KARENA merasa kurang diperhatikan Nari Ratih menjadi tersinggung- Dia kesal dan kecewa. Dia berharap Arya Kamandanu mencurahkan isi hatinya, namun harapannya itu tak pernah menjadi kenyataan. Arya Kamandanu yang pemalu dan peragu bahkan berusaha menghindari kata-kata cinta.

Akhirnya, Nari Ratih mengibaskan tangannya dan melompat ke halaman candi.

“Ratih! Ratih! Mau ke mana kau Ratih?” seru Arya Kamandanu terhenyak ketika melihat Nari Ratih berlari menembus deras air hujan.

“Pulang!”

“Tunggu! Apa salahku, Ratih? Apa salahku?”

“Tanya pada dirimu sendiri, Kakang!”

“Ratiiihh! Tunggu! Tungguuu, Ratih! Jangan tinggalkan aku!”

Mereka kejar-kejaran menembus padang ilalang di bawah guyuran air hujan. Napas Nari Ratih terengah-engah. Sesekali menoleh ke belakang takut Arya Kamandanu dapat menyusul dan menangkapnya. Ia tidak peduli kakinya yang mulus tergores rumpun ilalang yang cukup tajam.

Sementara Arya Kamandanu seperti bangun dari lamunan, kesetanan mengejar dara jelita itu Dalam hatinya ada rasa penyesalan karena meragukan cinta gadis itu. Nari Ratih terus berlari sambil menutup kedua telinganya ketika suara petir menggelegar dan menyambar pohon kelapa.

Kilat pun menjilat-jilat mengerikan di langit yang kian menghitam.

Karena langkah Arya Kamandanu jauh lebih lebar dan cepat, akhirnya ia berhasil menyusul Nari Ratih, ia tangkap pundak gadis itu dan ia hadang di depannya. Dengan napas terengah ia coba menahan gadis pujaan hatinya,”Ratih!”

Nari Ratih menghindar dan mendera Arya Kamandanu sambil berusaha meninggalkan pemuda itu,”Jangan mengikuti aku. Aku bisa pulang sendiri, Kakang!”

Arya kamandanu tak mau kalah, ia tetap menghalangi Nari Ratih agar tidak berlari lagi. Apalagi di sisi kanan Nari Ratih terdapat jurang yang dalam, sedangkan padang

ilalang di sisi kiri Nari Ratih tidak mungkin ia terabas karena terlalu lebat. Napas keduanya terengah-engah.

“Apa salahku? Mengapa tiba-tiba kau membenci aku, Ratih?”

“Aku tidak membenci siapa-siapa. Aku membenci diriku sendiri.”

“Marilah kita berteduh! Jangan hujan-hujanan, nanti kau sakit, Ratih!”

“Biar saja sakit “

“Jangan begitu Ratih. Kukira kita hanya salah paham. Baiklah aku minta maaf kalau memang kau anggap ada sikapku yang telah menyakiti hatimu.”

“Sudahlah, Kakang! Lupakan saja. Sebaiknya Kakang pulang saja, jangan ikuti aku lagi “

“Ratih! Lihatlah, pelangi itu masih ada di sana.”

“Pelangi itu sebentar lagi akan lenyap.”

“Tapi besok pelangi itu akan muncul lagi, kita masih bisa menikmatinya berulang kali “

“Aku tidak tertarik lagi melihat pelangi. Kalau kau masih terpesona padanya, lihat saja sendiri. Bagiku pelangi itu membosankan, tidak indah lagi seperti dulu. Nah, aku pergi, Kakang!”

“Tunggu, Ratih!”

“Awas, Kakang! Kalau Kakang mendekati aku, maka aku akan melompat ke dalam jurang ” Ancaman Nari Ratih tidak sembarangan. dengan berkata demikian ia melangkah beberapa tindak ke samping kanan mendekati bibir jurang.

Arya Kamandanu terperangah dengan kenekatan Nari Ratih. Gadis itu tidak main-main Kini ia berusaha menahan diri dan mengalah. Ia biarkan Nari Ratih meninggalkannya.

Gadis itu langsung berlari begitu mendapat jalan Arya Kamandanu baru berjalan dan berlari kecil jauh di belakang Nari Ratih, ia memperlambat kejarannya, kemudian berhenti agak jauh dari Nari Ratih yang menghentikan langkahnya di tepi jurang ketika tahu Arya Kamandanu terus membuntuti

Napas mereka terengah-engah. Arya Kamandanu sangat cemas. Hatinya berdebar-debar, khawatir sekali jika Nari Ratih benar-benar nekad. Untuk itu ia hanya bisa memandanginya dengan wajah sendu. Sedih sekali penuh penyesalan.

Dalam hatinya ia berbisik, “Ratih, mengapa jadi begini? Rupanya kau benar-benar tersinggung. Kau marah dan membenci aku. Baiklah! Aku memang pantas kaubenci. Aku sama sekali tak berharga di depanmu.”

Melihat Arya Kamandanu bengong dan hanya menatapnya dari jauh serta tidak berusaha mengejarnya lagi, maka Nari Ratih berseru, “Kita berpisah sampai di sini, Kakang! Selamat tinggal! Kau jangan menemui aku lagi!” selanjutnya gadis jelita itu terus berlari menyusuri bibir tebing. Rambutnya yang basah terurai panjang melekat pada kulitnya yang kuning langsat. Ia terus berlari sambil memegangi kainnya yang terkoyak.

Arya Kamandanu hanya dapat memandangi kepergian gadis itu yang semakin jauh dan akhirnya hilang di balik semak. Dalam hatinya merutuk seiring getar bibirnya yang makin biru karena kedinginan diguyur air hujan, “Ohh, mengapa pengalamanku seperti bait syair yang ditulis Kakang Dwipangga?

Sakit sekali rasanya. Suatu derita panjang di malam yang dingin dan kelam.

Arya Kamandanu mengepalkan kedua tangannya, menghela napas dalam-dalam untuk memerangi rasa dingin yang menggigit. Ia terhenyak dan tergagap teringat kekasihnya, “Ratih! Di mana Ratih? Ohh, dia sudah pergi. Kasihan Nari Ratih Aku akan mengikutinya dari kejauhan. Aku takut sesuatu akan menimpa gadis itu di jalan.”

Baru selesai bergumam terdengar guntur menghajar langit hitam. Arya Kamandanu merunduk sambil menutupi kedua telinganya, baru kemudian ia melompat menyusul ke arah perginya Nari Ratih yang sudah jauh dari pandang matanya. Bahkan ia tidak melihat bayangan gadis itu lagi karena cuaca semakin buruk.

Hujan bertambah deras. Arya Kamandanu terus berlari menyusuri bibir tebing yang makin licin. Kakinya sudah kotor oleh lumpur. Arya Kamandanu meraup wajahnya yang kuyu, mengerjap-ngerjapkan matanya yang perih kemasukan air hujan. Ia berhenti sambil berusaha memandang Nari Ratih yang sudah jauh dari hadapannya.

Seperti bola hitam tersembul dan tenggelam dipermain-mainkan gelombang. Demikianlah Nari Ratih kadang muncul kadang lenyap dari pandangan Arya Kamandanu.

“Nekad sekali gadis itu. Dia terus berlari dalam hujan. Tapi untung tidak terjadi apa-apa. Aku khawatir dia tiba-tiba sakit dan jatuh pingsan. Akh, mengapa aku berhenti di sini? Aku harus mengikuti Nari Ratih. Aku harus melihat dia tiba dengan selamat di rumahnya.”

Tersadar dari bengongnya Arya Kamandanu kembali melompat, berlari sekencang-kencangnya mengejar gadis cantik pujaan hatinya.

Setelah beberapa saat lamanya kejar-kejaran dalam cucuran air hujan, akhirnya dua insan itu pun menghentikan langkahnya. Nari Ratih menengok ke belakang sekilas sebelum memasuki pekarangan rumah-nya.

Arya Kamandanu buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik daun-daun talas di seberang jalan. Pemuda desa Kurawan itu menarik napas panjang setelah melihat gadis yang dicintainya masuk ke rumah.

“Syukurlah. Dia selamat sampai di rumahnya. Ohh, Ratih. Mengapa kau mengajakku berkejar-kejaran dalam hujan lebat?” Arya Kamandanu geleng-geleng kepala lalu memukul jidatnya dengan tangan kanannya. Ia tertawa sekalipun perih. Tawa masghul lelaki yang kecewa.

Kembali ia pandangi rumah Nari Ratih yang telah tertutup, “Apakah perangai setiap gadis memang begitu? Kadangkala sukar dimengerti. Atau barangkali aku yang terlalu bodoh memahami perasaan seorang wanita?”

Arya Kamandanu bingung, ragu-ragu dengan apa yang hendak dilakukannya. Pemuda tampan itu memandang langit. Masih berhias awan-awan kelabu. Kedua tangannya mengembang menadah ke langit sambil tersenyum sendiri di antara tanaman talas, “Ahh, hujan sudah berhenti. Aku harus segera pulang.”

Arya Kamandanu segera melangkah, masih menoleh ke pintu rumah Nari Ratih yang terkunci rapat. Dengan gontai ia berjalan menuju desa Kurawan. Sekali-sekali dia terpaksa melompati genangan air di sepanjang jalan.

Suatu saat ia berhenti, lalu wajahnya tengadah ke angkasa yang masih diselimuti mendung kian menebal. “Pelangi itu sudah lenyap. Hanya tinggal kehampaan menghitam di langit. Ke manakah perginya pelangi itu? Ke manakah harus kucari keindahan dalam hidup ini?” gumamnya seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan perbatasan desa Manguntur.

Mendadak di sebuah tikungan jalan muncul tiga orang pemuda menghadangnya.

“Hemmhh, pemuda-pemuda brengsek!” gumamnya geram sambil bersiaga menghadapi segala kemungkinan buruk.

“Nah, kita bertemu lagi, Kamandanu!”

“Kau jangan mengajakku ribut lagi, Dangdi.”

Anak kepala desa Manguntur itu semakin mendekati Arya Kamandanu dengan senyuman sinis. Kedua tangannya bertolak-pinggang.

“Bukankah sudah kukatakanbahwa aku akan membalas pukulanmu di pelipis kiriku ini?”

“Dan untuk itu kau merasa perlu membawa dua orang temanmu itu?” hardik Arya Kamandanu.

“Kau ingin berkenalan dengan mereka?” Dangdi makin sinis dan menjelaskan pada Arya Kamandanu dengan gerakan dagunya,”Yang berdiri di samping kananku ini Jaruju, anak desa Manguntur Selatan. Sedang di sebelah kiriku, Balawi, anak desa Tumangkar.”

“Diakah yang kaukatakan itu, Dangdi?” tanya pemuda di samping kanan Dangdi. Nada suaranya meremehkan Arya Kamandanu. Dangdi mengangguk dengan mantap dengan senyuman sinisnya.

“Jadi, kau yang bernama Arya Kamandanu, anak desa Kurawan?” geram sekali Balawi menyambung.

“Benar, aku Kamandanu.”

“Kau jangan sombong, Kamandanu. Mentang-mentang ayahmu seorang ahli senjata pusaka, lalu kau berani sok jago,” Jaruju dengan suara parau mencoba menyudut-kan Arya Kamandanu.

“Kalian berdua disuruh oleh anak Kepala Desa Manguntur itu?” tanya Arya Kamandanu dengan datar tetapi mantap.

Hal itu membuat Balawi mendelik dan menghardik, “Kurang ajar! Lidahmu tajam! Pantas Dangdi menaruh dendam padamu.”

“Kami disuruh apa oleh Dangdi, bukan urusanmu. Kau sudah menyakiti orang, dan sekarang kau akan disakiti pula oleh orang lain!” tukas Jaruju dengan suara semakin parau.

“Aku tahu kalian bertiga sengaja menghadang aku untuk membuat keributan baru Kalian mau mengeroyok aku.”

“Jika sudah tahu apa kau bermaksud melarikan diri?” cemooh Balawi sambil bertolak pinggang dan giginya gemeretuk. Cercaan itu disambut dengan tawa panjang Dangdi seraya melangkah lebih dekat pada Arya Kamandanu yang berdiri tegak setengah memasang kuda-kuda mengingat ketiga pemuda itu ingin mengeroyoknya.

Dangdi menyipitkan matanya, memoncongkan bibir seraya mengejek Arya Kamandanu, “Hahahah, kau boleh berlari, tapi sebelumnya kami bertiga akan membuatmu babak-belur lebih dahulu. Ayo Jaruju, Balawi, kita mulai! Hiaaaattt!”

Mereka bertiga langsung saja menerjang dan menendang. Kaki mereka menghajar Arya Kamandanu tanpa ampun. Dalam gebrakan pertama Arya Kamandanu terjengkang dan jatuh terhempas di lumpur. Pakaiannya yang masih basah bertambah belepotan. Ia menyangga tubuhnya dengan kedua sikunya. Napasnya turun naik menahan emosi.

“Kau licik, Dangdi!” Kamandanu menyeka lumpur yang mengotori sebagian wajahnya.

“Hahahahaha.” Dangdi dan kedua kawannya terbahak panjang, “Ayo bangkitlah anak pande besi! Atau kau lebih senang berkubang dalam lumpur itu?”

“Kau licik, hanya berani main keroyok!” tukas Arya Kamandanu berusaha bangkit.

“Diam kau tikus comberan! Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Bukankah sudah kukatakan bahwa luka di pelipisku ini harus kaubayar lebih mahal! Ayo, Jaruju, Balawi, kita mulai lagi!”

Kembali mereka menghajar Arya Kamandanu tanpa ampun sebelum dia bangkit dari lumpur. Beberapa pukulan dan tendangan telah menghantam tubuh Kamandanusekalipun ia berusaha mengelak.

“Ouhh, aku akan membalas perbuatan kalian ini! Oukhhhh!” ancamnya masih terduduk di lumpur.

“Hahahahah! Apa yang dia katakan itu, Jaruju?”

“Katanya dia mau membalas.”

“Kalau mau membalas cepat bangun dan hadapilah kami bertiga! Hahahahahah…” Balawi menyahut disambung dengan tawa cemooh Mulutnya terbuka lebar dan matanya jelalatan.

Tanpa diduga oleh mereka bertiga, Arya Kamandanu bangkit dan melompat memberikan suatu perlawanan. Ia menerjang, menendang dan menjotos Balawi, lalu Jaruju juga mendapat bagian, sedangkan Dangdi berusaha berlindung di balik kedua temannya. Arya Kamandanu membabi-buta. Perkelahian semakin sengit. Baku hantam yang kurang terkontrol membuat para pemuda itu harus menanggung risiko babak belur.

Arya Kamandanu wajahnya memar-memar, bengkak membiru karena pukulan Balawi yang amat keras.

Balawi pelipisnya robek, hidungnya mengeluarkan darah oleh sapuan tendangan Arya Kamandanu. Demikian juga Jaruju, matanya sebelah kanan memerah dan membengkak bahkan mulai kelihatan biru keunguan oleh jotosan mentah Arya Kamandanu.

Dangdi sendiri bibirnya belepotan darah dan retak. Pelipisnya pun kembali mengucurkan darah karena terkena tendangan ulang Arya Kamandanu.

Sekalipun langit makin gelap, mereka masih saling menantang. Tapi Dangdi menarik kedua kawannya, mereka meninggalkan Arya Kamandanu sendirian dengan wajah penuh lebam.

Malam merayap dan berkabut akibat hujan masih merinai. Arya Kamandanu meninggalkan tempat perkelahian dengan sempoyongan. Perih, pedih, pegal-linu di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia merasakan dingin dan menggigil. Tidak lama setelah ketiga musuhnya berlalu ia terhuyung dan pingsan di pinggir jalan. Matanya berkunang dan suasana makin gelap.

* * *

Pada malam itu, hanya nyanyian serangga malam terdengar di sana-sini. Kesunyian yang makin mencekam menyelimuti kediaman Rekyan Wuru. Terdengar suara batuk-batuk seorang perempuan muda. Perempuan cantik itu duduk di balai-balai dengan menahan dadanya dengan tangan kirinya. Matanya berair dan memerah, sedangkan hidungnya kembang kempis. Ia menahan tangis. Seorang lelaki setengah baya menghampirinya dengan mengerutkan dahi, “Apa kataku, Ratih. Kalau kau hujan-hujanan, batukmu pasti kambuh. Kau sudah besar. Sudah perawan. Seharusnya bisa menjaga kesehatanmu sendiri.”

“Air asemnya masih, Ayah? Terasa gatal sekali kerongkonganku.”

Lelaki setengah baya itu membalikkan tubuhnya dan meraih sebuah mangkuk, kemudian mengaduk-aduk air dalam mangkuk tersebut hingga terdengar kelutik-kelutik. Ia ulurkan mangkuk berisi air asem garam kepada putrinya,

“Dari mana saja kau tadi siang? Palastri, temanmu itu sampai dua kali ke rumah mencarimu,” ucapnya lirih setelah gadis cantik itu menerima mangkuk dan menyeruput sekali tenggak hingga tinggal ampasnya saja pada dasar mangkuk di tangannya.

“Saya mencari daun untuk obat pemerah kuku, Ayah.”

“Ke mana kau mencarinya?”

“Ke Kurawan.”

“Jauh sekali? Daun seperti itu kan banyak di rumah Kepala Desa? Minta saja sama anaknya.”

“Ahh, tidak, Ayah. Aku tidak senang bertemu anak Kepala Desa itu.”

“Mengapa? Apa dia masih suka menggodamu?”

“Dia selalu menggodaku setiap bertemu. Kadangkala dia keterlaluan sekali, sampai aku malu.”

Rekyan Wuru tersenyum seraya meraih mangkuk dari tangan putrinya, lalu katanya, “Itu biasa, Ratih. Kau sudah perawan. Dan wajahmu cantik. Karena itu tidak heran banyak yang menggodamu. Tapi kau harus berhati-hati. Kalau tidak senang pada seseorang, jangan terlalu menyakiti hatinya.”

“Ya, Ayah.” Kembali Nari Ratih terbatuk-batuk dan menahan dadanya, kemudian meraba lehernya yang jenjang dan kuning langsat itu dengan tangan kirinya.

“Sudahlah. Tidur saja. Kalau kau membutuhkan sesuatu panggil Ayah di ruang tamu.”

Lelaki setengah baya itu segera melangkah pergi dan hati-hati sekali menutup pintu bilik putrinya.Terdengar derit pintu seperti meringis memecah kesunyian.

Diam seorang diri membuat gadis ayu itu kembali teringat pada seraut wajah tampan, dengan senyumannya yang polos. Pemalu dan peragu tetapi jantan. Kadang sorot mata pemuda itu terlalu aneh di depan matanya.

“Kakang Kamandanu mengapa sikapnya aneh begitu? Ia sangat dingin padaku. Apakah dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Aku seorang wanita. Bagi seorang wanita pantang untuk mengutarakan cinta lebih dahulu. Tapi mengapa Kakang Kamandanu masih berdiam diri saat bersamaku, aku di depannya. Bahkan…? Ahh, jangan-jangan dia sudah mempunyai pilihan gadis yang lain. Ohh, betapa malunya. Betapa hinanya kalau ternyata cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Lebih baik aku bunuh diri daripada harus menanggung malu seperti itu.” Kembali Nari Ratih terbatuk-batuk. Dara jelita itu wajahnya bertambah kusut ketika butir-butir bening meluncur di kedua pipinya.

Tampak meluncur indah, perak keemasan butiran air mata itu memantulkan cahaya lampu minyak di kamarnya yang temaram. Ia gigit bibirnya yang merah jambu memucat.

Perih, seperih luka hatinya yang tergores oleh pisau cinta. Jeritan serangga malam seolah-olah menyenandungkan balada dukanya.

Malam kian merayap dan berselimut kepekatan. Langit berawan kian tebal dan menghitam membungkus pelita-pelita angkasa. Dalam kesunyian itu terdengar lengkingan buluh perindu yang ditiup seseorang. Melengking merayap ke langit dan meraba buana sukma.

Sementara itu, di wisma Mpu Hanggareksa seorang perempuan tua tampak duduk gelisah di biliknya. Sudah beberapa saat lamanya tembakau susurnya dibiarkan terselip di antara kedua bibir keriputnya tanpa bergerak.

Tatap matanya menerawang kosong. Seorang pemuda tinggi besar dan tampan perlahan-lahan menghampiri-nya dari samping dan menyapanya,”Ada apa kau ini, Bi Rongkot? Dari tadi kuperhatikan Bibi tampak gelisah.”

“Angger Kamandanu!”

“Kenapa dia?”

“Belum pulang juga. Ini kan sudah malam, Ngger?”

“Dia bukan anak kecil lagi, Bi. Dia bisa menjaga diri!”

“Soalnya tidak biasa Angger Kamandanu pulang larut malam begini.”

“Nanti juga dia pulang. Barangkali berkunjung ke rumah teman karibnya.”

Dwipangga begitu enteng menanggapi kegelisahan Bi Rongkot.

Baru selesai berkata, mereka mendengar suara pintu digaruk-garuk dari luar. Bibi Rongkot dan Arya Dwipangga saling berpandangan penuh tanda Tanya.

“Suara apa itu, Ngger Dwipangga?” bisik Bi Rongkot ketakutan.

“Coba kaulihat, Bi! Sekarang banyak anjing liar berkeliaran masuk ke desa Kurawan. Kadang-kala mereka mencuri ayam atau anak kambing. Coba lihat, Bi!” suruh Arya Dwipangga pada perempuan itu, dia sendiri bersiaga dengan meraih sepotong kayu di dekatnya.

“Baik, Ngger.” Perempuan tua itu lalu menuju pintu yang masih digaruk-garuk dari luar. Hati-hati sekali perempuan tua itu membuka palang pintu. Sementara Arya Dwipangga makin siaga penuh dengan tongkatnya.

Pada saat pintu dilepas palangnya, perempuan tua itu setengah melompat dan terpekik suaranya Ia sangat terkejut ketika melihat apa yang terhempas di depannya.

“Ohh, Ngger! Angger Dwipangga! Kemari cepat, Ngger. Aduuuh, bagaimana ini?” Bibi Rongkot mencoba memberikan pertolongan pada tubuh yang terkulai di kakinya.

Arya Dwipangga membuang tongkat dan menghampiri perempuan tua itu sambil mengerutkan dahi setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Haaah?” mata Arya Dwipangga terbeliak ketika memperhatikan tubuh adiknya seperti babi hutan habis berkubang di lumpur. Dari kaki sampai rambutnya tidak ada yang bersih, semua berbalut Lumpur.

“Angger Kamandanu… ohh, hidungmu berdarah, matamu bengkak membiru ” Bibi Rongkot meratap.

“Agaknya ia baru saja berkelahi dengan seseorang. Ayo, Bi, kita angkat ke dalam.”

“Ayo, Ngger, hati-hati, pelan-pelan saja.” Bibi Rongkot dan Arya Dwipangga menggotong tubuh Arya Kamandanu yang sudah tak berdaya.

Tubuh Arya Kamandanu belepotan lumpur dalam kondisi memprihatinkan. Napasnya satu-satu dan menggeram terus menerus seperti orang kesurupan. Mereka membaringkan tubuh lunglai itu pada balai-balai yang terbuat dari kayu jati, bergala-gala bambu yang dilapukkan, beralaskan tikar pandan

Bibi Rongkot dengan cekatan mengelap tubuh Arya Kamandanu dengan lap yang sebelumnya dibasahi dengan air bersih.

Malam kian merayap. Di kejauhan terdengar lolong anjing hutan yang berkeliaran. Di wajah perempuan tua itu tergambar rasa duka yang amat dalam memperhatikan jejaka yang terbaring dengan tangan terlipat di dada dan terus menggigil. Tiga lembar kain selimut penutup tubuhnya tidak mampu mengatasi demam yang melanda dirinya. Mata pemuda itu terpejam, bengkak sekepal tangan, memar dan makin menghitam akibat pukulan keras. Bibirnya ungu kebiruan, menebal dan retak-retak.

Dengan punggung tangan kanannya perempuan tua itu

meraba dahi pemuda itu. “Panas sekali,” gumamnya seraya membetulkan letak selimut. Ia pun duduk di tepi pembaringan sambil memijat-mijat kaki pemuda yang tak berdaya itu.

Tubuh Arya Kamandanu makin gemetaran. Bibirnya bergetar mendesiskan sesuatu yang kurang jelas di telinga perempuan tua yang sangat setia menunggui-nya.

“Hhhhh, hhh. Nari Ratih…, Nari Ratih… Hhhh, Nari Ratih. Angin bertiup kencang… masuklah ke dalam candi, Ratih. Nanti kau sakit… Hhhhhh….”

“Ngger! Angger Kamandanu!”

“Hhhh, dingin sekali “

Tanpa terasa butiran bening menggelincir di kedua pipi keriput perempuan itu. Hidungnya kembang-kempis. Lalu dengan tangan kirinya ia menyeka air mata dan ingus yang keluar.

Dalam hatinya ia meratap, “Kasihan sekali, Angger Kamandanu. Agaknya ia sedang mengalami derita asmara yang cukup parah. Dia menyebut-nyebut Nari Ratih. Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara mereka? Apakah Nari Ratih telah mengecewakannya?”

“Bagaimana, Bi?” tanya Arya Dwipangga setelah membersihkan diri sendiri akibat terkena lumpur dari tubuh dan pakaian Arya Kamandanu

“Dia sudah sadar kembali, Ngger.”

“Bagaimana dengan luka-lukanya?”

“Lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, Ngger. Hanya sepertinya dia mengalami guncangan batin yang berat. Itulah yang membuat luka-lukanya terasa agak parah.”

“Pelipisnya, dekat mata kirinya itu seperti hangus. Seperti bekas kena pukulan yang keras sekali.”

“Sudah saya boreh dengan param, Ngger. Besok pagi tentu akan berkurang rasa sakitnya.” Perempuan tua itu bangkit, kemudian memberikan tempat pada pemuda tampan yang ingin duduk di sisi pembaringan adiknya.

“Adi Kamandanu? Bagaimana rasanya?”

“Dangdi? Kau Dangdi? Mau apa kau datang kemari? Kalau kau menginginkan Nari Ratih, pergilah ke rumahnya. Nari Ratih tidak bersamaku lagi. Hubungan kami sudah terputus.”

“Adi Kamandanu? Aku bukan Dangdi.”

“Ya, Ngger. Ini Angger Dwipangga.”

“Kau Dangdi! Anak Kepala Desa Manguntur. Kaulah yang ingin merebut Nari Ratih dari tanganku. Ayo… rebutlah! Ambillah dari tanganku yang perkasa ini!”

“Sudah, Ngger; sudah! Lebih baik Angger Dwipangga jangan di sini. Angger Kamandanu belum pulih kesadarannya.”

“Baiklah. Nanti kalau ada apa-apa panggillah aku, Bi!”

“Ya, Ngger!”

Arya Dwipangga mundur beberapa langkah, matanya masih memperhatikan adiknya yang terbaring di pembaringan dengan tangan menggapai-gapai. Bahkan mengepalkan tangan sekalipun matanya masih terpejam.

Bibirnya menggumamkan suara yang tidak jelas. Mendesis. Menggeram, melenguh, sehingga perempuan tua yang menungguinya semakin sedih dan cemas.

“Ngger! Angger Kamandanu!”

“Hhhhhh Aaaaahhhh!” bersama pekikan terlepas, pemuda itu kembali tak sadarkan diri. Tubuhnya lemas dan menggigil sekalipun suhu badannya sangat panas.

Perempuan tua itu mengulurkan tangan kanannya, mengusap lembut kening Arya Kamandanu dengan bibir meliuk-liuk dan hidung kembang kempis. Matanya terasa panas karena tidak mampu membendung air mata yang meluncur di kedua pipinya yang mengisut.

“Ohh, Ngger Kamandanu. Mengapa begini? Angger seorang laki-laki, tidak boleh berjiwa lemah. Angger harus tabah menghadapi peristiwa yang seperti apa pun pahitnya.”

Perempuan itu sangat sayang kepada Arya Kamandanu seperti anaknya sendiri. Semalam suntuk ia meringkuk di sisi Arya Kamandanu. Tidak bisa tidur sebab pemuda itu setiap saat merintih dan mengigau tak menentu seperti burung cocak hijau yang terus berkicau sekalipun kepalanya bersembunyi di balik bulu-bulunya yang lembut.

Di ufuk timur sang surya merekah dengan tebaran cahaya dewangga menebar di cakrawala langit. Kabutkabut masih menghiasi pucuk-pucuk pepohonan. Kicauan burung dan jeritan unggas liar menyongsong sang pagi. Kepak sayapnya meruntuhkan butir-butir embun dan dedaunan. Air sungai nan bening mengalir menyusuri lekuk-liku dan relung-relungnya. Gemericik suaranya menerjang batu-batu hitam besar, kecil yang menghiasi sungai Manguntur.

Dua orang perawan berkain kebaya sedang merendam diri sambil mengucek-ucek pakaian di atas sebuah batu hitam. Sesaat mereka hanya diam sambil menikmati gemericik air, desau angin dan kicauan unggas liar yang berloncatan dan beterbangan di pepohonan kanan kiri sungai Manguntur. Salah seorang perawan itu melirik sahabatnya dengan dahi berkerut.

“Ratih, matamu kok merah sekali? Kau habis menangis?”

“Tidak, Palastri. Semalam aku kurang tidur,” jawab gadis cantik bermata sembab tanpa menoleh pada sahabatnya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku memang biasa begitu kok.”

“Akh, kau bohong. Aku kan sahabat karibmu, Ratih. Mengapa masih kaubohongi juga?”

“Sudahlah, jangan bicara soal itu lagi, Palastri.”

“Ada apa dengan pemuda Kurawan itu?”

“Tidak ada apa-apa. Kau ini kok mendesak terus?”

“Katakan saja, Ratih! Terus terang saja. Siapa tahu aku bisa meringankan beban batinmu? Kata orang, sahabat yang baik bisa membuat hati kita tenang dan gembira. Ayolah, Ratih! Katakan saja kalau kau mengalami sesuatu.”

“Tidak, Palastri. Aku tidak mengalami apa-apa kok.”

“Kau masih sering bertemu dengan pemuda itu?”

“Masih.”

“Apakah dia telah menyakiti hatimu?”

“Tidak. Tidak pernah. Arya Kamandanu orangnya baik. Dia tidak pernah menyakiti hatiku Sudahlah, Palastri. Aku harus segera pulang.”

“Tunggu, Ratih! Tunggu!” teriak Palastri. Namun, Nari Ratih tidak menghiraukan Palastri lagi. Gadis cantik itu segera memasukkan pakaian yang telah dicuci ke dalam tenggok[1]. Ia segera bangkit dan menggendong tenggok itu meninggalkan sahabatnya yang terpaku dibuatnya. Palastri menggeleng-gelengkan kepala sambil memandangi Nari Ratih yang berlalu. Kainnya melekat pada tubuh yang sangat indah itu. Kedua pinggulnya bergoyang-goyang bagaikan dua bola beradu.

Palastri menghela napas, kemudian kembali mengucek pakaiannya yang penghabisan sambil menggumam, “Aneh sekali. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Kamandanu. Aku harus menolong Nari Ratih.”

Buru-buru sekali ia menyelesaikan pekerjaannya dan segera mengangkat tenggoknya tanpa mempedulikan kainnya yang melekat tersingkap hingga pahanya yang mulus kelihatan. Pakaian yang basah memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang sempurna dengan lekuk-lekuknya. Dadanya padat berisi bergerak turun naik di saat ia mempercepat langkahnya.

Bibirnya yang mungil tampak sedikit memucat karena terlalu lama berendam di air. Rambutnya disanggul asal-asalan. Beberapa helai jatuh di dahinya bagai bulan separoh. Matanya berbinar-binar berhias bulu-bulu lentik. Hidungnya bangir sesuai dengan bibirnya yang mungil.

Perawan Manguntur itu terus melangkah, ingin mengejar sahabatnya.

* * *

Luka-luka Arya Kamandanu sudah agak sembuh karena perawatan Bibi Rongkot yang tekun dan cermat. Wanita tua yang sabar itu telah mengobatinya dengan ramuan daunan yang ditumbuk halus, lalu diborehkan ke atas luka.

Pagi itu Arya Kamandanu sudah bangun dan tampak lebih segar. Baru saja dia menyelesaikan sarapan bubur santan, Arya Dwipangga menghampirinya dan duduk di sebelahnya dengan sikap hati-hati.

“Adi Kamandanu, kelihatannya gadis Manguntur itu amat berkesan di hatimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Bi Rongkot juga mendengar ketika kau mengigau, memanggil-manggil nama gadis itu.”

Arya Kamandanu tidak segera menjawab. Ia lirik kakaknya dengan kesal. Ia hirup udara serasa berat sekalipun pagi itu angin semilir membawa bau harum kembang-kembang hutan. Arya Kamandanu mendesah, kesal sekali, “Sudahlah, Kakang Dwipangga. Jangan mengajakku bicara soal itu.”

“Kau mencintainya, bukan?”

“Kakang Dwipangga. Aku tidak mau bicara soal itu!” tajam dan keras sekali Arya Kamandanu setengah membentak.

Arya Dwipangga tersenyum sambil melangkah beberapa tindak kemudian memandang adiknya.

“Adi Kamandanu. Aku bermaksud baik. Mengapa kau tidak bersikap terbuka padaku?”

“Itu persoalan pribadiku. Untuk apa Kakang ikut campur?”

Arya Dwipangga mengerutkan dahinya dan makin saksama memperhatikan adiknya yang wajahnya masih berhias lebam-lebam ungu, biru kehitaman. “Jadi, kau tidak percaya pada saudara tuamu sendiri?”

“Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ketahuilah, persoalan wanita sangat rumit. Bagi yang belum pengalaman, menghadapi wanita sama halnya menghadapi fatamorgana, menghadapi suatu misteri kehidupan yang penuh kabut rahasia Kau bisa melihatnya tapi tidak bakal menjamahnya. Dia seperti duduk di balik kaca yang bening. Dia tersenyum padamu, tapi ketika kau berusaha memeluknya maka kau akan membentur kaca itu.”

“Aku memang tidak mempunyai pengalaman soal wanita.”

“Nah, untuk memecahkan persoalanmu itu kau membutuhkan seorang yang mengerti tentang wanita. Kecuali kau ingin Nari Ratih pergi dari sisimu untuk selama-lamanya.”

“Aku malu, Kakang. Mengapa menghadapi persoalan remeh ini harus minta tolong pada orang lain? Mengapa tidak bisa mengatasi sendiri?”

“Adi Kamandanu. Kau keliru. Persoalan wanita bukan persoalan yang remeh.” Arya Dwipangga menghentikan

nasihatnya, kemudian beringsut lebih dekat duduk di sisi adiknya. “Baiklah. Dengar, aku akan bacakan satu bait syair yang ikut mengubah jalannya sejarah pemerintahan di Tumapel.”

Arya Dwipangga bangkit. Ia keluarkan sepotong rontal dan kantong ikat pinggangnya kemudian membaca syair itu dengan penuh perasaan.

Kerling matamu lebih dahsyat dari gelombang tujuh samudera.

Dan senyummu sanggup menggetarkan seluruh isi dunia Apa artinya si Arok anak desa?

Arya Dwipangga tersenyum dan kembali duduk di samping adiknya “Kau tahu, Adi Kamandanu? Syair itu akhirnya dapat menjadi awal dari sejarah perjuangan Ken Arok, anak dari desa Pangkur. Ken Arok menjadi besar karena wanita. Nah, ada satu lagi bait syair yang senada. Syair ini pun ikut mengubah jalannya sejarah pemerintahan di Kediri pada tahun 1222. Syair ini diucapkan oleh Prabu Kertajaya atau Dandang Gendis yang waktu itu sedang tergila-gila oleh kecantikan seorang wanita bernama Dewi Amisani. Dengarkan baik-baik,..”

Amisani!

Kau adalah matahari pagi yang selalu menghangatkan ranjangku. Kediri akan membeku jika kau berpaling dariku.

Lagi-lagi penyair muda itu tersenyum puas ketika tahu adiknya mendengarkannya dengan serius, bahkan ada sorot kekaguman dilihat dari pandangan matanya.

“Sebuah syair yang sederhana, bukan? Tapi ingat, karena syair itulah maka para pendeta, para pemuka kerajaan lalu bergabung dengan Tumapel. Kertajaya dan bala tentaranya akhirnya hancur di desa Ganter oleh serbuan tentara Tumapel. Dengan demikian, Dandang Gendis menjadi korban tali asmaranya bersama Dewi Amisani. Nah, apa sekarang kau masih menganggap bahwa persoalan wanita adalah persoalan yang remeh? Ingat, Adi Kamandanu. Separoh dari bagian dunia ini menjadi milik wanita.”

“Baiklah, Kakang Dwipangga. Aku percaya padamu. Aku akan menceritakan persoalan yang kuhadapi dengan Nari Ratih.”

Arya Dwipangga tersenyum, adiknya kini luluh.

Arya Kamandanu lalu menceritakan dari awal apa saja yang dialami bersama Nari Ratih. Sementara Arya Dwipangga mendengarkan dengan saksama.

Setelah Arya Kamandanu selesai bercerita, Arya Dwipangga tersenyum, kemudian duduk di bibir pembaringan dan membetulkan posisi kakinya Kembali ia memperhatikan adiknya yang penasaran dipandang terlalu miskin pengalaman.

“Kau memang terlalu, Adi Kamandanu.”

“Terlalu bagaimana, Kakang?”

“Kau tidak mempunyai perasaan terhadap seorang wanita. Kasihan sekali gadis itu Dia harus menderita karena kekasihnya kurang tanggap terhadap isyarat-isyarat yang sudah berulangkah diberikan.”

“Jadi menurut pendapatmu dia juga mencintaiku?”

“Hari-hari kemarin jelas. Tapi entahlah sekarang ini. Hati seorang gadis kalau sudah dikecewakan bisa menutup rapat sekali “

“Aku hanya ingin mendapat kepastian. Aku tidak tenang sebelum kepastian itu datang” Sejenak mereka terdiam Saling memandang penuh arti.

Arya Dwipangga bangkit dari duduknya, menghela napas dan memandang serius pada adiknya seraya berkata, “Ada satu cara mungkin bisa menjernihkan kembali hubungan kalian.”

“Cara apa, Kakang?”

“Minta maaf padanya.”

“Aku sudah melakukannya, tapi dia tidak mau mendengar. Dia bahkan terus berlari meninggalkan aku.”

“Minta maaf tidak cukup sekali, Adi Kamandanu Harus kau coba lagi.”

“Berapa kali aku harus mencobanya?”

“Yah, sampai dia memberi maaf tentu saja “

“Oh, aku tidak sanggup melakukannya. Aku belum tahu apa kesalahanku. Bagaimana aku harus minta maaf sampai berkali-kali?” Ada nada letih terdengar dari bibir Arya Kamandanu. Ia tidak berdaya, tubuhnya lunglai oleh sengatan pedih hatinya.

Arya Dwipangga beberapa kali melangkah, kemudian membalikkan tubuhnya setelah mendapatkan sesuatu dalam benaknya sambil memandang Arya Kamandanu.

“Dengar, Adi Kamandanu. Kau perlu mengambil hatinya.”

“Tapi aku tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraniku.”

“Kau mencintainya atau tidak?”

“Aku mencintainya.”

“Kau ingin hubungan kalian jadi selaras lagi?”

“Ya, tapi kau jangan menyuruhku melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraniku. Aku tidak bisa, Kakang.”

“Kau tinggi hati.”

“Yah. Barangkali kau benar, Kakang. Aku tinggi hati. Tapi aku tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa terhadapnya.”

“Dengar, Adi Kamandanu. Kalau kau meninggikan hatimu setinggi Gunung Welirang, maka dia pun akan meninggikan hatinya setinggi Gunung Mahameru. Kau bisa melawannya dengan cara apa?”

“Yah, barangkali memang tidak ada cara yang paling baik untuk menyelesaikan persoalan ini. Maka biarkan semuanya berlalu seperti apa adanya.”

“Mengapa kau terlalu keras kepala, Adi Kamandanu?”

“Aku tidak mau menjadi pengemis cinta.”

“Tapi sering kali kita dipaksa oleh keadaan untuk menjadi pengemis cinta.”

“Bagiku itu bukan watak seorang ksatria.”

“Ingat, Kamandanu. Dalam hal satu ini, kita harus berani menyampingkan sisi-sisi lain dalam tujuan hidup kita. Kau tidak mungkin mendapatkan dua hal sekaligus. Cinta dan watak satria. Kau harus memilih salah satu, Adi Kamandanu.”

“Kalau harus memilih, aku akan memilih yang kedua.”

“Jadi kau merelakan Nari Ratih menjadi milik orang lain?”

“Kakang Dwipangga. Bagiku watak ksatria dan kebutuhan akan cinta bukanlah dua kutub yang berlainan. Seseorang kalau memang ia benar-benar mencintai dan ingin mendapatkan cintanya itu harus diperoleh dengan cara yang jujur dan tidak lepas dari watak ksatria. Kalau tidak, lebih baik orang itu kehilangan cintanya, dan itulah korban yang paling mulia.” Arya Kamandanu menghela napas. Berat sekali. Ia memalingkan muka dari tikaman pandangan mata kakaknya yang sinis dan amat tajam. ”Aku bukan Ken Arok,” lanjutnya lirih dan hati-hati, bagai dilanda duka yang paling dalam, bahwa suara hatinya tidak akan pernah didengarkan siapa pun ”aku juga bukan Prabu Kertajaya atau Dandang Gendis yang mau berbuat apa saja demi memperoleh kesenangan dari cinta. Aku adalah Arya Kamandanu, seorang pemuda biasa yang memiliki banyak kekurangan.”

Karena adiknya bersikeras dengan keinginan hatinya, maka Arya Dwipangga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tinggalkan adiknya dengan geleng-geleng kepala. Menghela napas jengah, lelah. Ia melenggang pergi, tersenyum seraya menunjuk dengan tangan kanan yang loyo isyarat tak mengerti apa yang diinginkan adik kandungnya.

Arya Kamandanu sendiri mengeraskan rahangnya. Kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidurnya.

* * *

Pagi itu langit tampak cerah. Arya Dwipangga baru saja mengeluarkan kudanya dari kandang. Bau kotoran kuda, katul dan rumput berbaur jadi satu. Sisa-sisa makanan binatang perkasa itu berhamburan di sekeliling kandang-nya.

Pemuda itu berusaha menahan diri tanpa bernapas. Baru kemudian setelah sampai di depan kandang ia berani menghirup udara. Seorang perempuan tua berkebaya menghampirinya.

“Mau ke mana, Ngger?”

“Aku mau pergi sebentar, Bi Rongkot.”

“Hmm, anu, Ngger, itu, ada orang menunggu Angger Dwipangga.”

“Siapa, Bi?” tanya Dwipangga sambil mengerutkan dahinya.

“Bibi tidak tahu namanya Tapi jelas bukan orang Kurawan. Sebaiknya Angger temui dulu di ruangan depan. Sudah sejak tadi dia menunggu.”

“Ah, biar saja, Bi. Aku mau pergi.”

“Tapi, Ngger…”

“Katakan saja aku pergi. Kalau memang dia ada keperluan, suruh saja kembali nanti sore,” tanpa menghiraukan perempuan tua di depannya, pemuda tampan itu segera melompat ke atas punggung kuda dan menarik tali kekangnya. Kuda coklat itu meringkik dan melompat. Berlari makin cepat dengan meninggalkan kepulan debu yang terhempas oleh kakinya.

Bibi Rongkot hanya bisa mengurus dada sambil berdecak lidah dan menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara itu di ruang depan rumah Mpu Hanggareksa, duduklah dua orang tamu. Yang seorang adalah gadis cantik berambut panjang dikepang dua. Wajahnya murung.

Di sebelahnya duduk seorang lelaki agak tua, kepalanya sudah berhias uban. Kumisnya tebal, dan badannya kekar sebagai layaknya petani desa yang terbiasa kerja keras.

Dengan tidak tenang mereka sekali-sekali melongokkan kepalanya ke ruangan dalam. Untuk kedua kalinya yang muncul menemui mereka adalah perempuan tua yang bibirnya keriput dan kering berwarna getah daun sirih.

Belum lagi perempuan tua itu duduk, lelaki itu berdiri menyongsongnya dengan tidak sabar.

“Ke mana perginya?” agak parau suara lelaki

“Saya tidak tahu. Angger Dwipangga berpesan kalau memang Tuan ada keperluan penting disuruh kembali nanti sore.”

Lelaki itu melotot. Wajahnya merah padam. Bibirnya bergetar menahan marah. “Enak saja. Rumahku di Tumangkar. Jauh dari sini. Aku tidak bisa mondar-mandir ke Kurawan seperti pergi ke sumur di belakang rumahku.”

“Eh, maaf, Tuan. Sebenarnya ada persoalan apa dengan Angger Dwipangga?” tanya perempuan tua itu dengan nada cemas.

“Dengar baik-baik. Namaku Dipangkaradasa, ini anakku; namanya Parwati. Aku ke sini demi membela anakku ini,” jelas lelaki yang mengaku bernama Dipangkaradasa sambil sesekali menuding pada gadis cantik yang wajahnya murung di sampingnya dan terus menundukkan.

“Lalu ada persoalan apa, Tuan?”

“Ketahuilah, anak majikanmu itu, si Dwipangga itu sudah berani mempermainkan Parwati, anakku. Maka aku akan memberinya pelajaran yang berharga untuknya. Kalau saja aku tidak ingat bahwa Mpu Hanggareksa adalah orang terpandang di Kurawan ini, hooo… anak begajulan itu sudah kuremas-remas. Sudah kubuat babak belur.”

“Oh, jangan, Ayah. Jangan!” gadis cantik itu bangkit dan memegang lengan ayahnya.

“Haaaa? Kok jangan? Jangan bagaimana? Bukankah anak itu sudah berani kurang ajar padamu?”

“Tapi, tapi Kakang Dwipangga jangan diapa-apakan. Kasihan dia,” rengek gadis cantik itu memegangi lengan ayahnya makin kencang

“Parwati, kau jangan berlaku bodoh! Kau jangan mempermainkan ayahmu. Kita jauh-jauh datang dari Tumangkar untuk menyelesaikan urusanmu dengan pemuda berandalan itu.”

“Sudahlah, kita pulang saja, ayah.”

“Lalu bagaimana dengan si Dwipangga itu?”

“Biarkan saja dia. Kita mengalah saja.”

“Hoh, tidak. Kita tidak boleh mengalah begitu saja. Baik! Kita pulang sekarang. Tapi bukan berarti kita sudi mengalah. Aku akan mengurus perkara ini sampai tuntas.”

Ki Dipangkaradasa lalu berpaling pada Bi Rongkot yang gemetaran berdiri enam langkah di depannya, “Heee, katakan pada anak majikanmu itu! Aku akan kembali lagi,” kata lelaki tinggi besar berjambang lebat bernada mengancam pada Bi Rongkot.

Bibi Rongkot mengkeret, gugup sekali menghadapi lelaki tua yang berangasan itu. “Ehh, ya, ya, Tuan. Nanti saya sampaikan pada Angger Dwipangga,” jawabnya sambil mencuri-curi pandang pada tamunya yang kini sudah membalikkan tubuh hendak meninggalkan rumah majikannya.

“Ayo, Parwati! Kita pulang! Huh, pemuda brengsek.”

Perempuan tua itu memperhatikan kepergian kedua tamunya dengan mengurut dada.

Menelan ludah pahit merasakan anak majikannya yang suka main perempuan. Dalam hatinya ia ingin memakimaki pada anak muda yang tidak tahu diri itu.

“Keterlaluan, dulu ada janda kembang dari Mameling, datang mengamuk-ngamuk minta dikawin. Lalu ada gadis mencoba bunuh diri di jurang Kurawan juga gara-gara Dwipangga terlalu mengobral rayuan. Sekarang ada lagi. Hehh, Angger Dwipangga itu kok senang-senangnya bercanda dengan wanita. Apa ia tidak tahu, bahwa bermain api dengan wanita bisa hangus terbakar hatinya?” keluhan hati perempuan tua itu seolah-olah didengar derit pintu papan jati yang ditutupnya perlahan hingga deritnya menyayat mengiris sukmanya. Sangat dalam ia menghela napas sambil menyandarkan tubuh rentanya di balik daun pintu. Pandang matanya berkunang-kunang, kedua tangannya meraba palang pintu dan bibir keriput itu membisikkan sebuah kata,”Jagad Dewa Batara! Ampuni umat-Mu!” pedih dan perih suara perempuan tua itu terdengar. Batinnya benar-benar merintih pilu.

* * *

Di pagi itu seperti biasa dua gadis Manguntur yang saling bersahabat sedang bermain-main air sungai sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Mereka duduk di atas batu hitam sambil menggoyang-goyangkan kaki-kaki mungil hingga menimbulkan kecipak di antara gemercik air. Riak-riaknya segera lenyap ditelan arus air Sungai Manguntur yang sangat deras. Mereka tidak lebih bagaikan kembang sepasang yang sedang mekar. Salah seorang gadis itu menyimak goresan-goresan yang tertera pada lembaran rontal. Tersenyum manis lalu meluncurlah suara merdu membacakan kata demi kata penuh perasaan,

Kubuka daun jendela dan terbentang malam yang indah dihiasi Candra Kartika.

Di bulan Waisya ini sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu yang masih rapat terkancing dari dalam.

Kapan kaubuka, wahai sang Dewi Puspa?

Gadis cantik itu tersenyum makin lebar memamerkan giginya yang berderet putih bagai mutiara, sebelum akhirnya berkomentar tentang sebait syair yang dibacanya.

“Indah sekali bunyi syair ini, Ratih.”

“Aku juga tidak menduga bahwa Kakang Kamandanu bisa menulis syair seindah ini.”

“Kau sudah membalasnya?”

“Belum.”

“Kau harus segera membalas atau menanggapinya, Ratih. Terlihat jelas bahwa dia sangat menyesal dan ingin menyambung kembali tali asmara denganmu.”

“Ah, Palastri. Aku masih sakit hati.”

“Kau tidak ingin burung gagak itu berpaling pada daging lain yang lebih empuk dan lezat? Jangan tinggi hati, Ratih. Ada pepatah mengatakan, bahwa wanita itu berdiri di antara dua bibir sumur Kalau dia bertahan tak mau menundukkan wajah, dia tak bakal melihat air Tapi kalau dia terus-menerus menundukkan wajah, dia bisa terjerumus ke dalam sumur itu. Nah, jadilah wanita yang bijaksana. Jangan tinggi hati, tapi juga jangan terlalu merendah di depan laki-laki.”

Palastri mengulurkan lembaran rontal itu kepada pemiliknya lalu turun ke sungai. Menceburkan tubuhnya yang hanya berbalut kain sampai sebatas dadanya yang montok. Beberapa saat ia berendam dalam air sambil memandang sahabatnya yang memperhatikan lembaran rontal di tangannya sebelum akhirnya menaruh rontal itu ke tenggok yang sudah dikosongkan. Gemericik air, kecipak tangan dan kaki mereka memecah keheningan di sungai itu.

Angin sejuk menyapa permukaan kulit mereka hingga merinding. Keduanya mengangkat bahu sambil menggosok-gosokkan tangannya pada tubuh yang padat berisi.

* * *

Siang itu angin semilir menggoyangkan dedaunan.

Desaunya mengiringi derap kuda yang ditunggangi pemuda tampan dan gagah yang melakukan perjalanan menuju suatu tempat. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba pemuda itu mengendalikan kudanya. Langkah kuda semakin perlahan dan akhirnya berhenti. Terdengar ringkiknya seolah bertanya pada tuannya yang melompat turun dan punggungnya.

Pemuda itu menuntun kuda dan menambatkannya pada sebatang pohon. Kemudian ia merunduk dan melangkah sambil berjingkat menghampiri seorang gadis yang duduk merenung tanpa memperdulikan kehadirannya.

Pemuda itu salah tingkah ketika tahu siapa gadis cantik berambut panjang dikepang dua itu. Ia menghela napas seraya meraba dadanya menenangkan hati.

“He, gadis cantik, kembang ayu desa Tumangkar!” gadis itu tidak mau menoleh. Tetap memandang jauh pada puncak Gunung Lejar yang disaput kabut seperti hatinya.

Pemuda itu semakin mendekat dan meliriknya dengan nakal sekali.

“Apa pedulimu, Kakang Dwipangga?” ketus sekali suaranya. Ia melirik dan melengos pada pemuda yang menghampirinya.

“Air mata di kedua pipimu belum kering, tentu ada sebab-sebabnya,” lirih pemuda itu berkata. Hatinya berdebar.

“Aku sedang mencari tempat untuk menghilangkan nyawaku.”

“Ha, mengapa begitu, Parwati? Mengapa jalan pikiranmu menjadi sempit seperti katak dalam tempurung? Kau adalah gadis cantik. Masa depanmu yang cerah dan bahagia menunggu di seberang sana. Mengapa harus berputus asa?”

“Sekarang ganti aku yang bertanya Mengapa Kakang melupakan aku setelah kau dapatkan segalanya dariku? Kau tidak pernah datang lagi ke Tumangkar, bahkan kau menolak kehadiranku bersama orang tuaku ketika ke rumahmu?”

Pemuda itu terhenyak, tidak menduga dengan berbagai pertanyaan yang meluncur dari bibir mungil yang pernah memberikan sejuknya air cinta asmara padanya. Lalu ia semakin mendekat, menggapai pundak gadis itu, tetapi dengan kasar tangannya dihempaskan.

“Dengarkan Parwati, aku ada syair indah yang pantas kau dengarkan dengan saksama,…”

Sekuntum Cempaka sedang mekar di taman sari desa Tumangkar kelopaknya indah tersenyum segar.

Kan kupetik Cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti.

“Dusta! Kau dusta.” Parwati setengah menjerit menimpali rayuan pemuda yang telah meracuni hidupnya dengan syair-syair hingga ia terperangkap dalam jeratnya.

Hidung gadis itu kembang kempis. Dengan kesal ia gigit bibirnya sendiri.

Pemuda gagah itu mengerutkan dahinya lalu meraih jemari gadis cantik di sisinya, namun untuk kedua kalinya tangan lembut itu menepiskan tangannya yang kukuh.

“Parwati?”

“Siapa yang kau maksudkan Cempaka itu?”

“Kaulah Cempaka itu.”

“Aku tidak percaya.”

“Bagaimana aku harus membuatmu percaya, Parwati? Kau tak sudi memberi kesempatan padaku untuk memetik kembang Cempaka itu?”

“Hmm. Apa Kakang Dwipangga benar-benar ingin memetik Cempaka itu?”

“Dengar, Parwati. Aku tak akan membiarkan Cempaka itu mekar sia-sia dan akhirnya gugur ke bumi.”

“Biarkan saja dia gugur ke bumi. Apa pedulimu!”

“Akh, aku bukanlah orang yang kejam seperti itu. Aku bisa menghargai keindahan. Hanya mereka yang berhati batu sampai hati berbuat seperti itu. Kau tak perlu ragu-ragu, Parwati. Kalau selama ini aku tidak pernah singgah di rumahmu, itu hanya karena kesibukan yang tak bisa kutinggalkan.”

“Sayang sekali, Kakang. Kakang Dwipangga sekarang tak mungkin memetik Cempaka itu. Sudah terlambat.”

“Mengapa? Apa maksudmu, Parwati?” desak Arya Dwipangga terkejut. Dengan seksama ia perhatikan rona wajah Parwati yang kini tampak kurang ramah padanya.

Mereka diam sejenak Parwati memandang sekilas pada pemuda di dekatnya kemudian membuang muka dengan perasaan kesal, benci dan marah.

“Dengar, Kakang Dwipangga! Cempaka yang akan Kau petik itu sekarang sudah ditumbuhi duri-duri tajam seperti tajamnya pisau ini. Hiaaaaa…..”

Pemuda itu terkejut dan melompat menghindari tikaman cundrik tajam yang dihunus gadis itu dari balik stagennya.

Gadis itu membabi-buta menyerang Arya Dwipangga yang berkelit ke sana ke mari tidak siap menerima seranganmendadak dari gadis lembut yang pernah dikaguminya bahkan telah terampas cintanya. Suatu saat ketika pemuda itu terlengah.

“Ohh, Parwati…” darah muncrat membasahi pakaian Arya Dwipangga. Ia mendelik setengah tidak percaya pada apa yang dialaminya. Sebaliknya gadis itu menjadi terkejut.

Mulutnya setengah menganga. Tubuhnya gemetaran hingga jemarinya terasa lemah tak mampu memegang pisau yang telah melukai pemuda itu.

“Kakang? Kau terluka, Kakang? Ohh, maafkan aku.” Gadis cantik itu menghampiri kekasih hatinya yang terengah sambil memegangi pundaknya yang terluka oleh tikaman cundriknya. Parwati ketakutan merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya.

“Jika ujung cundrik itu menembus jantungku, tak akan ada Arya Dwipangga sekarang ini.”

“Maafkan aku, Kakang. Maafkan aku. Aku kesal. Aku benci sekali padamu. Tapi bukan maksudku membuatmu terluka begini. Ohh, maafkan aku, Kakang.”

Sejenak mereka terdiam Hanya desah napas mereka yang terdengar memburu dicekam perasaan masing-masing.

Parwati mencoba menabahkan hati. Berusaha meneguhkan kembali apa yang telah menjadi keputusannya. Ia tidak mempedulikan pemuda yang pundaknya kini terluka oleh tindakannya. Ia tersenyum sinis dan mundur beberapa tindak sambil berkata, “Mulai sekarang jangan lagi datang ke rumahku.”

“Mengapa? Parwati… tunggu!”

Gadis itu tidak menghiraukan lagi pemuda yang terus memanggil namanya. Ia berlari. Tetapi berhenti sejenak dan memandang sekilas pada Arya Dwipangga seraya berseru, “Kau jangan ke rumahku lagi, aku tidak ingin ayahku mencabut pedangnya dan membunuhmu.”

Untuk kesekian kalinya Arya Dwipangga terkejut, sebab ayah Parwati telah mengetahui masalah mereka. Sambil memegang lukanya ia melangkah menuju kudanya.

Kemudian ia naik ke punggung kuda dan menyusul Parwati ke desa Tumangkar.

Gadis desa Tumangkar itu terus mencoba untuk lari dengan mengambil jalan pintas. Napasnya terengah-engah.

Ia tidak mempedulikan lagi pemuda Kurawan yang mengejarnya dengan menunggang kuda.

Pemuda itu memperhatikan gadisnya telah memasuki rumahnya sehingga tidak berani melanjutkan tujuannya. Ia khawatir jika terjadi keributan bila ia menemui gadis yang telah dikecewakan itu. Lebih-lebih jika ayahnya yang sangat galak itu ikut campur dalam persoalan tersebut. Dengan ragu-ragu ia memperlambat lari kudanya kemudian mengambil keputusan untuk kembali ke Kurawan Baru saja ia akan memutar kudanya mendadak muncul seorang lelaki tinggi besar berjambang lebat dan berpakaian komprang serba hitam. Lelaki itu melintir jambangnya dan tersenyum sinis pada Arya Dwipangga.

“Hee, turun dari kudamu!” bentaknya sambil melangkah dan memasang kuda-kuda. Matanya berkilat, merah. Mengerling galak setelah membanting cerutunya.

Kuda Arya Dwipangga meringkik ketakutan Tuannya melompat turun dengan hati berdebar-debar.

“Pembantuku bilang, bahwa kau yang bernama Arya Dwipangga. Apa benar?”

“Benar. Saya Arya Dwipangga.”

“Nah, rasakan kepalan tanganku ini anak berandalan! Hiaaah, hiaaaaah, hiaaaaaaatt!” lelaki itu melompat dan menerjang Arya Dwipangga.

“Tunggu, tunggu, apa salahku!”

Lelaki tinggi besar berjambang lebat itu terus menghajar pemuda Kurawan yang tidak memiliki kepandaian

berkelahi. Beberapa kali jotosannya mendarat di perut, dahi, punggung, kaki, dan lengan Arya Dwipangga. Ia tidak memberi ampun lagi, bahkan teriakan-teriakan dan rintihan kesakitan pemuda yang dihajarnya itu sedikit pun tak menyentuh rasa iba hatinya.

Orang-orang semakin banyak berkerumun menyaksikan tontonan di siang bolong.

Ketika wajah pemuda itu telah memar-memar hitam kebiruan, napas dan rintihnya tersengal seraya terduduk sambil mendekap perut, barulah lelaki tinggi besar itu menghentikan amukannya. Dengan beringas dan jijik ia menghardik pemuda yang tidak memberikan perlawanan berarti. Sambil menendang lutut Arya Dwipangga lelaki itu mendenguskan napas kemarahan-nya. Masih geregetan juga tampaknya hingga ia menyambar kepala pemuda Kurawan itu dengan sekali tamparan. Kemudian menjambak rambut Arya Dwipangga kuat-kuat.

“Kau sudah mempermainkan Parwati, anak gadisku. Dasar pemuda akal bulus! Tak tahu diri! Tak tahu malu! Apa yang telah kaulakukan terhadap anakku, hemmh?” suaranya menggeram bagai harimau menerkam mangsanya. Tangannya semakin erat mencengkeram rambut Arya Dwipangga.

Arya Dwipangga meringis menahan sakit tak terkira. Seluruh badannya terasa sakit dan ngilu oleh hajaran ayah Parwati. Pemuda itu tak berkutik hingga tidak tahu harus berkata apa.

“Saya tidak melakukan apa-apa. Kami sebagai anak-anak muda tentu sudah wajar kalau berjalan dan ngobrol bersama-sama “

“Kau jangan mungkir, anak muda! Semalam Parwati menangis. Setelah kutanya sebabnya dia mengatakan kau telah mempermainkannya.”

“Ki Dipangkaradasa! Saya kira ini hanya kesalahpahaman biasa. Parwati pasti belum menjelaskan duduk perkara-nya.”

“Duduk perkara apa?” bentak Ki Dipangkaradasa sambil menghempaskan kepala Arya Dwipangga hingga pemuda itu terjengkang.

Pemuda Kurawan itu gugup. Tidak berani membalas tatapan mata lelaki tinggi besar yang masih melotot padanya.

“Dia marah dan kesal karena sudah lama saya tidak datang di Tumangkar.”

“Dia tidak akan menangis begitu menyedihkan kalau kau tidak membuatnya sakit hati.”

“Saya sudah berusaha minta maaf dan saya telah mengakui kesalahan saya.”

“Bwahhh, aku sebal melihat kelakuan pemuda sepertimu. Kau bergajul! Tukang melet perempuan! Dan setelah mencicipi madunya kautinggalkan begitu saja! Bukankah begitu yang telah kaulakukan pada anakku?”

“Tidak! Saya tidak berbuat serendah itu.”

“Pencuri tidak pernah mengakui kesalahannya. Mana bisa aku percaya?”

“Apalagi yang Ki Dipangkaradasa inginkan dari saya?”

“Hee, dengar! Aku tidak sudi melihat mukamu lagi di desa Tumangkar ini! Kalau sampai kau berani masuk lagi ke desa ini dan menemui anakku, awas! Akan kubuat tubuhmu cacat!”

“Baiklah. Kalau memang begitu kemauan Ki Dipangkaradasa, saya tak bisa berbuat lain. Mulai hari ini saya tak akan masuk ke desa Tumangkar “

Arya Dwipangga perlahan bangkit tanpa berani memandang pandangan yang penuh ancaman dari lelaki kekar tinggi besar di hadapannya Ia raba wajahnya yang terasa nyeri akibat tendangan dan pukulan lelaki itu. Pelan-pelan ia menghampiri kudanya.

Ki Dipangkaradasa terus memandangnya dengan rasa muak dan marah. Gerahamnya mengeras hingga tulang pipinya menonjol.

Orang-orang desa juga terus menatap Arya Dwipangga yang sudah di atas punggung kuda dengan pandangan mengejek.

Kuda cokelat perkasa itu meringkik tatkala dengan lembut tali kendali dihentakkan.

Arya Dwipangga mencuri pandang ke arah Ki Dipangkaradasa yang bertolak pinggang sambil meludah.

“Cepat tinggalkan desa ini!” bentaknya dengan murka. “Jangan sekali-kali menginjakkan kaki di daerah ini! Pergi!”

Tanpa menoleh lagi pemuda Kurawan itu menyentakkan lebih keras lagi kekang kudanya hingga kuda tunggangannya melonjak dan meringkik menghentak-kan kaki-kakinya. Berlari semakin kencang dengan meninggalkan kepulan debu-debu di belakangnya.

Seorang gadis cantik berambut panjang dikepang dua berlari kecil menghampiri lelaki tinggi besar yang masih berdiri sambil memelintir kumisnya, memandang dingin pada Arya Dwipangga yang semakin menjauh, kecil dan akhirnya lenyap dari pandangan mata.

Angin gemerisik mendera dedaunan seiring gumam orang-orang yang masih ingin mengetahui cerita tentang gadis Tumangkar korban cinta pemuda Kurawan.

Di wajah gadis itu masih jelas tergambar kemurungan. Bahkan matanya tampak merah dan sembab. Beberapa helai rambutnya yang basah menghiasi keningnya. “Ayah! Ayah telah mengusirnya?”

“Ya. Aku telah mengusirnya. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Memang sebaiknya setiap gadis di desa

Tumangkar ini tidak usah bertemu dengannya.”

“Mulut orang seperti itu sangat manis, tapi tak bisa dipegang kata-katanya. Lidahnya berbisa Sudahlah, ayo, kembali ke rumah. Perkaramu dengan anak Kurawan itu sudah selesai.”

Ketika bapak dan anak itu kembali melangkah meninggalkan tempat itu, orang-orang yang menonton pun ikut bubar dengan menggumam dan berbisik-bisik.

* * *

Malam kian merayap menebarkan sayap-sayap gelapnya. Pekat dan hitam. Sepekat dan sehitam hati dan pikiran seorang gadis yang dirundung lara oleh tikaman asmara Ia berbaring di atas dipan beralaskan tikar pandan. Ketika ia bergerak, terdengarlah derit dan gemeretak gala-gala yang terbuat dari bambu

Ia tidak bisa tidur Matanya mengerdip-ngerdip bagai dian minyak kelapa yang diletakkan di atas meja di sudut kamarnya. Berkedip-kedip ditiup angin yang menerobos di antara sela dinding papan jati.

Mata itu bening, indah tetapi menyimpan sejuta misteri.

Pada jemari lembutnya memegang empat potong daun tal yang terkait jadi satu. Masing-masing daun tal itu telah dilubangi ujungnya lalu dikaitkan dengan tali rotan yang telah dihaluskan. Ia simak dengan teliti goresan-goresan yang tertera pada sisa potongan-potongan rontal tersebut.

Suaranya lembut, merdu sekali ketika membaca kata demi kata,

Pelangi itu muncul lagi membuat garis melengkung ke langit tinggi.

Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari mimpi buruk.

Di batas tugu yang perkasa ini kupahatkan dengan bermandikan keringat kasih.

Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga.

Di sanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka.

Yang bergema dalam telinga hati dan batinnya adalah suara pemuda pujaan hatinya. Ia cium rontal itu. Penuh kasih sayang dengan desah seutuh jiwa. Detak-detak jantungnya menderu bagaikan gelombang ombak samudera yang menggulung-gulung sebelum akhirnya menghempas batu karang. Menggemuruh dan menghempaskan buih-buih cintanya.

“Oh, halus sekali perasaan yang terkandung dalam bait-bait syair ini Tidak kusangka Kakang Kamandanu begitu pandai merangkai kata. Oh, apa yang harus kulakukan? Tidak! Tidak mungkin!” sejenak Nari Ratih terdiam. Tatap matanya masih menerawang, kadang mencuri pandang di antara sela bulu matanya nyala dian yang kuning keemasan Kadang tenang kadang bergoyang jika ada hembusan angin. “Mungkinkah aku bertahan untuk tidak memaafkannya? Ohhh, syair ini semakin mengganggu ketenanganku, sering terbawa dalam mimpi-mimpiku. Kakang Kamandanu. Baiklah, aku akan menemuimu besok di tempat seperti biasa. Aku tidak akan membiarkanmu meratapi penyesalanmu, Kakang. Maafkan Nari Ratih yang telah berbuat kejam. Maafkan aku.”

Rontal itu diletakkan di bawah alas tidurnya. Kemudian ia berbaring menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bayang-bayang wajah kekasih hatinya. Gadis itu berbantal kedua tangannya. Tidur tanpa selimut-hingga tubuhnya yang indah tampak jelas lekuk-lekuknya.

Dua gugusan bukit dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang lembut dan sesekali mendesah. Kedua pahanya terangkat ketika ia menekuk lututnya hingga kulitnya yang kuning langsat tampak indah memantulkan cahaya dian nan temaram Ayu, seindah dan semolek bidadari dari kayangan yang membaringkan tubuhnya setelah letih seharian bertamasya mengarungi mayapada.

Tubuh indah itu sangat sempurna. Rambutnya yang hitam bergelombang terurai menutupi leher jenjangnya, payudara dan perutnya yang memiliki mangkuk pusar begitu indah.

Dara jelita itu tersenyum. Mengurai kedua tangannya dari kepalanya. Lalu meraba kedua pipi yang montok, ke dagu yang indah bagai lebah menggantung, terus merayap ke lehernya yang jenjang, kemudian ke gundukan bukit dadanya yang padat berisi. Ia masih tersenyum, mendesah penuh gairah. Lalu kedua tangan halus itu merayap ke perutnya dan akhirnya memeluk kedua lututnya. Kembali ia menyelonjorkan kedua kakinya. Memiringkan tubuhnya hingga terdengar derit tempat tidurnya. Kembali ia tidur telentang dengan berusaha keras memejamkan mata sambil tetap tersenyum. Dari bibirnya yang mungil berwarna merah jambu terdengar sebuah desah memanggil penuh kasih cinta, merdu menyayat kalbu,

“Kakang Arya Kamandanu!”

Gadis itu semakin dalam menghirup udara malam, menajamkan pendengarannya dan di kejauhan ia mendengar sayup-sayup seruling bambu. Merdu sekali.

Menyayat-nyayat mengiris hatinya. Dalam pejam matanya ia melihat angkasa biru, melihat bunga-bunga yang berkembang dan bermekaran dengan tebaran aroma mewangi Kemudian ia melihat dari kejauhan sesosok bayangan, seorang pemuda yang melangkah menghampirinya. Semakin jelas Semakin dekat. Semakin sempurna.

“Arya Kamandanu! Kakang…, ohhhh!”

Pemuda tampan itu mengembangkan kedua tangan dan tersenyum penuh kasih cinta. Langkahnya makin cepat, setengah berlari, berlari dan akhirnya merengkuh-nya dalam pelukan hangatnya.

Ketika terjaga dari lelapnya, gadis cantik itu mengusapusap matanya dengan punggung tangannya. Tidak ada siapa-siapa. Jeritan unggas liar Suara ternak menuju sawah semakin menyadarkan ingatannya bahwa hari telah pagi. Ia harus segera bangun. Perlahan ia bangkit sambil meraup pakaiannya yang awut-awutan di pembaringan. Ia kenakan ala kadarnya dan segera menuju ke ruangan belakang. Di bagian belakang rumahnya ia mengambil tenggok yang berisi pakaian kotor untuk dibawanya ke Sungai Manguntur.

Sambil berjalan menggendong tenggok berisi pakaian kotor ia berpikir, bagaimana caranya untuk menemui Kamandanu. Padahal sudah beberapa kali ia ke pinggir padang ilalang hingga petang hari. Tidak menjumpai siapa pun. Ia sangat resah.

Ketika langkahnya sampai di pinggir sungai Manguntur gadis cantik itu melihat sahabatnya sedang sibuk mencuci.

Ia berpaling ke timur. Matahari ternyata telah tinggi. Berarti ia terlambat bangun. Ia letakkan tenggoknya di atas batu sebesar kerbau lalu melangkah menghampiri sahabatnya yang menyambutnya dengan senyuman

“Maaf Ratih, aku tidak berani membangunkan-mu. Takut mengganggu tidurmu.”

“Aku terlalu lelah, Palastri.” Mereka saling pandang sejenak. Diam. Membiarkan suara gemericik air mengalunkan senandungnya. Palastri menghentikan pekerjaannya lalu duduk di sisi Nari Ratih yang tampak lesu. Dari balik stagennya ia keluarkan beberapa lembar rontal.

“Coba bacalah syair ini, Palastri! Aku semakin tak mengerti. Di mana letak kekeliruannya?”

Palastri menerima rontal itu dari tangan Nari Ratih. Menyimaknya sejenak. “Kau terima dari siapa?”

“Dari seorang bocah. Entah siapa dia. Aku tak begitu mengenalnya. Dia buru-buru lari ketika aku mau bertanya. Coba kau baca, Palastri! Setelah itu, aku ingin mendengar pendapatmu “

Kemudian Palastri segera membaca syair itu,

Pelangi senja mengantarkan burung- burung pulang ke sarangnya. Domba-domba pulang ke kandangnya.

Tapi aku hendak ke mana?

Apa yang kulakukan menjadi tak berharga selama senyummu masih kausembunyikan di balik keangkuhan hatimu.

“Bagaimana pendapatmu?”

“Jadi, ini sudah yang ketiga kalinya?”

“Ya. Yang ketiga kalinya. Kemarin lusa aku mencoba datang ke tepi padang ilalang.”

“Hmm, lalu?”

“Tak kutemui seorang pun di sana. Aku kesal Akhirnya aku pulang lagi.”

“Mengapa kau tidak langsung ke rumahnya?”

“Akh, mengapa harus ke rumahnya, Palastri? Aku malu “

“Kau datang saja secara baik-baik untuk menjernihkan persoalan kalian.”

“Tapi itu sudah keterlaluan, Palastri. Aku seorang wanita. Bagaimana aku harus datang ke rumah laki-laki untuk urusan cinta? Bagaimana kalau orang-orang sampai mendengar hal ini? Tentu seluruh Manguntur menjadi geger.”

“Tapi aku tak menemukan cara lain lagi, Ratih.”

“Atau begini saja. Bagaimana kalau aku titip pesan pada Nyai Rongkot seperti biasanya?”

“Nah, begitu juga baik. Yang penting kau harus segera menemuinya.”

Sejenak mereka hanya terdiam, kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing. Nari Ratih tersenyum pada Palastri yang mengucek-ucek pakaiannya.

Tanpa diduga sebelumnya Nari Ratih terpekik dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya ketika sahabatnya dengan nakal sekali menciprat-cipratkan air dengan kedua tangan. Palastri tertawa cekikikan melihat

sahabatnya kewalahan, bahkan akhirnya terjun ke air dan ganti membalas. Mereka bermain air seperti dua anak kecil yang dilepaskan embannya. Bercanda dengan menyibak dan menghempaskan air hingga keduanya basah kuyub.

* * *

Di rumah Mpu Hanggareksa seorang perempuan tua baru saja keluar dari bilik Arya Kamandanu. Perempuan tua itu berdiri terpaku di ambang pintu dan bersandar pada daun pintu yang terbuat dari papan kayu jati tersebut.

“Ada apa, Bi Rongkot?” tanya Arya Dwipangga yang kebetulan melintas di depannya sambil memperhatikan dengan mengerutkan dahinya.

“Ehh, tidak ada apa-apa, Ngger Bibi baru saja melihat Angger Kamandanu.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Sudah jauh lebih baik. Sekarang Angger Kamandanu tidur pulas sekali. Memang seharusnya dia banyak istirahat. Tidak boleh pergi ke mana-mana dulu “

“Lho, memang dia mau ke mana, Bi Rongkot?”

“Bukan, Ngger. Gadis itu mengirimkan pesan lagi. Maksud Bibi anak Rekyan Wuru itu menitip pesan pada Bibi. Dia ingin menemui Angger Kamandanu. Tidak mungkin kan, Ngger Dwipangga? Kecuali Angger Kamandanu sudah sembuh benar.”

“Sudahlah, Bi, jangan pikirkan persoalan Adi Kamandanu dengan Nari Ratih itu. Nanti juga akan beres. Aku yakin mereka akan kembali akrab seperti semula.”

“Kalau persoalan Angger sendiri bagaimana?”

“Persoalanku malah sudah lebih dulu beres, Bi.”

“Maksud Angger Dwipangga, beres bagaimana?”

“Yah aku tidak akan datang lagi menemui gadis itu. Soalnya, ayahnya melarangku ke sana. Lihat dahi dan wajahku! Juga badanku yang nyeri-nyeri ini. Semuanya telah kuterima.”

Sejenak mereka terdiam. Bibi Rongkot memperhatikan anak majikannya dengan sedikit kurang senang. Ia hela napas terasa berat sekali sebelum kata-kata yang sangat pedas dan tajam begitu cepat diucapkannya meluncur dari bibirnya yang keriput.

“Angger Dwipangga jangan suka mempermainkan anak gadis orang. Nanti kalau kena batunya bisa celaka, lho. Kalau orang tuanya tidak terima dan marah, kan bisa membuat keributan besar. Apa Angger Dwipangga tidak malu?”

“Aku tidak salah, Bi. Parwati kan hanya salah satu gadis yang kukenal.”

“Tapi Angger Dwipangga pasti sudah mengobral janji padanya hingga dia sangat mengharapkan kesungguhan Angger. Iya, kan? Ikhhh, Bibi paling benci kalau melihat laki-laki tukang obral janji. Kasihan anak gadis orang yang menjadi korban, Ngger. Sungguh.”

Dinasihati seperti itu pemuda yang wajahnya masih memar dan membiru itu hanya tertawa. Lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu jati.

“Bi Rongkot tentu saja membela mereka karena Bibi seorang wanita.”

“Bukan begitu, Ngger. Jadi pemuda itu seperti Angger Kamandanu. Tenang, berwibawa, bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dikatakannya.”

“Bi Rongkot. Arya Dwipangga bukan Arya Kamandanu dan Bibi tidak mengetahui kekurangan adikku, bukan? Dia masih tergolong belum berpengalaman hingga untuk menyelesaikan persoalan sendiri saja tidak mampu. Dan akhirnya aku juga harus turun tangan. Dia pikir hati wanita bisa dipikat dengan berdiam diri dan tidur di pembaringan.”

“Ekh, apa maksud Angger Dwipangga?” Bibi Rongkot tampak terkejut dan dahinya kian beranyam kerutan memperhatikan Arya Dwipangga yang tersenyum-senyum seraya bangkit.

“Nanti Bibi Rongkot akan tahu sendiri.”

Pemuda itu segera berlalu dari hadapan perempuan tua yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut dadanya.

Pemuda gagah yang memiliki sifat aneh itu selalu keras hati. Menghentikan langkahnya dan menoleh pada perempuan tua itu sambil mengerlingkan matanya menggoda.

* * *

Siang itu sepulang dari pasar seorang gadis cantik mampir ke rumah sahabatnya. Gadis itu menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu sambil melongokkan kepalanya ke dalam. Ia tersenyum karena melihat sahabatnya sedang menganyam tikar pandan di ruang teras depan.

“Kau Palastri, masuklah,” Nari Ratih berseru ketika ia melihat bayangan sahabatnya berjalan berjingkat dan tersenyum ingin mengagetkannya.

“Bagaimana hasilnya, Ratih?”

Wajah Nari Ratih langsung merah padam ditodong pertanyaan seperti itu. Ia sendiri telah berjuang keras untuk mendengarkan suara hatinya dengan jernih.

“Sudahlah! Aku tak mau bicara soal itu lagi. Aku akan berusaha melupakan Kakang Kamandanu.”

“Mengapa begitu?”

“Karena dia pun agaknya sudah melupakan diriku.”

“Ah, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan.”

“Tidak, Palastri. Aku malu kalau harus menitip pesan pada pembantunya lagi dan ternyata Kamandanu tidak sudi menemuiku.”

“Kau tidak usah malu. “

“Palastri. Aku mau mengakhiri persoalan ini sampai di sini. Aku tidak ingin sakit hati untuk kesekian kalinya.”

“Dengar dulu, Ratih.”

“Tidak. Kau jangan membujukku lagi! Biarlah kalau memang aku harus kehilangan dia. Mungkin bukan jodohku, Palastri.”

“Dengar dulu! Aku boleh bicara apa tidak, Ratih?”

“Bicaralah, tetapi jangan membujukku lagi.”

“Kau sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Buat apa aku membujukmu? Tapi dengarlah keteranganku ini. Kau jadi menitip pesan pada pembantunya?”

“Jadi. Dia berjanji akan menyampaikan pesannya itu.”

“Dan kau jadi datang ke tepi padang ilalang?”

“Cukup lama aku duduk menunggu di sana. Sampai leherku pegal karena harus menengok ke arah biasanya dia datang “

“Apa kau belum tahu, Ratih?”

“Tahu tentang apa?”

“Bahwa Arya Kamandanu sekarang ini sedang sakit?”

Nari Ratih terkejut. Sehelai potongan pandan di jemarinya sampai terlepas. Ia membelalakkan matanya dan memandang sahabatnya sangat lekat Ia menghela napas, jantungnya makin menggemuruh.

“Sakit?” tanyanya seperti tidak percaya pada berita itu.

“Ya. Sudah beberapa hari dia terbaring di kamarnya. Sakitnya cukup berat.”

“Kau tahu dari mana, Palastri?”

“Kemarin aku disuruh ayahku memanggil dukun urut ke Kurawan. Aku melewati jalan dekat rumah Arya Kamandanu dan aku mendengar anak-anak muda sibuk membicarakan pacarmu itu. Katanya, Kamandanu itu sakit gara-gara jatuh cinta pada gadis Manguntur.”

“Ah, apa benar mereka berkata begitu, Palastri?”

“Untuk apa aku berdusta, Ratih? Tentu saja apa yang aku sampaikan ini benar.” Palastri memandang dengan sedikit cemberut, apalagi Nari Ratih masih menatapnya dengan tajam ingin penjelasan lebih jauh. Palastri melepas napas jengah sebelum melanjutkan ucapannya. “Nah, sekarang tinggal bagaimana kau sendiri.”

“Hemhh. Kalau dia sakit, benar-benar sakit, tentu dia tidak bisa datang ke tepi padang ilalang.”

“Mungkin juga pesanmu itu tidak disampaikan padanya.”

“Mungkin juga begitu,” suara Nari ratih agak serak menahan perasaan yang tidak menentu. Wajahnya kian mengiba.

“Sekarang bagaimana? Apa kau sampai hati membiarkan Kamandanu terbaring kesepian di kamarnya?”

“Soalnya, aku tidak tahu kalau dia sakit.”

“Sudahlah, Ratih. Kau datang saja ke rumahnya. Kau tengok dia, kau besarkan hatinya, sekalian menyelesaikan persoalan kailan.”

“Baiklah. Sekarang aku tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak datang ke rumahnya.”

Palastri turut senang bisa memberikan jalan keluar terbaik buat sahabatnya Ia pun memeluk Nari Ratih dan menciumnya. Ia pamit dengan sedikit lega.

Ketika Palastri meninggalkan rumah Nari Ratih, putri Rekyan Wuru itu segera berkemas. Ia bertekad untuk menengok Arya Kamandanu. Dikenakannya pakaian yang paling pantas. Hatinya berdebar-debar tak menentu. Gelisah, resah, cemas, dan dirajam pedang-pedang cinta tanpa ampun.

Saat Nari Ratih tiba di rumah Mpu Hanggareksa ia disambut ramah sekali oleh perempuan tua. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk-angguk senang. Ia menepuk-nepuk pundak dara jelita yang mau datang ke tempat tinggal majikannya.

Nari Ratih masih sungkan-sungkan Wajahnya merona merah karena menyimpan rasa malu. Apalagi perempuan tua itu lekat-lekat memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Nah, akhirnya kau mau datang juga ke Kurawan.”

“Apakah aku bisa menemui Kakang Kamandanu, Bi?” katanya dengan bibir bergetar. Jantungnya makin cepat berdetak dan mengguruh.

Perempuan tua itu tersenyum lembut, “Tentu saja bisa. Tapi sebelumnya Bibi minta maaf, ya. Pesan yang Nini Ratih sampaikan lewat Bibi terpaksa tidak Bibi sampaikan pada Angger Kamandanu.”

“Ratih mengerti kok, Bi. Tidak apa.”

“Ayo, Nini Ratih! Masuk saja. Silakan bertemu dengan Angger Kamandanu di kamarnya.”

“Terima kasih, Bi.”

Perempuan tua itu membimbing Nari Ratih menuju kamar Arya Kamandanu. Ketika sudah sampai di dekat kamar, perempuan tua itu menghentikan langkahnya seraya menunjukkan tempat berbaring Arya Kamandanu dengan menudingkan telunjuk tangan kanannya. Tersenyum menggoda sambil mengerling kemudian membalikkan tubuhnya.

Perempuaa tua itu bukannya pergi, tetapi mengintip dari balik pintu kamarnya. Ia merasa geli menyaksikan gadis

kekasih hati putra majikannya itu ragu-ragu hendak memasuki kamar.

Menelan ludah. Meremas-remas tangannya sendiri. Menggigit bibir lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, takut jika ada yang mengetahuinya. Dengan langkah gemetar ia mendorong daun pintu yang tidak terkunci Ia menahan rasa terkejutnya tatkala bersitatap pandang dengan Arya Kamandanu yang berbaring di pembaringan.

“Ohh, Nari Ratih.” Pekik Arya Kamandanu. Ia berusaha bangkit, tapi badannya masih terasa lemas, hingga Nari Ratih melarangnya dengan menyentuh tangannya agar ia tetap berbaring. Betapa ngilu badan dan hatinya, tetapi bahagia tiada terkira menerima kehadiran perempuan yang dipuja-puja selama ini.

Nari Ratih gemetaran menyaksikan keadaan Arya Kamandanu yang sangat memprihatinkan “Aku datang menengokmu, Kakang. Bagaimana, mengapa Kakang bisa mengalami luka-luka begini?” tanyanya cemas

“Aku, tidak apa-apa, Ratih. Hanya luka-luka ringan. Sekarang mulai sembuh.” Mata Arya Kamandanu berkaca-kaca. Ada rasa keharuan mencekam nuraninya, betapa bahagia apabila tidak berdaya tapi ada yang memperhatikannya, ada yang menemaninya. Di sisi lain ada perasaan malu karena gelora asmara telah merajam jiwanya hingga ia sering berpikir buram. Untuk mengatasi perasaan gundah-gulana yang bercampur-aduk itu ia menggigit bibirnya dan tidak berani membalas tatapan sendu Nari Ratih.

“Kau berkelahi dengan seseorang ya, Kakang?”

“Tidak. Untuk apa aku berkelahi?”

“Pelipis kirimu memar, dan bibirmu masih membengkak. Kau jangan bohong padaku, Kakang. Siapa yang telah melakukannya, Kakang?”

“Sudahlah. Jangan bicarakan soal sakitku ini. Tidak ada manfaatnya. Lebih baik kita bicara soal lain. Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Seorang kawan memberi tahu aku bahwa Kakang Kamandanu sakit, maka buru-buru aku datang kemari.”

“Terima kasih atas kunjunganmu ini, Ratih.”

“Semula aku tidak mau datang, Kakang.”

“Kalau kau sibuk dan tidak mempunyai waktu, kau tidak usah memaksakan diri, Ratih.”

“Bukan soal itu. Aku tidak datang karena kesal!”

“Kesal pada siapa?”

“Pada Kakang.”

“Apa aku telah berbuat kesalahan, Ratih?”

“Ternyata bukan kau yang bersalah, Kakang. Tapi bibimu itu. Nyai Rongkot yang salah.”

“Bi Rongkot? Aku belum begitu mengerti, Ratih.”

“Bukankah selama ini sudah tiga kali kau menulis syair untukku?”

Arya Kamandanu mengerutkan dahi hingga lebam di dahinya terasa nyeri dan ia memekik kecil, lalu menggigit bibir.

Nari Ratih untungnya kurang memperhatikan reaksinya, hingga ia melanjutkan kisi-kisi hatinya yang ingin ia ungkapkan di depan orang yang dicintainya, “Syair itu sangat indah. Hatiku tersentuh. Akhirnya aku sadar, bahwa tidak pada tempatnya aku berkeras hati.”

“Tunggu, Ratih! Syair? Aku menulis syair?” Arya Kamandanu memaksakan diri bangun dan duduk di pembaringan dengan tatap aneh, ia duduk bertumpu pada dua tangannya. Ia memperhatikan gadisnya yang mengerjap-ngerjapkan mata tidak berani membalas tatapan matanya. “Syair?”

“Iya. Syair. Tiga kali kau menulis syair padaku.”

“Sebentar, Ratih! Ini ada kekeliruan. Sebab aku tidak pernah menulis syair padamu.”

Nari Ratih tersentak. Wajah gadis remaja itu mendadak menjadi merah padam. Dia merasa malu sekali sementara Arya Kamandanu tampak berpikir, meraba apa yang telah terjadi.

Gadis remaja yang sangat cantik itu menundukkan wajahnya. Menggigit bibirnya sendiri yang merah jambu.

Semakin menunduk dan butiran bening menggelincir di

kedua pipinya ketika ia mendesah seperti tercekat di tenggorokan.

“Oh, jadi…..jadi Kakang tidak pernah menulis syair untukku?”

“Tidak, Ratih. Selama ini aku sakit, bagaimana aku bisa menulis syair?”

“Jadi, semua ini bukan kau yang menulis, Kakang?” Nari Ratih menyerahkan rontal-rontal itu kepada Arya Kamandanu dengan tangan gemetar.

Arya Kamandanu mengerutkan dahinya dengan napas memburu memendam amarah. “Bukan. Bukan aku yang menulis syair-syair ini. Aku tidak bisa dan tidak berbakat menulis syair.”

“Kalau begitu, aku telah salah menganggapmu Kakang. Aku tidak bisa lama-lama di sini Maafkan aku telah mengganggu ketenanganmu.”

“Ratih…”

Gadis cantik itu segera berbalik dan menghempaskan pintu kamar Arya Kamandanu. Ia tidak perduli dengan pemuda yang sangat dingin itu.

Tanpa pamit pada penghuni rumah lainnya gadis itu berlari secepat-cepatnya. Sementara Arya Kamandanu yang ditinggalkannya duduk terpaku. Perlahan bangkit dengan meringis menahan rasa nyeri dan sakit karena luka-lukanya yang belum sembuh benar. Pada saat ia bangkit dan melangkah menghampiri pintu nyaris bertabrakan dengan Bibi Rongkot yang ternyata ingin menjenguknya.

“Oh, kau, Bi.”

“Mana Nini Ratih?”

“Dia sudah pulang, Bi.”

“Kok buru-buru sekali dia pulang? Ada apa, Ngger?”

“Tidak ada apa-apa. Bibi tahu, di mana Kakang Dwipangga?”

“Sedang menjemur daun tal di atas atap kamarnya.”

“Aku mau menemuinya.”

“Ada apa, Ngger? Kok sepertinya…?”

“Minggir, Bi. Jangan menghalangi jalan. Aku harus menemui Kakang Dwipangga sekarang juga!”

Dengan kasar sekali Arya Kamandanu menghela perempuan tua di hadapannya yang menghalangi langkahnya. Tidak peduli rasa nyeri dan sakit di tubuhnya.

Ia segera menuju kamar Arya Dwipangga. Ketika sampai di depan pintu kamar kakaknya dengan menahan amarah yang memuncak dan menggemuruh di dada bahkan sampai di ubun-ubunnya ia tendang pintu kamar kakaknya hingga terdengar suara gedobrak dan berderak

Arya Dwipangga terperangah melihat kehadiran adiknya dengan wajah tidak bersahabat. “Adi Kamandanu, ada apa? Mengapa kau rusak pintu kamarku?”

“Huuh! Apa yang sedang kaulakukan itu?”

“Apa urusanmu? Aku sedang menulis syair.”

“Rupanya kau bangga sekali dengan syair-syairmu itu, Kakang?”

“Tentu saja. Kenapa? Apa karena aku sedang menulis syair lalu kau tidak senang dan merusak pintu kamarku?”

“Jawab dulu pertanyaanku, Kakang! Mengapa kau mengirim syair-syair itu pada Nari Ratih? Apa maksudmu?”

“Oooo, jadi kau sudah tahu? Baiklah Aku akan mengatakan alasanku.”

“Jangan membuat alasan, Aku ingin tahu yang sebenar-nya.”

“Ya, ya, Adi Kamandanu. Sabar dulu.”Arya Dwipangga bangkit dan meletakkan alat tulisnya di atas meja kecil dan melangkah mendekati adiknya yang berpaling, membuang muka dengan perasaan kesal bercampur muak. “Adi Kamandanu! Aku ingin berbuat baik padamu. Aku ingin membuat hubunganmu dengan Nari Ratih pulih kembali “

“Kakang! Persoalan Nari Ratih adalah persoalan pribadiku. Kau jangan ikut campur.”

“Dengar Hubungan kalian tak mungkin bisa dipulihkan kalau aku tidak turun tangan.”

“Apa pun yang akan terjadi di antara kami, Kakang tidak perlu ikut campur! Urusi sendiri persoalanmu! Mengapa Kakang terlalu usil?”

“Jadi, kau tidak menganggapku lagi sebagai saudara tuamu?”

“Kau tetap Kakang Dwipangga saudara tuaku, tapi bukan berarti kau boleh ikut campur urusan pribadiku sampai sekecil-kecilnya.”

“Aku kan bermaksud baik?”

“Aku tidak membutuhkan jasa baikmu. Aku tidak butuh pertolongan siapa pun sekalipun ayahanda sendiri.”

“Kau sombong sekali, Kamandanu!”

“Terserah apa yang akan kau katakan. Tapi begitulah pendirianku. Aku tak ingin melihat orang lain ikut campur urusan pribadiku.”

“Kalau begitu baiklah, Aku tak akan ikut campur lagi. Uruslah sendiri persoalanmu dengan Nari Ratih.”

“Tidak bisa, Kakang. Kau telah berbuat kesalahan dengan mengirim syair-syair itu. Sekarang Nari Ratih bertambah kesal padaku. Hubungan kami semakin suram.”

“Lalu bagaimana? Aku harus bagaimana?”

“Aku tidak tahu kau harus bagaimana. Tapi yang jelas, Kakang telah membuatku kecewa. Kakang telah menyakiti hatiku dan aku tidak mudah melupakannya.”

“Terserah kalau begitu.”

“Mulai sekarang kita saling menjaga diri. Aku tak akan mencampuri urusanmu, tapi Kakang jangan coba-coba ikut campur urusanku sekalipun dengan dalil ingin berbuat baik.”

“Baik kalau memang begitu kemauanmu.”

“Mengenai Nari Ratih, aku bisa menyelesaikan sendiri persoalan kami tanpa harus mengikutsertakan syair-syairmu itu. Buatlah syair untuk dirimu sendiri karena belum tentu orang lain senang mendengarnya.”

“Bagus, bagus! Tetapi bagaimana dengan pintu kamarku yang rusak itu?”

“Jangan khawatir! Aku akan membetulkannya. Tapi setelah itu pintu itu harus kaututup rapat, jangan sampai gema syairmu terdengar dari kamar tidurku.”

Selesai berkata demikian, Arya Kamandanu segera meninggalkan kakaknya yang tersenyum getir. Beberapa saat lamanya ia berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Arya Kamandanu yang menghempas kan daun pintu kamarnya kuat-kuat sehingga menimbul kan suara kegaduhan.

Perempuan tua itu menghela napas dalam-dalam kemudian melangkah menghampiri Arya Dwipangga yang masih berdiri di ambang pintu dengan hati resah.

“Dalam hal ini, menurut pendapat Bibi, Angger Dwipangga juga yang bersalah.”

“Aku kan bermaksud baik, Bi.”

“Iya, tapi maksud baik Angger justru akan membuat Angger Kamandanu tersinggung. Seorang laki-laki tentu akan terusik harga dirinya jika urusan mengenai kekasih hatinya dicampuri laki-laki lain.”

“Aku jadi serba salah, Bi.”

“Maka sebaiknya Angger Dwipangga memperbaiki keadaan ini.”

“Bagaimana caranya, Bi?”

Beberapa saat lamanya Bibi Rongkot terdiam, memperhatikan momongannya, lalu sesekali melongok ke arah kamar Arya Kamandanu.

“Angger Kamandanu sangat kesal karena begitu tahu bahwa syair itu bukan dia yang menulis, gadis Manguntur itu lalu buru-buru pulang. Angger Kamandanu berusaha menahan, tapi agaknya gadis itu sudah sangat malu dan tersinggung harkat kewanitaannya.”

“Kalau begitu aku harus minta maaf pada Nari ratih. Aku akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.”

“Memang sebaiknya begitu. Tapi apakah Angger Kamandanu akan setuju?”

“Dia tidak akan setuju, Bi. Dia sudah menutup diri untuk semua maksud baikku.”

“Kalau begitu cari cara lain saja, Ngger. Peliharalah perasaan adikmu. Kasihan dia.”

“Tidak, Bi. Aku akan minta maaf pada Nari Ratih bukan untuk Adi Kamandanu lagi, tapi untukku sendiri. Aku sudah melakukan kesalahan yang membuat gadis itu menderita batinnya dan tidak seorang pun berhak mencegah niatku ini.”

Hari itu juga Arya Dwipangga memacu kudanya menuju desa Manguntur. Bibi Rongkot tidak berhasil mencegah keinginan anak muda itu. Kepalanya pusing memikirkan dua momongannya yang berkemauan keras. Tidak ada yang mau mengalah. Ia mengambil sikap untuk diam.

Dihempaskannya napas kesal kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

* * *

Di pinggir desa Manguntur siang itu cuaca cukup cerah.

Langit berhias awan-awan sirus hingga cakrawala biru tampak elok, menyejukkan mata. Matahari tidak terlalu terik, angin semilir mengayunkan dedaunan. Rumpun daun-daun pandan sesekali gemerisik bergesekan, suaranya kadang menakutkan. Dari kejauhan tampak seorang penunggang kuda.

Derap kuda itu makin lama makin keras dan makin dekat. Seorang gadis yang sedang memetik daun pandan berhenti sejenak memperhatikan pemuda yang menghentikan kuda di dekat tegalannya. Pemuda itu melompat turun dari punggung kuda hingga binatang perkasa cokelat tua itu meringkik.

Gadis cantik itu pura-pura tidak mengetahui kedatangan pemuda yang melangkah menghampirinya. Ia makin menyibukkan diri memotong daun-daun pandan yang dianggap sudah cukup tua.

“Ah, gadis Menguntur memang rajin-rajin. Sepagi ini sudah turun ke tegalan untuk memetik daun pandan,” sapa pemuda itu hingga mau tidak mau gadis cantik di depannya menghentikan pekerjaannya dan memandangnya sekilas dengan sedikit curiga.

“Siapakah Tuan dan apa maksud Tuan datang kemari?”

“Aku Arya Dwipangga dari desa Kurawan.”

“Apakah Tuan masih saudara dengan Arya Kamandanu?”

“Dia adikku.”

“O, kalau begitu pasti Tuan bermaksud menemui sahabatku, Nari Ratih.”

“Aku gembira sekali kalau kau sudi menolong aku “

“Menolong bagaimana yang Tuan maksudkan?”

“Antarkan aku menemui Nari Ratih “

“Saya tidak keberatan mengantarkan Tuan. Rumah sahabatku tidak jauh dari sini.” Beberapa saat lamanya gadis itu seperti berpikir, lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Tapi apakah dia mau menerima Tuan, itulah soalnya.”

“Aku datang dengan maksud baik Mengapa dia tidak mau menerimaku?”

“Sahabatku itu sekarang mengurung di kamarnya terus menerus. Tidak mau berbicara dengan siapa pun.”

“Ah, kasihan sekali sahabatmu itu. Aku ikut prihatin atas kesedihan yang baru dideritanya.”

“Dari mana Tuan tahu dia sedang bersedih hati?”

“Akulah yang membuatnya bersedih. Akulah yang bersalah, karena itu aku datang untuk minta maaf padanya.”

“Hemh, baiklah. Tinggalkan saja kuda Tuan di tegalan ini Mari ikut saya.” Gadis cantik itu meletakkan potongan daun pandan, menjemurnya, mengebas-ngebaskan tangannya yang kotor lalu melangkah mendahului Arya Dwipangga.

Arya Dwipangga menambatkan kudanya pada sebuah batang pohon kelor. Kemudian ia mengikuti langkah gadis cantik itu pada jalan setapak di sisi tegalan sambil memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat tumit gadis cantik itu sedikit pecah-pecah, kasar dan cokelat. Sementara di selasela tumit retak itu ada garis-garis hitam. Jemari kakinya agak melebar. Lincah dan trengginas langkah gadis di depannya itu hingga tidak lama kemudian sampailah mereka pada sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu jati dan beratap sirap.

Cukup besar juga rumah Rekyan Wuru itu. Memiliki pekarangan yang luas ditanami dengan berbagai umbi-umbian. Ada talas, ketela, ganyong, klerot, serta berbagai macam pohon buah-buahan.

Gadis cantik itu mengetuk pintu, sedangkan Arya Dwipangga menunggu agak ke samping depan dengan hati berdebar-debar.

“Ratih! Ratih…, buka pintunya, Ratih! Ratih, ini aku, Palastri yang datang!”

Terdengar dari langkah di dalam, dan palang kancing pintu yang dibuka dengan agak malas Tidak lama kemudian, daun pintu segera terbuka dengan suara gemeretak dan derit cukup panjang.

Arya Dwipangga terbelalak matanya sambil menelan ludah. Ia sangat terpesona dengan kecantikan seorang gadis yang membukakan pintu. Alangkah sempurna gadis itu, wajahnya bercahaya ketika ia keluar dari gelap, dan pias cahaya matahari membias di wajahnya yang bersih.

Rambutnya tergerai, kulitnya bersih terbungkus kain cokelat kembang-kembang. Kakinya juga sangat bersih menapak di lantai kayu rumahnya yang serba cokelat seperti baju yang dikenakannya. Bibirnya mungil di bawah hidungnya yang bangir. Kerjap matanya yang indah dengan bulu mata nan lentik, ditambah alis mata yang sangat rapi dan indah bak bulan sabit.

“Ada apa, Palastri? Siapa yang kau bawa kemari ini?” duh suaranya juga merdu dan menggemaskan. Setiap kata selalu diikuti desah dan decak napas nan halus.

“Dia saudara tua Arya Kamandanu. Dia ada keperluan denganmu, Ratih.” Palastri membalikkan tubuh dan mengangguk pada Arya Dwipangga “Tuan! Tuan? Apa yang Tuan lihat?”

Arya Dwipangga gelagapan karena terlalu asyik dengan pemandangan barunya, “Ekh, tidak… Aku, aku…. Apakah gadis di depanku ini yang bernama Nari Ratih, puteri tunggal Rekyan Wuru?”

“Inilah sahabatku itu, yang Tuan cari.”

Nari Ratih dengan dingin memandang Arya Dwipangga.

“Saya tahu Tuan datang kemari pasti ada hubungannya dengan Kakang Kamandanu. Saya sudah berjanji dalam hati tidak akan menyentuh persoalan itu lagi. Silakan Tuan pergi.” Nari Ratih mundur selangkah kemudian tangan kanannya menarik daun pintu.

“Ratih! Ratih!” Palastri berusaha mencegah sahabatnya, namun Nari Ratih dengan wajah tidak senang segera menutup pintu agak kasar. Palastri mengangkat bahu dan tidak berani memandang ke arah Arya Dwipangga yang tampak gugup dan kebingungan.

“Bagaimana, Tuan Dwipangga? Nari Ratih sudah menutup lagi pintunya.”

“Kalau begitu tidak ada pilihan lagi. Aku harus kembali ke Kurawan.”

Mereka segera meninggalkan rumah Rekyan Wuru tanpa sepatah kata pun. Mereka disibukkan oleh bisikan hati dan pikiran masing-masing Arya Dwipangga segera kembali ke Kurawan dengan bayangan wajah Nari Ratih terus melekat di dalam ingatannya. Menurut penilaiannya Nari Ratih adalah gadis paling cantik, paling sempurna yang pernah dijumpainya selama ini. Karena itu diam-diam Arya Dwipangga bermaksud memikat hati gadis Manguntur itu.

Maka bermunculanlah bait-bait syair yang indah, yang tidak lagi mewakili adiknya melainkan dikirim atas namanya sendiri.

Suasana malam kian mencekam. Keheningan menyelimuti desa Kurawan yang telah berhias kabut tipis.

Dingin menyusup dan menggigit. Terdengar alunan seruling bambu mendayu-dayu. Seorang pemuda gagah dan tampan sangat gelisah di pembaringan dengan berbantal kedua tangannya. Dari bibirnya menggetar-kan sesuatu yang hanya ia ketahui sendiri.

Sekalipun aku tahu pintu rumahmu terkunci.

Aku ingin mengetuknya berulangkah.

Angin yang menghembus bumi menjadi saksi.

Penyesalan Dwipangga menyentuh ke dasar hati

Mendapatkan ilham yang sangat indah ia segera bangkit kemudian menuangkan dalam goresan-goresan di atas rontal Tidak lama kemudian, ide-idenya itu sudah berwujud sebuah bait syair. Ia tersenyum dan membacanya berulang-ulang.

Beberapa hari kemudian syair-syair itu telah berpindah Tangan. Rontal-rontal itu telah dibaca oleh seorang dara jelita dalam kamarnya. Sambil berbaring dan mengingat-ingat keras tentang siapa pengirim syair-syair itu.

Nari Ratih!

Kau adalah sebongkah batu karang

Tapi aku adalah angin yang sabar dan setia

Sampai langit di atas terbelah dua

Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

Pada malam yang lain dara jelita itu juga menyimak syair lainnya. Ia perhatikan dengan jantung berdetak menggemuruh dan hati berdebar-debar. Tangannya pun gemetaran memegang rontal itu.

Hujan sore itu turun dengan sedihnya

Tanpa angin tanpa pelangi

Apakah itu pertanda harapanku akan sia-sia?

Kulewati malam yang dingin ini dengan gemetar sambil terus mengenang wajahmu.

Gadis cantik itu menghela napas. Meletakkan rontal itu di sisinya kemudian memiringkan tubuhnya seraya mendesah sendu.

“Ohh, Arya Dwipangga. Apa maksudmu mengirim syair-syair begini padaku? Syairmu membuatku gelisah sepanjang malam. Apakah kau sengaja melakukannya untuk menyiksaku?”

Sejak syair-syair itu datang dan terus mengalir bagai air Sungai Manguntur yang bening, dara jelita itu seperti hidup tanpa gairah. Pada pagi itu seperti biasa ia pergi ke sungai bersama sahabat setianya. Kepedihan hatinya turut membuat sahabatnya prihatin.

“Kau pasti kurang tidur, Ratih Matamu agak merah.”

“Dia tidak mengirimkan daun rontal lagi, Palastri?”

“Aih, aih. Kau ketagihan rupanya.”

“Jangan begitu, Palastri. Aku bersungguh- sungguh.”

“Huu, siapa berkata kau tidak bersungguh-sungguh?”

“Aku mulai tertarik membaca bait-bait syairnya.”

“Sayang sekali. Sudah dua hari dia tidak datang. Jadi, yah… terpaksa kau harus sabar menunggu, Ratih.”

“Palastri! Bagaimana kalau aku menemuinya?”

“Hee! Jangan terburu nafsu begitu, Ratih. Nanti bisa kecebur lebih dalam kau bisa celaka.”

“Kau bilang dia sering duduk sendiri di tepi padang ilalang itu?”

“Dia yang berkata begitu. Entah benar, entah tidak.”

“Palastri, aku akan minta tolong padamu, yah?”

“Huuus. Jangan minta aku mengantarmu ke sana.”

“Bukan. Aku akan pergi sendiri ke sana Tapi kalau misalnya ayahku mencariku, tolong katakan bahwa aku sedang pergi mengunjungi seorang kawan.”

“Aduh. Sekarang orang tua menjadi sasaran dusta. Ini bisa gawat, Ratih. Apa kau sudah berpikir masak-masak?”

“Kaukira aku pergi menemuinya untuk apa? Aku hanya akan menemuinya untuk memaafkannya. Dengan begitu, dia tidak lagi mengirimkan syair-syairnya padaku.”

Sejenak keduanya terdiam. Menikmati gemericik air Sungai Manguntur yang membual-bual menuju lembah. Percikan-percikannya tampak melompat-lompat saat mendera bebatuan. Angin lembut mendesau mengelus kulit mereka yang kuning langsat. Rambut mereka yang tergerai melambai-lambai Sesekali keduanya membetulkan rambut yang tersibak angin dan jatuh pada dahi mereka. Bau kembang rumput dan bunga-bunga hutan kadangkala sampai pada penciuman mereka. Dalam kebisuan itu mereka berusaha menikmati alunan merdu kidung bumi pertiwi yang selalu mengalunkan nyanyiannya.

Pada senja itu di langit sebelah barat tampak kuning Jingga kemerahan. Awan-awan yang bergumpal-gumpal bagaikan emas perak. Bertebaran memenuhi cakrawala.

Padang ilalang tampak bagaikan lautan emas. Bunga-bunga ilalang yang putih bersih berubah menjadi emas kemilau oleh pantulan cahaya senja. Jika angin bertiup maka gelombang bunga itu tampak indah sekali. Makin mempesona tatkala bunyi berisik berangkai-rangkai bagaikan lagu dan syair diiringi musik nan harmoni.

Kembang-kembang ilalang penarinya, berisik dedaun-nya adalah musiknya. Seorang gadis jelita melangkahkan kakinya pada jalan setapak di pinggir padang ilalang. Keringatnya mengucur pada pelipisnya. Bahkan butir-butir keringat itu mengembun pada dahi dan hidungnya, yang bangir, Ia terus melangkah perlahan-lahan. Hati-hati sekali karena tidak ingin kakinya yang lembut menginjak duri-duri tajam. Ia berhenti sejenak.

Dahinya berkerut dan napasnya tertahan, detak jantungnya makin menggemuruh tatkala melihat seseorang duduk di atas batu hitam memunggunginya.

“Ah, benar. Dia duduk di tepi padang ilalang ini, di atas sebuah batu hitam. Ahh, bagaimana ya?” gadis itu merasa malu sekali untuk menghampirinya. Namun, kalau tidak ia juga kasihan melihatnya duduk merenung seperti arca batu begitu. Kecamuk hati gadis itu terus mendesaknya untuk melangkah mendekati orang yang duduk agak jauh di depannya. Karena tidak melihat jalan di depannya, tanpa sengaja ia menginjak ranting kering hingga menimbulkan suara berderak.

“Akhhh…!” pekiknya seraya menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Hal itu membuat seseorang yang duduk di atas batu hitam itu terkejut dan membalikkan tubuhnya seraya bangkit.

Pemuda tampan dan bertubuh tinggi besar itu terperangah.

“Hei? Apakah aku sedang bermimpi? Bukankah kau Nari Ratih?”

“Tidak. Tuan tidak bermimpi. Aku memang Nari Ratih.”

“Kalau begitu aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Ketika aku sedang duduk dalam sunyinya padang ilalang ini tiba-tiba ada seorang bidadari dari kayangan dikirim untuk menemaniku.”

“Ah, Tuan pandai memuji.”

“Marilah kita duduk di batu yang di sana.”

“Tidak. Di sini saja.”

“Di sana saja Kita bisa melihat pemandangan yang indah terbentang di sebelah utara padang ilalang ini. Sawah, pohon-pohon mahoni di sepanjang jalan, gunung membiru di kejauhan, bisa kita lihat semua. Ayo! Jangan malu padaku.”

“Baiklah. Tuan jalan di depan Aku di belakang.”

“Kau takut aku akan menciummu?”

“Ah, tidak, mengapa…. Mengapa Tuan berkata begitu?”

“Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku Kakang. Itu akan terdengar lebih merdu.”

“Tidak. Aku akan memanggil Tuan saja.”

“Baiklah. Terserah padamu.’*

Angin mendesau menggoyangkan daun-daun nyiur di kejauhan. Suara gemerisik daun ilalang juga menyambut hembusannya. Sepasang muda-mudi itu menikmati senja hingga menjelang petang Pada awal pertemuan itulah yang membuat gadis jelita desa Manguntur itu semakin gelisah.

Malam harinya ia tidak bisa tidur. Menggelimpang ke kanan dan ke kiri dengan desah napasnya yang terasa berat.

Betapa indah kenangan di pinggir padang ilalang itu, “Arya Dwipangga. Baru pertama kali aku mengenal laki-laki seperti dia.”

Nari Ratih tersenyum Padang ilalang menurutnya makin indah dan mempesona. Kembali ia tersenyum membayangkan pemuda itu, “Sungguh berbeda dengan adiknya. Arya Dwipangga lebih terbuka. Dia pandai sekali menyenangkan hati seorang wanita. Dia juga lembut dan mudah menuruti keinginan orang lain.” Nari

Ratih menghempaskan napas, bibirnya sampai manyun. Geleng-geleng kepala dan makin resah, ia raba telinga kirinya, “Ohhh, tadi dia menyentuh telinga kiriku. Sampai gemetar seluruh tubuhku. Apakah dia sengaja melakukannya? Mengapa aku tak pernah mengalami guncangan perasaan seperti ini selama duduk bersama Kakang Kamandanu?” gadis itu kembali geleng-geleng kepala, kini yang melekat di pelupuk matanya adalah Arya Kamandanu, “Kakang Kamandanu memang baik tetapi dia tidak pernah mau mengerti suara hatiku. Dia sering menyakitkan hati dan membuatku kecewa. Ahh, Arya Dwipangga, kau memang lebih dari yang lain. Apakah karena aku telah terpikat olehmu?” gadis cantik itu kembali memiringkan tubuhnya, menggigit bibirnya sendiri. Bahasa hatinya selalu memburu dalam benaknya. Kembali ia tidur telentang dan mendesah. Teringat syair yang dibacakan Arya Dwipangga di tepi padang ilalang. Suara pemuda itu kembali terngiang di gendang telinganya,

Jika hari telah tidur di pangkuan malam

Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin

Biarpun bulan pucat kedinginan

Biarpun bintang merintih di langit yang jauh

Aku akan tidur dengan tenang

Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku.

Gadis cantik itu kini telah memejamkan matanya.

Napasnya sangat lamban dan lembut sekali hingga desah pun nyaris tidak kedengaran. Bukit-bukit dadanya menyembul di balik kainnya yang sangat tipis. Dalam pejam matanya bibirnya mengulum sebuah senyuman penuh arti. Dagunya bergerak menengadah menantang langit. Ia melihat seorang pangeran bermahkotakan emas, bertatah intan berlian. Sang pangeran itu tersenyum padanya. Gadis cantik itu terpukau, berdiri mematung sambil membelalakkan matanya.

“Kakang Arya Dwipangga!”

“Nari Ratih permaisuriku!”

Mereka saling berpelukan, mereka hanya berbicara dengan bahasa desah napas dan jemari Langit yang biru bening berhias awan-awan putih bagaikan kapas dan bulu domba. Angin semilir menyejukkan sepasang dewa-dewi yang sedang bercengkerama.

* * *

Setelah pertemuannya dengan Arya Dwipangga di tepi padang ilalang itu, Nari Ratih semakin kelihatan gelisah. Suatu ketika dia pergi lagi ke tepi padang ilalang dan dia sangat terkejut.

Bukan Arya Dwipangga yang dia temui di sana. Napas gadis itu serasa terhenti dan detak jantungnya kian memburu, kedua tangannya yang terlipat di dada mendadak gemetar.

Dalam hatinya berkata-kata, menyusun kata yang terbaik untuk menghadapi pemuda itu, “Ohh, bagaimana ini? Mengapa Kakang Kamandanu yang duduk di situ? Mana Arya Dwipangga? Oh, apakah aku harus kembali saja? Tetapi bagaimana dengan Kakang Kamandanu? Apakah tidak sebaiknya kutemui dia? Akh, tidak. Aku tidak akan menemuinya lagi. Ohh, Nari Ratih. Kau tergolong wanita yang tidak setia. Mengapa kau begitu cepat berpaling pada pria lain?”

Ketika Nari Ratih tengah sibuk tercekam oleh pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, mendadak tak jauh dari betis kakinya yang indah muncul seekor ular pohon.

“Aaaawwwkhh!” Nari Ratih terpekik. Betisnya dipagut ular, namun bersamaan dengan itu seorang mendekapnya dari belakang hingga ia tak mampu berteriak. “Okh, ekh, okh…!” Orang itu semakin erat membekapnya, namun ketika orang itu menunjukkan wajahnya di depan matanya ia pun terbelalak. “Ohh…,”

“Sssstt! Jangan keras-keras. Adikku ada di sana. Kalau dia tahu kita berada di sini bisa terjadi keributan.”

“Kakiku…” desah Nari Ratih merasakan nyeri pada betisnya.

Arya Dwipangga terkesiap melihat kaki Nari Ratih, “Betismu berdarah “

“Terasa pedih dan agak nyeri, ohh…”

“Jangan cemas. Mari kita mencari tempat yang tenang. Aku akan berusaha mengeluarkan bisa ular pohon itu dari kakimu “

“Oh, ke mana?”

“Tenanglah! Aku tahu tempat yang aman. Mari, pegang pundakku dan aku akan memapahmu.”

“Ohh, oh!… maaf. Tuan.”

“Pegang saja, supaya kau jangan terjatuh. Hati-hati! Pelan-pelan saja jalannya agar tidak menimbulkan suara.”

Pemuda itu memapah Nari Ratih dan mereka berdua diam-diam meninggalkan tepi padang ilalang. Mereka melangkah ke arah selatan, ke arah Candi Walandit yang tampak berdiri kokoh di balik bukit.

Burung-burung kecil bercericit menerima kehadiran mereka. Burung-burung kecil itu berlompatan dari dahan ke dahan, bahkan ada yang langsung terbang meninggalkan tempat itu karena merasa terganggu oleh kehadiran manusia.

Mendadak jantung Nari Ratih berdebar keras ketika Arya Dwipangga mengajaknya di Candi Walandit di mana ia pernah dipaksa oleh Dangdi yang menginginkan kehormatannya. Ia menghentikan langkahnya di halaman candi, “Ohh, sudah. Di sini saja, Tuan.”

“Mengapa kita tidak istirahat di dalam saja? Ruangan candi itu cukup luas dan kita bisa leluasa mengeringkan keringat. Ayo, kita masuk.”

“Tidak. Di sini saja.”

“Kau seperti ketakutan melihat candi itu. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.” Padahal dalam hatinya Nari Ratih ingin katakan bahwa di candi itu, Arya Kamandanu dan Dangdi berkelahi karena membelanya, bahkan kini ia masih menyimpan kainnya yang sobek oleh kekasaran Dangdi.

Arya Dwipangga bersabar, dan ia ikut menghentikan langkah lalu mencarikan tempat yang nyaman untuk Nari Ratih.

“Baiklah, sekarang aku akan mengeluarkan bisa ular pohon itu. Kalau tidak kukeluarkan betismu bisa kaku dan membengkak.”

“Apakah bisa ular itu berbahaya, Tuan?”

“Mengapa? Kau takut kehilangan sebelah kakimu? Hmm, itu tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi aku bisa menggantikannya dengan dua belah kakiku.”

“Sudahlah. Tuan jangan menggoda saya terus.”

“Kau tidak usah khawatir, Ratih. Bisa ular pohon itu tidak berbahaya. Nah, maaf.” Pemuda itu menyentuh betis gadis cantik itu sehingga gadis itu terkejut.

“Ohh, Tuan! Tuan telah memegang betis saya.”

“Betismu tidak berkurang indahnya walaupun kupegang sepuluh kali sehari.”

“Tapi, itu tidak boleh, Tuan. Itu berarti lancang, bukan?”

“Aku kan harus mengeluarkan bisa itu. Mengapa tidak boleh memegang betis kakimu? Sekarang kau harus menganggapku sebagai tabib “

“Dengan apa Tuan akan mengeluarkan bisa itu?”

“Bisa itu harus kusedot dengan ini, mulutku Lihatlah!”

Dengan agak ragu Nari Ratih membiarkan Arya Dwipangga menyibakkan kainnya yang menutupi sebagian betisnya. Pemuda itu hati-hati, lalu merunduk dan segera mengecup betisnya yang terluka oleh pagutan ular, “Hmmh, hemhh.”

Pemuda itu berkali-kali mengecup betis gadis cantik yang terpagut ular pohon itu.

Darah Nari Ratih terasa tersirap olehnya. Bulu romanya merinding ketika permukaan kulitnya yang lembut tersentuh oleh bibir pemuda itu. Hatinya berdebar-debar oleh kenakalan pemuda yang berniat menolongnya.

Pikirannya melayang-layang ke mana-mana. Setelah mengecup dan menyedot betis indah itu kemudian pemuda itu meludahkan darah kehitam-hitaman.

Berulangkah pemuda itu melakukan hal yang sama hingga membuat gadis itu menggelinjang dan menggigil. Ia merasakan getaran-getaran halus menyusup di dalam hatinya kemudian menjalar ke seluruh urat syaraf tubuhnya.

Pada ludah yang terakhir kali sudah tampak bersih, maka pemuda tampan itu menghentikan kecupannya. Ia pandang lekat-lekat gadis cantik di dekatnya yang ternyata masih memejamkan mata. Dielusnya betis mulus itu penuh dengan perasaan kemudian ia menyentuh dagu yang indah bagaikan lebah menggantung itu.

“Mengapa napasmu tersengal-sengal, Ratih?”

“Ehh, tidak. .. Tidak apa-apa.”

“Sakit, ya?”

“Eh, ya, agak sakit sedikit.”

“Kalau begitu sekarang kaubaringkan tubuhmu sebentar di atas batu pipih ini.” Arya Dwipangga meletakkan batu pipih yang terlepas dari bangunan halaman candi, “Ayo, baringkanlah.”

“Oh, terima kasih, Kakang Dwipangga.”

Jejaka tampan itu membiarkan gadisnya terbaring dan

memejamkan matanya. Sambil menelan ludah ia raba dadanya sendiri yang menggemuruh menyaksikan gugusan-gugusan yang menyembul di balik kain gadisnya. Gugusan-gugusan itu naik turun seiring napas gadis itu yang sangat lembut.

Pada hari itu juga di tepi padang ilalang seorang perempuan tua menggeleng-gelengkan kepalanya sambir mengatur napasnya yang terengah-engah. Sudah sekian lama ia berjalan menyusuri desa Kurawan dan pada saat itulah hatinya baru terasa lega karena melihat momongannya duduk terpaku memandang pemandangan seorang diri di atas sebuah batu hitam.

“Nggeer!… Angger Kamandanu! Oh, apa yang Angger lakukan di tempat ini? Bibi mencari ke sana-kemari dari tadi.”

“Mengapa Bibi mencari saya?” tanya pemuda itu tanpa menoleh.

“Angger kan belum sembuh benar? Angger masih perlu istirahat.”

“Saya sudah sembuh, Bi. Biarkan saya di sini. Bibi pulang saja.”

“Jangan begitu, Ngger. Bibi tahu Angger belum sembuh benar. Kemarin saja Angger masih mengeluh pusing. Mengapa Angger membohongi Bibi Rongkot yang sudah tua ini?”

“Bibi tidak usah memikirkan saya.”

“Ah, bagaimana bisa begitu? Angger Kamandanu dan Angger Dwipangga adalah momongan Bibi sejak masih anak-anak. Sudah lima belas tahun Bibi momong Angger berdua. Tapi mengapa Angger berkata begitu? Apakah Angger Kamandanu sudah tidak menginginkan Bibi tinggal bersama Angger lagi?”

“Oh, bukan begitu maksudku, Bi. Maafkan kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaan Bibi.”

“Yah, mungkin karena Nyi Rongkot ini sudah tua bangka. Orang kalau sudah tua tidak berguna lagi. Dia hanya bertambah cerewet, banyak tingkah, sedangkan hasil pekerjaannya tidak sempurna lagi. Mungkin Angger sudah bosan melihat Bibi.”

“Oh, mengapa Bibi berkata begitu? Bagaimana saya bisa bosan pada Bibi? Bibi sudah saya anggap sebagai ibuku.” Mendengar jawaban pemuda itu, perempuan tua itu matanya berkunang-kunang. Kemurungannya seketika sirna. Butiran bening meluncur pada pipi keriput itu.

Dipandanginya pemuda tampan di depannya lekat-lekat. Pemuda itu bangkit dan memandang sekilas padanya.

“Sudahlah, Bi. Jangan membuat hati saya bertambah sedih.”

“Ngger, apa sebenarnya yang menggelisahkan hati Angger? Hemm, apakah soal gadis desa Manguntur itu?”

“Entahlah, Bi.”

“Jangan terlalu dipikirkan, Ngger. Nanti Angger bisa bertambah sakit. Anggap saja semua itu merupakan suatu pengalaman yang berharga untuk membina masa depanmu. Menurut Bibi, soal jodoh bukan di tangan kita, Ngger. Jodoh sudah ditentukan oleh para dewa penentu jodoh. Kalau memang Nari Ratih itu jodoh Angger Kamandanu, biarpun dia lari ke atas Gunung Semeru, tetap saja akhirnya akan jatuh ke pangkuan Angger. Percayalah kata-kata Nyi Rongkot yang tua ini.”

“Ya, Bi. Aku percaya. Tapi kadangkala hati ini tidak mudah untuk menerimanya Hati dan pikiran selalu bertentangan. Sering kali aku tidak bisa memahami apa yang terjadi.”

“Ngger, jangan memikirkan apa yang sudah terjadi. Pikirkan saja apa yang belum terjadi. Apa yang sudah terjadi biar mengendap sebagai pengalaman hidup. Kata orang-orang tua, pengalaman adalah guru kita yang paling sempurna. Guru manusia hanya mengajarkan satu sisi kehidupan saja. Sedang guru pengalaman mengajarkan lebih lengkap.”

“Kata-kata Bi Rongkot dalam sekali.”

“Itu pun berkat pengalaman Bibi ketika muda dulu, Ngger.”

“Terima kasih, Bi. Nasihatmu kembali membesarkan hati ini.”

“Sudahlah, Ngger. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Pikiran yang tidak sehat bisa merusak diri kita. Nah, sekarang mari kita pulang. Duduk merenung sendiri di tempat seperti ini bisa menjadi sahabat setan.”

“Baiklah, Bi, mari kita pulang. Tempat ini memang menyakitkan untuk dikenang.”

Pemuda itu kemudian merangkul pundak perempuan tua yang sangat memperhatikannya. Keduanya lalu berjalan beriring menuju tempat tinggal Mpu Hanggareksa melalui jalan setapak di tepi padang ilalang. Dalam perjalanan pulang, keduanya sedikit pun tak mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan bisikan hati masing-masing. Hanya desah angin yang semakin jelas dalam pendengaran mereka.

Daun-daun gemerisik menyambut hadirnya hembusan angin pada hari itu.

Pada saat yang sama, suasana sunyi mencekam di sebuah bangunan kuno di balik bukit. Seorang pemuda tampan dan gagah tersenyum sendiri memperhatikan gadisnya menggeliat dan mengusap pelupuk matanya dengan punggung tangannya. Bibir gadis cantik itu merekah. Perlahan matanya yang bening terbuka. Dahinya mengerut dan ia terkejut.

“Oh, mengapa…, mengapa aku bisa tidur di bangunan candi ini?”

“Aku yang membaringkanmu di sini, Ratih.”

“Oh, Kakang Dwipangga. Kakang terlalu lancang “

“Ratih. Bukan karena aku tidak tahu kesopanan dan tata krama. Aku hanya kasihan melihat tubuhmu terbaring di halaman candi yang kotor berdebu sementara matahari semakin panas menyengat kulitmu. Tapi, yah, kalau kau keberatan aku pun bersedia memindahkanmu ke sana.”

“Ih, itu tidak lucu, Kakang! Aku bukan barang perhiasan yang bisa dipindah ke sana kemari.”

“Siapa yang mengatakan kau barang perhiasan? Kau adalah seorang dewi. Kau adalah bidadari yang turun dari langit melewati tangga pelangi untuk membuat isi dunia ini menjadi cerah dan bahagia.”

“Kakang….”

Pemuda itu tersenyum, tangan kirinya merengkuh bahu lembut gadis itu. Ia hela napas dalam-dalam untuk mengatasi detak jantungnya yang kian menggemuruh, berdebar dan tak menentu. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang pemuda yang merengkuhnya

“Kakang Dwipangga….,” mendesah dan lembut suara gadis itu.

“Kau sekarang memanggilku, Kakang. Mengapa tidak Tuan?”

“Rasanya tidak enak memanggil Tuan. Terlalu kaku. Kakang lebih akrab dan lebih sopan. Hemh, apa Kakang keberatan?”

“Bukankah aku lebih dulu memintamu memanggil Kakang?”

“Oh, Kakang Dwipangga. Bolehkah aku bertanya?”

“Silakan. Aku akan berusaha menjawabnya dengan baik.”

Gadis itu merenggangkan pelukan pemuda yang mulai mencuri Hatinya. Membetulkan beberapa helai rambutnya yang menghalangi matanya. Memandang menengadah pada jejaka tampan yang meremas jemarinya dengan senyuman manja. Kembali gadis itu merebahkan kepalanya bagaikan keletihan sambil berbisik, “Kakang Dwipangga pandai sekali menulis syair. Semula kukira Kakang Kamandanu yang menulis syair-syair itu. Dari mana Kakang belajar menulis syair?”

“Menulis syair tidak bisa dipelajari.”

“Masak begitu?”

“Memang begitu Menulis kata-kata indah ada kamusnya, tapi menulis syair membutuhkan bakat yang khas “

“Tampaknya kau tak bisa hidup tanpa syair.”

“Bagiku hidup ini adalah syair Apa yang kulihat, kualami, kudengar, kusaksikan adalah lantunan-lantunan bait syair. Kau tidak percaya?”

Nari Ratih mengernyitkan alis.

“Nah, dengarkan…

Seekor kijang kencana terbaring di atas lempengan batu

dan Candi Walandit tak bisa mendongeng lagi tentang cerita lama yang sudah usang yang selama ini dibangga-banggakan.

Megapun tersingkap.

Angin berhenti.

Pohon-pohon tersentak lalu terdiam.

Burung-burung tak berkicau lagi.

Desah napas pun tak terdengar lagi kena pesona gaib kijang kencana yang masih tidur di atas lempengan batu.”

Selesai membacakan syair itu semakin erat jemari mereka berjalinan. Keduanya mendesah Kepala pemuda tampan itu direbahkan di atas kepala dara jelita yang bermanja di dadanya.

“Syairmu indah sekali. Tapi siapakah yang kaumaksudkan dengan kijang kencana itu?”

“Kijang kencana itu bernama Nari Ratih, seorang gadis dari desa Manguntur.”

“Ah, Kakang Dwipangga.” Mesra dan manja gadis itu mencubit sayang pada lengan pemuda yang makin erat memeluknya.

“Nari Ratih…!”

“Oh, Kakang!”

Tiba-tiba gadis itu memekik dan bangkit setelah melepaskan pemuda itu. Mereka saling mengerutkan dahi sambil menajamkan pendengaran. Dari kejauhan mulai terdengar derap kuda yang kian mendekat menghampiri Candi Walandit.

Mereka kembali saling memandang dengan kecemasan.

Derap kuda itu berhenti dan suara ringkikan binatang perkasa itu memecah keheningan.

“Haaaiii! Kalian yang ada di dalam candi! Keluarlah! Aku tahu kau adalah Kamandanu dan anak Rekyan Wuru! Ayo, keluarlah!” teriak penunggang kuda.

Teriakan itu beberapa saat tak terdengar lagi. Sepasang muda-mudi itu tampak resah. Gadis itu gugup sambil membetulkan letak pakaiannya yang kurang beres. Mereka menghela napas seolah-olah sesak dan berat sekali.

“Jadi, kalian tidak mau keluar?” seru orang itu seraya melompat dari punggung kudanya dan merunduk mengambil beberapa bongkahan batu. “Ayo, keluar! Jangan berbuat tidak senonoh di dalam candi. Kalau kalian tidak keluar, aku lempar dengan batu ini!” Orang itu pun segera melemparkan batu ke arah candi.

Orang itu memelototkan matanya ketika melihat siapa yang keluar dari dalam candi. Ia mencibirkan bibirnya dan memandang sinis ke arah mereka. “Hee, Nari Ratih! Rupanya bukan Kamandanu yang menjadi pasanganmu

sekarang.”

“Kamandanu atau bukan itu bukan urusanmu. Kau tidak usah ikut campur, Dangdi!” tukas Nari Ratih kesal dan setengah berteriak.

Pemuda yang ternyata adalah anak Kepala Desa Manguntur itu tertawa terbahak-bahak dan memandang rendah pada seorang gadis yang pernah menggoda hatinya.

Tawanya meledak bagaikan geledek di siang bolong menghantam gendang telinga Nari Ratih.

“Baru aku tahu, Nari Ratih ternyata hanya wanita murahan. Kau gampang dibawa orang!”

“Dangdi!” bentaknya kesal. Ia berpaling pada Arya Dwipangga, “Oh, Kakang…. Dia telah menghinaku!”

“Mengapa kau mengganggu ketenangan kami, Dangdi?” bentak pemuda tampan di samping gadis ayu desa Manguntur itu. Yang dibentak semakin sinis tersenyum lalu kembali tawanya meledak penuh cemooh.

“Aku hanya kebetulan lewat jalan ini. Kajian tidak usah khawatir. Tak ada perlunya aku lama-lama di tempat ini.” Pemuda itu kemudian melompat kembali ke atas punggung kudanya lalu menghelanya. Binatang perkasa itu membawa lari tuannya dengan ringkikan panjang seiring seruan mengejek, “Selamat bercumbu-rayu!…. Heyaaaaa, heyaaaaa…!”

Keduanya memandang kepergian anak Kepala Desa Manguntur yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap di balik semak belukar dan gerumbul-gerumbul lebat di sekitar Candi Walandit.

Nari Ratih memandang penuh kecemasan, pada pemuda yang meraih jemarinya lalu meremasnya.

Pemuda tampan itu kemudian meraih pundak dara jelita di sampingnya, memeluknya dan diajaknya melangkah masuk kembali ke dalam Candi Walandit.

Sejenak mereka diam. Hanya bahasa jemari mereka yang bicara seiring embusan angin sepoi yang menyapa permukaan kulit. Rambut gadis desa Manguntur itu berderai-derai diembus angin. Pemuda Kurawan yang semakin terpikat itu membelainya dengan tangan kanannya.

Mereka berhenti melangkah, berhadap-hadapan saling memandang penuh arti. Gadis cantik itu menjatuhkan kepalanya di dada pemuda yang mengasihinya seolah-olah terlalu letih menanggung cercaan pemuda Manguntur yang telah ditolak cintanya.

“Mengapa Kakang biarkan Dangdi merendahkan dan menghina kijang kencana?”

“Sudahlah, dia sudah pergi. Apa perlunya melayani manusia seperti itu? Manusia mempunyai pikiran dan rasa, sedangkan babi mempunyai taring saja sehingga tidak mampu melihat daki pada tubuhnya. Orang seperti Dangdi tak lebih dari babi hutan. Biarkan saja babi hutan berkeliaran mencari makanan di hutan.”

“Oh, Kakang Dwipangga,” kembali gadis jelita itu tenggelam dalam pelukan pemuda Kurawan yang telah merebut hatinya.

Mereka bercengkerama di Candi Walandit disaksikan langit dan mega-mega, desau angin dan berisik daun melambai yang mengiringi kidung cinta yang mengalun dalam sanubari.

Pertemuan demi pertemuan pun semakin mengikat mereka dalam jalinan tali kasih. Hubungan mereka semakin akrab dan sangat intim.

Nari Ratih mulai melupakan Arya Kamandanu.

Sementara itu, Arya Kamandanu telah sembuh dari lukanya. Suatu ketika ia sedang menunggang kudanya hingga sampai di tepi padang ilalang. Kuda itu berlari dengan gagahnya di atas rumput. Suri-surinya berdiri dan suaranya sesekali meringkik nyaring setiap kali tuannya mendekapkan kedua lututnya pada perutnya Arya Kamandanu menarik kekang kudanya hingga kuda itu memperlambat larinya. Semakin perlahan akhirnya berhenti dan meringkik seolah-olah bertanya apa maksud tuannya menghentikannya. Kuda itu meringkik panjang. Ekornya melambai didera angin yang cukup kencang.

Pada saat pemuda Kurawan itu tengah sibuk melayangkan pandang ke permukaan padang ilalang, dari arah bukit Kurawan muncul kuda yang lain. Kuda itu dipacu semakin dekat, derapnya kian jelas hingga akhirnya sampai di depannya beberapa langkah.

Penunggangnya tersenyum sinis padanya, bahkan kuda yang ditunggangi orang itu meringkik seolah turut mencemoohkannya.

“Ahaa! Ada sahabat lama rupanya. Apa kabar, Kamandanu?”

“Kau jangan mencari gara-gara lagi denganku, Dangdi. Kalau kau bersama dua temanmu telah membuatku babak belur, bukan berarti aku kemudian gentar menghadapi kalian. Carilah hari yang baik untuk membuka pertandingan babak baru Aku akan siap melayanimu kapan saja.”

“Sayang sekali, tantanganmu kali ini tidak menarik seleraku, Kamandanu.”

“Lalu apa maksudmu menemuiku?”

“Ah, aku hanya kebetulan saja lewat tempat ini”

“‘Kalau begitu teruslah lewat.”

“Baik, tapi sebelum meneruskan perjalananku ke Manguntur, aku akan menyampaikan suatu kabar penting. Kabar tentang gadismu, anak Rekyan Wuru itu.”

“Dangdi, kalau kau masih mengganggu dia lagi, aku tidak akan memaafkanmu.”

“Sabar, Kamandanu! Jangan menuduh tanpa bukti. Siapa yang mengganggu Nari Ratih? Huuuuh, kalaupun ada bukan aku orangnya.”

“Apa maksudmu, Dangdi?”

“Kau akan tahu apa yang kumaksudkan kalau sekarang ini berkuda ke Candi Walandit.”

“Dangdi, kau ingin agar aku ke Candi Walandit? Aku bukan orang yang terlalu bodoh untuk bisa kaujebak dengan cara semudah itu.”

“Kaukira aku menjebakmu, Kamandanu? Buat apa?”

“Banyak orang telah mengenal kelicikanmu, Dangdi?”

“Hahahahahah, terserah kau, Kamandanu. Mau percaya atau tidak bukan urusanku. Tapi kalau kau ingin tahu diri pacarmu itu, nah…sebaiknya kau turuti apa yang kukatakan. Pergilah berkuda ke Candi Walandit.”

“Kalau aku ingin menemui Nari Ratih, aku akan ke Manguntur kapan saja aku mau. Bukan ke tempat di mana kau pernah akan memperkosanya.”

“Kasihan sekali kau, Kamandanu.” Anak kepala desa Manguntur itu tersenyum sinis kemudian menggumam, berbicara seperti pada diri sendiri, “Kasihan Arya Kamandanu! Ada seekor serigala tidur bersamanya dan telah menerkam daging pahanya tapi dia tidak merasa. Kasihan!” Dengan geleng-geleng kepala dan tersenyum makin mengejek Dangdi memandang Arya Kamandanu

yang makin seperti orang bodoh. Maka ia pun menghela kudanya, “Hiaaaa…, hiaaaaa…!”

Binatang gagah perkasa itu pun meringkik panjang dan melonjak setengah kaget ketika tuannya menghelanya dengan mendadak. Dangdi tidak mempedulikan Arya Kamandanu yang memperhatikan kepergiannya dengan heran dan bertanya-tanya.

Dahi Arya Kamandanu berkerut-kerut sampai alisnya nyaris bertemu. Arya Kamandanu menghela napas sangat dalam kemudian mengembuskannya perlahan-lahan.

“Hemmmh, apa maksud kata-kata Dangdi? Ada seekor serigala telah tidur bersamaku dan telah menerkam daging pahaku tapi aku tidak tahu. Apa maksudnya? Huuuh, masa bodoh. Orang seperti Dangdi memang banyak akalnya untuk mencelakakan lawannya. Kalau tidak waspada aku bisa terjebak.”

Kembali Arya Kamandanu memperhatikan Dangdi yang makin lenyap dari pandangan matanya Hanya derap kudanya yang masih terdengar semakin sayup.

Sampai menjelang senja Arya Kamandanu berada di tepi padang ilalang. Matahari mulai kemerah-merahan ketika pemuda itu menyentakkan tali kudanya dan sebentar kemudian hewan perkasa itu telah berlari bagaikan terbang.

Derapnya kian sayup dan menjauh meninggalkan padang ilalang yang gemerisik dibelai angin senja Bunga-bunganya tampak kuning kemerahan oleh pendaran cahaya matahari.

Bergelombang-gelombang bagaikan lautan emas yang menggelorakan alun, riak dan ombak-ombaknya. Tempat yang menggoreskan noktah-noktah cinta di hatinya. Namun beberapa kali berada di situ ia tidak pernah menjumpai gadis yang masih melekat di hatinya. Ia selalu pulang dengan kegalauan dan kekecewaan Tiba di halaman rumahnya ia menyerahkan kuda ke Bibi Rongkot agar dibawa ke kandangnya. Ia terhenyak, sepotong rontal ada di dekat kakinya. Tapi ia tidak begitu peduli, sebab rontal-rontal macam itu sudah pasti milik kakaknya. Ia bawa saja ke kamar dan meletakkan begitu saja di atas pembaringannya.

* * *

Malam tiba bagaikan menghimpit hati seorang pemuda yang sedang berbaring sambil memegang selembar rontal.

Napasnya seolah-olah sangat sesak. Dibacanya perlahanlahan goresan-goresan pada potongan rontal itu, setelah sebelumnya ia bubuhkan serbuk kapur dan mengusapnya dengan ujung telunjuknya, maka jelaslah tulisan itu yang berbunyi,

Aku berkelana mencari cinta ke desa-desa yang jauh.

Akhirnya di Candi Walandit kupuaskan dahagaku.

Selesai membaca sebait syair itu, pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya ke langit-langit kamarnya yang berhias dawai-dawai sarang serangga. Ia letakkan selembar rontal itu di sisinya sambil tetap ditutupi dengan telapak tangan kirinya. Ia bergumam, “Hmm, apa maksud Kakang Dwipangga menuliskan syair ini? Candi Walandit? Apa ada hubungannya dengan ucapan Dangdi?” Perlahan pemuda itu memiringkan tubuhnya. Diperhatikannya kembali selembar rontal itu. Ia mendesah dan perlahan memejamkan matanya. Pikirannya kian bermacam-macam dan menggalaukan perasaan hatinya. Malam itu ia hampir tidak bisa tidur.

Pikirannya terganggu oleh syair yang ditemukan di halaman rumahnya.

Pagi harinya dia akan mencoba membicarakan masalah itu dengan saudara tuanya.

Burung-burung berkicau di dahan pohon sawo, mereka seolah menyambut datangnya pagi yang sangat cerah.

Embun-embun berguguran setiap kali mereka melompat dari dahan ke dahan Sinar matahari masih tampak lembut meraba punggung bumi. Ringkik kuda, embik kambing dan lenguh lembu serta kerbau yang menguak saling bersahut dengan suara unggas-unggas liar. Paduan harmoni alam yang tercipta bagaikan gubahan kidung maha-sempurna.

Pagi itu, Arya kamandanu ragu-ragu melangkah menghampiri sebuah kamar yang pintunya tidak tertutup.

Ia melihat saudaranya sibuk di belakang meja dengan pena dan rontalnya. Ia hampiri kakaknya tanpa ucapan salam.

Dilemparkannya begitu saja selembar rontal yang ditemukan kemarin sore.

“Aku menemukan rontal ini di halaman. Barangkali tertiup angin yang menerpa daun jendela kamarmu, Kakang.”

Arya Dwipangga meraih rontal itu dan memeriksanya sejenak sambil tersenyum terpaksa “Hmm, ya. Ini memang syairku. Terima kasih, Adi Kamandanu.”

“Syairmu itu bagus.”

“Aneh sekali? Bukankah kau tidak menyukai syair? Mengapa kau tiba-tiba memuji syairku?”

“Maaf kalau Kakang Dwipangga keberatan mendengar pujianku.” Arya Kamandanu masuk selangkah dan memperhatikan daun-daun tal yang telah kering bertebaran di meja dan pembaringan kakaknya. “Ada yang ingin kauceritakan tentang syair itu?”

“Ah, syair ini tidak istimewa. Hanya mengisahkan dua insan yang sedang mabuk asmara. Setiap orang mengalaminya. Tidak ada alasan tertentu. Sudahlah, untuk apa kita bicara soal syair? Syair tidak untuk dibicarakan, tetapi untuk dinikmati “

“Kakang Dwipangga, kata-katamu terlalu angkuh. Seolah-olah kau mampu menelan seluruh bumi ini dengan syairmu “

“Adi Kamandanu. Mungkin kau tidak akan percaya kalau kukatakan bahwa aku bahkan sanggup menelan matahari dengan bait-bait syairku.”

Mereka bersitegang dan saling menyalahkan. Dengan tatap mata sinis keduanya saling memandang. Lalu arya Kamandanu membalikkan tubuh meninggalkan kakaknya yang tersenyum dan mencibir.

Ada sepasang telinga yang mendengarkan perselisihan mereka dari balik dinding kayu. Seorang perempuan tua yang selama ini mengasuh mereka. Perempuan tua itu hanya dapat mengurut dada. Matanya terbelalak dan ia melangkah agak cepat ketika tiba-tiba mendengar ringkikan kuda. Perempuan tua itu melongokkan kepalanya kemudian melangkah ke halaman dengan wajah penuh kecemasan dan kepedihan. Ia berseru memanggil momongannya yang sudah sampai di pintu pekarangan depan, “Ngger Kamandanu, mau ke mana?”

“Aku mau pergi, Bi. Bibi jaga rumah, jangan ke manamana dulu sebelum aku kembali.”

“Ekhh…, Ngger…”

“Hiaaa… hiaaa…”

Pemuda itu tanpa menoleh lagi pada perempuan tua yang menggeleng-gelengkan kepala sambil mengurut dada.

Derap kuda makin menjauh meninggalkan kepulan debu-debu di belakangnya. Pemuda itu semakin merapatkan kedua lututnya pada perut kuda serta menyentakkan tali kekangnya hingga binatang tunggangannya semakin memperkencang larinya.

Beberapa saat lamanya pemuda itu berkuda tanpa arah dan tujuan, namun akhirnya ia tiba di tepi padang ilalang.

Tempat itu seolah-olah tidak bisa dilupakan begitu saja. Ia menghentikan kudanya di sana. Masih duduk di punggung kuda ia memandang sekeliling, namun dengan tatap mata kosong. Angin yang semilir menghembus tidak mampu mengobati kegerahan hatinya. Kudanya meringkik panjang seolah mengetahui kesepian batinnya. Ekornya mengibasngibas, bulu surinya berdiri ketika tuannya mengelus kepalanya. Pemuda itu bergumam, “Apakah ada hubungannya antara syair yang ditulis Kakang Dwipangga dengan apa yang dikatakan Dangdi? Kuperhatikan akhir-akhir ini memang dia jarang di rumah. Sering pergi dan tidak meninggalkan pesan apa-apa pada Bi Rongkot. Hemmh, aku jadi penasaran. Barangkali jawabannya ada di Candi Walandit. Aku harus ke sana sekarang juga. Hiaaa…hiaaa…!”

Pemuda tampan itu menyentakkan tali kekang kudanya hingga binatang perkasa itu setengah terkejut, meringkik dan melonjakkan kakinya bagaikan terbang. Debu-debu berkepul, bertebaran di belakang derap kakinya. Pemuda itu menghentikan kudanya agak jauh dari Candi Walandit, kemudian menambatkan kudanya pada sebatang pohon girang dengan memanjangkan talinya agar binatang itu bisa beristirahat sambil merumput. Pemuda itu menepuk-nepuk kepala kuda kesayangannya sebelum akhirnya meninggalkannya dengan langkah berjingkat dan hati-hati sekali menuju Candi Walandit melalui pintu gapura bagian belakang. Hatinya berdebar-debar tak menentu. Ia terus melangkah dengan harap-harap cemas.

Sementara itu di dalam Candi Walandit, terdengar isak seorang gadis. Desahnya meningkahi desau angin yang menggoyangkan daun-daun tal dan jambe yang banyak tumbuh di sekitar Candi Walandit.

“Mengapa kau menangis, Ratih? Tak ada yang perlu kau tangisi lagi.”

“Tangisku adalah tangis bahagia, Kakang. Seorang wanita juga akan menangis kalau hatinya sedang tertimpa kebahagiaan yang tiada taranya.”

“Coba kaupejamkan matamu barang sejenak.”

“Nanti aku jatuh tertidur.”

“Kalau kau tidur, aku akan berbaring menunggu di sampingmu.”

“Nah, sudah kupejamkan mataku. Sekarang apa yang mau kaulakukan, Kakang? Awas, jangan nakal “

“Kalau aku nakal?”

“Aku akan menjerit “

“Tidak ada seorang pun yang akan mendengar kau menjerit.”

“Ada! Aku yang akan mendengar dia menjerit!” Tiba-tiba ada orang ketiga yang hadir di candi itu.

Nari Ratih dan arya Dwipangga tersentak. Tangan kanan Arya Dwipangga menggantung di udara tidak jadi menghapus air mata gadisnya. Buru-buru ia bangkit dan bertolak pinggang memandang dingin pada seseorang yang mengganggunya. Seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinganya.

Nari Ratih cemas, ia pun ikut bangkit dan mendepis ke dinding candi sambil menggigit jarinya sebab ia pun masih mengenal suara lantang itu. Matanya merah, mukanya juga merah padam menyimpan perasaan malu.

“Oh, Kakang?” ada nada menggeletar tercekat di tenggorokan gadis itu.

Arya Dwipangga berpaling sejenak lalu melangkah memandang penuh kebencian pada seseorang yang berada di atas dinding candi.

“Kamandanu! Apa yang kaulakukan di situ?! Turunlah!”

Orang itu yang tak lain adalah Arya Kamandanu tanpa menunggu lagi segera melompat turun. Ia menjejak ke tanah bagaikan seekor burung yang hinggap di dahan. Ia tersenyum sinis memandang kakaknya dengan pandangan jijik.

“Mau apa kau datang kemari, Kamandanu?”

“Mau mendengarkan syair-syairmu tentang wanita,” jawab Arya Kamandanu sambil melangkah mendekati kakaknya. Ia mendengus sambil bertolak pinggang dan membusungkan dadanya. Kakaknya menjadi geregetan, mengepalkan tangannya ingin menempeleng adiknya yang dianggap kurang ajar.

“Bedebah!” geramnya.

“Oh, jangan, Kakang! Jangan bertengkar!” rintih Nari Ratih masih mendepis di belakang Arya Dwipangga.

Namun, pemuda yang kini merebut hatinya itu tidak menggubrisnya, bahkan melangkah mendekati adiknya dengan gigi gemeretak.

“Kau anak tidak tahu sopan santun. Apa kau tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengintip orang?”

“Rupanya benar apa yang dikatakan Dangdi. Aku telah tinggal serumah dengan serigala dan serigala itu sekarang sudah menerkam daging pahaku sendiri.”

“Kalau aku serigala maka kau adalah seekor keledai! Kau keledai yang paling dungu. Bagaimana kau sampai tidak tahu daging pahamu kuterkam?”

“Kakang Dwipangga! Sekarang baru aku tahu siapa dirimu yang sesungguhnya. Berpuluh tahun kita hidup satu atap sebagai saudara, tetapi baru sekarang aku baru melihat Arya Dwipangga yang sesungguhnya. Pencuri! Maling!”

“Hee, Kamandanu! Peliharalah kata-katamu. Ini ada wanita, berlakulah sedikit sopan “

“Jangan pura-pura suci hati, serigala! Kedokmu sudah tersingkap Belangmu sudah terungkap Mau apa kau sekarang, ha? Mau mangkir? Tidak kuduga. Dengan alasan menolongku, dengan pura-pura baik padaku, rupanya kau seorang pencuri paling tengik!”

“Kamandanu! Ingat! Aku adalah saudara tuamu!”

“Aku tidak punya saudara tua seperti kau!” Arya Kamandanu membentak dengan mata mendelik geram.

Napasnya memburu menahan murka.

“Bagus! Sekarang kau mau apa?”

“Aku mau ini!” Suara Arya Kamandanu parau Dengan sigap ia mencabut pisau dan diacungkan pada kakaknya hingga Arya Dwipangga mundur beberapa tindak dengan setengah melotot dan mulut setengah menganga.

Nari Ratih setengah melompat berdiri di tengah arena.

“Oh, jangan! Hentikan semua ini!” pekiknya serak.

“Nari Ratih, minggirlah.”

“Tidak! Jangan, Kakang Kamandanu! Jangan bertengkar dengan saudaramu sendiri!”

“Aku tidak mempunyai saudara seekor serigala. Minggir!”

“Sudahlah, Kakang! Akulah yang bersalah!”

“Bukan kau yang bersalah. Dia itulah yang menerkammu dari belakang. Dia memang licik seperti serigala.”

“Aku yang bersalah, Kakang. Nari Ratih yang bersalah. Bukan Kakang Dwipangga.”

“Kau minggir atau tidak, Nari Ratih? Minggirlah dan lihatlah bagaimana pisau ini akan menguliti serigala jahanam itu.”

“Tidak!”

“Minggir!”

“Tidak! Lebih baik bunuhlah aku, Kakang! Karena akulah yang bersalah! Bunuhlah Nari Ratih!” Gadis cantik itu mulai menangis.

Suaranya makin parau. Dadanya turun naik seirama napasnya yang terengah.

Melihat hal itu Arya Kamandanu sedikit menahan diri.

“Nari Ratih,” suara pemuda itu masghul. Merasa tidak mengerti, dan langit serasa berputar di atasnya.

“Kakang Dwipangga tidak bersalah, akulah yang bersalah Kalau kau mau membunuhnya, bunuhlah aku lebih dulu.”

“Ohhh, jahanaamm! Semua jahanammm! Semua pencuri! Pencuri busuk. Hiaaa…, hiaaa… hiaaaa!” Arya Kamandanu berteriak-teriak melampiaskan amarahnya sambil menghunjam-hunjamkan belatinya ke dinding Candi Walandit, hingga hunjaman itu menimbulkan pijar api.

Matanya memerah dan merembang. Tubuhnya berkilatkilat oleh peluh dan keringat. Napasnya terengah-engah, ia menggeram dan kembali berdiri tegak sambil memandang kedua insan yang kini membuat matanya seperti sakit.

Dipandanginya keduanya dengan dingin, benci, marah dan kesal. Digenggamnya erat-erat pisau itu. Ia telan ludah pahit hingga terasa tersendat di tenggorokan.

“Oooohhhh, tidak kusangka kalian berdua mengkhianatiku. Kalian pencuri busuk. Manusia comberan. Bwaaahh! Aku muak melihat kalian!” Arya Kamandanu kemudian meludah dan segera berbalik meninggalkan mereka dengan hati tercabik-cabik.

Arya Dwipangga melangkah menghampiri Nari Ratih.

Dengan mesra ia remas pundak Nari Ratih. Gadis itu masih menangis bahkan makin terisak. Matanya terasa perih, air matanya kian membanjir Bibirnya bergetar meliuk-liuk.

Arya Dwipangga merengkuhnya semakin erat. Kemudian jejaka itu mencium rambut gadis jelita dalam pelukannya

Baunya harum minyak gaharu. Diusapnya air mata dara itu yang meleleh membasahi kedua pipinya. Semakin erat ia mendekap kekasih hatinya.

“Kakang. Kakang Dwipangga. Apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku… aku merasa berdosa pada adikmu.”

“Tenanglah, Ratih, bukankah ini sudah menjadi tekad kita berdua? Sudahlah! Hentikan tangismu! Semua ini akan berlalu. Berlalu seperti angin yang menerkam rambutmu ini…”

Arya Dwipangga mengurai rambut hitam panjang bergelombang milik kekasih hatinya. Ia merunduk, mencium pipi, leher dan akhirnya merebahkan kepalanya pada pundak Nari Ratih.

Mereka saling mendesah. Kemudian diam menyusuri keheningan yang kian mencekam Melupakan segalanya, dan mereka berdua menyanyikan kidung asmara diiringi irama alam

* * *

Arya Kamandanu merasa sangat terpukul melihat Nari Ratih yang sudah terjerat oleh permainan asmara kakaknya sendiri. Dari Candi Walandit itu ia berkuda makin menjauhi desa Kurawan. Hatinya tercabik-cabik, cintanya terkoyak oleh permainan dewa asmara. Sampai malam harinya dia tidak pulang melainkan terus berkuda tidak tentu arah dan tujuan.

Di suatu tempat, ketika bulan mulai tersembul di balik punggung bukit Kurawan, Arya Kamandanu melompat dari atas kudanya. Binatang tunggangannya meringkik panjang memecah kesunyian malam. Suara binatang malam terdengar menjerit-jerit hingga terasa sakit pada pendengaran jejaka itu.

Arya Kamandanu menghela napas dalam-dalam, memandang rembulan merah yang menggantung di awangawang. Gerahamnya tampak menonjol dan terdengar gemeretak, tangannya mengepal, pandangannya berkaca-kaca.

“Semuanya jahanam! Mayapada ini penuh setan gentayangan! Tak ada yang beres. Semuanya palsu! Apa gunanya semua ini? Apa arti semua ini? Kebajikan, ksatriaan, kepahlawanan, pekerti luhur yang diajarkan para dewa. Apa artinya?” Lalu ia mendongak ke langit, berseru lantang memecah keheningan malam, “Haiiii dewa-dewa yang bersemayam di atas langit! Turunlah dari atas takhtamu dan jawablah pertanyaanku ini! Apa maksudmu dengan semua ini?”

Hanya gema suaranya yang ditelan malam. Tidak ada jawaban. Beberapa saat lamanya ia melepas pandang ke seluruh sudut cakrawala malam. Hitam, kelam.

“Hooooohhh, mengapa engkau bungkam? Mengapa kau membisu? Ayoo, jawablah pertanyaan Arya Kamandanu!” suara pemuda itu menggema ke dinding-dinding bukit. Mungkin binatang-binatang malam pun terkejut mendengarnya.

Pada saat itulah sebuah bayangan berkelebat bagaikan kilat, langsung menyerang dan memukul pemuda itu dengan telak. Karena tidak siap dan dahsyatnya serangan gelap itu membuat pemuda itu sempoyongan dan terjatuh beberapa langkah ke belakang. Dipeganginya perutnya yang terasa mual.

“Hohh, siapa kau?” tanya Arya Kamandanu sambil memegangi perutnya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya yang berkunang-kunang.

Penyerang gelap itu bukannya menjawab pertanyaan nya, tetapi tertawa terkekeh-kekeh

“Aku bukan dewa, tetapi akulah yang akan menjawab pertanyaanmu itu, anak muda.”

“Aku tidak membutuhkan kau! Aku mau dewa yang datang!”

“Anak muda! Kau tidak pantas bertanya seperti itu. Tidak sopan, bahkan kurang ajar!”

“Apa pedulimu?”

“Haaaaaaaiiiitttt!” orang tak dikenal itu segera menyerang Arya Kamandanu yang masih terduduk sambil memegangi perutnya.

Pemuda itu melompat dan kembali terjengkang dan buru-buru bangkit untuk mengadakan perlawanan Sepakan, terjangan dan jotosan penyerang gelap itu sungguh cepat bagaikan angin. Bertubi-tubi pukulannya mendarat pada tubuh dan muka Arya Kamandanu. Melihat keadaan yang tidak berimbang tersebut, penyerang gelap itu menghentikan gebrakannya dengan tawa terkekeh-kekeh. Lebih-lebih melihat Arya Kamandanu memasang kuda-kuda sekalipun masih terhuyung-huyung

“Sudahlah! Tidak ada gunanya kau menyerang, kecuali kau ingin kubuat babak belur.”

“Siapa kau ini?”

“Heheheheh!” Penyerang gelap itu tidak menjawab, hanya tawanya yang terkekeh membuat Arya Kamandanu makin jengkel, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Bibirnya bergetar menahan geram

“Kau pasti orang jahat, karena kau tidak berani menunjukkan wajahmu di balik cadar hitammu itu!”

“Yah, mungkin aku jahat. Tapi paling tidak aku bukanlah manusia kelas kambing seperti kau! Huh!”

“Kau mengenalku?”

“Pemuda seperti kau ini banyak berceceran di pinggir jalan. Pemuda kusut. Pemuda berjiwa bekicot, tidak tahan bantingan. Kalau aku mempunyai anak seperti kau, hooo,… sudah kulempar ke dasar jurang menjadi makanan burung gagak.”

“Yah! Kau benar, aku memang pemuda berjiwa bekicot. Aku pemuda tak berguna. Maka lebih baik aku mati saja. Bunuhlah aku! Bunuhlah aku, hai setan malam!”

“Rugi tanganku membunuh pemuda seperti dirimu.Lebih baik membunuh seekor babi hutan, bisa dipanggang untuk makan malam. Heheheheheh.”

Orang yang suaranya serak menandakan ketuaan itu membalikkan badannya hendak meninggalkan Arya Kamandanu yang masih penasaran.

“Hee, kau mau ke mana?”

“Aku tak ada waktu berbicara dengan orang seperti kau. Tapi sebelum pergi ingin kunasehatkan kepadamu. Jadilah pemuda yang tegar, penuh semangat. Kau tidak bisa merengek pada siapa pun untuk memperbaiki nasibmu. Juga tidak bisa menyalahkan keadaan, apalagi memaki-maki dewa yang menguasai jagat raya ini. Nah, ingat-ingatlah kata-kataku ini. Hawa nafsumu jangan sampai memporakporandakan akal sehatmu!”

Setelah berpesan demikian, penyerang gelap itu pun melesat bagaikan kilat. Lenyap ditelan pekatnya malam.

Arya Kamandanu terjaga dan ia pun terpukau. Melangkah perlahan beberapa tindak sambil menajamkan penglihatannya. Namun orang itu benar-benar lenyap ditelan kegelapan malam Dalam hatinya ia mengagumi kehebatan ilmu kanuragan orang asing itu. Ia meraba tengkuknya yang terasa nyeri, lalu perutnya yang masih sebal dan mual oleh jotosan dan sodokan keras penyerang gelap itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah menyadari kebodohan dan ketololannya.

Pemuda itu pun membalikkan badannya. Menghampiri kudanya dan segera melompat ke punggung kuda. Binatang kesayangannya yang sangat perkasa itu meringkik panjang memecah kesunyian malam. Ia perlahan menarik tali kekang kuda sambil merenung dan bernapas sangat panjang sekalipun terasa sesak dan tercekat di dalam rongga dadanya.

“Siapa orang itu? Sialan!” gerutunya sambil menyentak kan tali kekang kudanya lebih kuat hingga binatang tunggangannya itu segera melompat dan berlari semakin kencang.

Derap kaki kuda kian menjauh, sayup-sayup, sebelum akhirnya lenyap sama sekali.

* * *

Di ujung malam itu Arya Kamandanu melangkah hatihati sekali ketika sampai di rumah. Kuda ia masukkan kandang yang ada di belakang rumah, di pekarangan. Ia menggigit bibirnya sendiri seraya mendorong perlahan pintu rumahnya. Suara berderit tertahan ketika ia hanya membuka selebar tubuhnya, kemudian menutupnya kembali perlahan namun derit pintu itu cukup menggigit dan mendera kelengangan. Pemuda tampan dengan wajah kusut karena lelah itu pun terkejut ketika ia melihat seorang lelaki tua yang sudah berdiri di depannya.

“Oh, Ayah…. Sudah kembali?” tanyanya gugup dan tersipu

“Dari mana saja kau, Kamandanu?”

“Dari rumah seorang kawan, Ayah.”

“Kawan perempuan?”

Arya Kamandanu tidak menjawab pertanyaan ayahnya, ia menunduk sambil melirik kakaknya yang duduk di ruang depan sambil meliriknya kurang senang; diam di bawah bayang temaram lampu minyak jarak.

Lelaki tua itu memelototkan matanya menahan amarah pada putra bungsunya itu, “Kau bisu sekarang?”

“Ehh, tidak, Ayah. Kawan laki-laki.”

“Mukamu kuyu, rambutmu acak-acakan, pakaianmu kumal! Kau ini anak manusia apa anak demit?” bentak ayahnya masih melotot. Menghempaskan napas dan menggeleng-gelengkan kepala.

Temaram pendaran sinar lampu minyak itu semakin membuat suasana kurang nyaman Keadaan menjadi hening dan sunyi sebab semuanya diam.

“Duduk!”

“Ya, Ayah.”

Arya Kamandanu mengambil tempat duduk di sisi kakaknya yang sejak tadi memperhatikannya, namun sekarang keduanya sama-sama tertunduk. Napas mereka pun terasa sesak dan susah sekali.

Mpu Hanggareksa memperhatikan kedua putranya dengan menghela napas. Lama sekali menatap kedua buah hatinya. Jantungnya berdebar-debar, merasa sayang, iba, jengkel dan kesal merasakan kedua anaknya yang sangat bandel itu. Ia sudah lama menunggu kedatangan Arya Kamandanu hingga jauh malam baru sampai di rumah. Ia melangkah beberapa tindak. “Kamandanu, dan kau Dwipangga.”

“Ya, Ayah.” keduanya menjawab hampir berbareng.

“Kalian berdua ini seperti anak-anak setan! Kalian telah membuat aku malu Kalian telah mencemarkan nama baik Hanggareksa. Baru saja aku masuk perbatasan Kurawan, orang-orang sudah menyambutku dengan omongan-omongan yang tidak sedap di telinga. Dwipangga, apa yang telah kaulakukan dengan Parwati anak gadis Dipangkaradasa? Jawab!” bentak Mpu Hanggareksa dengan mata berkilat-kilat, merah karena lelah dan amarah.

Arya Dwipangga yang dibentak tidak mampu menjawab, semakin dalam ia menundukkan kepala di samping adiknya. Melepaskan pegangan kursi dan melipat tangannya ngapurancang.

“Kau mempunyai lidah untuk menjawab, Dwipangga?” serak dan geram sekali suara lelaki tua itu membentak putra sulungnya.

“Eh, maafkan saya, Ayah. Saya mengaku bersalah,” jawab pemuda itu dengan gemetar tanpa memandang ayahnya.

Pelototan mata lelaki tua itu beralih pada putra bungsunya yang sempat mencuri pandang padanya dan semakin merundukkan kepala menekuri lantai tanah.

“Dan kau, Kamandanu! Dulu kau pendiam, kau penurut dan aku bangga karena kupikir kau mewarisi darah seorang Mpu. Kau punya bakat mencipta barang-barang pusaka. Tapi sekarang aku kecewa. Kau sudah terjerumus bermain perempuan seperti kakakmu itu. Apa yang kaulakukan terhadap anak gadis Rekyan Wuru? Dan apa yang kaulakukan terhadap Dangdi, anak Kepala Desa Manguntur? Jawab!”

Arya Kamandanu tidak segera menjawab pertanyaan ayahnya. Ia bimbang dan tidak tahu apa yang harus disampaikan pada orang tuanya yang masih melotot kepadanya.

Bibir lelaki tua yang sangat dikasihinya itu tampak bergetar meliuk-liuk. Matanya berkaca-kaca karena kesal dan kekecewaan yang amat dalam. Mungkin sekesal dan sekecewa hatinya. Ia menghela napas dengan tetap menunduk menekuri lantai tanah. Jemari kakinya menceker-ceker tanah hingga meninggalkan goresan-goresan seumpama goresan luka jiwanya. Kedua putra Mpu Hanggareksa itu benar-benar tidak berkutik di hadapannya.

“Jawab, Kamandanu! Jangan membisu seperti arca Dwarapala begitu. Bicaralah! Kemukakan alasan yang masuk di akal. Hoooh, kalian ini tidak bisa membalas budi

baik orang tua.”

“Ayah, saya mengaku bersalah. Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”

Mpu Hanggareksa mengembuskan napas dan dadanya serasa penuh dengan hambatan dan serasa mau bengkah.

“Kalian anak-anakku, mestinya kalian bisa menjunjung tinggi nama baik Hanggareksa. Sudah banyak yang kulakukan hingga saat ini demi membela kehormatan keluarga dan apa yang kulakukan ini untuk kalian juga. Lihat saja! Aku sudah tua begini, masih berkuda dari Kurawan ke kotaraja Singasari. Untuk apa semua ini? Hah? Dwipangga dan kau Kamandanu!”

“Ya, Ayah,” jawab mereka berbarengan.

“Kalian anak-anakku. Dua-duanya laki-laki. Kuharap kalian mampu menjadi laki-laki yang mandiri. Apa yang sudah kupegang, kalian harus menggenggamnya lebih erat Semua yang telah kucapai ini akan kuwariskan pada siapa lagi kalau bukan pada anak-anakku.”

Lelaki tua itu kemudian merogoh kantungnya dari balik bajunya serta meletakkan kantung itu di atas meja.

“Lihat ini!” Mpu Hanggareksa membuka bundelan kantung, dan suara gemerincing menyusul kepingan-kepingan uang emas dan perak yang menggelinding ke meja pualam di hadapan putra-putranya.

“Uang! Uang sebanyak ini adalah hadiah langsung dari Sang Prabu Kertanegara. Di samping uang, ayahmu juga mendapat imbalan jasa yang lain. Ayahmu ini orang yang berjasa pada negara, apa kalian tidak menyadari hal ini, Kamandanu, Dwipangga?”

“Ya, Ayah!” jawab mereka sambil melirik uang yang tertumpah di meja dan beralih mencuri pandang ke wajah ayahnya yang sudah dihiasi guratan-guratan garis usia.

Lelaki tua itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan lain dari dalam kantung kulitnya yang tergeletak di atas kursi kayu jati Membukanya perlahan-lahan.

Kedua putranya memperhatikan dengan saksama. Dari buntalan itu tampaklah di hadapan mereka sebuah benda bersinar kuning cerah tertimpa cahaya pelita.

Mpu Hanggareksa tersenyum penuh kebanggaan menyentuh benda itu dengan hati-hati. Ditimang dan dielusnya penuh perasaan. Kedua tangannya sampai gemetaran.

“Lihat! Sebuah piringan emas murni. Ini juga hadiah langsung dari Sang Prabu sendiri.” Mpu Hanggareksa menghela napas dalam-dalam, memandang kedua putranya, “Sekarang dengar. Hmm, apa kalian sudah mengantuk? Kalau kalian mengantuk tahan dulu Jangan tidur dulu. Laki-laki sejati harus bisa mengalahkan rasa kantuk, harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Hmm, coba, berapa hari ayahmu meninggalkan Kurawan? Sejak kedatangan Tuan Pranaraja dulu?”

“Lebih dari dua purnama, Ayah,” jawab Arya Dwipangga.

“Ya. Tepatnya tujuh puluh enam hari. Selama itu kalian pikir apa yang kukerjakan di Istana Singasari? Makan, tidur, bersenang-senang?”

“Ayah pasti mempunyai banyak acara di istana,” jawab Arya Kamandanu sambil mencuri pandang pada ayahnya.

“Ya. Rupanya apa yang telah kurintis selama ini baru akan berbuah. Sang Prabu sangat gembira dan menaruh kepercayaan yang besar padaku. Di samping uang dan tanda penghargaan yang lain ayahmu ini juga diberikan kedudukan penting. Hanggareksa sekarang sudah bisa memasuki kehidupan kalangan istana Singasari. Kalian harus ikut gembira anak-anakku. Ayahmu sekarang bukan sekadar tukang pande besi murahan tapi sudah diangkat menjadi Mpu Istana Singasari. Segala hal yang menyangkut senjata pusaka yang dikelola pemerintah Singasari semuanya menjadi tanggung jawab ayahmu. Bukankah ini suatu kenaikan pangkat yang istimewa?”

“Tentu saja kami ikut merasa gembira mendengar berita ini, Ayah,” jawab Kamandanu mantap.

“Ikut gembira belum cukup, anakku. Kalian juga harus ikut memelihara apa yang sudah kuperoleh dengan susah payah ini. Mulai sekarang kalian harus hidup dengan tuntutan lain, ialah kalian diwajibkan menjaga citra baik,

nama baik dan kehormatan orang tua kalian. Kalian tidak bisa berbuat seenak hati Kau tidak bisa berbuat semau-mu lagi dengan bermain perempuan, Dwipangga…, dan kau pun demikian pula, Kamandanu. Jangan mengecewakan harapan ayahmu. Dengar! Kita bekerjasama dengan baik untuk kita juga. Kita bisa membubung tinggi atau sebaliknya jatuh dan hancur berkeping-keping.”

Mpu Hanggareksa menasehati kedua putranya hingga larut malam. Melihat kedua putranya tampak mulai mengantuk dan tidak saksama lagi mendengarkan petuahnya maka ia menyuruh mereka segera menuju kamar masing-masing. Lelaki tua itu pun mengemasi uang dan benda-benda penghargaan tanda jasanya yang dianugerahkan Prabu Kertanegara dengan rapi.

* * *

Pada pagi harinya, ketika matahari sepenggalah tampaklah tiga orang penunggang kuda. Derap kuda itu makin lama makin mendekat sebelum akhirnya berhenti pada sebuah bukit yang dihiasi tumbuh-tumbuhan perdu.

Binatang-binatang perkasa itu meringkik dan mendengus, dari mulutnya mengeluarkan busa. Angin bertiup sepo-isepoi mengembus dedaunan dan rerumputan hingga tampak bergoyang-goyang seolah-olah menyambut kehadiran mereka dengan salam damai. Mereka memandang ke arah cakrawala langit, memandang bukit-bukit yang tampak membiru, memandang awan-awan putih seputih kapas yang menghiasi langit biru.

“Lihat, Kamandanu! Daerah inilah yang diberi tanda merah tebal dalam peta yang kuperlihatkan padamu itu. Kau juga harus memperhatikannya, Dwipangga.”

“Ya, Ayah…” jawab Dwipangga sambil mengangguk.

“Dwipangga! Kau masih sibuk memikirkan perempuan, ya? Gadis mana lagi yang bercokol di kepalamu, hah?”

“Ekh, tidak, Ayah. Saya tidak memikirkan siapa-siapa. Saya sedang mengagumi daerah ini. Indah sekali.”

“Daerah ini bukan hanya indah untuk dipandang mata, tapi juga mempunyai masa depan yang cerah untuk kita. Lihat gugusan bukit di depan itu. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ada lima bukit seluruhnya. Bukit-bukit gersang itu sekarang tampak tak ada apa-apanya, tetapi sebenarnya di dalam gundukan tanah itu terkandung harta benda yang tidak ternilai harganya.”

“Maksud, Ayah?”

“Menurut peta yang dibuat oleh seorang ahli tanah, bukit-bukit yang kusebut tadi mengandung biji-biji logam yang cocok sekali untuk diolah menjadi senjata.”

“Dan kelak kita akan menggali bukit itu, Ayah?” tanya Arya Kamandanu.

“Ya. Kita akan menggalinya. Kita akan memungut logam-logam itu untuk diolah menjadi senjata. Kukira hasil yang akan kita peroleh tak akan habis untuk dimakan tujuh turunan. Nah, cukup. Mari kita teruskan melihat-lihat tempat lain.”

Mereka akhirnya meninggalkan perbukitan Kurawan menuju tempat lain. Mereka berkuda sangat perlahan-lahan. Mpu Hanggareksa, Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga menunggang kuda saling beriring melalui jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi tumbuh-tumbuhan perdu. Kadang-kadang tumbuhan menjalar juga merintangi mereka. Sisa-sisa embun pagi di pucuk-pucuk semak menjadi luruh memercik ketika kaki-kaki kuda itu menerjangnya. Kicau dan cericit burung yang terkejut meriuhkan suasana di hari itu.

Burung-burung pipit yang bergerombolan terbang mengudara meliuk-liuk, tinggi rendah dahulu mendahului bagaikan gelombang hitam di udara sambil bercericit tingkah meningkahi.

Mereka benar-benar menikmati keindahan alam Kurawan dan sekitarnya.

* * *

Pada hari yang lain, seorang perempuan tua terkejut ketika mendengar derit panjang pintu kamar putra majikannya. Seorang pemuda dengan mata merah dan rambut acak-acakan keluar dari kamar sambil tersenyum nakal padanya. Pemuda itu mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangannya sambil bersandar di tiang pintu. Perempuan tua yang dikejutkannya hanya bisa mengurut dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Susur yang ada di sela-sela bibirnya dijumput dengan jemarinya yang sudah dihiasi kerut merut usia Perempuan tua itu memandangi putra tuannya dan ujung rambut sampai ujung kaki. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum menegur pemuda itu.

“Ohh, Angger Kamandanu. Tidak biasanya Angger bangun sesiang ini.”

“Ahh, ya. Matahari sudah agak tinggi. Semalam saya susah tidur, Bi.”

“Itu karena terlalu lelah, Ngger. Beberapa hari ini Bibi lihat Angger berkuda bersama ayahanda.”

“Saya bosan, Bi. Saya mau pergi sebentar.”

“Apa tidak menunggu ayahanda pulang, Ngger? Nanti dicari-cari.”

“Ayahanda pergi ke mana, Bi?”

“Bibi kurang tahu. Pagi-pagi ayahanda sudah bangun, beliau berkuda pergi ke arah selatan. Beliau berpesan Angger berdua agar di rumah saja. Ayahanda tidak lama. Kata beliau, Angger berdua akan diajak berkuda lagi ke daerah timur sana,” kata perempuan tua itu sambil menunjukkan tangan kirinya ke arah matahari yang sudah tinggi.

Arya Kamandanu menyipitkan matanya karena masih silau menatap sang surya yang mulai galak bersinar. Ia kembali menatap kosong ke atas semak belukar. Berdiri bersandar tiang bertumpu pada kaki kirinya, sedangkan kaki kanannya tertekuk menginjak punggung telapak kaki kirinya. Sebentar-sebentar ia menggerak-gerakkan leher, kemudian menggoyang-goyangkan kaki kanannya.

Dalam sekali ia menghirup udara siang itu Bau bunga ilalang, bunga-bunga hutan dan rumput menerpa penciumannya berbaur dengan bau tahi kuda yang tidak sedap. Ia nyengir sambil menutup hidungnya dengan tangan kirinya. Pemuda itu melirik kepada perempuan tua yang masih memperhatikannya.

“Saya bosan, Bi. Saya tidak senang pergi dengan Ayah.”

“Lho, mengapa begitu, Ngger?”

“Ayah hanya memikirkan harta benda, pangkat, kedudukan dan hidup mewah di kalangan istana. Ayah sama sekali tidak sudi berpaling ke arah kami, anak-anaknya.”

“Lho, Ngger? Bukankah apa yang dilakukan Ayahanda sekarang juga untuk Angger berdua?”

“Saya tidak percaya Ayah bekerja untuk kami. Buktinya kami tidak pernah ditanya apa keinginan kami. Ayah hanya berkata kau berbakat ini atau kau berbakat itu. Nah, bekerjalah sebaik-baiknya. Ayah akan menopang sarananya,” jelas Arya Kamandanu menirukan logat bicara ayahnya.

“Tapi, Ngger. Tak ada orang tua yang ingin membuat anak-anaknya susah dan menderita. Ini sudah hukumnya, Ngger.”

“Ayah hanya dipenuhi rasa khawatir. Itu yang saya tahu, Bi. Ayah khawatir kami susah, kami hidup menderita dan gagal. Lalu Ayah berusaha mencetak kami sesuai dengan apa yang diyakininya. Bukankah dengan menempuh cara seperti itu justru orang tua telah menanam bibit penderitaan pada diri anak-anaknya?”

“Jangan begitu, Ngger. Nanti kalau Ayahanda mendengar bisa-bisa marah besar.”

“Sudahlah, Bi. Saya merasa sumpek di rumah ini. Saya mau mencari angin segar di luar.”

Arya Kamandanu kemudian ngeloyor pergi dengan langkah goyah. Ia tampak malas sekali. Kuyu dan kusut wajahnya karena lelah dan baru bangun dari tidur. Ia berjalan meninggalkan tanah pekarangan rumahnya.

Meninggalkan Bibi Rongkot, perempuan tua yang sangat mengasihinya. Perempuan tua itu mengawasi kepergiannya dengan tatapan mata sayu tanpa berkedip. Perlahan-lahan tangan kirinya bergerak, memasukkan susur di sela-sela bibirnya yang merah dubang getah sirih dan gambir.

* * *

Pada saat yang sama di sebuah rumah mungil yang terbuat dari bambu, kerangka atap, dinding, tiang dan segala macam perabotan bangunan mungil itu hampir seluruhnya terbuat dan bambu Atapnya dan daun alang-alang dan rumbia.

Dalam rumah mungil itu duduklah dua orang lelaki tua.

Mereka berhadap-hadapan duduk di kursi yang terbuat dari bambu. Meja di hadapan mereka pun dari bambu. Meja dan kursi bambu wulung tua itu tampak cokelat kehitamhitaman dan mengkilat akibat sering diduduki.

Lelaki tua yang duduk di sebelah kanan meja itu berpakaian sangat lusuh-kumal dan kotor sekali Pada kulitnya yang mulai mengeriput penuh dengan daki, tubuh tua itu masih meninggalkan sisa-sisa kekuatan tubuhnya, yaitu otot-otot yang menggumpal di bawah kulit keriputnya.

Rambutnya menge-labu dibiarkan terbuka dan tampak kurang terawat, panjang sebahu. Kumis dan jenggotnya putih. Kakinya telanjang tanpa kasut dan penuh kapalan, demikian juga pada jari-jari dan telapak tangannya, kelihatan tebal dan kasar.

Sementara lelaki tua yang duduk di sebelah kiri meja itu tampak sedikit lebih muda, wajahnya segar dan berpakaian serba bersih. Sisa-sisa ketampanan lelaki tua itu tampak pada hidungnya yang mancung, kumisnya yang terawat baik sekalipun sudah beruban. Demikian halnya dengan rambutnya yang mulai memutih di bagian belakang.

Rambut itu diikat dengan ikat kepala cokelat kembang-kembang. Pada kedua lengannya mengenakan gelang tembaga. Kukuh dan kuat lengan-lengan lelaki tua itu sekalipun kulitnya tampak mulai mengendur. Ia merogoh kantung dari balik bajunya. Meletakkan kantong itu ke atas meja bambu dan memuntahkan isinya.

Gemerincing uang logam terdengar nyaring dalam keheningan rumah mungil itu. Sambil menuang seluruh isi kantong itu ke atas meja, ia memandang lelaki tua kumal di depannya dengan mata berbinar-binar.

“Nah, lihat, Kakang Ranubhaya! Ini adalah hasil kita selama ini. Kau berhak mendapatkan separoh dari jumlah uang yang kuterima dari pemerintah Singasari.”

“Hemhh, banyak sekali uang ini, Hanggareksa.” Dingin suara lelaki kumal itu. Lelaki berpakaian kumal namun tatap matanya yang tajam itu tampak memandang rendah pada Mpu Hanggareksa yang bangga dengan uang emas dan uang perak di atas meja itu. Lelaki kumal itu meraup uang itu lalu memain-mainkannya. Bunyi gemerincing terasa mengusik keheningan di siang bolong yang sangat lengang. Lelaki tua berpakaian kumal itu tersenyum dingin sekali. Tidak mau memandang pada wajah tamunya yang berseri-seri

“Heh, kita memang berhak memperoleh uang banyak karena kita pun sudah berbuat banyak. Kita dianggap berjasa besar pada pemerintah Singasari.”

“Hanggareksa, apakah hanya uang ini yang kaucari selama ini?”

“Aku juga mendapatkan yang lain, Kakang. Tanda-tanda penghargaan dan juga bermacam-macam sarana untuk mengembangkan usahaku. Maka kalau Kakang Ranubhaya mau terus bekerjasama denganku, semua-nya akan beres.”

“Beres, beres! Apanya yang beres?” lelaki tua berpakaian kumal itu suaranya tiba-tiba melengking tinggi. Uang logam yang ditimang-timang segera berhamburan di lantai tanah karena dihempaskan begitu saja. Uang emas dan uang perak itu tercampak bagaikan tidak berguna lagi bagi lelaki kumal itu. Matanya merah, setengah mendelik dan berkilat-kilat menahan amarah. Hal itu membuat tamunya terkejut hingga bangkit dari duduknya.

“Kakang, Ranubhaya.”

“Aku tidak membutuhkan uang. Aku tidak butuh pangkat, kedudukan, ketenaran dan tanda penghargaan dari Kertanegara. Aku sudah merasa cukup dengan apa yang kuterima sekarang ini!”

“Kakang Ranubhaya! Kita bisa berbuat banyak dengan apa yang telah diberikan pemerintah Singasari.”

“Aku bisa berbuat apa saja tanpa bantuan pemerintah Singasari. Kau jangan membujuk aku lagi, Hanggareksa.”

“Kakang Ranubhaya. Apakah Kakang tidak sadar bahwa bersikap seperti ini berarti Kakang memusuhi pemerintah Singasari?”

“Sekarang kau berusaha mengancam aku, Hangga-reksa?”

“Kakang tidak menghargai pemerintah Singasari. Kakang membuang begitu saja uang yang dianugerahkan Prabu Kertanegara. Kalau sampai pemerintah dapat mencium peristiwa ini, Kakang Ranubhaya bisa kena sangsi hukuman yang berat.”

“Hanggareksa! Aku tidak bermaksud memusuhi pemerintah Singasari. Tidak memusuhi siapa-siapa. Tapi aku pun tidak bersedia kauajak bekerja pada Kertanegara. Kau tahu bahwa aku mempunyai hak, bukan?”

“Jadi Kakang Ranubhaya tetap menolak uluran tangan yang bersahabat ini?”

“Tariklah kembali tanganmu, Hanggareksa! Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

“Kau keras kepala, Kakang.”

“Dan kepalamu terlalu lembek, Hanggareksa Hingga mudah dibentuk ke sana, ke mari oleh orang-orang yang akan memperalat kepandaianmu.”

“Sudah-sudah! Kita memang berbeda pendapat.”

“Bukankah itu sudah kukatakan sejak dulu?”

“Baiklah, aku tidak memaksa kalau memang Kakang Ranubhaya tidak bersedia.”

“Kaupaksa pun aku tidak sudi menjadi gedibal Kertanegara. Nah, pergilah, Hanggareksa. Bawalah kembali uangmu itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Baik, Kakang dan barangkali ini adalah untuk yang terakhir kali mengadakan pendekatan kepadamu. Mulai besok kau sudah bukan kakak seperguruanku lagi!”

Dengan gusar sekali Mpu hanggareksa segera meraup uang yang tersebar dan terhempas di atas meja bambu, selebihnya ia tidak ambil peduli. Beberapa keping uang emas berserakan di lantai-tanah. Buru-buru ia mengemas kantong kulitnya, mengikat erat-erat dan segera memasukkan ke dalam bajunya. Penuh rasa jengkel dan terhina ia mencibir pada kakak seperguruannya lalu membuang muka sebelum akhirnya angkat kaki dari hadapan Mpu Ranubhaya yang tidak sudi melihatnya.

Mpu Ranubhaya hanya mau melihat dengan sebelah matanya ketika adik seperguruannya segera melompat ke punggung kuda dan segera kabur. Kuda tunggangan adik seperguruannya itu meringkik dan melompat bagaikan terbang mengikuti sentakan tali kekang tuannya. Derap kaki kuda semakin menjauh seiring kepedihan hati yang tersayat oleh pengkhianatan.

“Huh, seseorang jika sudah mabuk uang, ia akan lupa segala-galanya,” gumam Mpu Ranubhaya seraya bangkit dari kursi lalu melangkah ke ambang pintu memandang ke arah adik seperguruannya yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap di kelokan jalan.

Lelaki tua itu tiba-tiba mengerutkan dahinya dan menajamkan pandangannya ke arah seseorang yang berlari menuju ke rumahnya * * *


[1] Tenggok adalah sebuah keranjang yang terbuat dari bambu dengan anyaman rapat

Categories:

Tags:

Comments are closed