SI SANCA MANUK yang berdarah dingin itu berbalik dengan garangnya ke arah Sugala yang terkapar dan menatap penuh kepedihan kepada orang yang dianggapnya kakak kandungnya sendiri itu.

Dia tidak mengerti mengapa Sugali, sang kakak dapat berubah demikian kejam, sinis dan jadi pembegal yang membuat air sungai Cisadane memerah karena darah.

Semua mata menatap dengan tegang dan ingin tahu tindakan apa yang dilakukan oleh si Ular Sanca Manuk terhadap si anak muda itu yang seakan-akan telah pasrah menerima nasibnya.

Si Ular Sanca Manuk perlahan-lahan melangkah mendekat, orang-orang tengah menantikan sebuah pemandangan yang mengerikan dan jeritan lengking si pemuda yang menghadapi sakaratul maut di rencah si Sanca Manuk yang belum pernah meninggalkan mangsanya hidup-hidup itu.

Tiba-tiba si Sanca mengibaskan goloknya dan “Srekk!” golok yang sudah kenyang menghirup darah itu masuk ke sarangnya.

Kemudian dengan langkah tenang dia meninggalkan Sugala. Kejadian ini benar-benar diluar dugaan semua orang-orang yang berada di situ.

“Mari…! Akan kuperkenalkan kau kepada ayahku … E.. Sugala… Mari…!!” seru Nilam riang. Dengan segera dia menggamit lengan Sugala dan mengajaknya menuju sebuh pondok yang cukup besar.

“Ayah, kau punya pembantu baru lagi. Dan kukira kau pasti menyukainya, … bukan?!”

“Hm…!?”

“Dia inikah yang bernama Mat Gerong… ? Pemimpin kawanan begal yang disebut oleh para opas Kompeni itu …?! Tapi … benar-benar tak masuk di akalku. Bagaimana manusia seperti dia ini dapat jadi pemimpin kawanan begal yang terdiri dari jago-jago silat semuanya…!?”

Ternyata Mat Gerong si pemimpin begal ini adalah seorang manusia cacat. Kedua belah kakinya buntung .

“Hm…! Siapa namamu anak muda? Dari mana asalmu, dan dari mana kau bisa tahu tempat ini ?!”

“Coba kau kemari …! Eh … siapa namamu?”

“Sugala … Ahmad Sugala !”

Sugala melangkah beberapa tindak … sekonyong-konyong pemimpin begal tanpa kaki itu mendorongkan lengannya ke muka. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Sugala terpelanting sambil berteriak. Kiranya itulah ilmu silat “Sikontak” yang sangat langka dalam dunia pencak silat yang telah dimiliki oleh Mat Gerong dengan amat sempurna.

“Ahh!?”

Brakk!

“Busyet! Dia mempergunakan ilmu siluman…”

“Saatttt !!!”

Sugala jadi panas … Dia merangsek dengan sebuah sodokan ke arah ulu hati Mat Gerong. Tapi sekonyong-konyong kembali terpental oleh sebuah dorongan tenaga yang tak terlihat.

Pemuda ini kian penasaran. Kakinya menjejak bumi, kembali tubuhnya melesat ke dalam pondok itu.

“Ciaat !”

Dan sekali lagi dia terpental keluar pondok dengan hebatnya. Itulah kedahsyatannya ilmu pencak “Sikontak” yang meminjam tenaga lawan, menyerang balik bagaikan bola karet. Maka semakin bernafsu orang menyerangnya, semakin hebat pula akibatnya.

Brakk!!

“Tahan Sugala, cukup! Anda tidak perlu membuang tenaga percuma. Anda tak mungkin menjatuhkan ayahku.”

“Minggir kau!”

“Sabar Sugala, anda benar-benar hebat. Jarang ada orang yang sanggup bertahan dari gempuran Ayah. Anda sudah lulus dan diterima sebagai anggota keluarga besar kita ini.”

Entah mengapa pemuda yang masih hijau dan tak berpengalaman ini jadi begitu lunak dan api amarahnya tiba-tiba saja padam seolah-olah disiram air sejuk … Ketika lengan Nilam yang halus itu membelai bahunya.

Kemudian Nilam membawa Sugala ke sebuah ruangan… Ke tempat kamar pribadinya.

“Makanlah sepuas hatimu … Kita masih punya cukup bekal untuk beberapa pekan ini.”

“Bang …! Mari kita makan, Bang.”

“Hm … Nilam, kesini kau !”

“Aah, mau apa sih? …”

“Aouww… Lepaskan aku kau laki-laki buaya. Ha Ha Ha … Ha ha ha…”

“Hm… Kak Sugali kau benar-benar telah terjerumus begitu dalam. Dan menjelma menjadi manusia yang tak bermoral.”


Malam bertambah larut, Sugala termenung di depan api unggun.

“Walaupun yang akan terjadi, aku harus memaksa kak Sugali meninggalkan neraka jahanam ini,” tekadnya. “Tapi … agaknya dia telah begitu jatuh di bawah telapak kaki wanita yang jalang itu … “ pikirnya pula meragu.

Bulan mengambang di cakrawala kelabu, bintang gemintang berkedip sayu di udara gersang musim kemarau. Sugala perlahan-lahan melangkah ke arah gedung usang itu. Di bawah cahaya redup sang dewi malam nampak bagaikan rumah hantu yang menyeramkan.

“Kuharap kak Sugali masih berada di sini. Akan ku bujuk dia agar kita berangkat malam ini juga.”

“Ni… Nilam? Ma… mana ka… kak Su… Sugali …?”

“Sugali? Anda mencari aku bukan…?! Sugala…?”

“A… aku… aku… kak Su… Sugali… Marah… Tidak… Ti… Tidak… Aku…”

Sugala menelan ludahnya.

“Mari kau laki-laki tolol. Apakah kau tidak mengantuk di malam selarut ini, heh?”

“Mari Sugala alangkah dinginnya malam ini …”

Tubuh Sugala menggigil. Hati mudanya terdentang di terjang rasa takut dan gelora darah yang mendidih.

Malam kian larut jua… Keadaan sunyi senyap sekeliling hanya terdengar lolong anjing di kejauhan. Sang dewi malam terlena di peluk awan kelabu tipis. Isi dunia seakan-akan turut terlena pulas tertidur dengan nyenyaknya.

Tapi tampak tidak semuanya pula, ada dua ekor kelinci tengah berkasih-kasihan di bawah sebatang pohon di luar gedung tua itu…


Ketika ayam jantan mulai berkokok.

“Kak… Kak Sugali.”

“Kak Sugali.”

Pada detik itu dengan mengeram bagaikan banteng luka, Sugali tiba-tiba menerjang …

“Kak Sugali…”

Sugala pontang-panting mengelak sabetan-sabetan golok Sugali sambil menangis dengan sedih. Kali ini si Ular Sanca Manuk benar-benar kerasukan iblis.

“Ampun Bang,… Ampun.”

Sugala terpaksa mencabut goloknya dan sebilah pisau runcing pemberian gurunya untuk mempertahankan dirinya dari serangan-serangan si Sanca Manuk yang benar-benar telah mata gelap itu. Sugala terhuyung-huyung kesana-kemari sambil menangis tersenguk-senguk bagaikan anak kecil.

“Kak Sugali. Huu… huu… huu”

Tubuh si ular Sanca Manuk berputar di udara dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata. Tiba-tiba dia mendupak, terpental kedua genggaman si anak muda itu dan tepat menancap di tiang pilar yang kokoh itu.
Kembali pemuda ini menghadapi maut dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pias. Dia menangis terbata-bata.

“Kak Sugali. Aku memang berdosa. Kalau kau tega dan membenci adikmu sendiri aku rela mati ditanganmu Kak. Bunuhlah…”

Diangkatnya golok itu dengan lengan agak gemetar. Tapi tiba-tiba golok itu berhenti di udara. Lalu perlahan-lahan diturunkannya kembali. Dengan langkah lambat dan wajah tertunduk dia meninggalkan Sugala yang masih terisak-isak.

“Tidak kusangka, kak Sugali dia sudah tidak sudi lagi menganggap aku sebagai adiknya. Bahkan dia berniat merampas nyawaku. Tapi iya, memang aku telah berdosa menghina hatinya. Aku telah… oh.”

“Oh, Sugala aku sangat khawatir sekali. Oh…”

“Jangan kau dekati aku. Kau perempuan celaka. Rayuanmu mengandung racun. Kau telah mengkhianati cinta kakakku.”


Sugala pun kini telah menjadi anggota gerombolan Mat Gerong. Dia telah yakin bahwa si Sanca Manuk adalah Sugali, kakak yang telah lama dicari-carinya. Maka tidak mungkin baginya untuk meninggalkan tempat itu, sebelum Sugali menerima ajakannya untuk kembali ke kampung halaman mereka. Mereka berdua harus keluar dari tempat itu bersama-sama, itulah tekadnya.

Beberapa tugas dari Mat Gerong untuk menyergap dan merampok rombongan opas maupun para pejabat V.O.C telah beberapa kali dijalaninya.

Siang itu Mat Gerong mengumpulkan seluruh anak buahnya. Dan perintah kilat telah diberikan.

“Anak-anakku, hari ini Bupati mengadakan pesta pernikahan puterinya. Kesempatan baik buat kita turut meriahkan pesta tersebut. Dan kalian tentunya tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”

“Seluruh isi gudang Bupati itu harus dipindah kan ke sini dan ada sebuah permintaan dari Nilam. Barang siapa diantara kalian yang sanggup merampas kalung mutiara pusaka milik puteri Bupati itu, dialah yang patut menjadi suaminya. Nah, selamat berjuang anak-anakku. Aku menantikan hasilmu.”

Gemuruhlah para penyamun itu ketika mendengar perintah atau syarat yang terakhir.

Kini tekad yang ada pada mereka terpecah jadi dua. Sebagian bertekad untuk merampas ransum beras dan sebagian lagi umumnya yang muda-muda berusaha mempertaruhkan nyawanya demi syarat yang terakhir.

Kini bergeraklah mereka serentak dengan penuh keyakinan pada tujuannya masing-masing. Bahkan ada di antaranya telah bermimpi mempersunting sang bunga liar di tepi sungai Cisadane yang cantik itu.


Itulah rumah Bupati yang tengah bermandikan cahaya terang benderang. Sebuah pesta mewah pernikahan puterinya dengan putra Residen tengah berlangsung dengan meriahnya. Para tetamu hampir memenuhi ruangan rumah yang sangat luas itu. Dan beberapa belas opas Kompeni yang bersenjata lengkap dan di bantu belasan para tukang kepruk atau centeng tampak mondar-mandir mengadakan penjagaan dengan ketat.

Tamu terakhir telah mulai minta diri. Dialah tuan dan nyonya Residen sendiri serta pasukan para pengawalnya. Bupati yang buncit itu dengan terbungkuk-bungkuk penuh hormat mengantar besannya yang sangat tinggi kedudukannya itu.

Kini kesunyian mulai menyelubungi rumah besar ini karena hari pun telah jauh malam. Dan tepat pada saat itu belasan sosok bayangan bergerak laksana hantu.

Berloncatan dan berindap-indap dengan gesitnya menyebar ke sekeliling gedung itu. Dan sebagian bergerak ke arah gudang beras di sebelah belakang rumah tersebut.

Sekonyong-konyong pintu gerbang tertutup rapat. Tiba-tiba berbareng dengan itu beberapa belas pengawal-pengawal berloncatan dari tempat sembunyinya dengan teriakan-teriakan gegap gempita.

“Siaplah kawan-kawan, tampaknya kita telah masuk perangkap.” seru Sugali membahana.

“Hua ha ha ha. Hei Sanca Manuk, kini kalian sudah jadi ikan dalam bubu . Tidak ada jalan hidup kalian lagi. Bagi kalian menyerah atau mampus.”

“Inilah kesempatan yang sudah lama kutunggu-tunggu.”

“Hm, tanpa bekas tapak golokku di wajahmu itu tak mungkin kau dijuluki si Codet yang kesohor. Seharusnya kau merasa bangga dengan tanda mata dariku itu, Kohir!”

“Aku ingat dialah yang menyerangku dengan pisau terbang kemarin ini.”

Dilain pihak, pertempuran mulai berlangsung.

“Bangsat, gua tebas kepala lu.” bentak keras salah seorang Centeng Karesidenan.

“Boleh,” jawab Sugala tenang.

Tiga orang sekaligus menyerang Sugala. Disinilah murid Bah Klontong baru dapat menunjukkan kemahiran silat Shantung-nya yang gesit dan keras itu.

“Celaka! Orang itu mau membokong kak Sugali.”

Si Sanca Manuk berpaling sejenak ke arah Sugala, mempergunakan kesempatan itu Codet mencelat dan kabur ke dalam rumah gedung tersebut.

Dia tidak pernah membiarkan lawannya kabur tanpa mencucurkan darah dengan sebuah loncatan kijang, si Sanca Manuk melesat ke dalam rumah untuk mengejar nyawa mangsanya itu. Sugala pun tidak mau ketinggalan. Sanca Manuk mendobrak setiap kamar yang dilaluinya namun semuanya kosong. Dan si Codet tak tampak bayang-bayangnya.

Hingga pada sebuah kamar, “Auww!” jeritan seorang wanita menggema ketika pintu kamar itu terjeblak.

“Buset! Kamar pengantin.” seru Sugali.

Jansen, mempelai pria tertegun sejenak. Tiba-tiba dia menyambar pedangnya yang tergantung di dinding dengan menggeram penuh amarah, dia langsung meloncat ke arah si Ular Sanca Manuk.

Pedang yang tergantung di dinding itu bukan sesuatu yang bisa ditandingkan dengan golok Sanca Manuk.

Betapa tragis nasib mempelai pria ini. Dia binasa pada saat-saat paling bahagia dalam seluruh hidup nya.

“Heii, dia mengenakan kalung mutiara itu!”

Sang mempelai wanita itu berlari keluar kamar dengan paniknya. Sugala berusaha menghadangnya. Dan dia berhasil berhadapan dengan puteri Bupati.

“Kau…!? Rani ?!”

“Kak… Su…Sugala… Ohh!!”

“Rani…?!” Sugala berusaha meyakinkan diri bahwa itu memang benar Rani adanya, “Mengapa kau berada di sini, Rani?!”

Masih ingatkan anda dengan Rani? Rani adalah puteri Ki Sarean, kawan Sugala ketika masih di kampung halamannya.

“Hei, kalian jangan mengulur waktu! Serahkan kalung itu, atau golokku akan menagihnya nanti.” bentak Sugali yang menjadi tak sabar melihat adegan pertemuan seperti itu.

“Sabar, Kak. Aku tidak bermaksud menyerakahi kalung ini. Tapi ini adalah milik Rani yang ku …”

“Persetan, aku tidak perduli itu milik siapa. Tegasnya, kalung atau nyawa!?”

Trang!

“Sabar Kak….”

“Percuma saja bicara pada manusia yang sudah sesat dan hilang rasa peri kemanusiaannya. Sebaiknya menyingkir saja…” pikir Sugala.

Tanpa menunggu lama, Sugala menarik tangan Rani dan membimbingnya lari dari tempat itu. Tahukah kau, perlu keterampilan yang tepat untuk bisa melakukan hal itu. Karena bila dia salah gerak, maka Rani malah menjadi beban yang menghambat usaha pelarian itu.

“Bagus! Kabur memang paling baik. Tapi tidak pernah ada yang selamat dari tanganku. Heaaa!”

Sugala dan Rani menghambur ke arah halaman. Tetapi belum sempat mereka berada di luar gedung, tiba-tiba :

“Hahahaha, berhenti !!!” bentakan dan tawa berderai seseorang yang tiba-tiba hadir mencegat, menghalangi di pintu.

“Hah?!” Sugali kaget bukan kepalang.

Si Codet. Yang tadi dicari-cari, kini muncul dengan sendirinya. Mengagetkan pula caranya.

“Malam diimpi-impi, siang dikenang-kenang, eeh busyet seenaknya aja lu bawa lari bidadari gue. Mau modar lu hah? Hayo ke sini, Neng Rani nyang botoh. Heh… Heh… Heh…” omelnya.

Tak berapa lama Sugali pun berada di tempat itu.

“Hei, Sanca Manuk! Sebaiknya kita kerjasama! Kita bereskan bocah ini. Setelah itu kau ambil kalung itu, dan aku ambil si pemiliknya heh heh heh.”

“Huu, siapa perlu bantuanmu Setan?!”

Si Codet tiba-tiba menebaskan goloknya ke arah kepala Sugala.

“Ciaattt !”

“Sadarlah Kak, kau sudah bertindak diluar batas. Aku terpaksa menetangmu. Aku malu punya kakak berhati hewan seperti kau.”

“Hmm, minggir kau atau golokku yang akan bicara!”

Keduanya telah siap mempertahankan tujuan dan pendiriannya masing-masing. Ketegangan kian meruncing tepat pada saat itu seorang laki-laki gemuk menerobos keluar dari sebuah kamar.

“Hai, lihat itu… !! Ki Sarean !!”

“Hei”

“Hah!?”

“Hmm, nasibmu ternyata sangat baik, keparat ! Karena kau punya keahlian menjilat pantat Kompeni hingga kau naik pangkat dan jadi Bupati penghisap darah rakyat. Kau adalah biang penyakit penyebab segala kesengsaraan dan kenistaan hidup ini. Bertahun-tahun aku disiksa dendam yang membakar jantungku. Kini … heh heh heh.”

“Oh,… jangan…”

Tubuh si Bupati gendut menggeliat-geliat mengerikan, berkelojotan meregang nyawanya dan kemudian terkapar bermandikan darahnya sendiri.

“Maafkanlah Rani, dosa-dosa ayahmu memang sudah terlalu luber…!”

“Aku harap engkau bisa mengerti… Percayalah Rani kami bukan membalas dendam walaupun ayahmu telah menghancurkan keluarga kami. Tapi demi rakyat tertindas Rani…”

“Aku mengerti Kak Sugala. Untunglah dia bukan ayah kandungku… Ibuku dikawininya setelah menyingkirkan nyawa ayahku. Ketika itu aku masih bayi, setelah ibu mau menutup mata setengah tahun yang lalu, beliau menceritakan hal itu padaku. Betapa pedih rasanya kiranya dia membesarkan aku hanya sebagai alat untuk meraih kedudukannya. Dia menjualku kepada Residen untuk dinikahkan kepada puteranya, dan aku telah siap untuk bunuh diri, Kak. Kemudian kalian datang.”

“Oh…”

“Dan kini, aku hanya memiliki seuntai kalung ini sebagai kenangan kepada mendiang ibuku. Milik satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku. Namun bila Anda menginginkannya, aku rela memberikannya demi keselamatan jiwa dan raga orang yang sangat kusayangi.”

“Rani …”

“Terimalah…! Semoga kalung itu dapat memberikan kebahagian kepada Anda dan juga kepada kekasih Anda,… barangkali.”

Si Sanca Manuk menggenggam kalung pusaka itu sambil termenung.

Untuk pertama kali wajahnya berubah begitu lunak. Tapi sekonyong-konyong dia berbalik dan pergi dari situ tanpa mengucapkan terima kasih.

Setibanya di luar, dia dihadang oleh belasan orang. Diantaranya malah tampak ada anak buahnya Mat Gerong sendiri.

“Hai, Sanca Manuk kini adalah giliranku untuk memiliki Nilam! Berikanlah kalung itu kepadaku!”

“Kalau tidak, bagaimana?”

“Pasti mampus!”

“Hmm,… kamu Atang! Tukang comot paling licik yang berkepala gede…! Yang selalu iri hati melihat hasil yang dicapai orang lain. Huh…! Bocah ingusan yang menganggap dunia ini seluas tempurung kepalamu yang kosong dan picik itu.”

“Nah, lu comot dah !”

“Penghianat!”

Bagaikan si Buta dari Gua Hantu, Sanca Manuk menyerang tanpa kenal ampun.

“Busyet, aku akan kehabisan tenaga. Menerobos kepungan ini dan sebentar lagi anjing-anjing kompeni itu pasti datang beradu.”

Tepat saat itu, Sugala meloncat ke tengah-tengah lingkaran maut itu.

“Mari kita sama-sama kita menggempur mampus anjing-anjing itu, Kak.”

Bertarunglah kedua pemuda ini sambil merapat punggung menghadapi para pengepungnya itu yang agak kewalahan menghadapi dua jenis ilmu silat yang sangat aneh itu.

“Dengan secara begini aku bisa mati konyol dan Nilam pasti tengah gelisah menanti aku. Dan bila aku binasa di sini, Nilam pasti merana, atau dia jadi milik orang lain.”

“Oh, tidak!”

Dia mulai dibakar rasa cemburu dan ego. Peluh dingin tiba-tiba saja deras membasahi tubuhnya. Dia takut Nilam yang cantik itu tidak akan jadi miliknya lagi. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dia menyerang keluar dari kepungan itu.

“Kak, mau kemana kau? Aah…”

“Jangan tinggalkan aku, Kak…. Kak…”

“Kak Sugali, jangan tinggalkan aku. Kak … Jangan aah… ahh…”

“Kak Sugali, kau anak durhaka. Kau manusia sesat. Kau kejam. Kau kejam, kak!”

“Tidak! Aaah, tidaaak!”

Tubuh si Sanca Manuk alias Sugali terhempas terengah-engah ke sebatang pohon.

“Ti…Tidak!”

“Tidak! Aku tetap adalah Sugali yang dulu. Tak akan ada sepotong iblis pun yang kubiarkan mengganggu sehelai rambut adikku.”

Kemudian dengan berteriak-teriak, dia lari balik ke gedung Bupati itu. Tepat pada saat yang sangat kritis bagi Sugala.

“Tabahkan hatimu Sugala, aku datang untuk membantumu.”

“Oh, Kak Sugali…”

Sugala terbangun kembali semangatnya. Gerakannya kembali bertenaga dan kokoh.

“Bagaimana keadaanmu Sugala?”

“Aku masih sanggup melahap tujuh turunan kakek moyangnya anjing-anjing ini kalau kau berada di sisiku, Kak.”

“Cepat kau bawa Rani lari dari sini, Sugala. Aku segera menyusul.”

“Baik, kak.”

Mereka beristirahat di tepi hutan. Sugali dengan agak canggung mengembalikan kalung mutiara itu kepada Rani.

“Maafkan aku dik Rani… Sayang, Nilam tidak sebaik engkau…”

“Lupakan perempuan itu, Kak. Dunia tidak sedaun kelor, bukan? Mari kita tinggalkan neraka ini. Kembali ke kampung halaman, memulai hidup baru kita, Kak.”

“Sudah terlanjur, Sugala. Hidupku telah kotor dengan dosa-dosa dan noda. Bertahun-tahun aku telah jadi algojo yang dendam dan membenci pada dunia dan segala kehidupan diatasnya. Karena itu aku lari dari rumah, untuk mencari kepadaian dan berguru kepada Mat Gerong. Merangkap jadi anak buahnya sebagai begal. Penegak hukum rimba. Sayangnya aku terlalu mencintai Nilam.”

“Tidak, Kak. Kau tidak boleh punya keyakinan seperti itu. Mari kita pulang dan ajaklah Nilam bila dia bersedia.”

Akhirnya si Ular Sanca Manuk dapat dibujuk oleh sang adik. Mereka kembali ke rumah pondok itu. Sugali dengan hati berdebar menyusun kata-kata yang lunak, mesra di benaknya agar Nilam yang dicintainya dengan sepenuh jiwanya itu dapat terbujuk dan pulang bersamanya ke kampung untuk sama-sama mendirikan mahligai hidup baru. Ah, betapa rindunya dia akan terwujudnya impian manis itu.

“Nilam tentu telah cemas menanti kedatanganku.”

“Eh, kemana orang-orang? Sunyi benar disini.”

Di dalam kamar itu, tampak sepasang manusia tengah asyik bercumbu.

“Oh, kau sudah kembali, sayang? Mana kalung untukku itu? Aku tahu kau pasti sudah memperolehnya, bukan? Oh, aku benar-benar cinta padamu, Sayang.”

“Perempuan keparat!”

Ternyata laki-laki botak bertubuh seperti raksasa itu adalah pengawal Mat Gerong, si Gagu. Bagaikan seekor banteng dia menerkam Sugali.

“Aku harus hati-hati, si iblis bego ini pernah mematahkan batang leher tiga ekor kerbau jantan.”

Si Gagu berusaha bangkit. Napasnya berdengus laksana banteng liar. Tapi dia ambruk kembali dan tak dapat berkutik lagi dengan perut berantakan terkena sabetan golok si Sanca Manuk.

“Ayah, tolong… Awww!” jerit Nilam.

Nilam lari pontang-panting dengan paniknya dikejar oleh Sugali yang sudah mata gelap itu.

“Tolong…!” lolongnya.

Dia lari ke arah Sugala untuk meminta tolong. Berharap satu malam kebersamaan mereka kemarin berkesan dalam jiwa pemuda itu. Tapi pemuda ini pun menatapnya dengan dingin dan mengancam.

“Ooh…”

Dengan putus asa, puteri kepala gembong penyamun yang cantik itu kabur sambil sesambat ketakutan. Si Sanca Manuk pun terus mengejarnya tanpa mengenal ampun.

“Tolong, ayah … Tolong.” sambat Nilam jerih.

Hingga pada sebuah tepian yang sangat curam dibawah air sungai Cisadane mengalir dengan ganasnya di celah batu-batu runcing mengerikan. Nilam menggigil. Dia berbalik dan meratap.

“A…aku, cinta padamu kak… Aku cinta padamu.”

“Hmm, penjual madu di bibir. Dengan adanya kau di dunia membuat jiwaku merana karena senantiasa memikirkanmu Nilam, tapi kau khianati cintaku Nilam.” ujar Sugali pahit.

Si Sanca Manuk maju melangkah. Nilam memejamkan mata. Wajahnya begitu pucat. Pada detik itu tiba-tiba…

“Kau binatang celaka! Aku memang telah menduga pada suatu saat kau pasti mencaplok aku. Aku menyesal telah menerima kau sebagai murid. Maka kau harus mampus!”

“Saaat! Tahan Mat Gerong!”

Sugala dengan sepasang senjata loncat menerjang tapi dia terhempas ke sebatang pohon. Darah segar muncrat dari mulutnya.

Detik itu tubuh Mat Gerong tiba-tiba mencelat ke udara berputar seperti gasing, menghunjam ke arah Sugala yang segera berguling menghindarkan diri dengan seluruh sisa tenaganya. Dan pohon itu terhajar sempal dengan dahsyatnya.

Mat Gerong yang datang secara tiba-tiba itu, kini memutari dua pemuda dan seorang gadis dan mendesaknya ke tepi sungai yang curam.

Ketiga orang ini benar-benar hampir putus asa. Mereka sadar, laki-laki yang cacat itu sukar dilawan dibawah cahaya bulan yang hampir pudar tampak dia bagaikan seorang makhluk ganjil yang amat menakutkan.

Sekonyong-konyong dengan teriakan seram tubuhnya melesat laksana batu meteor ke arah tiga orang yang berada di tepi jurang maut itu.

Detik itu sesosok bayangan lain berkelebat melintas dan terjadilah sebuah benturan dahsyat di udara. Kemudian keduanya terpental ke bumi.

“Siapa kamu?” bentak Mat Gerong.

“Bah Klontong?!” seru Sugala kegirangan.

“Haiya, kaki buntung. Gue udah dengel nama elu, si Mat Gelong tukang lampok matiin olang-olang nyang kaga bisa apa-apa. Syekalang elu mau matiin sekiah-kiah ini …”

Bah Klontong memutar senjatanya yang terbuat dari pada batang kayu seukuran sedepa bagaikan titiran. Tiba-tiba dengan sebuah sentakan dia lompat menyerang, tapi dia terhuyung-huyung terhempas ke belakang kembali.

Keduanya tangguh bagaikan bukit cadas.

Dengan sebuah gerakan yang amat lemas dan mengandung tenaga dalam yang hebat, Bah Klontong melancarkan serangkaian pukulan-pukulan jarak jauh.

Mat Gerong menangkis dan balas menyerang dengan tenaga yang tak terlihat itu dengan tak kalah hebatnya pula.

Dan sekonyong-konyong orang Shantung ini melesat bersalto ke muka menghantarkan totokan mautnya ke kepala Mat Gerong dibarengi dengan cecaran uang-uang logam ke punggung lawannya uang sangat tangguh ini. Belasan uang logam terlontar dan menancap di punggung sang pimpinan garong blandong yang terkenal malang melintang di daerah sekitar Batavia itu.

Keadaan jadi sunyi seketika. Tubuh Mat Gerong bergoyang-goyang, kemudian dengan suara meng gelogok tumpahlah darah kental dari mulutnya. Lalu dia terkulai bagaikan sebatang tonggak mati.

Sementara itu Bah Klontong masih tegak dengan kuda-kudanya. Tapi sesaat kemudian, tubuhnya ambruk ke bumi dan muntah darah.

“Oh, Babah!” jerit Sugala memburu.

“Ancoa,… Anak tolol… Uh… Nangis kayak anak kicit heh heh heh … Udah lima wulan gue ubek-ubek nyari elu Sugala. Thian udah mastiin gue kudu mati disini … Ditangan Mat Gelong yang jempolan. Gue kalah lihai ama dia. Dia benel-benel jago. Tapi sayang dia sesat, jadi olang jahat. Ingat Sugala… Thian kagak seneng ama olang jahat…”

Dengan nafas memburu, Bah Klontong berpesan pada murid tunggalnya yang sangat disayanginya itu. Setelah itu wafatlah dia.

Dengan perasaan pilu, Sugala dibantu Sugali menguburkan jenasah jago silat perantau dari Shantung itu. Makamnya berdampingan dengan Mat Gerong.

“Kiranya beliaulah yang diam-diam membantu kita menghajar para pengawal Bupati dengan senjata rahasia uang logamnya. Bila tidak, tentu kau telah binasa saat itu, Sugala.”

Sementara itu, dibalik hutan kering sana tampak terjadilah kebakaran hebat. Mungkin disebabkan pondok markas para penyamun itu yang musnah ditelan api obor yang jatuh.

Nilam tiba-tiba menjerit histeris dan berlari ke tengah hutan yang dilalap lidah-lidah api yang kian mengganas itu. Dia telah menjadi gila akibat goncangan jiwanya.

“Nilaaaam! Kembali…”

“Biarkanlah dia pergi, Kak. Tuhan telah menjatuhkan hukumannya. Marilah … Seluruh neraka ini akan musnah nanti…”

Air mata si Ular Sanca Manuk jatuh berderai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia menangis. Dia mungkin sanggup menahan terjangan seribu musuh. Namun tikaman sebatang panah asmara telah cukup membuat dia runtuh…

Berangkatlah tiga insan muda ini tanpa berpaling lagi. Meninggalkan desa “Sodom dan Gomorah” nya sungai Cisadane. Sementara itu guruh dan petir mulai berbunyi di balik awan hitam kelam di angkas. Hujan rintik-rintik mulai berjatuhan ke bumi.

Kembali kemukjijatan Tuhan tengah berlaku …


TAMAT

Categories:

Tags:

Comments are closed