10

DEMIKIANLAH  sebuah  kisah  panjang  yang  dituturkan oleh Nyi Londe kepada Giran, putra sulung Tuan Tanah Kedawung yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“Begitulah kejadian sesungguhnya yang melanda keluarga besar ayahmu, Giran. Kini terserah kepadamu, mau percaya atau tidak. Yang pasti tugasku kini sudah selesai.” Kata Nyi Londe sambil bangkit dari tempat duduknya.

Pemuda ini terpaku, termenung dalam kebisuan.

“Peti pusaka itu telah selamat jatuh ke tangan pewarisnya yang berhak. Kukira Ratna dan Samolo pun tidak perlu ucapan terima kasihmu, andai pun kau mau mempercayai semua kenyataan itu secara jujur. Yang penting bagi mereka cumalah pengertian darimu. Karena betapa  pun mereka telah banyak menderita, sengsara, bahkan  terlalu  banyak, Giran!” sambung pengasuh ini tanpa bermaksud membujuk.

Giran masih tunduk termenung di jendela, sementara Nyi Londe membungkus pakaiannya dengan buntalannya.

“Sebenarnya   penderitaan   Samolo   belum   berakhir sampai di situ. Ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan pembantaian masal. Hampir dua tahun perkaranya berlangsung. Berkat pembelaan gigih seorang pengacara   kawakan,   juga   para   korban   itu terbukti memang para buronan dan penjahat yang sedang dikejar-kejar polisi, maka akhirnya Samolo terbebas dari hukuman seumur hidup atau tiang gantungan.” tutur Nyi Londe lebih lanjut.

“Dan untuk apakah Samolo sampai rela mempertaruhkan  nyawanya  sendiri?  Untuk  siapakah semua pengorbanannya itu? Padahal dia pribadi  sama sekali tidak mengharapkan apa pun. Aku tahu pasti itu.” sambung Nyi Londe dengan suara agak tersendat.

Giran masih bungkam, namun sesungguhnya sebuah perang sedang berkecamuk di rongga dadanya.

“Dapatkah   aku   mempercayai   semua   cerita   Uwak Londe?

Benarkah ibuku menyuruhku ke Borneo hanya siasat untuk menyingkirkan aku semata?

Semula aku mengira, akulah yang bodoh tidak bertanya lebih jelas tentang letak kebun karet milik ayahku itu, padahal ternyata pulau Borneo itu begitu luas dan beribu Onderneming karet ada di sana. Maka sia-sialah aku menemukan kebun karet ayahku yang katanya berada di pulau itu. Uang bekal habis sampai aku hidup terlunta seperti gelandangan. Entah berapa puluh suratku yang kukirim ke sini untuk meminta kiriman uang tanpa satu pun yang terbalas. Mungkin Samirun-lah yang menyita surat-suratku itu. Akibatnya hidupku makin parah dan terpaksa jadi kuli kontrak sebagai penyadap karet. Kehidupan yang benar-benar pahit penuh pergumulan serta pertarungan seperti hewan liar.

Kadang-kadang cuma demi sedikit uang, nyawa manusia akan dipertaruhkan. Istri-istri mereka begitu mudah luntur kesetiaannya jatuh ke pelukan para controlir atau kepada laki-laki iseng siapa saja yang mau membayarnya hanya dengan sekeping uang. Begitu mudahnya manusia kehilangan martabat serta harga dirinya hanya demi sepotong logam itu. Sejak itu luntur pula kepercayaanku terhadap   yang   namanya   kesetiaan   dan   kejujuran.

Manusia tidak lebih hanya segumpal daging yang serakah dan tamak.

Yang masih dipercayai hanyalah kasih ibu dan  persaudaraan  yang  sejati.  Hal  itu  kuperoleh  dari orang tua angkatku, kepala suku Dayak Iban yang baik hati. Atas pertolongannya aku masih bisa hidup sampai sekarang ini. Atas bantuan saudara-saudara suku Dayak itulah akhirnya aku bisa berlayar ke Batavia dan pulang ke rumah lagi.

Ternyata peristiwa yang lebih tragis dari kebuasan hidup di belantara hutan karet itu telah terjadi di sini, di tengah keluargaku sendiri! Kini jelas sudah, mengapa ayah tidak mencantumkan nama ibu dan Mirta di dalam surat wasiatnya itu sebagai ahli waris dari harta peninggalannya. Rupanya ayah sudah mengetahui penyelewengan kedua orang itu. Namun demi menjaga nama baik serta keutuhan keluarganya, ia rela menelan semua derita pahitnya itu dan dipendamnya rapat-rapat sampai ajalnya yang sangat menyedihkan itu. Oh, betapa mulia hatimu, ayah…!”

Sebuah bayangan seolah-olah terpeta kembali di hadapan Giran, sebuah pengalaman hidup yang begitu pahit yang pernah dialaminya di negeri seberang dan telah menempanya menjadi seorang berwatak keras dan tegas. Kepalsuan serta kelicikan sesama manusia terlalu banyak dilihat dan dirasakannya. Kini ia tak mudah lagi mau mempercayai apa saja tanpa bukti nyata. Sikap itu pula yang diajarkan oleh bapak angkatnya  yang  membekalinya  dengan  ilmu  beladiri cukup lumayan. Hidup ini memang belantara buas, orang harus cerdik dan pandai bila tidak mau jadi mangsa sesama makhluk yang hidup di atas bumi ini. Demikian prinsip petuah itu tertanam dalam-dalam di dasar jiwa Giran.

Nyi Londe mulai berkemas dan memakai kerudungnya.

Di luar badai masih mengamuk mesti tidak sedahsyat tadi.

“Uwak mau berangkat sekarang? Hujan masih belum reda, nanti Uwak sakit…!” Kata Giran pelan.

“Apalah artinya hujan sebegitu, kami sudah terlalu terbiasa menghadapi badai sengsara dan derita dunia ini, Giran.” jawab Nyi Londe tajam.

Dengan menjinjing buntalan Nyi Londe menguak pintu. Tepat pada sat itu kilat menyambar. Pohon di muka pondok  itu  tumbang  mengepulkan  asap.  Tapi  tanpa gentar sedikitpun perempuan setengah tua ini melangkah terus.

“Kau mau ke mana, Wak…?” Tanya Giran melihat kekerasan hati pengasuhnya itu.

“Ke mana lagi kalau bukan menyusul Ratna dan Samolo!” jawab Nyi Londe sambil berjalan terus di bawah deraan hujan lebat. Sementara Giran berjalan mengikuti di sampingnya sambil mengempit kotak pusaka itu.

“Ke gedung kita?”

“Buat apa ke situ lagi, mereka telah kau usir, bukan?” jawab Nyi Londe agak sinis.

Giran tertunduk.

Mereka berjalan menembus hutan jati yang lebat itu. Cahaya kilat berkali-kali menerangi hutan itu. Tiba-tiba di antara deru angin yang menerpa daun jati, terdengarlah suara teriakan seseorang, suaranya mirip auman seekor anjing liar.

“Dengar, Wak, suara apa itu?” tanya Giran sambil memasang telinganya. “Seperti salakan seekor anjing hutan, bukan?” tanya Giran lagi.

“Ya, suara seekor anjing hutan yang sangat liar. Mirta!”

“Mirta…?!”  tanya  Giran  kaget,  karena  diketahuinya “adiknya” itu sudah tergeletak jadi mayat di tengah hutan jati  tersebut.  Giran  terperangah,  karena  kini  tampak olehnya Mirta sedang jalan terhuyung-huyung di tengah hutan  jati  itu  sambil  berteriak  dan  tertawa  terbahak-bahak seperti orang kemasukan setan.

“Hua… ha… ha… ha…  Ke sini manisss…! Jangan lari, Ratna…  Ratnaaa…  Aku cinta padamu…  Hi… hi… hi…!” teriak Mirta menggapai-gapai entah kepada siapa.

“Mirta, dia tidak mati…?” gumam Giran sambil mengintai dari balik pohon.

Mirta memang tidak mati, tapi jiwanya sudah tidak waras lagi, akibat pukulan pada kepalanya serta guncangan-guncangan hebat pada jiwanya. Wajah Mirta yang berlumuran darah itu tiba-tiba berubah buas. Ia menggeram.

“Hei, Ratna! Apa yang kau lakukan dengan si bedebah Giran  di  situ?  Bocah  keparat  itu  sudah  mati,  tahu?!” teriak Mirta makin kalap.

“Kesini kau Giran! Kutelan hidup-hidup kau, Bangsat! Kau memang selalu menyaingi aku. Sekarang kau rebut Ratna dariku. Dasar setan laknat kau, Giraaannn!”

Giran tersentak bagaikan disambar petir. Ia tertunduk dengan lunglai.

Sesaat kemudian Mirta membenturkan kepalanya ke pohon jati, lalu menangis sesengukan.

“Aduuuuh, Ratna…  Jangan tinggalkan aku, Ratna…!” ratapnya tersedu-sedu seperti anak kecil.

Pada saat itu dari kejauhan tampak seorang nenek berambut putih berurai, berjalan dengan tersuruk-suruk dan meraba-raba dengan tongkatnya, menghampiri Mirta. “Mirta…   Mirta…   Di mana kau, Nak…?!” lirih suara nenek ini memanggil-manggil nama anak kesayangannya. Tapi  pemuda  yang  dipanggil  malah  jadi  ketakutan ketika melihat ibunya, lalu menyelinap ke balik pohon

dan mengintai dengan mata terbelalak menakutkan. “Sssssiapa lu…!?” tanyanya dengan mata melotot tak berkedip.

“Mirta… Kenapa kau, Nak? Ini ibu…!” Jawab Subaidah semakin lirih. Ia melangkah mendekat.

Mirta  tersentak  lalu  lari  berputar  ke  balik  pohon.

Ditatapnya ibunya tajam-tajam. Ia menjerit dengan tiba- tiba.

“Kau…?!    Kau    Samolo…!    Ampuuun…!    Ampuun Samolo…! Jangan…! Jangan bunuh aku…! Jangaaannn…! Bukan aku yang menyuruh membunuhmu, Ratna, Girin dan Nyi Londe…   Ibuku dan Samirun-lah yang punya maksud menguasai seluruh harta itu. Sungguh mati, Samolo,  bukan  aku…!”  ratap  Mirta  terbata-bata ketakutan.

Subaidah mendekat, lengannya menggapai-gapai ingin membelai kepala putranya yang semakin angot ini. Tapi tangannya itu ditepis oleh Mirta yang menelungkup dan menggigil ketakutan.

“Ampun Samolo… Ampun…!” jerit Mirta sambil menutupi kepala dengan lengannya.

Subaidah masih berusaha meraba tubuh anaknya, tetapi malah membuat Mirta makin panik meronta dan lari bersembunyi ke balik pohon lagi. Subaidah pun menangislah.

“Ya, Allah, ya Gusti…! Beginilah kiranya kutukan-Mu terhadap diriku yang penuh dosa dan noda ini…?” Ratapnya tersedu-sedu penuh penyesalan.

“Ibu…?!” Teriak Mirta tiba-tiba seperti sadar.

“Oh Mirta…  ini ibu! Ibumu Nak…! Ke sinilah, jangan tinggalkan ibu, Mirta…! Ibu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kau…!” Seru Subaidah mengiba-iba.

Mirta   menghampiri   ibunya,   mendekapnya   sambil menangis.

“Ibu,  kenapa  kita  jadi  begini,  Bu…?!  Kenapa…?!” Tanyanya sambil menangis.

Air mata Subaidah semakin deras tertumpah dari kelopak matanya yang sudah tak berbiji itu.

Mirta menatap wajah ibunya dengan pandangan aneh. Tiba-tiba ia tersentak mundur dan jatuh terduduk di kaki ibunya, wajahnya kembali berubah jadi ketakutan.

“Haaaah?! Kau bukan ibuku…! Muka ibuku tidak sejelek seperti hantu…! Ya kau hantu…! Hantu… Hiiiii!” Suara Mirta menggigil seperti benar-benar melihat hantu yang amat mengerikan.

“Bukankah kau yang bersama-sama paman Samirun dan  Sarkawi  mencekik  ayahku  sampai  mati?  Kalian bertiga ramai-ramai membunuh dia. Sekarang kau juga mau mencekik aku, seperti yang kaulakukan terhadap ayahku…?!” Jerit Mirta tersendat sambil memegang lehernya sendiri.

“Cukup  Mirta!  Cukup!  Jangan  kau  siksa  lagi  ibu dengan kata-katamu itu!” jerit Subaidah pilu sambil menekap wajahnya.

“Aku memang manusia iblis, Samirun juga setan. Aku diseretnya ke jurang paling nista dalam hidup ini. Sekarang aku beritahukan kepadamu, kau sesungguhnya bukanlah  anak  kandung  yang  selama  ini  kau  anggap ayah. Dia ayah Giran, bukan ayahmu. Samirun-lah ayah kandungmu, Mirta!” kata Subaidah sambil menangis terisak-isak.

Giran memejamkan matanya, ia telah mendengar semuanya. Setiap kata-kata itu seakan-akan lidah petir yang menyambar, menghanguskan serta mengoyak- ngoyak jantungnya.

Angin masih menderu-deru. Pohon jati meliuk-liuk mengeluarkan suara seperti rintihan yang sangat melirihkan, selirih rintihan dan ratapan Mirta yang bergayut di tubuh ibunya.

“Pantas, pantas Ratna tidak mau kepadaku, dia lebih cinta kepada Giran, karena bocah jahanam itu adalah asli dari Tuan Tanah yang kaya raya, hartanya tak habis digegares  tujuh  turunan.  Tapi  aku?  Aku  Cuma  anak seorang kasir melarat, si setan Samirun…!” begitu ratap Mirta  sambil  bergelayut  di  tubuh  ibunya  yang  jadi limbung keberatan.

“Coba  kalau  dulu  si  Sarkawi  berhasil  memenggal kepala bocah sialan itu di kebun kelapa, atau dia mati dihadang Mat Gerong tempo hari, waktu ibu tipu dia supaya berangkat ke Borneo, sekarang Ratna pasti sudah jadi milikku. Oh… dasar nasibku yang sial-dangkalan.”

Subaidah jatuh terduduk ke akar pohon ditindih oleh Mirta  yang  semakin  angot  gilanya.  Pemuda  ini  mulai bicara tidak karuan lagi. Sekarang ia memandang wajah ibunya sambil tersenyum-senyum genit. Lengannya meraba-raba tubuh kurus itu dengan napas berdengus- dengus seperti hewan liar. Membuat Subaidah jadi kelabakan dicumbu anaknya yang sinting ini.

“Ratna… Ratna. Lu tambah botoh saja sekarang. Hihihihi…!” rayu Mirta sambil meraba pipi ibunya yang sudah keriput itu.

“Sekarang  gua  sudah  kaya,  lu  mau  apa?  Kalung? Gelang  emas  atau  giwang?  Mau  berapa  gerobak?  Gua beliin  dan  semuanya,  asal…    hi…  hi…  hi…”  cumbuan Mirta semakin panas.

“Sadar Nak! Eliiiiiinnnggg…!” jerit Subaidah ripuh.

“Apa  lu  bilang?  Maling!?  Lu  katain  gua  maling?! Lu yang maling si Ratna. Biarin lu nyaru jadi nenek-nenek, gua tahu lu si Giran. Mau mengelabuhi mata gua, lu ya? Gua  mampusin  lu!” geram Mirta, lengannya mencengkeram leher ibunya yang jadi megap-megap.

“Mirta!  Ini  ibu,  Mirta…  Aakhhk…!”  jerit  Subaidah tersendat-sendat. Lengannya berusaha melepaskan cekikan tangan Mirta yang makin kuat mencengkeram lehernya.

“Bangsat! Lu kira gua takut sama lu? Lu betul-betul biang penyakit, Giran. Gara-gara lu,  gua jadi sengsara begini.   Mampusss   dah,   lu…!”   geram   Mirta   sambil mencekik leher ibunya sekuat-kuatnya.

Subaidah meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari  cekikan  putranya  yang  sudah  terganggu  jiwanya. Tapi  usaha Subaidah sia-sia, cekikan Mirta malah semakin kuat, membuatnya tak bisa bersuara maupun

bernapas lagi. Matanya memuncratkan darah, lidahnya pun terjulur keluar. Tubuhnya kejang dalam sekarat. Tangan Mirta masih terus mencekik lalu ditekan kepala ibunya hingga hampir terbenam ke dalam lumpur-daun- jati yang membusuk itu.

Nyi Londe yang menyaksikan adegan yang sangat mengerikan itu, tanpa terasa menjerit sambil membuang muka ke arah lain. Giran tersentak lalu berusaha mencegah tindakan Mirta yang sudah tak waras lagi itu. Tapi ia terlambat, karena tubuh Subaidah sudah terbujur kaku dengan lidah terjulur ke luar. Giran jadi bergidik dan terpaku di tempatnya.

Sesaat kemudian dengan masih terengah-engah Mirta terdiam, memandangi wajah ibunya yang diam membiru. Ia tersentak gemetar.

“Mati…!?” Gumamnya sambil melangkah mundur.

Dengan beringas ditatapnya kedua lengannya yang gemetar itu lalu pandangannya beralih lagi ke wajah ibunya. Wajahnya nampak makin pucat.

“Mati…? Ibu ma… ti…?!” celotehnya berulang-ulang. Lalu   ia   tiba-tiba   menelungkup   memeluk   kepalanya sendiri, menangis terisak-isak.

“Ibuku sudah mati…! Hu… hu… hu…!” Mirta terus meratap. Sekonyong-konyong ia menghempaskan tubuhnya ke batang pohon dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke batang pohon itu dengan kerasnya hingga darah pun muncrat dari kepalanya yang memang sudah luka itu. Ia menjerit melengking seakan-akan menyesali perbuatannya sendiri.

Giran dan Nyi Londe hanya bisa terpaku memandang kejadian itu dengan perasaan ngeri.

Mirta sudah terdiam tenang, hanya matanya saja yang masih nampak liar. Namun sesaat kemudian ia senyum- senyum aneh dan terkekeh-kekeh geli sekali seakan-akan melihat suatu peristiwa yang sangat lucu. Kini tertawanya semakin keras dan terbahak-bahak seru.

“Dia sudah matiiiiiii… Hua ha ha haha… Matiiiiii…!” Dia  tertawa  terpingkal-pingkal  sambil  menari-nari.

Berputar-putar dari pohon ke pohon. Giran menghampiri dan  memanggil  namanya,  tapi  Mirta  sudah  tak dapat mengenali siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Ia masih terus terbahak-bahak sambil menari. Kini suara tertawanya  makin  mirip  lolongan  anjing  hutan, melengking dan panjang. Ia terus menari-nari semakin jauh ke tengah hutan jati.

Hujan masih tumpah  dengan derasnya, guntur dan halilintar berpecahan di angkasa. Sekonyong-konyong secercah cahaya yang sangat menyilaukan mata menyambar sebatang pohon jati, disusul dengan sebuah dentuman dahsyat, dan tumbanglah sebuah pohon jati besar.

“Mirta awasss…!” Teriak Giran secara reflek.

Mirta  terpaku  memandang  pohon  besar  itu  rubuh tepat ke arahnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya lenyap tertindih batang pohon yang tumbang itu. Giran memburu ke tempat itu, ia cuma melihat sebuah lengan Mirta terjulur di antara ranting dan daun jati. Dibongkarnya daun-daun itu, terlihat tubuh Mirta tergencet cabang besar dan sudah tak bernapas lagi.

Giran berusaha mengangkat cabang pohon yang menghimpit tubuh Mirta tapi tak berhasil. Ia menghela napas dan termenung di sisi pohon tumbang itu. Kemudian melangkah ke arah tubuh ibu tirinya yang terbujur kaku. Nyi Londe pun sudah berdiri di situ.

“Kutukan  Tuhan  akhirnya  datang  menghukum mereka.” kata Nyi Londe pelan.

“Aku  merasa  seakan-akan  baru  sadar  dari  sebuah mimpi yang begitu menakutkan.” Desah Giran sambil menghela napas dalam-dalam.

“Ke  manakah  kira-kira  mereka  pergi  sekarang  ini, Wak…?!” tanya Giran.

“Maksudmu Neng Ratna, Girin dan Samolo? Aku pikir mereka pergi ke Cengkareng, seorang bibi Ratna katanya tinggal di sana.” Jawab Nyi Londe. Segores senyum kecil terlihat di wajahnya.

Setelah menutupi mayat Subaidah dengan dedaunan, Giran merencanakan untuk mengerahkan penduduk agar mengubur jenazah ibu tiri dan Mirta itu dengan layak. Setelah itu ia dan Nyi Londe akan menyusul anak-istrinya serta   Samolo   dan   membawanya   pulang   ke   gedung warisan ayahnya.

Hujan masih turun berderai dan angin pun menderu-deru. Dengan langkah masih lunglai Giran berjalan mengiringi  Nyi  Londe  ke  luar  dari  hutan  jati,  sebuah hutan yang telah membuka tabir rahasia yang selama ini menyelubungi keluarganya. Matanya kini telah melihat dengan jelas, juga mendengar dengan seksama semua peristiwa yang terjadi di balik tabir tersebut. Betapa terenyuh hatinya.

Sementara  itu  di  sebuah  kandang  kerbau,  tampak Ratna dan Girin juga Samolo sedang berteduh dari serangan   hujan   deras.   Samolo   melangkah   ke   luar kandang tersebut, tangannya menengadah.

“Hujan sudah reda dan sebentar lagi berhenti. Mari kita berangkat sekarang Neng, agar tidak kemalaman di jalan!” kata Samolo.

Ratna dengan menggendong Girin keluar dari kandang kerbau  tersebut,  lalu  mereka berjalan menuju Cengkareng, seperti yang telah diduga oleh Nyi Londe. Memang tidak ada sanak-saudara bagi Ratna kecuali bibinya yang di Cengkareng itu.

Dari jauh Giran melihat mereka.

“Itu mereka, Wak. Di dekat kandang kerbau itu!” kata Giran memberitahu Nyi Londe.

“Mana…?” tanya Nyi Londe menyipitkan matanya karena ia cuma melihat dua titik kecil saja di kejauhan. Itupun hanya samar-samar tertutup kabut.

Giran segera berlari untuk menyusul mereka. “Ratnaaaa! Samolooo…! Tunggu dulu…!” Teriak Giran memanggil-manggil. Suaranya menggema dan memantul di dinding bukit.

Samolo tiba-tiba tersentak menghentikan langkahnya.

Wajahnya jadi tegang dan beringas.

“Huh! Bocah durhaka itu rupanya masih belum puas bila belum menghirup darah kita.” geram Samolo sambil berbalik menghadap dan menyongsong Giran.

“Kak Giran…!” kata Ratna lirih.

“Jangan  khawatir,  Neng.  Jagalah  Den-Cilik!”  seru Samolo.

Ratna   jadi   panik   mendekap   putranya.   Hatinya menangis, sakit rasanya karena sang suami yang sangat dicintai dengan sepenuh jiwa raganya itu ternyata tak punya perasaan. Demikian anggapannya saat itu.

“Cepat lari ke atas bukit, Neng. Biarlah nyawa tuaku ini dilahapnya kalau dia masih penasaran.” seru Samolo lagi.

Dengan susah payah Ratna mendaki tebing bukit itu, sesaat kemudian ia berpaling kepada Samolo.

“Marilah Bang. Jangan ladeni dia…!” Teriak Ratna dengan suara gemetar.

Tapi Giran sudah semakin dekat.

“Hei, Ratna…   tunggu…!” teriak Giran sambil berlari semakin dekat.

Air mata Ratna deras mengalir, didekapnya putranya erat-erat. Ia bukan takut kepada suaminya, kalo toh ia harus mati. Ia rela mati di tangan suaminya itu. Yang dikhawatirkan adalah keselamatan putranya yang masih kecil itu.

Giran tiba di hadapan Samolo yang tegak menghadangnya. Giran melangkah maju mendekat, tapi Samolo   sudah   demikian   nekat   dan   menyambutnya dengan sebuah babatan tongkatnya kepada Giran.

“Langkahi dulu mayatku, sebelum kau menjamah nyawa istri dan anakmu itu, keparat!” bentak Samolo.

Giran terhuyung-huyung ke belakang. Dadanya mengucurkan darah tergores ujung tongkat Samolo.

“Bang Samolo…” Suara Giran tersendat dan gemetar.

Samolo tertegun karena Giran tidak berusaha menangkis serangannya tadi, bahkan kini suaranya terdengar  lembut  mengiba.  Sebelum hilang rasa heran Samolo,  Giran  sudah  menubruk  kaki  si  centeng  yang setia  ini dan tersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.

“Maafkan saya Bang Samolo…! Saya telah berdosa terhadap Abang dan Ratna…   juga kepada anak saya sendiri…”

Giran tersedu-sedu memeluk kaki Samolo yang jadi tertegun. Tanpa terasa matanya yang sudah tak dapat lagi  melihat dunia  ini  pun  jadi  ikut  berkaca-kaca. Butiran-butiran  air  hangat  jatuh  menetes  ke  kepala Giran. Nyi Londe yang sudah tiba di situ jadi ikut pula menepis air matanya.

Giran masih terisak-isak dengan penuh penyesalan.

“Sudahlah  Den.  Sebagai  manusia  kita  semua  tak pernah luput dari kesilapan dan dosa…!” Suara Samolo parau bergetar di kerongkongannya. Lengannya mengangkat  tubuh  majikan  mudanya  yang  kini  telah sadar dari kesalahpahaman itu.

“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih, mau mengampunkan dosa-dosa semua hambanya.” Kata Samolo lirih.

Giran tertunduk menghapus air matanya.

“Kalian  telah  banyak  menderita.  Entah  bagaimana harus kuminta maaf padamu, Bang…  Budi Abang begitu dalam seperti lautan.” Suara Giran masih bergetar.

“Jangan Aden bicara begitu, kalo soal budi mungkin aku-lah yang lebih banyak berhutang kepada mendiang ayahmu, Den!” ujar Samolo sambil menarik napas.

Giran pun meminta maaf kepada Nyi Londe dengan mencium tangan pengasuhnya itu.

“Aku gembira ternyata kau masih senang mendengar dongengku, Giran.” kata Nyi Londe tersenyum dalam linangan air matanya.

“Neng,   Neng   Ratna!”   tiba-tiba   Samolo   memanggil Ratna. “Bawalah Den Girin menjumpai ayahnya!” Tapi tidak terdengar jawaban Ratna. Senyum Samolo lenyap berganti rasa khawatir yang tergambar di wajahnya.

Begitupun dengan Giran dan Nyi Londe, mereka memandang ke sekitar tempat itu lalu ke atas tebing. Namun tidak terlihat bayangan Ratna di manapun.

Rasa cemas segera merayapi hati tiga orang ini. Mereka segera berpencar ke tiga penjuru untuk mencari Ratna dan Girin. Giran melompat ke atas tebing, memandang ke sekeliling dan terkesiaplah hatinya karena di balik tebing itu terdapat jurang yang menganga dalam.

“Ratnaaaaaaa…!” Teriak Giran keras-keras. Suaranya menggema dan berkumandang ke seluruh penjuru. Tapi tiada jawaban kecuali pantulan gema suaranya sendiri.

Samolo dan Nyi Londe pun memanggil-manggil nama Ratna dan Girin, juga tiada jawaban, kecuali gemuruh air sungai yang mengalir sangat deras di bawah jurang terjal itu.

Giran dengan putus asa melompat dari tebing, wajahnya   pucat   dan   muram.   Ia   menghempaskan tubuhnya duduk di atas batu, membenamkan kepalanya di antara kedua sikunya. Samolo dan Nyi Londe sama-sama lemah lunglai, masing-masing duduk di atas batu pula.

Langit mendung kian menggantung di angkasa. Sekelam hati ketiga insan yang tengah dirundung duka nestapa.  Wajah  kedua  abdi  yang  setia  ini  tenggelam dalam kepedihan yang sangat dalam. Tiada nampak air mata lagi, karena kali ini yang menangis adalah hati mereka. Wajah Samolo tampak kosong tak berekspresi, ia tafakur menunjang tubuhnya yang kokoh itu dengan tongkatnya.  Bagaikan  sebuah  patung  arca  yang menunggu  kelapukannya  dimakan  zaman.  Mata  Nyi Londe pun tampak hampa tak bersinar lagi. Dunia ini terasa begitu kosong bagi mereka. Karena mereka sudah merasa  pasti  bahwa  orang  yang  mereka  sangat  kasihi telah tiada lagi di dunia ini, hanyut bunuh diri ke dalam sungai karena kecewa dan putus asa. Membawa anaknya ikut bersamanya, daripada anak itu akan jadi korban kekejaman  ayah kandungnya sendiri. Ada rasa penyesalan terhadap sikap tuan mudanya ini, namun mereka tak mau mengutarakannya karena sudah tak berguna lagi. Mereka hanya menyesali nasib, mengapa harus mendera seorang wanita yang lembut hati itu sampai begitu kejam. Bukankah ada orang lain yang lebih jahat dan buruk tetapi bisa hidup senang menikmati hasil kebusukannya? Oh, betapa tidak adilnya kehidupan ini. Demikian pikir Samolo dan Nyi Londe hampir bersamaan.

Angin berhembus membawa titik-titik air sisa hujan. Suasana terasa hening membeku seakan-akan seluruh permukaan bumi sudah tidak lagi dihuni manusia. Giran terkulai bagaikan sebatang kayu yang layu. Hilanglah ketegaran jiwanya yang kokoh tak kenal kompromi. Tadinya ia menganggap dirinya sudah demikian dewasa dan matang, namun sesungguhnya ia pun tidak berbeda dengan  orang-orang  picik  dan  dungu,  juga  kekanak-

kanakan.  Memandang  corak  dan  warna  kehidupan  ini dari sudut yang begitu sempit lalu dengan gegabah memvonisnya tanpa kenal ampun. Giran kini mengutuki dirinya sendiri, ia merasa kerdil dan sangat berdosa, karena telah menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Orang-orang yang sesungguhnya sangat mengasihinya.

Giran meremas-remas kepalanya penuh penyesalan. Betapa pedih dan hancur hatinya bila mengingat nasib sang istri yang begitu setia dan sabar menantinya, meski setiap  hari  menerima  siksa  dari  sang  mertua  yang ternyata berhati iblis. Yang lebih tragis lagi sepulangnya suami yang amat dirindukannya itu malah telah mendatangkan bencana yang lebih fatal lagi.

Tak sanggup lagi Giran memikirkan hal itu. Ingin rasanya ia terjun ke dasar jurang untuk menyusul anak dan  istrinya  itu.  Semua  yang  dimilikinya  kini  terasa sudah  tak  berarti  sama  sekali.  Kehidupannya  benar- benar sudah terasa hampa, lebih pahit dari kehidupannya ketika harus bergumul di tengah belantara hutan Kalimantan yang buas itu.

Bahunya terguncang dalam isak penuh penyesalan. Berkali-kali disebutnya nama Ratna sambil meremas-remas kepalanya sendiri. Hingga pada suatu saat, di antara linangan air matanya ia melihat sepasang kaki putih mulus   melangkah   mendekat   dan   berhenti   di sisinya. Giran pelan-pelan mengangkat wajahnya, ia seakan-akan tengah bermimpi, ditatapnya perempuan yang  berdiri  menggendong  putranya  itu,  laksana bayangan fatamorgana yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Ratna…?!” Gemetar bibir Giran menyebut nama itu.

“Kak Giran…!” lembut jawaban itu namun bagaikan awan mendung menjelang hujan.

Dengan perasaan takut kehilangan lagi, Giran segera merangkul tubuh semampai itu, yang sudah bertahun- tahun dirindukannya. Erat-ketat bagai tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka lagi. Ratna menangis tersedu-sedu terbenam dalam pelukan suaminya. Girin menangis   ketakutan.   Suatu pertemuan yang amat mengharukan. Ketiganya berdekapan dalam sedu-sedan yang sangat melirihkan namun membahagiakan. Samolo dan Nyi Londe pun ikut menepis air mata karena rasa haru dan bahagia yang menyesakkan dada mereka. Giran membelai kepala putranya.

“Girin, anakku…” katanya penuh kasih sayang, juga mengandung rasa bersalah.

Girin masih memangis dan memeluk ibunya erat-erat karena takut kepada laki-laki asing yang pernah menganiaya ibunya serta uwak-nya dengan garang itu.

“Ini ayah, Nak…! Ayahmu…” Bujuk Ratna dengan mata berkaca-kaca. Tapi Girin masih meronta ketakutan.

“Biarkan saja dulu. Kelak kasih sayang jugalah yang akan melunakkan hati dan jiwanya.” ujar Samolo tersenyum.

“Betul, cuma kasih sayanglah yang bisa mempersatukan manusia.” sambung Nyi Londe seperti berfilsafat.

Samolo manggut-manggut menyetujui pendapat pengasuh yang telah membuktikan sendiri kata-katanya melalui kasih sayang yang dilimpahkan kepada anak asuhannya yaitu Giran. Tanpa kasih sayangnya itu barangkali  pamor  keluarga  Tuan  Tanah  akan  hancur sama sekali.

Begitu pun Samolo, demi kasih sayang ia rela berkorban apa saja termasuk sepasang matanya itu.

Juga Ratna, dia begitu tabah dan setia, tahan segala derita. Semua demi kasih sayangnya. Maka tak masuk di akal kalau ia menjadi nekat bunuh diri bersama Girin. Hati kecilnya masih punya keyakinan bahwa Giran pada suatu saat akan sadar dari kekeliruannya. Maka ia menyelinap turun dari tebing dan bersembunyi di balik batu. Ia telah mendengar dan melihat perubahan sikap suaminya itu. Dia-lah yang pertama-tama menangis di balik batu itu, tangis bahagia yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi menghinggapi hatinya semenjak malam terakhir Giran pergi meninggalkannya. Kini masa lalu itu bagaikan sebuah mimpi yang amat menakutkan dan telah berakhir.

Mereka telah berkumpul kembali, sama-sama menghapus air mata. Berganti denga air mata bahagia yang mengalir dari relung hati serta wajah-wajah yang dihias senyum ceria. Seceria cahaya fajar yang baru menyingsing di ufuk timur. Awan mendung pun telah buyar sudah. Dengan langkah mantap mereka saling berpegangan berjalan pulang untuk menyongsong fajar kehidupan baru.

TAMAT

Categories:

Comments are closed