7

TIBALAH hari pernikahan Giran dan Ratna. Seluruh desa Kedawung seolah-olah ikut berpesta. Gedung Tuan Tanah terang benderang selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti.   Segala   macam   hiburan   tak   putus-putusnya bertalu-talu  menyambut  para  tamu  yang  berdatangan dari segala pelosok, untuk memberi selamat kepada tuan rumah, terutama kepada kedua mempelai.

Itulah hari terbahagia bagi sepasang pengantin baru. Giran dan Ratna seakan-akan hidup di dalam dunia khayal   1001   malam.   Mereguk   segala   kenikmatan cumbuan kasih surgawi yang dapat membuat iri pada dewa-dewi khayangan sekalipun. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena pada hari ketujuh, datanglah musibah menimpa Tuan Tanah. Pada pesta terakhir yang naas itu, Tuan Tanah yang mulanya sangat gembira itu, sekonyong-konyong muntah-muntah darah. Paniklah seluruh isi gedung itu. Tuan Tanah segera digotong ke dalam kamarnya. Sementara beberapa orang diperintahkan oleh Subaidah yang kelihatan sangat panik itu untuk mencari obat. Dan Samolo disuruhnya memanggil Giran dan Ratna yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah Ki Kewot.

Tuan  Tanah  masih  saja  memuntahkan  darah  segar dari  mulutnya.  Wajahnya  jadi  pucat-pasi.  Namun  ia masih nampak kuat bertahan. Kini di dalam kamar itu cuma ada Subaidah, Samirun, Mirta dan Sarkawi. Subaidah masih terus mengurut dada suaminya.

“Pak, kenapa kau, Pak? Oh Gusti…!” ratap perempuan ini. Samirun mendekat ke tepi pembaringan.

“Den Besar…?!” “Uh…?!”

“Tolong tanda-tangani surat ini, Den…!”

Samirun menyodorkan pulpen dan secarik kertas yang bertempelkan materai kepada majikannya.

Tuan Tanah memicingkan matanya meneliti isi surat tersebut. Tiba-tiba wajahnya yang pucat itu berubah jadi merah padam seketika. Ia terbatuk dan segumpal darah segar pun tersembur dari mulutnya, membasahi seluruh kertas tersebut. Samirun mundur. Melempar kertas yang berlumur darah itu. Matanya tiba-tiba jadi liar mengerikan. Sekonyong-konyong ia meraih sebuah bantal lalu dibekapkan ke wajah Tuan Tanah yang segera meronta-ronta dengan seluruh sisa tenaganya. Samirun mengerahkan seluruh kekuatannya menekan bantal itu. Tapi tak berhasil.

“Pegang tangannya. Cepat!” teriak Samirun setengah tertahan kepada Subaidah.

Subaidah  yang  sejak  tadi  tertegun  dengan  wajah pucat, segera menuruti perintah Samirun. Lalu Sarkawi pun disuruhnya untuk membantu. Tinggal Mirta memandangi pergumulan mengerikan itu dengan tubuh menggigil seperti diserang demam.

Pergumulan itu tidak berlangsung terlalu lama, karena Tuan Tanah kini telah terkulai tak berkutik lagi di bawah dekapan bantalnya sendiri.

Semua tertegun terengah-engah. Mirta menggigil di kolong meja.

“Kenapa  pada  bengong?  Ayo  siapkan  rencana  kita berikutnya!”  seru Samirun dengan suara di kerongkongan.

Subaidah  dan  Sarkawi  segera  bergerak  menghapus semua bekas tindakan mereka. Jenazah Tuan Tanah dibaringkan dengan rapi di pembaringan. Seakan-akan kematian  Tuan  Tanah  itu  disebabkan  penyakit  yang sudah lama diidapnya.

Sesaat kemudian, Giran dan Ratna yang dipanggil oleh Samolo, tiba di gedung yang masih dipajang janur-janur pesta itu. Mereka terpaku di ambang pintu. Tangisan memilukan menggema di ruangan gedung tersebut. Tampak Subaidah tengah terisak memeluki tubuh Tuan Tanah yang terbujur kaku di atas dipan tepat di tengah ruangan utama itu.

