2

BADAI masih mengamuk. Guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar  di  angkasa.  Terasa  bumi  tergetar dan seakan-akan terbelah. Namun gemuruh dendam di hati Giran masih melebihi amarah alam saat itu.

Ia berlari dan melompati beberapa parit yang menghadang di depannya. Hatinya masih terus gemuruh dan makin mendidih.

“Samolo…!   Hmm   tunggulah   kau   jahanam…!   Aku pulang  untuk  merobek  nyawamu!”  Umpatnya  sambil terus berlari.

Rambutnya yang gondrong tak terurus itu tersibak- sibak dihempas angin. Larinya secepat dan setangkas kijang. Peluhnya mengucur deras bercampur derahan hujan.

Cepat sekali ia sudah tiba di muka pintu gerbang dari sebuah bangunan besar. Sebuah gedung megah dan antik yang bertahun-tahun ditinggalkannya.

Dia   berdiri   terpaku   memandangi   gedung   mewah warisan ayahnya, seorang tuan tanah yang pernah jaya penuh kharisma di kawasan Kedawung yang subur, tenteram serta damai. Tapi kini gedung tersebut tegak dalam kesunyian, kosong dan kehilangan wibawanya. Giran menghela napas, lima tahun lamanya ia disiksa kerinduan untuk pulang ke gedung yang pernah memberikan kehangatan kepadanya. Kehangatan cinta kasih istrinya yang cantik dan lembut. Namun kenyataan yang dihadapi sekarang, membuat hatinya terasa beku dan sakit.

Pintu  gerbang  itu  terkunci  dengan  kokohnya.  Ia melompat ke atas dinding lalu lompat turun ke halaman yang  luas  dan  sunyi  itu.  Dipandanginya  lagi  keadaan taman serta gedung itu. Hening hampa, namun masih tetap terawat baik, seperti ketika ia masih berada di sini. Ia melangkah ke teras gedung. Ruangan utama itu terkunci dan terlihat rapi, dan vas-vas bunga antik itu masih tetap berada di tempatnya seperti dulu. Dengan cermat Giran meneliti semuanya. Terlihat beberapa pot dan vas antik itu diikat dengan kawat dan ditambal, karena bekas pecah berkeping-keping. Dan terlihat pula di tiang pilar yang bulat dan kokoh itu, beberapa goresan dalam bekas terkena hunjaman dan sabetan beberapa jenis senjata tajam. Giran jadi termangu memandangi itu semua. Tanpa terasa bulu kuduknya jadi merinding. Terbayangkan di benaknya sebuah pertarungan dahsyat pernah terjadi di gedung itu. Tak pernah diduganya, ternyata   perebutan   kekuasaan   atas   harta   warisan ayahnya itu telah menimbulkan pertumpahan darah demikian hebatnya.

Pintu ruangan utama itu pun terkunci rapat. Meneliti keadaan  gedung  yang  masih  tetap  terawat  baik,  hati Giran agak terhibur sedikit, karena menunjukkan penghuninya masih menghargai peninggalan mendiang ayahnya. Ia meninggalkan teras itu dan memutar ke samping gedung menuju arah halaman belakang. Pintu pagar samping pun didapatinya terkunci. Ia naik ke atas pohon. Meneliti sejenak keadaan halaman belakang yang luas dan sunyi itu. Ia melompat turun dan memandang ke sekitarnya. Tepat di sudut dinding belakang, di sebuah kamar  emper  bekas  gudang  kayu  itu,  tampak  lampu masih menyala. Ia menghampiri kamar emper bekas gudang itu, dan melongok melalui jendela yang masih terbuka.

Di dalam kamar sempit dan sangat sederhana itu yang diterangi cahaya lampu teplok yang remang-remang, tampak seorang wanita muda sedang duduk di balai bambu, merajut sebuah baju kecil yang sudah penuh tambalan. Kadang-kadang ia berhenti merajut dan merapikan selimut yang menutupi sesosok tubuh kecil yang  tergolek  tidur  di sisinya.  Agaknya  betapa  sering wajah sayu nan cantik itu disiram deraian air mata. Karena  setiap  tisik  jarum  setisik  air matanya  jatuh menetes. Lebih-lebih bila ditatapnya wajah mungil yang sedang terlena tidur dengan napas halus di sisinya itu.

Giran masih tertegun memandangi keadaan di dalam kamar itu dari luar jendela. Hatinya terasa tergetar oleh luapan rindu yang bertahun-tahun dipendamnya. Ratna, masih tetap cantik meski kini tubuhnya tampak kurus dan bajunya penuh tambalan.

Tiba-tiba hatinya jadi seperti terbakar ketika melihat anak kecil yang sedang tidur di sisi wanita itu.

“Anak  itu  jelas  hasil  perbuatan  nistanya  dengan Samolo…!” Geram hati Giran, dan dadanya terasa akan meletup saat itu.

Ia menguak pintu, menimbukan bunyi berderit yang mengejutkan Ratna. Ratna berpaling dan tertegun memandang ke arah pintu. Perlahan-lahan ia bangkit, ditatapnya laki-laki yang tegak di ambang pintu kamar itu dengan kilauan mata bagaikan tengah bermimpi. Bibirnya yang pucat itu tampak gemetar. Dengan napas tersendat ia berusaha menyebut nama suaminya, namun suaranya kandas tertahan di kerongkongannya yang terasa tersumbat. Giran masih berdiri beku di depan pintu. Keduannya bagaikan patung-patung bisu, tenggelam dalam   kecamuknya   perasaan   masing-masing.   Ratna masih tertegun, seakan-akan memandang suatu fatamorgana.

Kemudian dengan isak tangis yang tersendat-sendat Ratna lari menubruk tubuh suaminya dan didekapnya erat-erat seolah-olah takut kehilangan lagi… Tiada kata- kata yang sanggup terucapkan dari mulutnya, kecuali sedu-sedan yang pecah penuh luapan perasaannya. Giran masih  tegak  seperti  patung  perunggu.  Cuma  matanya saja yang bersinar, tajam dan merah membara. Lama Ratna membenamkan wajahnya di dada Giran yang telanjang dan bidang itu, membasahkannya dengan air matanya   yang   tumpah   tak   terbendung.   Akhirnya terpatah-patah ia meratap, “Kau telah kembali Kak… Aku sangat rindu padamu…!”

Ia  mengangkat  wajahnya  dan  menatap  suaminya dengan mata berkaca-kaca.

“Berjanjilah  Kak…  Jangan  tinggalkan  Ratna  lagi…” Pintanya.

Mata Giran tajam memandang lurus ke muka, dingin menusuk seperti angin yang berhembus dari luar jendela.

“Ratna…  Ratna!  Tidak  perlu  kau  bersandiwara  di hadapanku! Hapuslah air mata buayamu itu…!” gumam Giran dengan dingin.

Ratna    ternganga    tak    mengerti.    Matanya    bulat terbelalak  menatap  wajah  suaminya  yang  dingin  dan sinis.

“Apa maksudmu Kak…?” Tanyanya tak mengerti.

Tiba-tiba Giran mendorong tubuh Ratna hingga jatuh terpelanting ke atas balai. Anak kecil itu pun terbangun dan menangis. Ratna segera menggendongnya. Wajah Ratna jadi pucat dan bingung. Air matanya makin deras bercucuran. Sambil membelai kepala anaknya ia menatap suaminya yang kaku dan penuh diliputi kebencian. Giran enggan memandang istrinya, ia melangkah ke jendela. Suaranya terdengar parau dan dalam ketika berkata, “Tiada sedetik pun dalam sekian tahun di rantau aku melewatinya tanpa disiksa kerinduan. Bayanganmu senantiasa datang dalam mimpiku!”

Ratna   tertunduk   sambil   menggigit   bibirnya.   Air matanya tumpah makin deras.

“Tapi   kini   aku   mengutuki   ketololanku   sendiri. Mengapa aku mau mengawini perempuan nista semacam kau!”

Dingin dan hambar kata-kata Giran, tapi terasa seperti mata pisau yang teramat tajam menyayat-nyayat jantung Ratna. Hingga perempuan ini harus berpegang erat-erat tepi balai agar tidak jatuh bersama anaknya yang berada di dekapannya itu. Dikuatkan hatinya untuk bertanya kepada sang suami, “Apa salah dan dosaku, Kak?! Aku tidak merasa pernah mengkhianati suamiku…! Aku selalu setia kepadamu, Kak Giran.”

“Demi Tuhan, aku tidak pernah mimpi apalagi merasa telah punya anak haram seperti itu!” jawab Giran penuh geram.

Ratna benar-benar terluka, ia menjerit.

“Kau… Kau memfitnah! Anak ini adalah darah dagingmu sendiri!”

Giran mendengus. Nada kata-kata Ratna kembali lembut, “Kasihan anak kita ini Kak, dia sangat mendambakan kasih sayang ayahnya. Kuberi nama Girin agar aku selalu merasa dekat di sisimu, kak Giran…!” Katanya lirih.

Giran berpaling, matanya menyala menatap Ratna dan putranya itu.

“Campakkan  anak  haram  itu!  Cuma  setanlah  yang mau percaya ocehanmu itu!”

Giran  tak  kuasa  menahan  emosinya,  ditudingnya istrinya.

“Kau dan Samolo bukan saja telah mendurhakai aku, juga ibuku. Adikku kalian campakkan dari rumah ini! Kau Ratna, kau telah bersekongkol dengan binatang Samolo dengan kelicikan dan kebusukan yang kalian rencanakan masak-masak itu! Kau harus menebus dosamu, Ratna!”

Dicengkeramnya lengan Ratna kuat-kuat lalu ditarik ke luar pintu. Ratna menjerit sambil meronta. Girin ikut menjerit ketakutan.

“Kau… Kau sudah gila, Kak Giran…?! Tidak! Aku tidak bersalah!” Protesnya sambil berusaha melepaskan lengannya dari cekalan Giran. Amarah Giran makin meledak, tanpa rasa iba sedikitpun diseretnya Ratna yang meronta-ronta itu.

“Ayo! Kau harus bersembah sujud dan bersimpuh di bawah kaki Ibuku, untuk menerima hukuman dari dia!”

“Tidak! Tidak!” jerit Ratna seraya berusaha bertahan dengan berpegangan pada pintu sekuat tenaganya. Girin terjepit dan menjerit-jerit. Namun Ratna terus berpegangan pada tiang pintu, menolak untuk menemui mertuanya.

“Tidak! Aku tidak mau pergi! Meski dibunuh pun aku tidak sudi menemuinya! Tidak!” Ia bertahan.

“Keparat!  Aku  patahkan  tangan  dan  kakimu!  Ayo! Setelah kau, akan kucabut nyawa kekasihmu, si Samolo jahanam itu!”

Dengan hentakan keras, terlepaslah pegangan Ratna pada tiang pintu itu. Giran terus menyeretnya tanpa menghiraukan jeritan protes istrinya dan tangisan Girin kecil itu. Ratna terjatuh dan terus diseret ke tengah halaman yang becek tersiram hujan itu. Pada detik itu, tiba-tiba sebuah tongkat tepat menghantam lengan Giran. Dengan terkejut Giran melepaskan lengan Ratna sambil melompat mundur dengan penuh waspada. Rasa sakit terasa sampai ke tulang sumsumnya. Seorang laki-laki tua berkumis dan berjangggut memutih telah tegak di antara ia dan Ratna. Suaranya berat, tenang penuh wibawa.

“Entah dedemit dari neraka mana, berani mengganggu wanita dari keluarga baik-baik! Siapa kamu?!” Tegur laki- laki tua itu.

“Hmm…  Samolo!  Kebetulan,  aku  memang  sedang mencarimu!”

Mendengar  suara  sang  pemuda,  wajah  centeng  tua yang  angker  itu  jadi berubah kaget kemudian tampak berseri-seri.

“Oh…  Den  Giran…!  Aden  sudah  pulang…!”  Sapa Samolo gembira.

“Jangan berpura-pura! Aku tahu kalian justru mengharapkan aku tidak akan pulang selama-lamanya!” tukas Giran dengan geram.

Samolo tertunduk, sikapnya tetap tenang penuh hormat.

“Kami selalu menanti kembalinya Aden. Banyak peristiwa telah terjadi. Aku ingin menjelaskan kepadamu Den!”

“Tidak perlu! Aku sudah cukup tahu tentang kebusukan kalian berdua! Arwah ayahku pasti akan bangkit dari liang kubur kalau saja beliau tahu, bahwa kau yang sangat dipercayainya sepenuh hatinya, ternyata seekor serigala berbulu domba!”

Samolo mengelah napas, suaranya jadi terdengar lebih dalam dan pedih.

“Telah kuduga, engkau telah didului oleh perempuan tua celaka itu dan terhasut oleh mulutnya yang berbisa!”

Mata Giran mendelik.

“Bangsat!  Berani  kau  berkata  sekeji  itu  terhadap ibuku?!” Lengannya meraba bungkusan kain putih di pinggangnya.

“Aku kagum akan rasa baktimu terhadap orang tua, Den! Tapi ibumu itu…, begitu rendah martabatnya dan tak patut menerima sujud bakti seorang anak seperti kau, Den!”

Giran  melompat  seraya  mencabut  pisau  pusakanya yang terbungkus kain putih itu. Ia menggeram dengan luapan amarahnya.

“Tutup mulutmu! Kau sudah melampaui batas, Samolo!”

Ia    melangkah    maju    sambil    menghunus    pisau pusakanya yang beracun itu.

“Kau   harus   menebus   dosa-dosamu!   Kau   telah melempar keluargaku ke dasar neraka penderitaan paling nista! Kau jadikan ibuku sebagai mayat hidup, bergentayangan di kegelapan sepanjang hidupnya! Benar- benar keji kau, Samolo!”

“Dengarlah Den!” Samolo berusaha menenangkan Giran. “Kekerasan tidak mungkin dapat menjernihkan air yang keruh! Tenang dan bersabarlah, akan kujelaskan persoalan yang sangat pelik ini. Tenanglah Den!” Bujuknya.

Tapi amarah Giran sudah tidak bisa dikekang lagi. Bayangan penderitaan ibu dan adiknya benar-benar membuatnya menjadi kalap. Tiba-tiba saja ia melompat menerjang  dengan  tikaman  pisau  pusakanya  tepat  ke arah jantung Samolo. Centeng tua yang masih tangkas ini melompat mundur untuk menghindar dari ujung belati yang  meluncur  bagaikan  kilat  itu.  Giran  terus mengejarnya sambil melancarkan tikaman-tikaman yang mematikan. Ratna jadi panik berusaha mencegah kekalapan suaminya.

“Jangan    Kak!    Bang    Samolo    tidak    bersalah…! Jangan…!” Jerit Ratna.

Tapi   Giran   tak   menghiraukan   jerit-tangis   anak istrinya. Ia merangsek terus centeng tua yang selalu berusaha menghindar. Sekali-kali tongkat bambunya itu menangkis atau menyampok mental hunjaman ujung pisau Giran.

Hujan masih terus turun dengan lebatnya, guntur menggelegar   memekakkan   telinga.   Ratna   menggigil mendekap Girin yang terus menangis kedinginan, juga ketakutan.

Dua buah serangan berantai Giran dengan beruntun pula dapat dipunahkan oleh Samolo. Giran semakin penasaran, ia menggeram seraya lompat melancarkan tendangan berantai. Tubuh tua Samolo segera terguling. Sembuah tendangan dengan telak menghantam dadanya. Giran lompat sambil mengangkat pisaunya untuk menghabisi nyawa centeng yang dianggapnya telah menghancurkan keluarganya. Ratna menjerit, dilepaskannya Girin dari dekapannya dan lari menghambur memeluk kaki suaminya.

“Kau  salah  paham  Kak!  Sadarlah.  Kau  bertindak terlalu kejam terhadap orang yang tak berdosa! Kau pasti menyesal!” Ratap Ratna mengiba sambil memeluk kaki Giran.

“Tak berdosa?! Air tujuh samudra pun tidak akan cukup  mencuci  bersih  noda  dan  dosa  kalian!”  Geram Giran sambil menyepakkan kakinya, sehingga tubuh Ratna pun terpelanting di atas tanah becek itu.

Putra  sulung  Tuan  Tanah  ini  semakin  mendidih

darahnya. Ia mengumpat kepada Samolo yang berlutut, menggapai-gapai mencari tongkatnya. Untuk sesaat Giran jadi tertegun, ia baru mengetahui mata centeng ini sudah tidak berfungsi lagi. “Dia sudah buta…!” gumamnya. Saat itu terlintas kenangan masa lalu ketika ia masih kecil dulu. Sering ia nangkring di punggung laki-laki tua ini yang merangkak-rangkak di halaman main kuda-kudaan. Dia telah mengasuh dirinya dengan penuh telaten serta kasih sayang sebagai anaknya sendiri. Samolo sesungguhnya abdi yang sangat setia ketika itu. Betapa kecewa hatinya, ternyata watak manusia begitu mudah goyah.  Darahnya  kembali  mendidih  ketika  bayangan wajah ibunya yang menderita buta dan Mirta yang terganggu jiwanya akibat perbuatan centeng ini. Dadanya terasa terbakar kembali. Kini Samolo telah bangkit lagi, berdiri agak limbung di tengah derahan hujan lebat. Tampak darah menetes dari mulutnya, memerahi kumis dan janggutnya yang putih. Darah itu terus menetes, mememerahi  genangan  air  di  bawah  kakinya.

Melihat penderitaan centeng tua itu, hati Ratna terasa ikut tersayat. Ia meratap mengiba-iba kepada suaminya.

“Kak Giran, jangan kau terpedaya oleh hasutan Ibu dan  Mirta…!  Merekalah  sesungguhnya  yang  menjadi biang keladi dari semua malapetaka ini…!”

Samolo  terbatuk-batuk, bicara dengan napas memburu.

“Biarlah Neng Ratna. Suamimu telah begitu dendam kepadaku! Ya, memang akulah yang telah membutakan mata ibumu. Kalau itu satu dosa, aku bersedia menerima hukuman darimu, Den Giran!”

“Kalau begitu, kau memang harus mati Samolo!” teriak Giran, seraya menerjang dengan sabetan-sabetan pisaunya. Samolo berkelit dan menangkis dengan tongkat bambunya. Suara benturan senjata seakan-akan bersahutan dengan bunyi guntur di angkasa. Pertarungan berlangsung dengan serunya di bawah curahan hujan lebat. Ratna menggigil sambil mendekap Girin, menahan ketegangan jiwanya. Betapa tidak, karena kedua laki-laki itu adalah orang-orang yang paling dikasihinya dalam hidup ini. Hatinya menjerit dan meratap, namun apa daya…?!

Ia cuma bisa terisak menangis sambil memeluk anaknya. Karena faktor usia serta kondisi tubuh yang sudah   tak   berimbang   lagi,   Samolo   tersungkur   tak berdaya. Kepalanya terbentur tiang emper lalu rebah tak berkutik lagi. Ratna menjerit, menubruk tubuh yang nampak masih tegar itu. Diguncang-guncangnya sambil memanggil nama sang centeng. Tapi Samolo cuma merintih sejenak lalu diam terkapar dengan keadaan sangat menyedihkan.

Giran menarik lengan Ratna lalu ditariknya.

“Biarkan jahanam itu mendapatkan bagiannya! Kini giliranmu!”

“Kau.   Kau   kejam!”   Ratna   menjerit   dan   meronta berusaha melepaskan diri. Tapi Giran tak memperdulikannya, terus menyeretnya ke luar halaman belakang gedung itu. Ratna terus meronta, tubuhnya terseret di tanah becek tersiram hujan yang tak kunjung henti.  Girin  menjerit-jerit  mengikuti  sambil  memanggil ibunya. Tapi Giran yang sudah gelap mata ini dengan tidak  mengenal  ampun  menyeret  tubuh  istrinya sepanjang sisi gedung terus menuju keluar.

“Tidak!  Tidak!  Aku  tidak  sudi  lagi  melihat iblis itu! Lepaskan…! Lebih baik kau bunuh saja aku di sini…! Lepaskan…!” jerit Ratna sepanjang jalanan.

Tubuh  Ratna  tergusur  melewati  pintu  gerbang  dan melintasi  jembatan  yang  melintang  di atas parit besar yang ada di muka gerbang itu. Girin mengikuti terus sambil menangis memanggil-manggil ibunya. Tepat di tengah jembatan batu yang licin itu anak ini terjatuh tergelincir dan tubuhnya berguling ke bawah jembatan itu. Melihat itu, Ratna menjerit histeris.

“Ya Allah, Anakku! Girrriiinnn… Anakku…”

Tapi ia tak kuasa menolong anaknya itu, tubuhnya jatuh bangun diseret Giran yang sedang kalap. Girin megap-megap dihanyut air yang mengalir deras itu. Teriakan ibunya kian menjauh, kemudian sirna ditelan gemuruh hujan dan guntur yang masih menggila.

Sementara   itu,   tubuh   Samolo   mulai   bergerak, perlahan-lahan siuman dari pingsannya. Kemudian ia sadar dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Dengan seluruh sisa tenaganya ia berusaha bangkit. Lalu dengan langkah terhuyung-huyung ia mengejar ke muka pintu gerbang, sambil memanggil-manggil Ratna dan Girin. Tongkatnya  menyusuri  jembatan  batu  itu.  Tepat  pada saat itu, telingannya mendengar sesuatu di bawah jembatan   itu.   Wajahnya   jadi   semakin   tegang   dan beringas.

“Tangisan Girin…!” Desisnya cemas.

Suara megap-megap di kolong jembatan itu terdengar samar-samar, kemudian lenyap ditelan deru hujan. Samolo mengerahkan daya pendengarannya yang menjadi andalannya selama ini untuk mencari anak kecil itu. Syukurlah  Girin  yang  baru  berusia  empat  tahun  ini cukup cerdik untuk menolong dirinya. Ia bergelayutan erat-erat pada akar pohon yang kebetulan tumbuh di tepi parit itu.

Samolo pun segera mengetahui di mana anak itu berada.  Dengan  meraba-raba  ia  turun  ke  dalam  parit yang sedang pasang dan dengan air yang mengalir amat deras. Tubuhnya bergerak dan menggapai-gapai ke arah Girin yang berpegangan erat pada akar pohon. Arus air yang deras itu menghempas dan menarik tubuh centeng tua ini. Namun dengan sekuat tenaga ia maju terus mendekat ke arah cucu majikannya.

“Tenanglah Nak! Berpeganglah erat-erat. Embah akan menolongmu!” kata Samolo memberi semangat kepada bocah kecil itu. Sesaat kemudian lengannya berhasil meraih tubuh anak itu dan langsung dipeluknya. Girin pun merangkul dengan erat.

“Tenanglah Nak. Kau sudah selamat kini…!” hibur Samolo sambil berusaha menggapai tepi parit. Girin menangis terisak-isak memeluk leher “Si Embah” ini.

Keduanya berhasil naik ke atas parit dan berdiri di atas jembatan. Samolo menggendong Girin yang masih terus menangis,  menunjuk  ke  arah  jalanan.  “Mama dicelet kecono…!” rengeknya.

“Diam Nak, jangan menangis…! Mari kita susul Mama!” Sambil menggendong Girin, Samolo berjalan menuju jalanan besar itu dengan tuntunan tongkatnya.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed