8

HARI dan bulan silih berganti, beterbangan bagaikan awan-gemawan yang melayang-layang dihembus angin, seperti yang selalu dipandang Ratna dari jendela emper penggilingan kacang kedelai setiap hari. Bagaikan jendela penjara yang mengurung dirinya.

Air  mata  Ratna  hampir  mengering,  terkuras  oleh deraan siksa dan dendam rindu yang mencekam di dadanya. Namun Giran tak kunjung pulang, meski hanya secarik kertas beritanya dari Negeri seberang.

“Kak Giran… Bilakah kau kembali, Kak? Mengapa kau tinggalkan Ratna begitu lama?” ratapnya di dalam hati.

Dinding-dinding  gedung  besar  itu  laksana  penjara yang mengungkungnya. Kerinduannya terhadap ayahnya pun terus menyiksanya. Didengarnya dari Samolo, bahwa orang tua itu sedang menderita sakit. Seorang diri tinggal di gubuknya, tiada yang merawat dan memasaki makanannya. Betapa pedih dan sedih hati Ratna memikirkan keadaan ayahnya yang sudah tua itu. Sulit baginya untuk pergi menengoknya, karena mata mandor Sarkawi terutama tatapan mata Mirta yang sejalang mata serigala   itu   sungguh   menakutkan   hatinya.   Pemuda sinting itu selalu mencari kesempatan untuk menerkam dirinya. Ratna selalu bergidik ketakutan bila mengingat hal itu. Ia selalu was-was bila berada seorang diri di tempat kerjanya maupun di emper tempat tidurnya.

Sebelum   sakit,   ayahnya   memang   pernah   sekali mengunjunginya. Itu pun dilakukan karena terlalu rindu kepada putri tunggalnya ini.

Petani tua itu hampir seharian duduk menunggu di muka pintu gerbang, karena tak berani masuk ke dalam gedung sang besan yang terlalu megah itu. Untunglah Samolo kebetulan keluar dan membawanya masuk untuk dipertemukan dengan Ratna. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Ratna terpaksa harus bersandiwara di depan ayahnya. Seakan-akan hidupnya benar-benar penuh gelimang tawa ceria serta kebahagiaan sebagai seorang menantu Tuan Tanah yang kaya raya. Tapi sesungguhnya hatinya ketika itu sedang menangis dan meratap. Ia tidak tahu apakah ayahnya bisa dikelabui oleh   sandiwaranya   itu.   Ia   ragu,   karena   ia   tahu bahwasanya  mata  seorang  ayah  maupun  pandangan mata seorang ibu, sanggup menembus sampai ke dasar kalbu anak-anaknya. Yang pasti sejak kunjungan itu, ayahnya tak pernah lagi datang menengoknya. Bukan disebabkan oleh sambutan dingin oleh nyonya besannya yang angkuh dan sombong itu. Kini didengarnya kabar tentang sakitnya sang ayah. Hal ini benar-benar menambah beban penderitaannya. Ia cuma bisa berdoa dan meminta Nyi Londe atau Samolo kalau kebetulan sedang sempat, untuk pergi menengok orang tuanya sekalian membawakan makanan secara sembunyi- sembunyi buat ayahnya itu.

Sementara itu, kandungannya pun tampak sudah semakin besar. Sampai pada suatu sore, dandang nasi yang masih mendidih itu nyaris menimpa dirinya ketika sedang diangkat oleh Ratna. Nyi Londe menjerit sambil menubruk tubuh Ratna yang terkulai pingsan.

Caci-maki Subaidah sudah tak dihiraukan lagi oleh Nyi Londe yang sedang sibuk menggotong tubuh Ratna ke dalam empernya. Sepanjang malam itu terdengar Ratna merintih. Tampak Nyi Londe sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melahirkan.

Malam itu terasa begitu hening namun menegangkan bagi Nyi Londe, yang terus mendampingi Ratna yang terbaring dengan pucat bermandikan peluh. Kadang- kadang merintih sambil menggeliat merasakan sakit pada perutnya.

“Kuatkan hatimu, Neng. Pasrahkan segalanya kepada Tuhan. Semuanya pasti akan beres…” hibur Nyi Londe sambil terus mengurut perut Ratna serta menghapus peluhnya.

Samolo duduk di luar emper itu sambil melinting rokok kawung.   Wajah   centeng   ini   belum   pernah   tampak setegang seperti malam itu, meski ia berusaha untuk bersikap tenang. Nampak gulungan rokok di jari-jarinya itu gemetar dan sering gagal.

Selang  sesaat  sebelum  fajar,  berbarengan  dengan kokok ayam, keheningan yang mencekam itu dikoyak oleh jerit lengking tangisan seorang anak manusia yang baru lahir. Samolo menengadah sambil mendesahkan pujian kebesaran Allah Sang Maha Pencipta. Matanya berkaca- kaca.

Setelah  detik-detik  penuh  ketegangan  itu  berlalu, wajah pucat-sayu si ibu-muda yang banyak menderita ini, akhirnya dihias juga oleh segores senyum kebanggaan, ketika  Nyi  Londe  menyodorkan  sang  bayi  yang terbungkus kain itu kepadanya.

“Lihatlah, jagoan cilik kita ini, suaranya saja sudah bisa menyaingi bahkan lebih nyaring dari semua ayam- ayam jantan yang paling perkasa di seluruh daerah Kedawung ini. Hmm, kau lihat, Neng. Wajahnya mirip benar dengan bapaknya” kata Nyi Londe, bangga dan bahagia   seakan-akan   menimang   cucu   kandungnya sendiri. Ratna tersenyum. Semua derita seakan menjadi tak berarti pada saat-saat seperti itu.

“Kalau saja kak Giran berada di sisiku saat ini…” cuma itulah yang menjadi pemikiran di hatinya, suatu perasaan yang berbaur antara kesedihan dan kebanggaan.

***

SEMINGGU kemudian, komplotan manusia tamak mulai lagi merencanakan suatu tindakan keji.

“Sekarang   ini   Samolo   sedang   disuruh   mengirim gerobak padi ke Mauk. Kalau kali ini lu gagal lagi, pokoknya kepala lu sebagai gantinya!” tegas Samirun berkata kepada Mandor Sarkawi.

“Jangan khawatir, Sir. Kali ini pasti beres dah. Masak iya sih, rejeki saya nyeplos  melulu? Yang benar saja.” jawab si Mandor yang banyak lagak ini.

Mirta serta ibunya yang juga berada di situ jadi sengit.

“Jangan banyak cing-cong lu, gendut! Pokoknya, gagal- modar!” Ancam Mirta sambil menimang-nimang pistol Samirun. Wajah Sarkawi jadi pias, melirik pistol itu lalu melangkah ke luar.

Dengan mengendap-endap bagaikan pancalongok, Sarkawi mengintai ke dalam kamar emper Ratna. Dilihatnya ibu muda itu sedang menyusui bayinya.

Busyet! Sudah punya anak malah tambah botoh. Pantes si Mirta, bocah cecurut itu begitu tergila-gila…” gumam Sarkawi di dalam hati sambil menelan air liur.

Didorongnya pintu emper tersebut langsung masuk. Ratna kaget dan buru-buru merapikan bajunya.

“Bang Sarkawi…?! Ada apa?” tanya Ratna gugup. “Astaga!  Botoh  banget  bocahnya,  Neng.  Siapa  sih bapaknya?” kata Sarkawi dengan senyum serta tatapan mata kurang ajar.

“Apa maksudmu? Sudah tentu Den Giran-lah ayahnya. Kenapa?!” Ratna tersinggung.

Sekonyong-konyong Sarkawi merebut bayi itu dari gendongan Ratna.

“Sarkawi!  Anakku!”  jerit  Ratna  berusaha  merebut kembali anaknya itu.

“Kalau ini memang anak Den Giran, neneknya mau melihat,   masak   kagak   boleh.”   kata   Sarkawi   sambil mendekap bayi itu, melompat keluar.

“Anakku!    Anakku!    Jangan kau bawa anakku, Sarkawi!” Ratna mengejar ke luar.

“Sarkawi, tinggalkan anakku.” jerit Ratna histeris sambil  terus  mengejar  Sarkawi  yang  kabur  mendekap bayi itu ke luar gedung. Ratna semakin nekat dan terus mengejar  sambil  menjerit-jerit.  Sementara  itu  bayinya pun terdengar menangis di dalam dekapan Sarkawi yang berlari semakin kencang menuju jalan desa yang sudah sunyi dan gelap itu. Ratna terus mengejarnya. Sarkawi menuju   rumah   Samirun   langsung   masuk.   Ratna memburu tapi terlambat, pintu itu sudah tertutup rapat- rapat. Ia memekik dan melolong sambil menggedor daun pintu dengan kalapnya.

“Buka! Kembalikan anakku! Anakku…!” jerit Ratna sambil menangis histeris, karena ia tahu akan kebusukan komplotan mertuanya itu.

“Bagus kerja lu, Wi. Biar dia ngegoser di luar jangan lu buka pintu itu!” kata Samirun dengan senyum iblisnya.

Sarkawi meletakkan bayi yang menangis kencang itu di atas meja, di hadapan Subaidah dan Mirta yang tak punya perasaan iba sedikitpun terhadap anak itu. Sementara suara gedoran pintu serta tangisan Ratna di luar, menambah gaduhnya suasana di rumah tersebut. Namun hati orang-orang berjiwa iblis ini sedikitpun tak tersentuh, wajah mereka tetap dingin.

Sarkawi   menghapus   peluh   dengan   kain   pengikat kepalanya.

“Saya jadi ingat waktu disuruh Den Kasir nyolong anak babinya babah Tiong-Cit tempo hari. Perut saya hampir ambrol  diserobot  biangnya.  Nah,  yang  ini  juga  persis, kalau enggak lihai saya pasti sudah ko’it diterjang sama dia. Busyet, galaknya enggak ketulungan, kayak kesetanan, Den.” Desahnya sambil mengipas-ngipas. “Mana upahnya, Den?” sambungnya.

“Apa? Upah?!” tanya Samirun, mengambil pistol dari tangan Mirta.

“Nih  upah!  Ayo  lu  celangap  lagi,  gua  upahin  biji melinjo, baru nyahu, lu!” kata Samirun ketus dengan menekan ujung pistolnya ke batang hidung Sarkawi. “Sialan! Kerjaan belum beres sudah minta upah. Mau mampus, lu?”

Mata Sarkawi jadi juling menatap laras pistol yang sangat ditakutinya itu. Ia meringis.

“Ah, Den Kasir…   segitu aja pakai marah. Saya kan cuman bercanda…   simpan ah si bongkoknya” katanya sambil melangkah mundur dan berusaha tertawa. Tangisan  bayi  dan  suara  gedoran  pintu  serta  jeritan Ratna yang meminta anaknya itu, membuat Sarkawi semakin uring-uringan. Ditendangnya pintu itu berkali- kali sambil memaki.

“Hei, berisik! Jangan gegoakan melulu, lu! Diam! Eh, Bandel!”

Dasar wataknya pandai menjilat, ia berlagak mau jadi jagoan tak kepalang tanggung.

“Perempuan itu bandel banget dah. Bagaimana, Den. Saya beresin saja nih?” tanyanya kepada Samirun.

Tapi Kasir ini mendorong tubuhnya.

“Minggir lu! Nanti rusak pintu gua digedor-gedor.” katanya ketus. Kemudian ia berkata kepada Ratna yang masih meratap di luar. “Hei, Ratna. Kalau kau ingin anakmu ini kembali dan selamat, itu gampang, asal kau bersedia meluluskan sebuah syarat.”

“Syarat apa?” tanya Ratna dalam isak tangisnya.

“Serahkan kotak itu kepadaku! Anakmu ini pasti kuserahkan kepadamu hidup-hidup! Bila tidak, huh!” Samirun menjelaskan syaratnya.

Tidak pernah ada seorang ibu pun yang benar-benar mencintai anaknya, rela mengorbankan buah hatinya hanya  demi  harta  dunia.  Begitu  pun  Ratna.  Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh Samirun tersebut.

“Baik, berjanjilah, kau harus menyerahkan anakku!” isak Ratna minta kepastian dari luar pintu.

“Cepat!  Aku  beri  waktu  sepuluh  menit.  Terlambat, jangan kau sesalkan aku terlalu kejam!” jawab Samirun dengan suara dingin.

Ratna   lari   pontang-panting   menembus   kegelapan malam menuju gedung besar. Setibanya di dalam kamar empernya, ia segera membongkar tempat penyimpanan kotak pusaka tersebut, dengan lengan-lengan gemetar serta perasaan panik luar biasa. Ia seakan-akan tengah berlomba dengan Malaikat El-Maut yang segera akan merenggut  nyawa  bayinya.  Nyi  Londe  hanya  tertegun tanpa   daya.   Kedua   wanita   itu   bagaikan   makhluk- makhluk lemah yang tak berdaya menghadapi segala kekejaman dunia ini. Ratna hampir tak membuang waktu sedetikpun, segera meraih peti berharga itu dan dibawa lari ke rumah kasir Samirun.

Setibanya di depan rumah Samirun, dengan napas masih memburu, Ratna langsung berteriak.

“Ini peti warisannya, cepat buka pintu, aku mau mengambil anakku!”

“Bagus!   Coba   kau   bawa   masuk   petinya!”   jawab Samirun, membuka daun pintu itu sedikit.

Ratna menyodorkan peti itu melalui celah pintu yang segera disambar oleh Samirun. Ratna mendorong pintu, tapi pintu itu telah ditutup lagi oleh sang kasir yang licik. Ratna menjerit sambil berusaha mendorong pintu itu dengan sekuat tenaganya, dan memaksakan tubuhnya masuk ke dalam. Dorong-mendorong terjadi. Samirun dengan dibantu oleh Sarkawi mendorong pintu itu kuat- kuat, membuat tubuh Ratna terjepit dan tak bisa bernapas. Ibu muda itu tak kuat lagi menorong pintu, sebab selain kesehatan fisiknya belum pulih benar akibat melahirkan, juga akibat kerja tanpa istirahat sepanjang hari. Akhirnya ia jatuh terkulai di depan pintu. Samirun mengunci pintu itu rapat-rapat. Mereka memeriksa peti pusaka yag sangat didambakannya itu dengan seksama.

“Periksa,   siapa   tahu   peti   ini   palsu…”   perintah Subaidah.

“Palsu? Perempuan setolol dia mana mungkin berpikir sejauh itu!” sela Samirun, berusaha membuka peti warisan. Diperiksanya semua surat-surat berharga yang berada  di dalam  kotak  berukir  indah  itu.  Serenceng kunci-kunci brankas penyimpanan uang emas ringgitan berkantong-kantong banyaknya yang pernah dilihat Subaidah ada disimpan suaminya.

Yang paling membuatnya bernafsu, adalah berkotak- kotak emas permata yang pernah dilihatnya tersimpan di salah sebuah peti besi di ruangan khusus gedung itu. Kini kunci-kunci dari seluruh harta warisan tersebut berhasil dikuasainya.

Wajah Subaidah masih tetap dingin, ia mendekat ke arah si bayi yang masih tetap menangis.

“Bapak  bayi  ini  telah  luput  dari  tangan  kita.  Pada suatu hari dia pasti akan kembali.” katanya dingin.

“Kalau  seluruh  harta  sudah  di  tangan  kita,  apalagi yang kita takuti di dunia ini? Semuanya bisa diatur.” kata Samirun dengan sombongnya.

“Lihatlah, tua bangka itu tidak memasukkan namamu atau Mirta barang secuil pun ke dalam testamen ini.” suara  Samirun  gemas,  setelah  meneliti  surat  warisan yang disegel dengan lak, yang tersimpan rapi di amplop khusus.

“Aku   sudah   menduganya.   Jika   aku   sudah   pasti mendapat  warisan,  buat  apa  aku  ribut-ribut.”  jawab Subaidah tenang.

“Kelak bayi ini pun pasti akan jadi duri yang tumbuh di daging kita. Maka dia juga harus disingkirkan!” Dingin dan tajam kata-katanya itu.

Ratna yang lapat-lapat mendengar kata-kata Subaidah itu langsung jatuh pingsan.

“Kalau begitu, tua bangka itu sudah tahu tentang hubungan kita?” bisik Samirun di sisi Subaidah.

“Mungkin saja. Tapi cuma disimpan di dalam hatinya.” kata Subaidah sambil senyum sinis bercampur rasa jengah.

“Dan dia pun tahu, Mirta sesungguhnya bukan anaknya?!”

“Testamen itu sudah menjawabnya.” kata Subaidah tertunduk.

Samirun tercenung sejenak. Ada perasaan tidak enak menyelinap di dasar hatinya. Bagaimanapun ia merasa “malu-hati” terhadap, majikannya almarhum.

Subaidah melirik memperhatikan sikap Samirun. “Alaaah…   buat apa dipikirkan, orangnya pun sudah jadi tanah di liang kubur.” nyeletuk Subaidah, juga seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri.

Tubuh  Ratna  terbaring  tak  sadarkan  diri  di  muka pintu. Nampak kepala Mirta nongol dari pintu dan matanya tiba-tiba jadi nanar memandang tubuh yang tergeletak seenaknya itu. Ia melangkah mendekat dan berlutut di sisi tubuh Ratna. Tampak mata pemuda ini makir liar menjalari setiap lekuk tubuh yang sangat diimpikannya setiap detik. Napasnya makin memburu menyesakkan dada. Lengannya gemetar mulai mengerayangi tubuh molek itu.

“Ratna, kau akan kujadikan milikku untuk selama- lamanya.” desis Mirta.

Pada detik itu tiba-tiba Ratna tersadar    dari pingsannya. Matanya terbelalak kaget memandang wajah Mirta  yang begitu  dekat  di  hadapannya  itu.  Ratna meronta seketika dan mendorong tubuh pemuda sinting ini, ia beringsut menjauh dengan bulu kuduk merinding.

“Apa yang kau lakukan, Mirta?” pekik Ratna.

Mirta mendekat lagi, matanya begitu liar membuat Ratna tersentak mundur lalu lari ke pekarangan. Mirta mengejar.

“Kau… kau sudah gila, Mirta. Jangan sentuh aku! Ingatlah   aku   adalah   istri   kakakmu.”   jerit   Ratna ketakutan.

“Giran si keparat itu sudah jadi bangke, Ratna. Itulah upahnya tukang serobot. Heh heh heh…!” Lalu pemuda. ini lompat menerkam. Ratna menghindar dan “si tukang serobot” ini terpaksa “mencium” pohon hingga hidungnya mengucurkan darah. Ratna makin ketakutan, ia lari ke luar sambil menagis tersenggak-senggak.

Mirta  mendengus  sambil  menekap  hidungnya  yang berdarah itu. Mandor Sarkawi yang sejak tadi menonton adegan tersebut tak kuasa menahan tawanya. Mata Mirta jadi melotot, serta-merta meninju pelipis si mandor yang sedang tertawa terbahak-bahak itu hingga terjengkang ke batang pohon.

“Sialan! Ngeledek lu, ya?! Gua mampusin lu.” bentak Mirta dengan suara sengau.

Sarkawi mengusap pipinya sambil tersandar di pohon. Mulutnya komat-kamit entah apa yang diucapkannya.

Dunia ini terasa makin gelap bagi Ratna. Ia sudah tak kuat lagi untuk hidup terus. Ia lari tersuruk-suruk dalam kepekatan malam dan telah nekat untuk mengakhiri nyawanya dengan sebuah gunting yang dilihatnya tergeletak di atas meja di kamar empernya itu. UntungIah Nyi Londe cepat mencegahnya.

“Ya   Allah!   Apa-apaan   Neng?!   Aduh,   kuatkanlah hatimu, Neng! Ingat…!” Seru Nyi Londe sambil merebut gunting yang hampir ditusukkan Ratna ke lehernya itu. Kedua perempuan ini saling bertangisan. Ratna menangis dengan pedihnya di pelukan pengasuh itu yang terus membesarkan hatinya.

“Tawakal-lah kepada Yang Maha Kuasa, Neng! Tuhan tidak buta, Neng. Tidak buta!” bujuknya sambil ikut terisak-isak.

“Kalau saja sekarang Samolo berada di sini, pasti tidak akan terjadi sampai begini!” katanya lagi sambil menghela napas.

Sejak kotak wasiat jatuh ke tangan Subaidah dan Samirun, Mirta anak mereka yang terlalu dimanja, kini hidupnya setiap hari cuma berfoya-foya bergelimang di dalam kemaksiatan. Pelesir dengan para pelacur dan berjudi. Mandor Sarkawi yang punya kegemaran sama makin setia mendampingi sang “pangeran” sinting itu.

Lebih-lebih kasir Samirun yang jadi kaya mendadak dan mengikrarkan dirinya sebagai Tuan Tanah baru di wilayah Kedawung. Galaknya melebihi macan kebelet. Penduduk menjadi resah dan makin sengsara diperasnya. Untuk menjaga posisinya Samirun senantiasa berlaku royal bahkan pandai menjilat para amtenar Belanda yang berkuasa di wilayah Jawa Barat. Pada hari pertama saja sebagai Tuan Tanah baru, ia sudah mengantar upeti yang cukup lumayan kepada Tuan Residen sampai pada para Pamong Desa. Maka sebentar saja ia sudah memperoleh pengaruh di desa kecil itu. Kadang-kadang Samirun dan Subaidah terlibat pertengkaran yang cukup sengit, karena nyonya Tuan Tanah ini mendengar selentingan dari Sarkawi bahwa sang “suami” mempunyai beberapa “simpanan” di kampung. Sarkawi yang mendapat tugas khusus dari sang Nyonya, untuk memata-matai sepak terjang “Don Yoan” kampungan ini di luaran, sering memberi laporan kepada nyonya majikannya hanya semata-mata demi mendapatkan upah. Lebih-lebih jika ia dalam  keadaan  pailit  akibat  kalah  taruhan  mengadu ayam atau judi sintir. Persoalan lainnya ia sangat sakit hati atas kepelitan Samirun yang tidak pernah mau lagi memberi persen kepadanya, tapi eks kasir itu selalu bermurah hati kepada para tukang pukul dan beberapa orang tertentu. Bahkan kini Samirun telah menggaji beberapa belas tukang pukul dan centeng yang rata-rata berkelakuan brutal. Dengan tumpleknya para begundal baru itu membuat mandor Sarkawi benar-benar merasa tersisih dan iri hati. Itulah sebabnya ia selalu mengarang ceritera, tentang kebrengsekan Samirun di luaran. Samirun memang paling senang ngibing doger. Persenanannya pun tak kepalang tanggung. Ada seorang primadona  doger  yang  dibelikan  seperangkat  pakaian yang mahal-mahal serta perhiasan yang berkilauan.

Hal itu  sampai  di  telinga  Subaidah.  Perang  pun  terjadi  di rumah Samirun.

***

Gedung besar itu tetap sunyi, kadang-kadang saja Subaidah pulang untuk ber”week end” di tempat tsb. Samirun telah mendandani rumahnya sendiri hingga tak kalah  mewah  dan  lengkapnya  dengan  Gedung  Tuan Tanah, ayah Giran itu. Bukan Samirun tidak ingin menguasai  juga  gedung  megah  itu,  tapi  ia  merasa khawatir bila kelak Samolo atau Giran muncul secara tiba-tiba.

Pada suatu malam Samolo tiba-tiba muncul di kamar emper Nyi Londe dan Ratna. Sinar mata centeng ini menjadi sayu ketika memandang tubuh Ratna yang kurus dan pucat tengah terbaring di balai-balai itu. Nyi Londe pun tampak kuyu menyedihkan.

“Kenapa  kau  Neng?  Sakit?  Oh  ya,  ke  manakah  si bayi?”  tanya  Samolo  dengan hati serta perasaan tidak enak.

Ratna  tidak  sanggup  menjawab,  hanya  air  matanya saja yang tercurah ke atas bantal. Nyi Londe memandang Samolo seakan-akan menyesali kepergiannya yang begitu lama.

“Samolo, kenapa kau baru kembali?” tanya Nyi Londe.

“Ke mana saja kau selama ini?”

Samolo melepaskan buntalannya yang tergemblok di punggungnya. Ia duduk dan menuang air dari kendi, lalu diminumnya.

“Ketika aku membawa segerobak padi ke Mauk, di tengah   jalan   tiba-tiba   aku   disergap   Opas   Kompani dituduh mencuri padi. Tanpa mau mendengar penjelasanku mereka langsung saja menjebloskan aku ke dalam bui.” Cerita Samolo dengan suara berat.

“Dua minggu lamanya aku disekap di balik terali besi. Dari  ceritera  bisik-bisik para opas itu aku baru tahu, bahwa sesungguhnya penangkapan atas diriku itu memang telah diatur oleh Samirun. Kemudian aku pun tahu ternyata pintu sel penjara itu sengaja tidak dikunci untuk memancingku kabur dan mereka punya alasan untuk menembakku.”

“Lalu bagaimana kau bisa keluar?” tanya Nyi Londe ingin tahu.

“Berdiam di dalam sel atau kabur sama saja, mereka memang sengaja ingin membunuhku dengan cara apa saja. Dipancing untuk kabur, ya aku kabur.”

“Opas-opas itu tidak menembakmu?” Suara Nyi Londe terdengar berdebar.

“Tidak  sempat.  Karena  aku  lebih  dahulu  melabrak mereka.” kata Samolo tenang.

“Tapi para hamba wet itu pasti mencarimu…” ujar Nyi Londe khawatir.

“Dari dulu pun aku memang orang buronan. Berkat perlindungan dan wibawa Den Besar, mereka tidak dapat berbuat, apa-apa.”

“Tapi  kini  keadaan,  sudah  lain,  Samolo.”  tukas  Nyi Londe penuh emosi.

“Sejak aku melangkah masuk ke mulut desa ini aku sudah dapat menduganya. Telah terjadi sesuatu di sini. Tiga  sosok  mayat  secara  berturut-turut  kulihat tergantung di pohon. Hal ini belum pernah terjadi, aku tahu  benar  penduduk  desa  ini  bukanlah  orang-orang yang mudah putus asa.” kata Samolo geram.

Bergidik bulu kuduk Nyi Londe dan Ratna mendengar ceritera Samolo itu. Lalu Nyi Londe pun menceritakan peristiwa diculiknya bayi Ratna oleh komplotan Samirun untuk memperoleh kotak warisan.

“Si bayi harus cepat ditolong. Semoga dia masih selamat.” kata Samolo tegas.

“Tolonglah  anak  saya,  Bang…!  Tolonglah…!”  ratap Ratna memohon dengan setengah menangis.

“Pasti, Neng.” tegas Samolo seraya bangkit. “Berdo’alah kepada Yang Maha Kuasa, semoga orang- orang sesat itu diberi kesadaran!” Katanya tenang namun mengandung rasa geram dan sesal yang dalam.

“Mereka  lebih  berbahaya  dari  segala  ular  berbisa. Maka lebih aman kalau kalian mengungsi dahulu ke rumah ayahmu!” Nyi Londe dan Ratna setuju dengan usul tersebut.

Malam  itu  juga  Samolo  mengantar  Ratna  dan  Nyi Londe ke rumah Ki Kewot. Lengan tua kakek tersebut jadi gemetar   memapah   tubuh   putrinya   yang   menangis tersedu-sedu di haribaannya.

“Kuatkan   hatimu,   Nak.   Tuhan   selalu   melindungi hamba-Nya yang tidak bersalah.” hibur Ki Kewot dengan mata berkaca-kaca.

Hati orang tua ini rasa teriris-iris. Meskipun hidup dalam serba sederhana, di gubuk yang reyot itu, Ratna tidak  pernah menderita  seperti  sekarang  ini.  Ia  selalu melimpahkan  kasih  sayang  yang  tak  terbatas  kepada putri tunggalnya. Ia tak pernah membiarkan putrinya menangis barang sejenak, apalagi bekerja keras, kedinginan atau kelaparan atau derita lainnya. Seekor nyamuk saja yang hinggap dan mengganggu tidur Ratna sudah cukup membuat Ki Kewot jadi geram dan kalap. Kini betapa tidak akan terenyuh hati orang tua ini melihat keadaan serta penderiataan putrinya, bahkan cucunya yang masih tak mengenal dosa itu pun ikut jadi korban kerakusan orang-orang tak beriman itu.

Malam  itu  bulan  dan  bintang  lenyap,  tak  tampak cahayanya setitik pun. Langit gelap-gulita bagaikan selembar kain hitam raksasa yang menelungkupi seluruh desa   Kedawung.   Angin   berhembus   membawa   hujan rintik-rintik disertai bunyi guruh yang lapat-lapat terdengar  di  kejauhan.  Tepat  pada  saat  itu  tampak sesosok bayangan melesat ke atas wuwungan rumah Samirun.

Dengan gerakan seperti seekor kucing, sosok bayangan itu  melompat  turun  dari  lubang  genting  yang dibongkarnya tanpa suara. Ia tepat berada di kamar Samirun yang sedang tertidur pulas. Di antara cahaya lampu yang remang-remang itu terlihat sosok bayangan tinggi besar yang ternyata Samolo. Dengan hati-hati ia melangkah ke sebuah lemari. Dengan sekali sentuh terbukalah lemari tersebut.

Dugaannya sangat tepat, ia mendapatkan kotak wasiat itu berada di dalam lemari itu. Dengan kotak terkempit di lengan, Samolo lompat kembali ke atas wuwungan. Sekeping pecahan genting jatuh meluruk menimpa kepala Samirun yang segera tersadar dengan tiba-tiba. Ia masih sempat melihat ujung kaki “pencuri” itu lenyap di lobang plafon kamarnya. Ia lompat ke lemari dan langsung berteriak sambil meraih pistolnya dari bawah bantal.

“Maling! Tangkap pencuri…!” Teriaknya    sambil melompat ke luar kamar.

Di  halaman  belakang  ia  melihat  sesosok  bayangan berkelebat di atas wuwungan. Ia menembak secara beruntun ke arah bayangan tadi. Tapi sosok bayangan itu telah lenyap melompat ke sisi depan gedung. Samirun jadi kalap.

“Pencuri! Pencuri!” Teriaknya kalap sambil berlari ke luar. Sesaat kemudian tampak belasan centeng muncul berserabutan dengan obor serta senjata-senjata terhunus di tangan. Semuanya bergerak ke arah luar gedung untuk mengejar si pencuri yang amat tangkas tadi. Namun yang didapati mereka di luar gedung itu cuma deru angin dan suara  lolongan  anjing  Samirun  yang  menyalak  tanpa henti.   Samirun   membanting   kakinya   dengan   penuh luapan amarah. Dimakinya para centeng itu habis- habisan. Sesaat kemudian Samirun tersentak karena mengingat sesuatu.

“Si bayi!” teriaknya, lalu langsung berlari masuk ke dalam rumahnya lagi diikuti oleh derap belasan pasang kaki para centengnya.

Mereka langsung pula menerobos masuk ke dalam sebuah kamar. Tampak seorang pengasuh sedang berdiri menggigil ketakutan di sisi ranjang bayi yang sudah kosong.

“Bangsat! Tidak salah lagi ini pasti perbuatan Samolo.”

Teriak Samirun sambil membalikkan ranjang bayi dengan marahnya.

“Sosok bayangan itu jelas mirip si keparat sialan itu.” sambungnya. Lalu matanya mendelik ke arah para centengnya yang jadi tertunduk mengkerat.

“Bakul-bakul nasi! Aku gaji kalian bukan untuk tidur ngorok, tahu?!” Semprot Samirun belum hilang kalapnya.

Sementara itu Samolo telah menyerahkan si bayi ke dalam pelukaan ibunya. Ratna mendekap bayinya yang dikiranya sudah  tidak  ada  lagi  di  dunia  ini,  dengan ledakan tangis. Kotak wasiat itu pun diberikan kepada Ki Kewot untuk disimpannya.

“Terima kasih, Samolo!” Cuma itu yang keluar dari mulut Ki Kewot, karena suaranya terasa menyangkut di kerongkongannya.

“Bersyukurlah   kepada   Tuhan,   Ki!”   jawab   Samolo sambil meminum air kendi.

“Aku pikir sebaiknya kita segera meninggalkan rumah ini. Samirun pasti tidak tinggal diam!” sambung Samolo.

Perhitungan Samolo memang tepat. Karena menjelang fajar,  gubuk kecil itu telah dikepung oleh orang-orang Samirun dan beberapa opas dengan senjata-senjata terhunus. Samirun berteriak memerintahkan Samolo menyerahkan diri atau gubuk itu akan dibakar ludes. Detik itu orang-orang di dalam justru sedang siap-siap untuk  pergi mengungsi. Demi keamanan  dan keselamatan yang lain, Samolo terpaksa pasrah diborgol dan diseret pergi.

“Kalau dia berani kabur lagi, bikin tubuhnya jadi santapan buaya-buaya Cisadane.” perintah Samirun kepada orang-orangnya.

Seperginya gerombolan yang menggiring Samolo, Samirun bersama tiga orang centengnya, termasuk mandor Sarkawi menerobos masuk ke dalam gubuk Ki Kewot.

“Geledah seluruh sudut gubuk reyot ini!” perintah Samirun kepada tiga orang upahannya sambil bertolak pinggang dengan sombongnya. Tiga begundal itu segera mengobrak-abrik seluruh isi pondok untuk mencari kotak wasiat.

Melihat ulah orang-orang ini, Ki Kewot tak dapat menahan diri lagi.

“Setan neraka jahanam. Keluar kalian!” tudingnya kepada Samirun yang tersenyum iblis.

“Hei, tua bangka pikun! Mana mungkin aku keluar dari kandang babi ini, sebelum kotak itu berada di tanganku. Mengerti kau?!” kata Samirun, balas menuding Ki Kewot dengan tongkatnya.

“Kotak apa?! Kalian memang sengaja cuma mau mengacau.” bentak Ki Kewot.

“Kau sembunyikan di mana kotak itu?!” bentak Samirun setelah melihat orang-orangnya tak berhasil menemukan kotak wasiat itu. “Ayo katakan! Sebelum peluruku ini mengoyak dada keriputmu.” katanya sambil mengokang pistolnya ke arah dada Ki Kewot.

Sungguh di luar dugaan, kakek ini malah maju sambil membuka bajunya dan membusungkan dadanya.

“Silahkan! Ayo pilihlah yang paling empuk, kasir keparat!” katanya mantap dan nekat.

Meletuslah pistol Samirun diiringi jeritan Ratna dan Nyi Londe.

“Ayah!” jerit Ratna sambil menubruk tubuh ayahnya yang limbung dengan darah tersembur dari dadanya.

Sarkawi menarik lengan Ratna yang meronta dan menjerit seperti gila. Samirun memerintahkan Sarkawi menyeret Ratna keluar, sementara pistolnya sekali lagi “memakan” tubuh Ki Kewot yang langsung tersungkur ke lantai gubuk. Nyi Londe berusaha menolong kakek ini, tapi ia jatuh tersungkur juga digetok gagang pistol Samirun pada keningnya. Ratna terus diseret Sarkawi ke luar gubuk, yang meronta dan menjerit dengan kalap.

Gagal  menemukan  kotak  wasiat  itu,  Samirun  jadi buas. Setibanya di luar ia menyambar obor dan menyulut atap gubuk kemudian melemparnya ke atas atap. Dalam sekejap saja api pun berkobar. Ratna makin panik dan meronta dengan kalap di dalam dekapan tiga begundal itu.

“Anakku…! Anakku…!” jerit Ratna seperti gila.

Tapi Samirun dan tiga begundalnya terus menyeretnya pergi. Suaranya semakin jauh kemudian tertindih oleh gemuruh api yang makin besar melahap seluruh gubuk itu.

Nyi Londe berusaha bangkit namun kepalanya terasa berat  dan  pening.  Dengan terbatuk-batuk ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk merangkak ke kamar karena dari sana terdengar suara tangisan si bayi. Sementara api dengan cepat menjilat dan melahap rumah bilik itu. Sang pengasuh merangkak menembus asap yang menyesakkan napas.

“Cepat  tolong  cucuku,  Nyi…!  Cepat…!”  Dengus  Ki Kewot dengan napas satu-satu, sambil mencoba bergerak dan beringsut ke arah kamar di mana cucunya berada. Darah mengalir semakin deras dari luka di dada dan perutnya,  berceceran  membasahi  lantai.  Api  semakin besar dan ganas melahap seluruh isi gubuk.

Balok-balok berapi pun berjatuhan dari atas, nyaris menimpa Nyi Londe yang terus berkutet merangkak menembus asap, menggapai-gapai mencari pintu kamar tidur si bayi.

“Cepat selamatkan cucuku, Nyi. Cucuku…!” Terdengar suara Ki Kewot megap-megap di tengah gulungan asap yang makin tebal. Nyi Londe berhasil mencapai kamar dan langsung meraih tubuh bayi yang menangis kepanasan. Darah tampak mengalir dari kening Nyi Londe tapi tak dihiraukan. Ia mendekap tubuh si bayi erat-erat sambil berdo’a karena api telah mengurung semua jalan keluar.

“Oh Tuhan, lindungilah makhluk-Mu yang tak berdosa ini…!” Ratap Nyi Londe dalam do’anya.

Sementara itu, Samolo sedang digiring oleh para begundal dan opas menuju Tangsi. Dari atas tanggul yang dilaluinya, terlihat olehnya cahaya api dari arah gubuk Ki Kewot. Hati centeng ini jadi tercekat, ia tahu itu pasti perbuatan Samirun dan begundal-begundalnya. Ia benar- benar merasa khawatir akan keselamatan Ratna dan bayinya  juga  Nyi  Londe  dan  Ki  Kewot  yang  berada  di dalam gubuk.

Sekonyong-konyong Samolo menggentak rantai borgolnya hingga putus. Berbareng dengan itu, dua begundal yang berjalan di depannya terjungkal ke dalam sungai dengan kepala remuk dibabat lengan Samolo. Dua opas yang berjalan mengiringinya itu terkejut namun sebelum kedua hamba wet ini siap mengayun kelewangnya, Samolo telah lebih dahulu menyapunya dengan sebuah tendangan berantai yang sangat dahsyat, hingga kedua opas itu terpental saling susul ke bawah tanggul. Sisanya menjadi ciut lalu kabur terbirit-birit dari atas tanggul.

Samolo pun memang tidak ada waktu lagi untuk berurusan dengan mereka, karena ia dengan kecepatan penuh berlari ke arah gubuk yang sedang terbakar itu.

Api  sedang  mengamuk  dengan  dahsyatnya  ketika Samolo tiba di muka gubuk yang hampir musnah ditelan lidah-lidah api yang mengganas. Tak terasa peluh dingin Samolo membasahi tubuhnya yang panas terpanggang. Ia berteriak memanggil nama Ki Kewot dan Nyi Londe, tapi suaranya sirna ditelan gemuruh api. Juga Ratna yang dipanggilnya tak ada jawaban. Maka dengan nekat ia lompat menerjang gumpalan asap dan api itu dan menerobos masuk. Samar-samar dilihatnya Ki Kewot sedang merangkak-rangkak menuju kamar.

“Ki Kewot, mana Ratna dan bayinya? Juga Nyi Londe?!” Teriak Samolo sambil menghindar dari balok berapi yang berjatuhan. Ia melompati lidah-lidah api yang bergejolak itu langsung menyambar tubuh kakek yang terluka parah ini lalu dibawa lompat ke luar.

“Jangan hiraukan aku, Samolo. Tolonglah cucuku dan Nyi Londe…!” kata Ki Kewot megap-megap di kempitan Samolo. Samolo meletakkan tubuh tua yang bersimbah darah itu di pekarangan.

“Kotak itu berada di bilik kamar itu…!” ujar Ki Kewot dengan napas makin memburu.

Samolo tanpa membuang waktu sedikit pun sudah melompat   masuk   lagi   melalui   jendela   yang   dijebol jerujinya dengan sekali babatan telapak tangannya.

“Nyi Londe, tetaplah di situ!” serunya kepada Nyi Londe yang  terpaku di sudut bilik  sambil mendekap si bayi. Samolo membungkus tubuh si Bayi dengan selimut yang dibasahkan lebih dahulu.

“Kau keluar dulu melalui jendela itu, Nyi! Aku mau mencari kotak. Cepat!”

Nyi Londe agak ragu karena merasa khawatir dengan keselamatan  bayi  itu,  namun  ia  keluar  juga  melalui jendela yang sudah dijebol oleh Samolo.

Setibanya di luar Nyi Londe dan Ki Kewot menunggu munculnya Samolo dengan jantung berdebar-debar. Ketegangan serta rasa khawatir seolah telah melumpuhkan seluruh sendi tulang dan syaraf mereka. Bagian samping gubuk itu tiba-tiba runtuh. Nyi Londe dan Ki Kewot tampak makin pucat menggigil.

“Samolo…! Samolo cepat keluar…!” Teriak Nyi Londe tak sabar.

“Cucuku…  Oh, bagaimana dengan cucuku…?!” ratap Ki Kewot tersendat-sendat. Tiba-tiba tampaklah Samolo di tengah gejolak api. Kini tiang-tiang bangunan itu mulai berderak bergoyang.

Pada detik terakhir itu, Samolo melesat keluar melalui jendela, dan tepat pada detik itu pula ambruklah seluruh bangunan tersebut dan menjelma jadi tumpukan api unggun  raksasa.  Samolo  berguling  dengan  sang  bayi dalam pelukannya dan kotak wasiat tergemblok di punggungnya dalam buntalan kain sarung. Tampak beberapa bagian baju   centeng   perkasa   ini   hangus terbakar.

Nyi Londe segera menggendong si bayi yang terus menangis itu, Samolo berlutut di sisi tubuh Ki Kewot untuk memberi pertolongan selanjutnya. Tapi kakek ini menggeleng-geleng kepala dengan lemah.

“Jagalah Ratna dan cucuku… Samolo…!” pesannya. “Tenanglah,  Ki.  Aku  pasti  akan  selalu  melindungi mereka.” janji Samolo dengan suara haru.

Kepala Ki Kewot tergolek ke sisi, wafatlah orang tua yang telah banyak menderita itu. Samolo tertunduk dengan hati pilu. Setelah Nyi Londe menceriterakan diculiknya Ratna oleh Samirun, Samolo segera mengubur jenazah Ki Kewot di dekat puing gubuknya. Samolo dan Nyi Londe lama termenung, semua peristiwa itu seakan- akan sebuah mimpi buruk yang sangat mengerikan bagi mereka.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed