-kilat ditimpa cahaya pelita di dinding gua.

Mpu Ranubhaya tersenyum sambil mengatur napasnya yang terengah karena usianya.

“Bagus? Sekarang periksalah tubuhmu. Ada beberapa

titik serangan yang telah kutandai dengan baik oleh jari-jari tanganku ini.”

“Hhh! Dada saya terasa pegal, Paman,” Arya Kamandanu meraba dadanya dengan telapak tangan kirinya.

“Satu. Dadamu sudah terkena serangan.”

“Ehh, perutku terasa agak mual, Paman,” dengan tangan kanannya Arya Kamandanu meraba perutnya.

“Itu berarti pusarmu sudah terkena. Dua!”

“Ahh, ahh…” Arya Kamandanu tiba-tiba jongkok dengan meringis menahan sakit. Gurunya tertawa panjang melihatnya.

“Mengapa kau tiba-tiba jongkok di depanku? Apanya yang terasa sakit, Kamandanu?”

“Ahh, maaf Paman. Anu… eh anu…”

“Naahh, tiga. Alat kelaminmu pun menjadi korban jari-jari tanganku yang nakal ini. Masih ada lagi?”

“Ehh, sepertinya… sepertinya saya agak susah untuk bernapas dan berbicara, Paman. Ehh, ini ada yang menyekat di pangkal leher.”

“Empat. Pangkal lehermu pun ternyata tidak bisa lolos dari gebrakan sebelas jurus ini tadi. Baiklah! Kau istirahat dulu sejenak, supaya sakitmu berkurang dan nanti kita teruskan lagi.”

“Baik, Paman.”

Begitulah setiap malam, di dalam gua itu Arya Kamandanu dan Wirot mendapat gemblengan dari Mpu Ranubhaya secara bergiliran. Bila Arya Kamandanu lelah, Wirot harus menghadapi gurunya untuk meningkatkan kemampuannya berolah kanuragan.

Setiap selesai latihan, dapat dilihat betapa Arya Kamandanu menunjukkan kemajuan yang luar biasa dibandingkan dengan Wirot. Arya Kamandanu selalu mengulangi apa yang baru diajarkan gurunya sehingga jurus demi jurus tampak melekat di benaknya dan dalam waktu singkat ia lebih menguasai jurus Naga Puspa bagian dua.

Pada malam itu, ketika Arya Kamandanu kembali menghadap gurunya di gua batu payung ia benar-benar telah siap berlatih. Namun, Wirot belum tampak hingga Mpu Ranubhaya menanyakan hal itu pada Arya kamandanu, “Di mana pamanmu Wirot?”

“Sepertinya sudah tidur di bawah sana, Paman.”

“Baiklah. Mari kita teruskan. Sekarang tiba giliranmu, Kamandanu. Berdirilah!”

“Baik, Paman.”

“Pergunakanlah Seipi Anginmu ntuk menangkis serangan-seranganku ini.”

“Baik, Paman. Saya siap.” Arya kamandanu segera melompat dan menyiapkan ajian Seipi Angin. Ia bersidekap sambil memejamkan matanya. Ia pusatkan segala hati dan pikirannya. Pusarnya mulai terasa dingin sekali, kemudian rasa dingin itu merayap ke seluruh jaringan nadi darahnya.

Setelah itu, tubuhnya terasa ringan sekali. Pada saat ia benar-benar siap maka ia pun melakukan langkah-langkah zik-zak mundur. Sebaliknya, Mpu Ranubhaya sudah menyiapkan serangan-serangan gencar. Menjotos, mencakar, menotok dan menendang Arya Kamandanu sambil memberi aba-aba.

“Baguuss? Awaaass, mata kirimu! Pusar! Baguuss! Dada! Tenggorokan. Alat kelamin! Dada! Pusar! Pelipis kiri! Dahi! Pelipis kanan! Yahh! Makin cepat! Huupph. Bagus! Terus! Bagus! Awas mata kanan! Tenggorokan, alat kelamin! Terus makin cepat lagi! Makin cepat lagi!”

Arya Kamandanu melompat-lompat seperti bajing, tupai pohon yang pandai menyusuri ranting-ranting. Kadang-kadang menunjukkan gerakan-gerakan yang luar biasa lincahnya. Ia berusaha keras menghindari, menangkis dan membalas serangan gencar gurunya.

Mpu Ranubhaya sangat puas melihat kemajuan Arya Kamandanu. Dalam ruangan gua yang tidak seberapa luasnya itu Mpu Ranubhaya terus melatih Arya Kamandanu sebelas jurus tahap kedua. Dengan tekun dan ulet Arya Kamandanu mengikuti latihan, setelah tujuh hari lamanya berlatih ia memiliki kemampuan di atas rata-rata sebagai calon pendekar. Arya Kamandanu benar-benar berbakat dalam olah kanuragan setelah mendapat latihan berat. Keuletannya sudah tak mampu dihadapi oleh Wirot yang lebih dahulu mempelajari ilmu Naga Puspa, bahkan Mpu Ranubhaya kini kelihatan belepotan dan repot menghadapi muridnya.

“Yah, berhenti! Berhenti dulu!” lelaki tua itu melompat mundur sambil mengangkat kedua tangannya. Napasnya terengah-engah, keringatnya membasahi tubuhnya yang kini menunjukkan garis-garis usianya. Arya Kamandanu masih tenang saat gurunya menatapnya lekat-lekat dengan dada kembang kempis.

“Mengapa berhenti, Paman?”

“Hoohh, jangan sombong! Kau masih muda, tentu saja tenagamu masih besar, cadangan napasmu masih panjang. Sekarang kau bersiap lagi, Kamandanu. Kita akan lanjutkan latihan ini sambil menguji kecepatan dan ketepatan gerakanmu. Kau pasti masih ingat benda ini, bukan?” dengan cepat Mpu Ranubhaya mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya. Ditimang-timangnya benda itu.

Arya Kamandanu mengerutkan dahinya sambil memelototkan matanya karena bayangan masa lalunya menyeruak di dalam angannya.

“Ohh… itu batu nirmala. Paman telah mencuri batu itu dari tangan saya beberapa waktu yang lalu.”

“Dulu aku pernah berkata, bahwa tak seorang pun memperoleh hasil memuaskan tanpa lebih dulu bermandikan keringat. Kau masih ingat?”

“Ingat, Paman.”

“Nah, sekarang peraslah keringatmu, Kamandanu! Kuraslah peluh yang ada di tubuhmu untuk dapat merebut batu nirmala ini dari tanganku.”

“Baik, Paman.” Arya Kamandanu tidak segera menyerang, sebaliknya ia seolah-olah melihat wajah Nari Ratih dalam batu nirmala di tangan gurunya. Hal itu membuatnya kurang memusatkan seluruh gerakannya.

Sehingga saat ia mulai bergerak dan berusaha merebut batu itu buru-buru gurunya melompat menjauh dan membentak keras

“Tunggu! Kalau kau merebut batu nirmala ini dengan gerakan seperti itu, sampai tengah hari besok dia akan tetap di tanganku.”

“Ehh, maksud Paman?”

“Lebih gesit! Lebih sigap dan lebih bersemangat! Ayo mulai lagi!”

“Baik, Paman.” Tidak ragu-ragu lagi, seperti tercambuk ingatan dan batinnya Arya Kamandanu melesat bagaikan seekor burung srikatan mengejar serangga. Menukik, menyerang dengan gebrakan gencar sekali berusaha merebut batu nirmala di tangan gurunya. Hatinya benar-benar teguh dan tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada.

Sesekali kedua tangannya terbuka, mencabik, mencakar, menyahut cekatan sekali. Sementara gurunya berusaha menghindari serangannya dengan gerakan-gerakan mundur tak kalah gesit. Lelaki tua itu masih memiliki kelebihan yang luar biasa. Tangguh dan ulet sekali.

Arya Kamandanu berusaha menyerang lebih gencar dengan menggunakan aji Seipi Anginnya. Sementara Mpu Ranubhaya dengan pengalamannya berusaha mempertahankan benda tersebut. Suasana dalam gua menjadi sangat gaduh, tapi apa yang terlihat tidak begitu jelas. Hanya sosok-sosok manusia yang bergerak dengan cepat sekali, seperti dua setan yang berebut makanan.

Arya Kamandanu menyerang dengan gencar untuk merebut batu nirmala dari tangan Mpu Ranubhaya. Sudah beberapa kali dia hampir saja menyambar benda itu, tapi Mpu Ranubhaya dengan lincah selalu dapat menepiskannya. Arya Kamandanu tidak tahu mengapa gurunya begitu lincah dan gesit. Bahkan terasa sulit mengimbanginya. Keringatnya kini bercucuran, tubuhnya telah bersimbah peluh, napasnya mulai terengah-engah. Di situlah ia mampu melihat keuletan dan ketangguhan gurunya di balik hidupnya yang rendah hati dan lembut.

Jiwa yang penuh kasih lelaki tua itu semakin cemerlang dengan kesahajaannya. Bahkan dengan kelebihan dan kesaktiannya itulah benturan-benturan peperangan dalam batin muridnya kembali mencuat di benak. Akhirnya Arya kamandanu harus mengakui kelebihan dan keunggulan gurunya.

“Hehehee… bagaimana, Kamandanu? Mengapa berhenti?”

“Rasanya masih sulit untuk mengungguli gerakan paman Ranubhaya.”

“Hehehe… tentu saja. Bagaimana kau bisa merebut batu nirmala ini kalau gerakanmu seperti babi hutan? Cepat tapi tidak terkendali. Seringkah kau mati langkah akibat kecepatanmu sendiri. Sekarang mulailah lagi! Cepat, tapi tetap tenang dan yakin bahwa kau akan berhasil. Bagaimana?”

“Baik, Paman.” Dengan napas yang lebih teratur Arya Kamandanu melirik gurunya yang berdiri di atas batu padas. Ia ingin mendekati gurunya tetapi ketika ia melompat ke sana gurunya sudah melesat jauh di ujung gua sambil tersenyum menggoda.

Kembali ia menyerang Mpu Ranubhaya dengan berusaha tetap mengendalikan gerakannya yang cepat bagaikan kitiran. Ia merasa aneh karena kekuatannya seperti bertambah dan seperti memiliki tenaga cadangan sehingga tenaganya menjadi berlipat ganda. Lompatan-lompatannya menjadi ringan sekali. Tangan dan kakinya menjadi hidup seperti punya mata.

Mpu Ranubhaya tampak kewalahan. Suatu ketika orang tua itu agak lengah, dan pada saat itu bagaikan seekor burung elang menyambar mangsanya, tangan kiri Arya Kamandanu menjulur ke depan bagaikan mematuk, dan …, “kenaaaa! Aku berhasil, Paman!” teriak Arya Kamandanu setelah berhasil menyambar batu nirmala dari tangan gurunya.

Arya Kamandanu girang sekali. Matanya sampai berkaca-kaca, “Saya berhasil, Paman. Saya berhasil! Lihat, batu nirmala ini sudah berada di tanganku.”

“Yah, kau memang berhasil, Kamandanu. Kau sudah berhasil menyerap sebelas jurus tahap kedua ilmu Naga Puspa ini.” Mpu Ranubhaya terengah-engah dan terbatuk.

Arya Kamandanu melompat mendekatinya, “Eh, ada apa, Paman?”

“Tidak apa-apa. Hanya agak lelah. Mari kita istirahat barang sejenak, Kamandanu.”

Keduanya lalu melompat ke atas batu pipih dan beristirahat di sana sambil mengelap keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka. Wirot mengangguk hormat dan menyongsong mereka dengan hati bergembira.

“Aku merasa puas karena kau sudah mampu menyerap apa yang kuajarkan, Kamandanu. Sebelas jurus tahap kedua ilmu pukulan Naga Puspa ini sebenarnya membutuhkan waktu paling sedikit seratus hari untuk menguasainya.”

“Tapi Angger Kamandanu, kalau tidak salah hanya membutuhkan 35 hari, Guru. Berarti Angger kamandanu

benar-benar berbakat besar dalam ilmu kanuragan,” tukas Wirot.

“Ah, Paman Wirot jangan terlalu memuji. Aku takut nanti menjadi sombong.” Arya Kamandanu masih sibuk mengelap keringatnya.

Mpu Ranubhaya memperhatikan pemuda itu, dan memandangnya penuh saksama tampak senang melihat sikap rendah hati pemuda itu.

“Kesombongan akan membawa kemunduran. Bukan kemajuan. Kau harus hati-hati sekali agar jangan sampai jatuh ke dalam kesombongan, ketamakan, keangkuhan, karena semua itu merupakan penyakit berbahaya bagi para pendekar di segala jaman.”

“Saya akan selalu ingat pesan Paman Ranubhaya.”

“Apa yang sudah berhasil kau kuasai ini belum seberapa banyak, Kamandanu. Jumlahnya sudah cukup, tapi takaran yang kau miliki perlu terus-menerus ditambah dengan latihan-latihan keras. Pukulan dua belas jurus tahap pertama perlu kau matangkan lagi untuk memperkuat tubuhmu. Kemampuan meringankan tubuh dengan aji Seipi Angin juga perlu kaulatih lagi dengan sungguh-sungguh. Yang terakhir, pukulan sebelas jurus tahap kedua tidak boleh kau telantarkan begitu saja. Tekunlah berlatih, setiap hari. Jangan sampai ada waktu yang terbuang percuma. Kalau kau menuruti kata-kataku ini, aku yakin dalam satu dua surya lagi kau akan menjadi pendekar yang diperhitungkan di Singasari. Sebab memang demikianlah hukumnya suatu ilmu. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Ilmu tanpa latihan betapa pun tingginya ilmu itu, akhirnya akan sia-sia.”

Nasihat Mpu Ranubhaya tidak berlalu begitu saja di hati Arya Kamandanu. Diam-diam putra Hanggareksa itu merindukan kehidupan lain yang harus diciptakannya sendiri.

Setiap malam Arya Kamandanu makin giat berlatih di gua batu payung bersama wirot. Di samping itu, dia juga dengan tekun berlatih sendiri di tempat lain, tempat yang sepi, atau kadangkala di halaman rumahnya sendiri. Tapi semua itu dia lakukan dengan diam-diam.

* * *

Pada suatu hari, Arya kamandanu pergi ke tepi padang ilalang, tempat yang sangat istimewa di hatinya. Ia berjalan kaki tanpa kuda kesayangannya. Di tengah jalan ada seorang pemuda menghadang langkahnya. Ketika Arya Kamandanu mendongak siapa pemuda itu, ia tersenyum dingin.

Dangdi putra Kepala Desa Manguntur duduk di punggung kudanya dengan pongah dan sombong sekali, “Aha, Kamandanu! Apa sekarang kau sudah menjadi seorang gembel pengelana? Mana kudamu?”

“Kebetulan aku sedang menyukai perjalanan dengan kaki, Dangdi. Minggirlah, aku mau lewat!”

“Ah, kasihan sekali kau kawan. Nari Ratih sudah terlepas dari tangan, sekarang rupanya kau pun tidak dipercaya lagi menunggang kuda oleh ayahmu.”

“Dangdi, jangan membuat keributan lagi denganku!”

“Kau kira aku sudah cukup puas setelah membuatmu babak belur dulu, Kamandanu? Tidak! Sampai kapan pun Dangdi tetap bermusuhan dengan Arya Kamandanu!”

“Rupanya kau seorang yang senang adanya keributan. Tapi sayang sekali, aku tidak sudi melayanimu. Minggirlah, aku mau lewat!”

“Lewat saja kalau kau mau lewat!”

Arya Kamandanu baru saja akan melangkah di jalan yang sempit itu, ketika mendadak kuda Dangdi memutar tubuhnya. “Dangdi, kau jangan membuat gara-gara denganku! Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di rumah!”

“Pekerjaan apa? Huuuh! Paling-paling mengintip kakakmu yang sedang bermesraan dengan isterinya, Nari Ratih.”

“Dangdi, kau tidak akan bisa memancingku untuk membuat keributan lagi. Kalau kau tidak mau meminggirkan kudamu, baiklah aku mengambil jalan lainsaja.” Arya Kamandanu mundur dan menghindari Dangdi

Ia berjalan cepat meninggalkan anak Kepala Desa Manguntur itu yang berteriak-teriak memakinya.

Dangdi heran karena Arya Kamandanu tidak mau melayaninya. Ia anggap Arya Kamandanu sebagai pengecut, penakut seperti tikus. Ia beranggapan bahwa Putra Hanggareksa itu masih belum sembuh benar dari luka-lukanya ketika ia gebuki bertiga dengan Jaruju dan Balawi. Ia tersenyum dingin, ada kesempatan bagus untuk melampiaskan dendam pada Arya Kamandanu. Ia lalu menghela kudanya ke arah perginya Arya Kamandanu.

Ringkik kuda memecah kesunyian tepi padang ilalang.

Dangdi mencari-cari Arya Kamandanu dengan terus memutar-mutarkan kudanya, hingga kuda itu terus meringkik-ringkik karena perlakuan tuannya sangat kasar.

“Hm, ke mana orang itu?”

Dangdi kebingungan karena Arya Kamandanu menghilang dengan tiba-tiba, raib dari pandangan matanya.

Di samping kiri jalan setapak yang dilaluinya adalah jurang Kurawan yang sangat dalam dan berbahaya, menganga lebar bagaikan mulut naga yang siap menelan siapa saja.

“Aneh sekali, di mana Kamandanu?”

Dangdi terus menengok ke sana kemari mencari Arya Kamandanu. Lehernya dipanjangkan melongok ke segala arah. Dia sama sekali tidak menduga, bahwa orang yang dicarinya berada di bawahnya.

Ya. Dengan menggunakan aji Seipi Angin, Arya Kamandanu melekatkan tubuhnya di sebuah tumbuh-tumbuhan yang menjalar di tepi tebing yang curam sekali.

Dangdi mulai cemas, hatinya mulai dihantui ketakutan.

“Ah, mana mungkin dia tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi? Jangan-jangan orang itu tadi hantu.”

Menyadari tempat yang dilaluinya adalah daerah angker, Dangdi memutar kudanya lalu menghelanya dengan kencang,

“Hiya, hiyaaaaa!”

Dia beranggapan telah bertemu dengan hantu yang menyerupai Arya Kamandanu.

Arya Kamandanu tersenyum geli melihat Dangdi buru-buru mengaburkan kudanya meninggalkan tempatnya. Ia bersyukur karena berhasil mengendalikan diri dengan tidak melayani tantangan anak Kepala Desa Manguntur.

Satu langkah ia dapat menaati perintah gurunya, tidak sembarangan mempertontonkan jurus Naga Puspa kepada sembarangan orang.

Dangdi yang berkuda dengan kencang segera menemui dua kawannya. Mereka dia ajak kembali ke tempat di mana ia bertemu dengan Arya Kamandanu.

“Masak aku berdusta pada kalian? Aku jelas bertemu dengan Kamandanu di sini. Dia sempat bersitegang denganku.”

“Aku tidak percaya ada hantu berkeliaran di siang hari bolong,” tukas Jaruju.

“Ya. Mungkin kau kurang teliti mencarinya, Dangdi!” sambung Balawi.

“Aku terus mengejarnya ke arah sana. Dan mendadak dia lenyap begitu saja, padahal tak ada jalan lain. Hanya ada jurang di depan yang menganga lebar.”

Jaruju berpikir keras, “Sekarang kita cari saja dia ke tepi padang ilalang.”

“Ya. Mungkin dia sekarang ada di sana,” sambung Balawi.

Baru saja berdebat, Dangdi melihat bayangan Arya Kamandanu di kejauhan. Dengan kedua tangannya ia memberi isyarat pada dua kawannya. Mereka menyaksikan Arya Kamandanu berjalan dengan santai ke arah mereka.

“Kebetulan sekali, kita tidak usah jauh-jauh mencari ke tepi padang ilalang,” Jaruju sudah tidak sabar.

“Kita sikat saja beramai-ramai di tempat ini,” usul Balawi.

Arya Kamandanu tidak mau ribut, ia mengambil jalan pintas memotong ke arah kiri sebelum berpapasan dengan komplotan Dangdi.

“He, dia memotong jalan ke arah kiri. Ayo kita kejar! Cepat, Jaruju, Balawi, kejar dia!”

Dangdi, Jaruju dan Balawi terus memacu kuda menguber Arya Kamandanu. Kuda mereka berlari bagaikan terbang melintasi semak belukar.

“Heya, heyaaaaa. Itu dia, terus kejaaar!” seru Dangdi pada kedua kawannya.

Mereka benar-benar seperti melihat babi hutan, dikejar dan diburu. Bahkan mereka mulai meraba senjata masingmasing. Dangdi menyiapkan anak panah pada busurnya.

Namun, ia kehilangan jejak Arya Kamandanu.

“Dia lenyap lagi!” serunya.

Jaruju melihat bayangan Arya Kamandanu berkelebat di balik pohon besar. Maka Balawi memeriksa tempat itu, ia tersenyum dan menunjuk dengan tangannya bahwa Arya Kamandanu bertengger di atas sebuah pohon.

“Wah, rupanya musuh besarmu keturunan monyet juga. Dia bisa naik pohon trembesi sampai ke pucuknya!” celetuk Jaruju sambil menghunus pisau lemparnya.

“Haiiiiiii! Kamandanu! Ayo turunlah! Jangan membuat tontonan yang memuakkan ini! Turunlah kalau kau memang jantan.” Dangdi jadi pusing, bingung dan tidak tahu harus bagaimana, karena Arya Kamandanu di pucuk trembesi seperti tidak mendengarkan seruannya. Bahkan seperti tidak peduli dengan apa yang mereka lontarkan.

Ketiga pemuda itu makin marah dan memaki-maki Arya Kamandanu. Balawi mulai tidak sabar, ia segera meraba busur dan memasang anak panah yang tergantung di pelana kuda.

“He monyet buduk! Kalau kau tidak mau turun juga, aku akan memaksamu dengan anak panahku ini!” Balawi tidak sekadar mengancam. Ia sudah ancang-ancang untuk melepaskan anak panah.

“Bidik saja kakinya, agar dia jatuh seperti buah kelapa.” Dangdi tidak sabar melihat Balawi ragu-ragu tidak jadi melepaskan anak panah

“Tapi bagaimana kalau sampai dia kelenger atau mati?” tanya Balawi.

“Biar saja. Itu bukan salah kita!”

Balawi lalu membidik dengan saksama, ia meminta Jaruju tidak menghalangi langkahnya ketika mencari posisi yang tepat membidikkan anak panah. Ia membidik mata kaki Arya Kamandanu. Ingin membuat tontonan menarik di antara kedua kawannya. Anak panah Balawi segera meluncur dari busurnya tepat mengenai sasaran ke tubuh Arya Kamandanu.

Dangdi dan Jaruju tentu gelisah karena Arya Kamandanu sedikit pun tidak bereaksi. “Balawi, dia diam saja!” bisik Dangdi.

“Barangkali panahmu meleset!” sambung Jaruju yang ikut penasaran sekali.

“Ah, tidak mungkin. Anak panahku tidak pernah meleset. Kau tahu sendiri burung terbang pun bisa kubidik dan terjatuh tanpa nyawa lagi.”

“Coba kau bidik lagi, Balawi!” seru Dangdi.

“Baik. Kalian lihat dengan cermat, mana bisa bidikanku meleset?” kembali Balawi memasang anak panah dan membidik sasaran di atas pohon trembesi setinggi seratus depa dari atas mereka.

“Mampus kamu!” seru Balawi sambil melepaskan anak panah dari tali busurnya. Tiga kali anak panah meluncur ke tubuh Arya Kamandanu, namun sasaran itu tidak terlihat oleh mereka bereaksi apa pun. Tetap diam bagaikan kalong mati.

“Ah, bagaimana bidikanmu, Balawi? Mengapa tidak seperti biasanya?” Jaruju kesal karena ketiga anak panah Balawi tidak mempengaruhi sasaran. Balawi sendiri kesal dan gusar.

“Kurang ajar, aku jadi penasaran.” Dangdi makin geram “Bidik saja tubuhnya, biar mampus sekalian!”

Balawi makin marah dan geram, kembali ia memasang anak panah pada tali busurnya. Tiga kali kembali ia hajar Arya Kamandanu dengan anak panah tertajam.

“Sudahlah! Sudah. Tak ada gunanya membuang-buang anak panah percuma. Sekarang kita tunggu saja,” rutuk Dangdi makin kesal.

“Maksudmu?” tanya Jaruju belum paham benar dengan gerutuan Dangdi.

“Kita tunggu di bawah pohon ini saja. Dia pasti akan lelah juga. Dan kalau sudah lelah, mau ke mana lagi dia kalau tidak turun? Nah, pada saat itulah baru kita hantam dia sepuas-puasnya.”

Dangdi dan kedua kawannya menunggu di bawah pohon dengan kesal. Sementara orang yang di atas pohon, yang tak lain adalah Arya Kamandanu masih juga belum bergeser dari tempatnya. Enam buah anak panah Balawi yang berhasil ditangkap terselip di ketiaknya. Maka setelah matahari sudah condong ke arah barat Dangdi makin kesal.

“Aaah, jangan-jangan orang yang di atas itu hantu!”

“Tidak mungkin, Dangdi. Hantu takut berkeliaran di bawah sinar matahari,” tukas Jaruju.

“Jangan-jangan bukan orang tapi orang-orangan,” sambung Balawi.

“Dari tadi dia sama sekali tidak bergerak.”

Dangdi menghunus pedangnya, “Aaakh, mengapa kita menjadi orang-orang yang bodoh. Ambil pedang kalian! Kita tebang saja pohon ini!”

Mereka setuju dan membenarkan pendapat Dangdi untuk menebang pohon itu agar bisa membuktikan siapa di atas pohon itu; benar-benar orang atau orang-orangan.

Mereka berharap jika pohon itu ditebang bisa menimpa Arya Kamandanu dan tewas tertimpa batangnya. Maka mereka segera mulai membacoki pohon trembesi sebesar rangkulan orang dewasa itu bersama-sama. Dengan semangat, marah dan gusar ketiganya terus menebas pohon secara bergantian.

Matahari makin condong ke barat, sinarnya mulai lemah menembus sela-sela rerimbunan pohon. Senja mulai meremang ketika pohon itu tampak bergerak-gerak, dan sebentar kemudian pohon itu pun berkeretak roboh!

Arya Kamandanu dengan gesit melompat ke belukar tanpa sepengetahuan ketiga pemuda yang memburunya.

Dangdi, Jaruju dan Balawi memeriksa pucuk pohon di mana mereka menyaksikan orang bertengger di sana.

Namun mereka tidak menemukan apa-apa dan siapa pun.

“Mana dia? Mana Kamandanu?” Dangdi celingukan, melongok ke setiap sudut tindihan pohon. Ia tidak melihat Arya Kamandanu di rerobohan pohon yang mereka tebang.

Jaruju pun bengong, “Aneh sekali? Mestinya dia gepeng tertimpa batang pohon besar ini.”

“Oh, lihat! Ini anak panahku ada di sini.” Balawi gemetar mencabut enam anak panah yang tertancap di batang pohon tempat di mana Arya Kamandanu bertengger. Ia memandang kedua temannya dengan cemas.

“Nah, mungkin sekarang kalian baru percaya apa yang kukatakan. Jelas orang itu bukan Kamandanu. Mungkin dia benar-benar hantu yang mau menakut-nakuti kita” Dangdi makin cemas, dan ia mendekati Balawi yang menghitung anak panahnya.

“Memang aneh. Panahku tidak ada yang hilang. Masih lengkap enam buah. Tapi semua menancap di batang pohon, yang jaraknya seperti diatur saja.” Balawi membenarkan pendapat Dangdi, bahwa mereka sedang berhadapan dengan makhluk halus yang suka menggoda manusia. Ia beranggapan tidak ada gunanya berlama-lama di tempat itu.

“Ayo, kita pergi saja!” seru Dangdi yang mulai bersimbah keringat dingin.

Mereka buru-buru melompat ke kuda masing-masing, tidak lama kemudian mereka bertiga sudah meninggalkan tempat itu.

Arya Kamandanu tersenyum, geleng-geleng kepala dan keluar dari belukar, melompat dengan ajian Seipi Angin meninggalkan tempat angker menuju rumahnya.

Sampai di rumah suasana sudah benar-benar gelap. Arya Kamandanu segera mandi dan ganti pakaian. Ketika baru saja keluar ia tersenyum karena Bibi Rongkot hampir menabraknya seraya melepas susur dan memukul sayang bahunya.

“Oh, Angger Kamandanu?”

“Ya, Bi, ada apa?”

“Angger kelihatan kurus sekarang. Angger kurang tidur, ya?”

“Aku memang kurang istirahat, Bi. Lihat saja, siang hari aku harus melayani Ayah membuat rencana tentang usaha beliau. Hanya waktu-waktu tertentu saja Ayah tidak menyertakan aku dalam bekerja. Mungkin karena terlalu lelah, malamnya aku tak bisa tidur nyenyak.”

“Apakah bukan karena sesuatu yang lain, Ngger?”

“Maksudmu, Bi?”

“Yah, Bibi bisa memahami perasaanmu, Ngger. Sejak pesta pernikahan Angger Dwipangga dulu, Angger Kamandanu kelihatan murung. Kelihatan gelisah.”

“Ah, tidak, Bi. Nari Ratih sudah kurelakan menjadi istri Kakang Dwipangga, bahkan sekarang aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri. Dan kulihat mereka kelihatan sangat bahagia.”

“Ya, begitulah suasana pengantin baru. Angger Dwipangga kelihatan sangat menyayangi Nini Ratih. Tapi

semalam mereka tampaknya bertengkar, Ngger.” Bi Rongkot agak berbisik.

“Bertengkar?” Arya Kamandanu mengerutkan dahi dan merasa tidak perlu mengorek keterangan dari Bibi Rongkot.

“Tampaknya sedang ada persoalan di antara mereka.”

“Ah, biar saja, Bi. Itu urusan pribadi mereka. Aku tidak mau ikut campur.” Arya Kamandanu menghela napas dan mengelus pundak perempuan tua itu, “Apakah Ayah ada di ruang kerjanya, Bi?”

“Ada, Ngger. Sejak sore tadi ayahanda belum keluar lagi dari ruang kerja beliau.”

“Aku harus menemui Ayah.”

Arya Kamandanu lalu meninggalkan perempuan tua itu menuju ruang kerja ayahnya yang ada di rumah bagian belakang. Sudah beberapa malam terakhir ia sering dipanggil ayahnya, namun ia kian cemas setiap malam bertambah larut, karena ia sebetulnya kurang tertarik pada kegiatan ayahnya Ia lebih mencintai belajar dari Mpu Ranubhaya untuk meningkatkan olah kanuragan.

Dengan perlahan Arya Kamandanu mendorong pintu ruang kerja ayahnya. Mpu Hanggareksa menoleh ketika melihat pintu ruang kerjanya terbuka. Arya Kamandanu melihat wajah ayahnya dari balik keremangan sinar lampu minyak jarak yang tergantung di tengah ruangan.

“Duduklah, Kamandanu!”

“Ya, Ayah.” Arya Kamandanu duduk di sisi kiri ayahnya, agak jauh. Ia tidak ingin mengganggu ayahnya yang masih memegang patrem dan beberapa lembaran daun tal basah.

“Mengapa kau tidak mau berterus-terang?” tanya Mpu Hanggareksa sambil meletakkan patrem di atas daun tal. “Kalau kau tidak mau berterus-terang padaku, berarti kau tidak lagi menganggapku sebagai orang tuamu “

Arya Kamandanu celingukan dan agak bingung, “saya belum jelas duduk perkaranya, Ayah.”

“Dwipangga tahu bahwa kau menyimpan batu nirmala pemberian istrinya. Dwipangga, entah cemburu atau apa, dia marah-marah. Kemarin mereka bertengkar. Dwipangga mau mengambil batu nirmala itu, tapi Nari Ratih menolak. Sampai sekarang mereka masih dalam suasana yang tidak enak.”

“Kalau Kakang Dwipangga keberatan, saya akan mengembalikan batu nirmala itu pada Nari Ratih.”

“Jadi, benar, kau menyimpan batu nirmala itu?”

“Benar, Ayah.”

“Mana benda itu? Aku mau lihat. Kalau memang benda itu nantinya membuat keributan di rumah ini, lebih baik aku yang menyimpannya.”

“Ayah boleh melihat batu birmala itu.” Arya Kamandanu mengeluarkan batu nirmala dari balik bajunya.

Ia keluarkan dari kantong kulit kecil yang sengaja dibuatnya untuk menyimpan benda itu. “Inilah! Tapi saya keberatan Ayah menyimpan benda ini.”

“Sebabnya?”

Arya Kamandanu memperhatikan Mpu Hanggareksa yang menimang-nimang dan memperhatikan dengan saksama batu nirmala. Permata yang putih bersih, bening nyaris seperti kaca.

“Saya sudah berjanji pada Nari Ratih akan menyimpan batu nirmala ini. Kecuali dia sendiri yang menghendaki agar saya mengembalikannya.”

“Kamandanu! Ada hubungan apa kau sebenarnya dengan istri kakakmu itu?”

“Sekarang saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Nari Ratih, kecuali bahwa ia sudah menjadi kakak ipar saya.”

“Tapi dulu kau pernah ada hubungan dengannya?”

“Saya tak mau mengungkit-ungkit yang dulu-dulu, Ayah. Maaf, kalau Ayah memaksa saya membicarakan masalah ini, saya keberatan sekali.”

Mpu Hanggareksa mendesah panjang. Merasakan sesuatu yang perih di dada putra bungsunya,

“Yah. Aku tahu. Aku tahu sekarang. Hmhh! Baiklah.”

Lelaki tua itu menyerahkan batu nirmala kembali pada Arya Kamandanu yang segera menyimpannya di dalam kantong kulit dan dimasukkan di balik bajunya.

“Kamandanu!”

“Ya, Ayah.”

“Kau harus bisa melupakan Nari Ratih. Sekarang ia sudah resmi menjadi isteri kakakmu. Kau tidak boleh mengganggu ketenangan dan kebahagiaan mereka.”

“Saya tidak pernah mengganggu mereka, ayah. Bahkan saya akan ikut merasa bahagia kalau Nari Ratih bahagia menjadi istri Kakang Dwipangga.”

“Kamandanu! Sekarang kaulah anakku satu-satunya yang bisa kuharapkan. Kau harus bisa mewarisi apa yang kumiliki sebagai seorang pembuat senjata pusaka. Aku tak ingin apa yang sudah kucapai ini akhirnya hancur dan direbut orang lain. Kuharap kau tidak membuat ayahmu ini kecewa, Kamandanu.”

Arya Kamandanu mengangguk lemah. Kepalanya seperti tertimpa bandul besi. Makin berat menanggung beban kehidupan yang tidak pernah dimengerti siapa pun termasuk ayahnya yang selalu memaksakan kehendak dan keinginannya.

Di ruang tengah yoso dalem rumah Mpu Hanggareksa, di mana Nari Ratih berada di kamar berdua dengan suaminya, ia tampak gelisah sekali. Sudah dua malam Arya Dwipangga kurang bersikap manis padanya. Setiap saat biasanya ia mendengarkan syair-syair baru yang meluncur deras dan indah dari bibir suaminya, kini ia didiamkan saja. Bahkan berlaku dingin padanya. Ia pandang Arya Dwipangga yang berbantal tangan, bersandar di sandaran tepi tempat tidur.

“Sebaiknya kita pulang ke Manguntur, Kakang. Kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia di sana.”

“Kau tidak kerasan di rumah ini karena ada Kamandanu? Karena kau masih menyimpan perasaan cinta pada adikku itu?”

“Kau keterlaluan, Kakang. Sekarang aku sudah sepenuhnya menjadi istrimu, tentu saja seorang istri hanya akan mencintai suaminya “

“Lalu apa alasanmu untuk tidak merasa kerasan tinggal di Kurawan?”

“Aku ingin melahirkan di Manguntur, seperti dulu ibuku melahirkan aku. Aku juga ingin membuat ayahku yang sudah semakin tua itu bahagia.”

“Aku juga berhak membuat ayahku bahagia.”

“Di sini Ayah masih mempunyai Kakang Kamandanu dan Bibi Rongkot yang setia, tapi ayahku? Dia hanya tinggal sendirian di Manguntur. Tentu dia merasa sangat kesepian. Tentu dia akan sangat bangga dan bahagia kalau kita tinggal bersamanya. Kita bisa bertani di Manguntur, karena ayahku mempunyai lahan pertanian yang cukup luas.”

“Baiklah. Aku mau tinggal di Manguntur tapi dengan syarat.”

“Syarat apa, Kakang?”

“Batu nirmala itu harus kau minta kembali dari Kamandanu.”

“Oh, kau keterlaluan sekali, Kakang. Aku tidak mau menjadi orang yang tidak berperasaan. Batu nirmala itu sudah kuberikan, bagaimana aku harus memintanya kembali?”

“Kau masih ingin dikenang oleh Kamandanu. Itulah yang membuat aku tidak senang Kebahagiaanku merasa terganggu.”

“Kakang Dwipangga, kau terlalu cemburu Cemburu yang tidak pada tempatnya.”

Arya Dwipangga ngotot, persyaratan yang diajukan pada Nari Ratih tidak bisa ditawar. Ia siap berangkat ke Manguntur jika batu nirmala ada di tangannya.

Mendengar kekerasan suaminya, keangkuhan dan sikapnya yang makin kurang manis, Nari Ratih menangis. Ia terisak-isak, air mata mulai meluncur di kedua pipinya.

“Baiklah, Kakang… kalau memang begitu keinginanmu, aku akan memintanya kembali batu nirmala itu.”

Nari Ratih bangkit dari sisi suaminya, melangkah keluar kamar, ia menuju kamar Arya Kamandanu yang terletak di rumah bagian belakang dekat penyimpanan senjata pilihan.

Sampai di depan kamar Arya Kamandanu Nari Ratih ragu-ragu ketika hendak mengetuk pintu bekas kekasihnya.

Namun, berkat ilmu yang telah dipelajari dari Mpu Ranubhaya, Arya Kamandanu bangkit, ia dengarkan desah lembut napas seseorang di depan pintu kamarnya. Arya Kamandanu membuka pintu kamarnya dan ia heran melihat kakak iparnya ada di depannya,

“Nari Ratih!”

Nari Ratih menarik lengan Arya Kamandanu dan mengajaknya masuk ke kamar lalu menyampaikan maksud kedatangannya di malam itu. Dengan berat, dengan perasaan yang sangat tidak enak perempuan cantik yang wajahnya tampak pucat tertimpa pendaran cahaya lampu minyak jarak itu bagaikan seekor domba yang siap dipancung lehernya.

“Betapa berat bebanmu, Nari Ratih. Aku tidak ingin melihatmu menderita. Aku akan menyerahkan kembali pemberianmu.”

Arya Kamandanu lalu mengambil batu nirmala yang baru saja ia simpan di bawah bantal. Ia tersenyum pahit karena benda itu habis diciuminya. Lalu mengulurkan batu nirmala itu pada Nari Ratih Ia serahkan benda itu penuh dengan ketulusan. Mata elang pemuda itu begitu tajam menghunjam ke mata Nari Ratih, lalu menjalar dan menyusup ke ulu hatinya. Mata elang itu tampak penuh dengan luka.

Nari Ratih menunduk dan berkata lirih pada bekas kekasihnya yang kini menjadi adik iparnya.

“Kau… kau bisa memahami perasaanku, Kakang Kamandanu?” suara itu tercekat, serak dan gemetar.

Arya Kamandanu tetap tersenyum. “Mengapa tidak, Nari Ratih. Sudahlah, aku tak ingin melihat kebahagiaan kalian tercemar oleh batu nirmala ini. Bawalah kembali benda ini!”

Setelah cukup lama Nari Ratih ragu-ragu menerima batu nirmala itu, akhirnya jemarinya terbuka menyambut uluran tangan Arya Kamandanu. Jari-jemari mereka bersentuhan hingga tanpa disadarinya butiran-butiran bening meluncur dari manik-manik mata Nari Ratih. Hidungnya memerah dan kembang kempis.

“Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku sudah memberikannya padamu, Kakang, tapi…,” ucapnya lembut di tengah isak.

“Ratih! Aku sudah berjanji dalam hati, aku tidak akan memberikan pada siapa pun batu nirmala ini, kecuali kau yang memintanya kembali.”

“Ohh, maafkan aku, Kakang. Aku tidak bisa membuat Kakang Dwipangga mengerti persoalan ini Dia tetap menginginkan batu nirmala ini. Maafkan aku, Kakang.”

“Kau tidak bersalah. Mengapa harus minta maaf?”

“Ohh, sungguh mulia hatimu, Kakang. Aku, aku … malu sekali. Aku benar-benar merasa malu.”

“Ratih! Tak ada satu pun yang dilakukan oleh manusia ini sempurna adanya. Karena itu tak perlu kau menyesali nya. Sekarang kau sudah menjadi istri Kakang Dwipangga. Nah, kuharap kau menjadi istri yang baik, dan kalian berdua bisa terus hidup berdampingan selamanya. Sungguh, aku akan merasa bahagia jika kalian berdua bahagia. Nah, terimalah batu nirmala ini kembali, Ratih.”

Arya Kamandanu melepaskan pegangan jemari Nari Ratih.

“Ohh, terima kasih, Kakang. Terima pengertianmu yang amat besar ini.”

“Kukira lebih tepat kalau Kakang Dwipangga yang menyimpan batu nirmala itu. Baiklah, Ratih, tak baik kita lama-lama berbicara seperti ini. Nanti kalau Kakang Dwipangga melihat bisa menimbulkan salah paham lagi.”

Sejenak lamanya pandangan mata mereka beradu. Mereka menelan ludah kegetiran, menggoreskan sejarah hidup yang penuh air mata. Arya Kamandanu mengangguk perlahan mempersilakan Nari Ratih segera meninggalkan kamarnya. Nari Ratih berusaha tersenyum sekalipun dengan derai air mata Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Tapi baru tiga langkah ia menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan memandang Arya Kamandanu dengan tatapan pilu.

Arya Kamandanu memejamkan mata dan menunduk sambil menggigit bibir. Memandang sejenak Nari Ratih yang ragu-ragu melangkah kembali meninggalkannya.

Arya Dwipangga baru merasa puas setelah batu nirmala itu terlepas dari tangan adiknya, dan jatuh ke tangannya.

Maka sehari kemudian, setelah memperoleh izin dari Mpu Hanggareksa dan mendapat nasihat-nasihat seperlunya, Arya Dwipangga memboyong istrinya ke desa Manguntur.

Arya Kamandanu ditugaskan ayahnya mengawal perjalanan mereka. Kereta kuda yang mereka tumpangi semakin menjauh meninggalkan desa Kurawan. Arya Kamandanu memegang kendali kuda dengan kendor agar kudanya tidak terlalu cepat berlari. Dia terus mengikuti laju kereta kuda yang membawa Nari Ratih dan Arya Dwipangga. Kereta kuda yang mereka tumpangi berjalan menyusuri jalanan desa yang amat indah pemandangannya.

Gunung-gunung membiru di kejauhan seperti melambai ke arah mereka. Arya Kamandanu terus mengawal dengan mengendarai seekor kuda perkasa berwarna cokelat tua.

Tak lama kemudian, perjalanan mereka sampai di tepi padang ilalang. Berdesir hati Arya Kamandanu begitu melihat pemandangan di sekitarnya.

“Ahh? Tempat ini. Tepi padang ilalang ini. Aku tak akan pernah bisa melupakan tempat ini. Semua begitu cepat berlalu. Dan apa yang sudah berlalu tak mungkin bisa kuraih lagi. Betapa indahnya kenangan masa lalu. Tapi kenangan akan lenyap bersama deru sang waktu. Dan harihari besok masih belum menentu. Hari-hari sekarang inilah sesungguhnya milikku, maka aku tak boleh menyia-nyiakannya,” gumam Arya Kamandanu perih. Hatinya teriris-iris mengenang kisah manis yang selalu dilalui bersama Nari Ratih di tepi padang ilalang yang kini dilaluinya.

Sementara, itu di dalam kereta kuda yang terus menggelinding di atas jalanan berbatu, Nari Ratih kelihatan gelisah walaupun ia berusaha menyembunyikan perasaan itu dari suaminya.

“Ahh? Kakang Kamandanu. Tentu hatinya hancur sekali. Kasihan kau, Kakang. Tapi aku yakin kau kelak akan menemukan seorang gadis yang sesuai untukmu. Seorang gadis yang manis, yang setia, yang mencintaimu untuk selamanya. Aku akan selalu berdoa dan mudah-mudahan para dewa di atas langit mengabulkan doaku ini,” bisik hati Nari Ratih dengan perasaan tidak menentu. Pandang matanya kosong dan selalu diam sepanjang perjalanan hari itu.

“Ratih!”

“Ehh, ya, Kakang?” Nari Ratih terkejut ketika suaminya menegurnya.

“Bagaimana perasaanmu? Kau bahagia dalam perjalanan ke Manguntur ini?”

“Bagaimana aku tidak bahagia, Kakang? Tidak lama lagi aku akan segera menjadi ibu dari anakmu.”

“Ratih! Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik dari anak-anak yang kau lahirkan nanti.”

“Ahh, Kakang. Aku bahagia sekali.” Beberapa kali kata bahagia itu ia ulangi, ia luncurkah di antara bibir mungil nan manis, namun di balik hatinya teriris kepedihan yang luar biasa perih.

Dengan manja Nari Ratih merebahkan kepalanya di bahu suaminya. Tangan Arya Dwipangga merengkuh pundaknya, kemudian mengusap dan membelai rambutnya yang hitam panjang bergelombang Arya Dwipangga pun dengan lembut menjatuhkan kepalanya di atas kepala istrinya. Jemari tangan mereka terjalin erat, berbicara tentang kasih di dasar hati mereka yang paling dalam.

Tubuh mereka berguncang-guncang karena jalan-jalan yang berbatu-batu.

Namun, kemesraan itu tiba-tiba terhempas tatkala tukang sais menghentikan kereta yang mereka tumpangi. Arya Dwipangga dan Nari Ratih saling pandang sejenak. Mereka mengerutkan dahi ketika melihat beberapa orang berkuda menghadang jalan kereta. Arya Dwipangga melepaskan jalinan jemarinya, lalu menyibakkan tirai kereta dan melongokkan kepalanya ke belakang di mana adiknya selalu mengawal perjalanan mereka.

“Siapa mereka itu, Kamandanu? Mengapa mereka menghadang perjalanan kita?”

“Kakang Dwipangga tidak usah turun dari kereta! Biar aku saja yang menghadapi mereka “

Nari Ratih dengan saksama memperhatikan penghadang kereta, sampai ia terpekik, “Ohh, bukankah dia itu Dangdi? Siapa dua orang temannya itu?”

Arya Kamandanu mengangkat tangan kirinya, “Kalian berdua diam saja dalam kereta, agaknya mereka bermaksud membuat gara-gara lagi denganku.” Arya Kamandanu menyentakkan tali kekang kudanya hingga kuda tunggangannya meringkik panjang dan melompat ke arah tiga orang yang menghadang kereta yang ditumpangi kakaknya.

Pemuda Kurawan itu memicingkan kedua matanya dan memandang tiga penghadang di depannya berganti-ganti.

Melihat siapa yang menghampiri mereka, salah seorang di antara ketiga penghadang itu setengah terkejut dan mencibir sinis.

“Heee, Kamandanu! Bukankah yang berada dalam kereta itu pasangan pengantin baru?”

“Ya, Dangdi. Mereka adalah pengantin baru. Kakakku Arya Dwipangga dan istrinya Nari Ratih.”

“Hahahaha? Kasihan sekali kau, Kamandanu. Mengapa sekarang pangkatmu semakin merosot? Mestinya kau yang berada dalam kereta itu. Tapi rupanya kau harus cukup puas menjadi pengawal pribadi kakakmu itu. Hahahaaha!”

“Dangdi! Kami sedang dalam perjalanan ke Manguntur, kuharap kau tidak mengganggu perjalanan kami ini.”

“Siapa yang mengganggu kalian? Kalau kalian mau lewat yaaa… silakan saja lewat.”

“Mana bisa kami lewat kalau kalian bertiga menghadang di jalan begitu?”

“Hahaha! Kalau memang kalian tidak bisa ya mau bagaimana? Kembali saja ke Kurawan atau carilah jalan lain.”

“Jadi, kalian bertiga tidak mau memberi kami jalan untuk lewat?”

“Hee, Kamandanu! Jangan mencoba mengancam kami! Ayoo, turun kau dari kudamu!” Dangdi makin sinis dan tangan kirinya memberi isyarat penghinaan dengan menunggingkan ibu jari. Setelah itu ia melompat turun dari punggung kuda diikuti kedua kawannya.

Arya Kamandanu tetap tenang duduk di punggung kuda sekalipun hewan tunggangannya itu sesekali meringkikringkik. Ketiga penghadang itu memasang kuda-kuda dan berkacak pinggang memandang enteng pada Arya Kamandanu. Dangdi mencibir dan melambaikan tangan seraya menarik ke arah dalam jari tengahnya menantang Arya Kamandanu.

“Turun, Kamandanu! Kalau kau bisa mengalahkan kami bertiga, barulah kami akan memberi kalian jalan untuk lewat.”

“Baiklah, kalau memang itu kemauanmu. Aku akan turun!” Arya Kamandanu menggerakkan tali kekang kudanya hingga si cokelat tua meringkik panjang. Lalu ia melompat ke depan Dangdi.

“Baguuss! Tapi aku masih meragukan keberanianmu, Kamandanu. Jangan-jangan hanya untuk mencari muka di depan pengantin wanita. Hahahah…,” tawa Dangdi diikuti dua temannya yang makin lebar memamerkan mulut mereka.

“Sebenarnya aku sudah muak melihat kelakuanmu ini, Dangdi. Selama ini aku masih mencoba bersabar. Tapi karena kali ini aku ditugaskan mengawal saudara tuaku ke Manguntur, maka tak ada pilihan lain kecuali melayani kesombonganmu.”

“Jangan banyak mulut! Hiaaaa!” Dangdi langsung menerjang Arya Kamandanu ketika baru saja ia melangkah beberapa tindak mendekatinya. Namun, serangan licik itu dapat diatasi Kamandanu dengan sedikit mengelak ke samping. Gebrakan pertama itu membuat Dangdi naik pitam karena tendangan dan pukulannya menyapu sasaran kosong. Ia pun kembali melompat dan menerjang dengan pukulan-pukulan keras, tetapi tak terarah, Dengan mudah Arya Kamandanu menangkis dan menghindari serangan-serangan lawannya.

Arya Kamandanu begitu lincah bergerak menghindar.

Hal itu membuat Dangdi benar-benar sangat marah dan kurang bisa mengendalikan dirinya. Dangdi berhenti menyerang dengan napas terengah lalu tangan kanannya melambai pada kedua kawannya. Suaranya terdengar parau sekali

“Jaruju! Balawi? Ayo, kalian jangan diam saja! Kita bikin sekali lagi babak belur orang ini, baru aku merasa puas! Hiaaaa…!” Dangdi, Jaruju dan Balawi secara serentak menyerang Arya Kamandanu yang melayaninya dengan tenang. Semula dia hanya bertahan dengan menepis, menghindar ataupun melompat kiri kanan. Tapi karena serangan itu datang terus-menerus, akhirnya Arya Kamandanu terpaksa mengeluarkan pukulan dua belas jurus tahap pertama ilmu Naga Puspa pemberian Mpu Ranubhaya.

Pada gebrakan pertama Dangdi menjadi korban tendangan pada pelipis kirinya. Gebrakan kedua Balawi terpaksa meraung kesakitan sambil mendekap alat kelaminnya. Giliran Jaruju terkena gebrakan ketiga. Jaruju agaknya mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding Balawi, “Jaruju! Kalau kau masih nekad menyerang, kau akan bernasib sama dengan dua orang temanmu itu.”

“Jangan sombong kau, Kamandanu! Hiaaaa….” langsung

saja Jaruju menggebrak Arya Kamandanu tanpa perhitungan masak sehingga yang terjadi adalah senjata makan tuan. Jaruju kurang menyadari apa yang dilakukan lawannya. Dengan gebrakannya yang keras dan sembrono itu membuat Arya Kamandanu mendapatkan peluang memberikan pukulan telak tepat ke ulu hatinya, sehingga Jaruju tersepak meluncur keras jatuh di semak belukar menyusul dua rekannya. Arya Kamandanu tersenyum dingin sambil mengatur napasnya. Kedua kakinya masih siap dengan kuda-kuda. Pandangannya sangat tajam memandang ketiga lawannya satu per satu berganti-ganti.

“Ayo, bangunlah kalau kalian masih mempunyai nyali untuk bertempur.”

“Ehh, tidak… tidak, Kamandanu… kami menyerah kalah… ahh…addduuuhhh….,” Jaruju meringkuk di semak dengan napas terasa sesak.

“Dan kau, Balawi, kalau masih penasaran aku pun tidak keberatan melayanimu satu jurus lagi.”

“Ehh, jangan! Cukup, cukup, Kamandanu. Ehhh…, shshsss!” Balawi terbata menjawab dengan kedua tangan memegang kelaminnya yang terasa melesak kena sodokan maut Arya Kamandanu.

“Kalau demikian, cepat pergi dari sini! Dan ingat! Terutama kau, Dangdi… jangan mencoba membuka persoalan lagi denganku. Jangan mengganggu Nari Ratih, karena sekarang dia sudah menjadi istri saudara tuaku. Kalau kau sampai berani mengganggu ketenteraman mereka, kau pasti berhadapan dengan Arya Kamandanu!”

Dengan meringis dan langkah tertatih ketiga penghadang itu berjalan menghampiri kuda mereka. Dangdi, Balawi dan Jaruju segera naik ke punggung kuda dan segera menyentak tali kuda masing-masing dengan hati dongkol, menggerutu dan sangat malu. Arya Kamandanu berkacak pinggang sambil tersenyum getir. Menggeleng-geleng kepala karena merasakan kebebalan tiga pemuda Manguntur yang selalu memusuhinya. Lalu ia membalikkan tubuh melangkah menghampiri kereta yang ditumpangi kakaknya. Arya Dwipangga melongokkan kepalanya memandang penuh rasa kagum dan terima kasih pada adiknya yang memiliki kemampuan olah kanuragan mumpuni.

“Bagaimana, Kamandanu?”

“Kakang tidak usah khawatir. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian lagi.”

“Kakang Kamandanu, kau tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa, Ratih. Marilah kita lanjutkan perjalanan. Manguntur sudah tidak terlalu jauh dari sini.”

Arya Kamandanu memberi isyarat pada kusir kereta agar segera melanjutkan perjalanan. Kereta kuda itu tampak terseok-seok melalui jalan berbatu. Baik Nari Ratih, Arya Dwipangga maupun tukang sais itu tidak berkomentar apa-apa. Mereka hanya membisu karena hati dan pikiran

mereka dipenuhi oleh angan masing-masing.

Arya Kamandanu menunggang kuda lima tombak di belakang kereta. Kehadiran Dangdi dan komplotannya seolah-olah membuka luka lama yang selama ini dipendamnya dalam-dalam di lubuk hatinya. Hatinya perih seperti teriris karena ia selalu saja mengalami kegetiran dalam hidupnya Kadang-kadang ia membenarkan Dangdi, kadang-kadang ia hanya pasrah pada keadaannya, tapi tak jarang ia berusaha untuk memenangkan kerendahan hati dan kesabaran dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Akhirnya mereka tiba dengan selamat di Manguntur.

Rekyan Wuru menyambut dengan ramah dan gembira. Arya Kamandanu menolak ketika orang tua itu menyuruhnya menginap barang semalam. Hari itu juga Arya Kamandanu kembali ke Kurawan. Mereka mengantar sampai ke pagar halaman. Kuda yang ditunggangi Arya Kamandanu berlari bagaikan terbang melintasi daerah persawahan, bukit-bukit, hutan-hutan kecil, dan sebentar kemudian sudah meninggalkan tugu-batas desa Manguntur.

* * *

Sementara itu, di rumah Mpu Hanggareksa, di ruangan pembuatan senjata, lelaki tua itu menimang-nimang sebuah senjata pusaka. Menyunggingkan senyuman di bibirnya yang mulai mengeriput. Kemudian penuh dengan perasaan ia memegang gagang pusaka itu serta mencabutnya perlahan-lahan. Suara berdencing mengiringi senjata itu ketika keluar dari wrangkanya.

“Hhhh! Bagaimanapun juga senjata pusaka buatanku masih di bawah tingkatan Kakang Ranubhaya. Bagaimanapun juga dia lebih ahli. Dan inilah yang membuatku tidak senang. Suatu ketika Kakang Ranubhaya bisa menjadi batu sandungan di tengah jalan. Huuuuhh!

Orang tua itu sangat kokoh pendiriannya. Sudah berapa kali kucoba untuk menariknya kerja sama, dia tetap tidak bersedia. Kurang ajar! Dia merasa lebih pintar. Merasa lebih hebat, tapi aku tidak akan kehabisan cara. Kalau dengan cara yang halus tidak berhasil, aku bisa menggunakan cara yang lebih kasar. Bahkan aku bisa menggunakan cara yang paling kasar!

Mpu Hanggareksa berbicara sendiri sambil mengusap-usap senjata pusaka di tangannya. Belum lagi memasukkan senjata itu ke dalam wrangkanya ia dikejutkan oleh suara pintu yang berderit panjang sekalipun perlahan-lahan.

Lelaki itu segera memasukkan senjata pusaka ke dalam wrangkanya dan melangkah ke arah pintu sambil mengerutkan dahinya. Ia melihat jemari menyengkeram daun pintu dari luar. Lagi-lagi ia tersenyum sendiri,

“Kaukah itu, Kamandanu?”

“Ya, Ayah…”

“Bagaimana? Sudah kau antar kakakmu sampai Manguntur?”

“Sudah, Ayah.”

“Bagus. Sekarang kau istirahat, dan besok kau harus menjaga rumah bersama Nyi Rongkot. Aku mau pergi barang dua tiga hari.”

“Ke mana, Ayah?”

“Ke Singasari.”

Arya Kamandanu dapat meraba ada yang terjadi di balik wajah ayahnya. Tidak seperti hari-hari biasanya, tampak sekali ayahnya tengah mempunyai persoalan yang berat.

Tapi Arya Kamandanu tidak berani menanyakan pada ayahnya.

Arya Kamandanu melihat kabut persoalan mengambang di permukaan wajah ayahnya, orang tuanya berbicara tidak seperti biasanya. Memandangnya sangat tajam dengan sekali-kali menghela napas tertahan. Berat dan sesak.

”Selama aku pergi kau harus lebih berhati-hati. Terutama sekali kau harus menjaga dan mengawasi tempat menyimpan senjata pesanan.”

“Baik, Ayah. Saya tidak akan kemana-mana.”

“Kamandanu, sekarang kakakmu sudah hidup sendiri

bersama istrinya. Tinggal kau yang kuharapkan bisa membantu usahaku ini,” kembali Mpu Hanggareksa menghela napas dalam sekali. Ia pandangi putra bungsunya penuh kelembutan dan kasih sayang. Hatinya terenyuh, terharu karena alis mata dan bibir putra bungsunya itu persis seperti ibunya. Seperti isterinya yang telah lama meninggalkannya.

Kepedihan menyuruk-nyuruk dan mengiris hatinya.

“Kulihat kau sudah mengantuk dan lelah sekali. Tidurlah! Biarkan aku sendiri di ruangan ini.”

“Ya, Ayah.”

Belum lama Arya Kamandanu berada dalam kamarnya sendiri, ia dengar ringkikan panjang kuda ayahnya.

Kemudian terdengar juga derap kakinya yang dipacu semakin menjauh. Ia menghela napas dan menghempaskannya kuat-kuat.

Dahinya beranyam kerutan kemudian menggigit bibirnya sendiri sambil melangkah beberapa tindak sambil memeriksa jendelanya.

“Aku mendengar suara kuda Ayah. Ke mana dia pergi malam-malam begini? Ahhh, pasti ada hubungannya dengan rencana ke Singasari besok. Kasihan ayah, akhirakhir ini dia tampak semakin tua. Aku harus mendampinginya dan membesarkan hatinya.”

Arya Kamandanu menyorongkan kancing jendelanya agar lebih kencang lagi. Bersandar sejenak pada dinding papan kamarnya, memperhatikan tempatnya berbaring yang kusut. Pada ujung tikarnya sudah robek dan putusputus. Bahkan pada tepi-tepinya tampak jamuran karena terlambat tak dijemur. Ia tersenyum, karena tikar itu buatan buah tangan Nari Ratih. Tikar tanda persahabatan pertama ia mengenal gadis yang merebut seluruh hatinya. Ia perhatikan pakaiannya yang kotor tergantung di ujung kamar. Ia hirup udara kamarnya yang apek dan kurang sedap karena lama tak dibereskan dan dibersihkan. Kembali lagi ia melangkah mondar-mandir seperti orang bingung, tak tahu apa sebetulnya yang mengganjal di hatinya.

Karena tak bisa tidur lagi, Arya Kamandanu beranjak meninggalkan kamarnya. Sebentar kemudian dia sudah berada di ambang pintu ruang kerja ayahnya. Terdengar pintu ruang kerja itu dibukanya perlahan menimbulkan derit panjang memecah kesunyian malam. Beberapa saat lamanya ia berdiri di ambang pintu, kemudian menutup pintu itu kembali seperti sedia kala. Ia berdiri sejenak menyandarkan punggungnya di balik daun pintu yang sangat tebal itu. Rongga dadanya dipenuhi oleh bau logam karatan, bau apek dan warangan cairan pembasuh senjata yang menyengat. Ia nyengir dan memoncongkan bibirnya seraya melangkah seenaknya.

“Ahh! Selama berpuluh surya Ayah terbenam di ruangan ini. Usianya habis untuk membuat senjata-senjata pusaka pesanan pemerintah Singasari. Ayah memang pekerja yang ulet. Dia tekun dan selalu bersungguh-sungguh. Tapi tampaknya dia tidak begitu cocok dengan Paman Ranubhaya.”

Arya Kamandanu mengerutkan dahi memperhatikan ada selembar daun tal? Ia makin memperhatikan selembar rontal itu ketika melihat goresangoresan di atasnya ada tulisan ayahnya.

Arya Kamandanu membungkuk dan membaca tulisan yang tertera pada potongan-potongan rontal di tempat kerja ayahnya. Lalu ia membacanya dengan saksama,

“Ampun Sri Baginda! Hamba mohon Sri Baginda sudi membaca laporan hamba, dan selanjutnya mengambil tindakan yang tegas demi tegaknya wibawa pemerintah Singasari. Selama ini hamba telah dipercaya sebagai pembuat senjata pusaka untuk perlengkapan tentara Singasari. Di samping hamba juga dipercaya mengelola senjata pusaka di ruang penyimpanan senjata Istana Singasari. Hamba telah berjanji akan bekerja sebaik-baiknya. Namun, sekarang ini hamba mempunyai kesulitan yang bisa menghambat tugas-tugas yang dipercayakan pada hamba. Di desa hamba, Kurawan, ada seorang Mpu yang bernama Ranubhaya. Dia sebenarnya ahli dalam pembuatan senjata pusaka. Hamba telah berulang kali mengajak kerjasama, namun dia menolak. Malah akhir-akhir ini dia berani menghina pemerintah Singasari, bahkan menghina Sri Baginda Kertanegara sendiri. Untuk itu hamba mohon Sri Baginda menindak orang tersebut. Sebab kalau dibiarkan, hamba khawatir kelak kemudian hari bisa merongrong kewibawaan Sri Baginda.”

Arya Kamandanu meletakkan, kembali daun-daun tal itu seperti sedia kala. Darahnya tersirap, jantungnya berdebar-debar mengetahui isi surat itu. Ia mengeraskan rahangnya hingga tampak menonjol kukuh, matanya yang tajam berkilat-kilat.

“Ohh, surat ini berbahaya sekali. Paman Ranubhaya bisa dihukum mati, kalau sampai terbukti menghina Prabu Kertanegara. Tapi, mengapa Ayah sampai hati melaporkannya? Apakah ada suatu sebab yang membuat mereka bermusuhan sampai begini? Ahh, aku jadi serba salah. Aku tidak tahu harus memihak pada siapa. Paman Ranubhaya sangat baik menurut penilaianku. Aku tak habis pikir mengapa ayah membencinya dan menganggapnya sebagai orang yang harus disingkirkan? Apakah ayah takut suatu ketika Paman Ranubhaya menjadi saingan berat dalam pembuatan senjata pusaka? Ohh, aku tidak mau ikut campur. Tapi kalau memang keadaan mendesak, aku harus berbuat sesuatu untuk menolong Paman Ranubhaya.”

Arya Kamandanu segera mengambil tindakan. Buru-buru ia keluar dari ruang kerja ayahnya menuju bilik Bibi Rongkot pembantunya yang setia. Perlahan ia mendorong daun pintu perempuan tua itu yang selama ini tidak pernah dikancing dari dalam. Ia tersenyum ketika melihat perempuan tua itu sudah tidur. Kemudian pemuda itu kembali ke kamarnya sendiri dengan hati resah. Ia harus melakukan sesuatu untuk gurunya yang terancam bahaya.

Ia berusaha agar cepat tidur, namun pikiran-pikiran buruk menghantuinya hingga sampai pagi hari ia belum juga sempat memicingkan matanya. Untuk itulah ia segera bangkit dari pembaringan setelah mendengar kokok ayam ketiga. Suara-suara ternak juga meramaikan suasana di pagi itu.

Didorong oleh rasa penasaran yang bersarang di hatinya ia segera menuju bilik Bibi Rongkot. Pemuda itu tersenyum melihat Bibi Rongkot sudah bangun. Ia berjingkat, melangkah hati-hati sekali agar tidak membuat perempuan tua itu terkejut dibuatnya. Perempuan tua itu menatap ke dinding dengan pandangan mata kosong seperti melamun. Ia sedang menikmati kinang sirih sambil melamun duduk di bibir dipan. Perempuan tua itu segera menghentikan kunyahannya ketika tahu siapa yang mendorong pintu kamarnya.

“Bi Rongkot?”

“Ya, Ngger.”

“Bibi tahu ke mana Ayah pergi semalam?”

“Katanya beliau pergi ke rumah salah seorang sahabatnya, begitu. Entah sahabat yang mana Bibi tidak tahu, Ngger.”

“Lama perginya, Bi?”

“Barangkali tidak terlalu lama, Ngger. Sepertinya Bibi hanya terlelap sebentar. Bibi terbangun dan mendengar

Ayahanda menuntun kuda ke kandangnya. Setelah itu, bibi mendengar suara pintu ruang kerja beliau terbuka dan tertutup. Mungkin beliau langsung tidur di ruang kerja, karena bibi tidak mendengar apa-apa lagi sampai menjelang pagi.”

Arya Kamandanu mau membalikkan tubuh tapi perempuan itu menegornya.

“Ehh, mau ke mana, Ngger?” Setelah mendengar keterangan Bibi Rongkot pemuda itu langsung membalikkan badannya, menjawab pertanyaan perempuan itu sambil lalu.

“Menemui ayahanda, Bi.”

“Ayahanda sudah berangkat. Beliau hanya berpesan, agar Angger Kamandanu berhati-hati selama beliau tidak di rumah.”

Arya Kamandanu tidak melanjutkan langkahnya. Ia buru-buru memandang perempuan tua itu dengan mulut setengah menganga dan dahi berkerut hingga kedua alisnya yang tebal nyaris menyatu. Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dalam diam. Udara pagi yang dingin tak mampu mendinginkan hati pemuda itu yang dilanda keresahan. Matanya merah karena lelah, marah dan kurang tidur. Ia melangkah lemas sambil memukul jidatnya dengan telapak tangan kanannya saking kesalnya.

Mpu Hanggareksa terus memacu kudanya menuju kota

Singasari. Dalam hati dia sudah bertekad akan memfitnah sahabatnya sendiri. Dia merasa sakit hati dan merasa usahanya dijegal oleh Mpu Ranubhaya. Di samping sebenarnya dia merasa iri, bahwa tingkat kemampuannya membuat senjata pusaka masih di bawah sahabatnya itu.

Kuda cokelat tua itu membawa Mpu Hanggareksa menuju ke Singasari. Di belakangnya meninggalkan kepulankepulan debu yang menghalangi pandangan mata. Kuda itu berlari semakin lama semakin cepat hingga akhirnya lenyap di balik tikungan jalan yang menuju kotaraja Singasari.

Setelah berkuda hampir satu hari lamanya, dengan istirahat sejenak di beberapa desa yang dilewatinya, Mpu Hanggareksa dengan selamat bisa memasuki pintu gerbang Istana Singasari. Dia langsung menemui Pranaraja dan menginap di wisma pembesar Singasari itu, yang kemudian keesokan harinya membawanya menghadap Sang Prabu di Paseban Agung. Pagi itu segenap pejabat istana berkumpul di hadapan takhta Sang Prabu Kertanegara yang telah menerima laporan tertulis dari Mpu Hanggareksa.

Terdengar suara mendengung bisik-bisik dan geremeng obrolan mereka sebelum mendengarkan titah Sang Prabu Kertanegara. Terdengarlah gong dipukul dua kali pertanda tiba saatnya Sang Prabu Kertanegara bersabda. Seketika itu suasana menjadi hening dan sunyi. Khidmat penuh penghormatan.

Sang Prabu Kertanegara menghela napas dalam-dalam ketika hendak menyampaikan titahnya, “Aku sudah membaca dengan saksama laporan yang ditulis Paman Hanggareksa. Hmmmm! Apakah laporan ini bisa kupercaya?”

“Ampun, Gusti Prabu. Laporan itu hamba tulis berdasarkan kenyataan yang ada. Tak ada perlunya hamba memfitnah seorang kawan. Sebagai seorang kawan baik, hamba justru ingin merangkul dan mengajak dia untuk kerja sama mengabdi pada pemerintah Singasari. Tapi begitulah. Mpu Ranubhaya orangnya keras. Hatinya sudah membeku seperti sebongkah es!” kembali Mpu Hanggareksa menghaturkan sembah sampai jidatnya menyentuh lantai paseban yang terbuat dari papan-papan jati yang sudah dihaluskan.

“Paman katakan Mpu Ranubhaya telah menghina pemerintah Singasari, bahkan telah berani menghina aku. Apa yang sudah dikatakannya itu?”

“Ampun, Gusti. Hamba tidak sanggup mengulangi perkataannya di depan para hadirin yang berkumpul di balai paseban agung ini. Karena hamba rasa perkataan itu sangat tidak pantas, kalau hamba tidak boleh menyebut sebagai sangat kotor.”

“Hhhh? Kurang ajar benar si Ranubhaya itu. Apa yang diandalkannya hingga dia berani menghina Kertanegara? Hmmm, baiklah, Paman Hanggareksa. Aku memang tidak akan tinggal diam. Jelas aku akan mengambil tindakan yang tegas.”

Prabu Kertanegara menghela napas dan pandangan-nya tertuju pada seorang perwira gagah perkasa dengan kumis melintang tebal menghiasi bibirnya. Yang merasa dilihat menunduk sambil menghaturkan sembah dengan melipat tangan dan diangkat tepat di depan dadanya.

“Ranggalawe!”

“Hamba, Gusti Prabu,” suara itu besar, mantap dan dalam. Sekali lagi Ranggalawe menghaturkan sembah. Kali ini jidatnya sampai menyentuh ke lantai.

“Berangkatlah ke Kurawan! Bawalah serta dua puluh orang prajurit. Kau kuperintahkan untuk menasihati orang yang bernama Mpu Ranubhaya.”

“Hamba, Gusti Prabu.”

“Kalau dia tidak mau kaunasihati dan tidak mau mencabut kata-katanya yang telah menghina pemerintah Singasari dan bahkan menghina pribadi Kertanegara, tangkaplah orang itu. Kalau dia melawan, kuperintahkan agar kau membunuhnya.”

“Baik, Gusti. Hamba siap menjalankan perintah Gusti. Lalu kapan hamba harus berangkat?”

“Sekarang juga. Kau bisa bersama-sama Paman Hanggareksa sebagai penunjuk jalan.”

“Baik, Gusti. Perintah Gusti Prabu hamba junjung tinggi,” lagi-lagi Ranggalawe menghaturkan sembah. Dengan matanya yang tajam ia mencuri pandang ke arah junjungannya. Kemudian ia duduk seperti posisi sebelumnya dengan sekali-kali melirik ke arah Mpu Hanggareksa yang juga duduk menunduk penuh hormat.

Ranggalawe adalah seorang kepala pasukan yang membawahi dua ratus orang prajurit. Dia adalah putra Arya Wiraraja. Arya Wiraraja atau Banyak Wide telah dilorot kedudukannya sebagai Demung, dan sekarang menjadi seorang adipati di Sumenep.

Hari itu juga, begitu keluar dari paseban agung Istana Singasari, Ranggalawe langsung mengumpulkan orangorangnya Ikut dalam rombongan itu Pranaraja, Jarawaha dan Ganggadara. Rombongan yang terdiri dari dua puluh lima orang itu pun berangkat ke Kurawan. Debu-debu beterbangan di jalan ketika kuda-kuda mereka melewati pusat kota Singasari. Derap kaki kuda terdengar riuh rendah diselingi ringkikan-ringkikan perkasa. Dua puluh lima orang penunggang kuda itu begitu bersemangat mengendarai kuda hingga kuda yang ditunggangi mereka saling dahulu mendahului.

* * *

Rombongan berkuda terus bergerak meninggalkan perbatasan kota Singasari, dengan mengendarai kuda hitam yang bernama Nila Ambara, Ranggalawe berada paling depan barisan. Sementara di belakangnya Mpu

Hanggareksa yang berkuda berdampingan dengan Pranaraja. Di belakang mereka Jarawaha dan Ganggadara, yang dengan tangkas mengendarai kudanya masing-masing, sambil sekali-sekali menengok ke dua puluh orang prajurit di belakangnya.

Ketika matahari sudah mencapai ujung langit barat, barulah mereka sampai di suatu tempat yang memaksa mereka menginap di sana, sebab perjalanan menuju desa Kurawan tidak bisa dilalui dengan aman, jika malam hari.

Selain melewati tebing-tebing terjal gangguan begal, perampok dan para penjahat sering kali terjadi di sepanjang jalan menuju desa itu.

Rombongan itu berhenti di depan sebuah penginapan, yang lebih merupakan tempat tinggal penduduk biasa yang membuka warung di dalam rumah. Petang itu tampak beberapa orang duduk di serambi penginapan. Dua orang yang duduk di sana adalah pelayan penginapan itu, sedangkan dua orang lainnya adalah prajurit Singasari yang diutus Ranggalawe memesan kamar untuk beristirahat.

“Ehh, hehe. Apa yang bisa saya bantu, Tuan? Tuan berdua membutuhkan ruangan untuk istirahat malam ini?” tanya seorang pelayan yang sengaja dibuat-buat agar kelihatan sopan. Sikap pelayan itu membuat kurang senang kedua prajurit Singasari itu.

“Bukan berdua. Kami prajurit Singasari. Kami semua ada dua puluh lima orang,” jawab Jarawaha kasar.

“Ohh, ehh… jadi Tuan satu rombongan dengan prajurit-prajurit Singasari itu? Wah, wah… mana mungkin kami bisa

menampung semuanya? Rumah penginapan ini kecil, Tuan. Hanya ada lima belas ruangan. Itu pun ada dua kamar yang tidak bisa ditempati, karena membutuhkan perbaikan.”

“Kami hanya membutuhkan lima kamar saja, pelayan,” jelas Jarawaha ketus dan angkuh.

“Kau tidak usah pusing memikirkan di mana prajuritprajurit itu akan tidur malam ini. Mereka bisa memasang tenda di halaman rumah penginapan ini,” tukas Ganggadara.

“Oooo, kalau begitu bisa, Tuan. Tentu saja bisa. Jadi, hanya lima ruangan yang harus kami siapkan? Baik. Baik, Tuan.”

Percakapan antara pelayan dengan Jarawaha dan Ganggadara itu didengarkan dengan baik oleh orang yang duduk di sudut serambi penginapan itu. Kedua orang itu sudah tahu, siapa kedua prajurit Singasari itu, maka seorang di antara mereka ingin membuat gara-gara. Salah seorang yang berbadan tegap dengan otot-otot menonjol itu kasar sekali menggebrak meja. Terdengar suara berderak karena ada cangkir yang menggelinding.

“Pelayan! Bukan hanya mereka itu yang menjadi tamu di rumah penginapan ini. Kami pun berhak untuk dilayani dengan baik.” Lelaki berotot itu bangkit dan melotot pada pelayan.

“Oh, eh,…ya, Tuan. Tuan berdua membutuhkan apa?” tanya pelayan dengan wajah pucat pasi karena pelayan itu sudah tahu persis siapa kedua pemuda berotot itu.

“Tambah lagi mangkuk tuakku itu!” pinta yang seorang dengan kasar sekali.

“Jangan takut kami tidak akan membayar, pelayan,” kata yang seorang yang lebih pendek.

“Ehh, ya. Ya, baik, Tuan. Sabar, akan saya ambilkan tuak buatan desa Apajeg yang paling enak. Silakan menunggu sebentar, Tuan.”

“Jangan terlalu lama!” bentak pemuda yang tadi menggebrak meja. Keduanya saling bisik, bahwa sebelumnya mereka pernah bertemu dengan kedua prajurit Singasari yang memesan kamar.

“Hmmm, ya. Aku ingat. Kita bertemu di desa Jasun Wungkal beberapa waktu yang lalu.”

“Aku juga masih belum lupa siapa kalian berdua ini. Bukankah yang ini Jaran Bangkai?” sahut Jarawaha sambil menunjukkan telunjuk tangan kirinya. Mereka memang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Ganggadara mengingat keduanya dengan baik dan ia melihat mereka dengan pandangan dingin. Beberapa saat mereka saling pandang dan tersenyum-senyum dengan angkuh, “Ingatan Tuan berdua masih cukup baik,” kata Jaran Bangkai nyinyir.

“Apakah tuan-tuan kali ini juga mau ke Kurawan?” tanya Jaran Lejong berlagak bodoh.

“Kalian tidak perlu tahu tujuan perjalanan kami,” jawab Jarawaha ketus.

“Ahh, yaaaa… tuan-tuan adalah prajurit. Kami lupa, bahwa tuan-tuan sebagai prajurit tidak boleh berbicara sembarangan,” tukas Jaran Bangkai sinis sekali.

Sejenak mereka diam karena pelayan tadi telah kembali dengan membawa tuak di nampan. Di atas nampan itu terletak sekendi tuak murni. Lalu pelayan itu menaruh sekendi tuak itu ke atas meja tepat di depan Jaran Bangkai dan Jaran Lejong.

“Heheheh. Ini tuaknya, Tuan! Hehehehe… silakan minum. Tapi…ehh, tapi….”

“Tapi apa?” bentak Jaran Lejong tak sabar.

Pelayan itu menunduk sambil mencuri-curi pandang pada kedua berandal itu.

“Tapi maaf, Tuan jangan sampai mabok!” katanya terdengar ketakutan dan mundur beberapa tindak melirik ke arah prajurit Singasari dan kembali beralih pada Jaran Bangkai dan Jaran Lejong yang sudah meraih kendi tuak itu serta menuangkan isinya ke mangkuknya masing-masing.

“Apa urusanmu? Mau mabok atau mau jungkir balik, yang penting aku akan bayar tuakmu!” jawab Jaran Lejong tanpa menghiraukan pelayan itu lagi.

“Bukan begitu, Tuan. Soalnya sekarang ini sedang ada banyak tamu. Kebetulan mereka adalah prajurit-prajurit Singasari.”

“Aku tidak peduli. Kami juga tamu di sini. Kami punya hak yang sama dengan mereka. Dan tidak ada peraturan minum tuak sampai mabok di rumah penginapan mana pun juga,” tukas Jaran Lejong kasar sekali dan meneguk tuak langsung dari kendi.

“Bukan begitu, Tuan. Maksud saya, ehh….”

“Jangan cerewet, pelayan! Nanti kusumbat mulutmu dengan kepalan tanganku ini!” bentak Jaran Bangkai dengan mulut masih penuh tuak sehingga cairan itu muncrat dari bibirnya. Jaran Bangkai menyorongkan mangkuknya yang sudah kosong dan minta dituangkan lagi.

Jaran Lejong segera menuangkan kendi tuak yang masih digenggamnya pada mangkuk Jaran Bangkai

Ia letakkan kendi tuak itu pada meja agak kasar. Lalu mengangkat mangkuknya sendiri dan menenggak isinya sekali tenggak hingga asat.

“Ayo, Kakang Jaran Bangkai! Kita minum sepuas hati kita. Jangan hiraukan mereka itu.”

Demikianlah kedua berandal itu tidak menghiraukan kata-kata pelayan. Mereka minum tuak sampai matanya merah dan mulutnya berbusa karena terlalu banyak minum.

Keduanya memandang sinis sekali pada kedua prajurit Singasari yang berdiri dan melangkah pergi karena tidak ingin terjadi keributan di penginapan itu.

Prajurit Singasari mendirikan terida darurat di halaman rumah penginapan desa Apajeg. Sementara itu Pranaraja, Jarawaha, Ganggadara, Mpu Hanggareksa dan Ranggalawe istirahat di ruangan tidur masing-masing. Pagi hari pun tiba.

Mpu Hanggareksa baru saja selesai membersihkan badannya ketika mendadak terdengar keributan di halaman penginapan. Pranaraja memandang Mpu Hanggareksa dan berusaha menajamkan pendengarannya. Keduanya buru-buru memandang ke arah datangnya suara keributan itu.

“Tuan! Tuan Hanggareksa?”

“Ada apa, Tuan Pranaraja?”

“Ada keributan di halaman rumah penginapan ini. Tuan segera saja berpakaian, saya akan melaporkan hal ini pada Gusti Ranggalawe.” Pranaraja segera melompat meninggalkan Mpu Hanggareksa. Sementara itu, di pelataran penginapan desa Apajeg telah terjadi perkelahian sengit. Jaran Bangkai dan Jaran Lejong membuat keributan, keduanya mengganggu prajurit Singasari. Melihat kejadian itu, Jarawaha segera menyibak di tengah kerumunan mereka. Ia tersenyum sinis pada Jaran Bangkai dan Jaran Lejong yang sudah siap menyambutnya dengan kuda-kuda.

Beberapa prajurit menghunus pedang dan siap bertarung.

“Minggir! Kalian semua minggir! Masukkan kembali senjata kalian ke dalam sarungnya. Kami berdua tidak membutuhkan prajurit! Kalau hanya untuk menghajar dua perampok tengik macam mereka ini.” Melihat kehadiran Jarawaha dan Ganggadara dua berandal itu makin beringas dan tertawa lebar, “Hahahah! Dulu kami berdua pernah kalian kalahkan di desa Jasun Wungkal,” ujar Jaran Bangkai sombong sekali.

“Dan sekarang kalian akan kami ringkus!” tukas Ganggadara tak kalah sengit.

“Hehehehe? Dengar Adi Jaran Lejong! Mereka akan meringkus kita katanya? Apakah mereka ini tidak malu dilihat anak buahnya, kalau sampai kita buat babak belur?” ejek Jaran Bangkai disusul dengan ledakan tawanya.

“Kurang ajar! Hiaaaaa…!” mendengar cemoohan itu, Ganggadara terpancing dan menjadi naik pitam. Ia menggebrak dengan tebasan pedangnya yang sangat tajam.

Namun, baru satu gebrakan saja mereka terpaksa menghentikan-pertarungan.

“Hentikan! Hentikan! Jarawaha, Ganggadara! Apa yang kalian lakukan? Heh, bukankah kalian Jaran Bangkai dan Jaran Lejong?” Pranaraja setengah tak percaya melihat siapa yang ada di depan matanya. Kedua berandal itu

masih juga menjadi biang keributan seperti beberapa waktu yang lalu.

“Heheheh, benar. Apakah Tuan bermaksud turun ke gelanggang juga?”

“Jaran Bangkai! Dulu kau dan kawanmu itu pernah kuampuni, mestinya kalian berdua sudah tidak mempunyai tangan lagi untuk membuat kejahatan-kejahatan yang baru.”

“Sekarang kita tidak perlu mengampuninya lagi, Tuan Pranaraja. Dua penjahat seperti mereka ini sudah sepantasnya diremukkan tulang-belulangnya,” timpal Jarawaha menahan marah.

“Huuuh! Sombong! Lakukanlah kalau kalian bisa!”

“Jaran Lejong! Kalau kalian tidak mau mengalah, kalian akan berhadapan dengan pemerintah Singasari.”

“Tuan Pranaraja! Baik sekarang, besok atau pun lusa, kami tidak sudi menyerah.”

“Perkataanmu semakin tidak sopan saja! Hiaaaa…!” Jarawaha tak sabar lagi, tanpa menunggu perintah atasannya ia langsung melompat dan menerjang dengan tebasan pedangnya. Gebrakannya disambut oleh Jaran Lejong dengan tangkisan pedangnya hingga kedua senjata itu berdenting hebat. Benturan dua senjata itu menimbulkan percikan api.

“Hentikan!” bentak Pranaraja sehingga Jarawaha melompat mundur dan menjejakkan kakinya di sisi Pranaraja beberapa langkah. Pranaraja marah.

“Kau jangan bertindak atas nama pribadimu sendiri, Jarawaha. Dua orang ini jelas mau menghina pemerintah Singasari. Karena itu dia harus berhadapan dengan prajurit-prajurit Singasari. Ayo, kalian jangan hanya menonton! Tangkap dua orang ini! Ringkus merekaaa…!”

Prajurit Singasari yang berjumlah dua puluh orang itu secara bergantian menyerang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Kadangkala lima orang prajurit menyergap serentak, kemudian dilanjutkan dengan empat atau lima orang prajurit lainnya. Tapi Jaran Bangkai dan Jaran Lejong memang tangkas dan mempunyai kepandaian di atas rata-rata prajurit Singasari. Dengan pedang panjangnya mereka berusaha membendung serangan yang datang beruntun.

Mendadak sebuah bayangan berkelebat ringan dan langsung terjun ke gelanggang pertempuran. Hanya dalam satu gebrakan saja bayangan itu sudah berhasil membuat jungkir balik dua orang prajurit Singasari. Kedua prajurit Singasari itu menjerit roboh dan tertelungkup mencium tanah. Darah pun muncrat dari perutnya membasahi tanah.

Melihat pemandangan seperti itu Pranaraja memberikan aba-aba pada bawahannya.

“Hentikan! Mundur semua! Munduuurrr.”

Seketika para prajurit Singasari pun mundur menjauhi medan perkelahian. Pertempuran pun berhenti. Keadaan sejenak menjadi sunyi.

Pranaraja membelalakkan matanya melihat ke arena. Di sana berdiri seseorang yang tampaknya pernah dilihatnya.

“Ada yang ikut campur urusan ini. Siapa kau?” bentaknya penasaran melihat sosok orang itu.

Bayangan yang ternyata adalah seorang wanita berwajah cantik itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah Pranaraja. Senyuman itu sangat manis, tapi mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menyeramkan. Wanita berparas cantik itu masih tertawa. Tawanya melengking tinggi, dan bila terdengar pada malam hari bisa membangunkan bulu roma.

* * *

Wanita berparas cantik itu terus tertawa memperhatikan kerumunan orang-orang yang menontonnya menjadi tampak bodoh. Mereka yang berkumpul di halaman hanya melihat sambil bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya.

Pranaraja melompat ke depan. Wanita itu mendengus.

“Kauu… kau pun sepertinya pernah kulihat. Ya. Di tempat yang sama. Waktu itu aku hampir saja memotong lengan dua perampok itu. Kau dan teman laki-lakimu datang dan membawa mereka pergi,” geram sekali Pranaraja menghardik wanita cantik di depannya.

“Kau sudah lupa siapa namaku, Tuan Prajurit?” wanita cantik itu berkata sinis dengan bibir mencibir pada Pranaraja.

“Aku ingat. Sebelum pergi mereka menyebutkan nama mereka lebih dulu, Tuan. Dewi Sambi. Bukankah benar itu namamu?” Jarawaha mengingatkan Pranaraja pada peristiwa beberapa waktu yang lalu.

“Ya, benar, Kau prajurit yang baik.” Dewi Sambi mengibaskan rambutnya yang menutupi kening.

“Lalu mengapa kau ikut campur urusan kami lagi?” tanya Pranaraja dengan suara berat dan dalam.

“Jaran Bangkai dan Jaran Lejong sudah menjadi orang-orangku. Setiap persoalan yang menyangkut diri mereka, aku tidak akan berpangku tangan. Aku pasti ikut campur,” jawab wanita cantik itu tegas, lugas dan penuh kebanggaan.

Jaran Bangkai dan Jaran Lejong pun turut mengangguk dan memberikan hormat pada pimpinannya.

“Apakah kau bermaksud membela anak buahmu yang telah membuat kesalahan?” semakin tak sabar Pranaraja bertanya, saat ini disertai gerakan kaki mengukuhkan kuda-kuda.

“Mereka membuat kesalahan? Kesalahan apa?”

“Mereka telah menghina kami, prajurit-prajurit Singasari.”

“Hmm…., apa benar begitu? Biarlah aku akan tanyakan pada yang bersangkutan.” Dewi Sambi tetap menunjukkan wajah asam, berpaling pada anak buahnya tanpa menggeser dari tempatnya berdiri dengan kedua kaki kukuh terpancang di tanah. Jaran Bangkai dan Jaran Lejong seketika memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan badan mereka.

“Apa yang telah kaukatakan pada mereka sehingga mereka merasa terhina, Jaran Bangkai?”

“Saya tidak mengatakan apa-apa, Tuanku Putri Sambi. Adi Jaran Lejong yang telah bertengkar dengan orang itu,” jawab Jaran Bangkai tegas dan kembali membungkuk hormat. Dewi Sambi memandang Jaran Lejong dengan ekor matanya.

“Kau telah berkata apa, Jaran Lejong?”

“Saya, saya… hanya berkata bahwa prajurit Singasari berpakaian bagus. Tapi kalau misalnya saya disuruh menjadi prajurit, saya tidak akan mau.”

“Mengapa tidak mau?”

“Soalnya saya tidak berbakat menjadi prajurit. Apalagi prajurit Singasari sekarang ini. Saya tidak tertarik sama sekali. Saya katakan lebih baik saya menjadi seorang pedagang makanan.” Selesai menjawab Jaran Lejong kembali memberi hormat.

“Naah! Itu berarti kau menghina kami, prajurit-prajurit Singasari,” potong Ganggadara menahan amarah.

“Tidak! Kurasa dia tidak bisa dikatakan menghina. Kalian saja yang mudah tersinggung, mudah terhina,” sahut Dewi Sambi ketus.

“Jelas dia sudah menghina kami Dia katakan lebih baik menjadi pedagang makanan, daripada menjadi prajurit Singasari,” tukas Jarawaha dengan suara parau

“Yaaa! Prajurit Singasari hanya mentereng pakaiannya. Tapi isinya kosong melompong. Buktinya, kalian tidak bisa berbuat banyak menghadapi kami berdua?” ejek Jaran Bangkai sambil memegang gagang pedang yang terselip di pinggangnya.

“Kalian hanyalah prajurit pajangan. Gentong nasi yang hanya menghabiskan kekayaan negara. Bwaaahhh!” ejek Jaran Lejong sambil meludah ke tanah.

“Kurang ajar. Hiaaaahhhh!” Jarawaha benar-benar tidak dapat menahan diri. Pemuda berotot itu langsung menggebrak Jaran Lejong yang dianggapnya sangat sombong. Jarawaha menerjang sangat kuat ke arah perut dan menghantamkan tangan kanannya pada leher Jaran Bangkai, namun ia terkejut karena yang dipukulnya dapat berkelit begitu rupa. Ia berdiri tegak dan memasang kuda-kuda sambil mencabut pedangnya. Jaran Bangkai melakukan hal yang sama. Pedang yang sangat tajam itu berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. Mereka saling menatap tajam dan akhirnya keduanya sama-sama menyabetkan pedang itu. Suara berdenting menambah keriuhan perkelahian itu.

“Tunggu! Kau tidak usah terburu nafsu menunjukkan ketajaman mata pedangmu!” bentak Dewi Sambi membuat keduanya menghentikan perkelahian. Bahkan wanita cantik itu melompat dan berdiri di antara keduanya.

“Minggir kau perempuan! Jangan berdiri di hadapanku!” hardik Jarawaha dengan menggeretakkan giginya.

“Aku tidak ingin melihat kalian menyakiti anak buahku. Kalau masih ada yang nekad, aku akan mengambil tindakan demi keadilan.”

“Jangan banyak mulut! Minggir atau ujung pedangku ini akan mencoreng moreng wajahmu dengan darah! Hiaaa!” tiba-tiba Ganggadara ikut menyerang dan menggebrak dengan sabetan pedangnya yang sangat tajam. Tapi pemuda itu betul-betul terkejut sebab wanita cantik itu sekalipun dibokong dari belakang dapat berkelit dari serangannya, bahkan kedua tangannya ditarik tepat di depan dadanya dan kedua tangan itu dihempaskan kearahnya dengan jemari terbuka. Dari kedua telapak tangan itu meluncurkan tenaga yang sangat dahsyat dan menghantam tepat di dada Ganggadara. Pemuda berotot itu terhuyung dan roboh ke tanah dengan mendekap dadanya yang terasa sesak.

“Ohh! Aji Tapak Wisa?” Pranaraja ikut terkejut melihat kenyataan itu.

“Barangsiapa yang masih mau mencoba menyerang kami, akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang ini!” ancam Dewi Sambi dengan memandang rendah pada Ganggadara yang matanya mendelik, hidungnya kembang kempis dan bibirnya meletat-meletot karena menahan dada yang sangat sesak akibat pukulan aji Tapak Wisa.

“Ehh, eehh… napasku… dadaku… rasanya panas sekali,” keluh Ganggadara makin mendelik.

“Dewi Sambi! Kau sudah berani melukai anak buahku. Tahukah kau apa artinya?” tanya Pranaraja dengan sikap waspada.

“Hii…hii… artinya kau mau membelanya bukan? Kau mau turun tangan demi menjaga harga diri seorang prajurit. Nah, silakan!”

“Huuuh! Kau memang hebat, karena mempunyai pukulan Tapak Wisa. Tapi bukan berarti aku menjadi gentar!” Pranaraja mencabut pedangnya yang tipis tetapi berpamor tinggi. Pedang itu berkilat-kilat. Telapak tangan kirinya terbuka lalu pedang itu ditumpangkan di sana sambil ditarik perlahan seperti mengasahnya, “Ayo, Dewi Sambi! Kita adu kesaktian! Kalau aku sampai kalah, kau boleh pergi bersama dua orang kawanmu itu dan kami mengaku bersalah. Tapi kalau kau sampai kalah, kalian bertiga harus menyerah dan mau kubawa ke kota Singasari sebagai tawanan!”

“Hihihii… boleh! Boleh? Ayo, mulailah! Kerahkanlah seluruh kepandaianmu, supaya tidak mengecewakan anak buahmu yang sekarang melihat tingkah lakumu.”

Pranaraja tak sabar lagi. Ia langsung menggebrak wanita itu dengan tebasan-tebasan maut. Dewi Sambi melompat-lompat lincah sekali bagaikan burung srikatan bermain-main dengan kutu terbang. Setiap kali bergerak disertai dengan pekikan-pekikan berkekuatan tinggi. Suaranya nyaring dan mengerikan. Pranaraja benar-benar penasaran dan sangat gusar dibuatnya. Pranaraja menganggap kelakuan Dewi Sambi benar-benar kurang ajar. Ia tidak mau dibikin malu di depan musuh dan anak buahnya, sambil mempererat genggamannya pada gagang pedang maka ia langsung menyerang dengan kekuatan penuh, “Hiaaaa… hiaaaaahh!” perwira itu melenting ke udara dan menghempaskan pedangnya ke arah leher wanita itu. Tapi sekali lagi tebasannya hanya menyambar angin. Suara pedang itu bersiut kencang sekali, berdengung panjang seperti suara gangsingan. Angin pedang Pranaraja bersuitan membabat kiri kanan. Prajurit-prajurit yang melihat menjadi bangga mempunyai seorang panglima muda seperti Pranaraja. Tapi mereka heran sekali. Sudah lebih dari sepuluh jurus Pranaraja menyerang, lawannya kelihatan belum ada tanda-tanda bisa dikalahkan. Bahkan keadaan menjadi berbalik, manakala wanita berwajah cantik itu mulai membuka serangan dengan jurus-jurus andalannya.

Kedua belah tangan Dewi Sambi terjulur ke depan, dan telapak tangannya mengembang.

“Hiaaaaaiiihhhh!” Dewi Sambi menghantamkan aji Tapak Wisa tepat ke arah dada Pranaraja yang membabi buta menyerangnya. Namun, wanita cantik itu terkejut karena hantamannya membentur tenaga dalam yang sangat dahsyat. Pukulannya terbendung oleh sesuatu yang melesat cepat menghadang di depannya. Mata Dewi Sambi melotot, napasnya terengah-engah menahan geram. Mulut mungilnya setengah terbuka ketika memperhatikan lelaki tinggi besar berjambang lebat yang berdiri di depannya. Sementara Pranaraja dengan cepat memberikan hormat.

“Ohh, Tuanku. Tuanku telah menyelamatkan nyawa saya!”

“Kurang ajar! Siapa kau berani menghadang jurusku yang berbahaya ini?” hardik Dewi Sambi sambil menjejakkan kaki kanannya.

“Pranaraja! Minggirlah sebentar! Ajaklah Ganggadara ke serambi depan, supaya Paman Hanggareksa melihat luka dalamnya.”

Pranaraja tanpa komentar langsung melakukan perintah lelaki tinggi besar dan berwibawa itu. Suaranya yang berat dan dalam sempat menggetarkan hati Dewi Sambi yang memuji di dalam hati.

“Siapa kau berani turun gelanggang membela prajurit Singasari itu?” tanyanya dengan nada penasaran dan melangkah dua tindak mendekat.

“Sabar, Dewi Sambi! Semua nanti bisa kita selesaikan dengan sebaik-baiknya,” lelaki tinggi besar itu menoleh pada Pranaraja yang kuwalahan memapah Ganggadara. Lelaki itu mengangkat dagunya yang kukuh.

“Cepatlah angkat Ganggadara! Mudah-mudahan luka dalamnya tidak terlalu parah,” suaranya yang berat kembali memberi perintah.

“Dia akan mampus kalau aku menggunakan pukulan ilmu Tapak Wisa seluruhnya,” tukas Dewi Sambi mencibir.

“Kalau begitu ampuh sekali pukulanmu itu, Dewi Sambi.”

“Kalau kau ingin mencicipinya, aku akan memberimu kesempatan.”

“Hmmm, boleh juga. Siapa tahu pukulanmu lebih lezat dibanding semangkuk arak yang paling enak.”

“Kau akan menyesal karena kesombonganmu!”

“Aku tidak pernah menyesali apa yang pernah kulakukan!”

“Hiaaaaihhh! Heeiit! Hiaaaatttt!” Dewi Sambi tak sabar lagi menghadapi musuh barunya. Ia mundur beberapa tindak dan berusaha melabrak lelaki tinggi besar itu. Satu gebrakan pukulannya dapat dielakkan dengan mudah sehingga serangannya hanya terhempas di udara. Tanpa diminta ia menghentikan serangannya dan memandang serius ke arah lawan barunya sambil menghardik.

“Baguuusss! Agaknya kali ini aku mendapat lawan yang seimbang. Awasss! Berhati-hatilah! Sekarang kau tak bakalan bisa lolos dari jurus berantaiku ini! Hiiaaaaihhh! Heeiiit! Hiaaaah? Hiih! Hiih.”

Dalam gebrakan yang kedua itu Dewi Sambi berputar-putar dengan gerakan-gerakan sangat cepat dan sulit dilihat dengan mata biasa. Setiap kali mendapat peluang kedua tangannya dihempaskan ke depan tepat ke arah lawan tangguhnya. Terdengarlah benturan dahsyat yang menggema akibat dua tenaga dalam yang dilontarkan kedua tokoh tangguh itu. Memang benar apa yang dikatakan wanita berparas cantik yang bernama Dewi Sambi itu, laki-laki tegap perkasa yang kini menjadi lawan tandingnya itu ternyata memiliki kepandaian yang mampu mengimbangi permainan jurus-jurus mautnya. Sementara itu, di pihak lelaki perkasa itu tidak kurang herannya.

Sekalipun seorang wanita, kemampuan Dewi Sambi tak boleh dianggap enteng. Apalagi pukulan Aji Tapak Wisa yang mengandung racun, kalau sampai dia lengah, bisa roboh menjadi korban pukulan maut itu. Karena itu Ranggalawe terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan arus pukulan yang terasa semakin panas dan berbahaya.

“Heeeeiiiittt! Hiaaaaaahh!” kembali lagi wanita cantik itu melancarkan serangannya dengan jurus-jurus mautnya.

Lelaki tegap perkasa itu memagari dirinya dengan tenaga dalam dan mengimbangi serangan dengan jurus-jurus andalannya. Ketika keduanya semakin sengit bertarung tiba-tiba mendekatlah seorang cebol dengan bertepuk tangan menyaksikan pertarungan itu. Di punggungnya tergantung tongkat panjang berkepala ular sendok.

“Hebat! Hebat! Sungguh suatu tontonan yang menarik sekali!”

Dewi Sambi menghentikan serangan. Ia melompat ke sisi lelaki cebol bertongkat di punggungya itu. “Orang ini mempunyai tingkat kemampuan cukup tinggi, Kakang. Dia mampu menahan pukulan Aji Tapak Wisaku,” bisik Dewi Sambi setelah melompat mundur dan menghentikan serangannya. Wanita itu berdiri di samping laki-laki cebol dengan napas memburu. Lelaki cebol itu membenarkan bisikannya. Ia melihat prajurit yang dihadapi Dewi Sambi memang prajurit pinilih.

Ia menilai lelaki tinggi besar berjambang lebat itu sebagai pimpinan rombongan. Si Cebol itu melangkah, tersenyum dingin dan menatap Ranggalawe, “Tuan! Bukankah Tuan adalah pimpinan rombongan prajurit Singasari ini?”

“Ya. Akulah pemimpin mereka. Aku akan membuktikan, bahwa prajurit Singasari tidak seperti yang dikatakan dua orang anak buahmu itu. Tidak semua prajurit Singasari adalah gentong nasi dan tidak becus bekerja.”

“Hehehee… tentu saja tidak semuanya. Mereka ini kan hanya bercanda saja, Tuan. Tuan tidak perlu merasa tersinggung.”

“Bukan begitu caranya bercanda. Kata-katanya sudah tidak bisa digolongkan bercanda.”

“Baiklah, aku minta maaf atas kelancangan mereka!” ujar laki-laki cebol itu merendah dengan suaranya yang cempreng.

“Tentu saja aku akan memberinya maaf. Tapi bukan berarti mereka bisa pergi begitu saja,” tukas lelaki perkasa itu.

“Maksud Tuan?”

“Kedua orang anak buahmu itu akan kuikat dan kuseret dengan kuda sepanjang perjalananku menuju desa Kurawan. Kemudian mereka akan kubawa ke kota Singasari untuk kuserahkan pada petugas keadilan.”

“Ahh, kejam sekali. Kurasa hukuman dan perlakuan seperti itu tidak mencerminkan keadilan.”

“Kalau kau membela mereka, kau akan mendapat hukuman yang serupa.”

“Hmmmm, bagaimana kalau kita buat semacam taruhan? Mari kita berlaga di atas gelanggang ini. Kalau aku kalah, Tuan boleh membawa dua orangku itu. Tuan boleh berbuat apa saja atas diri mereka. Tapi kalau Tuan ternyata dapat kukalahkan, Tuan harus membebaskan mereka, dan menganggap mereka tidak bersalah, sekaligus menganggap persoalan ini selesai sampai di sini.”

“Tantanganmu kuterima. Tapi aku menghendaki taruhan yang lebih besar.”

“Taruhan apa itu?”

“Kalau kau kalah, kau dan kawan-kawanmu itu harus mati di tanganku!”

Mendengar tantangan yang berat itu, lelaki cebol dan Dewi Sambi saling pandang sejenak dengan dahi beranyam kerutan. Dewi Sambi melangkah dua tindak mendekati lakilaki cebol itu seraya berbisik.

“Kakang Bajil! Orang ini menantangmu perang tanding sampai mati!”

“Akan kulayani.”

Setelah berunding dengan Dewi Sambi, lelaki cebol yang dipanggil Bajil itu tersenyum dingin pada Ranggalawe,

“Baiklah! Lalu apa yang Tuan pertaruhkan?”

“Kalau kau dapat mengalahkan aku, maka aku akan meletakkan jabatanku sebagai panglima perang kerajaan Singasari, sebelum kuserahkan nyawaku padamu!”

Suasana terasa sangat panas. Merah padam muka lelaki cebol itu. Ia serahkan tongkat dari punggungnya pada perempuan cantik di sisinya. Dewi Sambi pun bergidik menerima tongkat berkepala ular sendok dari Bajil. Bulu romanya terasa tegak berdiri. Demikian pula wajah lelaki

tegap itu seperti terbakar. Ia menghela napas sangat dalam hingga dadanya yang bidang semakin mengembang besar menunjukkan keperkasaannya. Prajurit-prajurit Singasari, mereka semua yang berkerumun di halaman rumah penginapan itu, tak seorang pun berani mengeluarkan katakata. Semua menahan napas melihat kedua orang pendekar pilih tanding yang sekarang sudah siap mengadu nyawa.

Karena begitu tegangnya sampai mereka tidak melihat kehadiran seorang penunggang kuda. Penunggang kuda yang baru datang itu tinggi, gagah, bertubuh tegap perkasa.

Orang itu tidak segera turun dari punggung kudanya. Dia melihat peristiwa di halaman dengan penuh perhatian.

Matanya menatap tajam, sementara tangan kanannya terletak di atas gagang pedang yang besar, yang terselip di pinggangnya.

“Apakah Tuan sudah siap?” suara cebol itu lantang sekali.

“Majulah! Kau akan kutangkap bersama orang-orangmu!”

“Heheheheee… heheheeee…? Hiaaaaaiihhhh! Wuuuussshhh! Haaaaaiiiihhhh” sambil tertawa-tawa latah si cebol itu menyerang lawannya yang tiga kali lebih tinggi dari tubuhnya. Karena serangan-serangannya selalu ditelan udara kosong, mau tak mau ia melompat mundur dengan tawa terkekeh-kekeh dan mengangguk-angguk kagum.

“Babo! Baboo! Tenagamu seperti tenaga dua ekor banteng jantan ditumpuk menjadi satu. Nah, terimalah seranganku yang kedua ini. Hiaaaaiihhh! Huuuuu… hiaaaaahhhhh!” si cebol itu semakin gencar menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Tetapi ia tidak bisa meremehkan lawannya yang juga memiliki kepandaian tinggi. Laki-laki tegap perkasa itu merasa tidak repot melayaninya. Kembali si cebol melompat mundur dengan mengangguk-angguk mengakui lawan tandingnya.

“Hhhhh! Pantas kau diangkat menjadi panglima perang Singasari. Tidak percuma kau memperoleh jabatan itu. Tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini. Sambi! Lemparkan tongkatku!”

“Terimalah, Kakang!” Dewi Sambi melemparkan tongkat panjang berkepala ular sendok, dan tangan pendek itu begitu gesit menangkapnya. Ia tersenyum penuh rasa bangga. Tangan kanannya mengelus tongkat berkepala ular itu dari ujung sampai pangkal. Tawanya terkekeh cempreng sambil memandang lawannya. Si cebol matanya mendelik bagai terbalik hingga yang tampak warna putihnya saja. Si cebol murka, sambil mendengus keras ia melompat ke belakang sejauh lima batang tombak. Tongkat panjang dengan gagang besi kuningan itu sudah mulai berputar makin lama makin kencang. Rupanya si cebol ingin melanjutkan dua jurus permainannya yang terdahulu, kini ia memainkan tongkat panjang dengan luar biasa. Ia unjukkan kemahiran yang luar biasa bagaimana tongkat panjang di tangannya bekerja.

“Hiaaaaihhh… heeeaaahhhh!” tanpa menunggu lawannya si cebol langsung menyerang dengan dahsyat. Tongkat panjangnya berputar kencang sekali bagaikan kitiran. Kibasan-kibasannya sangat berbahaya. Ia terus merangsek lawan tandingnya tanpa ampun. Tongkat panjang yang berputar-putar itu semakin dahsyat sekali. Menyambar kiri kanan, suaranya membuat kecut hati mereka yang berada di pihak lawannya. Tapi lawan tandingnya kelihatan cukup tangguh untuk mengimbangi jurus-jurus maut pendekar dari Gunung Tengger itu. Debu mengepul di halaman rumah penginapan itu, dan suasana pagi yang cerah mendadak diwarnai udara pembunuhan.

Mpu Hanggareksa dan Pranaraja yang menyaksikan pertarungan dari serambi rumah penginapan kelihatan cemas.

“Luar biasa permainan tongkatnya. Hati saya menjadi was-was juga, Tuan Pranaraja.”

“Jangan cemas, Tuan Hanggareksa. Gusti Ranggalawe bukanlah seorang pendekar sembarangan. Di istana Singasari beliau tergolong pendekar kelas satu. Barangkali hanya Gusti Lembu Sora yang pantas disejajarkan dengan beliau.”

Hati Mpu Hanggareksa agak tenang mendengar penjelasan Pranaraja, sekalipun masih belum bisa melihat kenyataan pertarungan keduanya. Baru pertama ia lihat ada seorang bertubuh cebol, yang tampaknya bisa diangkat dan dilemparkan ke sana kemari dengan mudah, tapi nyatanya pendekar seperti Ranggalawe bisa dibuat kerepotan. Mpu Hanggareksa dan Pranaraja hanya bisa menyaksikan pertarungan itu dengan menahan napas penuh harap cemas.

Lebih-lebih si cebol terus menyerang junjungannya dengan gencar.

“Haaaaiiiiit! Hiaaatttt! Hiaaaahhhh!” si cebol melenting ke udara undur dari kancah perkelahian. Ia berdiri tepat di sisi Dewi Sambi yang sejak tadi hanya menonton dengan mata melotot.

“Bagaimana, Kakang Bajil?”

“Panglima perang Singasari ini memang benar-benar tangguh!”

“Tapi Kakang masih belum dikalahkan bukan? Kakang masih sanggup melawan?”

“Heheheeee…? Napasku masih panjang. Tenagaku masih mampu untuk bertempur dua hari dua malam. Jangan khawatir, Sambi. Kalaupun aku tidak bisa mengalahkan orang ini, dia pun juga tidak bisa mengalahkan aku.” Si cebol itu melangkah dua tindak mendekati lawannya.

“Bagaimana, Tuan? Apakah masih akan kita teruskan tontonan mengasyikkan ini?”

“Huuuh, Bajil! Aku bukan sedang membuat tontonan di halaman rumah penginapan ini. Aku akan menangkapmu dan orang-orangmu itu.”

“Heheheh! Rupanya Tuan mempunyai pendirian kokoh seperti sebongkah batu karang. Baiklah! Kalau memang demikian, aku terpaksa menggunakan jurus andalanku. Sebab kalau hanya dengan cara seperti ini, aku kira kita bisa bertempur sampai besok lusa, dan tak akan ada yang keluar sebagai pemenangnya.” Bajil tersenyum pada perempuan cantik itu dan mengulurkan tongkatnya, “Peganglah tongkatku ini, Sambi!” si cebol mengulurkan tongkat berkepala ular sendok itu dengan tangan kirinya.

Dewi Sambi menyambar tongkat Mpu Bajil kemudian melompat mundur. Sementara Mpu Bajil berdiri tegak sambil meletakkan telapak tangannya di atas dada. Itulah pertanda pendekar Gunung Tengger telah bersiap mengeluarkan jurus pamungkas, yang bernama Aji Segara Geni. Si cebol bibirnya mengatup rapat dengan mata sebentar terpejam dan terbuka kembali dengan mendelik. Si cebol itu sambil tetap menyilangkan tangan di depan dada, mulai menyedot napas perlahan-lahan. Mendadak tubuh orang cebol itu bergetar hebat sekali. Rambutnya seperti ikut bergetar. Panglima Singasari itu tahu bahwa musuhnya kali ini benar-benar unjuk gigi, ingin mengadu kekuatan yang paling dalam dengan adu kesaktian. Maka dia pun segera membuat persiapan. Kedua tangannya membuat suatu gerakan melingkar tiga kali, dan akhirnya bersidekap, sementara kedua matanya terus memancar dengan tajam ke arah lawannya.

“Heeeeiiiitt…! Hiaaahhhh! Ajjjii Segarrraa Gennnniiii!” Bersamaan dengan kedua tangan si cebol yang dihempaskan ke depan tepat ke arah dada lawannya terdengarlah ledakan dahsyat karena Aji Segara Geni membentur ajian Zirah Waja yang dikeluarkan Ranggalawe untuk membentengi serangan itu. Dua tenaga dalam yang bertabrakan itu menimbulkan asap tebal hingga membuat para penonton cemas sekali menunggu apa yang akan terjadi pada kedua pendekar tangguh itu.

“Ooooohhhh…?” desah mereka berbareng dengan mata melotot. Sebagian ingin melihat dengan jelas. Ada yang mengucek-ucek matanya dengan punggung tangan, ada yang mendongakkan kepala.

“Gusti! Gusti tidak apa-apa?” Pranaraja menyeruak ke depan dan menghampiri junjungannya. Namun, junjungannya menghela dengan tangan kirinya tanpa berkedip memandang si cebol.

“Minggirlah, Pranaraja!”

Pranaraja dengan cepat melompat minggir dari sisi Ranggalawe.

“Heeeeh, Bajil! Kalau kau benar-benar mau mengadu kesaktian dengan Ranggalawe, Ayoooo…, kerahkan seluruh ilmu yang kau miliki! Tapi kau pasti akan binasa di tanganku.” Selesai mengucapkan kata-katanya, Ranggalawe segera-menghunus kerisnya yang sudah terkenal ampuh, yang bernama Megalamat. Terdengar suara berdencing mengerikan. Lebih-lebih pamor senjata pusaka itu lambat laun menjalar pada pemiliknya. Setelah menghunus keris Megalamat, mendadak penampilan Ranggalawe berubah.

Wajahnya berapi-api dan seluruh tubuhnya seperti bergetar dengan hebatnya. Sementara keris Megalamat tampak mengeluarkan cahaya kemerah-merahan, yang membuat Mpu Bajil sedikit geragapan. Pada saat itulah orang yang duduk di atas punggung kuda melompat ke tengah gelanggang. Ia berdiri membelakangi panglima perang Singasari, lalu perlahan memutar dan terseyum sangat dingin. Melangkah perlahan menghampiri Ranggalawe!

* * *

Categories:

Tags:

Comments are closed