9

NYI LONDE membawa si bayi dan Samolo ke sebuah rumah bilik yang terletak terpencil di tepi sungai setelah berjalan menembus hutan jati yang cukup lebat. Rumah bilik itu tampak masih cukup kuat biarpun sudah banyak yang bocor dan bolong di sana-sini, namun masih bisa untuk  mereka  berteduh.  Di  sini  mereka  merasa  lebih aman karena agaknya tempat itu jarang dilalui orang.

“Rumah   ini   sudah   lama   kosong   sejak   ayahku meninggal dunia!” kata Nyi Londe sambil menidurkan si bayi.

“Mudah-mudahan  nasib  Girin  tidak  akan  seburuk aku.” sambungnya dengan suara pelan penuh haru.

“Girin…?!” Tanya Samolo heran mendengar nama itu.

“Agaknya untuk selalu mengingat nama Den Giran, Ratna  memberi  nama  Girin  kepada  putranya  ini!”  Nyi Londe menjelaskan dengan tersenyum.

Samolo termenung memandang keluar jendela.

“Entah bagaimana dengan nasib Neng Ratna sekarang. Dia pasti dibawa ke rumah Samirun. Nanti malam akan kucoba ke sana.”

“Hati-hatilah, mereka makhluk-makhluk busuk yang banyak akalnya!” kata Nyi Londe khawatir.

“Aku  tahu  mereka  akan  menggunakan  Neng  Ratna untuk ditukar dengan kotak warisan!”

Malamnya Samolo berangkat ke rumah Samirun, karena ia yakin Ratna pasti disekap di rumah itu. Dengan gerakan ringan ia menyelinap ke dalam pekarangan dan segera bersembunyi di balik pilar.

“Sunyi. Aku yakin Neng Ratna berada di sarang setan ini.” pikirnya dengan penuh waspada.

Keadaan di rumah itu terasa sunyi mencekam. Samolo pun telah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Sekonyong-konyong sambaran angin mendesing ke arahnya. Samolo berkelit tepat ketika sebatang tombak menancap di pilar hanya beberapa inci dari kepalanya. Berbarengan dengan itu, berlompatanlah belasan orang bersenjata dari berbagai sudut, mengepung Samolo.

Samolo  sadar  bahwa  ia  telah  masuk  perangkap.

Namun sedikitpun ia tidak gentar. Dengan sikap tenang namun   waspada   ia   tegak   di   tengah   pekarangan. Sementara orang-orang bersenjata itu semakin rapat mengurungnya.

“Ha ha ha ha…! Sekarang kau tak mungkin bisa lolos lagi, anjing!” terdengar suara gelak tawa Samirun dari tengah kerumunan para begundalnya. “Sebaiknya kau menyerah saja. Nyawa Ratna dan kau sendiri sudah berada di telapak tanganku. Serahkan kotak itu, kalian pasti selamat!” serunya lagi.

“Carilah sendiri di tumpukan puing gubuk yang sudah jadi arang itu!” ejek Samolo.

Mata Samolo tajam mencari Samirun di antara para pengepungnya  itu.  Dia  berpikir,  jika  ingin  membunuh ular haruslah kepalanya lebih dulu. Ia sudah mengambil keputusan untuk menghabisi si biang kerok itu. Maka ketika matanya menangkap sesosok tubuh jangkung berdiri di belakang para centeng itu, Samolo tiba-tiba melejit seperti pantulan bola lalu lompat melesat ke arah Samirun. Gerakannya begitu cepat dan sukar diduga, membuat para centeng   sewaan   jadi   tersentak   dan bergerak serentak untuk menghalangi terjangan Samolo. Samirun terkejut tak alang-kepalang ketika sosok tubuh tinggi besar itu tiba-tiba saja sudah berada dekat di hadapannya, menerjang bagaikan seekor burung rajawali yang sangat tangkas. Samirun dengan gugup lompat mundur sambil menembak dengan pistolnya. Dua letusan terdengar disusul oleh jeritan mengaduh dua orang centengnya sendiri yang segera rubuh bergelimpangan ke tanah terkena peluru nyasar. Detik itu Samolo sudah lompat lagi setelah berguling menghindar dari desingan peluru. Sasarannya selalu terarah kepada Samirun, membuat   kasir   ini   jadi   kelabakan   dan   menembak membabi-buta karena paniknya. Setiap butir peluru yang dimuntahkan  dari  moncong  pistolnya  itu  selalu  saja merenggut satu atau dua nyawa orang-orang sendiri.

Keadaan menjadi kacau-balau. Para centeng lari serabutan  atau  tiarap  karena  takut  terkena  peluru nyasar. Hal ini tentu saja tidak pernah direncanakan oleh Samirun. Keadaan kembali sunyi mencekam. Masing- masing berdiam diri di tempatnya. Gelap di sekitarnya, membuat mata Samirun jadi jalang dengan pistol siap tembak di tangannya yang makin gemetar. Ia tersandar di pilar dengan napas tersengal-sengal, karena penyakit asmanya  yang  kronis  itu  tiba-tiba  kambuh. Mendadak sesosok tubuh melayang ke arahnya, Samirun dengan gugup menembak. Tubuh itu ambruk tepat di bawah kakinya dan ternyata korban pelurunya itu adalah orangnya sendiri yang sudah jadi mayat. Rupanya Samolo yang melemparkan tubuh itu kepada si kasir yang sedang panik ini.

Kini Samolo berdiri tegak di hadapan Samirun yang segera menembak dengan pistolnya. Namun yang terdengar hanya bunyi berjetrek karena telah kehabisan peluru. Samolo sudah memperhitungkan semua itu. Samirun jadi panik dan melempar pistol kosong itu ke arah Samolo tapi melenceng menghantam kepala seorang centeng yang sedang tiarap hingga langsung “tidur pulas” di tanah.

“Kepung  dia!  Bunuh  cepat!”  teriak  Samirun  kepada para tukang pukulnya dengan gugup.

Kini belasan centeng kembali mengepung Samolo. Tiga orang serentak menerjang dengan tombak dan golok. Samolo berkelit dari sambaran senjata-senjata itu sekaligus membalas hingga mereka terjungkal dan menggelepar di atas bumi. Kembali serangan meluruk ke arah Samolo yang ditangkisnya dengan sebatang tombak yang direbutnya tadi. Kali ini pertarungan menjadi seru, senjata-senjata  berkelebatan  mengurung dan menyambar-nyambar ke arah Samolo bagaikan badai. Setiap tombak Samolo meluncur dan menikam selalu dibarengi oleh pekikan menyayat seorang pengeroyok.

Samolo  sambil  bertempur  terus  mundur  masuk  ke dalam rumah.

Para  centeng  yang  agaknya  dijanjikan  upah  yang sangat besar oleh Samirun, mereka terus mengejarnya dan perkelahian berlangsung semakin dahsyat. Dengan mengandalkan kehebatan ilmu tangan kosongnya, Samolo berkelahi bagaikan seekor banteng yang tak kenal takut. Babatan maupun pukulan telapak tangannya selalu melumatkan apa saja yang terkena. Satu demi satu para tukang pukul itu rubuh bergelimpangan dengan kepala atau dada remuk. Seluruh perabotan rumah Samirun menjadi berantakan seperti diamuk topan yang amat dahsyat. Anehnya tak seorang pun dari tukang pukul itu yang gentar, malah makin merangsak dengan bernafsu. Samolo pun sadar bahwa orang-orang sewaan ini hampir semuanya terdiri muka-muka baru dan rata-rata berkepandaian ilmu silat cukup lumayan. Maka tidaklah heran sifat pantang mundur itu dipegang teguh oleh mereka.   Suatu   sikap   yang   rata-rata   dimiliki   para pendekar silat.

Begitu pun sikap Samolo, ia rela hancur dan pantang mundur setapak pun demi kehormatan nama besar perguruannya. Meskipun dikeroyok oleh belasan jago-jago silat yang rata-rata cukup tangguh, Samolo sama sekali tidak bergeming, senjata-senjata lawan yang bertubi-tubi menyambarnya tak sepotong pun yan bisa menggores tubuhnya. Paling-paling bajunya saja yang koyak tertikam atau terbabat senjata-senjata tajam itu. Semuanya sudah sama-sama nekat seperti kesetanan. Arena pertarungan itu sekejap saja sudah menjadi porak-poranda. Dinding- dinding pun jebol hingga ke atap dan para-para. Lama- lama  semuanya  merasa  letih  namun  tak  seorang  pun mau menyerah. Mayat-mayat mulai bertumpang-tindih di lantai rumah Samirun. Suatu pemandangan yang mengerikan.

Mata Samolo terus mencari Samirun, tapi kasir licik sudah tidak terlihat lagi di situ. Tahulah Samolo bahwa rumah itu telah dijadikan alat perangkap baginya, karena tenyata seluruh kamar sudah kosong dan tak terlihat Ratna berada di situ. Samolo benar-benar menjadi geram. Ia tahu pasti ke mana larinya Samirun. Maka dengan mengerahkan seluruh kemampuannya digempurlah sisa pengeroyoknya yang tinggal tiga orang lagi, yang tampaknya paling tangguh dari seluruh para pengeroyok.

Samolo tiba-tiba jadi sadar siapakah tiga orang ini. Melalui jurus-jurus silat mereka itu, Samolo tahu bahwa tiga pemuda ini pasti ada hubungannya dengan Mat Gerong, pentolan kepala Garong yang telah dibikin buntung kakinya.

“Kalian apanya Mat Gerong?!” tanya Samolo sambil bertempur.

“Kau harus membayar hutang kaki guruku yang kau bikin buntung itu, Samolo!” jawab seorang.

“Pulang tanpa membawa sepasang kakimu itu berarti mati bagi kami bertiga.” kata yang seorang lagi.

“Kenapa kalian begitu bodoh? Potong saja sepasang kaki mayat itu dan katakan kepada guru kalian bahwa dua kaki itu   adalah   milikku.   Setelah   itu   kalian menyingkir jauh-jauh dari dia untuk selama-lamanya.” kata Samolo memandang tajam ke tiga pemuda yang agaknya bersaudara karena rupa mereka tampak sangat mirip satu dengan yang lainnya.

Ketiga pemuda murid Mat Gerong saling pandang sejenak lalu sama-sama lompat mundur.

“Suatu pikiran yang baik. Demi ibuku yang sudah tua dan kini sedang terbaring sakit, kami terima usulmu itu.” kata yang lebih tua.

“Bagus! Kalian masih sangat muda. Berbakti kepada orang tua pahalanya sangat besar.” kata Samolo tersenyum.

Dan tanpa menunggu lagi untuk melihat tiga pemuda itu melaksanakan usulnya tadi, Samolo segera lompat keluar rumah yang telah porak poranda dan lenyap di kepekatan malam. Tanpa membuang waktu sedetik pun Samolo terus berlari langsung ke gedung Tuan Tanah. Ia melangkah masuk ke pekarangan yang sunyi dan gelap itu.

“Hei, Samirun, keluar kau! Sudah cukup kau bikin kotor  gedung Den Besar ini. Jangan dikotori lagi oleh darahmu yang busuk itu. Keluar, keparat!” teriak Samolo seperti guntur.

Tak  ada  jawaban  dari  gedung  induk  yang  terkunci rapat itu.

“Baik, aku akan masuk menyeret kau!”

Samolo   melangkah   masuk   untuk   menjebol   pintu utama yang terpaksa harus dilakukannya, karena ia tahu tidak  ada jalan lain untuk masuk ke ruangan utama. Pintu yang menuju ke belakang itu pun pasti sudah dikunci oleh Samirun. Samolo sendiri sejak dulu belum pernah berani masuk melalui pintu utama itu. Biasanya ia  selalu  masuk melalui  pintu  samping.  Hal  ini  ia terpaksa harus melanggar kebiasaannya itu. Namun sebelum ia lakukan, pintu itu terkuak dan terlihat Samirun muncul sambil mengancam Ratna dengan pisau pada lehernya.

“Bawa ke sini kotak warisan itu, atau dia akan mati!” ancam Samirun dengan beringas.

Wajah Ratna tampak pucat tapi ia tetap tabah dan tenang.   Samolo   melangkah   maju.   Samirun   segera menekan pisau itu pada leher Ratna. Tampak mandor Sarkawi mengintai di balik pintu.

“Den Giran akan segera pulang, kau dan komplotanmu itu akan digulung oleh hukum karena telah merampas semua hak milik majikanmu.” Samolo balas mengancam.

“Huh, dengan harta sebanyak itu di tanganku, hukum pun berada di pihakku.” kata Samirun sinis.

“Setan sudah menutup matamu, Samirun. Hukum dunia kau dapat hindari tapi tidak hukum akhirat!”

“Tutup   mulutmu!   Kotak  itu  atau  perempuan  ini binasa!” bentak Samirun makin kalap.

“Baik!  Tapi  selembar  saja  rambut  Neng  Ratna  kau ganggu, hanya Tuhan saja yang bisa menolongmu juga para begundalmu itu, Samirun!” ancam Samolo sambil beranjak pergi.

Samolo melesat seperti angin ke luar pintu gerbang, berlari  ke  arah jalan lalu lenyap di kegelapan malam. Samirun menyeret kembali Ratna ke dalam gedung lalu diikatnya di atas kursi. Sementara ia dan Sarkawi duduk di dekatnya untuk menunggu Samolo.

Tapi ternyata Samolo tidak pulang mengambil kotak wasiat itu, ia memutar ke belakang gedung dan memanjat dinding lalu melompat masuk ke halaman belakang. Ia mengintai melalui jendela, tampak olehnya Subaidah dan Mirta sedang sibuk mengurus isi sebuah peti, di pindahkan ke dalam koper-koper. Rupanya mereka sudah siap-siap angkat kaki dari gedung itu.

Agaknya cuma peti besi itulah yang sempat dibukanya karena kunci-kunci lainnya yang berada di dalam kotak wasiat keburu dicuri oleh Samolo. Namun harta yang dikurasnya itu sudah cukup membuat mereka kaya-raya selama tujuh turunan. Namun karena jiwa mereka memang terlalu tamak, masih juga menuntut seluruh harta warisan yang ada di gedung Tuan Tanah berikut segenap kekayaan yang ada. Dengan memiliki surat-surat sah atas pemilikan harta peninggalan tersebut, mereka akan merasa lega. Sesungguhnya Samirun pun cukup bertindak hati-hati serta penuh perhitungan. Agar tidak menimbulkan perkara dan sanksi hukum, maka ia tidak segera membunuh Ratna dan anaknya yang tercantum sebagai ahli waris dari harta peninggalan Tuan Tanah itu. Kecuali  jika  seluruh  surat-surat  berharga itu  sudah berada di tangannya, semuanya bisa diatur dengan mudah, demikian pertimbangan si kasir yang cerdik ini. Bahkan dengan menyandera Ratna, ia masih berharap untuk memperoleh seluruh isi kotak wasiat yang ia yakin masih disimpan oleh Samolo di suatu tempat.

Ia tahu benar centeng itu pasti akan berusaha sedapat mungkin untuk menyelamatkan harta benda majikannya. Sikap kesetiaan yang luar biasa dari si centeng terhadap majikannya  sangat  menggagumkan hatinya  juga sekaligus membencinya.

Tapi kali ini perkiraan Samirun terhadap Samolo meleset, karena ternyata centeng ini tidak pulang mengambiI kotak wasiat yang akan ditukar dengan nyawa Ratna. Ia lupa Samolo bukanlah orang yang mudah menyerah apalagi kalau diancam. Maka Samirun tidak sadar kalau pihaknya sendiri yang terancam sekarang ini. Karena macan dari Gunung Krakatau ini sudah siap menerkam Subaidah dan Mirta yang sedang berada di dalam kamar penyimpanan peti-peti harta itu.

Dengan   beberapa   kali   gempuran   tangan   Samolo, jebollah jeruji-jeruji besi jendela kamar itu. Ia lompat masuk disambut jeritan Subaidah dan Mirta yang terkejut setengah mati. Kedua ibu dan anak ini segera lari ke sudut kamar dengan tubuh menggigil tak menghiraukan lagi isi koper-koper mereka yang berceceran di lantai.

Samirun dan Sarkawi yang berada di ruangan depan terkejut mendengar jeritan Subaidah dan Mirta.

“Tunggu   di   sini,   Wi!”   perintah   Samirun   kepada Sarkawi, maksudnya untuk menjaga Ratna yang terikat di kursi. Ia sendiri masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi dengan Subaidah dan Mirta.

Dilihatnya Subaidah dan Mirta sedang berdiri ketakutan  di  sudut ruangan, sinar matanya menunjukkan kepadanya akan adanya bahaya di ruangan itu. Samirun mundur sambil meraih sebatang tancapan lilin bercabang tiga yang sangat runcing dari atas meja.

