5

KEDAWUNG sebuah desa kecil dengan tanahnya yang amat   subur.   Hijau   oleh   ribuan   pohon   nyiur   yang melambai dihembus angin. Riak gelombang batang padi yang menguning di bentangan petak-petak sawah seluas mata memandang. Semua itu adalah milik seorang Tuan Tanah yang terkenal sangat kaya raya, juga sangat bijaksana serta murah hati. Seluruh penduduk desa itu amat menghormatinya dan menganggapnya sebagai junjungan mereka, melebihi para amtenar  atau pengusaha  lainnya  yang  terpaksa  tak  dapat  berbuat semau hatinya terhadap rakyat desa kecil itu.

Itu semua karena pengaruh Sang Tuan Tanah yang penuh wibawa itu. Ketika putra sulungnya yang diberi nama Giran, baru berusia tiga bulan, istri Tuan Tanah yang sama bijaksananya juga meninggal dunia. Kini istri mudanya   yang   bernama   Subaidah,   mengambil   alih seluruh kekuasaan dalam rumah tangga itu. Perawatan Giran sepenuhnya diserahkan kepada seorang pengasuh, Nyi Londe yang telah mengabdi di keluarga Tuan Tanah itu sejak ia masih kanak-kanak. Subaidah yang muda dan  cantik  itu,  tiap  hari  hanya  bersolek  dan  pesiar dengan kereta kuda, yang kadang-kadang dikusirinya sendiri. Atau ditemani oleh Kasir Samirun, seorang kasir merangkap pemegang tata buku keuangan sang Tuan Tanah. Tubuhnya tinggi kurus, cukup tampan dengan sebuah kumis kecil di atas bibirnya yang tipis, pertanda pandai bicara dan banyak akal.

Nyi Londe mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga  Tuan  Tanah  tersebut.  Ia  begitu  menyayangi Giran   dan   mengasihinya   seperti   anak   kandungnya, bahkan dihidupkannya anak itu oleh air susunya sendiri.

Sering, bila Giran telah tertidur lena di emper buruk kamar Nyi Londe, perempuan ini memandangi wajah mungil yang belum kenal dosa itu dengan mata berkaca- kaca. Hatinya terasa perih. “Anak yang malang. Jika ibumu  masih  ada,  kau  tentu  tidak  hidup  terasing  di tengah keluargamu sendiri yang serba berkecukupan ini” ratapnya sambil membelai kepala anak asuhannya.

Subaidah, sang istri muda ini ternyata pandai mengambil hati. Bila di hadapan suaminya, ia senantiasa berlaku begitu menyayangi anak tirinya itu. “Kasih Ibu”- nya betul-betul ditonjolkan dengan penuh kasih sayang. Dan Subaidah pun kemudian melahirkan seorang putra, ialah Mirta. Perlakuan yang menyolok terhadap kedua anak itu segera terjadi, jika sang Tuan Tanah yang sering bepergian ini tak berada di rumah. Subaidah meraih baju Giran yang cukup bagus itu dan digantinya dengan baju penuh tambalan. Lalu bocah itu dilempar ke pelukan Nyi Londe, yang segera membawanya ke dalam emper buruknya di belakang gedung megah itu. Barang mainan Giran pun adalah hasil buatan Samolo dan hasil rajutan Nyi Londe. Sementara Mirta sudah bosan dengan mainannya yang mahal-mahal yang khusus dibeli di Batavia.

Pada  suatu  hari,  Samirun  dengan  diiringi  Mandor Sarkawi,  baru  pulang  keliling  kampung  melaksanakan penagihan kepada para penduduk. Ia langsung melapor kepada Tuan Tanah yang sedang berda di ruangan dalam.

“Semuanya beres, Den Besar. Kecuali Ki Kewot, sudah hampir tiga bulan ini dia nunggak terus. Selain itu dia pun terlalu besar kepala, Den Besar!” Lapor kasir yang cerdik dan pandai menyenangkan majikannya ini, sambil memperlihatkan  catatan   di   bukunya.   Namun   Sang Majikan cuma mendehem sambil menghisap cerutunya.

Jawabannya pun di luar dugaan.

“Biarlah. Aku tahu orang tua itu akhir-akhir ini sering sakit” katanya penuh bijaksana. Lalu sambungnya, “Dia memang sudah terlalu tua untuk bekerja di sawah. Aku kasihan melihat keadaannya. Samirun, coba kau berikan uang se-ringgit kepadanya. Suruh dia berobat!”

Samirun yang sedang senyum-senyum bermain mata dengan Subaidah, jadi terkejut. Dengan gugup ia mengangguk.

“Ba…   baik,   Den   Besar.”   Lalu   melangkah   keluar ruangan diikuti Mandor Sarkawi yang menunggu di pintu. Kerlingan mata Samirun dibalas oleh senyum genit Subaidah. Hal itu tak lepas dari perhatian Samolo yang sedang bermain dengan Giran di sudut ruangan.

Tapi ketika Samirun dan Sarkawi mendatangi Ki Kewot di gubuknya, perintah majikannya ternyata diabaikan. Ia berdiri bertolak pinggang di muka gubuk itu dengan congkaknya.

“Hei, Kewot! Tuan Besar marah sekali. Kamu diberi waktu seminggu untuk melunasi hutangmu. Mengerti?” bentaknya. Ki Kewot yang sedang menganyam bakul, terbungkuk-bungkuk memohon kebijaksanaan. Ratna putri kecilnya berdiri ketakutan di sisinya.

“Seminggu? Dari mana saya dapat uang buat bayar, Den? Belum lagi bunganya…!” keluh kakek ini.

“Itu urusanmu. Seminggu, atau tahu sendiri!”

Sambil bersungut-sungut Samirun melangkah meninggalkan muka gubuk itu. Tongkatnya terayun-ayun dengan lagak seorang bangsawan terhormat. Sementara tangan Sarkawi jadi gatal ketika melihat ayam jago Ki Kewot  yang  sedang dikurung itu. Serta-merta disambarnya   ayam   itu.   Ia   menyusul   si   kasir,   dan merengek sambil mengikuti di belakangnya.

“Tambahin  setalen  lagi,  Sir…!  Buat  main  sintir  di rumah Mat Tompel enter malam nih” Rengeknya sambil terus menadahkan tangannya seperti pengemis. Samirun mendelik dan membentak.

“Sialan! Sudah ngembat ayam, masih mau minta duit lagi? Serakah banget lu…”

Sarkawi tertawa cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya  yang  tidak  gatal.  Ki  Kewot  mengumpat  di dalam hati, betapa ia begitu muak melihat kedua pemeras itu. Entah sudah berapa banyak penduduk Kedawung ini dibuat sengsara oleh kedua orang itu. Bahkan sampai ada yang  gantung  diri  karena  putus  asa  dan  ketakutan, akibat ancamannya.  Ki  Kewot  masih  mencoba  untuk tetap  tabah,  karena  ia  tahu  benar  dengan  sifat  Tuan Tanah yang selalu bermurah hati terhadap orang-orang yang benar-benar tidak mampu. Sejak lengannya sudah tak sekuat dulu lagi untuk mengangkat cangkul, karena penyakit   rematiknya   semakin   menyiksanya,   kini   ia jarang-jarang bisa turun ke sawah milik Tuan Tanah itu. Hingga hutangnya semakin menumpuk. Padahal Tuan Tanah sendiri tidak pernah membebankan para penghutang itu dengan bunga renten yang amat mencekik leher itu. Jelas itu hanya ulah sang kasir saja yang mengeruk keuntungan untuk kantongnya sendiri. Semua penduduk mengetahui kecurangan Samirun, namun tak seorang pun berani melapor kepada majikannya. Apalagi ketika seorang pemuda didapati terkapar jadi mayat tak berkepala di tengah sawah, karena berniat lapor kepada Tuan Tanah tentang pemerasan yang sering dilakukan oleh Samirun serta para begundalnya yang belasan jumlahnya itu. Ki Kewot hanya mampu mengumpat di dalam hati, sambil mengelus kepala putrinya yang menangis karena ayam kesayangannya telah dirampas oleh Sarkawi. Mandor itu selalu setia mengikuti kasir Samirun  bila  sedang  masuk  kampung  untuk  menagih dan memeras rakyat kecil. Karena ia selalu kebagian rejeki. Dari sosok tubuhnya yang gendut itu, sudah dapat diperkirakan bahwa mandor itu memang cuma bisa berfoya-foya. Kerjanya cuma bermuka-muka, mabuk- mabukan, main judi dan perempuan.

Sangat berbeda dengan sifat Samolo. Centeng bertubuh tinggi  besar  ini,  meski  bercambang  dan  memelihara kumis serta janggutnya cukup lebat, tak terlihat kesan garang pada wajahnya. Sikapnya selalu tenang penuh wibawa. Jarang bicara bila tak perlu. Samolo sangat menghormati Tuan Besarnya. Pengabdiannya terhadap keluarga Tuan Tanah Kedawung itu begitu tulus, dan semata-mata   didorong   oleh   rasa   balas   budi.   Jauh sebelum Tuan Tanah itu sejaya sekarang, Samolo pernah ditolong olehnya dari kehancuran akibat tragedi keluarganya. Kini ia mengabdi di gedung besar itu sebagai centeng. Sebagai cucu murid sang Hyang “Bu’uk Perak” pendiri Perguruan “Krakatau” yang legendaris itu. Samolo telah mewarisi sebuah aliran ilmu beladiri yang sangat unik dan langka. Ilmu pukulan tangan kosongnya tak ada tandingannya di wilayah Kedawung dan sekitarnya, bahkan mungkin di seluruh Jawa Barat. Karena ilmu beladiri  perguruan  “Krakatau”  tak  ada  duanya  lagi  di jagad  ini.  Sang  Hyang  Bu’uk  Perak  hanya  memiliki seorang murid bernama Biang Tarona. Biang Tarona sendiri cuma memungut Samolo seorang sebagai muridnya. Itu pun terpaksa dilakukan demi melacak jejak seorang murid Krakatau yang telah ingkar dan murtad, yang kemudian ternyata murid murtad yang harus dihukum  itu  adalah  ayah  kandung  Samolo  sendiri. Sebuah pertarungan hebat antara dua saudara perguruan Krakatau itu terjadi, tepat pada saat gunung Krakatau meletus dengan teramat dahsyatnya. Seluruh pesanggrahan perguruan itu musnah bersama pendekar- pendekar perkasa itu. Samolo terdampar setelah digulung ombak  raksasa.  Ditolong  oleh  Tuan  Tanah  Kedawung, yang sedang mengungsi di sebuah wihara yang secara ajaib  luput  dari  sapuan ombak yang menelan seluruh pesisir pantai Bantai hingga jauh ke tengah.

(Kisah ini dapat dibaca dalam novel “KRAKATAU”).

Meskipun memiliki ilmu beladiri yang cukup tangguh, Samolo  tetap  rendah  hati. Ia tak pernah mempertontonkan kebolehannya  itu di hadapan siapapun, meski kepada para maling kerbau sekalipun. Bagi kasir Samirun, sikap Samolo yang pendiam dan taat beragama itu, membuatnya agak segan dan selalu ragu- ragu mendekati. Paling-paling ia hanya bicara seperlunya pada saat membayar gaji centeng itu. Itu pun Samolo tak pernah memintanya. Bagi Samolo sendiri bukan ia tidak mengetahui sepak terjang Samirun bersama para begundalnya itu di luaran. Namun ia enggan melaporkan hal itu kepada majikannya, sebab ia tak mau menyusahkan hati Tuan Tanah yang diketahuinya berpenyakit lemah jantung itu. Maka sering uang gajinya diberikan kepada para penunggak hutang, agar tidak jadi korban pemerasan Samirun dan Mandor Sarkawi. Cuma sejauh itulah yang bisa dilakukan Samolo untuk sekedar menghindarkan persoalan yang bisa menjengkelkan dan merongrong  hati  majikannya.  Bantuan  terhadap  para penduduk pun dilakukannya selalu secara diam-diam, dengan menyelinap dan menaruh uangnya di atas bale- bale atau meja penduduk pada saat si penunggak hutang tersebut sedang bekerja di sawah atau sedang tidur pada malam harinya. Tak seorang pun mengetahui perbuatan Samolo, dan ia pun tak ingin orang lain mengetahuinya, kecuali Nyi Londe, yang sangat akrab dengannya. Pengasuh Giran inilah yang selalu memperhatikan makan serta pakaian Samolo. Bila ada pakaian Samolo yang bolong atau koyak, dialah yang menjahitkannya. Nasib membuat keduanya menjadi akrab, seakrab dua orang bersaudara kandung. Bila Samolo sedang tak ada tugas lain, ia acapkali membantu memomong Giran, atau membelah kayu, atau bahkan menumbuk padi di emper dekat dapur itu bersama Nyi Londe yang biasanya sedang menyuapi Giran.

Suatu sore Samolo dan Nyi Londe sedang menyuapi Giran  di  emper  belakang.  Samolo  berhenti  membelah kayu karena mendengar suara tertawa cekikikan seorang perempuan dari balik pohon mangga yang tumbuh di halaman belakang gedung itu. Nyi Londe dan Samolo diam-diam memperhatikannya. Tampak Nyonya Muda Tuan Tanah yang centil itu sedang berdekapan dengan mesranya dengan Samirun.   

Samar-samar terdengar Subaidah berkata setengah berbisik, “Tiga hari lagi usia Mirta   genap   tiga   tahun,   Bang…      Aku   pikir   mau merayakan ulang tahunnya. Hadiah apakah yang akan Abang berikan kepada anak kita itu nanti?”

“Sebuah kalung. Untukmu hadiahnya pasti lebih istimewa.” Kata Samirun sambil mencubit pipi kekasih gelapnya  ini.  Subaidah  tertawa  cekikikan  lagi  sambil balas mencubit lengan Samirun dengan genitnya. Lalu sambil bergandengan   keduanya   masuk   ke   dalam gudang…

Samolo dan Nyi Londe tertegun. Pemandangan yang baru saja dilihat dan didengarnya betul-betul sangat mengejutkan mereka. Gejala-gejala main gilanya kedua insan itu sebenarnya sudah lama diterka oleh Samolo dan Nyi Londe. Namun mereka tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa penyelewengan nyonya muda majikannya itu sudah demikian jauh dan sudah di luar batas. Dan kini mereka baru tahu, bahwa sesungguhnya Mirta adalah hasil benih penyelewengan dua makhluk tak bermoral itu. Samolo dan Nyi Londe baru sadar kini, mengapa wajah Mirta beda benar dengan Tuan Tanah, bahkan wataknya yang keras suka ngamuk dan tak mau diam bila belum diberi uang. Kerakusan terhadap uang yang sudah terlihat dalam usia sekecil itu betul-betul aneh. Namun jelas roman muka dan watak Mirta adalah duplikat dari Samirun sendiri. Anak itu terlalu dimanja oleh ibunya. Apa saja kemauannya tak pernah tidak dituruti. Tuan Tanah sendiri sering menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut dada melihat watak “Si Bungsu” yang menguji kesabarannya. Samolo dan Nyi Londe jadi merasa sangat kasihan kepada nasib majikannya. Namun apa yang dilihat dan didengarnya sore itu tetap tersimpan rapat-rapat di dasar hati Samolo dan Nyi Londe. Mereka sama-sama berjanji, demi keutuhan rumah tangga majikannya, lebih baik rahasia itu pecah di perut dari pada pecah di mulut.

Waktu berjalan terus, lima belas tahun telah berlalu.

Kini Giran dan Mirta sudah sama-sama tumbuh jadi pemuda-pemuda dewasa. Watak serta fisik Mirta makin mirip Samirun. Namun tak seorang pun berani menggunjingi persoalan itu, karena tak sampai hati menyudutkan wibawa Tuan Tanah yang sangat bijaksana itu. Mirta sebagai putra kesayangan nyonya Tuan Tanah yang  berkuasa,  tiap  hari cuma  keluyuran  menggoda gadis-gadis desa. Mandor Sarkawi merupakan pengawalnya yang sama brutalnya, makin menambah resahnya para penduduk desa Kedawung. Sebagai anak orang mampu, apalagi ayahnya adalah seorang berpendidikan, Giran dan Mirta disekolahkan di sebuah sekolah cukup terpandang saat itu. Letaknya cukup jauh, di Tangerang. Samolo-lah yang setiap hari mengantar dengan delman pribadi. Namun Mirta sering bolos. Ada saja alasannya, sakit kepala atau sakit bisul paling sering dijadikan alasan untuk tidak masuk sekolah. Ayahnya selalu memarahi dan menegur kemalasan putra bungsunya     itu.     Namun sang ibu senantiasa memanjakannya hingga lama-kelamaan Tuan Tanah pun memasa-bodohkannya. Tak heran akhirnya Mirta jebol sekolah karena berkali-kali tidak naik kelas. Makin liarlah pemuda ini, berkeliaran sepanjang hari bersama mandor Sarkawi.  Tuan  Tanah  makin  sering  mengurut  dada melihat kelakuan “putra” bungsunya kini.

Sebaliknya     prestasi     sekolah     Giran     sungguh membanggakan hati ayahnya. Namun pemuda tampan ini tak pernah menjadi manja, apalagi besar kepala. Ia selalu bersikap  wajar  dan  lugu.  Penampilannya  sangat sederhana sebagai putra seorang Tuan Tanah yang sangat kaya raya dan berpengaruh di desa itu. Giran pun sangat berbakti dan patuh kepada kedua orang-tuanya. Ia sangat sayang kepada Mirta. Setiap pulang sekolah selalu ada saja makanan yang dibeli untuk adiknya itu. Untuk melanjutkan sekolahnya Giran terpaksa harus pindah ke Batavia. Tinggal di asrama sekolah. Pada masa liburannya yang pertama, Giran pulang menengok orang tuanya di Kedawung.   Namun   betapa   sedih   hatinya,   ternyata ayahnya sedang dalam keadaan sakit. Ketika baru saja ia turun  dari  delman,  Samolo  sudah  menyambutnya dan memberi tahu tentang keadaan kesehatan sang ayah kepadanya. Giran bergegas masuk ke dalam kamar orang tuanya. Dilihatnya orang tua itu terbaring dengan wajah pucat di pembaringan. Ibunya dengan berseri-seri masuk juga ke dalam kamar itu. Giran mencium lengan ayah- ibunya, duduk di sisi pembaringan.

“Mengapa ibu tidak memberi kabar kalau ayah sakit?” Subaidah agak gugup. Ayahnya cepat berkata sambil tersenyum.

“Ibumu tak mau mengganggu sekolahmu, Giran. Lagi pula sakit ayah tak seberapa. Dokter cuma menasihati agar banyak istirahat. Tidak apa-apa, beberapa hari lagi pasti sembuh.”

Namun Giran merasa cemas juga, hampir setiap hari ia merawat dan menjaga ayahnya.

Sementara itu, pertemuan Subaidah dan Samirun makin kerap terjadi. Malam itu kedua insan tak bermoral itu bermesraan di dalam gudang, tempat pertemuan rahasia mereka.

“Bagaimana dengan keadaan tua-bangka itu hari ini? Hati-hatilah dengan anaknya itu” terdengar suara Samirun.

“Jangan khawatir. Bocah itu terlalu polos dan sangat patuh kepadaku. Si tua-bangka itu lambat laun pasti pessss…!” Kata Subaidah sambil tertawa terkikih-kikih.

“Bubuk obat yang Abang berikan itu, telah kucampur dalam  buburnya  setiap  pagi.  Itu  sudah  berlangsung setengah tahun, tapi kok belum apa-apa…!?”

“Sabar saja. Bubuk itu memang kerjanya lambat tapi pasti…!” kata Samirun tenang sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Agar kematiannya nanti terlihat wajar.” Sambungnya dingin.

Saat itu sesosok bayangan tinggi besar tegak terpaku di luar jendela. Wajahnya tampak berkilat karena basah oleh peluh. Gerahamnya bergemeletuk menahan geram. Hampir saja ia mendobrak daun jendela itu, menyeret kedua manusia keji tersebut dari dalam kamar lalu melumatnya tanpa ampun. Namun Samolo berusaha menekan gejolak amarahnya. Ia harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan majikannya. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat bagaikan kucing. Ringan dan gesit tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Beberapa detik kemudian ia sudah mengetuk jendela emper bilik Nyi Londe. Pengasuh Giran ini keluar dan Samolo segera memberi tahu tentang rencana busuk Subaidah dan Samirun yang berhasil didengarnya tadi. Kening Nyi Londe yang mulai keriput ini tampak makin berkerut.

“Keji! Betul-betul keji!” gumamnya.

“Kedua setan itu harus dilenyapkan sekarang juga.” bisik Samolo sambil mengeretakkan giginya. Sinar matanya tajam berkilat penuh dendam.

“Itu justru akan menambah parahnya sakit Den-Besar. Beliau sangat mencintai perempuan durjana itu. Itulah sulitnya”

“Tapi nyawa Den-Besar harus diselamatkan, Nyi!”

“Tentu! Tapi masih ada cara lain!”

“Cara bagaimana?”

“Menukar bubur itu sebelum disajikan kepada Den-Besar. Ini memang merepotkan dan sulit. Karena Subaidah-lah yang selalu menyajikan bubur itu” kerut- kerut di kening Nyi Londe tampak semakin nyata.

“Yang penting, kalau saja aku bisa menciri penyimpan bubuk racun itu” katanya perlahan.

“Jika caramu tak berhasil, terpaksa carakulah yang digunakan!” kata Samolo mantap.

Esok  paginya,  Nyi  Londe  sudah siap dengan bubur panasnya, tatkala Subaidah mengambil sepiring untuk disajikan kepada    suaminya.    Pada    saat    Subaidah membubuhi “bumbu” pada bubur tersebut, Nyi Londe diam-diam sudah siap dengan sepiring bubur lainnya. Ia pura-pura  sibuk  tapi  matanya  memperhatikan  gerak-gerik   nyonya majikannya   itu.   Subaidah   mengambil sebuah botol kecil dari balik pending emasnya, lalu isinya yang berupa bubuk putih itu ditaburkan sedikit ke dalam bubur. Botol kecil itu di masukkan kembali ke dalam pendingnya. Mata Nyi Londe memperhatikan semuanya.

Tepat ketika Subaidah menuang minuman dari poci di atas meja teh itu, Nyi Londe segera menukar piring bubur itu dengan piring bubur yang telah dipersiapkan olehnya. Tanpa curiga Subaidah membawa piring bubur tersebut ke dalam kamar tidur Tuan Tanah. Nyi Londe bernapas lega, lalu membuang bubur yang telah dibubuhi serbuk racun berdaya lambat itu ke dalam selokan. Demikianlah pertolongan  Nyi  Londe  dalam  usaha  menyelamatkan nyawa majikannya, yang dilakukan setiap pagi dan sore hari. Itu berlangsung terus sampai berbulan-bulan lamanya. Tiga bulan kemudian, Giran pulang liburan sekolah untuk kedua kalinya. Dilihatnya sang ayah masih terbaring sakit, namun keadaannya tidak seburuk dulu lagi. Wajah orang tua itu nampak merah dan segar. Yang dikeluhkannya cuma rasa perih di perut, yang kadang- kadang  menyerang  dengan  hebatnya.  Menurut  Dokter yang  khusus  datang  dari  Batavia  seminggu  sekali  itu, ayah Giran menderita radang usus dan lambung yang cukup akut. Namun kini keadaannya sudah mulai berangsur membaik. Kecuali tekanan darah tingginya, perlu pengawasan terus menerus. Terutama penyakit “lemah jantung”-nya itu.

Giran benar-benar merasa terharu melihat ketelatenan ibunya merawat ayahnya. Selama Giran berada di rumah, ibunya seakan-akan tak pernah beranjak dari sisi pembaringan, merawat serta mengurus ayahnya dengan penuh  kesetiaan dan  kasih  sayang  yang  nampaknya begitu tulus. Hal itu membuat Giran makin menghormati dan menambah tebal perasaan kasihnya terhadap ibu tirinya itu. Bahkan menganggap ibunya adalah cermin dari tipe seorang istri yang begitu agung dan sempurna. Di hatinya selalu berangan-angan, bila kelak ia beristri, gadis  itu  haruslah  mirip  denga  sikap  serta  perilaku ibunya. Betapa pandainya Subaidah berperan dalam sandiwara yang skenarionya dibuat secara matang oleh Samirun, kasir yang cerdik dan amat pandai mengatur taktik dan strategi, dalam usahanya merebut kekuasaan serta seluruh harta kekayaan Tuan Tanah berpengaruh di Kedawung itu. Sebenarnya keadaan ayahnya yang kini sudah nampak tua dan berpenyakitan, telah membuat Giran  banyak  berpikir.  Ia  merasa  dibebani  tanggung jawab sebagai putra sulung, untuk membantu meringankan penderitaan ayahnya itu. Kini sudah waktunya bagi Giran untuk bertindak sebagai wakil sang ayah mengurus seluruh usahanya. Sebuah pabrik penggilingan beras di Mauk milik ayahnya itu kini nyaris terbengkalai. Sejak ayahnya sakit, usaha tersebut tak terawasi  lagi,  hingga  pihak  Pemerinta  Hindia  Belanda yang mengontrak hasil beras dari penggilingan tersebut sudah beberapa kali menegurnya dan yang terakhir ingin menyitanya pula.

Pengurus  yang  diserahkan  tugas  untuk  mengelola Pabrik penggilingan beras itu pun ternyata kurang cakap, bahkan diketahui kemudian, pengurus itu telah memakai uang kas pabrik untuk mengawini seorang gadis setempat dan membelikan perhiasan yang mahal sebagai mas kawinnya.   Mendengar   laporan   tersebut,   ayah   Giran benar-benar naik pitam, dan penyakit jantungnya kumat lagi. Samirun diperintahkan untuk mengurus kasus korupsi tersebut dan agar si pengurus itu diseret kepada yang  berwajib  untuk  diadili.  Tapi  di  luar  tahunya, rupanya  Samirun  telah  memanfaaatkan  kejadian  itu dengan memeras si pengurus. Akibatnya kasus korupsi tersebut tetap membeku. Dan pabrik penggilingan beras terus berjalan tersendat-sendat.

Giran segera mengambil alih persoalan pabrik penggilingan beras itu.

Pada suatu hari dengan diiringi Samolo, ia pergi ke pabrik itu dan memeriksa seluruh pembukuannya. Diketahuinya secara pasti serta dengan bukti-bukti yang nyata tentang penyelewengan karyawannya itu. Maka kasus yang amat merugikan perusahaan serta nama baik ayahnya itu, segera dilimpahkan  kepada pihak yang berwajib. Si pengurus yang korup itu telah ditindak melalui pengadilan yang cukup  bertele-tele dan makan waktu. Akibatnya Giran pun terpaksa harus berhenti sekolah. Dan hal ini pun sebenarnya yang diharapkan Giran, agar bisa sepenuhnya membantu ayahnya. Namun Samirun yang licik itu dapat lolos dari libatan tali hukum berkat kecerdikannya, dan tanpa menimbulkan prasangka serta curiga siapapun. Di hadapan mata Giran, kasir ini tetap adalah seorang pegawai yang berpredikat baik. Samolo hampir saja melucuti kedok kasir licik ini, kalau saja ia tidak mau berpikir panjang, khawatir buntut persoalan ini akhirnya akan mengungkap masalah kehormatan keluarga majikannya. Centeng ini terpaksa harus menelan segala kedongkolan hatinya sendiri.

Giran kini secara serius mengambil alih pengurusan seluruh perusahaan ayahnya. Merombak segala sesuatu yang selama ini terbengkalai. Maka dalam waktu yang relatif singkat, perusahaan penggilingan berasnya sudah mulai berjalan lancar lagi. Juga beberapa perkebunan milik keluarganya itu turut dibenahi dengan tuntas. Ia tak segan-segan lagi memecat karyawan yang tidak disiplin,   apalagi   yang   terbukti   berlaku   tidak   jujur. Tenaga-tenaga baru pun ditambah dari para penduduk desa Kedawung, dengan upah yang cukup memadai. Kebijaksanaannya itu mendapat sambutan simpatik dari para penduduk, yang selama ini hidup dalam kemiskinan, karena mereka kebanyakan memang para penganggur.

Perubahan besar itu sangat menggembirakan ayahnya. Tuan  Tanah  ini  merasa  bahagia  mempunyai  seorang putra yang patut dibanggakan. Sebaliknya bagi Samirun dan Subaidah, kemunculan Giran sebagai penerus dinasti Tuan  Tanah yang penuh kharisma itu, justru menjadi duri di dalam dagingnya. Mereka mulai berkasak-kusuk secara rahasia, merencanakan suatu taktik baru untuk menyingkirkan sang penerus yang jadi penghalang ini.

Dalam     waktu-waktu     senggang,     Giran     selalu memanfaatkannya untuk bercengkerama dengan para penduduk. Di antara yang sering dikunjunginya adalah Ki Kewot. Petani tua ini sekarang lebih banyak berada di gubuknya, hanya kadang-kadang saja turun ke sawah untuk mencangkul dan mengurus sawah milik Tuan Tanah. Giran tak pernah lupa mencangking bungkusan bila berkunjung ke gubuk orang tua itu. Sekedar oleh- oleh untuk Ki Kewot dan Ratna, putri cilik yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat rupawan. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa akhir-akhir ini Giran sangat rajin bertandang ke gubuk orang tua itu. Samolo yang selalu setia mengawalnya, kadang-kadang suka   tersenyum   sendiri   melihat   tingkah   majikan mudanya   yang   masih   serba   rikuh  bila  berhadapan dengan gadis rupawan itu. Namun sikap canggung dan salah tingkah itu menjadi hilang setelah hubungan kedua muda-mudi tersebut semakin intim. Dan senyum Samolo pun  berganti  dengan  sebuah  harapan  serta  doa  di hatinya. Semoga putra sulung majikannya ini bisa mewarisi sifat serta keluhuran budi sang ayah. Kecuali nasib buruk sang ayah sebagai suami yang dikhianati istrinya itu, tidak menurun kepadanya. Perkembangan perilaku Giran yang agaknya mulai diresapi getaran cinta remaja itu, selalu diberi tahu Samolo kepada Nyi Londe. Pengasuh yang amat setia itu selalu berbinar bola matanya, mendengar kisah asmara putra asuhannya yang teramat disayanginya itu. Hati kedua abdi yang setia ini senantiasa berdebar, menanti perkembangan asmara itu dengan penuh perhatian. Seakan-akan mereka berdualah yang akan mengambil menantu.

Pada suatu hari, sepulangnya Giran mengantar dokter yang merawat ayahnya ke Batavia, ia berpapasan dengan

Ratna yang baru saja pulang dari sungai mencuci baju.

Gadis ini berjalan beriringan dengan teman-temannya sambil bercanda. Melihat Giran datang, teman-teman Ratna segera menggoda.

“Ratna, Arjunamu datang tuh. Hi… hi… hi…”

Sambil  tertawa  terkikih-kikih  gadis-gadis  desa  itu berlalu sambil berlenggang-lenggok dengan bakul cucian di pinggulnya masing-masing. Ratna tertawa lalu tertunduk dengan wajah memerah jambu. Giran menghentikan kuda keretanya.

“Ratna, habis mencuci baju?”

Ratna mengangguk, masih tertunduk.

“Bagaimana keadaan ayahmu?” tanya Giran lembut.

“Baik,” jawab Ratna perlahan dengan masih tertunduk. Giran   mengambil   sebuah   bungkusan   dari   dalam keretanya, ditaruhnya di dalam bakul cucian Ratna.

“Ada  sedikit  oleh-oleh  untukmu  dan  ayahmu,”  ujar Giran sambil tersenyum memandang gadis ayu ini.

“Terima kasih, Den…” kata Ratna tersipu, mengangkat wajahnya memandang Giran sejenak lalu tertunduk lagi. Ia tersenyum manis, pipinya tampak semakin merah seperti bunga mawar. Kemudian sambil mengempit bakul cuciannya ia melangkah pergi. Giran memandangi tubuh semampai yang molek itu, lalu naik ke atas kereta, menarik tali les kudanya dan berangkat pulang.

Tidak jauh dari situ, tampak Mirta ditemani mandor Sarkawi memandangi pertemuan Giran dan Ratna itu dari balik   pohon.   Mata   Mirta   tampak   merah   membara. Sarkawi segera mengipasi bara api kebencian yang sudah lama mencekam di mata dan hati pemuda ini.

“Rupanya abang Den Mirta ada hasrat juga terhadap ‘anak ayam’ Aden yang botoh itu. Kalau kalah cepat, bisa- bisa diserobot lebih dulu sama dia.” Ujar Sarkawi memanasi.

“Kurang ajar! Dia memang selalu memuakkan aku.” geram Mirta sambil memukul batang pohon dengan tinjunya. Lalu dengan langkah lebar mengejar Ratna yang berjalan di atas pematang sawah. Sarkawi berjingkrak mengikuti pemuda brandal itu. Cepat sekali Mirta sudah berada di sisi Ratna. Gadis itu dengan wajah cemberut berusaha menghindar. Ia merasa muak melihat pemuda binal ini yang sering kali mengganggunya. Mirta tertawa sambl  mencolek  bahu  Ratna  yang menghindar dengan mempercepat langkahnya.

Ke udik membawa lembing, Ke kota membopong senapan,

Jika adik merasa berat menjinjing, Biar abang tolong bawakan…  “

Mirta menggoda dengan rayuan pantunya. Sarkawi tertawa terbahak sambil lompat menghadang Ratna yang lari menghindar.

Mandor  bertubuh  gempal  ini  pun  ikut-ikutan berpantun sambil mencegat Ratna.

“Et… Et! Kelapa muda, kelapa cengkir,

Jangan ditaruh di atas tatakan. Kenapa Nona pergi menyingkir?

Jangan bikin hati Den Mirta berantakan!”

Mirta nyengir sambil menepuk bahu sang Mandor. “Bagus, Wi! Lusa gua persen se-gobang lu!

Sarkawi tertawa lagi sambil terus berusaha mencegat Ratna. Mirta mendekati gadis ini yang mulai makin ketakutan dan hampir menangis.

“Berliku-liku sungai Ciliwung.

Anak dara berdayung sampan. Jikalau Adik menjadi burung, Biarlah Abang menjadi dahan.” Mirta berpantun lagi.

Mata  Ratna  mulai  berkaca-kaca  karena  cemas  dan marah. Mirta malah makin berani dan lancang tangan. Dipegangnya lengan Ratna yang meronta ketakutan.

“Kenari si burung Kenari,

Kenari terbang ke hutan lebat. Mari, marilah jantung hati,

Hati abang aduh…  sudah ngebet”

Dengus Mirta dengan pantunya sambil mencoba mencium pipi gadis itu.

Ratna melempar bakul cuciannya ke tubuh Mirta, lalu lari   menelusuri   galangan   sawah.   Mirta   tercengang sejenak, kemudian lari mengejar. Sarkawi hendak ikut mengejar tapi matanya tiba-tiba tertumbuk pada bungkusan oleh-oleh dari Giran yang tercecer di antara

cucian Ratna itu. Dipungutnya bungkusan tersebut dan dibukanya. Matanya nanar memandang sehelai kain sutera berwarna hijau muda. Dan sebuah cangklong tembakau terbuat dari gading gajah yang semuanya tampak berharga sangat mahal. Sarkawi tertawa kegirangan, segera menyimpan barang-barang itu ke dalam bajunya. Kemudian dengan berlompatan ia menyusul Mirta.

Saat itu, Ki Kewot masih berada di tengah sawah sedang mencangkul. Lengannya tiba-tiba tampak jadi makin gemetar ketika dilihatnya putrinya berlari-lari ke arahnya sambil menangis. Sementara di belakangnya tampak  dua  laki-laki  mengejarnya.  Dari  jauh  jeritan Ratna memanggil-manggil ayahnya sudah terdengar. Sebelum rasa heran dan bingung kakek ini lenyap, putrinya sudah merangkul tubuh tuanya dengan gemetar lalu menyelinap di belakangnya. Mirta dengan napas memburu tiba di tepi sawah, disusul kemudian oleh Sarkawi.

“Oh, Den Mirta dan Bang Mandor…!” Sapa Ki Kewot dengan hormatnya.

“Ada apa? Maafkanlah kalau anak ini telah berlaku kurang   tahu   adat.   Maklumlah   kami   orang   bodoh. Maafkan Den”

Mirta dengan angkuh berdiri bertolak pinggang di atas pematang sawah. Matanya jalang menatap Ratna yang berdiri ketakutan di belakang tubuh ayahnya.

Sarkawi yang berdiri di samping Mirta segera berkata, “Hei  Ki!  Ente  patut  mengucap  syukur  ke  Gusti  yang kuasa. Karena nasib kalian bakal ketiban rejeki nomplok. Bolehnya Den Mirta bisa nyungsep hatinya begitu melihat Ratna. Berapa banyak anak-anak perawan pada ngantri ingin jadi mantu Tuan Besar tapi dilirik pun kagak sama Den Mirta”

Mirta   tersenyum   bangga   mendengar   sesumbar   si Mandor.

Ki Kewot mendengus kecil berusaha menyembunyikan kemuakannya melihat tingkah kedua orang yang selalu membuat onar itu.

Dituntunnya    tangan    Ratna.    Sambil    memanggul cangkulnya petani tua itu beranjak dari tengah sawah naik  ke  atas tanggul untuk pulang. Mirta tampak tak senang, ia memberi tanda dengan kerlingan matanya kepada Sarkawi. Serta-merta Mandor ini segera lompat menghadang si Kakek serta putrinya itu.

“Nanti dulu! Mau apa sih buru-buru pulang, Ki? Tahu diri sedikit, ah.” tegur Sarkawi dengan gaya menggertak.

“Maaf mandor, kami orang bodoh. Takut nanti berbuat salah lagi. Ijinkanlah kami pulang.” Kata Ki Kewot memohon.

Mirta tiba-tiba menarik lengan Ratna dan diseretnya dengan paksa ke arah sebuah dangau tempat berteduh para  petani  yang  dibangun  di  tepi  tanggul  itu.  Ratna menjerit minta tolong kepada ayahnya sambil meronta berusaha melepaskan diri. Ki Kewot jadi panik, namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, lengan Sarkawi telah memiting lehernya dan sebelah lengannya dipelintir lalu tubuhnya  dibanting  ke  tanah.  Tanpa  kenal  kasihan mandor segera menduduki tubuh petani tua itu yang sia- sia meronta tak berdaya. Lebih celaka lagi kaki Sarkawi dengan seenaknya menginjak kepala orang tua itu, hingga mulutnya terbenam penuh lumpur, tak mampu bersuara.

“Lepaskan…! Lepaskan…   Tolooooongg…!” jerit Ratna sambil terus meronta dan berpegangan kuat-kuat pada tangga dangau.  Mirta  bagaikan  hewan  lapar  berusaha menyeret mangsanya ke dangau itu.

Ki Kewot mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membebaskan diri dari tindihan tubuh Sarkawi yang gempal itu. Namun usaha kakek renta ini sia-sia. Malah kaki Sarkawi makin keras menginjak kepalanya.

“Tenang, Ki, tenang! Kenapa sih lu suka ngalang- ngalangi kesenangan anak-anak muda. Ente kan pernah muda dulu!” bentak Sarkawi dengan kurang ajar.

Tepat pada detik itu, sebuah tendangan telak menghantam punggung mandor, hingga tubuhnya terlontar dan terguling ke dalam sawah. Sesosok tubuh tinggi besar yang tiba-tiba sudah tegak di situ, segera membangunkan Ki Kewot. Kakek ini segera memburu ke arah dangau untuk menolong putrinya. Tarik-menarik terjadi.  Namun  akhirnya Mirta  kalah  tenaga,  langsung jatuh ke dalam lumpur sawah. Ki Kewot segera menarik lengan Ratna lari meninggalkan tempat itu.

Sarkawi dengan menahan sakit merayap naik ke atas tanggul  sawah,  matanya  nanar  mencari  si  pembokong tadi.  Punggungnya   terasa   remuk   seperti   diseruduk kerbau.

Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar menegurnya.

“Jangan membuat keonaran, Wi! Den-Besar sedang sakit. Kau tahu itu, bukan?”

Sarkawi terkejut, karena ia kenal benar dengan suara berat itu. Kemudian dilihatnya sesosok bayangan tinggi besar berkelebat dari bawah pohon, dan lenyap di tikungan jalan yang ditumbuhi semak-semak. Sarkawi meludah sambil mengumpat dengan geramnya, “Bangsat! Awas lu Samolo. Gua hirup darah lu.

Dengan tertimpang-timpang ia bangkit, menghampiri Mirta yang masih meronta-ronta terbenam di dalam lumpur. Ketika tubuh pemuda itu diangkat, Sarkawi hampir tak dapat menahan tawanya. Wajah dan tubuh Mirta hitam legam berlumur lumpur sawah, persis seekor lutung.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed