3

GIRAN menghempaskan tubuh Ratna ke lantai. Ratna menjerit dan mengumpat dengan kalap dan pedih.

“Kau telah membunuh anakku…! Kau ayah yang tak punya perasaan! Kejam…! Oh… Girin… anakku…!” Ratap Ratna sambil menelungkup di lantai berdebu itu.

Giran berteriak memanggil ibunya “Ibu…! Aku sudah menyeret perempuan keparat itu ke sini!”

Dari balik dinding papan muncullah dua wajah yang diliputi rasa was-was dan curiga.

“Keluarlah Bu! Inilah perempuan yang telah membuat Ibu  menderita.  Kuserahkan dia agar Ibu menghukumnya!” teriak Giran lagi.

Bagai dua sosok makhluk ganjil, ibu dan anaknya keluar dari tempat persembunyiannya. Suara ketukan tongkat si nenek sudah cukup membuat bulu kuduk Ratna merinding. Wajah Ratna jadi pucat, seketika, darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Dia merangkak mendekap kaki Giran, meratap dengan suara gemetar.

“Jangan…! Jangan biarkan dia membunuhku, Kak…! Oh… Tolonglah aku Kak…! Tolonglah…!”

Wajah si nenek menyeringai mengerikan. Biji matanya yang luka bernanah itu bergerak-gerak. Mata Mirta pun ikut liar menatap istri kakaknya itu. Ratna semakin ketakutan.

“Bunuh dia, Mirta! Bunuh! Cepat Mirta!” teriak nenek ini tiba-tiba.

Mirta memungut sepotong kayu. Melangkah mendekat ke arah Ratna denga wajah menyeringai. Si Nenek pun siap dengan tongkatnya. Ratna menjerit dan bersembunyi di belakang tubuh Giran yang berdiri beku seperti patung.

Dengan  teriakan  mirip  orang  hutan,  Mirta  tiba-tiba lompat mengayun pentungannya ke arah Ratna. Ratna mengelak dan lari ke arah pintu. Tapi si nenek sudah mencegatnya di situ sambil mengangkat tongkatnya, dan langsung dipukulkan ke arah Ratna. Untunglah bagi Ratna, karena tidak bisa melihat, pukulan mertuanya itu menjadi ngawur. Tapi teriakannya yang melengking memberi komando kepada Mirta, benar-benar membuat Ratna semakin panik ketakutan.

“Cepat Mirta, bunuh setan ini! Bunuh! Ayo cepat. Jangan kasih ampun padanya!”

Ratna pontang-panting berlarian di dalam ruangan rumah usang itu. Ia berusaha menyelamatkan diri dari keroyokan adik-ipar serta mertuanya yang sudah seperti kerasukan setan itu. Sementara itu Giran hanya berdiri mematung di sisi jendela, seakan-akan tidak mendengar jeritan Ratna yang mengiba-iba minta tolong kepadanya. Benarkah ia sudah kehilangan perasaan kasih sayang kepada istrinya, sampai hati pula membiarkan istrinya disiksa dengan cara kucing mengeroyok seekor tikus? Entahlah. Tapi yang jelas, ada butiran-butiran air jernih dan hangat jatuh menetes di atas lengannya… Ratna semakin letih dan putus asa. Ia jatuh terjerembab tak berdaya   lagi.   Dua   orang   pengeroyoknya   itu   segera tertegun  mengatur  napas.  Mirta  mendengus  dengan napas memburu.

“Dia sudah kepayahan Bu, tidak bisa lari lagi…!”

“Bagus. Ayo cepat Mirta! Habisi dia!” teriak si nenek bernafsu.

Mirta sambil tertawa ganas mendekat, mengangkat pentungannya tinggi-tinggi.

“Kepalanya,   Mirta.   Kepalanya!”   teriak   si   Nenek memberi petunjuk.

Mirta mengangkat pentungan kayunya tinggi-tinggi dengan sasaran kepala Ratna. Ratna memejamkan matanya. Tepat pada detik kritis itu, sebuah tongkat bambu tiba-tiba berkelebat menghantam lengan Mirta. Dengan teriak kesakitan pemuda sinting ini terpelanting ke dinding, dan dengan pentungan kayu itu melayang menghantam kepala si nenek yang segera menjerit melengking-lengking.

“Sssamolo…!”  teriak  Mirta  ketakutan  menatap  ke pintu.

Si nenek terkejut, ia menyuruk-nyuruk ke arah putranya. Keduanya ketakutan seperti melihat Malaikat El-Maut. Samolo tegak di ambang pintu dengan muka angker penuh kebencian. Ratna segera menubruk tubuh Girin dan mendekapnya erat-erat.

“Setan dedemit! Masih belum puas juga kalian menghirup darah kami? Iblis!” hardik Samolo sambil menuding kedua orang itu dengan tongkatnya, membuat si  nenek  dan  Mirta  makin  mepet  ke  sudut  dinding. Samolo melangkah maju, tongkatnya dikibaskan dan tongkat si nenek pun terlontar ke lantai. Perempuan tua ini   menjerit   dan   merangkul   putranya   yang   sama paniknya. Samolo dengan suara berat dan parau terus memakinya.

“Aku menyesal membiarkan kalian hidup, dan tidak mencabut nyawa kalian ketika itu. Bila tidak, kalian tentu tidak akan jadi biang penyakit di kemudian hari, seperti sekarang ini.”

Si nenek menjerit memanggil Giran.

“Kau dengar Giran…?! Kau dengar…! Di hadapanmu dia masih berani berlaku kurang ajar dan menghinaku…!” Si nenek menangis dengan pilunya.

Samolo menghela napas, menghampiri Ratna.

“Mari Neng! Rumah hantu ini mulai pengap oleh racun yang tersebar dari mulut berbisa perempuan iblis itu. Hati suamimu pun sudah mati terbius.”

Dengan hati pedih, Ratna sambil menggendong putranya keluar dari rumah itu, diiringi oleh Samolo yang tetap waspada melindungi nyonya majikan mudanya itu. Si nenek melangkah ke dekat Giran yang masih berdiri termangu dan membisu. Ia merengek mengiba-iba di belakang tubuh anak-tirinya ini.

“Mau   tunggu   apa   lagi,   Giran?   Merekalah   yang menjadikan kita sengsara begini! Mana baktimu terhadap orang tuamu, Giran?”

Tiba-tiba Giran melesat keluar pintu, menghadang di hadapan   Ratna   dan   Samolo.   Wajahnya   merah   dan muram.

“Tunggu! Kalian kira dengan semudah ini persoalan jadi beres? Hmm, jangan mimpi!” gertaknya dengan suara murka.

Samolo maju ke muka, dengan suara dalam ia berkata, “Kalau boleh aku memperingatkan kau, Den Giran, engkaulah yang harus sadar dari mimpimu. Tuhan Maha Tahu, siapa sesungguhnya yang bersalah!”

Tiba-tiba wajah centeng tua ini berubah, serta-merta menarik tubuh Ratna ke sisi. Berbarengan dengan itu, tongkatnya membabat ke belakang. Maka terdengarlah teriakan melengking. Mirta terpelanting ke tiang rumah. Darah mengucur dari goresan luka di lengannya. Samolo mendengus dengan perasaan muak.

“Aku sudah kenal benar dengan watak Orai-Kadud-mu yang licik itu, yang tak segan-segan membokong dari belakang. Seperti beberapa kali kau lakukan terhadap kakakmu, tapi selalu gagal, bukan?”

Mendengar kata-kata Samolo itu, Giran agak tersentak lalu memandang ke arah Mirta yang tersandar di tiang memegangi lengannya yang berdarah.

“Bohong! Itu bohong!” Mirta membela diri dengan gugup.

“Aku benar-benar sedih, sejak Den-Besar wafat, anak- anaknya telah jadi murtad. Lebih sedih lagi hatiku, Den- Muda yang kuharapkan bisa mewarisi martabat ayahnya, ternyata sama piciknya dengan ibu dan adik-tirinya yang tamak, licik dan dengki itu. Kasihan, arwah Den-Besar tentu tak tentram di alam baka.” Kata Samolo dengan pedihnya.

Giran    tertunduk.    Kata-kata    Samolo    bagaikan menusuk-nusuk ulu hatinya, terasa pedih menyakitkan. Namun mendengar cerita ibunya tentang perbuatan centeng itu terhadap keluarganya lebih menyakitkan lagi. Tak  mungkin  ia  bisa  memaafkannya,  meski  ia  tahu Samolo  telah  mengabdi berpuluh tahun pada keluarganya.

Ayahnya  adalah  seorang  yang  sangat  menjunjung tinggi norma-norma adat istiadat. Terutama perihal kebajikan, hormat dan patuh serta bakti terhadap orang- tua, adalah paling diutamakan dan kerap dijejalkan ke dalam hati sanubari serta jiwa Giran melalui nasihat dan petuahnya. Sifat itu benar-benar sudah melekat sampai ke   setiap   sendi   tulang   sumsumnya.   Maka   itulah sebabnya, sikap kukuh Giran yang sukar dilunakkan oleh siapapun. Samolo sangat paham akan sikap tuan mudahnya  ini.  Dalam  hal  lain,  Giran  sesungguhnya adalah  seorang  yang  sangat  lembut  dan  penuh  belas kasih. Namun dalam hal kebajikan dan bakti, pendirian Giran tak bisa ditawar-tawar lagi. Setiap penyelewengan norma-norma itu merupakan aib besar yang tak terampunkan baginya. Karena memahami watak putra majikannya itu, maka Samolo pun merasa tak perlu lagi banyak bicara. Ia berbisik kepada Ratna.

“Neng, bawalah Girin, menyingkir secepatnya dari sini! Pergilah ke pondoknya Nyi Londe! Bila ada umur panjang, aku pasti akan menyusul ke sana, Cepat!”

Dengan menahan tangis, Ratna lari menuju hutan jati. Didekapnya Girin erat-erat. Sayup-sayup didengarnya pertarungan antara Samolo dan Giran mulai berlangsung dengan sengitnya. Suara dentingan pisau beradu dengan tongkat   bambu   itu,   seakan-akan   menyayat   jantung Ratna. Ia berlari terus, hujan dan guntur masih saja merajai   suasana.   Angin   menderu-deru   menghembus hutan jati. Dan lebih mengerikan lagi ada sepasang mata yang terus mengintai dan mengikuti langkah Ratna serta anaknya itu dari balik pohon. Bagaikan seekor Serigala lapar mengintai mangsa, bayangan itu menyelinap dari balik pohon ke pohon lain dengan napas berdengus. Matanya  liar  mencari  kesempatan  untuk  menerkam kedua insan yang sedang dilanda ketakutan ini.

Keadaan di hutan jati itu benar-benar menakutkan Ratna. Gelap mengerikan, hanya kadang-kadang diterangi oleh cahaya   kilatan   halilintar   yang   menggeletar   di angkasa.  Ratna  mulai  kehilangan  arah.  Ia  berhenti sejenak untuk mengatur napasanya yang memburu. Lengannya tak pernah kendor mendekap Girin yang gemetar kedinginan dan basah kuyup terguyur air hujan. Tepat pada saat itu, bersamaan dengan bunyi menggelegarnya halilintar dan kilatan cahaya yang menyilaukan,  melompatlah  sesosok  tubuh  dari  balik pohon ke hadapan Ratna, membuat Ratna terkejut tak alang kepalang.

Tubuh Ratna jadi gemetar dan mulutnya pun terasa kelu.  Karena  ia  melihat  dengan  jelas,  sosok  bayangan yang tiba-tiba menghadang di hadapannya itu adalah Mirta. Pemuda sinting ini dengan wajah cengar-cengir dan terkekeh-kekeh melangkah ke arah Ratna. Matanya jalang menatap tajam ke arah ibu muda yang ketakutan ini. Kaki Ratna terasa lumpuh. Ia memaksakan diri untuk melangkah mundur, lalu berbalik dan kabur sekencang- kencangnya dari situ. Mirta tersentak kemudian lari mengejar. Ratna pontang-panting menerobos hutan jati yang amat lebat itu. Mirta pun terus mengejarnya dengan berlompat-lompat seperti kera sambil tertawa terkekeh- kekeh. Pentungan kayu di tangannya diacung-acungkan. Ratna makin erat mendekap tubuh Girin, lari tak tentu arahnya.   Sungguh   malang   ia   jatuh   tergelincir   dan terguling-guling  ke  bawah  tebing  yang  cukup  curam. Girin terlontar dari dekapannya, dan tersangkut di tepi tebing  itu.  Sementara  Mirta  sudah  tiba  di  situ.  Ratna kaget bukan main. Tanpa menghiraukan rasa sakit pada tubuhnya, ia bergegas merayap naik ke atas tebing. Tapi Mirta  dengan  sebelah  kakinya  telah menginjak  tubuh Girin dengan terkekeh-kekeh di atas tebing itu. Sedikit pun tidak ada rasa iba kepada bocah yang meronta dan menjerit-jerit di bawah kakinya itu. Ratna menjerit sejadi- jadinya. Jantungnya terasa terhenti saat itu.

“Mirtaaa! Lepaskan anakku…!” jerit Ratna sambil merangkak naik. Tapi jatuh tergelincir lagi karena tebing tanah merah itu amat licin.

Mirta tertawa terbahak-bahak. Lalu matanya berkilat- kilat menakutkan menatap Girin yang meronta-ronta di bawah pijakan kakinya. Ia menyeringai dengan mulut berbusa.

“Jahanam  cilik  ini  pun  akan  jadi  pewaris  harta bapakku! Maka dia juga tidak boleh hidup lama-lama di dunia ini…”

Pentungan  kayu  itu  diangkatnya  tinggi-tinggi  untuk dipukulkan ke kepala Girin. Detik itu darah Ratna seperti membeku. Ia jadi histeris, dan menjerit-jerit sejadinya.

Tepat pada detik itu, tanah yang dipijak oleh Mirta tiba- tiba longsor dan tergulinglah ia ke dasar tebing itu. Girin pun ikut terbawa longsor ke bawah. Ratna bangkit dan meraih tubuh anaknya itu kemudian langsung dibawa kabur dari situ. Mirta menggelepar sesaat lalu bangkit dan mengerang seperti hewan luka. Matanya membara dan semakin liar. Kemudiaan ia lompat mengejar lagi. Ratna sambil mendekap putranya menyelusup di antara pohon-pohon jati dengan napas terengah-engah. Duri dan ranting-ranting  tajam  sudah  tak  dihiraukannya  lagi. Hujan masih turun dengan lebat. Halilintar sambung menyambung dengan hebatnya. Hutan jati seakan-akan menjelma jadi sebuah alam khayal yang serba misterius dan menakutkan.

Ratna mengeluh di dalam hati, karena ia tersesat, kehilangan arah ke pondok Nyi Londe.

“Ya,  Allah,  ya  Gusti…!  Tolonglah  kami…!”  Ratap doanya di dalam hati.

Angin menderu-deru bagaikan suara rintihan setan- setan di neraka. Rasa takut mencengkeram Ratna. Sambil menangis tersengguk-sengguh ia lari tak tentu arah lagi. Tiba-tiba ia malah terserobok dengan Mirta yang sedang mencarinya. Pemuda kurang waras ini tertawa cekikikan.

“Baaaa! Kau balik lagi mau mencariku, Ratna?! Hi…

hi… hi…”

Ratna tersentak mundur. Dengan tatapan menakutkan Mirta   melangkah   mendekat,  Ratna  tersandung  akar pohon dan jatuh terjerembab. Mirta berlulut di sisinya. Lengannya mencoba membelai rambut Ratna, tapi ditepis dengan perasan jijik oleh Ratna. Mirta tertunduk, lalu berkata seperti kepada dirinya sendiri.

“Kau  masih  secantik  dulu…  Cintaku  tak  pernah padam, Ratna…! Meski kau selalu menolakku. Aku memang tidak seberuntung si Giran keparat itu…!”

Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, matanya berkilat-kilat.

“Tapi Giran sudah tidak cinta lagi kepadamu, Ratna! Ini  pembalasan  rupanya.  Hi…  hi…  hi…!  Tapi  kau  tak perlu sedih, Ratna. Aku masih bersedia menerimamu. Sungguh    mati,    aku    ikhlas    dan    selalu    masih mengharapkan kau, sampai kapan pun…!”

Napas Mirta makin memburu. Suaranya gemetar dan parau seperti burung hantu. Tiba-tiba ia mencekal lengan Ratna dan didekapkan ke dadanya. Ia merintih. “Peganglah   dadaku  ini,  Ratna…!  Jantungku  telah hangus terbakar api cinta yang tak kunjung padam… Oh, Ratna…!”

Ratna meronta menarik lengannya, tapi sia-sia. Mirta makin keras menggenggam lengan itu.

“Serahkanlah surat wasiat itu kepadaku, Rat… Lalu kita kawin, dan kau akan kujadikan wanita terbahagia di dunia ini!”

Ratna  menarik  lengannya  kuat-kuat  dan  lepas  dari genggaman pemuda setengah sinting ini. Ia beringsut menjauh sambil memaki dengan muaknya.

“Pergi!  Pergi!  Kau  makhluk  durjana.  Jangan  kau sentuh aku dengan tanganmu yang berlumur noda dan dosa itu. Pergi kataku…!”

“Ahh… Ratna sayang… Inilah kesempatan terbaik bagi kita. Biarkan Giran dan Samolo saling bunuh. Seluruh Harta warisan itu akan jadi milik kita berdua”

Mirta merayu sambil mendekati Ratna. Tiba-tiba Ratna bangkit dan lari. Tapi Mirta segera menerkamnya dan mereka jatuh berguling di tanah becek berlumpur itu. Ratna dengan nekat menjejak muka Mirta sekuat tenaganya, hingga pemuda ini terjengkang berteriak kesakitan. Namun ia cepat bangun lagi. Bibirnya pecah mengucurkan darah. Sambil mengerang menahan sakit ia mengumpat dan memungut pentungan kayunya.

“Dasar   perempuan   laknat,   tak   tahu   diuntung.” geramnya.

Kemudian  dengan  tiba-tiba  saja  ia  lompat  merebut Girin dari dekapan Ratna. Ratna pun dengan kalap berusaha merebut kembali anaknya itu. Tapi pentungan Mirta sudah mengancam kepala bocah itu.

“Ayo,  kalau  kau  mau  melihat  kepala  anakmu  ini hancur berantakan. Sekarang katakanlah, maukah kau jadi istriku, Ratna?!”

Ratna terdiam, wajahnya tegang dan pucat. Girin terus menjerit  dan  meronta  dalam  dekapan  pamannya  yang kurang waras ini.

“Jawab, ya atau tidak! Nyawa anakmu ini tergantung kepada putusanmu sendiri, Ratna!” ancam Mirta dengan mengangkat pentungan kayu yang diarahkan ke kepala Girin.

Ratna benar-benar bingung dan gelisah. Ia tahu pasti ancaman Mirta itu bukanlah gertakan kosong belaka. Bahkan perbuatan yang lebih keji dan brutal sekalipun sanggup dilakukan olehnya.

“Rupanya kau sudah tidak sayang lagi kepada anakmu ini, Ratna. Baiklah, jangan kau katakan aku kejam!” tangannya yang memegang pentungan itu siap dihantamkan ke kepala Girin.

Ratna panik, demi keselamatan anaknya yang amat dikasihinya itu ia rela berkorban apa saja. Ia tertunduk menghapus linangan air matanya, mengangguk perlahan.

Mata Mirta berbinar.

“Katakan ya, Ratna, katakan Ratna!”

“Ya. Lepaskan anakku!” jawab Ratna sambil tersedu…

Wajah Mirta berseri-seri. Matanya makin berbinar. “Bersumpahlah  Ratna!  Bersumpahlah  kau  kepada langit dan bumi… Juga kepada guntur di angkasa!” teriak Mirta berbarengan dengan gelegar guntur yang pecah di angkasa.

Ratna gemetar, dunia terasa semakin gelap. Ia seakan- akan jatuh tenggelam ke dasar neraka yang paling gelap gulita. Sebagai seorang gadis desa yang lugu ia amat percaya  dengan  keramatnya  sumpah  serapah.  Apalagi kini ia sudah jadi seorang wanita bersuami sangatlah pantang mengucapkan sumpah cinta terhadap seorang laki-laki lain. Lebih menyakitkan lagi, justru laki-laki itu yang amat dibencinya. Namun kasih sayang seorang ibu sanggup dan rela berkorban apa saja. Dengan air mata berlinang-linang Ratna bersumpah dengan suara hampir tak terdengar. Namun cukup membuat Mirta berjingkrak kegirangan.  Guntur  kembali  menggelegar  di  angkasa. Mirta  sambil  melepaskan  Girin  dari  dekapannya menunjuk ke langit dan tertawa.

“Dengar, dengarlah Ratna! Guntur menggelegar di angkasa,   dia   telah   menjadi   saksi   atas   sumpahmu Istriku…! Hi… hi… hi…”

Mirta menghampiri Ratna dan berbisik dengan napas memburu.   “Bertahun-tahun   aku   memimpikan   saat seperti ini Ratna. A… a… aku sangat mencintaimu…. Sampai dunia kiamat sekalipun!”

Tubuh   Ratna   seakan   tak   dialiri   darah   lagi.   Ia menggigil. Hatinya begitu pedih dan remuk oleh himpitan rasa berdosa yang amat sangat. Rasa sesak di dadanya kemudian pecah jadi tangisan yang memilukan. Ketika lengan Mirta yang gemetar itu membelai rambutnya dan menciuminya dengan napas berdengus-dengus.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed