1

ANGIN menderu-deru bagaikan dengus jutaan hewan liar. Berbaur dengan gemuruh hujan serta halilintar yang pecah berkali-kali di angkasa. Membuat malam itu begitu mengerikan, seakan-akan dunia ini tengah sekarat dalam hembusan nafasnya yang terakhir.

Di bawah derai hujan lebat, tampak seorang laki-laki berdiri memandang sebuah bangunan usang di tepi jalan Desa Kedawung. Agak lama ia memandangi bangunan yang tak terurus itu, menatap sekeliling halaman, lalu melangkah masuk.

Disibaknya sarang laba-laba yang hampir memenuhi ruangan yang bocor dan gelap. Ia melangkah ke sudut dan menggeser  sebuah  balok  tiang  yang  runtuh  dari langit-langit bangunan tersebut. Dilepaskannya buntalan lusuh dari punggungnya. Ia memungut beberapa serpihan papan dan cabikan kain tua yang berserakan di lantai, lalu dikumpulkan jadi satu. Dari dalam buntalan diambilnya sebuah alat pemantik api yang segera digunakan untuk menyalakan api unggun.

Ia membuka bajunya yang basah kuyup, diperasnya kuat-kuat,  kemudian  digarangnya  di  atas  api  unggun yang membesar tertiup angin.

Mata  laki-laki  ini  masih  memandang  ke  sekeliling ruangan yang kini diterangi cahaya api. Puing-puing bangunan tampak berserakan di dalam rumah itu.

“Lima  tahun  sejak  kutinggalkan,  desa  ini  sudah berubah seperti desa hantu!” Gumamnya di dalam hati. “Entah  musibah  apa  yang  melanda  rumah  Bang Samirun,  kasir  Ayahku  ini?!”  Matanya  bertanya-tanya menatap ke sekitar ruangan.

Ia tertunduk, wajahnya yang terlihat tampan di bawah cahaya api, makin muram dan cemas.

“Mudah-mudahan  tidak  terjadi  suatu  pun  terhadap keluargaku. Ratna istriku…, lima tahun lamanya, tak ada kabar berita. Ibu dan Mirta adikku… entah bagaimana dengan keadaan mereka…?!” Ia menarik napas dalam- dalam.

Tiba-tiba   lelaki   itu   tersentak,   karena   telinganya mendengar langkah kaki di dalam rumah itu. Terdengar papan rapuh terpijak. Ia bangkit dan melihat ke arah ruangan dalam. Gelap disitu. Namun ia yakin, ia tidak sendirian di rumah itu.

Guntur menggelegar di angkasa. Hujan pun masih tumpah dengan lebatnya.

Bunyi berkeriut daun-daun jendela yang dihempas angin,  membuat  suasana  di  dalam  rumah  usang  itu terasa makin menyeramkan. Namun laki-laki ini sedikitpun tidak merasa takut. Kembali ia duduk dengan tenang  di  dekat  api  unggun.  Pada  detik  itu  di  antara celah-celah dinding papan, sepasang mata merah liar mengintainya.

Bertepatan   dengan   menggelegarnya   halilintar   di angkasa, sesosok tubuh mencelat secara tiba-tiba dan mendobrak dinding papan di belakangnya itu. Bersamaan dengan itu, tampak sosok banyangan lompat berlari.

“Siapa kau?!” Ia menghardik. Lalu mengejar.

Sosok bayangan itu terus berlari ke arah dalam rumah yang   gelap   pekat   itu,   yang   kadang-kadang   hanya diterangi selintas oleh kilatan cahaya halilintar.

Laki-laki ini berhasil merengkas kaki sosok bayangan itu, dan tubuh itu tersungkur membentur papan-papan yang segera rubuh bergelimpangan dengan gaduhnya.

Laki-laki ini segera mencengkeram baju orang itu. Tapi sosok itu bangkit dan meronta sehingga koyaklah bajunya yang  compang-camping  itu.  Orang  itu  lari  ke  sebuah sudut ruangan dan terdengarlah jeritan seorang perempuan penuh ketakutan. Laki-laki ini tersentak sejenak. Sosok tubuh perempuan itu kurus dengan rambut beriapan.

“Hei! Siapa kalian?! Manusia atau hantu?!”

Tiada jawaban, hanya terdengar dengus napas-napas yang bersendat dan terlihat kedua sosok tubuh yang berangkulan itu menggigil.

Tiba-tiba di antara cahaya kilat yang melintas, tampak jelaslah wajah-wajah kedua sosok tubuh itu yang sangat mengerikan. Perempuan tua itu matanya buta dengan bekas luka yang belum mengering, darah masih mengalir bercampur air dari rongga matanya. Rambutnya putih beriapan. Lengannya gemetar menggenggam sebatang tongkat yang menyanggah tubuhnya. Sebelah lengannya lagi   memeluk   tubuh   putranya   yang   menggigil   dan menatap jalang ke arah laki-laki asing. Laki-laki ini pun tersentak mundur, bukan karena takut, melainkan wajah pemuda itu telah amat dikenalnya.

“Kau…?! Kau Mirta, adikku bukan…?!” Ia melangkah maju. Pemuda dan nenek itu mundur merapat ke dinding. “Kenapa  kau  jadi  begini,  Mirta?!”  Ia  mendekat  dan menggenggam bahu pemuda itu. Lalu mengguncang bahu si pemuda yang makin pucat ketakutan.

“Apa yang telah terjadi, Mirta?! Ke mana Ibu, dan Ratna?! Apa yang terjadi terhadap mereka?! Katakan Mirta!”

“Ampun bang Giran…! Ampun…!” Ratap Mirta tersendat-sendat.

“Ampun?!   Apa   maksudmu,   Mirta?!”   Giran   mencengkeram bahu adiknya dan mengguncangnya dengan perasaan tidak mengerti. Rasa cemasnya tiba-tiba makin menyesakkan  dadanya.  Lengan  si  nenek  menggapai- gapai,  menepis  dan  berusaha  melepas  cengkeraman lengan Giran pada bahu Mirta.

“Ampunkan adikmu, Giran…! Kalau kau mau bunuh, bunuhlah Ibu yang sudah tidak berguna lagi ini, Nak!” tukasnya dengan lirih.

“Ibu…?!” Mata Giran makin terbelalak menatap perempuan yang buta ini. Suara bicara itu memang jelas suara ibunya. Tapi wajah dan keadaan tubuh perempuan buta ini jauh berbeda dengan ibunya, seorang wanita paling berpengaruh di seluruh Kedawung. Cantik serta kaya-raya sebagai istri Tuan Tanah yang amat disegani oleh seluruh penduduk. Giran sukar memahami dalam kurun  waktu  yang  cuma  lima  tahun  bisa  merubah perempuan secantik ibunya menjadi seorang nenek yang amat buruk seperti sekarang ini. Tapi suara bicaranya serta  gerakan  alis  matanya  yang  kini sudah  putih beruban itu, adalah ciri kebiasaan ibunya yang amat dikenalnya.

“Kau ibuku…?! Betulkah kau ibuku…?!” desak Giran dengan napas tersengal.

Perempuan tua itu mengangguk, jantung Giran terasa terhenti. Ia memandang ke arah Mirta minta kepastian. Adiknya ini mengangguk sambil tertunduk.

“Ibu…?!  Kenapa  Ibu  jadi  begini?!”  Giran  menatap tajam-tajam wajah ibunya dengan suara nyaris kandas di kerongkongannya.

“Siapa yang telah menganiaya Ibu sampai begini? Siapa?!” Ia nyaris berteriak.

Tapi perempuan tua itu berpaling dengan tubuh agak gemetar menahan tangis. Ia bungkam seribu bahasa. Giran makin geram penasaran.

“Katakanlah Bu! Siapa manusia laknat itu? Katakanlah, jangan takut!” desaknya.

Perempuan tua ini masih diam tak bersuara, agaknya ada sesuatu yang amat sulit diceritakan terhadap putra tirinya yang baru pulang dari rantau ini.

Giran  terkejut  tak  terhingga  ketika  dirasakan  ada sebuah sambaran angin menderu ke arah belakang kepalanya. Ia berkelit tepat ketika sebatang balok melun– cur  dan  menghantam  tiang  di  sisinya.  Dengan  gerak reflek Giran melontarkan sebuah tendangan keras kepada si pembokong itu. Sebuah teriakan mengaduh terdengar berbarengan dengan terbantingnya tubuh menghantam dinding. Giran tercengang memandangi tubuh adiknya yang terkapar di atas pecahan papan dinding yang berserakan itu.

“Kau  sudah  gila  Mirta?!  Apa  artinya  semua  ini?!” Lengan Giran yang kokoh itu mencengkeram leher baju Mirta  dan  diangkatnya.  Tongkat  si  nenek  menggapai- gapai dan memukul punggung Giran.

“Lepaskan  Mirta,  Giran!  Lepaskan!  Baiklah,  akan kuceritakan!” Katanya lirih memohon. Jelas terlihat ia amat menguatirkan keselamatan putra kandungnya.

Giran melepaskan cengkeramannya pada leher baju Mirta. Ia berusaha bersikap tenang, meski dadanya terasa hampir pecah diamuk berbagai perasaan.

“Apa yang terjadi?” katanya tenang.

“Samolo, Giran. Semua gara-gara si Samolo. Iblis itu telah menghancurkan segala-galanya…”

Suara  perempuan  ini  terdengar  gemetar  dan  parau seperti suara tangisan burung hantu. Giran tercenung seakan-akan memandang sebuah gambaran mimpi aneh berpeta silih berganti di hadapannya. Samolo, centeng paling disayang dan paling dipercaya oleh mendiang ayahnya. Centeng paling setia yang pernah mengasuhnya, bahkan ia merasa dibesarkan di gendongan centeng yang amat perkasa namun lembut hati itu. Kini ibunya sendiri mengatakan dengan tandas bahwa centeng setia itu telah berubah   menjadi   iblis   yang   menghancurkan   rumah tangga majikannya. Tiba-tiba pikirannya melintas cepat kepada Ratna, istrinya. Peluh dingin pun tanpa terasa mengalir dari pori-pori tubuhnya.

“Apa yang telah diperbuatnya?!”

“Begitu kau pergi, dia mulai memperlihatkan watak

aslinya. Kiranya dia seekor serigala berbulu domba. Dia betul-betul iblis yang paling keji, Giran. Keji sekali!”

Ibu ini meratap dan sesengukan dalam tangisnya yang amat memilukan.

“Apa yang dilakukannya terhadap Ibu dan Mirta…?” Suara Giran mendesis dari celah giginya.

“Dia telah merampas semua yang kita miliki. Harta warisan mendiang ayahmu yang berlimpah itu telah dikangkanginya, sebagian sudah ludes di meja judi!” Tangisnya semakin sengit.

“Belum cukup sampai di situ, dia juga hendak merampas nyawa ibu dan adikmu sekaligus! Dengan kejam dia aniaya Mirta, hingga adikmu itu terganggu jiwanya…!”

Giran memandang adiknya itu, hatinya terasa terenyuh. Mirta duduk menggigil di sudut dengan wajah tegang diliputi ketakutan matanya jalang berputar ke sekitar ruangan. Bunyi derak dari jendela membuat ia terkesiap dan makin nanar menatap ke arah jendela itu dengan tenang.

“Dan mata ibu dicukilnya dengan tak kenal rasa kasihan sedikitpun!” Isaknya semakin menyayat hati Giran.

Ibu ini memegang rambutnya yang putih bagaikan perak, dan menyibak-nyibaknya sambil menangis tersen– dat-sendat.

“Kau lihat rambut ibu ini, Nak! Telah berubah putih dengan mendadak. Karena aku selalu disiksa rasa takut dan was-was terus menerus. Siksaan lahir-batin yang tak tertahankan!”

Hening sejenak, namun keheningan itu justru makin menusuk jantung serta syaraf di otak Giran. Lebih-lebih ketika bayangan yang menakutkan itu muncul di benaknya melalui isak tangis ibunya.

“Lebih menyakitkan lagi, ternyata Ratna… Istrimu itupun bersekongkol dengan Samolo keparat itu…!”

Andaikata saat itu ada kilatan petir yang tiba-tiba menyambar seluruh isi ruangan tersebut, barangkali hati Giran tidak akan seluluh ketika mendengar tentang istrinya itu. Bayangan yang menakutkan itu akhirnya berwujud nyata di hadapannya. Hatinya terasa pedih bagaikan  disayat-sayat  sembilu.  Namun  ia  mencoba untuk tidak mempercayai begitu saja kata-kata ibunya. Betapa pun dialah yang  lebih tahu tentang kehalusan watak Ratna. Gadis desa yang kemayu, lugu dan amat sederhana. Justru sifat-sifat murninya itulah yang telah menambat seluruh hati sanubari putra Tuan Tanah yang serba kecukupan ini, lalu mempersuntingnya sebagai istrinya dan memujanya sebagai dewi. Namun penga– laman pengembaraannya di rantau, selama lima tahun itu, telah banyak yang dilihatnya. Betapa mudahnya sekuntum mawar yang segar dan molek itu menjadi layu hanya oleh bakaran terik matahari atau oleh hempasan angin. Bahkan sebongkah batu cadas yang kokoh itu pun akan terkikis sirna menjadi pasir oleh gempuran gelombang. Apalagi watak manusia, perempuan lagi. Demikian pikirnya. Bayangan yang menakutkan itu kembali muncul dan semakin berpeta nyata di pelupuk matanya.

“Ratna…?!” Ia tidak tahu, apakah ia mendesah atau berkata ketika mengucapkan nama istrinya itu. Perasaan rindu selalu saja menguasai dirinya setiap ia menyebut nama itu.

“Ya, ibu pun tidak menyangka, Ratna dapat berbuat serendah itu dan sampai hati pula turut mencelakai ibu dan adikmu!” Desah ibu ini sambil menarik napas dalam- dalam. Kepala menggeleng-geleng penuh penyesalan dan kecewa.

Giran melangkah ke sisi jendela, memandang deru hujan yang bergemuruh seperti degup jantungnya sendiri. Wajahnya merah padam dan muram.

“Di mana mereka sekarang?!”

“Sudah tentu sedang jadi raja dan ratu di gedung kita!” tukas ibunya sengit.

“Hmm, keparat!” Gumam Giran penuh dendam. Pemuda ini mengambil sebuah bungkusan kain putih dari dalam buntelannya, lalu diselipkan di pinggangnya.

Suasana kembali jadi hening, kecuali di luar masih terdengar gemuruh hujan dan bunyi guruh di kejauhan. Mirta masih duduk di sudut lalu beringsut mendekat ke sisi ibunya. Perempuan buta ini hanya sanggup menelaah keadaan dan gerak-gerik putra tirinya itu dengan telinganya.

“Mau ke mana kau, Giran?!” tanyanya cemas.

“Kalian diam saja di sini!” jawab Giran singkat, dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah melompat ke luar jendela.

***

Categories:

Tags:

Comments are closed