MATAHARI bagaikan setumpuk bara tungku, memanggang permukaan bumi yang terbakar gersang. Tiada kehidupan yang nampak di sekitar daerah mati ini akibat musim kemarau yang teramat panjang. Batang-batang pohon tampak bagai kerangka-kerangka mati, menggapai-gapai mengeri-kan dihembus angin. Yang nampak hidup di daerah tandus ini hanyalah ditandakan bunyi kepak sayap burung-burung pemakan bangkai yang kelaparan … dan seorang pengembara yang terhuyung-huyung melangkah di tanah-tanah retak kekeringan.

“Hampir seharian ini aku tidak menemukan setitik air… kerongkonganku terasa begini kering dan burung-burung laknat itu selalu membayangi aku.”

“Hah!? Apa itu? Astaga mereka telah merecah mayat itu dengan rakusnya.”

Kisah ini terjadi di sekitar tepian sungai Cisadane, sebuah sungai yang memberikan kehidupan kepada penduduknya, namun sebuah musim kemarau yang teramat panjang yang telah membuat penduduk sengsara dan lebih-lebih akibat pemerasan kaum Kompeni dan begundal-begundalnya telah menambah desa-desa di tepi sungai Cisadane ini menjadi neraka dunia tak berampun.

“Aku harus cepat-cepat meninggalkan neraka ini. Sebelum hewan-hewan iblis itu melahapku hidup-hidup.”

Tibalah si pengembara muda yang berusia sekitar duapuluh tahunan di sebuah kampung yang telah kosong ditinggalkan para penghuninya.

“Huh, kakek itu… Dia tampaknya sakit.”

Tiba-tiba tubuh kurus si kakek itu limbung, kemudian ambruk ke bumi. Dan kejadian selanjutnya benar-benar mengerikan.

“Jahanam! Neraka apa ini? Sampai anjing-anjing kampung juga kelaparan ini pun berani memakan manusia.”

“Huss! Huss!! Husss!!!”

“Kainggg!!!”

“Busyet, dari mana datangnya anjing-anjing kelaparan ini? Dan seluruh kampung seakan-akan telah dikuasainya.”

Akhirnya si pemuda ini jadi kewalahan. Ia kabur tanpa dapat menolong si kakek yang malang itu yang telah menjelma jadi tulang-tulang kerangka berdarah yang berserakan dalam sekejap mata saja.

Hampir kehabisan tenaga, dia terengah-engah berhenti di bawah sebatang pohon kering. Pada saat itu, terdengarlah gemuruh suara roda-roda kereta yang dihela empat ekor kuda putih gagah perkasa melintas dengan pesatnya di jalan berdebu.

Dan dibelakangnya dua orang pengawal berlari mengiringinya, yang luar biasa adalah cara larinya kedua pendekar itu pesat dan ringan. Kedua pasang kaki itu seakan-akan tak menyentuh bumi.

Pada detik itu sekonyong-konyong yang salah seorang pengawal itu berbalik lengannya bergerak dan dua benda berkilat melesat secara tak diduga-duga ke arah si pengembara muda itu berdiri.

“Hah?!”

Tep… Tep …. Kedua benda berkilat yang tak lain adalah dua bilah pisau itu menancap tak jauh dari si pengembara muda. Serangan senjata pisau itu berhasil dielakkannya.

Sebelum si pengembara muda ini hilang dari rasa terkejutnya, dua pengawal itu sudah berada di hadapannya.

Tiba-tiba kedua orang ini saling berbisik entah apa yang tengah dirundingkannya.

“Kau orang baru di daerah ini, bukan Sobat? Menyesal sekali kami tidak ada waktu banyak untuk melayani Anda.”

Sesaat kemudian, kembali beberapa penunggang kuda congklang dari ujung jalan desa.

“… Opas Kompeni …” pandangnya sinis.

Tapi tak lama, karena matanya yang awas cukup dapat melihat betapa dihadapan mereka ada sesosok tua renta terancam bahaya. Nenek itu siap dilindas oleh kuda-kuda yang berderap ke arahnya.

“Hei, nenek dan anak itu berada dalam bahaya! “

“Aah!”

“Hiii.”

“Heiii !”

“Godferdome !!!”

“Hmm, dia pasti anak buah bajingan si Mat Gerong!! Dia pasti mau membegal Residen en Bupati tadi… Tapi rupanya terlambat!! Bekuk batang leher nya!!! Zeg!!”

“Heii, mau kabur ke mana kamu… bangsat !!”

Teriakan dan derapan kuda-kuda itu serentak merobek kesunyian desa mati itu. Bagaikan serombongan pemburu tengah mengejar seekor kijang, mereka mengepung dan akhirnya si kelana muda itu menghadapi jalan buntu.

“Bedebah!! Godferdom zeg !? Kamu harus mati.”

Akan tetapi,… “Aargh!”
Brukk!

Pada detik itu dengan dibarengi teriakan gegap gempita, berloncatan beberapa sosok tubuh dengan bersenjata berkilatan dari balik-balik pohon dan bilik rumah menyerang para opas Kompeni yang untuk sesaat lamanya jadi grogy.

“Aakh!” pekik kesakitan bersahut-sahutan.

Dalam sekejap mata saja, bergelimpanganlah opas-opas Kompeni itu… kecuali komandannya, ditawan hidup-hidup. Melihat kejadian tersebut, si pengelana muda itu tampak tertegun.

“Kak Sugali?! Tak salah! Dia mirip benar dengan kakak Sugali. Yang kucari-cari.”

Salah seorang dari kawanan penyerang opas-opas Kompeni itu, ada yang tampak begitu menonjol. Dengan pakaian serba putih, laki-laki itu berhasil membabat lebih banyak opas dibandingkan kawan-kawannya. Dan pakaiannya masih tampak putih tanpa percikan darah lawannya. Menandakan kecepatan gerak juga ketepatan penempatan posisi badannya sehingga tak sedikitpun percikan darah yang muncrat mengenai tubuhnya.

“Kak Sugali! Aku… Aku… adikmu. Si Sugala..!” seru si pengelana muda pada si serba putih.

Tapi si pendekar serba putih itu seakan-akan tidak mendengarnya, kemudian dengan sebuah gerakan yang sangat ringan dia meloncat ke punggung kuda dan segera kabur dari situ disertai pekikan riuh kemenangan dari kawan-kawannya. Meninggalkan si kelana muda itu sendiri di tengah jalan desa, berdiri mematung dengan hati dipenuhi tanda tanya.

Dengan perasaan pedih, dia memandang kepulan debu yang mengulak membumbung ke angkasa karena derap kaki kuda dan terseretnya tubuh si opas Kompeni itu sepanjang jalan gersang berdebu yang panas dibakar matahari musim kemarau.

Dipungutnya caping yang menjadi tudungnya dan kemudian dia melanjutkan langkah kakinya yang letih itu di atas bumi luas ini untuk mencari kakak kandungnya.


Ketika matahari mulai condong ke barat, dia tiba pada sebuah bangunan besar kuno yang telah hampir runtuh, kiranya itu bekas gedung kediaman Residen yang telah ditinggalkan.

Dari arah dalam gedung itu terdengar suara beberapa orang tengah berbincang-bincang. Perbincangan mereka terdengar semakin jelas seiring si pengelana muda memasuki gedung yang sudah tak berpintu itu.

“Hai, jaman gila apa ini? Manusia makan manusia. Mereka kekenyangan makan, karena bisa menjilat Kompeni. Kita? Bongkol pisang pun sudah lebih sulit kini untuk mengisi perut krempengan ini… Hai, benar-benar jaman gila.” keluh seseorang.

“Besok atau lusa, dunia ini pasti kiamat kubra,” timpal yang lainnya.

“Kau lihat si Bupati buncit itu? Berapa banyak sudah dia menghirup darah kita? Kerjaanya hanya memeluki perempuan-perempuan?! Membiarkan anak-anak dan istri kita mati kelaparan. Bergelimpangan satu demi satu… Tak sempat terkubur bangkainya, jadi lahapan anjing-anjing keparat itu! Sedangkan di gudangnya, Bupati laknat itu membiarkan padi-padinya membusuk karena tak termakan.”

“Dia pasti dapat balasan, nanti.” sahut yang lain mencoba berbesar hati.

“Numpang tanya, Pak. Kenalkah Bapak pada seorang yang bernama Sugali… Ahmad Sugali.”

“Ahmad Su… Sugali…? Kau siapa dan dari mana, Nak ?”

Tiba-tiba mata kedua laki-laki tua itu mendadak menjadi liar. Air liurnya menetes dari mulut-mulut kering itu. Dengan penuh kerakusan menatap ke arah lengan pemuda yang tengah memakan sisa bekal makanannya.

“Hei !!”

“Anjing !!”

Tapi kemudian lengan pemuda ini yang sudah meraba tangkai goloknya diturunkannya kembali perlahan-lahan… tak terasa setitik air matanya jatuh berlinang. Hatinya begitu pedih menyaksikan betapa manusia telah kehilangan akal budi dan martabatnya. Tak ubahnya seperti hewan-hewan rakus yang kelaparan.

Lama si kelana muda berdiri termenung, ketika dia berpaling… sontak pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang ganjil.

“Hah?! Seorang gadis!? Bilakah dia datang? Dia hanya seorang diri diantara manusia-manusia lapar dan rakus ini? Bukankah sangat berbahaya?!”

Tapi si gadis jelita ini hanya senyum-senyum dikulum dan menatap si pemuda dengan sepasang matanya yang redup berkilat, pandangannya itu seakan-akan mengandung aliran listrik yang sanggup mendenyutkan setiap jantung yang bagaimana bekunya sekalipun, dan membangkitkan berbagai perasaan ganjil bagi yang memandangnya.

Hati si pemuda bertambah berdenyut ketika dari dalam gedung usang itu muncul seorang laki-laki berbaju serba putih yang dijumpainya tadi siang… laki-laki itu meraih lengan si gadis agak kasar namun mesra…

“Nilam…” ujarnya kaku penuh nafsu.

Sejenak si pengelana muda itu meyakinkan diri dan kembali menyapa si Serba Putih. “Kak Sugali …!”

Si Serba Putih kali ini menoleh, dengan mengernyit dia bertanya, “Siapa kau !?”

“Aku Sugala, adik kandungmu sendiri, Kak. Masakkah waktu delapan tahun saja telah membuat Kakak lupa kepada adik sendiri?”

Si Serba Putih mendengus, lalu katanya :

“Nah, kini kau dengar Nak. Aku belum pernah merasa punya adik seperti kau. Baik kunasehatkan, kau masih begini muda. Di sini adalah neraka. Sebaiknya engkau cepat-cepat menjauhi diri dari daerah laknat ini sebelum terlambat.”

“Benar katamu, Kak. Sebaiknya kita pergi dari neraka ini. Ingat pesan Ibu, Kak. Dunia ini memang kotor, tapi janganlah engkau yang menjadi penyebab nya. Cucilah lenganmu bila engkau menyentuhnya. Kau masih ingat bukan, Kak ?”

Laki-laki serba putih yang berusia sekitar tigapuluh tahunan itu agak termangu sejenak… dan sesaat kemudian dia menggeram.

“Persetan! Siapakah kakakmu?! Hayo pergi !! Pergi kataku… atau…” sentaknya.

“Kak Sugali !?” Sugala terheran.

Laki-laki itu melontarkan sebuah pukulan ke muka Sugala. Dan anak muda ini tidak berkelit atau melawan, hingga dia terpelanting ke tiang pilar itu dengan mulut berdarah.

“Tidak, bila aku pergi dari sini, aku harus bersama engkau, Kak. Atau kau bunuh saja aku di sini.” seru Sugala penasaran.

Lelaki Serba Putih yang nampak jantan itu tak memperdulikan apapun lagi. Dia melangkah sambil merengkuh bahu perempuan yang bernama Nilam itu. Meninggalkan Sugala yang terlongong dengan pikirannya.

“Aku tidak menyangka dia telah begitu berubah kini. Hingga dia tak mau lagi mengakui aku sebagai adiknya sendiri. Namun aku yakin, dalam hati kecilnya dia tetap sayang padaku. Tapi mengapa kak Sugali, dia begitu tega mengusirku ?!”

Dalam kerisauan hatinya, Sugala tenggelam dalam kenangan masa kanak-kanaknya. Masa manis bersama kakak yang amat dikasihinya, Sugali.


Betapa gembiranya masa itu, kakak beradik ini belum pernah berpisah dan Sugali benar-benar tempat berlindung bagi Sugala. Dia terlalu amat memanjakan adiknya ini.

Bila mereka selesai memasukkan kerbau-kerbaunya ke kandang, Sugala sang adik yang manja ini selalu meminta digendong kepada Sugali yang senantiasa menggembirakan adiknya yang terkekeh-kekeh kesenangan menggemblok di punggungnya.

Tapi kegembiraan itu kadang-kadang terganggu oleh datangnya Ki Sarean, seorang kaya raya yang sangat berpengaruh di desa itu.

Sarean yang buncit itu acapkali datang diiringi dua pengawalnya untuk bertengkar dengan pak Rimin, ayah Sugala dan Sugali mengenai sengketa tanah yang tak kunjung reda. Sejak beberapa bulan yang lalu yang terakhir ini lebih gawat lagi. Tampak Sarean itu dengan wajah merah padam dan bersungut-sungut meninggalkan tempat itu. Mulailah malapetaka mengancam keluarga petani sederhana ini …

Hingga pada suatu senja …

“Ayah !!?”

Orang tua itu termegap-megap dengan tubuh lunglai menderita luka parah…! Dia tidak mau bercerita apa yang telah menimpa dirinya! Namun semuanya sama tahu apa yang sesungguhnya yang terjadi.

Sugali sebagai putera yang sudah dewasa, sudah tentu sukar menerima keadaan pahit itu. Hatinya seakan-akan hangus dibakar dendam yang tak terlampiaskan.

Dan lebih tragis lagi, pak Rimin yang malang itu kemudian jadi invalid seumur hidupnya. Dia menderita kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya. Peristiwa ini hampir tak tertahankan lagi oleh Sugali yang kini berubah jadi pendiam dengan pancaran mata penuh dendam.

Pekerjaan sawah diambil alih oleh Sugali. Dan pada siang itu matahari terik membakar bumi, menambah mendidihnya darah Sugali ketika matanya menyapu tiga sosok tubuh yang tengah berjalan di atas pematang sawahnya…

“Hmm, manusia keparat !” dengusnya.

“Bagus … Bagus … Bekerjalah rajin. Datanglah ke rumahku sebentar sore untuk menerima upah. Eh, kenapa kau bocah ?! Beberapa hektar sawah di sini adalah milikku. Ayahmu telah menjualnya padaku. Heh … Heh … Heh …” suara Ki Sarean yang serak terasa menjijikkan dengan ejekan itu.

Kali ini bara kebencian yang mengeram di rongga dada Sugali telah berkobar dan meledak tak dapat dikendalikan lagi. Dia menerjang dengan cangkulnya.

“Ciaaat !!! Ughhh !!!”

“Hep! Lu gegares dah tu lumpur heh heh heh!”

“Set ! Kepala lu kedot banget dah …!”

“Mindo nih Gol ?! Bagi gua dikit ah.”

Pada detik itu datanglah Sugala menaiki kerbaunya. Sambil menangis dan berteriak-teriak dia menyerudukkan kerbaunya ke arah Ki Sarean dan Dogol yang langsung nyungsep ke lumpur sawah.

Mereka segera meninggalkan Sugali yang sudah tak berdaya terbenam di lumpur dan lari terbirit-birit di kejar kerbau Sugala sambil menyeret tubuh Ki Sarean yang bernapas kembang-kempis ketakutan.

Sugala cepat menolong kakaknya dan dipapahnya pulang. Ibunya menangis melihat keadaan puteranya itu. Sugala menggigil ngeri melihat sinar mata Sugali yang seakan-akan berubah jadi seperti mata seekor binatang buas.

“Sugali,… dunia ini memang kotor, anakku. Tapi janganlah engkau yang jadi penyebabnya. Bila engkau menyentuhnya, cucilah lenganmu itu. Tuhan Maha Tahu, siapa sesungguhnya yang berbuat dosa. Maka janganlah engkau dendam karena itu hanya dapat menyiksa hatimu sendiri …”

Tapi, keesokan paginya Sugali telah lenyap pergi tanpa meninggalkan pesan. Kemurungan kian mencekam keluarga ini dengan segala kepedihan yang menekan.

“Kak Sugali… Kak Sugali…” sambat Sugala yang kerap merindukan kebersamaan dengan sang kakak.

Tak selang beberapa lama kemudian, pak Rimin pun meninggal dunia. Mungkin akibat derita yang sudah tak kuat lagi ditanggungnya. Dia mati meleres…

Rupanya kemalangan masih saja saling susul, Ki Sarean datang bersama opas Kompeni untuk menyita kerbau-kerbau milik pak Rimin dengan alasan terlalu banyak menunggak pajak dan cukai kepada pemerintah Kompeni.

“Kerbauku… kerbauku… jangan dibawa,” jerit Sugala yang berusaha mempertahankan kerbau kesayangannya. Tapi apalah daya bocah duabelas tahun menghadapi seorang centeng yang sudah terlatih bersilat itu. “Auww !!!” Dia terpelanting, dikibas oleh centeng Ki Sarean yang menarik tali kekang kerbaunya dengan paksa.

“Ya Allah, anakku…”


Kini tiada lagi yang dimilikinya untuk menyambung hidupnya. Ibu dan anak ini mulai mencari kayu ke hutan dan dijualnya ke pasar.

Karena menanggung beban dan derita nestapa dalam usia yang cukup lanjut itu, ibu Sugala akhirnya jatuh sakit. Dalam keadaan seperti ini ada seorang gadis manis yang lembut hati acapkali datang menjenguk nya.

Sayang teramat disayang… Dia yang bernama Rani, adalah puteri Ki Sarean yang telah menghancurkan keluarga pak Rimin ini.

“Rani, lama sudah ingin kukatakan padamu,… kau begitu baik terhadap kami. Tapi aku khawatir ayahmu akan marah bila dia tahu kau sering datang ke gubuk kami… Orang miskin seperti kami ini sebenarnya tak patut menerima kunjungan gadis seperti kau.”

“Dalam pandangan hidupku, tiada miskin dan kaya. Pokoknya aku senang padamu, Sugala. Dan juga kepada ibumu.”

Betapa jauh perbedaan sifat dan pandangan hidup Rani dengan ayahnya. Sugala dan Rani telah demikian mendalam persahabatannya. Mereka sering bertemu. Sugala tidak dapat melupakan kemurtadan Ki Sarean, tapi kepada puterinya ini dia punya pandangan lain.

“Hei, Sugala! Emak lo bae haa?” tiba-tiba terdengar sapaan ramah menghentikan pembicaraan keduanya. Suara ramah itu terdengar lucu karena bernada cadel.

“Bae, babah Klontong!” seru Sugala riang sambil melambaikan tangannya pada lelaki tua yang berlalu sambil menyapanya itu.


Ada seorang lagi yang berbaik hati sering menolong Sugala dan ibunya. Dia adalah tetangganya. Pedagang keliling yang pandai silat. Namanya biasa dipanggil Bah Klontong karena dia penjual barang-barang kelontong. Kebetulan dia menyukai Sugala dan lalu diambilnya sebagai murid tunggalnya.

Sugala yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, tentu menjadi sosok anak yang sangat berbakti dan tak banyak tingkah pada orang tua yang tinggal satu-satunya itu. Bah Klontong amat menyukai anak yang berbakti.

Menurut cerita, Bah Klontong adalah perantau dari daerah Shantung negeri Tiongkok. Itulah sebabnya dia dipanggil Babah, sebutan orang-orang di daerah Hindia Belanda untuk keturunan Cina di daerah mereka.

Dengan berbekal kepandaian silatnya, bertahun-tahun sudah dia berkelana di daerah-daerah Hindia Belanda meninggalkan negerinya. Sedangkan keluarganya sendiri telah tumpas tak bersisa dalam sebuah tragedi berdarah di sana.

Setelah berusia enampuluhan, marga Wang bernama Chen Haocun atau dikenal sebagai Bah Klontong itu kemudian memutuskan untuk menetap di pinggiran kota Batavia, di kampung halaman keluarga Rimin beberapa purnama setelah kematian pak Rimin.

Itulah sekilas kisah tentang sang guru silat Sugala.


Beberapa tahun kemudian, ibu Sugala pun meninggal dunia. Sugala telah berusia tujuhbelas tahun saat itu.

“Elu kagak perlu sedih, Sugala. Semua olang kudu mati. Itu udah maunya thian . Cuma waktu masih hidup kita kudu uhauw .” nasehat Bah Klontong pada muridnya yang tengah terpekur di pusara ibunya.

Pada suatu hari, beberapa pekan setelah wafatnya sang ibu, ketika Rani menemuinya…

“Rani, ibu berpesan sebelum beliau wafat, aku harus mencari kakakku Sugali … seperti kau ketahui, aku hanya punya seorang saudara di dunia ini yang entah di mana rimbanya kini.”

“Kau mau pergi, Gala? Bilakah?“

“Esok pagi…”

“Bilakah kita dapat bertemu kembali, Gala?!”

Sugala tak segera menjawab, dia hanya menatap ke tanah. Dadanya serasa sesak, pada saat itu dia tengah menahan gejolak perasaannya. Bila dia berbicara saat itu, tentu suaranya akan terdengar sangat bergetar seperti menangis. Ditahannyalah agar tak berbicara. Belum dia menjawab, Rani berkata,

“Aku merasa kepergianmu mempunyai dua maksud, bukan? Pertama, kau memang mau mencari kakakmu itu. Kedua, kau pun jelas tengah menjauhi diriku. Aku tahu itu, karena aku sering mendengar ibumu berusaha mencegah hubungan kita ini… Tapi… Demi Tuhan… Aku cinta padamu, Gala…”

“Rani …” hanya itu yang terucap oleh Sugala.

Rani menatap pedih kepada Sugala dengan air mata berderai lalu tiba-tiba… sebuah kecupan mendarat di pipi Sugala. Tak lama, karena Rani segera berlalu.

“Rani…”


Maka pamitlah Sugala pada gurunya, Bah Klontong.

“Ingat pesan gue Sugala … di atas langit ada langit lagi. Jangan sombong, kepandaian kuntauw bukan buat jadi jago. Tapi pakailah itu buat nolong yang lemah. Lu musti pintel bawa dili. Nah, lu pelgi dah !!!”

“Terima kasih, Bah.”

Diam-diam Rani pun mengantar kepergian pemuda yang dikasihinya dengan iringan do’a di hatinya yang patah karena dia sadar ada jurang dalam yang memisahkan mereka…

Sugala tahu Rani berdiri sambil terisak menepas air mata di balik pohon itu. Tapi ditekannyalah hatinya, karena dia takut akan menggoyahkan tekadnya yang sudah bulat itu.

Demikianlah dia berkelana dari desa ke desa, mendaki bukit menembus hutan, untuk mencari kakak kandungnya, Sugali yang telah bertahun-tahun berpisah.

Dalam perjalanannya itu, banyak peristiwa yang dialaminya. Hingga akhirnya tibalah dia di sebuah desa yang tengah ditimpa malapetaka kekeringan musim kemarau yang teramat dahsyat dan mengerikan itu.


Lama Sugala termenung, hingga senja pun mulai menyelimuti desa ini. Tiba-tiba dia tersentak dari lamunannya ketika sebuah suara merdu-halus menegurnya.

“Hm…! Anda masih disini…?! Apa yang sedang dilamuni? Pacar? Eh… Siapa nama anda? Ng… ya… Anda tadi mengatakan… Sugala, bukan?”

“Mana kakakku ?”

“Kakakmu? Kalau dia yang anda maksud… hmm… dia masih terlena, tidur di dalam… Anda adiknya kah ?”

“Ya,… A… Aku adik kandungnya… Da… Dapatkah A… Anda me… menolongku…? A… Aku ingin bi… bicara pa… padanya …” ucap Sugala terpatah-patah karena grogi. Tak tahan jiwanya melihat Nilam yang begitu membiarkan kemolekan badannya terumbar sedemikian rupa.

“Rupanya anda datang dari tempat yang jauh, bukan. Anda nampak letih sekali. Lapar?… Mari ikutlah aku…”

Sugala tidak menjawab.

“Hayoo, mengapa melamun? Akan kubawa Anda ke sebuah tempat… Katakanlah, sebuah sorga di tengah neraka ini.”

Sugala mengikuti si cantik itu ke sebuah tempat.

“Huh?! Begini banyak orang…! Siapakah mereka ?! Ah, kalau tidak salah diantaranya adalah orang-orang yang menghadang opas-opas Kompeni tadi siang … “

Si komandan opas Kompeni yang ditawan itu pun berada di situ. Sugala mulai sadar di tempat apa kini dia berada …

“Dari mana kau Nilam? Dapat pacar baru lagi? Bagaimana dengan si keparat itu? Kau sudah bosan lagi, bukan?”

“Lepaskan! Bajingan kau!”

“Hmm, … perempuan tak kenal puas. Kau telah bosan padaku. Kau terkulai di pelukan laki-laki jahanam itu. Dan kini kau mulai merayu bocah ini. Kemudian siapa lagi ? Kau harus melawan aku malam ini !”

Tiba-tiba, duaakk!!! “Aahh!!!”

Dengan jeritan kesakitan, laki-laki itu terpelanting ke belakang terkena tendangan seseorang. Dengan wajah yang menahan kesakitan, dia segera merayap bangun.

“Bangsat !” bentaknya memaki.

Hanya satu makian itu saja, karena berikutnya sebuah tendangan telah mampir kembali di kepalanya dibarengi bentakan lain, “Benar, kita semua memang bangsat !”

Laki-laki itu dengan gesit bergulingan dan segera bangkit bersandar sambil mencabut goloknya. Tampak wajahnya begitu pucat seakan-akan dia terpaksa melawan malaikat elmaut. Laki-laki berpakaian serba putih tegak berdiri dengan tenang. Tapi sinar matanya memancar bagaikan sepasang mata harimau kumbang.

Sekonyong-konyong sebuah kilatan menggores udara dan laki-laki brewok itu menjerit melengking. Sebuah telinganya terputus oleh tebasan golok laki-laki serba putih ini yang bergerak laksana kilat.

Kemudian sebelah lagi.

“Aah !”

Sambil menekap kedua belah pelipisnya, laki-laki ini terhuyung-huyung dan pontang-panting ketakutan dengan napas terengah-engah dia berusaha menjauhkan diri. Si serba putih melangkah bagaikan harimau siap menerkam mangsanya.

“Haah, ja… jangan. Jangan bu … bu … nuh a … ku.”

“Waaaa…”

“Sabar Kak! Berilah dia ampun.”

“Siapakah bocah yang tidak tahu penyakit itu? Rupanya dia belum kenal dengan si Ular Sanca Manuk yang berdarah dingin itu…”

“Dia sudah kehilangan kedua belah telinganya. Sudah cukup, bukan ?! Biarkanlah dia hidup, Kak.”

Si Sanca Manuk menyeringai sinis, kemudian tertawa dingin. Bersamaan dengan itu sekonyong-konyong menyikut Sugala berbareng goloknya membabat dengan dahsyat. Si brewok melengking dengan mengerikan.

Sugala terpelanting ke bumi. Si Ular Sanca Manuk berbalik seperti seekor ajag. Matanya tajam menatap Sugala. Merah berapi di tengah cahaya api unggun.

MATAHARI bagaikan setumpuk bara tungku, memanggang permukaan bumi yang terbakar gersang. Tiada kehidupan yang nampak di sekitar daerah mati ini akibat musim kemarau yang teramat panjang. Batang-batang pohon tampak bagai kerangka-kerangka mati, menggapai-gapai mengeri-kan dihembus angin. Yang nampak hidup di daerah tandus ini hanyalah ditandakan bunyi kepak sayap burung-burung pemakan bangkai yang kelaparan … dan seorang pengembara yang terhuyung-huyung melangkah di tanah-tanah retak kekeringan.

“Hampir seharian ini aku tidak menemukan setitik air… kerongkonganku terasa begini kering dan burung-burung laknat itu selalu membayangi aku.”

“Hah!? Apa itu? Astaga mereka telah merecah mayat itu dengan rakusnya.”

Kisah ini terjadi di sekitar tepian sungai Cisadane, sebuah sungai yang memberikan kehidupan kepada penduduknya, namun sebuah musim kemarau yang teramat panjang yang telah membuat penduduk sengsara dan lebih-lebih akibat pemerasan kaum Kompeni dan begundal-begundalnya telah menambah desa-desa di tepi sungai Cisadane ini menjadi neraka dunia tak berampun.

“Aku harus cepat-cepat meninggalkan neraka ini. Sebelum hewan-hewan iblis itu melahapku hidup-hidup.”

Tibalah si pengembara muda yang berusia sekitar duapuluh tahunan di sebuah kampung yang telah kosong ditinggalkan para penghuninya.

“Huh, kakek itu… Dia tampaknya sakit.”

Tiba-tiba tubuh kurus si kakek itu limbung, kemudian ambruk ke bumi. Dan kejadian selanjutnya benar-benar mengerikan.

“Jahanam! Neraka apa ini? Sampai anjing-anjing kampung juga kelaparan ini pun berani memakan manusia.”

“Huss! Huss!! Husss!!!”

“Kainggg!!!”

“Busyet, dari mana datangnya anjing-anjing kelaparan ini? Dan seluruh kampung seakan-akan telah dikuasainya.”

Akhirnya si pemuda ini jadi kewalahan. Ia kabur tanpa dapat menolong si kakek yang malang itu yang telah menjelma jadi tulang-tulang kerangka berdarah yang berserakan dalam sekejap mata saja.

Hampir kehabisan tenaga, dia terengah-engah berhenti di bawah sebatang pohon kering. Pada saat itu, terdengarlah gemuruh suara roda-roda kereta yang dihela empat ekor kuda putih gagah perkasa melintas dengan pesatnya di jalan berdebu.

Dan dibelakangnya dua orang pengawal berlari mengiringinya, yang luar biasa adalah cara larinya kedua pendekar itu pesat dan ringan. Kedua pasang kaki itu seakan-akan tak menyentuh bumi.

Pada detik itu sekonyong-konyong yang salah seorang pengawal itu berbalik lengannya bergerak dan dua benda berkilat melesat secara tak diduga-duga ke arah si pengembara muda itu berdiri.

“Hah?!”

Tep… Tep …. Kedua benda berkilat yang tak lain adalah dua bilah pisau itu menancap tak jauh dari si pengembara muda. Serangan senjata pisau itu berhasil dielakkannya.

Sebelum si pengembara muda ini hilang dari rasa terkejutnya, dua pengawal itu sudah berada di hadapannya.

Tiba-tiba kedua orang ini saling berbisik entah apa yang tengah dirundingkannya.

“Kau orang baru di daerah ini, bukan Sobat? Menyesal sekali kami tidak ada waktu banyak untuk melayani Anda.”

Sesaat kemudian, kembali beberapa penunggang kuda congklang dari ujung jalan desa.

“… Opas Kompeni …” pandangnya sinis.

Tapi tak lama, karena matanya yang awas cukup dapat melihat betapa dihadapan mereka ada sesosok tua renta terancam bahaya. Nenek itu siap dilindas oleh kuda-kuda yang berderap ke arahnya.

“Hei, nenek dan anak itu berada dalam bahaya! “

“Aah!”

“Hiii.”

“Heiii !”

“Godferdome !!!”

“Hmm, dia pasti anak buah bajingan si Mat Gerong!! Dia pasti mau membegal Residen en Bupati tadi… Tapi rupanya terlambat!! Bekuk batang leher nya!!! Zeg!!”

“Heii, mau kabur ke mana kamu… bangsat !!”

Teriakan dan derapan kuda-kuda itu serentak merobek kesunyian desa mati itu. Bagaikan serombongan pemburu tengah mengejar seekor kijang, mereka mengepung dan akhirnya si kelana muda itu menghadapi jalan buntu.

“Bedebah!! Godferdom zeg !? Kamu harus mati.”

Akan tetapi,… “Aargh!”
Brukk!

Pada detik itu dengan dibarengi teriakan gegap gempita, berloncatan beberapa sosok tubuh dengan bersenjata berkilatan dari balik-balik pohon dan bilik rumah menyerang para opas Kompeni yang untuk sesaat lamanya jadi grogy.

“Aakh!” pekik kesakitan bersahut-sahutan.

Dalam sekejap mata saja, bergelimpanganlah opas-opas Kompeni itu… kecuali komandannya, ditawan hidup-hidup. Melihat kejadian tersebut, si pengelana muda itu tampak tertegun.

“Kak Sugali?! Tak salah! Dia mirip benar dengan kakak Sugali. Yang kucari-cari.”

Salah seorang dari kawanan penyerang opas-opas Kompeni itu, ada yang tampak begitu menonjol. Dengan pakaian serba putih, laki-laki itu berhasil membabat lebih banyak opas dibandingkan kawan-kawannya. Dan pakaiannya masih tampak putih tanpa percikan darah lawannya. Menandakan kecepatan gerak juga ketepatan penempatan posisi badannya sehingga tak sedikitpun percikan darah yang muncrat mengenai tubuhnya.

“Kak Sugali! Aku… Aku… adikmu. Si Sugala..!” seru si pengelana muda pada si serba putih.

Tapi si pendekar serba putih itu seakan-akan tidak mendengarnya, kemudian dengan sebuah gerakan yang sangat ringan dia meloncat ke punggung kuda dan segera kabur dari situ disertai pekikan riuh kemenangan dari kawan-kawannya. Meninggalkan si kelana muda itu sendiri di tengah jalan desa, berdiri mematung dengan hati dipenuhi tanda tanya.

Dengan perasaan pedih, dia memandang kepulan debu yang mengulak membumbung ke angkasa karena derap kaki kuda dan terseretnya tubuh si opas Kompeni itu sepanjang jalan gersang berdebu yang panas dibakar matahari musim kemarau.

Dipungutnya caping yang menjadi tudungnya dan kemudian dia melanjutkan langkah kakinya yang letih itu di atas bumi luas ini untuk mencari kakak kandungnya.


Ketika matahari mulai condong ke barat, dia tiba pada sebuah bangunan besar kuno yang telah hampir runtuh, kiranya itu bekas gedung kediaman Residen yang telah ditinggalkan.

Dari arah dalam gedung itu terdengar suara beberapa orang tengah berbincang-bincang. Perbincangan mereka terdengar semakin jelas seiring si pengelana muda memasuki gedung yang sudah tak berpintu itu.

“Hai, jaman gila apa ini? Manusia makan manusia. Mereka kekenyangan makan, karena bisa menjilat Kompeni. Kita? Bongkol pisang pun sudah lebih sulit kini untuk mengisi perut krempengan ini… Hai, benar-benar jaman gila.” keluh seseorang.

“Besok atau lusa, dunia ini pasti kiamat kubra,” timpal yang lainnya.

“Kau lihat si Bupati buncit itu? Berapa banyak sudah dia menghirup darah kita? Kerjaanya hanya memeluki perempuan-perempuan?! Membiarkan anak-anak dan istri kita mati kelaparan. Bergelimpangan satu demi satu… Tak sempat terkubur bangkainya, jadi lahapan anjing-anjing keparat itu! Sedangkan di gudangnya, Bupati laknat itu membiarkan padi-padinya membusuk karena tak termakan.”

“Dia pasti dapat balasan, nanti.” sahut yang lain mencoba berbesar hati.

“Numpang tanya, Pak. Kenalkah Bapak pada seorang yang bernama Sugali… Ahmad Sugali.”

“Ahmad Su… Sugali…? Kau siapa dan dari mana, Nak ?”

Tiba-tiba mata kedua laki-laki tua itu mendadak menjadi liar. Air liurnya menetes dari mulut-mulut kering itu. Dengan penuh kerakusan menatap ke arah lengan pemuda yang tengah memakan sisa bekal makanannya.

“Hei !!”

“Anjing !!”

Tapi kemudian lengan pemuda ini yang sudah meraba tangkai goloknya diturunkannya kembali perlahan-lahan… tak terasa setitik air matanya jatuh berlinang. Hatinya begitu pedih menyaksikan betapa manusia telah kehilangan akal budi dan martabatnya. Tak ubahnya seperti hewan-hewan rakus yang kelaparan.

Lama si kelana muda berdiri termenung, ketika dia berpaling… sontak pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang ganjil.

“Hah?! Seorang gadis!? Bilakah dia datang? Dia hanya seorang diri diantara manusia-manusia lapar dan rakus ini? Bukankah sangat berbahaya?!”

Tapi si gadis jelita ini hanya senyum-senyum dikulum dan menatap si pemuda dengan sepasang matanya yang redup berkilat, pandangannya itu seakan-akan mengandung aliran listrik yang sanggup mendenyutkan setiap jantung yang bagaimana bekunya sekalipun, dan membangkitkan berbagai perasaan ganjil bagi yang memandangnya.

Hati si pemuda bertambah berdenyut ketika dari dalam gedung usang itu muncul seorang laki-laki berbaju serba putih yang dijumpainya tadi siang… laki-laki itu meraih lengan si gadis agak kasar namun mesra…

“Nilam…” ujarnya kaku penuh nafsu.

Sejenak si pengelana muda itu meyakinkan diri dan kembali menyapa si Serba Putih. “Kak Sugali …!”

Si Serba Putih kali ini menoleh, dengan mengernyit dia bertanya, “Siapa kau !?”

“Aku Sugala, adik kandungmu sendiri, Kak. Masakkah waktu delapan tahun saja telah membuat Kakak lupa kepada adik sendiri?”

Si Serba Putih mendengus, lalu katanya :

“Nah, kini kau dengar Nak. Aku belum pernah merasa punya adik seperti kau. Baik kunasehatkan, kau masih begini muda. Di sini adalah neraka. Sebaiknya engkau cepat-cepat menjauhi diri dari daerah laknat ini sebelum terlambat.”

“Benar katamu, Kak. Sebaiknya kita pergi dari neraka ini. Ingat pesan Ibu, Kak. Dunia ini memang kotor, tapi janganlah engkau yang menjadi penyebab nya. Cucilah lenganmu bila engkau menyentuhnya. Kau masih ingat bukan, Kak ?”

Laki-laki serba putih yang berusia sekitar tigapuluh tahunan itu agak termangu sejenak… dan sesaat kemudian dia menggeram.

“Persetan! Siapakah kakakmu?! Hayo pergi !! Pergi kataku… atau…” sentaknya.

“Kak Sugali !?” Sugala terheran.

Laki-laki itu melontarkan sebuah pukulan ke muka Sugala. Dan anak muda ini tidak berkelit atau melawan, hingga dia terpelanting ke tiang pilar itu dengan mulut berdarah.

“Tidak, bila aku pergi dari sini, aku harus bersama engkau, Kak. Atau kau bunuh saja aku di sini.” seru Sugala penasaran.

Lelaki Serba Putih yang nampak jantan itu tak memperdulikan apapun lagi. Dia melangkah sambil merengkuh bahu perempuan yang bernama Nilam itu. Meninggalkan Sugala yang terlongong dengan pikirannya.

“Aku tidak menyangka dia telah begitu berubah kini. Hingga dia tak mau lagi mengakui aku sebagai adiknya sendiri. Namun aku yakin, dalam hati kecilnya dia tetap sayang padaku. Tapi mengapa kak Sugali, dia begitu tega mengusirku ?!”

Dalam kerisauan hatinya, Sugala tenggelam dalam kenangan masa kanak-kanaknya. Masa manis bersama kakak yang amat dikasihinya, Sugali.


Betapa gembiranya masa itu, kakak beradik ini belum pernah berpisah dan Sugali benar-benar tempat berlindung bagi Sugala. Dia terlalu amat memanjakan adiknya ini.

Bila mereka selesai memasukkan kerbau-kerbaunya ke kandang, Sugala sang adik yang manja ini selalu meminta digendong kepada Sugali yang senantiasa menggembirakan adiknya yang terkekeh-kekeh kesenangan menggemblok di punggungnya.

Tapi kegembiraan itu kadang-kadang terganggu oleh datangnya Ki Sarean, seorang kaya raya yang sangat berpengaruh di desa itu.

Sarean yang buncit itu acapkali datang diiringi dua pengawalnya untuk bertengkar dengan pak Rimin, ayah Sugala dan Sugali mengenai sengketa tanah yang tak kunjung reda. Sejak beberapa bulan yang lalu yang terakhir ini lebih gawat lagi. Tampak Sarean itu dengan wajah merah padam dan bersungut-sungut meninggalkan tempat itu. Mulailah malapetaka mengancam keluarga petani sederhana ini …

Hingga pada suatu senja …

“Ayah !!?”

Orang tua itu termegap-megap dengan tubuh lunglai menderita luka parah…! Dia tidak mau bercerita apa yang telah menimpa dirinya! Namun semuanya sama tahu apa yang sesungguhnya yang terjadi.

Sugali sebagai putera yang sudah dewasa, sudah tentu sukar menerima keadaan pahit itu. Hatinya seakan-akan hangus dibakar dendam yang tak terlampiaskan.

Dan lebih tragis lagi, pak Rimin yang malang itu kemudian jadi invalid seumur hidupnya. Dia menderita kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya. Peristiwa ini hampir tak tertahankan lagi oleh Sugali yang kini berubah jadi pendiam dengan pancaran mata penuh dendam.

Pekerjaan sawah diambil alih oleh Sugali. Dan pada siang itu matahari terik membakar bumi, menambah mendidihnya darah Sugali ketika matanya menyapu tiga sosok tubuh yang tengah berjalan di atas pematang sawahnya…

“Hmm, manusia keparat !” dengusnya.

“Bagus … Bagus … Bekerjalah rajin. Datanglah ke rumahku sebentar sore untuk menerima upah. Eh, kenapa kau bocah ?! Beberapa hektar sawah di sini adalah milikku. Ayahmu telah menjualnya padaku. Heh … Heh … Heh …” suara Ki Sarean yang serak terasa menjijikkan dengan ejekan itu.

Kali ini bara kebencian yang mengeram di rongga dada Sugali telah berkobar dan meledak tak dapat dikendalikan lagi. Dia menerjang dengan cangkulnya.

“Ciaaat !!! Ughhh !!!”

“Hep! Lu gegares dah tu lumpur heh heh heh!”

“Set ! Kepala lu kedot banget dah …!”

“Mindo nih Gol ?! Bagi gua dikit ah.”

Pada detik itu datanglah Sugala menaiki kerbaunya. Sambil menangis dan berteriak-teriak dia menyerudukkan kerbaunya ke arah Ki Sarean dan Dogol yang langsung nyungsep ke lumpur sawah.

Mereka segera meninggalkan Sugali yang sudah tak berdaya terbenam di lumpur dan lari terbirit-birit di kejar kerbau Sugala sambil menyeret tubuh Ki Sarean yang bernapas kembang-kempis ketakutan.

Sugala cepat menolong kakaknya dan dipapahnya pulang. Ibunya menangis melihat keadaan puteranya itu. Sugala menggigil ngeri melihat sinar mata Sugali yang seakan-akan berubah jadi seperti mata seekor binatang buas.

“Sugali,… dunia ini memang kotor, anakku. Tapi janganlah engkau yang jadi penyebabnya. Bila engkau menyentuhnya, cucilah lenganmu itu. Tuhan Maha Tahu, siapa sesungguhnya yang berbuat dosa. Maka janganlah engkau dendam karena itu hanya dapat menyiksa hatimu sendiri …”

Tapi, keesokan paginya Sugali telah lenyap pergi tanpa meninggalkan pesan. Kemurungan kian mencekam keluarga ini dengan segala kepedihan yang menekan.

“Kak Sugali… Kak Sugali…” sambat Sugala yang kerap merindukan kebersamaan dengan sang kakak.

Tak selang beberapa lama kemudian, pak Rimin pun meninggal dunia. Mungkin akibat derita yang sudah tak kuat lagi ditanggungnya. Dia mati meleres…

Rupanya kemalangan masih saja saling susul, Ki Sarean datang bersama opas Kompeni untuk menyita kerbau-kerbau milik pak Rimin dengan alasan terlalu banyak menunggak pajak dan cukai kepada pemerintah Kompeni.

“Kerbauku… kerbauku… jangan dibawa,” jerit Sugala yang berusaha mempertahankan kerbau kesayangannya. Tapi apalah daya bocah duabelas tahun menghadapi seorang centeng yang sudah terlatih bersilat itu. “Auww !!!” Dia terpelanting, dikibas oleh centeng Ki Sarean yang menarik tali kekang kerbaunya dengan paksa.

“Ya Allah, anakku…”


Kini tiada lagi yang dimilikinya untuk menyambung hidupnya. Ibu dan anak ini mulai mencari kayu ke hutan dan dijualnya ke pasar.

Karena menanggung beban dan derita nestapa dalam usia yang cukup lanjut itu, ibu Sugala akhirnya jatuh sakit. Dalam keadaan seperti ini ada seorang gadis manis yang lembut hati acapkali datang menjenguk nya.

Sayang teramat disayang… Dia yang bernama Rani, adalah puteri Ki Sarean yang telah menghancurkan keluarga pak Rimin ini.

“Rani, lama sudah ingin kukatakan padamu,… kau begitu baik terhadap kami. Tapi aku khawatir ayahmu akan marah bila dia tahu kau sering datang ke gubuk kami… Orang miskin seperti kami ini sebenarnya tak patut menerima kunjungan gadis seperti kau.”

“Dalam pandangan hidupku, tiada miskin dan kaya. Pokoknya aku senang padamu, Sugala. Dan juga kepada ibumu.”

Betapa jauh perbedaan sifat dan pandangan hidup Rani dengan ayahnya. Sugala dan Rani telah demikian mendalam persahabatannya. Mereka sering bertemu. Sugala tidak dapat melupakan kemurtadan Ki Sarean, tapi kepada puterinya ini dia punya pandangan lain.

“Hei, Sugala! Emak lo bae haa?” tiba-tiba terdengar sapaan ramah menghentikan pembicaraan keduanya. Suara ramah itu terdengar lucu karena bernada cadel.

“Bae, babah Klontong!” seru Sugala riang sambil melambaikan tangannya pada lelaki tua yang berlalu sambil menyapanya itu.


Ada seorang lagi yang berbaik hati sering menolong Sugala dan ibunya. Dia adalah tetangganya. Pedagang keliling yang pandai silat. Namanya biasa dipanggil Bah Klontong karena dia penjual barang-barang kelontong. Kebetulan dia menyukai Sugala dan lalu diambilnya sebagai murid tunggalnya.

Sugala yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, tentu menjadi sosok anak yang sangat berbakti dan tak banyak tingkah pada orang tua yang tinggal satu-satunya itu. Bah Klontong amat menyukai anak yang berbakti.

Menurut cerita, Bah Klontong adalah perantau dari daerah Shantung negeri Tiongkok. Itulah sebabnya dia dipanggil Babah, sebutan orang-orang di daerah Hindia Belanda untuk keturunan Cina di daerah mereka.

Dengan berbekal kepandaian silatnya, bertahun-tahun sudah dia berkelana di daerah-daerah Hindia Belanda meninggalkan negerinya. Sedangkan keluarganya sendiri telah tumpas tak bersisa dalam sebuah tragedi berdarah di sana.

Setelah berusia enampuluhan, marga Wang bernama Chen Haocun atau dikenal sebagai Bah Klontong itu kemudian memutuskan untuk menetap di pinggiran kota Batavia, di kampung halaman keluarga Rimin beberapa purnama setelah kematian pak Rimin.

Itulah sekilas kisah tentang sang guru silat Sugala.


Beberapa tahun kemudian, ibu Sugala pun meninggal dunia. Sugala telah berusia tujuhbelas tahun saat itu.

“Elu kagak perlu sedih, Sugala. Semua olang kudu mati. Itu udah maunya thian . Cuma waktu masih hidup kita kudu uhauw .” nasehat Bah Klontong pada muridnya yang tengah terpekur di pusara ibunya.

Pada suatu hari, beberapa pekan setelah wafatnya sang ibu, ketika Rani menemuinya…

“Rani, ibu berpesan sebelum beliau wafat, aku harus mencari kakakku Sugali … seperti kau ketahui, aku hanya punya seorang saudara di dunia ini yang entah di mana rimbanya kini.”

“Kau mau pergi, Gala? Bilakah?“

“Esok pagi…”

“Bilakah kita dapat bertemu kembali, Gala?!”

Sugala tak segera menjawab, dia hanya menatap ke tanah. Dadanya serasa sesak, pada saat itu dia tengah menahan gejolak perasaannya. Bila dia berbicara saat itu, tentu suaranya akan terdengar sangat bergetar seperti menangis. Ditahannyalah agar tak berbicara. Belum dia menjawab, Rani berkata,

“Aku merasa kepergianmu mempunyai dua maksud, bukan? Pertama, kau memang mau mencari kakakmu itu. Kedua, kau pun jelas tengah menjauhi diriku. Aku tahu itu, karena aku sering mendengar ibumu berusaha mencegah hubungan kita ini… Tapi… Demi Tuhan… Aku cinta padamu, Gala…”

“Rani …” hanya itu yang terucap oleh Sugala.

Rani menatap pedih kepada Sugala dengan air mata berderai lalu tiba-tiba… sebuah kecupan mendarat di pipi Sugala. Tak lama, karena Rani segera berlalu.

“Rani…”


Maka pamitlah Sugala pada gurunya, Bah Klontong.

“Ingat pesan gue Sugala … di atas langit ada langit lagi. Jangan sombong, kepandaian kuntauw bukan buat jadi jago. Tapi pakailah itu buat nolong yang lemah. Lu musti pintel bawa dili. Nah, lu pelgi dah !!!”

“Terima kasih, Bah.”

Diam-diam Rani pun mengantar kepergian pemuda yang dikasihinya dengan iringan do’a di hatinya yang patah karena dia sadar ada jurang dalam yang memisahkan mereka…

Sugala tahu Rani berdiri sambil terisak menepas air mata di balik pohon itu. Tapi ditekannyalah hatinya, karena dia takut akan menggoyahkan tekadnya yang sudah bulat itu.

Demikianlah dia berkelana dari desa ke desa, mendaki bukit menembus hutan, untuk mencari kakak kandungnya, Sugali yang telah bertahun-tahun berpisah.

Dalam perjalanannya itu, banyak peristiwa yang dialaminya. Hingga akhirnya tibalah dia di sebuah desa yang tengah ditimpa malapetaka kekeringan musim kemarau yang teramat dahsyat dan mengerikan itu.


Lama Sugala termenung, hingga senja pun mulai menyelimuti desa ini. Tiba-tiba dia tersentak dari lamunannya ketika sebuah suara merdu-halus menegurnya.

“Hm…! Anda masih disini…?! Apa yang sedang dilamuni? Pacar? Eh… Siapa nama anda? Ng… ya… Anda tadi mengatakan… Sugala, bukan?”

“Mana kakakku ?”

“Kakakmu? Kalau dia yang anda maksud… hmm… dia masih terlena, tidur di dalam… Anda adiknya kah ?”

“Ya,… A… Aku adik kandungnya… Da… Dapatkah A… Anda me… menolongku…? A… Aku ingin bi… bicara pa… padanya …” ucap Sugala terpatah-patah karena grogi. Tak tahan jiwanya melihat Nilam yang begitu membiarkan kemolekan badannya terumbar sedemikian rupa.

“Rupanya anda datang dari tempat yang jauh, bukan. Anda nampak letih sekali. Lapar?… Mari ikutlah aku…”

Sugala tidak menjawab.

“Hayoo, mengapa melamun? Akan kubawa Anda ke sebuah tempat… Katakanlah, sebuah sorga di tengah neraka ini.”

Sugala mengikuti si cantik itu ke sebuah tempat.

“Huh?! Begini banyak orang…! Siapakah mereka ?! Ah, kalau tidak salah diantaranya adalah orang-orang yang menghadang opas-opas Kompeni tadi siang … “

Si komandan opas Kompeni yang ditawan itu pun berada di situ. Sugala mulai sadar di tempat apa kini dia berada …

“Dari mana kau Nilam? Dapat pacar baru lagi? Bagaimana dengan si keparat itu? Kau sudah bosan lagi, bukan?”

“Lepaskan! Bajingan kau!”

“Hmm, … perempuan tak kenal puas. Kau telah bosan padaku. Kau terkulai di pelukan laki-laki jahanam itu. Dan kini kau mulai merayu bocah ini. Kemudian siapa lagi ? Kau harus melawan aku malam ini !”

Tiba-tiba, duaakk!!! “Aahh!!!”

Dengan jeritan kesakitan, laki-laki itu terpelanting ke belakang terkena tendangan seseorang. Dengan wajah yang menahan kesakitan, dia segera merayap bangun.

“Bangsat !” bentaknya memaki.

Hanya satu makian itu saja, karena berikutnya sebuah tendangan telah mampir kembali di kepalanya dibarengi bentakan lain, “Benar, kita semua memang bangsat !”

Laki-laki itu dengan gesit bergulingan dan segera bangkit bersandar sambil mencabut goloknya. Tampak wajahnya begitu pucat seakan-akan dia terpaksa melawan malaikat elmaut. Laki-laki berpakaian serba putih tegak berdiri dengan tenang. Tapi sinar matanya memancar bagaikan sepasang mata harimau kumbang.

Sekonyong-konyong sebuah kilatan menggores udara dan laki-laki brewok itu menjerit melengking. Sebuah telinganya terputus oleh tebasan golok laki-laki serba putih ini yang bergerak laksana kilat.

Kemudian sebelah lagi.

“Aah !”

Sambil menekap kedua belah pelipisnya, laki-laki ini terhuyung-huyung dan pontang-panting ketakutan dengan napas terengah-engah dia berusaha menjauhkan diri. Si serba putih melangkah bagaikan harimau siap menerkam mangsanya.

“Haah, ja… jangan. Jangan bu … bu … nuh a … ku.”

“Waaaa…”

“Sabar Kak! Berilah dia ampun.”

“Siapakah bocah yang tidak tahu penyakit itu? Rupanya dia belum kenal dengan si Ular Sanca Manuk yang berdarah dingin itu…”

“Dia sudah kehilangan kedua belah telinganya. Sudah cukup, bukan ?! Biarkanlah dia hidup, Kak.”

Si Sanca Manuk menyeringai sinis, kemudian tertawa dingin. Bersamaan dengan itu sekonyong-konyong menyikut Sugala berbareng goloknya membabat dengan dahsyat. Si brewok melengking dengan mengerikan.

Sugala terpelanting ke bumi. Si Ular Sanca Manuk berbalik seperti seekor ajag. Matanya tajam menatap Sugala. Merah berapi di tengah cahaya api unggun.


Categories:

Tags:

Comments are closed