“Aduh, Pak. Tega benar kau meninggalkan aku serta anak-anak…!  Bawalah  Subaidah,  Pak… Apa  artinya hidup ini tanpa kau di sisiku, Pak…! Aduuuuh…   perih hatiku, Pak…   Hu hu hu” tangis Subaidah melolong- lolong, sangat memilukan.

Mirta pun tampak menggerung-gerung bersimpuh di sisi  dipan.  Giran  berlutut  di  sisi  tubuh  ayahnya  yang mulai dingin itu, dibukanya kain penutup jenazah lalu dipandangnya wajah ayahnya yang membiru.

“Ayah…?!” Cuma itu yang sanggup terlontar dari mulut Giran,  kemudian  ia  duduk  tafakur  di  sisi  jenazah. Tampak bahunya terguncang-guncang. Namun tak terdengar isak tangisnya. Ratna menepis air mata, ikut berlutut di sampingnya.

Samirun  tertunduk  dengan  wajah  pura-pura  sedih.

Matanya berkali-kali melirik ke arah Sarkawi. Mandor ini sedang asik mengunyah kue yang terletak di meja. Kasir ini mendehem, tapi Sarkawi tak mengerti dengan tanda isyarat tersebut. Samirun terpaksa mendekatinya lalu menginjak kaki Mandor bego ini. Sarkawi mengaduh kesakitan dengan mulut penuh tersumpel kue.

Di sudut ruangan tampak Nyi Londe terisak-isak menepis air mata dengan ujung kebayanya. Di luar pintu terlihat Samolo tertunduk dalam-dalam. Tampak matanya merah berkaca-kaca. Betapa sedih ia mengingat semua kebaikan majikannya itu, yang kematiannya kini terasa tidak wajar.

***

Upacara pemakaman Tuan Tanah Kedawung telah berlalu. Namun suasana duka masih melekat di setiap hati para penduduk desa. Desa itu terasa seakan-akan telah kehilangan sebagian sinar matahari, suram dan beku. Terutama bagi gedung besar dan megah itu, dari luar terlihat sunyi. Apalagi pintu utama tak pernah lagi dibuka semenjak wafatnya Tuan Tanah.

Giran dan Ratna lebih banyak mengurung diri. Kematian ayahnya nyaris menghancurkan gairah hidup Giran. Untung saja kini di sisinya selalu ada Ratna, yang menghiburnya dan memberikan semua kesejukan pada dasar jiwanya. Samolo kini merasa dibebankan kewajiban dan  tanggung  jawab  untuk  menjaga  generasi  penerus sang majikan. Tanggung jawab serta kewajiban yang diembannya tanpa pamrih, karena budi sang Tuan Tanah baginya tak dapat dibanding-ukur oleh apapun di dalam kehidupan ini.

Kecuali Subaidah dan Samirun-lah yang merasa lega dengan   meninggalnya   perintang   utama   bagi   hasrat mereka itu.

“Kini harta warisan itu berada di tangan si bocah bedebah. Kalau dia dan anjing Samolo itu sudah disingkirkan, kitalah raja dan ratu di gedung ini. He he he…!” Mengkhayallah Kasir Samirun dan itu diutarakannya kepada Subaidah ketika mereka pada kesempatan tertentu mengadakan pertemuan rahasianya secara rutin.

“Aku ada jalan yang paling lunak untuk melenyapkan anak itu. Lenyap untuk selama-lamanya” kata Subaidah sambil tersenyum iblis di dekapan kekasih gelapnya.

Esok harinya, pagi-pagi sekali Subaidah sudah memanggil Giran ke hadapannya. Mata ibu-tirinya terlihat berkaca-kaca dan sembab. Giran tertunduk terharu.

“Giran…” terisak-isak Subaidah dan berkali-kali menepis air matanya.

“Ya, Bu.”

“Sebenarnya sangat berat ibu mengatakannya kepadamu, Nak.”

“Katakanlah, Bu…!”

“Tapi hati ibu lebih tidak tentram dan selalu gelisah bila belum menyampaikan pesan almarhum ayahmu…!”

“Pesan apa, Bu?” tanya Giran ingin tahu.

“Pada akhir hayatnya, ayahmu berpesan, agar aku mengirim   kau   ke   Borneo,   untuk   mengurus   kebun karetnya di sana.”

“Ke Borneo?” Ulang Giran sambil tercenung.

Subaidah mengangguk, isaknya terus berkepanjangan.

“Itulah beratnya. Ibu maklum kau masih pengantin baru.”

“Tidak apa, Bu. Saya pasti akan melaksanakan pesan ayah itu!” kata Giran pasti.

“Berangkatlah besok pagi-pagi, agar cepat pula pulang. Ibu telah mempersiapkan segala sesuatunya untukmu.”

“Baiklah, Bu!” Angguk Giran, lalu bangkit melangkah ke luar.

Subaidah menutup mulutnya dengan sapu tangan untuk menahan tawanya. Samirun yang sejak tadi pura- pura   sibuk   menulis,   kini   ikut   menekap   mulutnya menahan geli.

Di luar jendela, Nyi Londe diam-diam memperhatikan tingkah aneh kedua orang itu.

Malam itu, bagaikan kisah Remeo dan Juliet, Giran dan  Ratna berdekapan dengan perasaan sukar dilukiskan, menanti fajar yang begitu cepat dan juga menakutkan. Karena pada dini hari sang “Romeo” akan berangkat   meninggalkan   “Juliet”-nya   menuju   Borneo demi melaksanakan pesan almarhum ayahnya yang disampaikan melalui ibu tirinya yang amat “bijak” itu.

“Berapa lamakah aku harus menanggung rindu ini, Kak? Aku takut, kalau-kalau terjadi sesuatu padamu di negeri yang amat jauh itu…” bisik Ratna sambil memeluk suaminya erat-erat, takut kehilangan, dan terlalu berat untuk dilepaskan kepergiannya.

“Tabahkan hatimu, sayang. Aku akan cepat kembali. Berat hatiku meninggalkan kau. Tapi demi baktiku terhadap  orang  tua,  apa  boleh  buat!”  Gemetar  suara Giran. Nun di kejauhan, kokok ayam mulai sayup-sayup terdengar. Ratna makin erat memeluk suaminya yang sangat dicintai dengan segenap jiwa-raganya.

Giran   bangkit   perlahan-lahan,   membuka   jendela.

Tampak fajar mulai terbayang di ufuk timur. Giran menghela napas. “Betapa cepat waktu ini berlalu. Tanpa terasa saat keberangkatanku sudah tiba.”

Ratna turun dari pembaringan, menubruk suaminya dan dipeluknya semakin erat. Air matanya terasa hangat membasahi punggung Giran.

“Tidak…! Tidak…! Jangan tinggalkan aku…  Aku tidak perduli betapa dunia ini akan kiamat sekali pun.” Ratap Ratna dengan hati luluh.

Roda kereta itu bergerak membawa Giran ke Batavia, lalu dengan kapal laut akan bertolak ke Borneo. Mata Ratna berkaca-kaca mengiringi kepergian suaminya sampai jauh menjadi titik kecil di kaki langit. Ia masih berdiri terpaku di ujung jembatan itu, seakan-akan sebagian sukmanya telah ikut terbawa pergi. Belum dua minggu madu kasih itu direguknya, kini harus direnggut dari sisinya. Ia masih termenung di situ, sampai lengan Nyi Londe merangkulnya dan membawanya pulang.

Di sebuah persimpangan jalan yang akan dilalui kereta berkuda itu, tampak seorang laki-laki berbaju hitam- hitam dan kaos loreng, duduk menunggu sejak subuh. Matanya yang setajam mata elang itu hampir tak berkedip menatap lurus-lurus ke ujung jalan.

Sesosok bayangan tinggi besar tiba-tiba sudah tegak di belakangnya.

“Hmm, Mat Gerong…” Suaranya berat mengejutkan.

Si mata elang tersentak berpaling. “Oh, Bang Samolo.”

“Rupanya kau yang dapat kehormatan untuk memberi salam dan selamat jalan kepada putra majikanku!” Tukas Samolo dengan nada kalem.

Mat Gerong bangkit, sebuah tanda goresan bekas luka bacokan pada pipi kirinya menambah seramnya wajah pentolan penjahat yang sangat ditakuti ini. Keduanya berhadapan dengan waspada.

“Rejeki ini adalah pemberian nyonya besarmu sendiri, Bang. Tujuh Ringgit uang emas upah memetik batok kepala  bocah  ini  cukup  menarik,  bukan?  Kita  bagi berdua. Setuju?!”

“Sebaiknya kau tahu, Mat Gerong. Setiap helai rambut di tubuh pemuda itu, jauh lebih berharga dari nyawa tujuh-turunan manusia macam kau! Karena itu mana mungkin aku tinggal berpeluk tangan saja.” tegas Samolo dengan suara tenang dan mantap.

Sementara itu, di ujung jalan tampak debu mengepul dan kereta kuda itu berderap mendatangi, Mat Gerong jadi gelisah dan geram.

“Sialan! Kau mau bikin tumplek bakul nasi gua?”

Dengan sebuah gerakan kilat Mat Gerong mencabut golok  Cibatunya, langsung menerjang ke arah Samolo.

Pembunuh  bayaran  ini  benar-benar  ingin  memburu waktu. Tanpa gentar sedikit pun Samolo menyambut serangan itu dengan kibasan lengan kosongnya. Golok yang menderu itu terlempar ke udara. Bersamaan dengan itu telapak tangan kanan Samolo menyapu leher Mat Gerong. Tapi ternyata nama besar pentolan penjahat ini memang bukan omong kosong. Gerakannya serba kilat dan tangguh. la menangkis serta menyerang dengan tipu- tipu pukulan yang mematikan. Kedua Jawara ini nyaris seimbang. Pertarungan berlangsung cepat dan sengit. Sementara itu, kereta kuda yang membawa Giran sudah semakin dekat. Mat Gerong jadi nekat, tujuh Ringgit uang emas terlalu berharga baginya untuk dibiarkan lewat begitu saja. Ia merangsak dengan tendangan berantai. Samolo memapaknya dengan tebasan lengannya. Mat Gerong terpekik, betis kananya remuk terbabat telapak tangan Samolo. Ia berguling untuk menyambar golok Cibatunya yang tergeletak di tanah. Dengan masih berguling ia langsung menyerang lawannya dengan tebas- tebasan beruntun yang sangat berbahaya. Samolo berkelit dan melompat dengan sebuah tendangan keras pada kepala Mat Gerong, yang segera tersungkur mencium bumi. Golok Cibatunya terlotar berputar ke udara.

Cepat  sekali  tubuh  Mat  Gerong  berguling-guling  ke arah jalan raya, dengan maksud untuk mencegat “buruannya” yang berada di kereta kuda yang semakin dekat itu. Samolo lompat memetik golok Cibatu yang masih berputar di udara, lalu lompat turun langsung menebang kedua kaki pembunuh bayaran yang rakus itu.

Dengan pekikan yang sangat memilukan tubuh Mat Gerong tersentak ambruk ke bumi. Sepasang kakinya terlontar masuk saluran irigasi. Detik itu gemuruh roda kereta serta derap kaki-kaki kuda melintas dengan cepatnya di jalan itu. Samolo lompat berlari ke tepi jalan untuk mengejar kereta yang ditumpangi Giran itu. Tapi mana mungkin ia mampu mengimbangi kecepatan larinya dua ekor kuda putih yang tangkas itu. Dalam sekejap saja kereta  itu  sudah  hilang  dari  pandangannya.  Dengan napas masih memburuh serta perasaan kecewa, Samolo berdiri  memandangi  ujung jalan  yang  sunyi  itu.  

“Den Giran, semoga Tuhan memberi firasat padamu, akan kebusukan tipu muslihat ibu-tirimu. Menyesal sekali aku terlambat mengetahui dan tidak sempat pula memberi tahu kepadamu, bahwa kebon karet milik ayahmu di Borneo itu cuma isapan jempol ibu tirimu dan Samirun. Apa boleh buat. Semoga Tuhan melindungimu selalu!” keluh Centeng setia ini dengan pedih.

Dengan perasaan sedih dan kecewa Samolo berjalan pulang ke Kedawung, meninggalkan tempat pertarungan yang telah tersimbah darah seorang jawara yang sangat ditakuti sebagai pembunuh berdarah dingin. Mat Gerong masih merintih dan terkapar kehilangan “Rejeki Tujuh Ringgit Uang Emas” berikut sepasang kakinya. Pada kemudian hari, jago dari daerah Sepatan yang ganas ini, akan muncul malang-melintang lagi dengan julukan “Si Buntung dari Cisadane”. Iblis penyebar maut yang sukar ditaklukkan ini, telah berhasil membuat lembaran sejarah hitam   pada   jamannya.   Dendamnya   kepada   Samolo terbawa sampai mautnya.

Peristiwa penghadangan yang gagal itu akhirnya diketahui juga oleh nyonya besar Subaidah dan kasir Samirun. Karena Mat Gerong tidak pernah muncul lagi meminta upahnya, kecuali uang muka itu. Juga berdasarkan laporan Mandor Sarkawi yang diperintah untuk memata-matai pelaksanaan tugas pembunuh bayaran itu secara diam-diam dari kejauhan.

“Lagi-lagi   Samolo!   Anjing   itu   pun   mesti   segera disingkirkan. Dia pasti sudah terlalu banyak mencium rencana kita.” Bisik Subaidah dengan wajah kecut.

“Ya,   bila   tidak,   kitalah   yang   akan   disingkirkan olehnya.” kata Samirun serius, suaranya terdengar agak gemetar, membuat wajah Subaidah makin kecut dan pias. “Duri  utama  telah  lenyap,  duri  kedua meski  belum berhasil dimusnahkan, tapi setidaknya sudah tidak jadi penghalang  lagi.  Kini  muncul  duri  ketiga  yang  cukup berbahaya. Dia tidak bisa disingkirkan dengan cara keras, melainkan  harus  dengan  cara  halus.”  Bisik  Samirun dengan hati-hati. Agaknya kini kehadiran si centeng yang satu ini, memang harus diperhitungkan matang-matang oleh  mereka.  Karena merasa  takut  kepada  Samolo, niatnya untuk segera menguasai harta warisan Tuan Tanah terpaksa harus ditangguhkan, sampai keadaan benar-benar tepat.

Namun semenjak perginya Giran, kegelapan mulai menelungkupi kehidupan Ratna. Caci maki serta siksaan lahir batin dirasakannya setiap hari dari ibu mertuanya yang telah berubah dalam wujud aslinya. Persoalan kecil dan sepele saja telah cukup membuatnya jadi sasaran caci maki serta sindiran yang amat menyakitkan. Ratna pun tidak diperbolehkan lagi tidur  di kamar Giran di dalam gedung utama, tapi ia harus tidur bersama Nyi Londe di emper belakang. Ratna menerima semua itu tanpa pernah mengeluh apalagi protes, karena sadar, ia cuma berasal dari keluarga petani miskin lagi bodoh. Ia cukup tahu diri sebagai orang yang menumpang meski statusnya sebagai menantu keluarga Tuan Tanah yang sangat terpandang di Desa Kedawung dan sekitarnya. Ia cuma bisa berdoa dan mengharap, semoga suaminya bisa cepat pulang.

Sudah selusin pembantu pria dan wanita yang diberhentikan oleh Subaidah. Akibatnya semua pekerjaan yang ada di gedung itu harus ditangani oleh Ratna yang kadang-kadang dibantu oleh Nyi Londe yang tak sampai hati melihat Ratna bekerja membanting tulang sejak subuh sampai jauh malam. Namun masih saja datang omelan dan celaan dari ibu mertuanya yang sadis itu.

“Matamu buta?!” maki Subaidah seperti geledek sambil menjitak kepala Ratna yang baru saja menjatuhkan sebuah cangkir berisi kopi panas buat sang mertua ini.

“Huh, dasar si buta baru melek. Kerja sebegitu saja ogah-ogahan. Bertingkah!”

“Maafkan dia, Nya Besar. Neng Ratna tidak sengaja” kata Nyi Londe yang baru datang bantu memunguti pecahan cangkir kopi itu.

“Hmm, siapa tahu? Dia memang sengaja mau merongrongku agar aku cepat mati…  Dan dia jadi nyonya besar di gedung ini. Mentang-mentang jadi menantu Tuan Tanah sudah gede kepala. Lupa waktu melarat dulu, mau gegares juga susah!” Gerutu Subaidah dengan nada sinis yang sangat menyakitkan hati. Ratna tertunduk, memunguti pecahan beling dan mengelap tumpahan air kopi yang telah tercampur dengan air matanya. Nyi Londe menghiburnya sambil menghela napas panjang-pendek.

Secara rutin, dua hari sekali Ratna harus menggiling kacang kedelai berbakul-bakul banyaknya, untuk kemudian  dibuat  tempe  dan  tahu.  Sebuah  pekerjaan berat yang biasa dikerjakan laki-laki itu sungguh meletihkan dan menguras tenaga Ratna.

“Sudah hampir sebulan ini, Samolo tiap hari disuruh mengirim   kelapa   dengan   gerobak   ke   Selapanjang. Kadang-kadang dua hari baru pulang, itu pun selalu tengah malam.” kata Nyi Londe ketika membantu Ratna mendorong batu gilingan kedelai yang besar dan berat itu. Sang Nyonya besar Subaidah tiba-tiba sudah muncul di pintu, bertolak pinggang dengan wajah masam.

“Eh…, eh…   eh…   Londe! Siapa sih majikanmu, atau dia?! Kenapa kau begitu repot kalau dia mengerjakan sesuatu? Dasar kau juga yang membuat dia jadi kolokan, pemalas, sok kaya. Sudah. Tak perlu kau temani dia. Cucian masih numpuk sebakul tuh!” katanya dengan ketus.

Nyi Londe terpaksa meninggalkan Ratna mengerjakan tugas berat itu seorang diri, seperti kuda beban.

Waktu berlalu bagaikan melata dengan lambatnya. Bila malam tiba kedua perempuan ini dengan perasaan letih baru bisa istirahat di emper usangnya. Dan gejala-gejala keletihan yang disertai muntah-muntah mulai terlihat pada Ratna.

“Beberapa hari ini, kelihatannya Neng kurang sehat badan. Selalu muntah dan senang makan yang asam- asam. Jangan-jangan sedang ngidam. Sudah berapa bulan?” tanya Nyi Londe perhatian sambil memijat kaki Ratna yang tergolek dengan wajah pucat.

“Entahlah  Nyi.  Barangkali  baru  dua  bulan”  Jawab Ratna malu-malu.

Nyi Londe tersenyum campur haru memandangi wajah sayu. Dan bayangan Giran pun selalu muncul di depan pelupuk pengasuh ini.

Pada suatu hari, Ratna dipanggil oleh mertuanya, yang menyongsongnya  dengan  wajah  ramai  dihiasi  senyum yang sangat ramah. Membuat Ratna jadi agak tertegun keheranan.

“Ai, aih…   Ratna, sini nak, sini dekat ibu! Sini. Ibu mau tanya kau.” kata Subaidah sambil menggamit lengan Ratna yang masih kebingungan serta takut-takut.

“Aih, nih anak. Kenapa kau enggak mau bilang-bilang pada ibu. Kata Nyi Londe kau sedang mengandung. Benarkah itu?” tanya Subaidah sambil memandang perut Ratna, suaranya lembut penuh kasih sayang keibuan.

Ratna mengangguk sambil tertunduk.

“Waduh,  hati  ibu  jadi  gembira  mendengarnya.  Ibu bakal punya cucu, bukan? Hi hi hi…   Ingat, mulai sekarang kau tidak boleh kerja yang berat-berat! Harus bisa menjaga diri. Ingat pesan itu ya, Nak.”

“Terima kasih, Bu. Tapi saya masih bisa bekerja!” Jawab Ratna masih diliputi keraguan terhadap sikap mertuanya yang sangat berbeda dari biasanya.

“Ah, jangan suka bandel ya. Nanti ibu jewer kupingmu ini. Hi hi hi…  Ngerti kau?!” kata Subaidah sambil benar- benar menjewer telinga Ratna dengan lembut, seakan- akan kepada anak kesayangannya.

“Nah,   istirahatlah   sono…!”   bujuknya   lagi   sambil menepuk pantat Ratna. Samirun yang pura-pura sibuk menulis jadi tertawa geli menyaksikan adegan mesra tersebut.

Ratna  dengan  wajah  merah  serta  dengan  perasaan aneh melangkah luar dari ruangan itu.

“Oh ya, Ratna, tunggu dulu!” panggil Subaidah tiba-tiba. Ratna menghentikan langkahnya di pintu.

“Hampir ibu lupa. Coba kau bawa kotak yang berisikan surat-surat itu ke sini. Karena perlu dicatat oleh paman Samirun. Ng…  kau ada menyimpan kotak itu, bukan?!” tanya Subaidah, dengan lagak setengah acuh tak acuh.

“Ya, Bu!” jawab Ratna tanpa curiga.

“Bagus. Cepat bawa ke sini, ya!” perintah Subaidah masih berlagak acuh dan tak acuh. Seolah-olah kotak yang disebutnya itu tak terlalu penting.

Ratna keluar dengan masih diliputi tanda tanya akan sifat sang mertua yang tiba-tiba berubah jadi manis terhadapnya. Sekonyong-konyong ia tersentak kaget, ketika    seseorang    muncul    dari    balik    tiang    dan menegurnya.

“Neng… Neng  Ratna!”  Panggilnya  dengan  suara berbisik.

“Siapa?! Oh, Bang Samolo…” kata Ratna perlahan, karena melihat sikap Samolo yang sembunyi-sembunyi dan memberi tanda dengan gerakan jarinya agar ia mendekat.

Rupanya Samolo yang selalu waspada ini mengetahui dan menangkap percakapan itu tadi. Demi meyakinkan rencana busuk mertuanya yang berkomplot dengan Samirun,  Samolo  terpaksa  menceriterakan  semua kejadian yang hampir saja merenggut nyawa Giran itu kepadanya. Ratna jadi pucat dan terkejut setelah mendengar cerita singkat tersebut. Peluh dinginnya tanpa terasa membasahi pori-porinya. “Ya Allah, tidak kusangka!” keluhnya.

“Maka janganlah kau tertipu oleh kata-kata manis dari mertuamu yang berhati ular itu!” bisik Samolo tegas.

Lama Ratna termenung di dalam kamarnya. Hatinya gelisah, pedih dan bingung. Tiba-tiba darahnya tersirap, ketika selembar wajah penuh senyum licik itu tersembul di pintu.

“Hei, Ratna. Kenapa kau?! Sakit?!” tanya Subaidah sambil tersenyum.

“Ti… tidak apa-apa, Bu!” jawab Ratna gugup.

“Mana  kotak  warisan…  eh…  ng…  Kotak surat-surat itu, Ratna?!” Tanya lagi Subaidah dengan nada seramah mungkin.

“Maaf, Bu. Kak Giran berpesan…”

“Ah, anak tolol, kau salah paham, Ratna. Pesan Giran itu memang benar bahwa kotak tersebut tidak boleh diberikan kepada orang lain. Tapi ibu kan bukan orang lain,  bukan?”  Potong  Subaidah  dengan  senyum  yang mulai terlihat dipaksakan.

“Tapi Bu…” kata Ratna amat perlahan karena bingung dan takut.

“Tapi! Tapi apalagi…?! Akulah ibunya, berhak mengambil kotak itu. Paham kau?! Cepat ambil kotak itu!” hardik Subaidah dengan mata mendelik.

“Maafkanlah, Bu! Saya tidak berani melanggar pesan kak Giran!” kata Ratna gemetar.

“Setan! Berani kau membangkang perintahku?! Ambil kotak itu atau kupotes batang lehermu. Cepat!” bentak Subaidah menjambak rambut Ratna.

“Ampun Bu!” ratap Ratna gemetar.

Subaidah sudah tidak sanggup bersandiwara lagi. Dicopotnya sabuknya lalu dideranya Ratna tanpa kenal ampun. Ratna menjerit dan merintih menahan sakit. Sabuk kulit itu terus menghantam tubuhnya bertubi-tubi. Kulitnya matang-biru tergores kepala sabuk yang keras itu. Nyi Londe datang untuk menolong wanita muda yang malang ini, tapi ia dihalang-halangi oleh Samirun yang berdiri di pintu kamar.

Untunglah pada saat itu, Samolo melongok di jendela. Terkesiaplah hati Subaidah dan Samirun yang segera ngeloyor meninggalkan kamar itu. Nyi Londe segera memapah Ratna yang terisak-isak di lantai.

“Aduh Neng! Tuhan tidak buta Neng. Siapa yang dosa, dia pasti dapat ganjaran yang setimpal.” kata Nyi Londe ikut terisak-isak dengan pilunya. Samolo mengatupkan gerahamnya hingga bunyi bergemelutuk.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed