4

SEMENTARA itu, pertarungan antara Samolo dan Giran masih   berlangsung   dengan   sengitnya.   Jelas   terlihat Samolo hanya berusaha menghambat Giran, dan sedapat mungkin menghindarkan pertumpahan darah. Tiba-tiba wajahnya jadi tegang, karena naluri dan telinganya yang peka itu memperingatkan suatu bahaya yang mengancam Ratna dan Girin.

Selama  bertempur  itu,  perhatiannya  terpaksa harus terpecah dua. Sejak tadi ia tidak mendengar gerak-gerik Mirta di situ. Hal inilah yang sangat dicemaskan oleh Samolo. Dan ia merasa pasti pemuda sinting itu diam- diam menyelinap untuk mengejar Ratna dan Girin. Centeng tua ini mengeluh di dalam hati, serangan Giran tak sedikitpun memberi waktu luang padanya.

Tiba-tiba dengan sebuah pentilan menyilang,   ia berhasil membuat pisau Giran terpental ke udara dengan tongkat bambunya itu. Saat lowong itu digunakan Samolo untuk segera mencelat ke arah hutan jati. Giran mengumpat sambil memungut pisau pusakanya itu.

Dengan mengandalkan deru angin dan gemersik daun serta derak ranting, jago tua yang buta ini dapat mengetahui dan mengenal situasi hutan jati yang lebat itu.

“Apakah  mereka  sudah  tiba  di  rumah  Nyi  Londe? Semoga Tuhan melindungi ibu dan anak itu.” Doanya dalam hati dengan sambil terus berlari. Giran berhasil mengejarnya, langsung menerjangnya. Samolo terpaksa harus melayani, namun hanya sejenak karena setelah menyampok   tikaman   pisau   Giran,   ia   segera   loncat mundur dan lari lagi ke dalam hutan.

“Jangan harap kau bisa lolos dari tanganku, bedebah…!” Bentak Giran, terus mengejar.

Samolo menerobos kelebatan hutan jati di bawah derahan  hujan  lebat.  Tiba-tiba  ia  nyaris  jatuh terjerembab, bila tongkatnya tidak segerah menyentuh sesosok tubuh yang tergeletak membujur di tanah. Ia meraba tubuh itu dan terkejut. Karena lengannya menyentuh sesosok tubuh laki-laki, kepalanya luka dengan cairan hangat mengalir dari luka itu.

“Darah!” pekiknya di dalam hati.

“Binatang! Kau telah membunuh Adikku” teriak Giran tiba-tiba.

“Demi  Allah,  bukan  aku  yang  melakukannya.  Dia sudah terkapar di sini ketika aku tiba!” Samolo membantah.

Tapi Giran sudah menyerangnya lagi dengan makin kalap. Samolo menepis serangan itu seraya lompat mundur.

“Ketahuilah, Den. Mirta, adikmu ini sejak dulu punya hasrat buruk terhadap istrimu. Jiwanya dihantui dendam yang telah membusuk, karena ia tak bisa memperistrikan Ratna!”

“Tutup mulutmu, setan laknat!” teriak Giran dengan sebuah tusukan ke arah jantung Samolo. Tapi Samolo berkelit dengan lompatan mundur lalu berbalik langsung lari ke dalam hutan.

“Siapakah yang telah menyerang Mirta hingga terkapar dengan kepalanya pecah?!” hati Samolo bertanya-tanya akan peristiwa aneh itu. Tapi perhatiannya lebih tertuju kepada Ratna dan Girin.

“Kasihan nasib Ratna dan Girin. Keluarganya telah mencampakkannya seperti sampah. Suami yang diharapkan jadi pelindung kini malah jadi ancaman bagi keselamatan mereka. Sangat sulit menyadarkan Den Giran, selama dia masih terbius oleh kata-kata ibu tirinya yang busuk itu.” Keluh Samolo lagi dalam hati. Tongkat bambunya terus menuntun ke arah pondok yang hendak dituju. Agaknya Samolo hafal sekali dengan daerah tersebut. Sementara Giran terus di belakangnya. Sesaat kemudian centeng ini sudah tiba di tepi sungai yang berbatu-batu. Tongkatnya segera menotok batu-batu itu yang dipijaknya sebagai bacu loncatan ke arah seberang sungai tersebut. Ia melangkah ke arah pondok yang tegak terpencil di tepi sungai, dan berteriak memanggil penghuninya.

“Nyi Londe!”

“Siapa?!” terdengar sahutan dari dalam pondok itu.

“Aku Nyi!”

Pintu   pondok   itu   terkuak,   sosok   tubuh   seorang perempuan tua tampak tersembul dari dalam pondok itu. “Oh, kau Samolo. Masuklah, hujan begini lebatnya” Samolo mendekat dan naik ke atas pondok panggung itu.

“Wak Londe!” Gumam Giran yang sudah tiba pula di depan muka pondok itu. Tertegun ia memandang perempuan tua itu.

“Apa neng Ratna dan Girin sudah berada di rumahmu Nyi?” tanya Samolo cemas.

“Keadaannya memilukan sekali. Pedih hatiku melihatnya!” perempuan tua ini menggelengkan kepala sambil menghela napas.

“Wak Londe!” sapa Giran tiba-tiba.

Nyi Londe memandang ke muka pondoknya, dilihatnya seorang pemuda berdiri di pelataran, basah kuyup di dera hujan yang masih belum juga reda.

“Eh, siapa itu? Siapakah orang itu Samolo?”

“Den Giran, Nyi” jawab Samolo datar.

Perempuan ini tertergun, perlahan-lahan turun dari pondoknya. Bagaikan mimpi menatap pemuda yang tegak di hadapannya itu. Kemudian dengan air mata berderai ditubruknya tubuh laki-laki muda yang gagah ini. Suaranya terpatah-patah menahan rasa haru yang mendesak di dadanya.

“Kau… Kau Den… Kau sudah pulang Den!” ditatapnya wajah Giran tajam dengan air mata terus mengucur di pipinya yang mulai keriput dan cekung.

“Bagaimana  keadaan  Uwak  sekarang?!”  tanya  Giran sama terharunya.

“Aduh Den, kenapa kau pergi begitu lama? Banyak peristiwa telah terjadi selama kau tak berada di sini”

Suara Nyi Londe bergetar penuh penyesalan. Giran menghela napas.

“Aku tahu, semuanya akibat pengkhianatan orang- orang tak kenal budi. Aku tahu Wak” kata Giran tajam, melirik Samolo yang berdiri di teras pondok panggung itu.

Nyi   Londe   membawa   Giran   masuk   ke   dalam pondoknya yang sangat sederhana itu. Giran memandang keadaan ruangan pondok berbilik bambu yang sudah berlubang-lubang, atapnya pun tiris terguyur hujan.

“Kenapa Uwak tinggal di sini? Maksudku, mengapa tidak berdiam lagi di rumah kita? “ tanya Giran dengan nada haru.

Nyi Londe menghela napas lagi. “Kini semuanya sudah berubah, Giran. Gubuk reyot ini pun cukup memberikan ketentraman kepada Uwak.”

Giran tiba-tiba melihat Ratna berada di dalam kamar pondok itu. Api kemarahannya kembali membakar dada– nya. Ditudingnya istrinya yang sedang memeluk Girin.

“Hmm. Kau pun rupanya bersembunyi di sini! Perempuan tak tahu malu. Masih ada muka kau hidup di dunia ini?” bentak Giran dengan geram. Nyi Londe menahan tubuh Giran yang hendak menghampiri Ratna.

“Enyah kau dari mataku! Atau sebaiknya kau bunuh diri saja. Dari pada kau mencoreng keluargaku dengan noda yang tak terhapus tujuh turunan.”

Ratna dengan menggendong Girin segera keluar dari pondok. Nyi Londe berusaha menyabarkan Giran.

“Jangan begitu Giran. Kasihan Girin, anak itu sedang demam. Tubuhnya panas sekali.”

Tapi  Giran  tak  menghiraukannya.  Ia  menyusul  ke muka pondok. Berteriak dengan penuh dendam yang berapi-api. Lengan Nyi Londe tak lepas-lepas menggenggam lengan pemuda ini.

“Pergi! Jangan kalian menginjak lagi tanah Kedawung ini. Jika aku masih melihat lagi kau berada di sini, akan kucabut nyawamu semua!” bentak Giran mengancam.

Ratna  tertunduk  menahan  tangis  sambil  memeluk anaknya yang sedang menderita demam, meninggalkan pondok itu diiringi Samolo yang coba membesarkan hatinya.

“Jangan bersedih, Neng. Tuhan selalu mengasihi makhluk-Nya yang tak berdosa. Mari! Dunia ini masih terlalu luas untuk kita.”

Hujan  masih  terus  turun  menyiram  bumi.  Menelan tiga manusia yang berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai, membawa luka di hatinya masing-masing.

Nyi Londe termangu-mangu memandang kepergian tiga orang itu sampai lenyap ditelan kepekatan malam yang terus diguyur hujan yang tak kunjung henti itu. Betapa sedih hatinya menyaksikan penderitaan orang-orang yang sangat dikasihinya itu. Terasa air matanya ikut tertelan dan menyangkut di kerongkongannya.

Dada perempuan tua ini terasa begitu sesak. Ia mendesah untuk melepaskan perasaan yang menyesak– kan dadanya itu. Suaranya lirih ketika ia berkata kepada Giran dengan masih memeluk tiang pondoknya.

“Aku sukar mengatakan sesuatu kepadamu. Kini kau sudah banyak berubah, Giran.”

“Uwak  sendiri  mengatakan  bahwa  kini  semuanya sudah  pada  berubah.  Begitu  pun  aku.  Penyebabnya adalah setan-setan tadi”

“Aku tetap menyayangimu, Giran. Sama seperti ketika aku menimangmu waktu kau masih bayi. Ah, rasanya baru kemarin saja waktu itu berlalu…”

Nyi Londe melangkah masuk dan menuang air dari kendi untuk Giran minum. Giran menerima gelas itu, memandang wajah pengasuhnya dengan sinar mata lembut dan ada getaran rindu dalamnya.

“Aku tidak mungkin bisa melupakan budimu, Wak. Tanpa kau, aku tak kan hidup sampai jadi manusia dewasa seperti sekarang ini.”

Ia meminum air itu, lalu termenung memandang air di dalam gelas di lengannya. Tenang ia berkata seakan-akan kepada dirinya sendiri.

“Dewasa kataku, karena kini mataku seolah-olah baru terbuka, betapa watak dan martabat manusia begitu mudah rusak. Meski dilimpahkan kasih sayang, cinta dan kepercayaan tanpa batas, namun toh masih mengkhianat juga.  Aku  betul-betul  sukar  mengerti.  Sungguh  tidak dapat dimengerti…” keluhnya sambil mereguk minumannya lagi.

“Kau hanya menilai persoalan dari satu sudut saja. Itu tidak bijaksana, Giran.” Kata Nyi Londe menghela napas. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya, sesaat kemudian keluar lagi dengan sebuah kotak kayu yang antik dan indah di tangannya. Lalu diperlihatkan kepada Giran.

“Kau kenal dengan kotak ini, Giran?”

Kotak kayu itu diletakkan di atas meja di hadapan Giran  yang  menatapnya  dengan  perasaan  kaget  dan heran.

“Sudah  tentu  aku  kenal  benar  dengan  kotak  ini. Karena ini peninggalan mendiang ayahku!”

“Kotak   inilah   yang   jadi   pangkal   sengketa   dan timbulnya berbagai peristiwa hebat yang mengakibatkan terpecah-belahnya   keluarga   besar   ayahmu.   Berapa banyak sudah kotak ini menelan korban nyawa, darah dan air mata. Martabat manusia pun runtuh olehnya.” Rasa benci dan muak terkandung di dalam kata-kata perempuan tua ini. Benda itu seakan-akan dianggap sebagai buatan setan yang sangat mengerikan, juga menjijikkan. Ia enggan menatap lama-lama kepada kotak kayu berukir indah itu.

Giran menyatakan keherannya, mengapa kotak wasiat yang berisikan kunci-kunci serta surat-surat berharga tentang hak waris atas harta peninggalan ayahnya itu bisa berada di tangan Nyi Londe. Seingatnya ketika ia hendak berangkat ke Borneo untuk melaksanakan pesan ayahnya,  meninjau  perkebunan  karet  yang  berada  di sana, ia telah menyuruh Ratna untuk menyimpan peti pusaka itu. Diakuinya pula, sejak ia menerima kotak itu dari ayahnya yang sedang menderita sakit sampai setelah wafat, ia belum pernah membuka dan melihat isi kotak tersebut.

Kini ia baru mengetahui, bahwa yang tertera di atas surat hak waris itu ternyata cuma namanya sendiri. Sedangkan nama ibunya maupun Mirta sama sekali tidak tercantum  sebagai  pewaris  dari  sebagian harta peninggalan yang melimpah   itu.   Kebijakan   ayahnya untuk tidak memberikan sesuatu pun dari sebagian hartanya kepada ibu tiri dan adik tirinya itu, pasti mempunyai alasan tertentu.  

Tapi Giran tidak tahu apakah alasannya itu. Namun ia merasakan bahwa tindakan ayahnya itu sangatlah tidak adil. Akibatnya ibu serta adiknya itu harus hidup terlunta-lunta seperti tikus yang bersarang di puing bangunan rumah Kasir Samirun yang entah kenapa pula jadi berantakan begitu. Giran semakin yakin akan tuduhannya terhadap pengkhianatan Ratna dan Samolo. Karena merasa ikut berhak atas warisan harta itu, sebagai istri yang dinikah secara sah, Ratna telah mengusir ibu mertua dan iparnya dari gedung megah yang ingin dikangkanginya itu. Mungkin mengira suaminya telah meninggal di rantau, Ratna lalu bermain gila dengan Samolo, centeng yang selalu setia mengawal– nya itu. Demikianlah perkiraan dan kecurigaan Giran terhadap istrinya, yang diperkuat pula oleh cerita ibu tirinya.   

Namun   yang   jadi   tanda   tanya   bagi   Giran, mengapa  kotak  wasiat  itu  kini  berada  di  tangan  Nyi Londe. Perempuan tua ini menjelaskan bahwa sesungguhnya kotak pusaka itu telah berpindah-pindah tangan dan   setelah   diperebutkan   dan   dipertahankan   mati- matian, akhirnya mereka berhasil menyelamatkan kotak itu dan dititipkan kepadanya.

“Karena akulah orang satu-satunya yang mereka percayai, sebagai pengasuhmu sejak kau masih bayi merah. Mereka yakin aku akan memberikan peti pusaka ini kepadamu, bila kau sudah kembali”

“Siapakah yang Uwak maksud dengan mereka itu?” tanya Giran.

“Siapa lagi kalau bukan Ratna dan Samolo!” jawab Nyi Londe tegas. Giran mendengus sinis. Bangkit menuju jendela.  Ia  yakin  pengasuhnya  ini  berkata  demikian karena takut akan ancaman Samolo. Perempuan tua ini mengetahui keraguan hati Giran terhadap ceritanya tadi. Tapi ia tak peduli, ia akan menceritakan semuanya yang sebetulnya telah terjadi di dalam keluarga besar Tuan Tanah itu kepada putra sulung ini.

“Aku tahu kau pasti sukar mempercayai ceritaku tadi. Ratna tidak mau menyimpan peti pusaka ini, karena khawatir akan dituduh ingin menyerakahi juga harta warisan itu. Jiwanya pun seolah-olah telur di ujung tanduk, senantiasa terancam bahaya maut dari kelompok orang-orang serakah, yang tak segan-segan menggunakan tipu muslihat keji untuk menguasai peti pusaka tersebut. Untunglah Samolo selalu berhasil menyelamatkannya!”

Giran termangu di sisi jendela.

“Jadi  maksud  Uwak,  ibu  serta  adikku  itu  adalah orang-orang  serakah  dan tamak, begitu?!” ia berpaling memandang pengasuhnya ini.

“Apakah perbuatan yang menyebabkan ibuku menderita buta dan merana sepanjang sisa hidupnya itu, adalah bukti kemuliaan dan kesetiaan Samolo? Dan Mirta terkapar seperti bangkai anjing di tengah hutan jati adalah juga bukti dari kebajikannya pula?! Kemuliaan dan kebajikan yang telah menghasilkan seorang anak haram. Sungguh luar biasa dan betul-betul mengagumkan!” Sinis sekali kata-kata Giran.

“Ibu dan adikmu telah menerima akibat dari perbuatannya sendiri!” kata-kata Nyi Londe pun tak kalah sinisnya, meski diucapkan dalam nada perlahan dan agak gemetar menahan emosi. “Aku justru heran, kenapa kau berprasangka buruk terhadap darah dagingmu sendiri? Aku kenal Ratna seperti aku mengenal diriku sendiri. Begitu pula terhadap Samolo. Dia telah banyak berkorban demi kesetiaannya kepada almarhum ayahmu, juga kepada keturunannya.”

“Omong kosong! Dengan membunuh Mirta, apakah Samolo juga mau membuktikan kesetiaannya terhadap keturunan ayahku?! ?” kata Giran dengan ketus.

“Itu bukan perbuatan Samolo!”

“Lalu siapa?! Apa dicekik hantu hutan jati?!” dengus

Giran makin sinis.

“Mirta sesungguhnya sudah lama menaruh hati kepada Ratna! Hasrat buruknya itu hampir saja terlaksana di hutan jati. Tapi Ratna lebih rela mati daripada harus hidup ternoda. Dalam pergulatan mempertahankan kehormatannya, ia sempat menghantam kepala Mirta dengan sepotong kayu…”

Nyi  Londe  menjelaskan  peristiwa  itu  setelah  mendengarnya dari Ratna, yang datang menyelamatkan diri bersama  anaknya   ke   pondok   itu   sambil   menangis tersedu-sedu memeluk dirinya. Giran kembali tercenung. Terdengar ia menghela napas. Lalu menghampiri Nyi Londe. Dengan tersenyum lembut ia menggenggam lengan pengasuhnya ini.

“Sudahlah  Wak.  Aku  tahu  Uwak  bermaksud  baik. Ingin   mendamaikan   persoalan   ini.   Atau   barangkali mereka berdualah yang memintamu untuk mendongengkan kisah “Nina Bobok” ini kepadaku. Seperti dulu jika aku tengah merengek-rengek tak mau tidur. Ahh… betapa manis bila masa kecil itu dikenang lagi, ya Wak?” kata Giran sambil tersenyum. Tapi Nyi Londe menarik lengannya, berkata dengan sedih.

“Ya   baiklah,   bila   kau   tak   sudi   lagi   mendengar dongengku. Karena kini kau sudah merasa cukup takjub mendengar dongeng ibumu itu. Tak apalah Giran. Mungkin matamu kini telah terbuka. Tapi sayang, kau menatap ke arah yang salah!”

Kali ini wajah Giran tertunduk dan termenung. Ia tahu benar dengan sifat pengasuhnya ini, yang tak pernah berpura-pura, apalagi berkata dusta kepadanya. Justru sifat itulah yang telah banyak mendidik dan menyerap ke dasar jiwanya. Kini konflik batin tengah bergelut di dasar jiwanya itu. Antara kebenaran cerita Nyi Londe dengan rasa baktinya terhadap orang tua. Satu hal yang amat ditakutinya bila kemudian ia pun terpaksa harus mendurhakai dan mengutuki ibunya sendiri. Melihat kemurungan wajah Giran, Nyi Londe jadi iba. Dibelainya kepala anak asuhannya ini dengan lembut dan tetap dengan perasaan kasih sayang seperti dulu. Ia berkata dengan lembutnya.

“Ketahuilah Giran. Sesungguhnya banyak hal serta peristiwa lalu yang belum kau ketahui. Kami memang sengaja menyembunyikannya demi kebaikanmu. Demi keutuhan keluarga besar ayahmu…”

Giran tertunduk diam. Nyi Londe melanjutkan. “Aku dan Samolo-lah yang banyak mengetahui berbagai persoalan yang telah terjadi di rumah tangga ayahmu, yang hingga kini tinggal gelap bagimu. Tapi kini, kurasa sudah tiba waktunya untuk kuceritakan semuanya kepadamu. Dengarkanlah…!”

Berkisahlah Nyi Londe

***

Categories:

Tags:

Comments are closed