Sekonyong-konyong sebuah lengan dengan kuat mencengkeram leher bajunya dari belakang. Samirun berbalik langsung menikamkan tancapan lilin itu, namun senjata darurat itu tiba-tiba pindah tangan dan tiba-tiba pula terhunjam ke dadanya sendiri.

Dengan jeritan yang sangat menyayat tubuh Samirun tergetar terhuyung-huyung, darah segar pun tersembur dari dadanya itu ketika tancapan lilin tersebut dicabut. Ia mendekap dadanya, menatap Samolo yang masih menggenggam tancapan lilin itu dengan sorot mata jalang seekor serigala. Tubuhnya semakin limbung lalu ambruk ke lantai menggapai dan meraup emas permata yang berserakan itu dengan lengan gemetar berlumur darah. Namun hanya sekejap karena sejenak kemudian ia menggeliat lalu tersungkur lagi dengan mata tetap terbelalak mengerikan. Subaidah terpekik histeris merangkul Mirta yang menggigil seperti demam.

Samirun tewas penuh penasaran. Konon menurut ceritera penduduk setempat, hantunya acap kali terlihat bergentayangan di gedung itu sampai bertahun-tahun kemudian.

Samolo melangkah mendekat ke arah Subaidah dan Mirta yang masih menggigil dengan wajah seperti tidak dialiri darah lagi.

“Ular betina berkepala dua! Penyebab dari segala bencana terkutuk. Inilah hari terakhir bagimu.” ancam Samolo   dengan   suara   dalam.   Lengannya   menuding dengan  ujung  tancapan  lilin  yang  masih  meneteskan darah Samirun.

“A… a… ampun Bang Sssamolo…! Ampuni saya dan Mirta…! Saya mengaku salah…!” Ratap Subaidah gemetar sambil semakin ketat memeluk putranya. Mirta menggumam tapi tak jelas apa yang diucapkannya. Mata pemuda itu merah dan nampak liar.

Tapi ujung tancapan lilin yang sangat runcing dan masih berteteskan darah itu terus terarah kepada nyonya Tuan Tanah tak bermoral yang meratap mengiba-iba dengan air mata bercucuran. Lenyaplah segala keangkuhan serta kecongkakannya sebagai sang Nyonya Besar yang terlalu berambisi ingin meraih bintang. Tapi kini semua impiannya telah pudar menjadi debu.

“Ampun, Bang… Kasihanilah saya dan Mirta…! Ambillah semua harta itu tapi jangan bunuh kami…! Ampuun…   Bang…!”   Subaidah   terus   menatap   ngeri melihat ujung tancapan lilin berdarah itu.

“Minta ampunlah kepada arwah Den Besar bila kalian jumpa di akhirat nanti. Kalian sudah terlalu menghina serta menyiksanya, padahal kalian telah dilimpahkan harta  benda  serta  kasih  sayangnya.  Mau  apa  lagi?!” bentak Samolo dengan suara dalam menahan haru dan kepedihan hatinya.

Subaidah menangis terisak-isak, entah menyesal atau entah karena takut mati. Sekonyong-konyong Mirta menjerit kalap dan langsung menerjang Samolo seperti celeng liar.

Samolo menyambar rambut pemuda itu, namun ketika ia hendak menikamnya dengan tancapan lilin tersebut, terlintaslah  bayangan  Den  Besarnya  sedang  membelai dan memangku Mirta kecil.

Suatu kenangan yang begitu melekat di benaknya. Sesungguhnya Den Besarnya sangat mengasihi anak itu meskipun mungkin majikannya itu akhirnya tahu bahwa anak itu sebetulnya bukan darah dagingnya sendiri, karena sampai pada menjelang ajalnya, sikap Den Besar terhadap Mirta tak pernah berubah. Betapa pedih hati Samolo bila mengingat nasib Den Besarnya yang begitu tragis. Namun itu bukan kesalahan Mirta, ia cuma hasil dari penyelewengan dan ketidakkesetiaan orang-orang tak berbudi,  kedua  ayah-ibunya,  ialah  Samirun  dan Subaidah, biang keladi dari kehancuran keluarga serta kharisma Tuan Tanah yang sangat bijaksana itu. Samolo jadi tercenung sementara Mirta masih meronta di cengkeramannya.

Melihat anak kesayangannya itu terancam nyawanya, Subaidah jadi nekat, ia segera menyerang Samolo dengan kekalapannya sambil menjerit histeris. Samolo melepas cengkeramannya pada Mirta dan menyambut terjangan Subaidah yang kalap itu dengan hempasan lengannya, membuat  tubuh  Nyonya  Besar  ini  terlontar  ke  arah sebuah cermin dinding berbingkai antik. Wajah Subaidah tepat menghantam cermin hingga cermin tersebut hancur berkeping-keping. Dengan pekikan yang amat menyayat Subaidah tersentak membalikkan tubuhnya, tampak wajah serta matanya berlumur darah tercacah serpihan kaca. Lengannya menggigil berusaha mencabuti pecahan kaca yang menancap di wajah dan matanya. Ia merintih kesakitan.

“Mirta…! Mirtaaa… Tolong ibu, Nak…!” rintihnya.

Tapi Mirta mundur ngeri memandang keadaan ibunya. Lengannya mendekap matanya dengan napas tersengal- sengal, ia melangkah mundur lalu berbalik lari keluar ruangan. Samolo yang ikut tertegun tiba-tiba jadi geram lalu melempar tancapan lilin itu yang telak menghantam kepala pemuda itu hingga jatuh tersungkur. Namun setelah menggelepar sejenak ia cepat bangkit dan terhuyung-huyung lari ke luar sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Subaidah jatuh tersandar ke dinding, merintih terus dengan tubuh gemetar. Seluruh wajah dan baju kebaya rendanya yang berwarna putih itu penuh tersimbah darah.

Samolo tak mau melihat lebih lama lagi penderitaan nyonya majikannya yang telah menerima hukuman akibat perbuatannya.

Samolo berbalik hendak beranjak dari situ. Tepat pada saat ia berbalik itulah sebuah tikaman ujung tancapan lilin menghantam dan menancap tepat di kedua matanya. Samolo  terpekik  sambil  menepis  tancapan  lilin  yang sudah terlanjur melukai kedua matanya, seraya menghantam si pembokong pengecut itu. Sebuah teriakan mengiriskan terdengar disusul oleh robohnya tubuh gemuk itu ke lantai.

“Sarkawi!” dengus Samolo sambil tangannya mendekap matanya yang mengucurkan darah. Rasa sakit terasa menyayat-nyayat seluruh sendi syaraf dan tulang sumsumnya. Dengan terhuyung-huyung ia melangkah keluar, meninggalkan ceceran darah yang menetes terus dari kedua matanya.

Tampak tubuh Sarkawi menggeliat-geliat. Kepalanya pecah terkena gempuran tangan Samolo yang sekeras godam baja itu. Tapi mandor ini masih berusaha merangkak ke arah Subaidah yang merintih-rintih terkapar di dinding.

“Mana upah saya, Nya Besar…? Upah… sssa… ya…!” katanya sambil menggapai menengadahkan tangannya. Lalu kepalanya tersungkur ke lantai, diam tak berkutik lagi.

Dengan langkah tersuruk-suruk Samolo berjalan ke ruangan utama. Ratna yang duduk terikat di kursi jadi terkejut melihat  kemunculan  Samolo  dengan  keadaan yang sangat mengerikan itu.

“Bang Samolo…?!” jerit Ratna.

“Kenapa  mata  Abang?”  tanyanya  dengan  iba bercampur ngeri.

“Biarlah, semuanya sudah lunas ditebus oleh kedua mataku ini.” kata Samolo menahan sakit yang sangat hebat pada kedua matanya yang sudah buta itu.

Lengannya yang nampak gemetar itu meraba tambang yang mengikat tubuh Ratna dan membukanya.

Samolo tiba-tiba jatuh berlutut. Ratna segera menubruk tubuh centeng perkasa itu dan memapahnya. “Bang Samolo…”   keluh   Ratna   dengan   air   mata berlinang-linang.

“Mari kita pergi ke rumah Nyi Londe, Girin mungkin sedang menangis menunggumu untuk menyusu…” ujar Samolo dengan suara tetap mantap.

Dengan penuh haru dan iba serta air mata bercucuran Ratna memapah Samolo, sang centeng yang sangat setia itu, berjalan meninggalkan gedung yang telah menjadi saksi atas peristiwa tragis. Hujan turun rintik-rintik dibawa hembusan angin ketika keduanya berjalan menembus kegelapan malam menuju hutan jati.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed