6

JERITAN Subaidah menggema di gedung Tuan Tanah, ketika nyonya muda ini melihat mandor Sarkawi masuk dengan memapah “seekor makhluk ganjil” ke dalam gedung.

“Astaga, apa itu!” teriak Subaidah kaget.

Dia  lebih  kaget  lagi  ketika  mengenali  putra  kesayangannya itu.

“Aduh Gusti, kenapa kau jadi begini, Mirta?”

Mirta dengan suara memelas mengadu kepada ibunya. “Samolo,  Bu.  Ita  enggak  apa-apa,  tahu-tahu  dia mendorong Ita ke dalam sawah. Barangkali lagi pusing habis kalah main sintir.

“Sarkawiiii! Gegares gi lu ke dapur!” teriak Subaidah kalap sambil menuding hidung mandor Sarkawi yang berdiri dengan wajah meringis.

“Apa kerja lu, ha? Lu takut sama si Samolo?”

Sarkawi garuk-garuk kepala.

“Bukannya saya keder sama dia, Nya Besar…  Soalnya teman-temannya ikut-ikut mengeroyok. Tujuh yang saya bikin ngambang di kali Cisadane! Eh, Den Giran datang misahin.”

Seorang pembantu membawa Mirta ke dalam untuk dimandikan.   Wajah   Subaidah   tampak   kecut   karena marah.

“Orang-orang keparat itu harus dilenyapkan secepatnya!” gumamnya penuh dendam. Lalu ia berpaling kepada Sarkawi.

“Sini Lu!”

“Y… ya, Nya Besar…” sahut si mandor dengan hati kebat-kebit, lalu mendekat sambil tertunduk-tunduk ke sisi nyonya majikannya.

“Cepat lu  panggil Den Kasir. Awas, bacot lu  jangan bocor!” bisik Subaidah dengan nada mengancam.

“Iya…  eh… kagak Nya Besar…” Jawab Sarkawi gugup. Mandor  ini  segera  keluar,  tingkahnya  mirip  maling.

Membuat Subaidah menyumpah-nyumpah di dalam hati.

Nyi  Londe  sejak  tadi  pura-pura  menyapu  di  luar jendela, padahal telinganya diarahkan ke dalam. Akhir- akhir ini kewaspadaan dan kecurigaannya terhadap kelompok Subaidah dan Samirun makin menjadi-jadi, disebabkan seringnya orang-orang itu kasak-kusuk, agaknya merencanakan sesuatu. Pengasuh ini sangat mengkhawatirkan keselamatan Giran yang telah diasuh dan disusuinya sejak masih bayi. Ia tidak ingin sehelai rambut pun dari pemuda itu diganggu oleh ulah para durjana itu. Sesungguhnya semua ini merupakan suatu siksaan batin yang tidak ringan baginya.

Malam itu tampak Samirun dan Sarkawi dengan hati- hati bagaikan pencuri, menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar.

Namun semua kelakuan kedua laki-laki itu tidak luput dari mata Samolo, yang sejak tadi mengintai dari balik tiang teras belakang gedung luas itu.

Sebagai   seorang   centeng   yang   sudah   mengabdi puluhan  tahun,  Samolo  sangat  hafal  dengan  setiap jengkal keadaan gedung itu. Dia tahu tempat mana yang paling tepat untuk bisa menguping perundingan orang- orang itu. Maka dengan segesit seekor kucing, Samolo tiba-tiba melesat ke atas atap dari deretan kamar yang terletak di bagian samping kiri gedung. Lalu dengan gerakan yang amat ringan, tubuhnya bergelantungan di para-para kamar itu.

Melalui jendela dilihatnya tiga orang itu sedang berunding dengan wajah serius. Samolo memasang telinganya.

“Kenapa  muka  lu  pucat?  Takut?”  terdengar  suara Samirun sinis.

“Kalau lu  enggak  sanggup, bilang saja terus terang, jangan sampai urusan ini jadi kapiran!” lanjut Samirun lebih sinis.

“Den Kasir seperti baru kemaren sore saja kenal sama saya. Masa ragu sama si Sarkawi, jawara kesohor dari Pisangan ini?! Pokoknya asal syaratnya cukup. He… he… he…” kata Sarkawi sambil menggesek telunjuk dengan ibu jarinya.

Samirun mendehem sambil melirik ke wajah Subaidah, seolah menunggu keputusan kekasih gelapnya itu. Subaidah mengangguk. Lalu Samirun berbisik di dekat telinga si Mandor yang mendengarkannya dengan serius namun tampak wajahnya semakin pucat.

Meski suara bisikan itu hanya samar-samar ditangkap telinga Samolo, tapi sudah cukup membuat centeng ini menjadi terkejut dan geram. Mendadak dengan gerakan jurus “Musang Munggih” tubuh Samolo melesat ke atas atap lagi dan mendekam di situ, karena tepat pada detik itu Sarkawi melangkah ke luar dari kamar.

Tak   lama   kemudian,   mandor   sudah   datang   lagi bersama Giran, masuk ke ruangan utama gedung itu. Disitu sudah menunggu Subaidah yang duduk menyambutnya dengan senyum lembut keibuan.

“Ibu memanggilku?” tanya Giran dengan nada penuh hormat.

“Duduklah, ibu ingin bicara padamu.”

Giran duduk dengan patuh. Sarkawi berdiri dengan sikap agak gelisah di dekat pintu.

“Begini Giran,” kata ibu tiri Giran itu dengan suara lembut,  “Ibu  mendapat  laporan,  sejak  ayahmu  sakit, sering terjadi pencurian kelapa. Coba kau berdua dengan Sarkawi pergi periksa kebun kelapa itu!”

“Baiklah, Bu. Kami akan pergi memeriksanya!” Giran bangkit melangkah keluar pintu.

“Mari,  Wi.  Kita  berangkat  sekarang!”  ajaknya  pada Sarkawi.

***

Sinar bulan kadang-kadang menerobos di antara celah daun-daun   kelapa.   Semuanya   tampak   samar-samar. Giran dengan lampu baterainya memeriksa pohon-pohon kelapa itu.

“Kebun  kelapa ini cukup subur, tak terlihat tanda-tanda bekas dicuri orang. Iya kan, Wi?” kata Giran sambil terus menyoroti buah-buah kelapa.

“Di sebelah dalam barangkali, Den” jawab Sarkawi sedikit gugup. Sementara matanya liar memandang ke sekitar  penjuru  kebun.  Mereka  masuk  lebih  dalam  ke areal kebun kelapa. Sesaat kemudian, Giran duduk melepaskan  rasa  pegal  pada  kakinya  di atas sebatang pohon kelapa yang tumbang. Tanpa curiga sedikit pun kepada  gerak-gerik  mandor  Sarkawi  yang  selalu mengiringi di belakangnya itu.

Mata Sarkawi tampak makin liar menatap ke sekitar tempat itu lalu ke leher Giran. Sementara lengannya dengan agak gemetar mulai meraba gagang goloknya yang selalu terselip di pinggangnya. Perlahan-lahan dicabutnya golok itu.

“Ini waktunya buat menukar batok kepala bocah ini dengan duit tiga ringgit,” desahnya di dalam hati.

Sarkawi mundur dua langkah membuat ancang- ancang, goloknya terhunus itu diangkatnya siap dibabatkan ke leher Giran yang masih duduk tenang membelakangi mandor yang sudah gelap mata ini.

Mata golok itu terangkat tinggi-tinggi, berkilat diterpa cahaya obor. Tepat pada detik kritis itu, sebutir kelapa tiba-tiba  meluncur  dari  atas  dan  tepat  menghantam kepala Sarkawi.

Maka tak ampun lagi tubuh mandor Sarkawi langsung tersungkur mencium bumi, berdebum mengejutkan Giran yang sedang  duduk  melamun.  Pemuda  ini  melompat bangun,  dilihatnya  Sarkawi  sedang  menggelepar  dan mendengus-dengus seperti kerbau disembelih, lengannya mendekapi kepalanya yang nyaris remuk tertimpa kelapa.

“Kenapa  kau,  Wi?”  tanya  Giran  sambil  memegangi tubuh sang mandor dan meraba kepalanya yang benjol sebesar  kepalan  tinju.  Giran  baru  menyadari  bencana yang telah menimpa mandornya, setelah melihat sebutir kelapa tergeletak tidak jauh dari situ.

Kini tubuh Sarkawi pun terdiam tak berkutik lagi.

“Ya Allah! Dia pingsan tertimpa kelapa.” gumam Giran dengan iba. Giran segera memboyong tubuh Sarkawi yang cukup berat itu ke atas bahunya, lalu dibawanya pulang.

Sementara itu, di atas sebatang pohon kelapa, sesosok tubuh tinggi besar mengawasi peristiwa itu dengan sorot mata marah.

“Hmmm, dasar kerbau dungkul. Sudah semaput masih juga menyusahkan Den Giran. Manusia-manusia laknat itu memang harus cepat disingkirkan, agar tidak punya kesempatan  lagi  untuk  mencelakai  anak  yang  terlalu polos itu.”

Demikian  gumam  di  hati  laki-laki  perkasa  itu yang segera merosot turun dari pucuk pohon kelapa. Namun hatinya merasa lega.

***

Saat itu, di dalam ruangan utama, tampak “si tante girang” Subaidah dan “om senang” Samirun tengah menanti   hasil   rencana   mereka.   Subaidah   tampak beberapa kali mondar-mandir melongok keluar jendela dengan gelisah. Samirun yang tetap tenang sambil mengepulkan asap rokoknya berusaha menghibur sang “Kekasih”.

“Sabar, tenang saja. Sebentar lagi Sarkawi pulang dengan…”

Belum   lagi   ucapannya   berakhir,   pintu   tiba-tiba terbuka, tampak Giran masuk dengan tubuh Sarkawi tergendong di atas bahunya. Subaidah dan Samirun jadi ternganga dengan mata terbelalak. Giran meletakkan tubuh Sarkawi yang lunglai itu di atas bangku panjang.

“Kasihan Sarkawi, dia pingsan tertimpa buah kelapa.”

Giran menjelaskan kepada ibunya juga kepada Samirun yang sama-sama masih tertegun.

“Tertimpa kelapa?!” tanya Samirun seakan-akan tak percaya dengan telinganya sendiri.

“Untung tidak pecah kepalanya. Biarlah dia beristirahat dulu untuk beberapa hari. Paman Samirun, tolong berikan dia uang untuk berobat!”

“Ba… baik, Den…”

Tubuh Sarkawi tampak mulai bergerak, tapi matanya masih terpejam menahan rasa pening pada kepalanya.

Subaidah dengan sikap khawatir segera menuang air di gelas lalu diberikan kepada Giran.

“Sejak tadi ibu Aden selalu gelisah, karena khawatir akan keselamatan Aden. Maklum kini banyak pencuri berkeliaran di kebun kelapa” kata Samirun mencari kesempatan untuk menutupi kebusukan rencananya.

“Nyonya   memanggilku   untuk   menyusul   Aden   ke kebun. Tapi ternyata Aden sudah pulang lebih dahulu.”

“Syukurlah kau tidak apa-apa!” Subaidah pura-pura menarik napas lega. Giran tersenyum, menaruh gelas air yang diminumnya itu di atas meja. Ia merasa terharu melihat kekhawatiran ibunya terhadap dirinya.

“Ibu tak perlu cemas. Kebon kelapa kita itu pun tetap aman dari tangan-tangan para pencuri.” Kata Giran menghibur.

Setelah mengucapkan selamat malam, Giran mengundurkan   diri.   Kedua   wajah   orang   ini   segera berubah kembali menjadi kaku. Kaki Samirun tiba-tiba melayang ke tubuh Sarkawi yang masih terlentang di atas dipan. Tergulinglah tubuh mandor ke lantai sambil mengaduh dan merintih kesakitan. Subaidah mengangkat poci berisi air teh panas dan dituang seluruhnya mengguyur kepala Sarkawi, hingga mandor sial ini makin kelabakan dibuatnya.

“Waduh. Benar-benar jago jempolan, lu Wi! Pulang juga pakai dibopong segala, kayak anak kecil habis kepicirit” Ejek Samirun dengan acungan jempolnya, sedang amarahnya  makin  meluap.  Kembali  ditendangnya Sarkawi dengan sekuat tenaga. Sarkawi menggeliat mengaduh lagi, memegangi pinggangnya yang terkena sasaran terompah Samirun.

“Sundel! Kenapa lu kagak mampus aja sekalian?!” bentak Samirun makin kalap. Tangannya mencabut pistol yang terselip di pinggangnya.

Lu  bikin  kucar-kacir  gua  punya  rencana.  Lu  minta dipersen biji melinjo?!” pistol itu ditodongkan ke kepala

Sarkawi yang jadi gemetar ketakutan.

“A… a… ampun Sir…! Saya lagi ketiban sial rupanya

nih…” ratapnya dengan memelas.

“Awas…! Kalau mulut lu bocor, sampai orang tahu… Gua  jeder  batok  kepala  lu…!  Lu  belum  kenal  siapa

Samirun ya!” ancam kasir ini sambil menimang-nimang pistolnya.

Busyet dah. Masa saya kagak kenal sama Den Kasir! Kita kan sahabat lama, cuma nasib saja yang beda. Maka jangan galak-galak, ah! Hi Hi…!” bujuk Sarkawi meringis menahan sakit.

“Eh,  apaan  cengar-cengirLu  kira  gua  main-main?! Gua tembak, muncrat benak lu! Mau?” bentak Samirun.

Ujung pistolnya ditempelkan ke pelipis Sarkawi yang jadi pucat seketika. Subaidah mendengus, merasa muak menyaksikan adegan itu.

“Sudah sudah! Bisanya cuma ngebacot melulu. Huh sebal!” Ia melangkah ke luar ruangan dengan wajah masam. Samirun buru-buru membujuknya.

“Sabar Baidah, kita masih punya kesempatan lain.”

Tapi Subaidah seakan-akan tidak mendengar, terus berjalan menuju ke ruangan kamar tidurnya sendiri.

Samirun jadi semakin kebingungan, dimakinya lagi Sarkawi habis-habisan untuk melampiaskan kedongkolannya. Tapi dasar wataknya memang bebal, mandor ini cuma cengengesan saja, mirip monyet mabuk terasi.

***

Bulan purnama memancarkan cahayanya yang lembut keperakan. Serangga malam mengisi keheningan suasana malam itu dengan tembang-tembang yang membangkitkan rasa pukau manusia terhadap seluruh kegaiban alam.

Pada keheningan malam yang terasa syahdu ini, ada sepasang muda-mudi sedang memadu kasih di bawah sebatang pohon rindang di tepi sungai, tidak jauh dari gubuk Ki Kewot. Kedua insan remaja ini ialah Giran dan Ratna.

Terdengar suara Giran berkata agak gemetar.

“Sebenarnya   sudah   lama   aku   ingin   mengatakan sesuatu kepadamu Ratna…”

“Apa  itu,  Kak?”  tanya  Ratna  perlahan,  meskipun hatinya sudah dapat meraba, apa yang hendak dikatakan oleh pemuda yang duduk di sisinya itu. Namun ia menunggu   dengan   hati   berdebar.   Keheningan   yang sejenak itu terasa begitu lama baginya.

“Maukah kau menjadi istriku?” perlahan sekali suara Giran, namun bagi telinga Ratna kata-kata itu terdengar sebagai gaung dari sebuah gong raksasa, yang seakan- akan bergema ke seluruh dunia. Begitu merdu dan menggetarkan kalbunya. Ratna berpaling menatap wajah pemuda pujaannya dengan mata berkaca-kaca. Giran balas menatapnya dan terkejut, memegang kedua pipi Ratna dengan kedua lengannya.

“Ratna, kenapa kau menangis…? Apakah kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu?” tanya Giran hati-hati.

Ratna menggeleng, air matanya makin deras jatuh berderai, tapi bibirnya tersenyum.

“Aku    sangat    bahagia,    Kak”    ucapnya    sambil merebahkan kepalanya di dada Giran yang bidang. Malam semakin hening. Suara nyanyian serangga malam terdengar semakin merdu pula.

“Tapi Kak…  kau pasti menyesal kelak. Aku hanyalah gadis desa yang miskin lagi bodoh. Apa kata orang-orang nanti? Terutama kedua orang-tua kakak sendiri?” kata Ratna masih dalam haribaan Giran. Giran membelai kepala gadis yang sangat dicintainya itu dengan lembut, lembut pula kata-katanya.

“Kau telah merupakan sebagian dari hidupku. Tanpa kau, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Apapun yang terjadi kelak, aku pasti akan selalu mendampingimu dengan setia, tanpa keluh dan sesal. Percayalah, Ratna”

Janji Giran ini membuat Ratna jadi semakin terharu, dan tanpa kata-kata yang dapat melukiskan dan mengungkapkan perasaannya pada saat itu.

Pemuda semacam tipe Giran memang bukanlah pemuda yang pandai merayu, semua kata-katanya terlontar dari dasar hati nuraninya yang murni. Ratna pun sudah menyelami watak pemuda itu, maka ia rela menyerahkan seluruh hidupnya kepada pemuda idamannya itu. Andaikata ia harus berkorban nyawa pun ia  tak  kan  ragu.  Ia  bersumpah di dalam hati,  akan menjadi istri paling setia bagi Giran, setia sampai mati.

Malam   bertambah   larut.   Giran   mengantar   Ratna sampai ke muka gubuknya. Ia cuma berani mencium ujung rambut kekasihnya, meskipun barangkali Ratna sendiri  mengharapkan lebih dari itu, karena sesungguhnya malam itu merupakan malam paling indah yang patut dikenang selama hidupnya. Namun sentuhan lembut hidung Giran pada rambutnya, cukup membuat jantung  Ratna  berdebar  dan  tergetar.  Itu  berlangsung lama sampai Giran meninggalkan gubuk itu, diiringi Samolo yang menunggu di kejauhan. Getaran itu masih juga menyesakkan dadanya ketika ia berdiri tersandar di belakang pintu. Bahkan masih terasa sampai bertahun- tahun kemudian, jika peristiwa manis itu dikenangnya. Agak   lama   gadis   ini   tersandar   di   belakang   pintu, menghela  napas  dalam-dalam  dan  tersenyum  seorang diri. Rasanya bagaikan tengah bermimpi. Wajahnya yang masih  ranum  itu  dijalari  warna  merah  jambu.  Suara batuk ayahnya yang ternyata masih belum tidur, tiba-tiba mengejutkannnya.   Ia   melangkah   masuk   ke   dalam ruangan  dalam.  Dilihatnya  ayahnya  sedang  duduk  di kursi dekat dapur sambil melinting rokok kawungnya. Sekali lagi orang ini mendehem penuh arti, membuat wajah Ratna terasa panas dan makin memerah. Ia tahu ayahnya memang sengaja sedang menunggunya di situ.

“Kau tampak sangat gembira malam ini, Ratna” kata ayahnya sambil terus asik melinting rokok kawung.

Ratna tertunduk, menggigit bibirnya. Sambil terbatuk dan mendehem kecil ayahnya lambat-lambat berkata.

“Ayah semakin tua dan rapuh. Kadang-kadang ayah lupa  bahwa  kau  kini  sesungguhnya  sudah  dewasa. Adalah wajar setiap manusia harus menemukan jodohnya masing-masing… Ayah pun pernah muda, Nak. Jadi ayah pun tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam hatimu itu.”

Wajah Ratna kian bertambah merah. Dengan perasaan haru ia bersimpuh di haribaan ayahnya. Lengan tua itu begitu lembut membelai kepala sang putri yang manja ini dengan penuh kasih sayang.

“Giran seorang muda yang baik. Ayah percaya cintanya terhadapmu itu adalah suci” Hening sejenak, lengan tua itu terus membelai kepala Ratna.

“Kalau saja ibumu masih ada, kau tentu akan lebih banyak memperoleh bimbingan serta nasihat-nasihat berharga, sebagai bekal hidupmu kelak.”

Air mata Ratna berlinang-linang ke pipinya dan membasahi celana kusam ayahnya.

“Tapi pesan ayah, batasilah pergaulanmu dengan Giran…!  Kita  harus  tahu  diri,  Nak.  Kita  miskin  dan bodoh,  satu-satunya  harta  yang  kita  miliki  hanyalah harga diri dan kehormatan sebagai manusia. Hanya itu! Sedangkan Giran, dia dari keluarga orang berada serta berpengaruh. Meski Giran pribadi tidak pernah mengagulkan diri karena itu. Bertaqwalah selalu kepada Tuhan, karena hanya Dia-lah yang menentukan jalan hidup segala makhlukNya”

Ratna  cuma  bisa  mengangguk  kepala  di  haribaan Ayahnya.

***

“APA katamu Giran? Kau mau kawin dengan Ratna, anak si Kewot, si tua renta itu?!” terbelalak mata Tuan Tanah memandang putra sulungnya dari kursi-malasnya.

Giran mengangguk dengan mantap, semantap hatinya yang sudah siap menghadapi rintangan apa pun.

“Sungguh-sungguhkah  kau?”  tanya Ayahnya dengan suara tinggi. Sekali lagi Giran mengiyakan dengan pasti. Tuan Tanah tersenyum memandang putranya yang sudah dewasa itu.

“Bagus. Aku lamarkan Ratna untukmu hari ini juga! Kita rayakan pesta semeriah-meriahnya” Begitu mantap dan bersemangatnya suara Tuan Tanah ini. Subaidah melirik wajah Mirta yang tersandar di ujung meja dengan wajah masam.

“Aku memang berharap bisa cepat punya mantu dan menggendong cucu. Ha ha ha…” Gembira sekali Tuan Tanah ini. Tentu saja yang paling gembira dan bahagia ialah  Giran  sendiri.  Tuan  Tanah  tiba-tiba  berpaling kepada istrinya.

“Eh, kenapa diam saja, Bu? Kau juga tentu gembira, bukan Bu?” tanya Tuan Tanah kepada istri mudanya ini.

Subaidah tersipu dan menjawab dengan gugup.

“S… s…   sudah tentu Pak! Siapakah yang takkan gembira menyambut hari bahagia itu? Saya akan menyiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya” katanya dengan senyum amat dipaksakan.

Mirta melangkah keluar dengan wajah tak sedap dipandang.  Sementara  suara  Tuan  Tanah  masih terdengar berbicara dengan Giran, membuat Mirta bertambah mual.

Subaidah menyusul putranya keluar. Mirta berdiri di luar gedung dengan wajah cemberut. Didekatinya putra kesayangannya ini.

“Bangsat! Dia rebut si Ratna dari tanganku” gerutu Mirta sambil bersungut-sungut.

“Ibu tahu perasaanmu, Nak. Tapi kau masih terlalu muda untuk berumah tangga” bujuk ibunya.

“Apakah si Codot Giran itu lebih dewasa, lebih pandai dariku?  Huh!  Dasar  Ayah  memang  selalu pilih kasih!” gerutunya dengan termonyong-monyong. “Anak keparat itu memang selalu menyakitkan hatiku. Biarlah, Ita pergi saja dari rumah ini, daripada dihina begini!”

“Sabarlah,   Mirta.   Ibu   ada   daya…” kata ibunya mendekat dan berbisik di telinga Mirta.

Di luar kesadaran mereka, ada sepasang telinga lain yang menangkap pembicaraannya itu. Orang ini ialah Samolo yang berada tidak jauh dari tempat itu.

***

MALAM  telah  larut,  terdengarlah  suara  bergeletak lunak  di  pintu  gubuk  Ki  Kewot.  Sesaat  kemudian  di antara keremangan cahaya lampu teplok tampak dua sosok bayangan laki-laki menyelinap masuk. Ketika keduanya masuk ke dalam kamar tidur Ratna, dua laki- laki ini jadi menahan napas. Memandangi tubuh molek itu terbaring dengan nyenyaknya. Tampak salah seorang yang bertubuh gempal itu menelan liur. Ratna sekonyong- konyong terbangun dan sangat kaget melihat dua laki-laki bertopeng kain sarung itu berada di hadapannya. Ia menjerit, tapi si tubuh gempal itu segera mencabut golok mengancamnya.

“Sssst, jangan ribut. Lihat apa ini!” bentaknya sambil menodongkan golok berkilat itu ke leher Ratna.

Lalu  tanpa  ayal  lagi  kedua  laki-laki  bertopeng  ini segera meringkus tubuh Ratna dengan selimut. Sia-sia gadis itu meronta dan menjerit, karena tubuhnya sudah dibopong dan dibawa kabur ke luar. Mendengar kegaduhan itu, Ki Kewot pun terbangun, memburu ke kamar putrinya. Tapi Kakek ini rubuh terjengkang diterjang dua penculik yang menerobos ke luar sambil membopong tubuh Ratna yang terbungkus kain selimut itu.

“Setan! Lepaskan anakku!” teriak Ki Kewot dengan panik. Belum lagi tubuh tua ini merayap bangun, sebuah tendangan telah membuatnya terguling lagi.

“Jangan gegoakan Ki. Sudah malam nih. Mending lu molor lagi dah!” hardik salah seorang dari penculik itu.

Ki Kewot berkutat untuk bangkit, tapi ia cuma mampu merayap sambil berteriak-teriak.

“Rampok…! Rampoook! Tolooooong!” pekiknya.

Teriakan Ki Kewot memecahkan kesunyian malam, tapi apa daya, gubuk itu terpencil di tepi persawahan. Dua penculik itu kabur dengan leluasa menembus kegelapan malam.

Ki Kewot berusaha mengejar, tapi ia jatuh tersungkur lagi di muka gubuknya. Dan penculik ini lari terus menerobos hutan jati dengan bungkusan berisi tubuh Ratna pada bahu salah seorang dari mereka. Berbareng dengan berdesirnya hembusan angin, muncullah dengan tiba-tiba sesosok tubuh tinggi besar menghadang di hadapan   mereka.   Kedua   penculik   ini   dengan   amat terkejut menghentikan langkahnya. Ditatapnya sosok tinggi besar itu. Di bawah kesuraman cahaya bulan tampak   orang   ini   sangat   mengerikan,   seakan-akan sesosok jin penunggu hutan jati yang tiba-tiba muncul dari perut bumi. Kedua penculik ini tersentak mundur beberapa langkah.

“Siapa di situ?” hardik si tubuh gempal agak gemetar.

Bulan tiba-tiba muncul dari balik awan, kedua penculik ini berseru hampir berbareng. “Samolo!”

“Dedemit! Lagi-lagi dia.” Sambung si tubuh gempal gemas. Ia meletakkan bungkusan berisi tubuh Ratna itu di   tanah.   Lengannya   tiba-tiba   sudah   menghunus goloknya.

Lu selalu mau usil dengan urusan orang lain. Kali ini lu pasti mampus. Serbu!”   teriak   si   tubuh   gempal mengajak kawannya untuk mengeroyok penghalang itu.

Si tubuh gempal langsung menerjang dengan sebuah sabetan ke arah dada Samolo, disusul pula dengan serangan temannya ke lambung centeng ini. Samolo dengan gesit berkelit sedikit. Bagaikan kilat telapak tangannya berkelebat menggocoh kepala si gempal. Menyusul pula tendangan menghantam perut si penculik yang seorang lagi. Maka dalam satu gebrakan saja, kedua penculik itu rubuh terjungkal ke bumi untuk tak bangun lagi.

Samolo membebaskan tubuh Ratna yang pingsan itu dari bungkusan selimut. Dengan sebuah pijatan lunak pada sisi tengkuknya, gadis ini segera menggeliat siuman. Samolo segera beranjak ke balik pohon. Tepat pada saat itu, cahaya-cahaya obor tampak muncul dari kejauhan, puluhan penduduk dengan berbagai senjata di tangan, hiruk-pikuk menyerbu masuk ke dalam hutan jati. Tampak Ki Kewot berjalan di muka sambil berkali-kali memanggil nama putrinya. Kemudian semuanya tertegun memandang Ratna yang terduduk, baru saja siuman dari pingsannya. Ki Kewot segera menubruk tubuh putrinya. Keduanya berangkulan sambil bertangisan.

Kedua penculik itu pun pada saat bersamaan siuman dari semaputnya. Sadar dengan keadaan yang tidak menguntungkan itu, keduanya langsung kabur sejadi- jadinya, nyaris jadi perkedel diamuk orang-orang sekampung.

Dari balik pohon, Samolo mau tak mau tersenyum juga menyaksikan tingkah dua penculik yang ketakutan setengah mati.

Dengan napas ngos-ngosan Sarkawi nongol di muka pintu  rumah  kasir  Samirun.  Subaidah,  Samirun  dan Mirta tanpa berkedip memandang mandor ini yang berjalan gontai seperti seorang hukuman yang melangkah ke tiang gnatungan. Melihat tampang lecek mandor, Subaidah  dan  Samirun  sudah  dapat  meraba  dengan pasti, bahwa rencana mereka telah gagal total lagi. Dan mereka tidak merasa heran. Tapi Mirta dengan bernafsu menyongsongnya.

“Beres, Wi? Lu simpan di mana gacoan gua?”

Tapi Mandor Sarkawi cuma tertunduk bungkam. Mirta jadi tidak sabar, dijambaknya baju Sarkawi dan diguncangnya keras-keras.

Lu bawa ke mana si Ratna, ha? Budek kuping lu?”

“Sudahlah.  Macam  gentong  nasi  begitu  mana  bisa beres kerjanya. Kalau disuruh menghabiskan nasi tujuh bakul, nah baru beringas dia” nyeletuk Subaidah dengan sinis.

Mirta betul-betul naik pitam.   Dicakarnya   muka Sarkawi hingga berdarah. Kemudian anak kolokan ini menghempaskan dirinya ke atas meja sambil sesambat dengan pilunya.

“Kalau begini, lebih baik Ita bunuh diri saja…   Buat apa hidup menderita, tanpa si Ratna di sampingku…”

Samirun dan Subaidah kewalahan membujuk putra-jadah-nya yang rada-rada senewen ini. Sarkawi benar- benar merasa sebal dan dongkol melihat ulah pemuda yang terlalu dimanja itu.

“Huh, kolokan banget.” celetuknya tanpa sadar.

Mirta makin berjingkrak mendengar ucapan Sarkawi. Dengan kalap diraihnya pistol Samirun.

“Gua mampusin lu!”    Teriaknya    sambil    siap menembakkan pistol itu ke arah Sarkawi.

Mandor Sarkawi jadi pucat seketika, ia mundur ke sudut dinding dengan dengkul gemetar.

“To…  tolong  Den  Kasir…  Cepat  ambil  pistol  itu…” ratapnya dengan terpatah-patah.

Tapi Samirun maupun Subaidah tetap dingin.

“Sumpah disambar geledek, saya sudah berhasil nyulik si Ratna, eh mendadak Samolo muncul bersama ratusan penduduk  kampung  mengeroyok  saya  berdua.  Si  Ucih mati dicincang kayak perkedel. Kalau saya kurang lihai, pasti sudah jadi bangke…” Kata Sarkawi megap-megap coba membela diri.

Mirta membanting-banting kaki uring-uringan. Subaidah menghiburnya sambil membelai kepala anak kesayangannya ini.

“Sudah,  sudah  jangan  kau  sedih,  Mir!  Ibu  akan carikan yang sepuluh kali lebih cantik dari si Ratna. Anak melarat itu tidak sepadan untukmu, Mirta!”

“Hati Ita cuma diisi oleh Ratna. Kalau Ibu mau carikan yang lain enggak menjadi soal. Yang penting Ratna harus jadi milik Ita dulu.” Rengek Mirta dengan kepala terbenam di pangkuan ibunya. Samirun menarik napas, kesal sekali nampaknya.

Ia merasa sangat   kecewa karena tidak berhasil memenuhi keinginan anak hasil hubungan gelapnya itu, yang juga amat dikasihinya secara diam-diam.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed