“Tahan adik Wulan, kendalikan emosimu! Jangan mengacaukan suasana.” seru raden Seta Keling yang melihat perubahan pada airmuka adik perempuan seperguruannya itu. Lalu dia kembali bercakap-cakap dengan orang tadi. “Eh, maafkan adik kami, dia memang terlalu emosional melihat keadaan seperti ini.”

“Ya, benar. Kekejaman yang dibuat oleh kelompok liar itu membuat dia menjadi lupa diri dan tidak dapat menjadikan emosinya.”

“Kakang, aku…”

“Ah, kau diamlah. Istirahatlah di situ.”

“Tapi kenapa anak itu menjadi marah justru ketika kami mengatakan rombongan ini dibunuh oleh Ning Sewu, perampok bejat !”

“Kurang ajar !”

“Wulan !”

“Ah, sudah Mamang. Janganlah salahkan dia lagi. Dia justru akan menjadi semakin tersinggung dengan sikapmu itu.”

“Kakang, katakan saja kepada mereka. Siapakah kita sesungguhnya?! Peristiwa ini tidak dapat didiamkan saja, Kakang. Bukankah gadis itu dapat dijadikan saksinya?”

“Wulan aku kakangmu, minta dengan sangat agar kau tidak berbicara dulu saat ini.”

“Haah” Anting Wulan menyergah kesal.

“Permisi Mamang, saya akan bicara dengan anak gadis itu…”

“Eh, apakah kau melihat wajah dari orang-orang yang membunuh ayahmu?”

“Saya tidak dapat melihat wajah mereka. Mereka mengenakan penutup wajah.”

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan dan kemanakah tujuanmu?”

“Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan.”

“Sanak keluarga, apakah kau masih punya?”

“Di kotaraja, tempat tujuan kami, saya mempunyai seorang paman.”

“Kalau begitu kita kuburkan saja mayat keluargamu ini dan nanti aku bersama kawan-kawanku akan mengantarkan menemui Mamangmu”

“Tunggu dulu. Siapakah kalian sesungguhnya? Sekarang kami justru menjadi curiga pada kalian.”

“Ya, kami adalah tiga orang sahabat yang sedang mengadakan perjalanan darmawisata

“Hmm, tidak. Kami tidak percaya pada kalian. Sikap kalian terutama sikap teman wanita kalian itu tidak dapat menyembunyikan kekotoran niat kalian. Jadi kalian segera saja tinggalkan tempat ini sebelum kami menangkap kalian dan menyerahkan kepada kepala desa ini.”

“Ya, pergi saja kalian. Biar kami yang mengurus wanita ini.”

“Yaa. Pergi. Pergi. Pergi.”

“Kraaakkkk! Bruugghhh!!”

Ketika para penduduk di sekitar tempat kejadian mulai menjadi beringas, Anting Wulan pun tidak dapat mengendalikan diri lagi. Akan tetapi karena dia memang mempunyai perasaan segan pada kakak seperguruannya yang tertua, dia mencari cara pelampiasan yang lain. Pohon besar di mana ia bersandar menjadi korban pelampiasannya. Patah dibuatnya. Dan para penduduk yang semula beringas kepada mereka seketika berubah sikapnya. Dan kini mereka tak ubahnya bagaikan cacing kepanasan.

“Kawan-kawan dan mamang-mamang sekalian marilah kita kuburkan saja mayat ini segera. Apakah kalian bersedia membantu kami melakukan tugas mulia ini?” seru raden Seta Keling berwibawa.

“Kami… kami bersedia.”

“Bagus jika demikian. Mari segera saja.”

Segera setelah mayat-mayat keluarga saudagar itu dikuburkan ketiga remaja kelompok Ning Sewu bersama dengan gadis dari keluarga korban berpamitan dengan para penduduk dan beberapa saat kemudian mereka pun telah berada dalam perjalanan menuju Desa Banyuanyar untuk menjemput Dampu Awuk, saudara mereka.

“Kakang! Kenapa Kakang tidak menjelaskan duduk persoalannya? Siapa kita sesungguhnya dan siapa kelompok orang yang membunuh satu keluarga tadi”

“Tuan? Siapakah tuan sesungguhnya?”

“Ya, seperti yang dikatakan Kakang Seta Keling. Kami adalah tiga orang sahabat yang sedang melakukan perjalanan.”

“Tapi… saya telah merepotkan Tuan dan kawan-kawan Tuan…”

“Ah tidak.. Tidak. Tidak, sama sekali tidak. Bolehkah kami tahu siapa nama adik?”

“Intan Pandini…”

“Ooh, Intan Pandini. Adik Intan Pandini tidak perlu menjadi ragu pada kami bertiga. Percayalah, kami akan menolongmu menyelesaikan dendam keluargamu. Pembunuh itu akan kami ditemukan !”

“Oh, terima kasih Tuan. Terima kasih. Saya percaya Tuan akan dapat melakukannya. Saya telah melihat apa yang dapat dilakukan kawan Tuan itu…”

“Oh ya, dia itu adalah adik kami termuda. Namanya Anting Wulan. Dan itu adalah kakang Seta Keling.”

“Ayolah kita segera lanjutkan perjalanan kita.”

“Hmm, maaf Tuan. Apakah arah perjalanan kita tidak salah? kotaraja berada di selatan kita, tapi kita sekarang menuju ke arah timur…

“Kita akan pergi ke Banyuanyar dahulu,” ucap Anting Wulan cepat dengan nada ketus.

“Wulan…” sergah Saka pelan.

“Ya, kita akan pergi ke Banyuanyar dulu. Mari…”

***

“Aah… Kalian ini terlalu, meninggalkan aku sendirian sejak kemarin.”

“Apakah di Banyuanyar ini tidak terjadi sesuatu sehingga kau justru yang menjadi resah, Awuk?”

“Itulah, kalian pasti enak-enakan. Bermain-main dengan perampok-perampok. Sedangkan aku kesepian di sini.”

“Ah…”

“Oh ya Intan. Ini adalah Dampu Awuk, adikku. Perilakunya memang agak kasar tapi hatinya sangat baik. Baginya penjahat adalah musuhnya nomor satu.”

“Kakang… Siapakah gadis hijau itu?”

“Adik Awuk, ini adalah Intan Pandini. Kedua orang tuanya dibunuh oleh para perampok.”

“Dibunuh oleh kelompok Ning Sewu !”

“Apa? Ning Sewu?! Heeh, Anting Wulan kau… kau bilang apa?” Dampu Awuk berpaling pada Saka Palwaguna, “Adik Saka, apa yang telah terjadi?”

“Tanyakan saja pada gadis itu…” seru Anting Wulan dengan sinis.

“Kakang Seta, ceritakanlah segera. Jangan membuat aku menjadi kebingungan dan kalap. Katakanlah segera Kakang.”

“Baiklah. Duduklah adik Awuk… Intan. Dengarlah cerita kami. Keluarga Intan Pandini dibunuh oleh sekelompok orang bercadar yang mengaku diri mereka adalah kelompok Ning Sewu.”

“Haaah! Bergejil busuk! Siapakah mereka kakang Seta?”

“Ketika kami datang, peristiwa itu sudah beberapa saat terjadinya. Tapi percayalah, mereka akan terus mengulangi tindakan mereka. Dengan demikian kita justru akan lebih mudah menyelidikinya.”

“Cih, kurang ajar ! Aku pasti akan mematahkan leher manusia busuk itu, sekalipun eyang Resi menghalangiku!”

“Awuk, sadarlah akan ucapanmu…” tegur Seta.

“Eh, Intan… ketahuilah. Kami berempat adalah kelompok yang dikenal dengan nama Ning Sewu…”

“Ooh…”

“Ya, perampok pembunuh orang tua adalah orang-orang yang sengaja hendak memfitnah dan merusak nama baik kami. Kami turun dari perguruan kami adalah justru untuk mengamankan Karang Sedana dari huru-hara dan kekacauan yang terjadi. Akan tetapi rupanya mereka yang menjadi dendam dengan kami berusaha merusak nama baik kami.”

“Kakang , lalu apa yang akan kakang lakukan dengan gadis ini?”

“Mengantarkannya ke sanaknya di kotaraja. Nah oleh karena itulah rencana untuk esok hari kita rubah sedikit. Aku dan Anting Wulan tetap akan ke kotaraja, akan tetapi akan melalui daerah barat hutan-hutan di kaki gunung Ciremai yang belum pernah kita rambah. Dan kau Awuk bersama dengan kakangmu Saka akan mengantarkan Intan langsung ke rumah orang tuanya.”

“Kakang Seta…”

“Hmm?”

“Mengapa tidak kita saja yang mengantarkan Intan ke kotaraja? Atau kita bersama-sama ke kotaraja melalui hutan di kaki gunung Ciremai?”

“Heheheh. Ada apa Wulan? Kenapa kau tiba-tiba takut pergi bersamaku melalui hutan di kaki gunung Ciremai?”

“Bukan begitu Kakang. Kurasa Kakang sebagai orang tertua di antara kita dan juga orang yang paling bertanggung jawab dalam kelompok Ning Sewu adalah yang paling tepat untuk menjelaskan pada keluarga gadis ini.”

“Kukira masalahnya tidaklah menjadi seperti itu dik Wulan. Adik Dampu maupun adik Saka mampu dan pantas untuk melakukan tugas itu. Nah, istirahatlah kalian.”

***

“Apakah sebenarnya yang terjadi pada diriku? Aku tiba-tiba saja menjadi gelisah dan ketakutan melihat kakang Saka berdekatan dengan Intan pandini… Ah, Jagad Dewa Batara… Apakah… apakah aku mencintai Kakang Saka saudara seperguruanku yang telah saling menganggap sebagai saudara sedarah. Oh, dewata. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar ingin memiliki kakang Saka.”

“Adik Wulan, apakah kau yang berada di sana?”

“Oh, kakang Saka.”

“Adik Wulan, sedang apa kau di luar sini?”

“Ah, di dalam bilik udara panas sekali, kakang.”

“Hari sudah jauh malam. Beristirahat lah.”

“Mataku rasanya benar-benar tidak dapat dipejamkan, Kakang.”

“Hmm?” Raden Saka melengak tak percaya.

“Kakang tidur saja lah. Sebentar aku masuk ke dalam.”

“Ah, adik Wulan… Apakah kau masih saja memikir-kan orang tuamu?

“Eh…? Tidak kakang.”

“Atau barangkali peristiwa siang tadi? Atau hatimu masih terguncang yang akibat ulah perampok yang merusak nama baik kita?”

“Entahlah kakang.”

Anting Wulan menghela nafas. Lalu balik bertanya.

“Kakang…”

“Ya?”

“Kasihan sekali ya gadis itu…”

“Pandini maksudmu?”

“Iya, Intan Pandini. Gadis semanis itu harus merasakan penderitaan yang berat dalam masa-masa remajanya.”

Saka Palwaguna pun menarik nafas dalam-dalam.

“Iya. Kasihan sekali Pandini,” desahnya.

“Kakang…”

“Ya?”

“Kau… kau mencintainya?”

“Hah? Siapa?”

“Intan Pandini. Apakah kau mencintainya kakang?”

“Mencintai? Ah, entahlah. Aku tidak mengerti, yang pasti aku tertarik padanya, kasihan dan… Entahlah, tapi kenapa kau tanyakan itu?”

Anting Wulan tertawa kecil.

“Yah, tentu saja. Karena aku melihat sikap kakang yang manis padanya. Eh… ayolah kita masuk saja kakang.”

“Ayolah.”

***

“Oh, Kakang… Aku menyayangimu. Aku mencintai-mu kakang Saka. Duh junjunganku Kameswara [1]… Apa yang harus hamba lakukan agar mengetahui isi hatiku dan mau menerima penyerahan jiwa. Oh, dewa bathara… tolonglah hamba-Mu.”

Malam itu sebuah jiwa meratap, mengaku lemah tak mampu berbuat apa-apa, tengah mengadu pada Tuhannya, berharap garis hidupnya bersama dengan pujaan hatinya.

Begitulah manusia, saat ada keinginan hatinya maka segera merengek pada Hyang Agung sang pencipta.

***

Keesokan harinya kelompok Ning Sewu bersiap-siap untuk melakukan perjalanan melaksanakan tugas mereka. Dharma Bakti pada setiap yang memerlukan pertolongan sebagai-mana menjadi keharusan tugas seorang pendekar

“Adik Saka sampaikan salamku dan salam adik Wulan pada keluarga Intan.”

“Akan saya sampaikan Kakang.”

“Dan jangan lupa tunggu kami di sebelah timur istana Karang Sedana selepas senja. Walaupun mungkin aku terlibat dengan berbagai persoalan aku, akan mengusahakan tiba tepat pada waktunya. Mari Wulan, pergunakan saja ilmu Kidang Mamprung agar kita tidak terlambat.”

“Baik-baiklah di jalan Kakang Saka.”

“Terima kasih Wulan.”

“Ah, kenapa kau tidak memberi pesan padaku adik Wulan. Kau jangan membuatku iri.”

“Iya. Baik-baiklah kakang Dampu. Aku pergi…”

“Kakang Awuk, ayo kita berangkat. Mari Pandini. Walaupun kita hanya menggunakan gerobak kuda ini pasti kita akan tiba lebih dulu.”

“Iya. Lereng dan kaki Ciremai pasti menyimpan rintangan yang cukup berat. Hutan itu merupakan tempat yang aman untuk persembunyian perampok-perampok.”

Demikianlah empat remaja dari kelompok Ning Sewu memecah kelompoknya menjadi dua, akan tetapi tujuan mereka tetap sama yaitu kotaraja Karang Sedana.

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan dari Raden Seta Keling dan Anting Wulan yang mencoba untuk menyelidiki hutan di sekitar kaki Gunung Ciremai.

“Wulan, tahan larimu.”

“Ada apa, kakang? Kenapa kita berhenti?”

“Kita telah tiba diperbatasan kawasan yang kita tuju. Sebaiknya kita berjalan saja secara wajar sebagaimana orang-orang biasa. Bukankah kita akan memancing mereka keluar?”

“Ah, baiklah kakang. Eh, kakang… Bayangan matahari sudah jauh lewat di atas kita. Waktu makan siang, kakang!”

“Ah, baiklah. Di sana adik Wulan, di pinggir sungai sana. Ayo…”

“Desa terdekat yang akan kita jumpai masih jauh sekali, hematlah sedikit bekal kita.”

“Aku mengerti kakang Seta. Perutku pun sudah terisi penuh.”

“Bukan aku melarangmu makan daging kering yang di tempat itu. Aku tak ingin jika kau sampai makan buah-buahan karena lapar atau bahkan daun-daun muda.”

“Aku mengerti. Hmm,  dalam suasana kemarau yang panjang kekeringan terjadi dimana-mana. Aneh sekali sungai ini, masih menyimpan cukup banyak air. Kakang…”

“Hmm?”

“Mengapa para penduduk di sekitar sini tidak memanfaatkan air ini, ya Kakang?”

“Aliran sungai kecil ini menuju ke arah tengah hutan dan keluar di seberang sana…”

“Wulan, awas! Ada yang datang.”

“Iya, aku telah mendengarnya, Kakang.”

“Hey, siapa kalian? Ayo tangkap kedua orang itu. Tangkap!”

“Tunggu, apa salah kami? Mengapa kalian ingin menangkap kami?”

“Kalian telah memasuki daerah terlarang. Daerah kekuasaan kami, tanpa izin!”

“Heh?! ke dalam kotaraja kami masuk tanpa harus meminta izin. Kenapa ke dalam hutan kami diharuskan meminta izin segala?”

“Ke dalam kotaraja memang! Kalian dapat sesuka hati. Tapi di sini… Hey, tangkap mereka!”

“Hmm, kalian benar-benar ingin mencari mati.”

“Kakang, Bajul. Agaknya mereka ini adalah mata-mata dari kotaraja.”

“Diam kau kerbau! Ayo tangkap mereka cepat!”

“Wulan, buatlah mereka tidak berdaya. Jangan menurunkan tangan terlalu kejam.”

“Baiklah Kakang.”

Rombongan laki-laki kasar yang berjumlah enam orang itu segera mengepung dan kemudian perlahan-lahan maju untuk mempersempit kepungan mereka. Dan beberapa saat kemudian tanpa diberi komando lagi, mereka pun bagaikan babi kelaparan menerjang ke arah Anting dan raden Seta Keling.


[1] Referensi tentang dewa Kameswara cukup samar, hanya ditemukan nama Kameswara seorang raja Kediri Jenggala yang dianggap titisan ketiga dari sang Hyang Wisnu. Raja tersebut bertahta tahun 1115 sampai 1130.

Tags:

Comments are closed